Inactive adenomas Bookreview poliklinik Oleh : Dina Imelda

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Space Occupying Lession
Advertisements

SISTEM ENDOKRIN.
Darwis Dosen Jurusan Gizi
Prinsip Dasar Pemilihan Pemeriksaan Penunjang
1. DATA DASAR 2. PENGKAJIAN DAN RENCANA
ASSALAMU ALAIKUM WW. 1.
Kelompok 3 Sistem Hormon Sistem Hormon Afif Naufal Husaini Daulay
HIPERTIROID Ana Fitriani ANA FITRIANI ( )
Penderita Asam Urat Lebih Banyak Lelaki
ENDOKRIN.
MENOPAUSE HIDAYAT WIJAYANEGARA.
Program Studi D.IV Bidan Pendidik dan Klinik Nany Suryani, S.Gz.
PSIKOSIS dan DEPRESI POSTPARTUM
POLIOMIELITIS.
PROSEDUR PEMERIKSAAN PENYAKIT
Patologi Umum.
Asrina rahman
Riwanti Estiasari, Darma Imran
Dissociative disorder
OSTEOPOROSIS MATERI KULIAH.
Deteksi Dini Kehamilan, Komplikasi dan Penyakit Masa Kehamilan.
Meta Nurbaiti,S.Kep.,Ns.,M.Kes
Fatigue in early Parkinson’s disease: the Norwegian ParkWest study
Fibrio adenoma Kista Sarcoma Filodes sarcoma
APA BEDANYA DENGAN EKSOKRIN?
PERUBAHAN PSIKOSOSIAL DAN SEKSUALITAS PADA LANSIA
Polip Polip hidung adalah pertumbuhan jaringan pada saluran pernapasan hidung atau pada sinus. Polip adalah jaringan yang lembut, tidak terasa sakit.
GAKY By Ninis Indriani.
Mikrognatia, Makrognatia, dan Akromegali
RETINOBLASTOMA.
Kesehatan reproduksi.
PROSEDUR PEMERIKSAAN DAN DETEKSI DINI
Dionissa shabira FK UPN “Veteran” Jakarta
Rijalul Fikri Fisiologi Endokrin.
RIWAYAT ALAMI PENYAKIT &
PEMERIKSAAN PENUNJANG AREA BEDAH Tintin Sukartini, SKp, M.Kes, Dr. Kep.
FIBRO ADENOMA Sisrina nota rita
Klimaktorium,Menopouse, Kuswati,Ns
Hyperprolaktinemia Andon Hestiantoro
ALIFANDI ACHMAD GARDADIEN PRADNYA DILA DARA NURSANTI
KONSEP DASAR MULTIMODALITAS DALAM TERAPI KANKER
HUBUNGAN ANTARA HIPERTIROIDISME DENGAN SISTEM IMUN
PSIKOSIS DAN DEPRESI POSTPARTUM
Medical Terminology Part II Erna Sulistyowati.
Oleh Dr. H. Lilian Batubara
Carpal Tunnel Syndrome
DIABETES MELITUS Oleh Firda ayuningtyas Farhaniatullael F.S
ASKEP PD PASIEN DGn MYOMA UTERI
KONSEP DASAR MULTIMODALITAS DALAM TERAPI KANKER
BY : MESI SEPTIA YUDA IIIB
Baiq Reski Setiagarini
Hormon Hormon adalah senyawa kimia yang membantu mengatur proses-proses metabolisme tubuh. Hormon beredar di dalam darah sepanjang pembuluh darah untuk.
MENGENAL, MENCEGAH & MENGOBATI KANKER PAYUDARA DIAWAL PAGI
Adaptasi Fisiologi Hormon Sistem Endokrin Pada Masa Pubertas Oleh: Mahasiswa NIM Ganjil DIII Keperawatan STIKES NANI HASANUDDIN MAKASSAR.
SITI FATIMAH Di bimbing oleh: 1.Dr. Wawang S. Sukarya, dr., SpOG (K)., MARS., MH.Kes 2.Dr. Usep Abdullah Husin, dr., MS. SpMK PERBANDINGAN.
INTERAKSI OBAT ANTIDIABETIK OLEH KELOMPOK 3 RABIATUL MUSFIRAH JOHAN WIDYA SUMARNI ULFA YULIANINGSIH FENTY.
Oleh : Damas Herdinsyah dr. Nurtakdir Setiawan Sp.S M.Sc
KEPANITERAAN KLINIK DEPARTEMEN SARAF RSUD AMBARAWA 2018
THE CURRENT CONSENSUS ON THE CLINICAL MANAGEMENT OF INTRACRANIAL EPENDYMOMA AND ITS DISTINCT MOLECULAR VARIANTS.
Apa sih HIV itu?? Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau:
HORMON.
Migrain Without Aura; A New Definition
Cushing’s Syndrome Jihan Hanifa I Definisi Sekumpulan gejala dan tanda klinis akibat meningkatnya kadar glukokortikoid (kortisol) dalam darah.
ALAT KONTRASEPSI IMPLAN
CHAIRANISA ANWAR, SST., MKM
HIPEREMISIS GRAVIDARUM
SIKLUS HORMONAL Ade Sylvia N Margaretha Novi . K Meldawati Leni Ayu.
CUSHING SYNDROME Malang, 27 Oktober Adrenal..  Merupakan organ retroperitoneal yang berwarna kekuningan pada polus superior renal  Dikelilingi.
PRINSIP TERAPI KANKER: PEMBEDAHAN, KEMOTERAPI, DAN RADIOTERAPI Instruktur: Dr. dr. Daan Khambri, SpB (K) Onk.
DEFINISI  Syok merupakan kegagalan sirkulasi tepi menyeluruh yang mengakibatkan hipotensi jaringan.  Kematian karena syok terjadi bila kejadian ini.
Transcript presentasi:

