Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

TRADISI SURAN SENDANG SIDUKUN DAN NILAI GOTONG-ROYONG PADA MASYARAKAT DESA TRAJI, KECAMATAN PARAKAN, KABUPATEN TEMANGGUNG (Kajian Antropologi-Sosiologi)

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "TRADISI SURAN SENDANG SIDUKUN DAN NILAI GOTONG-ROYONG PADA MASYARAKAT DESA TRAJI, KECAMATAN PARAKAN, KABUPATEN TEMANGGUNG (Kajian Antropologi-Sosiologi)"— Transcript presentasi:

1 TRADISI SURAN SENDANG SIDUKUN DAN NILAI GOTONG-ROYONG PADA MASYARAKAT DESA TRAJI, KECAMATAN PARAKAN, KABUPATEN TEMANGGUNG (Kajian Antropologi-Sosiologi) Hanggit Sadewa Drs.Tri Widiarto, M.Pd

2 I. PENDAHULUAN Diantara sekian banyak tradisi yang ada di Jawa, tradisi memperingati datangnya tahun baru Islam Hijriah (bulan Muharram) yang disebut bulan Sura dalam masyarakat Jawa, memiliki makna khusus, mereka menyambutnya dengan berbagai kegiatan religi yang dibalut dengan suatu kebudayaan setempat sehingga menciri khaskan daerah tersebut. Gotong-royong dalam masyarakat Jawa merupakan bentuk kerja sama yang asasnya timbal balik, bersifat spontan “tanpa pamrih”, dan untuk memenuhi kewajiban masyarakat. Gotong-royong berlaku diberbagai aspek kehidupan masyarakat tidak terkecuali dibidang religi atau kepercayaan yang di dalamnya mengandung nilai-nilai budaya non-material, tetapi berhubungan dengan kekuatan-kekuatan gaib di luar jangkauan rasio masyarakat desa.

3 II. LANDASAN TEORI Bulan Sura merupakan bulan pertama dalam sistem kalender Jawa. Tahun baru Jawa ini diciptakan oleh Sultan Agung dengan mengikuti peredaran bulan (Kamariyah), dan juga dipengaruhi sistem kalender tahun baru Islam Hijriyah. Menurut tradisi Jawa, bulan Sura dianggap sebagai bulan yang keramat karena bulan ini dianggap sebagai sumber malapetaka atau bencana dalam segala aktivitas manusia. Pendapat ini didasakan pada pertimbangan adanya berbagai gejala peristiwa manusia atau alam yang kurang menguntungkan bagi kehidupan (R. A. Maharkesit, 1988/1989: 29). Prof. DR. Koentjaraningrat mengungkapkan bahwa, khusus untuk gotong-royong ialah pengerahan tenaga tanpa bayaran untuk suatu proyek yang bermanfaat untuk umum. Aktifitas gotong-royong sendiri meliputi bidang ekonomi dan mata pencaharian hidup, bidang teknologi, dan perlengkapan hidup, bidang kemasyarakatan, bidang religi atau kepercayaan yang ada dalam masyarakat.

4 III. METODE PENELITIAN Model penelitian kualitatif deskriptif menghasilkan data deskriptif yang merupakan rinci dari suatu fenomena yang diteliti. Penelitian kualitatif digunakan untuk memberikan keterangan yang jelas mengenai tradisi Suran sendang Sidukun dan nilai gotong-royong yang terkandung dalam masyarakat. Bentuk penelitian ini akan menghasilkan sebuah tulisan hasil dari data yang telah dihimpun, kemudian diidentifikasi serta dibandingkan dengan sumber lain setelah itu ditafsirkan, dianalisis sehingga didapatkan hasil yang valid dan relevan dengan obyek penelitian. Pendekatan penelitian ini adalah pendekatan antropologi-sosiologi. Antropologi adalah ilmu yang mempelajari seluruh aspek kebudayaan manusia, untuk disiplin ilmu sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tatanan atau struktur aktifitas manusia.

