Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

EKONOMI RUMAH TANGGA PEASANT. Teori Chayanov, terutama teori mikronya,  pendekatan mengenai cara bagaimana masyarakat desa dipandang. berbagai pendekatan.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "EKONOMI RUMAH TANGGA PEASANT. Teori Chayanov, terutama teori mikronya,  pendekatan mengenai cara bagaimana masyarakat desa dipandang. berbagai pendekatan."— Transcript presentasi:

1 EKONOMI RUMAH TANGGA PEASANT

2 Teori Chayanov, terutama teori mikronya,  pendekatan mengenai cara bagaimana masyarakat desa dipandang. berbagai pendekatan itu, terdapat empat macam “ mainstream of thought ” : (a) PANDANGAN ANTROPOLOGIS yang mewarisi etnografi Barat. Masyarakat desa dilihat sebagai semacam “fosil”, sisa-sisa budaya masa lalu yang tertinggal karena mengalami “ culture lag ” dalam keseluruhan proses evolusi masyarakat. (b) PENDEKATAN BUDAYA, mewarisi tradisi Durkheim, yaitu dilandasi oleh dikotomi dasar: “tradisional/mekanik” vs. “modern/organik”. Kroeber misalnya, memandang masyarakat desa sebagai menempati “posisi-antara”, yaitu “ part society with part culture ”, dan demikian juga Redfield, terkenal dengan istilahnya “ part segment ”.

3 (c) PENDEKATAN MARXIAN : memandang masyarakat desa melalui “kacamata” hubungan kekuasaan (power relations), yaitu analisis kelas. Masyarakat desa kini dianggap sebagai sisa-sisa formasi sosial masa lalu (masyarakat “pra-kapitalis”) sebagai kelas yang tereksploitasi dalam keseluruhan struktur kekuasaan yang ada. (d) PENDEKATAN NEO-POPULIS CHAYANOVIAN : memandang bahwa dalam masyarakat desa, struktur sosialnya ditentukan oleh bekerjanya sistem ekonomi yang khas (“ a specific type of economy ”), yang kuncinya terletak pada bekerjanya mekanisme “Usahatani Keluarga”.

4 Dalam perdebatan kontemporer isu-isu yag berkembang dari (atau yang berkaitan dengan) gagasan Chayanov, mencakup antara lain isu tentang :  “ economies of scale ”;  pasar tenaga kerja;  konsep “subsisten”;  “ peasant behaviour ”;  konsep “diferensiasi”;  konsep koperasi; dan  masalah perkreditan.

5 Seperti telah disinggung di muka, keseluruhan kerangka teori Chayanov itu dibangun atas dasar dua landasan yaitu: pertama, hasil-hasil penelitian empiris selama bertahun-tahun, kedua, analisis data statistik makro

6 Dalil dasar yang dipakai Chayanov dalam memberikan argumentasinya adalah sebagai berikut: (a) “Bangunan” teori ekonomi modern (masyarkat kapitalis) merupakan sistem ekonomi yang rumit, yang (“batu-batanya”) terdiri dari lima kategori ekonomi yang berkaitan satu sama lain secara tak terpisahkan, dan secara fungsional saling tergantung dan saling menentukan (yaitu harga, kapital, upah, bunga, dan sewa). Jika salah satu saja “batu-bata” itu jatuh, seluruh “bangunan” itu runtuh! (Lihat Kerblay, dalam Shanin, 1971). (b) Setelah melakukan berbagai macam studi empiris, Chayanov melihat bahwa “gambar” masyarakat pedesaan Rusia waktu itu adalah berupa “ peasant ownership without hired labour ". Petani memiliki/menguasai sarana produksi tanah (tanah, ternak), tetapi tidak ada tenaga upahan. Jadi, tidak ada faktor upah (satu “batu- bata” sudah jatuh). Karena itu, (c) Teori ekonomi modern (kapitalis) tidak dapat diterapkan untuk meganalisis masyarkat-tani pedesaan. “ Peasant society ” harus diperlakukan sebagai suatu “sistem ekonomi tersendiri”, atau sistem ekonomi dengan tipe khusus, karena mempunyai “ economic rationale ” yang sama sekali berbeda.

