Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Mohammad Hatta (Bapak Demokrasi Kita)

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Mohammad Hatta (Bapak Demokrasi Kita)"— Transcript presentasi:

1 Mohammad Hatta (Bapak Demokrasi Kita)
Ketika Presiden Soekarno membubarkan Konstituante yang dipilih rakyat dan mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Hatta melihat demokrasi sampai pada tahap yang membahayakan. Konstituante dibubarkan soekarno sebelum tugasnya menyusun Undang-Undang Dasar rampung. Dekrit Presiden ini memberlakukan kembali UUD Hatta melihat hal itu dengan prihatin dan menganggap telah terjadi krisis Demokrasi. Bung Hatta kemudian menulis buku Demokrasi Kita tahun 1960 dan dimuat di majalah Panji Masyarakat yang dipimpin Hamka. Soekarno marah karena isi buku tersebut dianggap menentang kebijakannya. Panji Masyarakat dilarang terbit. Muncul juga larangan untuk membaca, menyimpan, dan menyiarkan buku itu. Barang siapa tidak mengindahkan larangan itu diancam hukuman berat. Padahal “demoktasi Kita” merupakan hasil pikiran brilian salah seorang Proklamator Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Dua sahabat yang begitu akrab, sama-sama pejuang, sama tujuan untuk menjadikan Indonesia menjadi negeri yang adil makmur, tiba-tiba berpisah karena berbeda pandangan, antara lain tentang revolusi. Bung Hatta menganggap kalau setelah Proklamasi Kemerdekaan revolusi Indonesia sudah selesai. Tugas selanjutnya adalah mengisi kemerdekaan dengan pembangunan ekonomi. Bung Karno menganggap revolusi belum selesai selama masih ada kolonialisme dan imperialisme di muka bumi ini. “dwi Tunggal” yeng mengkristal ketika memproklamasikan kemerdekaan itu tiba-tiba pecah. Hatta tidak menentang Soekarno secara frontal, tetapi pergi dari sisinya demi persatuan nasional. Padahal persatuan itu masih tampak nyata ketika Soekarno menyeru kepada rakyat Indonesia: “Ikut Muso dengan PKI-nya yang akan membawa bangkrutnya cita-cita Indonesia Merdeka atau ikut Soekarno-Hatta yang Insya Allah, dengan bantuan Tuhan, akan memimpin negara Republik Indonesia yang merdeka, tidak dijajah negara mana pun juga.” Dan tentu saja rakyat memilih Soekarno-Hatta. Kala itu, September 1948, ketika terjadi pemberontakan PKI-madiun yang dipimpin Muso. Tetapi cerita selanjutnya Bung Karno lebih condong ke “kiri”, sedang Hatta tidak. Bung Hatta kemudian melepaskan jabatan Wakil Presiden (1956) ketika merasa tidak sejalan lagi dengan Bung Karno. Mundurnya Hatta membuka jalan lampang bagi lahirnya Demokrasi Terpimpin yang sesuai dengan pandangan Soekarno. Mereka memang berpisah, tapi konon secara pribadi keduanya tetap berhubungan baik. Kabarnya Bung Hatta masih sering berkirim surat kepada Bung Karno dan mengingatkan agar tidak condong ke “kiri”. Putera-putera Bung Karno dan Bung Hatta pun tetap berhubungan baik. Mohammad hatta yang “Bapak Koperasi” itu memang berbeda dengan  Soekarno baik dalam pemikiran maupun penampilan. Namun satu hal yang tidak berbeda,. Keduanya mempunyai cita-cita yang sama: Indonesia yang bersatu adil dan makmur. Dalam penampilan, soekarno “keluar” sedang Hatta “ke dalam”. Soekarno laki-laki hangat, penuh pesona, kalau tidak dikatakan flamboyan. Atau memang flamboyan? Oraton dengan suara bariton yang mampu menyihir pendengarnya berjam-jam. “hatta adalah hati nurani Nasional kita,” tulis Mohammad Sadeli di harian Kompas 14 Agustus 1972. Koperasi sebagai sokoguru perekonomian Indonesia adalah cita-cita Bung Hatta yang mungkin tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan. Menurut Bung Hatta “asas kekeluargaan” yang dicantumkan dalam pasal 33 UUD 1945 itu ialah

