Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

AKUNTANSI KEUANGAN MADYA 1

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "AKUNTANSI KEUANGAN MADYA 1"— Transcript presentasi:

1 AKUNTANSI KEUANGAN MADYA 1
Bab 12 Aktiva Tetap Berwujud

2 Definisi, Karakteristik
Aktiva tetap berwujud adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dengan dibangun terlebih Karakteristik Dipergunanakan untuk operasional perusahaan dan tidak untuk dijual Memiliki masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi Memiliki bentuk fisik Nilainya material

3 Perolehan Aktiva tetap berwujud dicatat sebesar biaya perolehannya.
Biaya perolehan adalah setiap biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membuat aktiva tersebut berada dalam kondisi siap digunakan. Contoh biaya yang dapat diatribusikan secara langsung ke perolehan aktiva tetap : Biaya persiapan tempat Biaya pemasangan Biaya pengiriman Biaya simpan Biaya bongkar muat Bea impor PPN masukan yang tidak boleh direstitusikan Biaya profesional Untuk aktiva berwujud yang berupa tanah maka yang dapat diatribusikan : Harga transaksi pembelian tanah termasuk tanaman, prasarana, bangunan diatasnya yang harus dibeli kemudian dirubuhkan. Biaya pembuatan tanah, bila lahan diciptakan Biaya pematangan tanah Biaya ganti rugi penghuni Biaya pembelian tanah lain, sebagai pengganti Biaya komisi perantara jual beli tanah Biaya pinjaman terkapitalisasi ke dalam tanah. Biaya legal atas tanah (non SHM) akan diakui sebagai beban tangguhan dan diamortisasi

4 Perolehan Pembelian secara tunggal Pembelian secara gabungan
Pertukaran dengan aktiva nonmoneter Penerbitan saham perusahaan sendiri Sumbangan Pembuatan sendiri

5 Pembelian secara tunggal
Perolehan Pembelian secara tunggal Contoh 1 Perusahaan membeli mesin seharga Rp80 juta. Biaya yang terjadi adalah bea impor dan PPN masukan (yg tidak boleh direstitusikan) Rp9 juta, biaya pengiriman Rp10 juta serta biaya bongkar muat Rp3 juta. Dalam perjalanan ke Surabaya terjadi kecelakaan dan dikenai denda Rp1 juta. Maka harga perolehan mesin adalah Rp102 juta, denda Rp 1 juta tidak boleh dimasukkan sebagai harga perolehan. Contoh 2 Mobil dibeli dengan harga Rp100 juta, pembayaran dilakukan secara angsuran selama 2 tahun dengan bunga 20% per tahun sehingga total nilai pembayaran menjadi Rp140 juta. Maka harga perolehan mobil adalah Rp100 juta, sedangkan bungaRp40 juta diakui sebagai beban bunga sepanjang 2 tahun angsuran.

6 Pembelian secara gabungan
Perolehan Pembelian secara gabungan Terjadi karena membeli beberapa aktiva tetap berwujud dengan satu nilai Masalah : Jika membeli gedung pabrik beserta mesin dan peralatan lain senilai Rp 2 milyar, bagaimana cara mengalokasikannya? Cara mengalokasikannya dengan perbandingan nilai wajar dari aktiva yang bersangkutan. Contoh: PT Poltek NSC membeli gedung pabrik beserta mesin dan peralatan senilai Rp 1 milyar perkiraan harga pasar sbb: Aktiva Nilai Buku Nilai Pasar Wajar Alokasi Nilai Perolehan (Rp000) Gedung Pabrik 300,000 700,000 700,000_ x Rp 583,333 1,200,000 Mesin 200,000 300,000_ 250,000 Peralatan 100,000 200,000_ 166,667 Total 600,000 1,000,000

7 Pertukaran dengan aktiva nonmoneter
Perolehan Pertukaran dengan aktiva nonmoneter Akuntansi dibedakan berdasarkan apakah aktiva yang dipertukarkan sejenis atau tidak. Jenis Pertukaran Akuntansi Alasan Antara aktiva tidak sejenis Laba atau rugi diakui saat terjadinya pertukaran Proses perolehan penghasilan oleh aktiva yg lama telah berakhir, sedangkan aktiva yg baru memiliki fungsi yang berbeda Antara aktiva sejenis Proses perolehan penghasilan masih berlanjut dg adanya aktiva baru sejenis yg mengantikan aktiva lama