7 Proposisi-proposisi Chayanov Pokok: 1. Masyarakat-tani (peasant society) adalah masyarakat pedesaan yang didalamnya tidak ada pasar tenaga kerja dan ekonominya semata-mata terdiri dari satuan-satuan “Usahatani Keluarga”(UK), yaitu usahatani yang tidak menggunakan tenaga upahan, melainkan didominasi oleh tenaga dalam keluarga. 2. UK tidak bersifat “profit maximazation”, melainkan membangun dan menjaga “keseimbangan consumer-labour ratio (CL), dan dengan demikian disebut subsisten. (Kegiatan kerja satuan keluarga tidak ditentukan oleh perhitungan obyektif tentang keuntungan, tetapi oleh penilaian subyektif tentang labour drudgery. 3. Dalam peasant society, bagi semua rumahtangga terdapat jangkauan terbuka terhadap tanah garapan.

8 Turunan: 4. Besarnya keluarga (family size) mempengaruhi luas tanah garapan. 5. C/L mempengaruhi jumlah jam kerja bagi anggota dewasa (jika C/L naik, jam kerja bertambah, dan dengan demikian output per hektar menjadi bertambah) 6. C/L mempengaruhi produktivitas tenaga kerja (output per tenaga kerja bertambah). Terjadi proses self- exploitation of labour power. 7. Dalam setiap rumahtangga, C/L menentukan nilai total output per kapita.

9 Makro: 8. Siklus hidup keluarga mempengaruhi kesejahteraan relatifnya. (Karena itu:) 9. Sekelompok keluarga-tani tidak dapat menduduki posisinya dalam satu stratum dalam masyarakat, secara tetap; atau bahkan tak cukup lama untuk dapat mengkonsolidasikan dirinya sebagai suatu kelas. (Artinya yang kaya suatu saat menjadi miskin, dan yang miskin menjadi kaya). Dengan demikian, yang terjadi di pedesaan bukanlah diferensiasi sosial (kelas), melainkan deferensiasi demografis.

10 Proposisi Implikatif: (1) Modernisasi peasant society dapat dilakukan dengan cara integrasi vertikal, bukan melalui integrasi horizontal. (2) Setiap pemaksaan peningkatan modal (misal melalui kredit) yang melampaui titik optimumnya (menurut ukuran subyektif si petani yang berkenaan dengan labour drudgery ), akan menjadi bumerang. ( Internal economic contradiction ).

11 Mengenai proposisi implikatif tentang modernisasi masyarakat pedesaan, pada dasarnya menyangkut isu tentang economic of scale. Baik kelompok Marxis maupun aliran kapitalis waktu itu berpendapat bahwa satuan usahatani yang berskala besar dianggap lebih efisien, sedangkan Chayanov berpendapat sebaliknya. Karena itu dia menolak sosialisme-negara yang berusaha menyatukan satuan-satuan usahatani sekala kecil menjadi satuan-satuan skala besar melalui kolektivisasi. (Inilah yang dimaksud dengan istilah integrasi horizontal).

12 D EBAT KLASIK TENTANG HAL INI KURANG LEBIH DAPAT DISEDERHANAKAN SEBAGAI BERIKUT : Pertama, penganut teori ekonomi modern (kapitalis), baik Marxis maupun non-Marxis berpendapat bahwa teori tersebut dapat diterapkan untuk menganalisis masyarakat pedesaan. Bagaimanapun, proses kapitalisme akan melanda pedesaan walaupun lambat. (Dalam masa transisi yang lambat itu masyarakat desa dilihat sebagai incipient capitalism represented by petty commodity production). Logikanya, maka karena yang besar itu lebih efisien, akan terjadi dengan sendirinya proses hilangnya satuan-satuan usaha kecil (integrasi horizontal alamiah menurut logika kapitalisme). Kedua, Chayanov berpendapat bahwa teori ekonomi modern tersebut tidak dapat diterapkan karena peasant society mempunyai economic logic yang berbeda.

