Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

INVESTASI DALAM PIUTANG

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "INVESTASI DALAM PIUTANG"— Transcript presentasi:

1 INVESTASI DALAM PIUTANG
Kelompok 5 NAMA NIM Mohammad Amin Sulistiyo Selly Sheilawati M. Naufal Alam.K Muhamad Ari Setiawan Dony Abdi Nugroho

2 INVESTASI DALAM PIUTANG
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Besarnya Investasi Dalam Piutang Dalam rangka usaha untuk memperbesar volume penjualannya kebanyakan perusahaan besar menjual produknya dengan kredit. Penjualan kredit tidak segera menghasilkan penerimaan kas, tetapi menimbulkan piutang langganan, dan barulah kemudian pada hari jatuhnya terjadi aliran kas masuk (cash inflows) yang berasal dari pengumpulan piutang tersebut. Dengan demikian maka piutang (receivables) merupakan elemen modal kerja yang juga selalu dalam keadaan berputar secara terus-menerus dalam rantai perputaran modal kerja, yaitu : Kas  Inventory  Piutang Kas. Dalam keadaan yang normal dan dimana penjualan pada umumnya dilakukan dengan kredit, piutang mempunyai tingkat likuiditas yang lebih tinggi daripada inventory, karena perputaran dari piutang ke kas membutuhkan satu langkah saja. Manajemen piutang merupakan hal yang sangat penting bagi perusahaan yang menjual produknya dengan kredit. Manajemen piutang terutama menyangkut masalah pengendalian jumlah piutang, pengendalian pemberian dan pengumpulan piutang, dan evaluasi terhadap politik kredit yang dijalankan oleh perusahaan.

3 Faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya investasi dalam piutang
Volume Penjualan Kredit Syarat Pembayaran Penjualan Kredit Ketentuan Tentang Pembatasan Kebijaksanaan Dalam Mengumpulkan Piutang Kebiasaan Membayar Dari Para Langganan

4 Volume Penjualan Kredit
Makin besar proporsi penjualan kredit dari dari keseluruhan penjualan memperbesar jumlah investasi dalam piutang. Dengan makin besarnya volume penjualan kredit setiap tahunnya berarti bahwa perusahaan itu harus menyediakan investasi yang lebih besar lagi dalam piutang. Makin besarnya jumlah piutang berarti makin besarnya resiko, tetapi bersamaan dengan itu juga memperbesar “profitability” –nya.

5 2. Syarat Pembayaran Penjualan Kredit Syarat pembayaran penjualan kredit dapat bersifat ketat atau lunak. Apabila perusahaan menetapkan syarat pembayaran yang ketat berarti bahwa perusahaan lebih mengutamakan keselamatan kredit daripada pertimbangan profitibilitas. Syarat yang ketat misalnya dalam bentuk batas waktu pembayarannya yang pendek, pembebanan bunga yang berat pada pembayaran piutang yang terlambat.

6 3. Ketentuan Tentang Pembatasan Kredit Dalam penjualan kredit perusahaan dapat menetapkan batas maksimal atau plafond bagi kredit yang diberikan kepada para langganannya. Makin tinggi plafond yang ditetapkan bagi masing-masing langganan berarti makin besar pula dana yang diinvestasikan dalam piutang. Demikian pula ketentuan mengenai siapa yang dapat diberi kredit. Makin selektif para langganan yang dapat diberi kredit akan memperkecil jumlah investasi dalam piutang. Dengan demikian maka pembatasan kredit disini bersifat baik kuantitatif maupun kualitatif.

7 4. Kebijaksanaan Dalam Mengumpulkan Piutang Perusahaan dapat menjalankan kebijaksanaan dalam mengumpulkan piutang secara aktif atau pasif. Perusahaan yang menjalankan kebijaksanaan secara aktif dalam pengumpulan piutang akan mempunyai pengeluaran uang yang lebih besar untuk membiayai aktifitas pengumpulan piutang tersebut dibandingkan dengan perusahaan lain yang menjalankan kebijakannya secara pasif.

8 5. Kebiasaan Membayar Dari Para Langganan Ada sebagian langganan yang mempunyai kebiasaan untuk membayar dengan menggunakan kesempatan mendapatkan cash discount, dan ada sebagian lain yang tidak menggunakan kesempatan tersebut. Perbedaancara pembayaran initergantung kepada cara penilaian mereka terhadap mana yang lebih menguntungkan antara dua alternatif tersebut. Apabila perusahaan telah menetapkan syarat pembayaran 2/10/net 30, para langganan dihadapkan pada dua alternatif, yaitu apakah mereka akan membayar pada hari ke-10 atau pada hari ke-30 sesudah barang diterima.

