Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

MEMBACA FATIHAH dan AYAT / SURAH PENJELASAN TATA CARA SHALAT Bagian 4/13

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "MEMBACA FATIHAH dan AYAT / SURAH PENJELASAN TATA CARA SHALAT Bagian 4/13"— Transcript presentasi:

1 MEMBACA FATIHAH dan AYAT / SURAH PENJELASAN TATA CARA SHALAT Bagian 4/13

2 TATA CARA MEMBACA FATIHAH dan AYAT: 1.Fatihah wajib dibaca setelah membaca doa iftitah. 2.Fatihah dianjurkan didahului dengan kalimat ta’awudz (berlindung kepada ALLAH dari gangguan syetan), 3.Ketika mengucapkan ta’awudz dan Bismillah, disunatkan untuk tidak mengeraskannya (syir). 4.Jika sebagai Imam, Fatihah dibaca dengan keras pada shalat jahr (Maghrib, Isya & Subuh) dan dibaca berbisik pada shalat syir (Zuhur & Ashar). Sedangkan makmum membaca dengan syir pada semua shalat. 5.Ketika membaca Amin, hendaklah diucapkan dengan jahr (secara keras) dan dengan bersamaan (jamaah). 6.Kemudian membaca ayat yang mana kita sukai.

3 MEMBACA TA’AWUDZ DAN BISMILLAH Para ulama Mazhab Syafii (Imam Nawawi dan Imam Ghazali) ber-ijtihad untuk membaca ta’awudz pada setiap membaca Surah dari Al Quran. Tentang membaca ta’awudz mereka berpendapat dari dalil firman ALLAH ta’ala dalam Al Quran Surah An Nahl ayat 98: “Apabila engkau membaca Al Quran, maka berlindunglah kepada ALLAH dari syetan yang terkutuk.” Bacaan yang terkenal dari ta’awudz adalah: Aku berlindung kepada ALLAH dari setan yang terkutuk. Kalimat ini ada dalam riwayat Muslim, namun tidak berhubungan dengan shalat. Kalimat yang lebih lengkap diriwayatkan secara shahih dalam kitab para Sunan.

4 BACAAN TA’AWUDZ A’udzubillaahi minasy-syaitaanir-radziim, minnafkhihi wa naghtsihi wa hamzihi. “Aku berlindung kepada ALLAH dari setan yang terkutuk, dari kesombongannya dan sihirnya serta godaannya.” [HR. Tirmidzi, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Baihaqi, Hakim, Daruquthni, Ibnu Hibban dan Adz Dzahabi, dianggap shahih] 1

5 BACAAN TA’AWUDZ A’udzubillaahis-samii’il ‘aliim minasy-syaitaanir-radziim, min hamzihi wa naghkhihi wa nafsihi. “Aku berlindung kepada ALLAH yang Maha Mendengar dan Mengetahui, dari godaan syetan dan kesombongannya serta sihirnya.” [HR. Tirmizi & Abu Dawud, dengan isnad hasan] 2

6 Dari Ubadah bin Shamit ra, ia berkata: Bahwa Nabi SAW bersabda: “Tidak sah shalatnya orang yang tidak membaca surat Al Fatihah.” [Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, Abu Uwanah, Baihaqi dan Ad Darami] Dari Abu Hurairah ia berkata: bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada shalat, kecuali dengan bacaan Al Fatihah.” [Bukhari, Muslim, Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad] Kewajiban membaca Fatihah ini sangat baku, sehingga apabila dalam shalat tidak membacanya, maka ia harus mengulang shalatnya dari awal lagi karena shalatnya dianggap batal (tidak sah). DALIL TENTANG KEWAJIBAN MEMBACA AL FATIHAH

