Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Chapter 06 Pengukuran Variabel.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Chapter 06 Pengukuran Variabel."— Transcript presentasi:

1 Chapter 06 Pengukuran Variabel

2 Setiap penelitian tentu dimaksudkan untuk mempelajari objek tertentu.
Suatu objek dapat berupa orang, hewan, buku, kendaraan, dan contoh lain yang memiliki wujud kongkrit (tangible). Selain objek yang memiliki wujud fisik, juga objek dalam suatu penelitian dapat berupa sesuatu hal yang tidak berwujud, misalnya sikap, hasrat, kepuasan dan lain-lain

3 Tujuan pengukuran adalah untuk menterjemahkan karakteristik suatu objek atau kejadian ke dalam suatu bentuk agar peneliti dapat menganalisisnya secara empirik. Ukuran (measurement) dalam suatu riset adalah angka-angka tertentu yang ditetapkan terhadap sesuatu objek menurut aturan. Pengukuran dapat didefinisikan sebagai penetapan atau pemberian angka pada suatu objek atau kejadian menurut aturan tertentu

4 Komponen Pengukuran Memilih objek atau kejadian yang dapat ditelaah secara empirik Mengembangkan suatu set aturan pemetaan (mapping rules) artinya memberikan angka atau simbol yang dapat menggambarkan aspek atas objek atau kejadian yang diukur Mengaplikasikan atau menggunakan pemetaan untuk mengobservasi objek atau kejadian bersangkutan

5 Ketiga hal di atas saling berhubungan dalam setiap penelitian
Ketiga hal di atas saling berhubungan dalam setiap penelitian. Contoh meneliti perbandingan antara jender (pria dengan wanita) sebagai pengunjung ke suatu toko swalayan. Pada tahap awal, kita telah memilih kejadian empirik yang dapat diobservasi (selecting observable empirical event) yakni “jender pengunjung toko swalayan”

6 Tahap kedua, perlu menentukan set aturan untuk pemetaan kejadian atau objek yang kita ukur, kita dapat memilih angka atau simbol. Umpama angka “0” untuk “pria” dan “1” “wanita”. Kita juga dapat menggunakan simbol misal “P” untuk pria dan “W” wanita.

7 Pada tahap terakhir, kita gunakan aturan sebagaimana ditetapkan di dalam tahap kedua di atas. Jika pendatang yang kita temui itu “pria”, maka akan kita tulis dengan angka “0” dan “wanita” dengan angka “1”. Kita juga dapat memilih “P” untuk pengunjung “pria” dan “W” untuk “wanita”. Kegiatan semacam ini disebut sebagai proses pengklasifikasian atau pengkategorian data

8 PROSES PENGUKURAN VARIABEL
1. Menentukan kejadian atau objek empirik 2. Mengembangkan konsep yang menjadi perhatian 3. Merumuskan definisi konstitutif & operasional 4. Mengembangkan skala pengukuran 5. Mengevaluasi skala berdasarkan validitas dan reliabilitas 6. Memanfaatkan skala

9 Tahap 1: Peneliti perlu menentukan kejadian atau objek yang akan diukur. Penentuan objek tersebut dilakukan dengan cara mengisolasi atau memisahkan objek empirik dari objek lainnya, sehingga dapat dibedakan secara kontras objek yang hendak diukur. Contoh, penelitian dimaksudkan untuk mengungkap kerapian penataan barang di suatu toko swalayan, maka objek yang akan diukur tersebut adalah “tingkat kerapian” penataan barang.

10 Tahap 2: Peneliti perlu mengembangkan konsep objek yang diukurnya
Tahap 2: Peneliti perlu mengembangkan konsep objek yang diukurnya. Jika objek yang akan diukurnya adalah “tingkat kerapian” penataan barang di sebuah toko swalayan, maka “konsep tingkat kerapian” perlu dikembangkan secara jelas. Peneliti harus mengkaji pustaka sebagai dasar pengembangan konsep spesifik dan fokus pada “konsep kerapian” yang menjadi salah satu dari kajian “tata letak”. Tentu kita dapat membuka literatur tentang teori tata letak antara lain dalam buku-buku Manajemen Operasi.