9 Penilaian Risiko Kredit dan Penyaringan Para Langganan
Risiko kredit adalah risiko tidak terbayarnya kredit yang telah diberikan kepada para langganan kita. Sebelum perusahaan memutuskan untuk menyetujui permintaan atau penambahan kredit oleh para pelanggan perlulah kita mengadakan evaluasi risiko kredit dari para langganan tersebut. Untuk menilai risiko kredit, credit manager harus mempertimbangkan berbagai faktor yang menentukan besar kecilnya kredit tersebut. Pada umumnya bank atau perusahaan dalam mengadakan penilaian risiko kredit adalah dengan memperhatikan lima “C”. Lima “C” tersebut adalah Character, Capacity, Capital, Collateral dan Conditions.

10 Character Menunjukkan kemungkinan atau probabilitas dari langganan untuk secara jujur berusaha untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya. Faktor ini adalah sangat penting, karena setiap transaksi kredit mengandung kesanggupan untuk membayar.

11 Capacity Ialah pendapat subyektif mengenai kemampuan dari langganan
Capacity Ialah pendapat subyektif mengenai kemampuan dari langganan. Ini diukur dengan record diwaktu yang lalu, dilengkapi dengan observasi fisik pada pabrik atau toko dari langganan.

12 Capital Diukur oleh posisi finansiil perusahaan secara umum, dimana hal ini ditunjukkan oleh analisa ratio finansiil, yang khususnya ditekankan pada “tangible net worth” dari perusahaan.

13 Collateral Dicerminkan oleh aktiva dari langganan yang diikatkan atau dijadikan jaminan bagi keamanan kredit yang diberikan kepada langganan tersebut.

14 Conditions Menunjukkan impect (pengaruh langsung) dari trend ekonomi pada umumnya terhadap perusahaan yang bersangkutan atau perkembangan khusus dalam suatu bidang ekonomi tertentu yang mungkin mempunyai efek terhadap kemampuan langganan untuk memenuhi kewajibannya.

15 Penentuan Besarnya Risiko Yang Akan Ditanggung Oleh Perusahaan Pertama-tama dalam hubungan ini haruslah ditentukan lebih dahulu “batas risiko” yang ditanggung oleh perusahaan, yang akan disediakan sebagai cadangan piutang. Misalnya Suatu perusahaan merencanakan akan memperluas volume credit salesnya dengan Rp dan kenaikan ini disertai dengan kenaikan biaya usaha sebesar Rp , perusahaan ini telah menetapkan besarnya risiko yang akan ditanggung sebesar 10% dari jumlah piutang, maka keuntungan yang diharapkan sebagai akibat dari tambahnya volume credit sales tersebut dapat diperhitungkan sebagai berikut : Hasil tambahan penjualan kredit Rp Risiko tidak terkumpulnya piutang Hasil penjualan yang diharapkan Rp Tambahan biaya usaha Tambahan keuntungan Rp

16 Penyelidikan Tentang Kemampuan Perusahaan Untuk Memenuhi Kewajibannya
Dalam rangka usaha untuk dapat mengadakan klasifikasi dari langganan, apakah mereka termasuk golongan risiko 5%, 10%, 15% atau lebih, perlulah perusahaan mengadakan penyelidikan mengenai kemampuan perusahaan tersebut untuk memenuhi kewajiban finansiilnya. Dalam hal ini perlulah dipertimbangkan terutama mengenai likuiditas dan rentabilitasnya. Tetapi disamping itu perlu juga dipertimbangkan “soliditasnya”. Soliditas adalah menyangkut kepercayaan pihak luar terhadap perusahaan, dan soliditas ini dibedakan dalam 3 jenis, yaitu : Soliditas komersiil. Soliditas finansiil. Soliditas moril.

17 Mengadakan Klasifikasi dari Para Langganan Berdasarkan Risiko Pembayarannya Setelah mengadakan penyelidikan mengenai kemampuan dan keadaan perusahaan, sifat, kebiasaan dan moril dari pimpinan perusahaan yang bersangkutan, maka kita dapat mengadakan klasifikasi para langganan berdasarkan risiko tidak memenuhi kewajibannya tepat pada waktunya, sehingga terdapat golongan-golongan risiko 5%, 10%, 15% dan seterusnya.

