Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

CONTOH KASUS PEMELIHARAAN RUTIN DAN BERKALA

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "CONTOH KASUS PEMELIHARAAN RUTIN DAN BERKALA"— Transcript presentasi:

1 CONTOH KASUS PEMELIHARAAN RUTIN DAN BERKALA

2 Fenomena Kurangnya Pemeliharaan Rutin

3 Tanaman liar yang tidak dibersihkan
Masalah Pemeliharaan Rutin Tanaman liar yang tidak dibersihkan

4 kebocoran pada bagian atas lantai
Masalah Pemeliharaan Rutin kebocoran pada bagian atas lantai Tumbuhan pada jembatan

5 Masalah Pemeliharaan Rutin
Kerusakan pada Expansion Joint

6 Masalah Pemeliharaan Rutin
Bocornya pipa drainase Gerusan pada pelindung abutment

7 Landasan logam berkarat
Masalah Pemeliharaan Rutin Landasan logam berkarat Landasan karet deformasi dan sobek

8 Korosi tulangan kepala pilar
Masalah Pemeliharaan Rutin Korosi tulangan kepala pilar Korosi tulangan abutment

9 Korosi pada tulangan gelagar Korosi pada tulangan lantai
Masalah Pemeliharaan Rutin Korosi pada tulangan gelagar Korosi pada tulangan lantai

10 Masalah Pemeliharaan Rutin
Kebakaran akibat sampah menumpuk

11 Tumpukan Sampah

12 Tumbuhan di sekitar trotoar kebocoran pada bagian atas lantai

13 Tumbuhan liar pada jembatan

14 Kondisi railing yang baik
Korosi baja bangunan pelengkap

15 Bocornya pipa drainase
Lepasnya pipa cucuran

16 Perbaikan gompal

17

18 KERUSAKAN BAJA

19 Kerusakan Pada Baja Penurunan mutu dari cat dan galvanisasi Karat
Kerusakan pada bagian-bagian baja Ikatan/sambungan yang longgar Keretakan

20 Kerusakan 301 - Penurunan Mutu dari Cat dan/atau Galvanis
Bagian-bagian yang menunjukkan Kerusakan Awal pada Pekerjaan Cat

21 Kerusakan 302 – Karat Tempat-tempat yang harus diperiksa untuk karat yaitu : sudut-sudut tumpukan sampah, kotoran, tanah dan lain-lain dapat mengumpulkan dan menjebak kelembaban pada daerah yang diberi pelumas (gemuk) seperti pada perletakan geser, rocker atau perletakan rol pada kabel dan kabel-kabel angker pada jembatan gantung sambungan

22 Sambungan Berlapis yang Mengembang karena Karat
Kerusakan 302 – Karat (cont’) Sambungan Berlapis yang Mengembang karena Karat

23 Tempat-tempat dimana umumnya terjadi karat pada jembatan rangka
Kerusakan 302 – Karat (cont’) Tempat-tempat dimana umumnya terjadi karat pada jembatan rangka

24 Kerusakan 302 – Karat (cont’)
Pipa Cucuran Pengaku pada bagian perletakan Batang Atas Bagian badan gelagar Di bagian bawah sayap gelagar Di bawah penumpukkan puing di kepala jembatan Di tempat keluarnya kotoran dari pipa cucuran pada bagian bawah sayap atau badan gelagar Titik-titik dimana umumnya terjadi karat pada Jembatan Gelagar Baja