13 Ketiga, kaum Marxis (khususnya Stalin) berpendapat bahwa jika memang benar demikian, sedangkan mereka tetap berpendapat bahwa yang besar itu lebih efisien, maka integrasi horizontal harus diciptakan melalui kekuasaan negara. Chayanov menolak hal ini. Keempat, karena itu saran Chayanov adalah bahwa untuk memodernisasi masyarakat, yang diperlukan adalah integrasi vertikal, yaitu melalui koperasi yang diawasi oleh negara, Kelima, implikasi selanjutnya adalah: biarlah usahatani satuan skala kecil tetap hidup, bahkan yang tak punya tanah justru perlu diberi tanah walaupun kecil (land reform).

14 Menurut pandangan Chayanov, motivasi-motivasi peasan berbeda dari kaum kapitalis; mereka bertujuan MENGAMANKAN KEBUTUHAN-KEBUTUHAN KELUARGA daripada menciptakan keuntungan (profit). Karena itu peran sentral dalamteori Chayanov adalah pemahaman balans antara kebutuhan-kebutuhan subsisten dan suatu ketidaksukaan subjektif terhadap tenaga (kerja) manual (dis-utility) karena ini menentukan intensitas pengolahan (budidaya) dan besarnya produk neto.

15 Chayanov selanjutnya menunjukkan bahwa konsep- konsep ekonomi klasik dan theory marjinal (marginalis theory) yang menerangkan perilaku seorang capitalist entrepreneur tidak berlaku dalam sebuah peasant family yang tergantung semata-mata pada kerja dari anggota keluarga. Karena dalam tipe usahatani ini menurunnya penerimaan (decreasing returns) terhadap nilai tenaga kerja tambahan (the value of marginal labour) tidak begitu lama hambatannya terhadap kegiatan petani karena kebutuhan-kebutuhan keluarganya tidak terpenuhi; yaitu bila suatu tingkat ekuilibrium telah tercapai antara kebutuhan-kebutuhan dan beban kerjanya, atau kerja keras yang dicurahkannya? (the drudgery of his efforts).

16 Chayanov selanjutnya menunjukkan bahwa konsep- konsep ekonomi klasik dan theory marjinal (marginalis theory) yang menerangkan perilaku seorang capitalist entrepreneur tidak berlaku dalam sebuah peasant family yang tergantung semata-mata pada kerja dari anggota keluarga. Karena dalam tipe usahatani ini menurunnya penerimaan (decreasing returns) dari nilai tenaga kerja tambahan (the value of marginal labour) tidak begitu tampak hambatannya terhadap kegiatan petani karena kebutuhan-kebutuhan keluarganya tidak terpenuhi; yaitu bila suatu tingkat ekuilibrium telah tercapai antara kebutuhan-kebutuhan dan beban kerjanya, atau kerja keras yang dicurahkannya.

17 Chayanov’s thesis didasarkan pada asumsi-asumsi berikut: Self-exploitation of labor power was the basis of peasant economy; Peasant economy reproduced itself through the reproduction process of family; Human needs and the forces of production were inherent contradiction in peasant economy. Menurut Chayanov, ketimpangan dalam peasant societies bersumber (emanated) dari ‘self-exploitation’ yaitu tingkat di mana peasant bersedia bekerja dengan mengorbankan leisure (waktu bersantainya). Keluarga menjadi unit produksi dan pemilik sumber-sumberdaya dan produksi ditujukan untuk konsumsi keluarga. Kontradiksi yang dimaksud Chayanov dalam asumsi nomor (3) adalah bahwa produksi peasant lebih efisien dan kompetitif daripada capitalist production karena peasant tidak wajib membuat keuntungan (profit). Dengan demikian bila kapitalis mengalami kebangkrutan, peasant tetap survive dan tetap bereproduksi.3 (Chayanov, The Theory of Peasant Economy ).