8 Pertukaran dengan aktiva nonmoneter
Perolehan Pertukaran dengan aktiva nonmoneter Akuntansi untuk Pertukaran Aktiva yg Tidak Sejenis Diakui sebesar nilai wajar aktiva yang dilepaskan atau nilai wajar aktiva yang diterima  yang lebih andal. Contoh – Kondisi laba : PT “A” menukarkan 3 mesinnya dengan 1 toko. Ketiga mesin tersebut memiliki nilai buku Rp300 juta (Nilai perolehan Rp450 juta dan akumulasi depresiasi Rp150 juta). Nilai wajar ketiga mesin tersebut sebesar Rp360 juta. Toko tersebut ditawarkan dengan harga Rp400 juta. Untuk transaksi tukar tambah ini PT “A” menambah kas Rp40 juta. Maka jurnalnya adalah: Perhitungan: Nilai pasar wajar 3 mesin Rp360 juta Nilai perolehan 3 mesin Rp450 juta Akumulasi depresiasi 3 mesin (Rp150 juta) Nilai buku 3 mesin (Rp300 juta) Laba atas pelepasan 3 mesin Rp 60 juta

9 Pertukaran dengan aktiva nonmoneter
Perolehan Pertukaran dengan aktiva nonmoneter Jurnal: Toko Rp400 juta Akumulasi Depresiasi Mesin Rp150 juta Mesin Rp450 juta Kas Rp 40 juta Laba atas pertukaran aktiva Rp 60 juta Akuntansi untuk Pertukaran Aktiva yang Sejenis – Jika rugi Contoh : PT “A” menukarkan mobil Kijang dengan Aerio milik PT “B”. Datanya sbb: Nilai pasar wajar Kijang Rp110 juta Nilai perolehan Kijang Rp200 juta Akm. depresiasi Kijang (Rp70 juta) Nilai buku Kijang (Rp130 juta) Rugi atas pelepasan Kijang Rp 20 juta Nilai pasar wajar Aerio Rp110 juta

10 Pertukaran dengan aktiva non-moneter
Perolehan Pertukaran dengan aktiva non-moneter Jurnal : Mobil Aerio Rp110 jt Akm Depr Kijang Rp 70 jt Rugi atas pertukaran aktiva Rp 20 jt Mobil Kijang Rp200 jt

11 Penerbitan saham perusahaan sendiri
Perolehan Penerbitan saham perusahaan sendiri Aktiva tetap diperoleh dengan penerbitan saham perusahaan Patokan adalah nilai pasar dari saham tersebut jika perusahaan Go Public, jika tidak Go Public maka patokannya nilai wajar dari aktiva tetap dengan bantuan penilai independen. Perolehan aktiva tetap dengan cara ini karena salah satu bentuk setoran pemegang saham ke perusahaan dalam bentuk aktiva tetap bukan berupa uang tunai. Contoh : PT “A” mendapatkan tanah/bangunan seluas 1 HA dari pemegang saham untuk ditukar dengan lembar saham biasa PT “A” yang bernilai Rp10.000/lembar. Jika harga pasar saham PT “A” adalah Rp50.000/lembar, maka jurnal yang dibuat oleh PT “A” adalah: Tanah Rp Saham Biasa Rp Tambahan modal disetor Rp Jika PT “A” adalah perusahaan keluarga sehingga tidak tersedia harga pasar sahamnya maka digunakan bantuan Penilai. Misal menurut pendapat Penilai harga wajar tanah Rp10.000/m2. Maka jurnal yang dibuat oleh PT “A” adalah: Tanah Rp * Tambahan modal disetor Rp * Rp10.000/m2 x m2

12 Perolehan Sumbangan Diakui sebagai Modal Donasi (PSAK 16) atau Pendapatan Sumbangan (FASB). Modal Donasi dilaporkan di bagian Ekuitas di Neraca Contoh : Sebuah perusahaan memperolah tanah sumbangan dari pemegang sahamnya. Nilai pasar wajar tanah tersebut adalah Rp200 juta, maka jurnalnya adalah: Tanah Rp200 juta Modal Donasi Rp200 juta