18 Mengadakan Seleksi Dari Para langganan Berdasarkan penggolongan tersebut perusahaan dapat memutuskan untuk tidak memberikan kredit penjual atau memperberat syarat pembayaran kepada langganan-langganan yang termasuk dalam golongan risiko yang lebih tinggi dari risiko 10%. Dengan demikian maka kredit penjual hanya diberikan kepada para langganan dari golongan risiko 10% kebawah.

19 Tingkat Perputaran Piutang (Receivables Turnover) dan Budget Pengumpulan Piutang (Receivables Collection Budget) Piutang sebagai elemen dari modal kerja selalu dalam keadaan berputar, periode perputaran atau periode terikatnya modal dalam piutang adalah tergantung kepada syarat pembayarannya. Makin lunak atau makin lama syarat pembayaran, berarti makin lama terikat pada piutang , yang ini berarti bahwa tignkat perputarannya selama periode tertentu adalah makin rendah. Tingkat perputaran piutang (Receivable turnover) dapat diketahui dengan membagi jumlah credit sales selama periode tertentu dengan jumlah rata-rata piutang (average receivables) Receivables Turnover = Net Credit Sales Average Receivables Periode terikatnya modal dalam piutang atau hari rata-rata pengumpulan piutang dapat dihitung dengan membagi tahun dalam hari dengan turnovernya. Hari rata-rata pengumpulan piutang (average collection period) dapat dihitung dengan cara sebagai berikut : (1 tahun = 360 hari). Hari rata-rata pengumpulan piutang = 360 Receivables Turnover = Hari. Hari rata-rata pengumpulan piutang dapat pula dihitung dengan = 360 x Average Receivables Net Credit Sales

20 Contoh 6. 1 1960 1961 Net credit sales Rp 100. 000,00 Rp 100
Contoh Net credit sales Rp ,00 Rp ,00 Receivables: Permulaan tahun Rp ,00 Rp ,00 Akhir tahun Rp ,00 Rp ,00 Average receivables Rp ,00 Rp ,00 Receivables turnover 4x 5x Average collection period 90 hari 72 hari Adalah penting untuk membandingkan hari rata-rata pengumpulan piutang dengan syarat pemabayaran yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Apabila hari rata-rata pengumpulan piutang selalu lebih besar daripada batas waktu pembayaran yang telah ditetapkan tersebut berarti bahwa pengumpulan piutangnya kurang efisien. Ini berarti bahwa banyak para langganan yang tidak memenuhi syarat pembayaran yang telah ditetapkan oleh perusahaan.

21 Contoh soal 6.2. Suatu perusahaan mempunyai rencana penjualan atas dasar estimasi akhir sebagai berikut : Bulan penjualan Jumlah penjualan Juli Rp ,00 Agustus Rp ,00 September Rp ,00 Syarat pembayaran ditetapkan : 3/20/net 30. Berdasarkan pengalaman cara pembayaran para langganan adalah sebagai berikut : a) 60% dari penjualan setiap bulannya terkumpul dalam waktu 20 hari sesudah bulan penjualan. 30% terkumpul dalam waktu sesudah 20 hari dalam bulan yang sama, yaitu dalam bulan ke satu sesudah bulan penjualan. 10% terkumpul dalam bulan kedua sesudah bulan penjualan.

22 Penerimaan piutang dalam bulan Agustus :
Berdasarkan data tersebut diatas kita dapat menyusun skedul atau budget pengumpulan piutang (receivables collection budget). Tabel 6.2. Skedul pengumpulan piutang untuk bulan Agustus sampai dengan Oktober 19.. Penerimaan piutang dalam bulan Agustus : 60% x Rp28.000, = Rp ,00 Potongan tunai (Cash discount) = 3% x Rp16.800,00 = ,00 = Rp ,00 30% terkumpul dalam waktu sisanya atau dalam waktu 10 hari terakhir = 30% x Rp , = Rp ,00 = Rp ,00 Waktu Penjualan Taksiran Penjualan Agustus September Oktober Juli Rp ,00 Rp ,00 Rp 2.800,00 - Rp ,00 Rp - Rp ,00 Rp 3.500,00 Rp ,00 Rp - Rp ,00 Jumlah piutang yang terkumpul Rp ,00 Rp ,00

23 Piutang yang terkumpul dalam bulan kedua sesudah bulan penjualan sebanyak 10% x Rp ,00 = Rp 2.800,00 Dalam tabel tersebut diatas nampak bahwa dalam bulan Agustus akan terkumpul piutang sebesar Rp ,00 . September Rp ,00 dan Oktober Rp ,00 yang ini akan merupakan “cash inflows” untuk bulan-bulan Agustus, September dan Oktober.


Download ppt "INVESTASI DALAM PIUTANG"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google