11 Tahap 3: definisi konstitutif dan operasional, bahwa definisi konstitutif menjadi dasar untuk merumuskan definisi operasional. Karena itulah pada tahap ini peneliti harus merumuskan konstrak (konsep yang spesifik) untuk objek yang akan diukurnya. Berkaitan dengan contoh di atas, maka peneliti perlu merujuk definisi “rapi” secara konstitutif. Menurut literatur definisi konstitutif “rapi” adalah keadaan yang teratur, apik, baik, serba tersusun, dan serba beres

12 Definisi operasional itu turunan dari definisi konstitutif yang diorientasikan untuk kepentingan operasi penelitian bersangkutan. Misal definisi operasional “kerapian penataan barang di toko swalayan” adalah gambaran penataan barang yang teratur, apik, baik, serba tersusun, dan serba beres.

13 Tahap 4: Mengembangkan skala pengukuran yang akan diterapkan
Tahap 4: Mengembangkan skala pengukuran yang akan diterapkan. Maksud langkah ini untuk menetapkan “angka” sebagai upaya menterjemahkan “objek” atau “kejadian” yang akan kita ukur. Karena itu perlu: Menetapkan angka-angka tertentu yang padan untuk nilai objek yang akan diukurnya. Dengan demikian peneliti perlu mengerti dengan baik dasar pengukuran secara empirik atas objek bersangkutan. Kemudian menterjemahkan pengetahuan tentang “objek” atau “kejadian” tersebut ke dalam skala pengukuran yang dikembangkan.

14 Misal peneliti menetapkan urutan tingkat kerapian tata letak yang meliputi sangat rapi, rapi, cukup, semrawut, dan sangat semrawut. Berdasarkan tingkatan yang berurutan tersebut kemudian peneliti menterjemahkan masing-masing tingkatan ke dalam angka yang padan. Sebagai hasil penterjemahan tersebut: Sangat rapi = angka “5” Rapi = angka “4” Cukup = angka “3” Semrawut = angka “2” Sangat semrawut = angka “1”

15 Tahap 5: Mengevaluasi skala berdasarkan validitas dan reliabilitas
Tahap 5: Mengevaluasi skala berdasarkan validitas dan reliabilitas. Alat ukur yang baik adalah alat ukur yang memiliki tingkat validitas dan reliabilitas yang tinggi. Data yang telah memenuhi tingkat validitas dan reliabilitas yang baik maka dapat dianalisis dan diinterpretasikan dengan baik pula. Tahap 6: merupakan tahap akhir dalam proses pengukuran, yakni menerapkan skala yang telah kita tetapkan untuk mengukur objek atau kejadian yang akan kita ukur tersebut.

16 Nominal Ordinal Interval Rasio JENIS SKALA
Skala atau scale adalah suatu alat atau mekanisme dalam membedakan suatu variabel yang menjadi perhatian ke dalam suatu bentuk tertentu. Jenis Skala: Jenis Tingkatan Pengukuran : Measurement Scale : Nominal Ordinal Interval Rasio

17 Skala nominal adalah suatu skala yang menggunakan angka atau huruf untuk suatu objek yang hanya menunjukkan label saja tidak mencerminkan tingkatan atau nilai apa pun. Contoh: Wanita 1 Laki-laki 2

18 Skala ordinal adalah pemberian angka pada suatu objek yang menunjukkan tingkatan.
Contoh: Berilah peringkat supermarket berdasarkan kualitas pelayanannya ! Borma……………………… 1 Morosono…………………… 3 Matahari ………………….. 5 Rita market…………………. 2 Rina market………………… 4 Super Ekonomi …………. 6

19 Skala interval adalah skala yang menggunakan angka untuk suatu set objek dengan jarak yang sama antara satu ciri atau sifat objek maupun kejadian yang diukur. Contoh: Skala Pada Termometer Skala Pada Jam Skala Pada Tanggal . Skala rasio adalah skala yang menggunakan angka pada objek yang memiliki nilai absolut. Contoh: Berat Badan Pendapatan Hasil Penjualan

20 Ringkasan Tentang Skala
Tipe Pengukuran Kategori Peringkat Jarak Perbandingan Nominal Ya Tidak Ordinal Interval Rasio Thursday, November 08, 2018

21 SKALA DATA SKALA CIRI-CIRI CONTOH Rasio - Absolut Berat (kg) Jenjang
Tinggi (cm) Interval Luas (ha) Tertinggi Produktivitas (unit) Nilai ujian (mentah) Ordinal Nilai mutu Peringkat lomba Nominal Kategori Jenis agama Jenis kelamin Jenis pekerjaan Thursday, November 08, 2018

22 Jenis data berdasarkan sudut pandang statistik:
Data kualitatif meliputi: Skala nominal Skala ordinal Data kuantitatif mencakup: Skala interval Skala rasio

23 Thank You !


Download ppt "Chapter 06 Pengukuran Variabel."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google