Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

PUBLIC CHOICE.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "PUBLIC CHOICE."— Transcript presentasi:

1 PUBLIC CHOICE

2 MECHANISM FOR ALLOCATIONG RESOURCES
Private sector  keputusan ttg alokasi sdya diserahkan pd price mechanism. Decision maker tahu preferensinya. Public sector  keputusan ttg alokasi sdaya dilakukan dg cara yg agak berbeda. Para individu memilih perwakilan  perwakilan memilih via pemungutan suara utk penentuan anggaran  dananya dibelanjakan oleh berbagai instansi. Decision maker hrs tahu preferensi org2 yg dia diwakili.

3 Masalah Dlm Mengungkapkan Preferensi
Private goods  lbh mudah  para individu lbh memilih suatu brg dibanding brg lain dg membe- linya. Public goods  lbh sulit  pejabat yg terpilih memiliki informasi terbatas ttg preferensi pemilih ttg brg publik tertentu  plg maksimum bhw pemilih lbh menyukai jika pengeluar- an pemerintah yg lbh meningkat atau sebaliknya.  polling

4 Preferensi Individual Utk Public Goods
Pengambilan keputusan kollektif utk public goods tdk mudah  tiap individu memiliki pandangan yg berbeda. Perbedaan timbul krn 3 alasan: taste income  org kaya cenderung belanja lbh besar pd brg & pajak publik dan private. Tp bila pengeluaran peme- rintah meningkat pd brg publik, yg ditanggung org kaya relatif lbh besar utk additional cost yg timbul. Tax price  jumlah tambahan yg hrs dibayar ssorg bila pengeluaran pemerintah naik Rp 1. Tax price dikali dg total pengeluaran pemerin- tah = individual tax payment.

5 Uniform taxation  setiap org membayar tax yg sama besarnya.
Proportional taxation  setiap org membayar tax yg sama persentasenya thdp pendapatan. Progressive taxation  sistem perpajakan dimana peningkatan pembayaran lbh besar dp peningkatan income (lbh dr sebanding). Regressive taxation  sistem perpajakan dimana peningkatan pembayaran lbh kecil dp peningkatan income (kurang dr sebanding).

6 TEORI VOTING

7 Kebutuhan Masyarakat Barang Publik & Pembiayaannya Barang Swasta & Pembiayaannya Anggota Masyarakat Kecil Sedang Banyak Sistem Pemerintahan Tdk Demokratis Demokratis Public Choice

8 TEORI PEMUNGUTAN SUARA
Sistem pilihan aklamasi (suara bulat) Sistem pilihan suara terbanyak (majority) Sistem pilihan titik (point voting) Sistem pilihan ganda (plurality voting) Teori demokrasi perwakilan Sistem Aklamasi Merupakan cara paling baik krn dpt melindungi kelompok minoritas dlm masy. Kelemahannya  sulit direalisir. Sistem Mayoritas Keputusan diambil bila jumlah org yg setuju lebih banyak dp yg tdk setuju  50% + 1 atau [(n/2) + 1] atau sistem kuorum  jika 2/3 atau [(2/3)n] setuju.

9 Kelemahan sistem mayoritas  memberi nilai yg sama pd
setiap jenis pilihan. Setiap pemilih hanya menyatakan prefe- rensi atau kesukaannya berdasar ranking proyek  mulai yg paling disukai sd yg paling tdk disukai, bukan derajat kesukaan thdp berbagai jenis proyek. Sistem Pilihan Titik (Point Voting) Mencoba mengatasi kelemahan sistem mayoritas dg mem- berikan angka tertentu kpd setiap pemilih yg dpt mengalo- kasikannya kpd setiap proyek berdasar preferensinya. Angka tsb mencerminkan preferensi pemilih pd suatu proyek.

10 Distribusi Angka Pd Point Voting (Setiap Pemilih Diberi Angka 100)
Pilihan Proyek Pemilih Polisi Dam Jalan Adil Bei Surya 60 6 25 40 4 90 35 91 84 125 Proyek jalan nilainya paling tinggi walau 1 org saja paling menyukainya (Bei). Point voting ini bisa kaya dg strategi utk memenangkan sesuatu  perlu dpt membaca nilai2 orang lain disertai asumsi2 tertentu.

11 Pilihan Ganda (Plurality Voting)
Dilakukan dg memberikan angka berdasarkan urutan preferensi. Utk proyek paling disukai diberi angka 1 dan nilai yg semakin besar utk yg tidak disukai. Pemilih Proyek Adil Bei Surya Total Jalan Raya D a m Polisi 1 2 3 3 2 1 3 1 2 7 5 6 Yg terpilih adalah yg total nilainya paling kecil  dam.

12 Teori Demokrasi Perwakilan
Dlm kenyataan nyaris tdk ada proyek pemerintah yg pene- tapannya melibatkan seluruh masy  pd umumnya pemu- ngutan suara melalui perwakilan. Masalahnya, adakah jaminan bhw wakil2 rakyat akan memilih proyek2 pemerintah sesuai kehendak rakyat? Model demokrasi perwakilan diperkenalkan oleh Joseph Schumpeter dan Anthony Downs  asumsi2: masy dan wakil2 rakyat bertindak rasional berdasar kepentingan masing2. tujuan politisi atau wakil2 rakyat  mempertahankan kedudukan. tujuan rakyat  memaks. manfaat dr proyek2 pemerintah dan meminimumkan pembayaran pajak.

13 Rakyat akan memilih wakil2 yg dpt mewakili aspirasinya,
sedangkan wakil2 rakyat akan berusaha memilih proyek2 yg diinginkan rakyat agar tetap terpilih. mnrt teori ini bhw tujuan utk memikirkan kepentingan diri masing2  proyek2 pemerintah yg dilaksanakan sesuai yg diinginkan masyarakat.

