Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

`DASAR AGROTEKNOLOGI` Dr. Ir. F. DIDIET HERU SWASONO, M.P.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "`DASAR AGROTEKNOLOGI` Dr. Ir. F. DIDIET HERU SWASONO, M.P."— Transcript presentasi:

1 `DASAR AGROTEKNOLOGI` Dr. Ir. F. DIDIET HERU SWASONO, M.P.
MATERI KULIAH `DASAR AGROTEKNOLOGI` SEMESTER GASAL T. A. 2013/2014 (2 /1 SKS) Dr. Ir. F. DIDIET HERU SWASONO, M.P.

2 FAKTOR PENGGANGGU_AGROTEKNOLOGI
MATERI e-LEARNING DASAR AGROTEKNOLOGI FAKTOR PENGGANGGU_AGROTEKNOLOGI

3 (CAHAYA, AIR, UNSUR HARA)
BUDIDAYA TANAMAN IKLIM FAKTOR ESENSIAL (CAHAYA, AIR, UNSUR HARA) BAHAN TANAM (Benih/Bibit) PRODUK FAKTOR PENGGANGGU (HAMA, PENYAKIT, GULMA)

4 FAKTOR PENGGANGGU BUDIDAYA TANAMAN = HAMA, PENYAKIT & GULMA
Hama, penyakit dan gulma = OPT (organisme pengganggu tanaman) Definisi : ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN adalah semua organisme yang dapat merusak, mengganggu kehidupan, atau menyebabkan kematian tumbuhan dan pada tingkat populasi tertentu menyebabkan kerugian

5 KOMPONEN OPT HAMA adalah binatang yang merusak tanaman sehingga mengakibatkan kerugian secara ekonomi PATOGEN (PENYAKIT) adalah jasad renik (mikroorganisme) yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman GULMA (TUMBUHAN PENGGANGGU) adalah tumbuhan yang tumbuhnya di suatu tempat yang tidak dikehendaki di antara tanaman budidaya, karena mengadakan kompetisi dengan tanaman pokok dalam mendapatkan hara, sinar matahari dan tempat tumbuh.

6 MENGAPA TIMBUL OPT? Karena kerusakan yang timbul akibat OPT adalah tanaman (tumbuhan yg dibudidayakan manusia) oleh karenanya pengertian OPT juga terbatas pada kepentingan manusia terhadap produksi suatu tanaman OPT hanya mempunyai arti pada manusia bila mengadakan kompetisi terhadap kepentingan ekonomi manusia.

7 ORGANISME DISEBUT OPT ? Organisme tersebut dapat menurunkan produksi tanaman baik kualitas maupun kuantitas Organisme tersebut bersaing terhadap kepentingan manusia Organisme tersebut menjadi masalah dalam usaha pertanian

8 OPT MENIMBULKAN KERUGIAN PRODUKSI BERDASAR POTENSI GENETIK
LINGKUNGAN PRODUKSI RIIL AGRONOMIS (TEKINIS) OPT

9 BAGAIMANA OPT DAPAT MERUGIKAN
MENURUNKAN KUANTITAS MENURUNKAN KUALITAS MENAMBAH BIAYA PENGENDALIAN: Biaya penelitian var. tahan Biaya pengelolaan tanaman sehat Penyediaan sarana pengendalian Biaya tenaga kerja

10 BAGAIMANA OPT DAPAT MERUGIKAN (LANJUTAN)
4. KERUSAKAN panen/prosesing penyimpanan pengangkutan 5. GANGGUAN PD HEWAN & MANUSIA adanya toksin

11 BEBERAPA PENYEBAB MUNCULNYA OPT
Sistem pertanaman monokultur Masuknya OPT dari daerah lain, karena terbawa oleh angin, binatang atau agen lain Penggunaan pestisida yang tidak bijaksana, mengakibatkan hal-hal sebagai berikut: Resistensi Resurgensi OPT potensial/tidak penting/kedua menjadi OPT baru

12 BEBERAPA PENYEBAB MUNCULNYA OPT (LANJUTAN)
Pemasukan (introduksi) jenis tanaman baru Terdapatnya genotipe baru hasil seleksi atau pemuliaan tanaman Terjadinya (hama) biotype baru, yang mampu menyerang varietas-varietas baru yang tahan terhadap hama yang bersangkutan. Adanya sinkronisasi antara fenologi hama dan inangnya Pindahnya hama poliphag/oligophag ke tanaman lain

13 BEBERAPA PENYEBAB MUNCULNYA OPT (LANJUTAN)
Pemupukan tidak berimbang dapat mengakibatkan meningkatnya populasi hama/patogen Penghargaan konsumen terhadap kualitas hasil produksi tanaman tertentu yang dapat mengakibatkan menurunnya nilai ambang ekonomi suatu hama/patogen.