25 Kerusakan 302 – Karat (cont’)

26 Kerusakan 303 - Perubahan Bentuk pada Komponen
Deformasi setempat

27 Kerusakan 303 - Perubahan Bentuk pada Komponen (cont’)

28 Kerusakan 303 - Perubahan Bentuk pada Komponen (cont’)
Akibat kebakaran

29 Kerusakan 304 – Retak Bagian akhir pelat lapis tambahan

30 Kerusakan 304 – Retak (cont’)
Retak fatik pada flens gelagar baja

31 Retak fatik pada sambungan
Kerusakan 304 – Retak (cont’) Retak fatik pada sambungan gelagar baja

32 Kerusakan 308 - Sambungan yang Longgar
Paku Keling Baut Mutu Tinggi (ada tanda di bagian kepala) Baut tipe tumpu Las

33 Baut kendur dan hilang (ilustrasi)
Kerusakan Sambungan yang Longgar (cont’) Baut kendur dan hilang (ilustrasi)

34 PERBAIKAN KERUSAKAN BAJA

35 PENGECATAN : Umur lapisan pelindung tersebut tergantung dari beberapa faktor Ketebalan cat (atau galvanisasi) Keberadaannya terhadap udara laut atau bahan kimia Iainnya Keberadaannya terhadap air atau adanya uap air yang terjebak (pada sambungan dan sebagainya). Daya tahan sistem lapisan pelindung baja ini pada umumnya : Permukaan yang digalvanis dengan cara hot-dipped dapat bertahan sekitar tahun Permukaan yang dicat (dipabrik) dapat bertahan sekitar tahun Permukaan yang dicat (di lapangan) bertahan sekitar 10 tahun.

36 Pengecatan ulang biasanya paling lama adalah sekitar tahun (tetapi yang paling baik adalah antara tahun), dan hal ini disarankan bagi jembatan-jembatan rangka baja yang dipasang di Indonesia. Siklus waktu tersebut mungkin harus dikurangi apabila jembatan tersebut berada pada daerah pantai.

37 KERUSAKAN 301 Penurunan Mutu Lapisan Pelindung Terhadap Karat
Umur Lingkungan yang memungkinkan terjadinya karat Lapuk Kecelakaan Penanganan yang buruk pada waktu awal. Kekerasan/tangan jahil

38 CARA PENANGANAN : Penanganan lapisan pelindung baja akan sangat tergantung pada : Besarnya masalah Lingkungan Tersedianya sumber-sumber produksi lapisan pelindung Jenis lapisan pelindung yang sudah ada

39 Metoda Penyiapan Permukaan
Pertama-tama harus dilakukan pembersihan dengan cara mencuci dan menyikat dengan menggunakan salah satu dari yang diuraikan berikut ini : Sikat kawat yang dapat berputar secara mekanis Alat penembak pneumatik runcing Pembersihan dengan teknik pemanasan api Pembersihan dengan sikat kombinasi dengan semprotan - di lapangan Pembersihan dengan sikat kombinasi dengan semprotan - di bengkel

40 Sistem Pengaplikasian Cat
Cat dapat diaplikasikan dengan menggunakan : Kuas digunakan untuk pekerjaan pemeliharaan rutin Penyemprotan udara - untuk pekerjaan menengah Penyemprotan dengan hampa udara - baik digunakan untuk pekerjaan besar dimana bidang datar yang akan dicat berupa permukaan yang cukup luas (contoh - Jembatan Gelagar Baja Jepang) Sistem Pengecatan Untuk lingkungan yang normal : Lapisan ke 1 : 40 mikron, cat dasar alkyd sinc chromate Lapisan ke 2 : 40 mikron, lapisan dasar alkyd Lapisan ke 3 : 35 mikron, lapisan enamel alkyd Lapisan ke 4 : 35 mikron, lapisan enamel alkyd Ketebalan lapisan cat kering akhir minimum 150 mikron

41 Untuk lingkungan yang agresif, seperti pada daerah lingkungan berair asin maka sistem pengecatan jenis lain yang harus dipakai. Disarankan agar lapisan dasar epoxy mempunyai ketebalan minimum 150 mikron pada permukaan baja yang sudah dibersihkan sebagaimana diuraikan diatas dan satu atau dua lapisan chlorinated rubber masing-masing dengan ketebalan 100 mikron dan 125 mikron untuk pemakaian pada lingkungan berair asin.