13 Perolehan Pembuatan sendiri Memasukkan semua biaya untuk pembuatan
Diperlukan biaya yang besar sehingga kemungkinan ada biaya pinjaman yg dikapitalisasi, 3 hal yang harus diperhatikan : Membutuhkan waktu 12 bulan atau lebih untuk pembuatannya. Periode kapitalisasi dimulai saat : Pengeluaran untuk membangun aktiva tersebut telah dimulai Aktivitas pembangunan sedang berlangsung Biaya pinjaman sedang terjadi Kapitalisasi dihentikan saat: Perusahaan menunda pembangunan Aktiva siap digunakan. Biaya pinjaman yang dikapitalisasi : Pinjaman tidak digunakan secara khusus untuk membangun suatu aktiva

14 Perolehan Pembuatan sendiri Contoh :
Per September 2014 PT “A” membangun gedung kantornya sendiri dan diprediksi selesai pertengahan tahun Pengeluaran selama tahun 2014 sbb: September Rp Oktober Rp November Rp Desember Rp Pinjaman yang diperoleh PT “A” untuk membangun sbb: Bank “B” Rp (bunga 15%/tahun, awal Sept)

15 Perolehan Pembuatan sendiri Jawaban:
Perhitungan rata2 tertimbang akumulasi pengeluaran Bulan Pengeluaran (Rp) Periode Kapitalisasi Rata2 Akum. Sept 04 4/12 Okt 04 3/12 Nov 04 2/12 Des 04 1/12 Total Biaya pinjaman yang dapat dikapitalisasi : Rp x 15% = Rp Bunga pinjaman : Rp x 15% x 4/12 = Rp

16 Perolehan Pembuatan sendiri Jurnal: September Kas Rp50.000.000
Hutang Bank Rp Gedung Kantor Rp Kas/Beban Gaji/dll Rp (Untuk mencatat pencairan kredit bank dan pengeluaran bangun gedung) Oktober Gedung Kantor Rp Kas/Beban Gaji/dll Rp (Untuk mencatat pengeluaran bangun gedung) November Gedung Kantor Rp Kas/Beban Gaji/dll Rp Desember

17 Perolehan Pembuatan sendiri (Lanjutan…) Desember
Beban Bunga Rp Kas Rp Gedung Kantor Rp *) (Untuk mencatat beban bunga dan kapitalisasi beban bunga) *) Kapitalisasi bukan Rp tapi max beban bunga

18 Pengeluaran Setelah Perolehan
Pengeluaran karena: Untuk memperpanjang masa manfaat Untuk mempertahankan manfaat ekonomi  4 (empat) Jenis pengeluaran sbb: Penambahan aktiva baru ke yang ada Pengembangan dan pengantian Perubahan tata letak / re-installation Perbaikan dan perawatan

19 Penambahan aktiva baru ke yang ada
Dikapitalisasi ke dalam nilai aktiva yang telah ada, jika tidak dapat dipisahkan dari aktiva yang lama  menambah nilai buku. Contoh Penambahan turbin sebesar Rp5 juta ke dalam mesin. Nilai perolehan awal Rp200 juta dan akumulasi penyusutan Rp50 juta, sisa masa manfaat 4 tahun dengan estimasi nilai sisa Rp 100 juta. Metode penyutan garis lurus. Turbin diestimasikan masa manfaat selama 5 tahun. Penyusutan ini akan dihitung menggunakan masa manfaat 4 tahun. Jawaban : Nilai buku baru = (200 juta + 5 juta) – 50 juta = Rp 155 juta Penyusutan dg garis lurus = 155 juta – 100 juta = Rp 13,75 juta 4 tahun Jurnal : Mesin Rp Kas Rp (Untuk mengkapitalisasi turbin) Beban penyusutan turbin Rp Akumulasi penyusutan turbin Rp (Untuk mencatat beban penyusutan tahunan)