14 OPT_PERLINDUNGAN TANAMAN
PERLINDUNGAN TANAMAN ( Menurut UU 12/1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman) ADALAH segala upaya untuk mencegah kerugian pada budidaya tanaman yang diakibatkan oleh Organisme Pengganggu Tumbuhan

15 DASAR KEBIJAKAN PERLINDUNGAN TANAMAN ( MENURUT UU 12 / 1992 )
PERLINTAN (perlindungan tanaman) dilaksanakan dengan SISTEM PENGENDALIAN HAMA TERPADU (Sistem PHT) Pelaksanaan PERLINTAN menjadi tanggungjawab MASYARAKAT / PETANI dan PEMERINTAH

16 TINDAKAN PERLINDUNGAN TANAMAN ( Menurut PP 6/1995 ttg Perlintan )
1. Pencegahan masuknya OPT ke dalam dan tersebarnya dari suatu area ke area lain di wilayah NKRI (Tindakan Karan- tina) 2. Pengendalian OPT 3. Eradikasi OPT

17 SISTEM PENGENDALIAN HAMA TERPADU
Segala upaya pengendalian populasi atau tingkat serangan OPT dengan memadukan berbagai teknik pengendalian OPT yang dikembangkan dalam suatu KESATUAN untuk mencegah timbulnya KERUGIAN EKONOMIS dan KERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP Penggunaan PESTISIDA merupakan ALTERNATIF terakhir Pengendalian OPT bersifat dinamis ( secara spasial dan temporal )

18 TINDAKAN PERLINDUNGAN TANANAMAN
Cara Fisik, melalui pemanfaatan unsur fisik tertentu Cara Mekanik, melalui penggunaan alat atau kemampuan fisik manusia Cara Budidaya, melalui pengaturan kegiatan bercocok tanam Cara Biologi, melalui pemanfaatan musuh alami

19 TINDAKAN PERLINDUNGAN TANANAMAN (LANJUTAN)
Cara Genetik, melalui manipulasi gen terhadap OPT maupun tanaman Cara Kimiawi, memalui pemanfaatan pestisida Cara lain, sesuai perkembangan teknologi

20 PERLINDUNGAN TANAMAN & KARANTINA
Semua negara memanfaatkan kesepakatan SPS-WTO termasuk karantina sebagai HAMBATAN NON TARIF bagi masuknya produk-produk pertanian dari luar negeri ke pasar dalam negeri (SPS= Sanitary and Phytosanitary) Karantina tumbuhan bertujuan mencegah masuk dan tersebarnya OPT karantina dari luar negeri ke wilayah NKRI dan dari satu area/daerah ke daerah lainnya di wilayah NKRI. Dengan alasan tersebut suatu negara dapat melarang masuknya produk pertanian atau media pembawa OPT tertentu

21 PERLINDUNGAN TANAMAN & KARANTINA (LANJUTAN)
Alasan penetapan OPTK dan pelarangan pemasukan komoditi pertanian harus didukung oleh bukti dan hasil penelitian ilmiah terutama ilmu hama, penyakit tumbuhan, gulma dan ilmu lingkungan Standar, kriteria dan metode penetapan OPTK, Analisis Risiko OPT, Analisis Daerah Bebas OPT telah ditetapkan secara Internasional dan harus kita ikuti Indonesia telah mempunyai UU, Peraturan Pemerintah, Lembaga dan peraturan perundang-undangan lain tentang Karantina Pertanian

22 REALITAS MASALAH PERLINDUNGAN TANAMAN DI INDONESIA
Perubahan dan dinamika ekosistem dan perilaku/kebiasaan manusia Kelembagaan dan KOORDINASI kelembagaan di pusat dan daerah masih LEMAH Kuantitas dan kualitas SDM termasuk PETANI sangat rendah Sarana dan prasarana kerja (termasuk laboratorium penguji) sangat terbatas

23 REALITAS MASALAH PERLINDUNGAN TANAMAN DI INDONESIA (LANJUTAN)
Peneliti dan kegiatan penelitian pendukung yang relevan sangat kurang Dana OPERASIONAL sangat terbatas Pengertian, kesadaran dan perhatian masyarakat terhadap PERLINTAN masih sangat rendah

24 STOP STOP STOP STOP Any Question??


Download ppt "`DASAR AGROTEKNOLOGI` Dr. Ir. F. DIDIET HERU SWASONO, M.P."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google