Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL BIJI KAKAO (THEOBROMA CACAO L.) TERHADAP JUMLAH SEL OSTEOKLAS TULANG TIBIA TIKUS PUTIH (RATTUS NORVEGICUS) PASCA OVARIEKTOMI.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL BIJI KAKAO (THEOBROMA CACAO L.) TERHADAP JUMLAH SEL OSTEOKLAS TULANG TIBIA TIKUS PUTIH (RATTUS NORVEGICUS) PASCA OVARIEKTOMI."— Transcript presentasi:

1 PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL BIJI KAKAO (THEOBROMA CACAO L.) TERHADAP JUMLAH SEL OSTEOKLAS TULANG TIBIA TIKUS PUTIH (RATTUS NORVEGICUS) PASCA OVARIEKTOMI Stefanus Gunawan Dr. Putra Suryana, Sp.PD.Penguji I Dr. Onggung Napitupulu, M.Kes.Pembimbing I Dr. Endang Asmaningsih, M.S.Pembimbing II

2 Definisi: penyakit degenerasi tulang yang, ditandai dari massa tulang yang kecil dan deteriorasi mikroarsitektural dari jaringan tulang yang menyebabkan kerapuhan dan kerentanan terhadap fraktur, terutama pada pinggul, tulang belakang, dan pergelangan tangan (Shen, 2009)

3 Prevalensi Osteoporosis Populasi Terjangkit di Amerika Serikat juta penderita baik wanita dan pria Akan Tetap Bertambah 2020 Perkiraan 61 juta penderita baik wanita dan pria

4 Penelitian mengenai osteoporosis pada perbedaan gender Wanita 4x lebih beresiko dibandingkan pria • Penurunan tingkat estrogen setelah menopause • Tulang yang lebih ringan dan tipis

5 Pandangan Polifenol TerdahuluSekarang Pencegahan Penyakit Jantung dan Kanker Pencegahan Penyakit Osteoporosis

6 DALAM KEBANYAKAN KASUS, MAYORITAS AKTIVITAS ANTIOKSIDAN MUNGKIN BERASAL DARI SENYAWA FLAVONOID, ISOFLAVON, FLAVON, ANTOSIANIN DAN CATECHIN DIBANDINGKAN DARI VITAMIN C, E DAN Β-KAROTEN (KAHKONEN ET AL., 1999, DALAM OSMAN, 2003) Kandungan Polifenol KAKAO 3 Jenis Antosianin Proantosianin Catechin

7 RUMUSAN MASALAH •Apakah pemberian ekstrak kakao berpengaruh pada jumlah sel osteoklas pada tikus paska ovariektomi Rumusan Masalah •Berapakah jumlah sel osteoklas tulang tibia tikus putih paska ovariektomi akibat pemberian ekstrak biji kakao Rumusan Masalah

8 •Membuktikan bahwa pemberian ekstrak biji Kakao (Theobroma cacao L.) berpengaruh dan dapat menurunkan jumlah osteoklas tulang tibia pada tikus Wistar paska ovariektomi sebanding dengan jumlah dosis yang diberikan. Tujuan Umum •Mengetahui jumlah sel osteoklas sebelum ovariektomi. •Mengetahui jumlah sel osteoklas tulang tibia pada pemberian ekstrak biji kakao paska ovariektomi. •Mengetahui jumlah sel osteoklas tulang tibia dengan pemberian dosis ekstrak biji kakao yang berbeda paska ovariektomi. •Mengetahui dosis optimum ekstrak biji kakao yang digunakan untuk menurunkan jumlah sel osteoklas tulang tibia paska ovariektomi. Tujuan Khusus TUJUAN PENELITIAN

9 Akademis •Menambah wawasan tentang kakao •Mengetahui potensi ekstrak biji kakao dalam pencegahan terjadinya osteoporosis melalui mekanisme pengontrolan sel osteoklas. •Dapat dijadikan sebagai dasar teori untuk menambah khasanah ilmu pengetahuan dalam bidang kesehatan, khususnya tentang kegunaan ekstrak biji kakao sebagai diet pencegahan osteoporosis berbasis bahan alam asal Indonesia Praktis •Menambah pengetahuan masyarakat bahwa ekstrak biji kakao dapat digunakan bahan alam yang dapat digunakan sebagai obat alternative dan bahan makanan dalam pencegahan osteoporosis •sebagai bahan pertimbangan industry tanaman kakao untuk meningkatkan ragam produksi coklat kaya akan polifenol sebagai hidangan yang menyehatkan MANFAAT PENELITIAN