20 Penambahan Pengembangan dan pengantian Substitusi
Dikapitalisasi jika menambah manfaat ekonomi, jika tidak dibiayakan Harga perolehan dan akumulasi penyusutan komponen lama dikeluarkan Substitusi Harga perolehan dan akumulasi penyusutan komponen lama tidak tersedia Kapitalisasi langsung ke aktiva tetap Memperpanjang usia manfaat Pengurangan terhadap akumulasi penyusutan

21 Pengembangan dan pengantian
Penambahan Pengembangan dan pengantian Substitusi Contoh : Awal tahun ke 21, Rumah dengan nilai perolehan Rp 300 juta dan akumulasi penyusutan Rp 200 juta akan diganti atapnya. Estimasi manfaat 30 tahun. Nilai perolehan awal atap adalah Rp 30 juta, sedangkan akumulasi penyusutan atap Rp 20 juta. Pengeluaran atap baru adalah Rp 70 juta. Jurnal : Akum. Penyusutan atap Rp 20 juta Kerugiaan Rp 10 juta Rumah Rp 30 juta (untuk mencatat pembongkaran atap) Rumah Rp 70 juta Kas Rp 70 juta (untuk mencatat pembuatan atap baru)

22 Pengembangan dan pengantian
Penambahan Pengembangan dan pengantian Substitusi Contoh : Akhir tahun ke 21 : Nilai buku rumah Rp 100 juta (Rp 300 juta – Rp 200 juta) Sisa masa manfaat 10 tahun (30 tahun – 20 tahun) Penyusutan per tahun dengan metode garis lurus menjadi : Nilai buku rumah + Nilai buku baru atap (Rp 300 jt – Rp 200 jt) + (Rp 70 jt – Rp 30 jt + Rp 20 juta) = Rp 16 juta 10 tahun Jurnal biaya penyusutan th ke 21 sd ke 30 menjadi : Beban penyusutan rumah Rp Akumulasi penyusutan rumah Rp

23 Penambahan Pengembangan dan pengantian
Kapitalisasi langsung ke aktiva tetap Pengembangan dan pengantian Contoh : Sama dengan sebelumnya namun data nilai perolehan dan akumulasi penyusutan atap tidak ada. Maka pengeluaran untuk pembuatan atap baru langsung ditambahkan ke akun rumah. Rumah Rp Kas Rp

24 Penambahan Pengembangan dan pengantian
Pengurangan thd akumulasi penyusutan Pengembangan dan pengantian Contoh : Pada awal th ke 3 mobil dengan: Nilai perolehan awal Rp 200 juta Akumulasi penyusutan Rp 60 juta Estimasi nilai sisa Rp 50 juta Sedang diganti mesinnya, mesin yang diganti seharga Rp10 juta. Pengeluaran ini akan memperpanjang masa manfaat mobil dari 5 tahun menjadi 7 tahun.. Jurnal sebagai berikut : Akumulasi penyusutan mobil Rp 10 juta Kas Rp 10 juta Jika mobil disusutkan dengan metode garis lurus maka penyusutan dari tahun ke 3 s/d ke 7 dihitung sebagai berikut : Nilai buku mobil awal tahun ke-3 sebelum kapitalisasi = Rp 200 juta – Rp 60 juta = Rp 140 juta Nilai buku mobil awal tahun ke-3 setelah kapitalisasi = Rp 200 juta – Rp 50 juta = Rp 150 juta Penyusutan per tahun dari tahun ke 3 sd tahun ke 7 dengan metode garis lurus : = (Rp 150 juta – Rp 50 juta) = Rp 20 juta 5 tahun *) *) sisa manfaat mobil setelah adanya perpanjangan estimasi masa manfaat, total masa manfaat 7 tahun sudah terpakai 2 tahun.