18 Business keluarga tani (farm family business) dapat dikaji dari beberapa sudut: misalnya sebagai suatu unit ekonomi, suatu kelompok social, suatu organisasi atau sebuah produk perkembangan historis. Setiap perspektif berkaitan dengan disiplin tertentu dalam kerangka paradigm tertentu pula, yang mendefinisikan problema yang berbeda yang relevan untuk dikaji dan serangkaian alat analisis untuk eksplorasi. Setiap pendekatan berbasis disiplin ilmu dapat menunjukkan pemahaman-pemahaman baru tentang bagaimana orang bertingkahlaku dalam farm family businesses dan apa yang mempengaruhi tingkahlaku itu?

19 Focus tinjauan ini: Bukan saja keluarga atau business saja, melainkan interaksi di antara keduanya: Apakah ada batas-batas penetrasi yang satu terhadap yang lainnya? Apakah keputusan-keputusan yang dilakukan keluarga- keluarga (tingkatannya) kurang atau lebih komersial daripada yang dilakukan oleh para manajer yang disewa (kontrak)? Apakah ketidakstabilan (instability) business membatasi proses-proses keluarga (family processes) dan hubungan- hubungan keluarga (family relationship)? Apakah instabilitas keluarga merupakan suatu hambatan (konstrain) terhadap pertumbuhan dan perkembangan business? Pertanyaan-pertanyaan itu penting bagi sukses dan survival dari usahatani keluarga.

20 Menurut Schumpeter (1934) peran utama entreprenir adalah sebagai innovator, yang memulai perusahaan (firms) baru atau sekurang-kurangnya menciptakan ‘kombinasi baru’. Bagi Schumpeter, inovasi adalah suatu karakteristik dalam definisi enterprenir yang semata-mata hanya mengelola perusahaan yang baru saja didirikannya, akan berakhir menjadi seorang enterprenir. Marshall (1961), di pihak lain menekankan keterlibatan sang enterprenir dalam kegiatan-kegiatan rutin dalam manajemen dan menganggap keberanian mengambil resiko (risk-taking) dan bukan peran inovasinya sebagai karakteristik definisinya.

21 Dengan mengikuti Marshall, Casson (1982) mengatakan bahwa peran penting yang dimainkan enterprenir adalah mendirikan dan mengembangkan perusahaan (firm) baru dengan ketentuan bahwa ia menjadi sumber penting dalam hal capital, tenaga kerja dan informasi. Sebagai satu sumber risk capital keluarga memiliki beberapa keuntungan. Kerabat enterprenir itu tampaknya tidak akan mencuri ide-idenya dan menggunakannya sendiri. Dengan kenal baik, mereka dapat menentukan apakah ia memiliki kualitas-kualitas individu yang diperlukan untuk menyelenggarakan sebuah business. Mereka berada dalam suatu posisi yang baik untuk memonitor bagaimana capital digunakan dan memberikan tekanan padanya apabila capital itu disalahgunakan.

22 Menurut Casson, enterprenirlah yang merekrut tenaga kerja. Apabila ia merasa tenaga luar tidak terampil maka ia akan menggunakan tenaga kerja keluarganya sendiri yang sudah dikenalnya dengan sangat baik daripada tenaga dari luar. Keuntungan akanlebih besar lagi manakala tenaga kerja keluarga sedang menghadapi saat ‘underutilized’. Casson menekankan pula bahwa keluarga menjadi sumber informasi penting bagi enterprenir, membuat dia tersadar tentang peluang-peluang yang mungkin telah terabaikan. Untuk sebuah usaha pertanian (farm business), jejaring (networks) semacam itu mungkin tidak saja mensuplai informasi melainkan juga sebagai sebuah sumber berkelanjutan dalam hal saling-membantu (mutual assistance) melalui ‘sharing’ tenaga kerja dan mesin-mesin (pertanian). Kritik terhadap Casson adalah bahwa ia tampaknya mengabaikan penggunaan kekuasaan dan eksploitasi tenaga kerja keluarga yang menjadi karakteristik family farming.


Download ppt "EKONOMI RUMAH TANGGA PEASANT. Teori Chayanov, terutama teori mikronya,  pendekatan mengenai cara bagaimana masyarakat desa dipandang. berbagai pendekatan."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google