Inactive adenomas Bookreview poliklinik Oleh : Dina Imelda (Oncology of CNS Tumors 2nd Edition Springer-Verlag Berlin Heidelberg 2010) Oleh : Dina Imelda Pembimbing : dr. Risono, Sp. S (K) 1

1. EPIDEMIOLOGI Adenoma hipofisis adalah tumor jinak dari adenohipofisis dan tumor sellar yang paling umum Mayoritas tumor yang tidak terdiagnosis adalah microadenoma Adenoma mencakup 12-15% dari tumor primer intrakranial dan merupakan tumor tersering ke-3 yang ditangani oleh ahli bedah saraf setelah glioma dan meningioma Prevalensi tumor hipofisis adalah 20 per 100.000 kasus dengan insidens pertahun 2 per 100.000 kasus Insidens meningkat terkait dengan usia dan mengenai baik wanita dan pria

2. GEJALA DAN TANDA KLINIS Umumnya pasien menunjukkan gejala dan tanda klinis sehubungan dengan efek massa dari area lokal (sellar) dan extrasellar Pertumbuhan di area intrasellar dapat menyebabkan berbagai derajat disfungsi hipofisis Abnormalitas dari paling tidak salah satu hormon hipofisis anterior dapat diamati pada ¾ pasien Sel yang paling rentan adalah gonadothropins [luteinizing hormone (LH) dan follicle-stimulating hormone (FSH)], diikuti dengan thyrotrophin (TSH), somatotrophin, dan corticotrophin

Con’t Hipotiroidism mungkin muncul pada 1/3 pasien dan insufisiensi adrenal sebanyak 1/5 pasien Hipogonadism  pria: penurunan libido dan disfungsi ereksi  wanita: penurunan libido dan amenorrhea Hipotiroidism  gejala: sakit kepala, kenaikan berat badan, konstipasi, intoleransi dingin, depresi Defisiensi hormon pertumbuhan  penurunan toleransi latihan, cemas dan perubahan mood

Con’t Manifestasi insufisiensi adrenal: kelemahan proksimal, kelelahan, anoreksa, mialgia, artralgia, gejala gastrointestinal dan orthostasis Pada kondisi akut, defisiensi kortisol atau Addisonian crisis  sakit kepala, gangguan penglihatan, hiponatremia, perubahan status mental, dan kolaps kardiovaskular Jika tumor membesar melewati batas sella, gejala neurologik mulai bermanifestasi Nyeri kepala, keluhan umum, terjadi karena tumor menarik dura sella dan diafragma sella