14 KOALISI DLM PEMUNGUTAN SUARA
Kadang proyek2 pemerintah tdk dilakukan sendiri2 tapi dlm satu paket  pemilih juga memilih berdasar paket. mungkin pemilih mengadakan koalisi utk memenang- proyek yg disukai. Misalkan dlm suatu pemilihan terdpt 3 wakil rakyat, yakni wakil I,II, III utk memilih proyek A, B, C, dan D yg dijadikan 2 paket. Tiap pemilih diberi angka 100 yg dpt didistribusi- kan di antara 2 proyek dlm 1 paket.

15 Kasus 2 Kasus 1 Proyek I II III I II III Paket 1 51 49 Proyek A Proyek B 1 99 51 49 60 40 1 99 60 40 Paket 2 Proyek C Proyek D 51 49 52 48 45 55 51 49 52 48 20 80 Kombinasi Unggulan A & C Kalah B & D 52 148 103 97 105 95 52 148 103 97 80 120 Kombinasi terpilih (B,D) (A,C) (A,C) (B,D) (A,C) (B,D)

16 Kasus 1: Bila tiap proyek dipilih sendiri2, maka: Utk proyek A dan B, ind. I pilih B, ind. II dan III pilih A.  kalau sistem mayoritas A terpilih. Utk proyek C dan D, ind. I & II pilih C, ind. III pilih D.  C yg menang. Kombinasi antara proyek2 yg menang (A,C) dlm 1 paket, dan yg kalah (B,D) dlm paket lain: Ind. I pilih (B,D), ind. II dan III pilih (A,C) Terlihat konsistensi dlm 2 kali pemilihan  baik secara sendiri2 maupun kombinasi hasilnya sama, yakni (A,C) Namun, plurality voting tdk selalu memberikan hsl demikian krn adanya Arrow’s Paradox  Kasus 2.

17 PERTUKARAN SUARA (LOGROLLING)
Merupakan suatu cara bagi para pemilih utk melakukan koalisi diantara pemilih yg kalah dg mempertukarkan suara agar sama2 beruntung dg saling memberikan nilai yg lebih besar pada proyek yg disukai. Pd kasus 2  ind. I kalah pd B, ind. III kalah pd D yg sangat mereka sukai. Dg logrolling ind. I memberi nilai lbh besar pd D jika ind. III bersedia memberi nilai lbh besar pd B.

18 TEORI WICKSELL TTG VOTING
Ekonom pertama yg menganalisis pengambilan kepu- tusan ttg pemungutan suara. Proses politik dlm bidang ekonomi sangat penting utk alokasi s.daya secara efisien. Simple majority utk menunjukkan pereferensi masy. bukan cara yg tepat  voting 1 org 1 suara dan jika terdpt M suara  pemenang dg rumus (M/2) + 1. Proses politik dlm bidang ekonomi sangat penting utk alokasi s.daya secara efisien  inefisiensi dan keter- paksaan.

19 Inefisiensi Dalam Mayoritas Sederhana (Rp.000)
Pemilih Biaya Manfaat Manfaat Netto Setuju/Tidak setuju tidak Adil Bei Surya 10 15 11 2 5 1 -8 30 28 -2 Wicksell  penentuan harga brg publik pd masyarakat yg jumlahnya besar tdk dpt dilakukan dg sistem pasar  hrs dilakukan dg sistem pemungutan suara  hrs dg suara mutlak 100% (aklamasi) krn hanya cara ini yg hasilnya sama dg sistem harga pd pasar persaingan sempurna. Tapi cara ini sangat sulit dan bisa menghambat perekonomian dari segi praktis ia mengusulkan suara relatif atau 5/6 suara yg menang.

20 Arrow Paradox Arrow menunjukkan adanya masalah dlm sistem mayoritas sederhana jika voting diadakan utk menentukan pilihan atas 3 kegiatan atau lebih. Mnrt Arrow bhw terdpt 5 syarat hrs dipenuhi agar voting dpt mencapai hsl yg efisien: 1. Pilihan hrs konsisten/transitif. Jika terdpt 3 pilihan, X, Y, dan Z dan jika X > Y, Y > Z, maka X > Z. 2. Pilihan alternatif (ke 2) tdk boleh ditekuk dg berubahnya urutan pilihan yg disukai. Urutan X,Y,Z,W,N  X paling disukai, N terakhir. Ranking tdk boleh berubah jika Y,X,Z,W,N krn X > Z,W,N.

21 3. Urutan pilihan tdk boleh berubah apabila 1 atau lebih
pilihan alternatif dihilangkan. Jika X,Y,Z,W,N dan Y dihilangkan  X,Z,W,N. 4. Pemilih hrs menentukan pilihannya dg bebas. 5. Penentuan pilihan tdk boleh dilakukan dg diktatorial. Hasil pemilihan yg tidak sesuai dg satu atau lebih syarat diatas  Arrow Paradox. THEOREMA MEDIAN VOTER Dlm voting berdasarkan mayoritas sederhana, pemilih yg bertindak sbg median voter yg paling beruntung krn pilihan yg disukainya pasti menang.

22 DA, DB, DC kurva demand ind A, B, dan C, S kurva supply
Q1 Q2 Q3 Jasa Polisi DA, DB, DC kurva demand ind A, B, dan C, S kurva supply jasa polisi dg jumlah yg diminta masing2 Q1, Q2, dan Q3. Paling optimal  Q2. WHY?


Download ppt "PUBLIC CHOICE."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google