7 Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Nabi SAW bersabda: “Siapa yang tidak membaca Ummul Quran (Fatihah) dalam shalat, maka shalatnya tidak sempurna (Nabi mengulangnya sampai tiga kali). Lalu ditanyakan orang kepada Abu Hurairah, “Bagaimana kalau kami shalat mengikuti imam?” Jawabnya, “Bacalah perlahan-lahan! Karena aku mendengar Rasulullah bersabda, bahwa ALLAH ta’ala berfirman: “Shalat itu AKU bagi dua, (yaitu) antara AKU dan hamba-KU. Untuk hamba-KU adalah apa yang dimintanya. Jika ia mengucapkan: “Segala puji bagi ALLAH Tuhan semesta alam”, maka ALLAH menjawab: Hamba-KU memuji AKU. Apabila dia mengucap “Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang”, maka ALLAH menjawab: Hamba-KU menyanjung-KU. Apabila ia mengucap “Maha Penguasa hari kemudian”, maka ALLAH menjawab: Hamba-KU mengagungkan- KU atau hamba-KU berserah diri kepada-KU. Apabila ia mengucap, “Hanya kepada ENGKAU kami menyembah dan hanya kepada ENGKAU kami meminta pertolongan”, maka ALLAH menjawab: Inilah bagian-KU dan bagian hamba-KU, untuk hamba-KU apa yang dimintanya. Apabila ia mengucap “Pimpinlah kami ke jalan yang lurus, yaitu jalan orang yang ENGKAU beri nikmat, bukan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat”, maka ALLAH menjawab: Inilah bagian hamba-KU, untuknya apa yang dimintanya.” [hadis Qudsy riwayat Muslim] HADIS QUDSY TENTANG KEUTAMAAN FATIHAH

8 1.Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 2.Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. 3.Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 4.Yang menguasai di hari Pembalasan. 5.Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. 6.Pimpinlah kami ke jalan yang lurus, 7.(yaitu) jalan orang-orang yang Telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

9 PERBEDAAN PENDAPAT PENGUCAPAN KALIMAT “BISMILLAH” 1.Dibaca dengan syir (berbisik atau tidak kedengaran) 2.Dibaca dengan jahr (jelas dan terdengar)

10 Sebagian ulama khususnya dari Mazhab Hanbali, mereka mengecilkan bacaan BISMILLAH sehingga tidak terdengar. Cara ini lazim ditemui di Masjidil Haram Baitullah Makkah, tentu saja karena disini ber-Mazhab Hanbali dan kerajaannya dikuasai Wahaby. Adapun dalil tentang hal itu diambil dari hadis muttafaq ‘alaihi: Dari Anas ra ia berkata : Aku pernah shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bersama Abu Bakar, bersama Umar dan bersama Usman, maka aku tidak mendengar dari mereka membaca Bismillahir-rahmanir- rahim. [HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmed, Malik & Ad Darami] 1. MEMBACA BISMILLAH DENGAN SYIR (BERBISIK)

11 Fatihah adalah salah satu ayat Al Quran, maka kemudian dalam mazhab Syafi’i dianjurkan untuk mendahuluinya dengan membaca ta’awudz, dan umumnya ta’awudz dibaca dengan syir (berbisik). Namun bismillah dibaca dengan nyaring. Dari Abu Hurairah katanya Rasulullah SAW bersabda : “Tidak sempurna shalat, melainkan dengan membaca bacaan (ayat).” kata Abu Hurairah, “Karena itu apa yang dibacanya (Nabi SAW) nyaring, kami baca pula nyaring kepadamu. Dan apa yang dibacanya perlahan, kami baca pula perlahan kepadamu.” [Muslim] Tidak disebut tentang membaca Fatihah, melainkan hanya ayat Al-Qur’an. Kalimat bismillah menurut pendapat mereka adalah termasuk ayat Al Quran, karena setiap surah dalam Al Quran pastilah dimulai dengan kalimat / bacaan “bismillahirrahmanirrahim” termasuk dalam Fatihah, sehingga pengertian hadis Abu Hurairah itu membaca nyaring termasuk apabila membaca bismillah. Jadi, pendapat kedua ini mengatakan bahwa membaca bismillah dianjurkan dengan keras (jahr). Keras disini bukan berarti teriak, melainkan terdengar. Sedangkan pada iftitah, ruku, sujud, tasyahud dan lainnya memang tidak didahului dengan bismillah. 2. MEMBACA BISMILLAH DENGAN JAHR (KERAS)

12 Bertentangan dengan pendapat tentang penafsiran hadis Anas yang mengatakan bahwa ia tidak mendengar Nabi dan sahabat membaca bismillah. Tetapi Anas tidak menyebut dengan jelas apakah Nabi tidak membaca bismillah pada semua bacaan ataukah hanya pada kalimat yang lain. Boleh jadi Rasulullah dan sahabat tidak membaca bismillah pada iftitah, ruku, sujud, duduk dua sujud dan tasyahud. Namun mereka mengucap bismillah dengan jelas ketika membaca ayat Al-Qur’an. Wallahu a’lam. 2. MEMBACA BISMILLAH DENGAN JAHR (KERAS)