25 Perubahan tata letak / re-installation
Jika nilainya tidak material, maka dibiayakan Jika material maka dikapitalisasi dengan cara: Jika pengeluaran untuk pemasangan dan akumulasi penyusutannya dapat ditentukan nilainya maka kapitalisasi dengan pendekatan substitusi. Jika tidak dapat ditentukan nilainya maka pengeluaran yang terjadi langsung ditambahkan ke dalam akun aktiva tetap tersebut. Perbaikan dan perawatan Umumnya dibiayakan karena tidak material

26 Penyusutan Jumlah yang dapat disusutkan Estimasi masa manfaat
3 (tiga) istilah untuk penyusutan Depresiasi untuk penyusutan aktiva tetap berwujud (Tangible assets) Depresiasi untuk penyusutan aktiva tetap tidak berwujud (Intangible assets) Deplesi untuk penyusutan aktiva sumber daya alam. 3 (tiga) faktor untuk menentukan penyusutan Jumlah yang dapat disusutkan Estimasi masa manfaat Metode penyusutan

27 Penyusutan Jumlah yang dapat disusutkan Estimasi masa manfaat
Jumlah yang dapat disusutkan = Biaya perolehan – nilai sisa Estimasi masa manfaat Ditentukan oleh 2 (dua) faktor utama mana yang lebih pendek : a. Faktor fisik (aus, rusak, faktor2 lain yang menyebabkan aktiva sulit digunakan secara fisik b. Faktor ekonomis (usang, tidak sesuai kebutuhan, boros jika tetap digunakan)

28 Penyusutan Metode penyusutan Metode Garis Lurus
Beban Penyusutan per periode = Biaya perolehan – nilai sisa Estimasi usia pakai 2. Metode Pembebanan menurun Beban penyusutan tinggi di awal tapi rendah di akhir periode Menstabilkan besarnya beban krn pada saat awal maka biaya perbaikan kecil dan biaya penyusutan besar, demikian sebaliknya. 2 (dua) Metode pembebanan menurun : a. Metode jumlah angka tahun Biaya perolehan Rp500 juta Estimasi usia 5 tahun Estimasi nilai sisa Rp50 juta Estimasi usia pakai = N (N + 1)  5 (5 + 1) = 15

29 Penyusutan Metode penyusutan Metode jumlah angka tahun
Nilai yg dapat disusutkan Rp500 juta – 50 jt = Rp 450 juta Tahun Perhitungan Penyusutan Nilai Buku I 5/15 x Rp450 juta 150 juta 300 juta II 4/15 x Rp450 juta 120 juta 180 juta III 3/15 x Rp450 juta 90 juta IV 2/15 x Rp450 juta 60 juta 30 juta V 1/15 x Rp450 juta - 450 juta Metode saldo menurun/saldo menurun ganda Tarif = Berapa kali penyusutan garis lurus Jika disusutkan 5 tahun maka tarif = 20% x 2 = 40%

30 Perubahan Metode Penyusutan
Jika terjadi perubahan yang signifikan dalam pemanfaatan ekonomi aktiva tersebut. Diterapkan secara restrospektif dan prospektif. Contoh retrospektif : Tahun Jumlah angka tahun Garis Lurus Selisih I 5/15 x 450 juta =150 juta 450 jt / 5 = 90 juta 60 juta II 4/15 x 450 juta =120 juta 30 juta 270 juta 180 juta 90 juta III 450 jt / 5 = 90 juta dst Jurnal : Akumulasi penyusutan Rp90 juta Saldo laba Rp90 juta Tahun ketiga : Beban penyusutan Rp90 juta Akumulasi penyusutan Rp90 juta

31 Perubahan Metode Penyusutan
Contoh Prospektif : Nilai buku tahun III = Rp230 juta – Rp50 juta (Nilai sisa) = Rp 60 juta 3 tahun Jurnal : Tahun ketiga : Beban penyusutan Rp60 juta Akumulasi penyusutan Rp60 juta

32 Penyajian Aktiva Tetap Berwujud
Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai perolehan aktiva Metode penyusutan yang digunakan Masa manfaat / tarif penyusutan yang digunakan Nilai perolehan awal Rekonsiliasi nilai awal dan akhir periode memperlihatkan : Penambahan Pelepasan Revaluasi Penurunan Nilai Penyusutan Reklasifikasi Adanya batasan atas hak milik dan penggunaan aktiva sebagai jaminan hutang Jumlah pengeluaran untuk aktiva tetap berwujud dalam tahap konstruksi Jumlah komitmen untuk akuisisi aktiva tetap berwujud.


Download ppt "AKUNTANSI KEUANGAN MADYA 1"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google