Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Berjanji di Malino (2) “Bila Anda sudah susun, perlihatkan saya dulu sebelum Anda coba sosialisasikan kepada masing-masing pihak. Nanti Farid yang atur.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Berjanji di Malino (2) “Bila Anda sudah susun, perlihatkan saya dulu sebelum Anda coba sosialisasikan kepada masing-masing pihak. Nanti Farid yang atur."— Transcript presentasi:

1 Berjanji di Malino (2) “Bila Anda sudah susun, perlihatkan saya dulu sebelum Anda coba sosialisasikan kepada masing-masing pihak. Nanti Farid yang atur dengan siapa Anda bertemu dari masing-masing pihak. Tugas Anda adalah menyusun naskah perjanjian damai dan mendiskusikannya dengan wakil masing-masing pihak. Anda juga harus berdiskusi dengan para wakil peninjau. Untuk ini, nanti Pak Syahrul Ujud yang aturkan siapa-siapa saja yang mewakili para peninjau untuk Anda temui kemudian mendiskusikannya,” tambah JK lagi. Naskah perjanjian damai Ambon pun saya coba susun, dan harus di kamar JK. Saya tidak boleh ke mana-mana. Begitu interuksi JK pada saya. Selang beberapa jam kemudian, naskah sudah jadi. Jumlah butir-butir kesepakatan adalah 17. Sulit sekali bagi saya untuk menjadikannya hanya antara 11 dan 13 butir, sebagaimana permintaan JK. “Bagaimana, Saudara? Sudah menjalankan perintah?” sapa JK malam itu. “Perintah komandan pasti dilaksanakan, Pak. Naskah sudah jadi berjam-jam yang lalu,” jawab saya. “Anda baru saja selesaikan. Bukan berjam-jam yang lalu. Meski saya tidak di kamar, tetapi ‘kan saya monitor terus Anda. anda ini mau dapat kredit terlampau cepat,” tangkis JK. Ia pun langsung mengambil naskah yang saya buat itu, lalu membacanya. “Ai, Anda belum sukses ini. Mengapa masih terlampau banyak poin di dalamnya?” tanya JK. “Sebelum kita bicara subtansinya, apakah pengantar dan penutup naskah perdamaian ini cukup bagus, Pak?” saya balik bertanya. “Pengantar dan penutup sudah cum laude, tetapi jumlahnya sangat banyak. belum lulus Anda,” JK menyela. “Begini saja Pak, kan saya akan berdiskusi dengan semua pihak nanti. Di situlah saya akan yakinkan mereka bahwa kesepakatannya cukup antara 11 dan 13 poin saja. Pokoknya, itu urusan saya untuk meyakinkan mereka, Pak. Saya juga memang menyadari bahwa makin banyak makin butir kesepakatan makin sulit nanti diimplementasikan dan akan menjadi soal baru di kemudian hari, Pak,” jawab saya pada JK. “Boleh. yang penting Anda sudah mengetahui betapa sulitnya jika banyak butir kesepakatan. Kalau bisa, mulai malam ini juga Anda coba mendiskusikan hal ini. Mulai saja dari kelompok peninjau. Pak Syahrul sudah siapkan nama-nama dan tempat Anda bertemu dengan mereka,” lanjut JK lagi. Tidak membuang waktu, perintah JK segera saya laksanakan. Pak Syahrul Ujud, salah satu eselon I pada Kantor Menko Kesra, sudah menyiapkan segalanya buat saya. Saya hanya membawa draf yang telah saya buat dan konsultasikan dengan JK. Saya diskusikan draf tersebut kepada sejumlah tokoh yang masuk dalam kelompok peninjau. Semuanya menyetujui. Bahkan tak ada yang bertanya ataupun menambahkan. Pertemuan saya dengan para tokoh tersebut, saya mulai dengan latar belakang butir-butir yang saya masukkan dalam draf perjanjian damai itu. Benang merah saya tarik ke belakang, dari pertemuan kecil di Ambon hingga pertemuan besar, termasuk hasil pertemuan di Makassar sebelumnya. Semua yang ada dalam draf ini adalah rangkuman dari rentetan pertemuan sebelumnya, saya kepada mereka. Dalam meyakinkan para peninjau tersebut, saya banyak dibantu oleh Gubernur Maluku, Saleh Latuconsina. Ia juga sering menambahkan apa yang saya katakan. Malah ia dalam banyak hal, menjelaskan lebih detail daripada saya. Singkatnya, naskah perjanjian damai yang saya susun diterima dengan senang hati oleh para peninjau. Esok paginya, JK meminta ajudannya mengirim naskah perjanjian tersebut kepada Menko Polkam untuk koordinasi. Jawaban dari Menko Polkam, ternyata tidak terlampau lama. Mayor Jenderal Bambang Sutejo, salah seorang Deputi Menko Polkam, tiba-tiba memberikan saya selembar faks dari Kantor Menko Polkam. Isinya, respons Menko Polkam atas naskah yang saya buat tersebut. Menko memberi catatan atas butir keempat, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan butir kelima, bentuk organisasi dan satuan yang berada di Maluku. Lembaran faks tersebut langsung saya berikan kepada JK, yang saat itu tengah memimpin sidang pleno. “Ini dari Menko Polkam, Pak. Ada catatan sedikit yang beliau berikan,” kata saya pada JK. “Oke, tak ada soal. Ini hanya catatan semantik saja,” kata JK. Saya pun memberi tahu Mayjen Bambang atas tanggapan JK tersebut. Mayjen Bambang mengangguk sembari mengangkat jempol tangan. Sidang berlangsung terus. Masing-masing pihak kembali berbicara, dengan nada marah. JK tetap tenang memimpin pertemuan dengan santai, tetapi tegas. Ia tak segan-segan memotong pembicaraan yang berulang-ulang. Ia juga tak canggung menginterupsi para pembicara yang liar ke mana-mana. Saya tak boleh melewatkan sedikit pun isi pembicaraan itu. Semuanya tetap saya harus perhatikan dan rangkuman. Sore hari, JK memanggil saya lagi. “Gimana, Mid. Semua pembicaraan sudah berulang? Artinya, tak ada lagi yang baru. Semua yang Anda catat dan tuangkan dalam naskah kemarin sudah menampung semua aspirasi mereka. Persis toh, yang saya katakan semua. Insya Allah, Anda akan lihat, tak ada yang meleset. Sekarang ini, Anda mulai mensosialisasikannya kepada para pihak. Mulai saja dari para pemimpin mereka. Farid sudah atur itu. Anda bertemu 7 orang dari masing-masing sekelompok,” tegas JK pada saya.


Download ppt "Berjanji di Malino (2) “Bila Anda sudah susun, perlihatkan saya dulu sebelum Anda coba sosialisasikan kepada masing-masing pihak. Nanti Farid yang atur."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google