13 Demikianlah sebagian daripada perbedaan pendapat dalam masyarakat kita khususnya bangsa melayu. Kita tidak dapat menyalahkan pendapat ulama- ulama nusantara yang terdahulu, karena ada yang bercerita bahwa Islam masuk ke nusantara sejak abad ke-2 Hijriah, artinya ulama kita pada saat itu masih mengikuti pendapat tabiin. Sedangkan pada zaman itu penyusunan hadis belum lengkap. Perbedaan itu tidaklah berlebihan melainkan bersifat khilafiyah, bukan dianggap bid’ah, karena membaca dengan nyaring maupun perlahan, keduanya pada hakikatnya adalah sama-sama membaca bismillah. Yang pantas untuk kita anggap salah adalah orang yang tidak mau shalat. Namun dapat kita simpulkan untuk perbedaan ini yaitu bahwa yang lebih mendekati sunnah Rasulullah adalah membaca Bismillah dengan suara perlahan (syir).

14 MEMBACA “AMIN”

15  Dari Sa’id bin Al Musayyib dan Abu Salamah bin Abdurrahman, keduanya mengabarkan kepadanya dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW bersabda: “Apabila imam mengucapkan “amiin” maka ucapkanlah (juga) oleh kalian “amiin”, karena barangsiapa yang ucapan amin-nya bersamaan dengan ucapan amin para malaikat niscaya akan diampuni dosanya telah lalu.” [Bukhari, Muslim, Tirmizi, Nasai, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, Malik, Ad Darami]  Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: “Apabila imam mengucapkan “ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladhdhaalliin” (ayat terakhir Fatihah), maka ucapkanlah “amiin”. Karena sesungguhnya barangsiapa yang ucapannya bertepatan dengan ucapan para malaikat, maka akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu. [Bukhari & Muslim] Masih ada hadis shahih Bukhari dan Muslim yang lain yang menjelaskan tentang keutamaan membaca amin, namun tidak kita sebutkan disini. Perkara membaca amin sudah disepakati keshahihannya oleh jumhur ulama manapun. DALIL TENTANG MEMBACA AMIN

16 MEMBACA AYAT ATAU SURAH

17  Dari Abu Hurairah katanya Rasulullah SAW bersabda : “Tidak sempurna shalat, melainkan dengan membaca bacaan (ayat).” kata Abu Hurairah, “Karena itu apa yang dibacanya (Nabi SAW) nyaring, kami baca pula nyaring kepadamu. Dan apa yang dibacanya perlahan, kami baca pula perlahan kepadamu.” [Muslim]  Dari Atha’ katanya Abu Hurairah berujar: “Dalam setiap shalat Rasulullah SAW selalu membaca bacaan (ayat). Karena itu bacaan yang dinyaringkannya kepada kami, kami nyaringkan pula, dan bacaan yang perlahan-lahan dibacanya kami perlahankan pula kepadamu.” Lalu seorang laki-laki bertanya, “Bagaimana kalau tidak kutambah lagi bacaanku selain membaca Al Fatihah?” Jawabnya (Abu Hurairah), “Jika anda tambah lebih baik, jika tidak maka Al Fatihah sudah cukup. [Muslim] DALIL TENTANG MEMBACA AYAT

18 Adapun ayat atau surah yang dibaca adalah terserah kita. Jika ingin mengikuti Rasulullah tentunya kita tahu bahwa beliau mengajarkan shalat dengan jumlah ayat yang banyak dan panjang. Apabila hadis-hadis tentang itu kita sampaikan, sepertinya tiada berguna bagi orang awam seperti kita. Rasulullah shalat mungkin lamanya 1 jam, jika dianggap rata-rata beliau membaca 100 ayat dalam setiap rakaat. Haruslah kita sadari takdir yang menentukan kita hidup sebagai bangsa melayu, bukan sebagai bangsa Arab. Untuk dapat berbahasa Arab tentu kita mesti belajar. Dan harus kita sadari juga bahwa kemampuan setiap insan itu berbeda, tidaklah mungkin kita menyamaratakan setiap individu. Jadi sebaiknya kita membaca ayat atau surah yang kita fahami artinya dengan baik, meskipun ayat itu pendek. Demikianlah yang disarankan oleh ulama-ulama kita agar makna dari ayat itu dapat meresap dalam hati kita, sehingga dalam shalat itu kita dapat khusyu sambil menghayati setiap kalimat yang kita baca. Maha Suci ALLAH yang Maha Pengasih Maha Penyayang.

19 Bersambung ke:  Bagian 5: “Tata Cara Ruku’”

20 Ditulis bersama: dan


Download ppt "MEMBACA FATIHAH dan AYAT / SURAH PENJELASAN TATA CARA SHALAT Bagian 4/13"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google