10 Menopause↓ Estrogen ↑ Sytokines (M- CSF, NF-κB, IL- 6 dll) ↑ Stress oksidatif (ROS) ↑ Apoptosis osteoblas ↑ Jumlah sel osteoklas Osteoporosis Kakao Ekstrak ↓ Sytokines (M- CSF, NF-κB, IL- 6 dll) ↓ Stress oksidatif (ROS) ↓ Jumlah sel osteoklas

11 Sitokin dalam mediator inflamasi berperan penting dalam penurunan fibroblas dan kolagen juga pengingkatan diferensiasi fungsi dan kelangsungan hidup osteoklas Peningkatan stres oksidatif memicu peningkatan diferensiasi dan fungsi sel osteoklas. Akibat peranan ROS langsung dihasilkan superoksida yang bersifat mendegradasi tulang KakaoTulang ROSSitokinOsteoklasAntioksidanFlavonoid

12 HIPOTESIS Ekstrak biji kakao (Theobromin cocoa l.) dapat mengurangi jumlah sel osteoklas tulang tibia tikus putih (Rattus norvegicus) paska ovariektomi

13 METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian • Design true experimental in vivo dengan Randomized Post test Only Controlled Group Design

14 SKEMA DESAIN PENELITIAN Hewan coba: 25 tikus putih (Rattus norvegicus) Randomisasi K (-) 5 Ekor P 1 5 Ekor K (+) 5 Ekor P 2 5 Ekor P 3 5 Ekor OT Ekstrak 1 Ekstrak 2 Ekstrak 3 Histopatologi OT

15 KETERANGAN : • OT=Ovariektomi • Ekstrak = Ekstrak biji kakao • K (-)=kontrol negatif : tikus tanpa perlakuan ovariektomi dan tanpa pemberian ekstrak, diamati setelah 8 minggu • K (+)=kontrol positif : tikus dengan perlakuan ovariektomi saja dan tanpa pemberian ekstrak, diamati setelah 8 minggu • P 1 =perlakuan 1 : tikus dengan perlakuan ovariektomi 4 minggu dan pemberian ekstrak kakao 4 minggu dengan dosis 125 mg/kgBB tikus, kemudian diamati • P 2 =perlakuan 2 : tikus dengan perlakuan ovariektomi 4 minggu dan pemberian ekstrak kakao 4 minggu dengan dosis 250 mg/kgBB tikus, kemudian diamati • P 3 =perlakuan 3 : tikus dengan perlakuan ovariektomi 4 minggu dan pemberian ekstrak kakao 4 minggu dengan dosis 500 mg/kgBB tikus, kemudian diamati

16 VARIABEL PENELITIAN • Variabel Bebas • Ekstrak kakao dengan berbagai dosis • P1 125 mg/kgBB • P2 250 mg/kgBB • P3 500 mg/kgBB • Variabel Tergantung • Jumlah osteklas pada tulang tibia

17 PROSEDUR PENELITIAN 1.Persiapan Hewan Coba 2.Ovariektomi Hewan Coba 3.Pembuatan Ekstrak Kakao 4.Pemberian Ekstrak Kakao 5.Pengambilan Tulang Tibia Tikus 6.Dekalsifikasi Tulang 7.Pemrosesan Jaringan Osteon 8.Pewarnaan HE 9.Pengumpulan & Analisis Data

18 DEFINISI OPERASIONAL – Kakao yang digunakan adalah buah kakao dari pohon varietas mulia/edel. – Hewan coba yang digunakan adalah tikus putih strain wistar (Rattus norvegicus strain wistar) betina. Tikus dibagi menjadi 5 kelompok (n=5) yaitu 1 kelompok kontrol negatif, 1 kelompok kontrol positif dan 3 kelompok perlakuan (P 1, P 2, P 3 ). – Pemberian ekstrak dilakukan secara per oral (p.o) selama 4 minggu pada kelompok perlakuan (P1, P2, P3) masing- masing dengan dosis 125 mg/kgBB tikus, 250 mg/kgBB tikus dan 500 mg/kgBB tikus. – Sel osteoklas pada preparat histologi dengan pewarnaan Hematoksilin-Eosin dengan pemeriksaan osteoklas berupa sel raksasa multinukleus pada sisi tulanng resorbsi, setoplasma seperti busa dan sedikit asidofilik