42 KERUSAKAN 302 Karat Pada Elemen Baja
CARA PENANGANAN : Bersihkan secara menyeluruh semua permukaan yang berkarat untuk menentukan luas penampang yang rusak/hilang dari komponen jembatan. Jika luas kerusakan kurang dari 15% maka bagian tersebut harus dibersihkan seluruhnya dan dicat sebagaimana diuraikan pada kerusakan 301. Jika luas kerusakan melebihi 15% maka diperlukan pemeriksaan khusus untuk menentukan dengan tepat strategi pemeliharaan. Cara berikut ini dapat diikuti :

43 Pembentukan Kembali Jika daerah cakupannya kecil (kurang dari 200 mm panjangnya) maka kerusakan tersebut dapat diperbaiki dengan mengembalikan pada bentuk semula dengan teknik pengelasan yang sesuai. Perkuatan Bagian Yang Lemah menambahkan pelat baja atau menambah gelagar tambahan untuk dapat memikul beban. Harus diperhatikan dengan adanya penambahan pelat atau gelagar benar-benar pada tempat yang sesuai dan benar-benar dapat memikul beban serta tidak melemahkan bagian yang aslinya, misalnya mombor lubang baut tambahan untuk sambungan. Penggantian Penggantian bagian yang rusak harus mengembalikan bagian tersebut pada kapasitas beban rencana semula. Harus diperhatikan pada waktu diadakan penggantian, apakah penunjang sementara yang dibuat betul-betul cukup kuat untuk menahan jembatan pada waktu satu bagian dipindahkan dan dipasang bagian yang baru.

44 KERUSAKAN 303 Deformasi Pada Elemen Baja (Perubahan Bentuk)

45 KERUSAKAN 304 Retak Pada Elemen Baja
CARA PENANGANAN : Beberapa penanganan : Menghilangkan gaya dengan membor suatu lubang pada bagian ujung retak Memperbaiki dengan cara pengelasan Memperbaiki dengan membuat plat penutup Memperkuat atau mengganti

46 KERUSAKAN 305 Rusak Atau Hilangnya Elemen Baja
Jika elemen tersebut Masih diperlukan maka harus diadakan penggantian atau perbaikan. Jika elemen baja tersebut yang pecah/rusak akan diperbaiki, maka teknik perbaikan berikut dapat dipergunakan : Pengelasan, pemasangan baut atau paku keling pada bagian yang baru Perkuatan atau meringankan beban yang dipikul oleh bagian yang pecah/rusak. Penggantian bagian yang rusak.

47 KERUSAKAN 306 Salah Penempatan Komponen
CARA PENANGANAN : Perkuatan Harus diperhatikan dengan baik teknik pengelasan, pemasangan baut dan paku keling Pengelasan Jika dipasang penambahan cover plate atau pengaku pada elemen maka permukaan yang akan disambungkan harus terlebih dahulu dibersihkan dan dicat. Pengelasan akan memberikan kekuatan dalam hal pemindahan gaya pada bagian tambahan tersebut. Pemasangan baut atau peku keling Lubang baut atau paku keling harus dibor sedemikian rupa dengan tepat dan baut atau paku keling harus pas dengan lubang tersebut sehingga tidak mungkin terjadi pergeseran sebelum bagian yang baru dapat memikul beban. Apabila dipakai baut, maka baut tersebut harus merupakan baut dengan mutu tinggi dan harus dikencangkan dengan tepat. Penggantian Bila diusulkan penggantian elemen baja maka perlu dibuat suatu ketentuan/batasan khusus untuk lalu-lintas yang akan lewat di jembatan dan guna menunjang konstruksi yang ada, sementara bagian yang lama dilepas dan diganti dengan bagian yang baru. Hal ini memerlukan suatu perencanaan khusus.

48 KERUSAKAN 307 Kabel Jembatan Gantung Yang Aus/Mulai Lepas Ikatannya
CARA PENANGANAN : Laksanakan pemeriksaan khusus untuk menetapkan dengan tepat besarnya kerusakan. Jika kurang dari 5% dari strands yang rusak, jepitlah dengan klem pada kedua sisi kabel tersebut untuk menahan beban. Periksalah agar batang besi cukup panjang sehingga.daerah yang lemah tadi betul-betul tertolong. Jika lebih dari 5% dari strands yang rusak/aus/ mulai lepas dari ikatannya, maka kabel tersebut harus diganti.