Con’t Kompresi chiasma dan suprasellar  gangguan penglihatan dan hemianopsia bitemporal Pertumbuhan suprasellar masif  jarang, hidrocephalus obstruktif Pertumbuhan ke lateral ke sinus cavernosus  diplopia dan nyeri pada wajah atau mati rasa  makin ke lateral ke lobus temporal mesial  kejang Tumor membesar  sering menekan batang hipofisis dan mengganggu penghambatan hipotalamik terhadap sekresi prolaktin  ‘stalk effect’

3. DIAGNOSTIK Diagnosis dan evaluasi pasien dimulai dengan pemeriksaan riwayat endokrinologi -neurologik dan pemeriksaan fisik yang teliti Dipandu dengan evaluasi tersebut, pemeriksaan biochemical berikut sebaiknya dilakukan sebelum preoperasi insufisiensi endokrin Pemeriksaan laboratorium meliputi PRL, GH, insulin-like growth factor type 1 (IGF-1), ACTH, cortisol, LH, FSH, TSH, tiroksin, testosteron, dan estradiol Sebelum terapi inisiasi, pasien sudah melakukan pemeriksaan neurooftalmology meliputi funduskopi, perimetri, dan pengukuran ketajaman visual

Con’t Pilihan modalitas diagnostik adalah MRI Khususnya penyangatan gadolinium sagital dan coronal sangat membantu dalam rencana operasi Dibandingkan dengan gambaran MR standar, MR 3T lebih akurat sehubungan dengan temuan keterlibatan sinus cavernosus intraoperatif Peranan CT terbatas. Pada anak, CT mungkin berguna untuk menilai sejauh mana aerasi dari sinus sphenoid, memberikan informasi penting untuk perencanaan bedah

Con’t Diagnosis banding: craniopharyngiomas, Rathke’s cysts, lymphocytic hypophysitis, meningioma, tumor metastase, aneurisma, dan proses granulomatosa Inactive adenomas secara klinis dan biokimia lebih sulit untuk dibedakan dengan lesi lain Meskipun karakteristik pencitraan lainnya dan fitur sejarah dapat memberikan petunjuk untuk diagnosis, konfirmasi mungkin tidak dapat dilakukan sampai pemeriksaan patologis bedah dilakukan

4. KLASIFIKASI DAN STAGING Berdasarkan kriteria histologi dasar, tumor pituitary dibagi menjadi 3 tipe: (1)acidophilic adenoma (GH secreting), (2)basophilic adenoma (corticotroph adenoma), dan (3)chromophobic adenoma Secara klinis, definisi inactive pituitary adenomas (nonfunctioning adenoma) adalah tumor yang tidak berhubungan dengan sindrom dari hipersekresi Tumor ini meliputi gonadotroph adenoma, null cell adenoma, dan ancocytoma Inactive pituitary adenomas selanjutnya dibedakan berdasarkan ukuran

Con’t Tumor < 10mm  microadenoma, > 10mm  macroadenoma (Fig. 12.1) Staging dan grading diusulkan oleh Hardy berdasarkan geometri tumor dan dampak terhadap sella tursica Stage 0  Intrasellar, stage A,B,C dibedakan berdasarkan progresifitas pertumbuhan suprasellar, stage D mencakup ektensi retrosellar atau tumbuh sepanjang planum sphenoidale, stage E mencapai sinus cavernosus

Con’t Grade I: Sella penampakan dan bentuk normal Grade II: Sella diperbesar tumor, tetapi tetap berada di dalamnya Grade III: Sella diperbesar tumor, dengan erosi dasar sella Grade IV: Sella mengalami erosi seluruhnya