19 KONTROL NEGATIF

20 KONTROL POSISTIF

21 PERLAKUAN 1

22 PERLAKUAN 2

23 PERLAKUAN 3

24 PROSEDUR PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA • Pengumpulan Data – Data dikumpulkan dari hasil evaluasi pada kelompok tikus kontrol negatif, positif, perlakuan I, II dan III. Setelah minggu ke- 8 dilakukan evaluasi hasil dari pengukuran jumlah osteoklas secara histopatologi kemudian mencatat hasil dari evaluasi yang telah dilakukan. • Analisis Data – Analisa data statistik menggunakan SPSS Ver Dilakukan uji homogenity of varience, One way ANOVA digunakan untuk mengetahui apakah ada efek bermakna dari perlakuan yang dilakukan pada rata-rata dua atau lebih kelompok. Regresi korelasi pearson digunakan untuk mengatahui dose effect relationship.

25 JUMLAH SEL OSTEOKLAS Kelomp ok Tikus Rerata Standar Deviasi 12345(SD) K(-) K(+) P P P

26 DIAGRAM SEL OSTOKLAS

27 ANALISIS DATA a.Uji normalitas data: (p>0,05). b.Uji homogenitas varian (p=0,341), c.Uji One-way ANOVA (p=0.000) d.Post Hoc test (uji Tuckey HSD) (p <0,05). e.Correlation and regression test

28 PEMBAHASAN 1.Hilangnya esterogen akan menginduksi osteoclastogenesis. 2.Kandungan antioksidan dalam ekstrak etanol biji kakao dapat menekan sitokin inflamasi dan stres oksidatif. 3.Dosis 250 mg/ml/hari menunjukkan hasil yang mendekati gambaran tulang normal.

29 PEMBAHASAN 1 (osteoclastogenesis). •hilangnya hormon steroid setelah ovariektomi menyebabkan tingginya resorbsi tulang dibanding tulang yang terbentuk (osteoclastogenesis). •Wanita yang telah mengalami menopause juga menunjukkan peningkatan konsentrasi IL-1 sampai IL-6, dimana IL-1, IL-6 dan TNF-α berperan meningkatkan kerja osteoklas. •Estrogen juga mengurangi stress oksidatif yang memicu meningkatnya apoptosis dari osteosit dan osteoblas •Esterogen mampu mempengaruhi gen-gen yang ada pada osteoklas dan jalur lain diluar osteoklas yang berguna untuk menjaga keutuhan struktur dan fungsi dari tulang

30 PEMBAHASAN 1 •Hasil penelitian untuk kelompok tikus 8 minggu pasca ovariektomi didapatkan jumlah sel osteoklas meningkat secara signifikan jika dibandingkan dengan kelompok tanpa ovariektomi (kelompok kontrol negatif). •Pada tikus kelompok normal yang tidak diberi perlakuan ovariektomi seperti kelompok lainnya, terdapat kadar esterogen yang cukup untuk mengatur aktivitas osteoklas.

31 PEMBAHASAN 2 •Polifenol diketahui tidak hanya berperan dalam pencegahan penyakit jantung dan kanker, tetapi juga pencegahan osteoporosis karena potensi karakter antioksidan dan antiinflamasi. •Flavanoid (procyanidins) dalam kakao juga diketahui dapat mengatur keterlibatan sitokin dalam respon inflamasi. •Selain itu Polifenol golongan Katekin juga menghambat produksi dari sitokin pro-inflamasi.