49 POTONGAN MELINTANG KLEM
CARA PERBAIKAN KABEL YANG RUSAK Kabel yang aus Batang besi penguat Klem khusus POTONGAN MELINTANG KLEM

50 KERUSAKAN 308 Ikatan/Sambungan Yang Longgar
CARA PENANGANAN : Baut atau paku keling Bilamana suatu elemen ini longgar, maka hal tersebut harus dikencangkan. Jika elemen tersebut merupakan elemen dengan mutu tinggi maka baut yang longgar tadi harus dibuang dan diganti dengan yang baru. Bilamana sambungan paku keling longgar maka paku keling yang longgar tadi harus diganti dengan yang baru atau dengan baut mutu tinggi. Jika lubang baut atau paku keling menjadi besar diameternya karena adanya pergerakan elemen yang longgar tersebut maka lubang tersebut harus diperbesar sampai adanya ukuran baut atau paku keling yang akan dipakai. Sambungan Las Jika elemen yang longgar tersebut karena las yang pecah, maka ujung bahan yang ada harus dibersihkan, dipersiapkan kembali untuk diadakan pengelasan kembali. Jika kerusakan yang terjadi diperkirakan akan berulang kembali maka disarankan agar dibuat rencana yang khusus untuk hal ini.

51 EKSTERNAL PRETEGANG

52 Peralatan yang digunakan dalam Metode Perkuatan PE di Jembatan Gelagar Komposit Prakompresi Condet, DKI Angker Deviator

53 Peralatan yang digunakan dalam Metode Perkuatan PE di Jembatan Rangka CH Kanci , Cirebon, Jabar
Angker Deviator

54 Pemasangan komponen tambahan rangka batang atas
Persiapan yang dilakukan dalam Metode Perkuatan PE di Jembatan Rangka CH Kanci , Cirebon, Jabar Pemasangan komponen tambahan rangka batang atas Penarikan Kabel Prategang

55 Pekuatan Jembatan tipe Komposit dengan External Stressing
External stressing untuk menambah kapasitas dan kekakuan jembatan

56 Jembatan Lematang, Teluk Lubuk - Sumsel

57 KERUSAKAN BETON

58 Kerontokan pada beton Kerusakan 201 - Kerusakan-Kerusakan Pada Beton
Korosi Tulangan Ref : XII – 8,9

59 Kerusakan 201 - Kerusakan-Kerusakan Pada Beton (cont’)
Beton yang keropos

60 Kerusakan 201 - Kerusakan-Kerusakan Pada Beton (cont’)
Ikatan yang jelek pada saat pengecoran Beton yang Berongga

61 Kerusakan 201 - Kerusakan-Kerusakan Pada Beton (cont’)
Beton yang Berongga

62 Retak Bukan Struktural
Kerusakan 202 – Retak Retak Struktural Retak Bukan Struktural Suatu retak struktural adalah : Terbuka dan melebar ketika beban lalu-lintas lewat di atasnya, lebih sering terjadi di daerah pelat lantai dan gelagar jembatan Terus berkembang seiring dengan berlangsungnya pergerakan dan penurunan, lebih sering terjadi pada bangunan bawah.

63 Kerusakan 202 – Retak (cont’)

64 Pemeriksaan Retak Struktural
Kerusakan 202 – Retak (cont’) Daerah Tarik Pemeriksaan Retak Struktural Retak Tarik Akibat Momen lentur

65 Kerusakan 202 – Retak (cont’)
Alat Pengukur Lebar Retak Retak yang Berkembang

66 Kerusakan 202 – Retak (cont’)
Retak non struktural Tipe A, B, C dan D : retakan sedimentasi atau setting Tipe E, F dan G : retakan susut plastis Tipe H dan I : susut termal dalam beton muda Tipe H : perubahan bentuk yang terhalang dari luar Tipe I : perubahan bentuk yang terhalang dari dalam Tipe J : retakan karena susut pengeringan Tipe K dan L : retakan permukaan kulit beton Tipe M : retakan akibat korosi

67 Kerusakan 203 - Karat pada Besi Tulangan
Karat akan terjadi dengan lebih cepat jika : dalam lingkungan berair asin adanya kerusakan pada beton tidak cukupnya selimut beton Daerah yang perlu pemeriksaan khusus ialah : dekat daerah batas air di bawah lantai dan balok di bawah kepala pilar di bawah permukaan yang menggembung atau berongga