2 koperasi. “Asas kekeluargaan itu adalah istilah Taman Siswa, untuk menunjukkan bagaimana guru dan murid-murid hidup sebagai satu keluarga. Hendaknya itu pula corak koperasi. Hubungan antar anggota koperasi satu sama lain harus mencerminkan orang-orang yang bersaudara, satu keluarga. Rasa solidaritas dipupuk dan diperkuat. Anggota dididik menjadi orang yang mempunyai individualita, insyaf akan harga dirinya. Individualita berbeda dengan individualisme. Individualisme adalah sikap yang mengutamakan diri sendiri dan mendahulukan kepentingan sendiri dari kepentingan orang lain. Individualita menjadi seorang anggota koperasi, sebagai pembela dan pejuang yang giat bagi lembaganya. Usaha koperasi di bidang apa pun digunakan untuk menanam kemauan dan percaya diri sendiri dalam persekutuan, untuk melaksanakan self-help dan auto-aktivitas guna kepentingan bersama,” demikian Bung Hatta dalam salah satu tulisannya. Mohammad Hatta lahir di Aur Tanjungkang, Mandiangin, Bukitinggi, Sumatra Barat, 12 Agustus Ia lahir saat fajar muncul di ufuk timur, ketika azan baru saja dikumandangakan di masjid-masjid dan surau-surau di Bukitinggi. Kelak, Hatta memang menjadi salah satu fajar penerang bagi perjuangan menuju Indonesia merdeka. Tahun 1922 setelah menyelesaikan MULO-nya, Hatta melanjutkan sekolahnya di Rotterdam, Belanda. Awal perjuangan untuk kemerdekaan bangsanya mulai dimantapkan ketika memimpin Perhimpunan Indonesia (PI) di Negeri Belanda. Karena dituduh subversif, bersama aktivis lain seperti Ali Sastroamidjojo, Nazir Pamuntjak, dan Abdul Madjid Dojoadiningrat, Hatta ditangkap dan diadili pada 22 Maret Tapi mereka dibebaskan dari segala tuduhan. Setelah 11 tahun berada di Negeri Belanda, Hatta kembali ke Indonesia. Tanggal 8 Desember 1942 dalam rapat umum di Lapangan Ikada, Jakarta, Hatta diminta berpidato. Ada ucapanya yang mengejutkan dan menyentakkan kesadaran setiap orang yang mendengarkan: “bagi pemuda Indonesia, ia lebih suka melihat Indonesia tenggelam ke dasar lautan daripada memilikinya sebagai jajahan orang kembali.” Ucapan itu memang di luar kontrol penjajah Jepang. Setelah melewati perjuangan panjang dan berliku, Bung Hatta bersama-sama Bung Karno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus Sejak itu Soekarno-Hatta selalu bersama-sama sebagai “Dwi Tunggal” lambang persatuan bangsa. Apalagi setelah Hatta menjadi wakil presiden dan Soekarno Presiden RI. “Dwi Tunggal” itu retak tahun 1956, ketika keduanya berselisih paham tentang revolusi dan demokrasi. Bung Hatta wafat 17 Maret 1980 pada usia 78 tahun. Indonesia menangis, putra terbaik dipanggil allah ke sisi-Nya. Seperti yang pernah ditulis Tempo tiba-tiba Republik Indonesia seperti kehilangan seorang Bapak. Sepanjang 4 kilometer manusia mengantarkan Bung Hatta ke pemakaman Tanah Kusir. Ia memang tidak mau dimakamkan di makan pahlawan, agar selalu dekat dengan rakyat. Dan jutaan orang pun berduka. Bung Hatta seorang muslim, tetapi ia dicintai rakyat yang muslim dan non-muslim. Seorang laki-laki agak tua datang ke rumah keluarga Bung Hatta dan memasuki ruang tempat jenazah. Ia meminta izin menyanyika lagu rohani. Bapak itu adalah pemeluk Kristen. Di hari wafatnya dan Minggu hari berikutnya di sekolah dan gereja Katolik di Jakarta, diadakan misa bagi arwah Bung Hatta. Seperti halnya Bung Karno, Bung Hatta memang milik seluruh bangsa Indonesia. Sumber: 50 Tokoh Politik Legendaris Dunia oleh Achmad Munif


Download ppt "Mohammad Hatta (Bapak Demokrasi Kita)"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google