32 PEMBAHASAN 3 •Ada perbedaan yang signifikan antara dosis 125mg/kgBB, dan 500mg/kgBB dapat disebabkan kemungkinan dosis yang diberikan berada dalam rentang jangkauan yang panjang, sehingga penurunan jumlah sel osteoklas antara dosis I dan III terlihat signifikan secara statistik. •Arah korelasi adalah negatif, yang berati semakin besar dosis ekstrak biji kakao, maka semakin kecil jumlah sel osteoklas. •Pada pemberian ekstrak biji kakao 250mg/kgBB didapatkan bahwa ekstrak biji kakao sudah berdampak dalam menurunkan jumlah osteoklas dan sudah mendekati jumlah osteoklas tikus kelompok normal

33 KESIMPULAN • Terdapat peningkatan jumlah sel osteoklas tulang tibia pada tikus wistar ( Rattus norvegicus ) pasca ovariektomi. • Terdapat penurunan jumlah sel osteoklas tulang tibia pada tikus wistar ( Rattus norvegicus ) pasca ovariektomi setelah pemberian ekstrak biji kakao ( Theobroma cacao L ). • Arah korelasi antara dosis ekstrak biji kakao ( Theobroma cacao L ) dengan jumlah sel osteoklas tulang tibia tikus wistar (Rattus novergicus) adalah negatif, yang berarti semakin besar dosis ekstrak biji kakao ( Theobroma cacao L ) yang diberikan, maka semakin kecil jumlah sel osteoklas tulang tibia yang ditemukan. • Dosis ekstrak biji kakao ( Theobroma cacao L ) optimum yang dapat menurunkan jumlah sel osteoklas tulang tibia tikus wistar ( Rattus norvegicus ) pasca ovariektomi adalah pada pemberian ekstrak biji kakao dosis 250mg/kgBB.

34 SARAN • Pengaplikasian ekstrak biji kakao ( Theobroma cacao L ) dalam pencegahan osteoporosis. • Penggunaan EDTA untuk dekalsifikasi jaringan lebih disarankan khususnya pada tulang tibia (slow decalcification metod) agar penampakan sel secara mikroskopis lebih jelas terlihat. • Perlu dilakukan pemfraksian bahan aktif dalam biji kakao sehingga penggunaan dosis tidak terlalu besar.

35 DRINKFOR HEALTHY BONE

36 Tests of Normality PerlakuanKolmogorov-Smirnov a Shapiro-Wilk StatisticdfSig.StatisticdfSig. Osteklas K Negatif * K Positif * P1 (125 mg/kg BB) * P2 (250 mg/kg BB) * P3 (500 mg/kg BB) * *. This is a lower bound of the true significance. a. Lilliefors Significance Correction

37 Test of Homogeneity of Variances Osteklas Levene Statisticdf1df2Sig ANOVA Osteklas Sum of Squares df Mean Square FSig. Between Groups Within Groups Total

38 Homogenous Subsets Tukey HSD KodeNSubset for alpha = P3 (500 mg/kg BB) Kontrol Neg P2 (250 mg/kg BB) P1 (125 mg/kg BB) Kontrol Pos Sig Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a. Uses Harmonic Mean Sample Size =

39 Correlations OsteoklasDosis Osteoklas Pearson Correlation ** Sig. (2-tailed).000 N20 Dosis Pearson Correlation ** 1 Sig. (2-tailed).000 N20 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

40 K (-)K (+)P 1P 2P 3 K (-) -0,000*0,1440,8190,702 K (+) 0,000*-0,0000,000* P 1 0, 1440,000-0,6510,010 P 2 0, 8190,000*0,651-0,168 P 3 0, 7020,000*0,0100,168-

41 •Osteoklas adalah sel multinukleus yang berperan dalam proses resorpsi tulang. Ketidakseimbangan antara pembentukan tulang dan resorpsi tulang adalah kunci dari patofisiologi dari penyakit metabolic penyakit tulang pada orang dewasa termasuk osteoporosis (Fazzalari, 2008 dalam Shen et al 2009). •Osteoklas merupakan sebuah sel raksaasa yang mempunyai ciri memiliki banyak nukleus (multiple nuclei) dan sebuah sitoplasma yang homogen dengan tampilan seperti busa (foamy). Gambaran ini dikarenakan adanya konsentrasi yang tinggi dari vesikel dan vakuola. Pada beberapa tempat aktif resorbsi tulang, osteoklas membentuk membran sel khusus (ruffled border) yang bersentuhan


Download ppt "PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL BIJI KAKAO (THEOBROMA CACAO L.) TERHADAP JUMLAH SEL OSTEOKLAS TULANG TIBIA TIKUS PUTIH (RATTUS NORVEGICUS) PASCA OVARIEKTOMI."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google