Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

EVOLUSI KONSUMSI DAN PERMINTAAN BERAS

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "EVOLUSI KONSUMSI DAN PERMINTAAN BERAS"— Transcript presentasi:

1 EVOLUSI KONSUMSI DAN PERMINTAAN BERAS
Harianto Departemen Agribisnis – FEM/IPB Sebagai masukan bahan di Seminar “Perilaku Konsumen Beras: Implikasi Terhadap Kebijakan Beras Nasional” yang diselenggarakan PERHEPI dan House of Rice. Jakarta, 31 Mei 2016.

2 Kerangka Tulisan Pola Konsumsi Struktur Permintaan Dinamika Permintaan
Implikasi Kebijakan

3 Konsumsi Beras (Kg/minggu)
A.1 Rata-rata Konsumsi Beras Per Rumahtangga dan Harga Beras antar Pulau Pulau Konsumsi Beras (Kg/minggu) Harga (unit value) Beras Per Kg 1. Sumatera 7.56 8992 2. Jawa 6.22 7771 3. Kalimantan 6.61 8874 4. Bali-Nusa Tenggara 8.77 8462 5. Sulawesi 8.11 7379 6. Maluku-Papua 6.17 10391 Sumber: Susenas Kuartal I-2013

4 Konsumsi beras di Jawa relatif rendah dibanding pulau yang lain, dan bahkan hampir sama dengan konsumsi di Maluku-Papua yang selama ini dianggap bukan konsumen beras utama. Rumahtangga di Jawa membayar harga paling rendah daripada rumahtangga di pulau lainnya. Sebaliknya rumahtangga di pulau Maluku dan Papua membayar dengan harga paling tinggi. Kedekatan dengan sentra produksi beras dan kondisi infrastruktur fisik dan infrastruktur kelembagaan diperkirakan menjadi faktor yang ikut menentukan harga yang diterima rumahtangga.

5 A.2 Pola Konsumsi Beras Antar Kelompok Pendapatan
Quartile Pengeluaran Total Per Kapita Konsumsi Beras Per Rumahtangga (Kg/minggu) Pangsa Beras dalam Kalori Intake Rumahtangga (%) Pangsa Beras dalam Pengeluaran Rumahtangga Q1 8.06 57.3 4.5 Q2 7.45 52.7 3.3 Q3 6.91 49.1 2.5 Q4 5.98 44.9 1.4 Rata-rata 7.10 51.0 2.9 Sumber: Susenas Kuartal I-2013

6 Quartile Pengeluaran Total
A.3 Pola Konsumsi Pangan Rata-rata Konsumsi Rumahtangga Berdasarkan Kelompok Pengeluaran (kkalori/minggu) Komoditas Quartile Pengeluaran Total Per Kapita Rata-rata Rasio Q4/Q1 Q1 Q4 Beras 29188 21668 25706 0.74 Umbi2an 9079 2105 5384 0.23 Daging 1716 2918 2360 1.70 Telur 949 1469 1211 1.55 Sayuran 726 968 852 1.33 Buah2an 994 1614 1261 1.62 Mie instant 1428 1957 1707 1.37 Sumber: Susenas Kuartal I

7 Pangsa pengeluaran untuk beras cenderung semakin menurun sejalan dengan semakin meningkatnya pendapatan rumahtangga. Semakin tinggi pendapatan rumahtangga, semakin berkurang konsumsi kalori yang berasal dari beras dan umbi-umbian (Bennet Law). Pendapatan yang meningkat diikuti oleh peningkatan konsumsi kalori yang berasal dari daging, telur, sayuran, buah-buahan, dan mie instant. Rumahtangga pendapatan tinggi semakin mengandalkan pada sumber kalori yang berasal dari bahan pangan yang lebih “bermutu”.

8 B.1 Pola Permintaan Beras
Quartile Pengeluaran Total Per Kapita Elastisitas Harga (Own Price Elasticity) Elastisitas Pengeluaran (Expenditure Elasticity) Q1 -0.28 0.21 Q2 -0.15 0.15 Q3 -0.05 0.06 Q4 -0.09 -0.03 Rata-rata -0.13 0.05 Sumber: Najmudinrohman (2015) Catatan: Teklu dan Johnson (1987) dengan menggunakan data tahun 1980, memperoleh elastisitas harga = -0.58 dan elastisitas pendapatan = 0.33

9 Permintaan kelompok Q1 dan Q2 memiliki elastisitas harga yang lebih besar daripada permintaan kelompok Q3 dan Q4. Jika harga beras meningkat, maka kelompok Q1 dan Q2 ini yang lebih besar menanggung penurunan permintaan. Elastisitas pengeluaran pada permintaan beras kelompok pendapatan paling tinggi (Q4) sudah menunjukkan besaran yang negatif. Di negara Asia yang lain, fenomena elastisitas pendapatan yang negatif sudah terjadi sejak pertengahan tahun 1980an.