68 Korosi pada baja tulangan
Kerusakan Karat pada Besi Tulangan (cont’) Korosi pada baja tulangan

69 Kerusakan 204 - Kerusakan Komponen karena aus dan pelapukan
Lalu-lintas Pengikisan oleh air atau bahan yang larut dalam air Proses kimiawi Pengikisan oleh air

70 PERBAIKAN KERUSAKAN BETON

71 KERUSAKAN 201 - Kerusakan Beton
Kerontokan beton Beton keropos Beton yang berongga Mutu beton yang jelek Beton yang tidak padat

72 CARA PENANGANAN : Buang/lepaskan semua bagian beton yang lepas dan rusak sampai bagian beton yang baik terlihat dan dalam keadaan bersih. Usahakan membersihkan beton sampai  15 mm dibelakang besi tulangan agar didapat ikatan yang baik. Bersihkan semua karat yang ada pada besi tulangan Kaitkan/Ikatkan besi tulangan yang baru jika didapat bagian besi tulangan yang diameternya hilang lebih dari 20 %. Pakailah bahan perekat pada permukaan yang kering dengan bahan yang dapat disetujui. Pasanglah dan bentuklah beton baru untuk mendapatkan selimut beton yang sesuai asalnya dengan menggunakan bahan yang disetujui.

73

74 Tebal min 5 cm jarak 50x50 cm 8 mm angkur baja 5x100x100 mm baja yang di las - pabrikasi Beton mutu tinggi Kerb lama ( setelah dipahat ) Baja tulangan lama 5,0 % Permukaan beton baru Permukaan beton lama 2,5%

75 Beton Keropos Kupaslah lapisan aspal pada permukaan jalan dan bersihkan dengan baik bagian atas lantai beton tersebut. Kerjakan penginjeksian pada daerah beton yang berpori/ kurang padat atau beton yang keropos. Berilah lapisan kedap air (waterproofing) diatas daerah beton yang kurang padat tadi. Kerjakan lapisan perkerasan kembali.

76 KERUSAKAN 202 - Keretakan Beton
Bagian Non Struktural dan Retak Non Struktural Jika retak tersebut lebih kecil dari 0,5 mm lebarnya : Bersihkan retak tersebut dengan menggunakan sikat dan kemudian ditiup dengan angin yang bertekanan. Tutup retak tersebut dengan adukan semen yang encer. Jika lebar retak antara 0,5 mm sampal 3 mm : Bentuklah pada bagian retak seperti huruf V sampai kedalaman kurang lebih 5 mm kemudian bersihkan bagian tersebut. Gunakan perekat/epoxy yang telah disetujui oleh Direksi yang kemudian dilapiskan pada sisi bagian V tadi. Kemudian tutup bagian V tadi dengan adukan semen atau epoxy.

77 Kriteria-kriteria keretakan
Kriteria I : Lebar retak berkisar antara 0,1 mm sampai 0,25 mm dan mencakup daerah kurang dari 30% dari luas elemen yang bersangkutan. Tidak terjadi rembesan atau adanya bocoran air. Mutu beton lantai tidak kurang dari 22,5 MPa Mutu beton pada gelagar, kepala jembatan, pilar tidak kurang dari 17,5 MPa Nilai kondisi elemen yang bersangkutan adalah 2.

78 Kriteria II : Lebar retak kurang dari 2 mm dan mencakup daerah kurang lebih 50% dari luas elemen yang bersangkutan Tidak terjadi rembesan atau adanya bocoran air Diperlukan suatu perkuatan yang disebabkan terjadinya beban yang berlebihan yang tidak dapat diterima oleh lantai atau gelagar akibat mutu beton yang tidak sesuai dengan persyaratan Mutu beton lantai tidak kurang dari 22,5 MPa. Mutu beton gelagar, kepala jembatan, pilar tidak kurang dari 17,5 MPa. Nilai kondisi elemen yang bersangkutan adalah 3.