5. TERAPI Tujuan meliputi: (1)meningkatkan kualitas dan kelangsungan hidup (2)menghilangkan efek massa beserta gejala dan tanda yang terkait (3)menjaga dan memperbaiki fungsi normal pituitary (4)pencegahan tumor pituitary kambuh kembali 5.1 Operasi -Terapi utama dengan cara operasi transphenoidal -Baru-baru ini, teknik endoskopik telah dikembangkan dan telah ditambahkan ke armamentarium bedah -Pasien yang menjalani operasi mendapat hydrocortisone praoperatif untuk 24 jam pertama -Kadar kortisol pagi diukur hari 2 dan 3 post operatif

Con’t 5.2 Radioterapi -Sebagai peran tambahan pada manajemen operasi inactive adenoma -Indikasi meliputi: residual signifikan setelah reseksi awal (terutama dalam sinus cavernosus), atau setelah operasi kedua karena rekurensi tumor -Terbukti baik untuk pencegahan jangka panjang bebas progresifitas jika digunakan pada pasien-pasien post operatif (94% pada 10 tahun) -Untuk rekuren atau residual tumor 90% pada 10 tahun -Baru-baru ini, radiosurgery stereotactic (SRS) muncul dalam pengobatan residu atau berulang, inactive pituitary adenoma hormonal. -Keuntungannya menggunakan SRS adalah kenyamanan karena pasien hanya perlu sekali datang

Con’t 5.3 Terapi Medis -Bersifat terbatas dan tidak digunakan secara rutin -Digunakan dopamin agonis atau somatostatin analog pada beberapa pasien yang menolak operasi atau beresiko tinggi dilakukan operasi -Terapi medis memiliki peranan penting pada pasien dengan hipopituitarism kecuali pada insufisiensi adrenocortical dan hypothyroidism

6. PROGNOSIS Fungsi hipofisis kembali normal mencapai 95% dengan operasi dan 90% pada wanita pramenopause Menstruasi kembali normal pada wanita amenorrhea setelah operasi sebanyak 56% Rekurensi tidak terjadi setiap waktu, menurut data berkisar 16% dalam 10 tahun Rekurensi yang membutuhkan operasi ulang hanya 6% pasien Adanya keterlibatan sinus cavernosus pada gambaran preoperatif dan tingkat residual tumor suprasella signifikan sebagai prediksi untuk pembesaran tumor post operasi

7. FOLLOW UP Tindak lanjut harus mencakup penilaian kebutuhan penggantian hormon Pasien yang tidak diberikan hydrocortisone diskrining selama follow up hanya jika melaporkan gejala insufisiensi adrenal Pasien yang diberikan hydrocortisone saat pulang dievaluasi mulai 6 minggu sampai 3 bulan post operasi dan diskrining menggunakan serum kortisol pagi hari 7.1 Incidentalomas -Dengan MRI, peningkatan jumlah pasien secara insidental terdiagnosis adenoma pituitary -Lebih dari 1/3 insidental macroadenomas akan menunjukkan pertumbuhan signifikan pada pencitraan serial -Pasien secara insidental ditemukan adenoma harus diskrining sindrom hipersekretorik subklinis seperti hipopituitarism

Con’t -Insidental microadenoma sebaiknya diperiksa kadar prolaktin serum -Pasien dengan macroadenoma seharusnya dievaluasi untuk hipopituarismnya, khususnya defisiensi kortisol dan tiroid dan juga dievaluasi untuk tes lapang pandang -Rekomendasi adalah dengan menghilangkan tumor, tapi jika klinisi memilih untuk menterapi tumor, serial pencitraan dan tes lapang pandang harus dilakukan

PERSPEKTIF MASA DEPAN Terapi gen mungkin memegang peranan pada terapi masa depan untuk adenoma hipofisis Percobaan tikus dengan prolaktinoma diinduksi estrogen diterapi dengan tetrasiklin dengan adenovirus pembawa gen tyrosine hydroxylase  pengurangan pertumbuhan tumor dan kadar prolaktin plasma Peningkatan jaringan khusus mungkin memegang peranan dalam mengarahkan terapi gen Percobaan kultur jaringan juga mengindikasikan peningkatan jaringan khusus dapat secara selektif mendukung terapi gen toksis dengan sitotoksisitas yang memuaskan untuk spesifik sel hipofisis

TERIMA KASIH