5 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Temuan Hasil Penelitian yang Dihubungkan dengan Kajian Teori
Tradisi Suran sendang Sidukun di Desa Traji merupakan upacara memperingati datangnya tahun baru Islam Hijriyah, bulan Muharram dalam kalender Islam, bulan Sura dalam penanggalan Jawa. Tradisi ini di langsungkan di suatu sendang yang bernama Sidukun setiap 1 (satu) tahun sekali ketika malam tanggal 1 (satu) Sura, prosesi upacara tradisinya berlangsung sampai 3 (tiga) hari 3 (tiga) malam. Keunikan dari tradisi memperingati datangnya bulan Sura di tempat ini yaitu dilakukan di suatu sendang yang bernama Sidukun alasan prosesi upacara tradisi di tempat tersebut karena sudah menjadi adat tradisi dan dikeramatkan oleh warga masyarakat sejak dahulu, kemudian dalam posesi Suran ini kepala desa dan istri didandani selayaknya pengantin adat Jawa dengan makna seorang kepala desa merupakan pemimpin, dan pemimpin dalam anggapan orang Jawa adalah seorang raja, raja identik dengan pakaian adat kebesaran seperti pengantin.

6 Dengan mengenakan pakaian pengantin adat Jawa Yogyakarta beserta istri dan warga yang didaulat mendampingi, kepala desa beserta istri dikirab bersamaan dengan aneka macam sesaji, gunungan hasil bumi dari balai desa menuju sendang Sidukun sejauh 500 m di mana upacara tradisi Suran sendang itu dilangsungkan. Nilai gotong-royong merupakan landasan utama terlaksananya prosesi upacara tradisi Suran sendang Sidukun, disamping itu sistem “anda usuk” (gotong-royong) sudah menjadi kesepakatan bersama, juga terdapat pamrih dari setiap individu masyarakat dalam melakukan kegiatan gotong-royong memperingati datangnya bulan Sura tersebut.

7 Beberapa arti penting pamrih yang ada dalam diri masyarakat dalam melakukan gotong-royong tersebut seperti, pamrih mendapatkan timbal balik oleh alam, leluhur atau Sang Pencipta dalam suka rela melakukan gotong-royong menggelar Suran sendang Sidukun, kekerasan simbolik dalam undangan melakukan gotong-royong bukan semata-mata paksaan tetapi mengandung pamrih sebagai sarana pelestariaan kebudayaan lokal, pamrih mendapatkan apresiasi dari semua warga masyarakat Desa Traji dengan tujuan tidak mendapat sanksi sosial dalam kehidupannya.

8 V. IMPLIKASI TERHADAP DUNIA PENDIDIKAN
Dalam menjaga dan melestarikan tradisi kebudayaan khususnya tradisi Suran sendang Sidukun di Desa Traji, Kecamatan Parakan, Temanggung, disamping menggelar tradisi upacara setiap tahunnya juga harus memperkenalkannya sejak dini kepada generasi muda. Hendaknya pemerintah mengambil sikap dan upaya untuk ikut melestarikan budaya lokal tersebut dengan memasukan unsur tradisi kebudayaan lokal seperti tradisi Suran sendang Sidukun ini ke dalam ulasan mata pelajaran di sekolah baik di mata pelajaran sejarah Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Sekolah Menengah Atas (SMA) maupun di pelajaran bahasa Jawa di semua tingkat pendidikan dari SD-SMA, yang disisi lain menjadi aset kebudayaan bangsa Indonesia dan salah satu identitas Kabupaten Temanggung. Dengan diperhatikannya tradisi ini juga dapat berpotensi menjadi daya tarik wisata religi sehingga akan meningkatkan pendapatan daerah. Kepada masyarakat Desa Traji pada khususnya dalam prosesi tradisi Suran sendang Sidukun hendaknya harus tetap mempertahankan sistem gotong-royong, karena gotong-royong merupakan identitas moral bangsa Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa lain di dunia, disamping itu gotong-royong adalah sistem sosial kemasyarakatan yang dapat mempersatukan perbedaan.

9 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA SALATIGA 2017 TERIMA KASIH


Download ppt "TRADISI SURAN SENDANG SIDUKUN DAN NILAI GOTONG-ROYONG PADA MASYARAKAT DESA TRAJI, KECAMATAN PARAKAN, KABUPATEN TEMANGGUNG (Kajian Antropologi-Sosiologi)"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google