79 Kriteria III : Lebar retak lebih besar dari 2 mm dan mencakup daerah lebih dari 50% luas elemen tersebut Terjadi rembesan atau adanya bocoran air Mutu beton lantai kurang dari 22 MPa Mutu beton gelagar, kepala jembatan, pilar kurang dari 17,5 MPa. NiIai kondisi elemen yang bersangkutan adalah 4 atau 5

80 Kriteria I - perbaikan keretakan dengan metoda suntikan bahan perekat/epoxy
Kriteria II - perbaikan keretakan dengan menggunakan metoda suntikan bahan perekat epoxy ditambah dengan perkuatan untuk menahan gaya momen atau gaya lintang yang tidak dapat ditahan lagi oleh elemen yang bersangkutan. Kriteria III - beton pada elemen yang bersangkutan harus dibongkar untuk kemudian dipasang kembali dengan beton yang sesuai persyaratan dan ukuran serta bentuknya seperti aslinya

81 Rekomendasi penanganan perbaikan retak dengan cara suntikan epoxy
Bersihkan semua jenis kotoran, bekas beton yang tidak sempurna atau sejenisnya yang menyebabkan terjadinya kontaminasi pada retak dengan menggunakan sikat kawat atau gerinda pada daerah selebar kurang lebih 5 cm sepanjang retakan tersebut. Jika terdapat minyak/gemuk pada bagian tersebut harus dibersihkan dengan thinner. Pasangkan pipa penyuntik ditengah-tengah permukaan yang retak dengan menggunakan bahan penutup (seal). Jarak setiap perletakan pipa penyuntik tergantung pada lebar dan dalamnya retak. Tutupi sepanjang jalur retakan antara alat penyuntik dengan menggunakan bahan penutup (seal) atau pasta epoucy dengan lebar 5 cm dan tebal 3 mm yang dituhggu sampai mengeras. Pasang alat penyuntik dengan kuat pada pipa penyuntik kemudian pompakan bahan epoxy kedalam alat penyuntik dengan suatu tekanan yang tertentu sesuai dengan spesifikasi bahan. Setelah selesai penyuntikan dan bahan epoxy mengering dalam waktu yang tertentu, kemudian lepaskan kembali alat-alat suntikan dan bersihkan kembali bahan-bahan penutup retakan. Bersihkan permukaan beton yang sepanjang retakan yang diperbaiki dengan menggunakan gerinda atau dengan melembutkan bahan penutup denga api dan mengelupaskannya.

82 KERUSAKAN 203 Karat Besi Tulangan Dalam Beton
CARA PENANGANAN : Bersihkan karat yang ada pada besi tulangan Jika setelah dibersihkan ternyata luas tulangan berkurang hingga 20% maka pada bagian tersebut harus ditambah tulangan yang baru dengan panjang sambungan kurang lebih 300 mm pada masing-masing ujungnya dengan menyambung kannya secara mekanis atau las yang baik sehingga pemindahan gaya yang ada tetap terjamin dengan baik. Setiap besi tulangan yang mencuat harus dipotong paling sedikit 20 mm dibawah permukaan beton kemudian beton diperbaiki sesuai dengan Kerusakan no 201.

83 KERUSAKAN 204 Beton Yang Aus Atau Lapuk Karena Cuaca
CARA PENANGANAN : Jika penyebab kerusakan adalah karena reaksi kimiawi atau penggaraman maka diperlukan pengujian untuk menetapkan luas dan dalamnya daerah yang terkena untuk kemudian dapat ditentukan banyaknya pembongkaran. Jika kerusakan disebabkan karena tejadinya karbonasi dan kedalamannya tidak lebih dari 25 mm, maka dapat dilakukan pelapisan dengan bahan yang direkomendasikan pada bagian luar beton.

84 KERUSAKAN 205 Pecah Atau Hilangnya Sebagian Elemen Beton
CARA PENANGANAN : Angkatlah elemen yang mengalami kelebihan gaya tersebut akibat pecahnya atau hilangnya sebagian dari elemen tersebut. Gantilah bagian yang pecah tersebut dengan bahan yang sesuai spesifikasinya atau yang serupa/sama dengan bentuk dan ukuran yang ditetapkan dalam spesifikasi aslinya. Bilamana bagian yang pecah tersebut memerlukan penggantian, maka hubungan antara permukaan yang baru dan yang lama harus ditangani sebagaimana diuraikan pada perbaikan pada kerusakan 201.