10 B.2 Pola Permintaan Pangan
Elastisitas silang (cross-price elasticity) permintaan bahan makanan Komoditas Harga Serealia Ikan Daging Telur/ susu Sayuran Buah2an Makanan/ minuman jadi - 0.096 0.063 0.029 0.035 0.021 0.060 0.025 0.041 0.006 -0.003 0.024 -0.034 -0.061 0.047 0.087 Telur/susu -0.142 -0.018 0.020 0.002 -0.039 -0.009 0.003 0.022 0.012 -0.042 -0.373 0.016 0.039 -0.014 0.048 Makanan/ minuman jadi -0.159 -0.015 0.018 -0.025 0.026 Sumber: Widaryono (2012)

11 Serealia masih memiliki peranan penting dalam basket permintaan rumahtangga. Apabila harga bahan makanan non-serealia naik, maka permintaan terhadap serealia juga naik. Sebaliknya, jika harga serealia naik maka permintaan akan bahan makanan non-serealia akan cenderung turun. Komponen terbesar dalam kelompok serealia adalah beras. Jadi beras masih memiliki pengaruh yang besar terhadap konsumsi bahan makanan lainnya. Harga beras yang tinggi dapat menghambat diversifikasi makanan rumahtangga. Harga kelompok bahan makanan non-serealia, memiliki pengaruh yang kecil terhadap permintaan bahan makanan lainnya.

12 C.1 Dinamika Permintaan Pangan
Pengaruh kondisi sosial ekonomi terhadap harga beras yang dibayar Ln Variabel Sosial Ekonomi Ln Deviasi harga (%) dari harga rataan Total pengeluaran makanan 0.040 Jumlah anggota rumahtangga -0.023 Lama sekolah KRT 0.004 Luas lantai rumah 0.021 Daerah pedesaan 0.027 Rumahtangga pertanian -0.016 Sumber: Yuliana (2008)

13 Deviasi harga (unit value) yang dibayarkan oleh rumahtangga dari harga rataan cluster mencerminkan adanya efek kualitas (quality effect) dan efek kuantitas (quantity effect). Semakin tinggi pendapatan rumahtangga atau pun semakin luas lantai rumah, maka harga yang dibayar cenderung semakin lebih tinggi daripada harga rataan. Hal ini mengindikasikan semakin makmur rumahtangga, kualitas beras yang dibeli semakin tinggi. Rumahtangga di pedesaan cenderung membayar harga yang lebih tinggi dari harga rataannya. Sebaliknya, rumahtangga petani cenderung membeli bahan pangan dengan kualitas yang lebih rendah.

14 C.2 Pengaruh Karakteristik Produk Terhadap Harganya
Characteristics Parameter Estimate Peanut Mungbean Rice Size -6.75 (-0.10) (-7.24) (1.16) 2. Shape 65.97 (0.86) 31.18 (1.63) (-1.82) 3. Split 1.86 (0.44) (-13.95) n.a 4. Off-color (-3.84) -2.21 (-2.32) 5. Foreign matter -2.27 (-0.18) -2.71 (-0.65) 6. Shrunken (-5.63) -4.33 (-1.67) 7. Broken -3.08 (-2.10) 8. Chalky -9.19 (-5.34) 9. Supermarket (4.74) (13.22) (11.23) 10. Packaged 45.57 (1.29) 74.35 (8.28) (5.23) Note: ( ) – t value; and n.a – not aoolicable

15 Beras yang kandungan patahnya semakin kecil dan semakin sedikit jumlah beras yang “berkapur”, maka akan semakin tinggi harganya. Lingkungan belanja dan kemasan mempengaruhi harga produk.

16 D. Implikasi Kebijakan Stabilitas harga beras terutama sangat penting bagi masyarakat kelompok pendapatan rendah. Harga beras yang naik tidak saja menyebabkan permintaan beras yang turun, tetapi juga dapat mengurangi permintaan pangan non-beras. Dengan demikian, harga beras yang tinggi dapat menghambat diversifikasi pangan kelompok ini. Konsumen dalam kelompok pendapatan tinggi cenderung mengurangi permintaan berasnya pada saat pendapatan meningkat. Beras berkualitas penting bagi konsumen kelompok ini. Konsumen golongan pendapatan tinggi bersedia membayar dengan harga yang lebih tinggi untuk dapat memperoleh kualitas beras yang lebih baik. Konsumen pendapatan rendah tampaknya cenderung menghadapi pangan yang berasal dari supply chain yang kurang efisien dibanding konsumen pendapatan tinggi. Peningkatan efisiensi sistem pangan akan memberikan dampak yang lebih besar kepada konsumen pendapatan rendah.

17 SELESAI


Download ppt "EVOLUSI KONSUMSI DAN PERMINTAAN BERAS"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google