85 KERUSAKAN 206 Elemen Beton Yang Melendut
CARA PENANGANAN : Beban yang berlebihan Bilamana terjadi lendutan akibat beban yang berlebihan, maka diperlukan pemeriksaan khusus untuk menentukan luas/volume kerusakan. Hindarkan beban yang berlebihan dengan cara mengadakan pembatasan muatan. Bagian yang mengalami gaya yang berlebihan harus diperkuat, diganti atau diperbaiki. Lendutan yang terjadi pada elemen beton akibat beban yang berlebihan biasanya terjadi karena adanya keretakan atau pecah/hancurnya elemen tersebut. Perbaikan mengikuti kode kerusakan 201 atau 202.

86 Kecelakaan Kerusakan karena kecelakaan seringkali terjadi pada sandaran. Sandaran yang rusak biasanya diganti sehingga tetap dapat menahan apabila terjadi kecelakaan lagi. Jenis kerusakan lain akibat kecelakaan yang mengakibatkan lendutan, biasanya diperbaiki sesuai dengan kerusakan akibat beban yang berlebihan ( contoh - Beban yang berat sekali jatuh dari truk pengangkut yang menyebabkan lendutan pada gelagar dan lantai) Acuan yang bergerak pada saat pengecoran Jika acuan / bekisting (formwork) berubah bentuk atau bergerak pada saat beton belum mengeras dan mengakibatkan terjadinya keretakah dari elemen yang bersangkutan maka hal tersebut dimasukkan dalam masalah beban yang berlebihan. Jika tidak terlihat adanya lendutan yang berlebihan maka tidak diperlukan perbaikan atau suatu tindakan.

87 KERUSAKAN 101 Penurunan Mutu Atau Retak Pada Pasangan Batu/Bata

88 KERUSAKAN 102 Perubahan Bentuk Atau Penggembungan Permukaan
Penggembungan Yang Sedikit Lepaskan pasangan batu/bata yang rusak, periksa apakah terdapat tanah timbunan yang jenuh air atau tidak padat dibelakang dinding pasangan batu/bata, Gantilah pasangan batu/bata yang rusak dengan jenis material yang setara atau sama dengan aslinya dalam ukuran dan bentuknya. Yakinkan bahwa terdapat cukup lubang saluran air di sepanjang dinding. Hubungan antara permukaan lama dengan baru harus ditangani dengan baik dan terikat dengan baik seperti diuraikan pada bagian "Perubahan beton yang rontok" (kerusakan no. 201)

89 KERUSAKAN 103 Batu/Bata Yang Pecah Atau Hilang
Penanganan secara umum adalah Gantilah bagian yang hilang/pecah tersebut dengan material seperti yang disebutkan dalam spesifikasi atau setara dengan aslinya dalam bentuk dan ukurannya. Bilamana bagian hilang tersebut perlu diganti dengan yang dibangun kembali, maka hubungan bagian yang lama dengan yang baru harus ditangani seperti diuraikan dalam Perbaikan pasangan batu/bata yang retak (Kerusakan 101).

90 PERKUATAN ELEMEN BETON

91 METODA BENTANG DIPERPENDEK DIMENSI DIPERBESAR EXTERNAL PRESTRESSED
STEEL PLATE FIBRE REINFORCED POLYMER

92 Penambahan Dimensi

93 Perkuatan lantai dengan Steel Plate Bonding

94 Perkuatan dengan Fiber Reinforced Polymer

95 STEEL PLATE vs COMPOSITE
Low material cost High installed cost High tensile strength Corrosive Heavy Fabrication required High maintenance High material cost Low installed cost Very high tensile strength Non-corrosive Lightweight No fabrication required Low maintenance

96 FIBRE REINFORCED POLYMER
PLATE CARBON WRAP CARBON ARAMID GLASS

97 Perkuatan Gelagar dengan Aramid Fiber

98 Perkuatan Gelagar dengan Carbon Fiber

99 Penambahan Diaphragma
Penambahan diaphragma untuk memperkaku jembatan serta meningkatkan kerjasama antar gelagar

100 TERIMA KASIH


Download ppt "CONTOH KASUS PEMELIHARAAN RUTIN DAN BERKALA"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google