Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

DOSEN: RAVIANTY DONY, PSIKOLOG FUNGSI-FUNGSI PSIKIS.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "DOSEN: RAVIANTY DONY, PSIKOLOG FUNGSI-FUNGSI PSIKIS."— Transcript presentasi:

1 DOSEN: RAVIANTY DONY, PSIKOLOG FUNGSI-FUNGSI PSIKIS

2 Fungsi-fungsi Psikis Tujuan Pembelajaran adalah mahasiswa dapat memahami fungsi-fungsi psikis, yakni: 1) Persepsi 2) Berpikir dan belajar 3) Emosi 4) Motif

3 (1) Persepsi Secara umum persepsi adalah proses mengamati dunia luar yang mencakup perhatian, pemahaman, dan pengenalan objek-objek atau peristiwa. Biasanya persepsi diorganisasikan ke dalam bentuk (figure), dasar (ground), garis bentuk (garis luar, kontur), dan kejelasan. Persepsi berlangsung saat seseorang menerima stimulus dari dunia luar yang ditangkap oleh organ-organ bantunya (alat indra) yang kemudian masuk ke dalam otak. Di dalamnya terjadi proses berpikir yang pada akhirnya terwujud dalam sebuah pemahaman. Pemahaman inilah yang disebut dengan persepsi.

4 Sensasi dan Persepsi Alat indra dapat memberi sensasi. Sensasi adalah stimulan dari dunia luar yang dibawa masuk ke dalam sistem syaraf. Contoh: makan permen coklat. Warna cokelat gelap (dilihat), teksturnya halus (diraba), rasanya manis dan lembut lelehannya (lidah) adalah kumpulan fungsi sensasi dari cokelat yang dimakan. Jadi, bentuk, tekstur, dan rasa yang diterima adalah sensasi.

5 Sensasi dan Persepsi (lanjutan) Jika tiba-tiba muncul dalam pikiran bahwa: “Seumur- umur baru kali ini makan cokelat seperti ini karena belum pernah makan yang seenak ini sebab sebelumnya sering makan cokelat biasa.” Hal ini disebut interpretasi dari stimulan yang diterima. Interpretasi merupakan perbandingan yang dilakukan. Jika pikiran selanjutnya yang muncul: “Wah, ini pasti cokelat impor yang mahal harganya.” Ini merupakan persepsi. Jadi, persepsi = sensasi + interpretasi. Atau persepsi merupakan proses kombinasi dari sensasi yang diterima oleh organ dan hasil interpretasinya (hasil oleh otak).

6 Sensasi dan Persepsi (lanjutan) Adanya penambahan informasi yang merupakan wujud interpretasi (memasukkan makna dari yang dirasakan/sensasi dengan yang ada terlebih dahulu) menjadikan sensasi yang awalnya hanya fisik bertambah “nilainya” yakni mahal dan impor tadi (karena seumur hidup hanya makan coklat biasa) sehingga terjadilah persepsi tersebut.

7 Persepsi Visual Organisasi dalam persepsi mengikuti beberapa prinsip, yaitu: 1) Wujud dan latar (figure and ground atau emergence). Objek-objek yang kita amati di sekitar kita selalu muncul sebagai wujud (figure) dengan hal-hal lainnya sebagai latar (ground). Contoh: kalau saat mendengarkan lagu, maka suara penyanyinya akan tampil sebagai wujud dan iringan musik sebagai latar.

8 Persepsi Visual (lanjutan) Namun, tidak selalu perbedaan wujud dan latar sejelas itu. Seringkali kita tidak tahu pasti mana yang wujud dan mana yang latar. Ini dinamakan ambigous figure (bentuk ambigu) atau multistability (stabilitas ganda). Dalam kehidupan sehari-hari, justru pola ambigu ini yang sering terjadi sehingga terjadilah perbedaan persepsi atau miskomunikasi. Contoh dalam pengadilan, pihak yang menang akan berpendapat bahwa hakim itu adil, tetapi pihak yang kalah berpendapat bahwa hakim tidak adil.

9 Persepsi Visual (lanjutan) 2) Pola pengelompokan. Hal-hal tertentu cenderung kita kelompok-kelompokkan dalam persepsi kita, dan cara kita mengelompok-kelompokkan itu akan menentukan bagaimana kita mengamati hal-hal tersebut. Dalam psikologi, cara manusia mengelompokkan apa yang dipersepsinya dengan mengikuti hukum tertentu yang dinamakan hukum Gestalt atau hukum Pragnanz, termasuk di dalamnya hukum kesamaan (Law of similarity), hukum kedekatan (Law of proximity), dan hukum keutuhan (Law of Contiguity).

10 Persepsi Visual (lanjutan) 3) Ketetapan (constancy atau invariance). Teori Gestalt juga mengemukakan bahwa dari proses belajarnya, manusia cenderung akan mempersepsikan segala sesuatu sebagai sesuatu yang tidak berubah, walaupun indra kita sebetulnya menangkap adanya perubahan. Contoh: kalau kita bertemu dengan teman, misalnya bernama Mudin, maka kita akan tetap mengenalnya sebagai Mudin walaupun hari ini dia berbaju putih, padahal kemarin dia berbaju biru, atau sekarang dia gemuk, padahal setahun lalu ia kurus. Dalam persepsi ada 3 (tiga) ketetapan dasar yang dikemukakan oleh psikologi Gestalt: (1) Ketetapan warna (color constancy), (2) ketetapan bentuk (shape constancy), (3) ketetapan ukuran (size constancy).

11 Ilusi Ilusi adalah kesalahan persepsi. Contoh: gejala alam fatamorgana (pantulan sinar matahari yang menyebabkan kita seakan-akan melihat genangan air di cakrawala), atau pada gejala sendok dalam gelas air. Gejala ilusi adalah gejala normal, setiap orang mengalaminya. Jenis-jenis ilusi : (1) Ilusi visual (penglihatan); (2) Ilusi auditif (pendengaran); (3) Ilusi kinestetik (gerak otot). Ketika ilusi meningkat menjadi ilusi sosial, maka timbullah berbagai persoalan. Yang termasuk ilusi sosial, antara lain prasangka, stereotip, rasialisme, fanatisme, dan favoritisme.

12 Perbedaan Persepsi Hal-hal yang dapat menyebabkan perbedaan persepsi antar individu dan antar kelompok adalah sbb: 1) Perhatian/perbedaan fokus. Setiap saat ada ratusan/ribuan rangsangan yang tertangkap oleh semua indera. Seseorang tentu tidak mampu menyerap seluruh rangsangan yang ada di sekitarnya sekaligus karena keterbatasan dari persepsi maka terpaksa hanya memusatkan perhatian pada satu atau dua objek saja. 2) Set (mental set) adalah kesiapan mental seseorang untuk menghadapi sesuatu rangsangan yang akan timbul dengan cara tertentu.

13 Perbedaan Persepsi (lanjutan) 3) Kebutuhan. Kebutuhan-kebutuhan sesaat maupun yang menetap pada diri seseorang, akan mempengaruhi persepsi orang tersebut. Dengan demikian, kebutuhan-kebutuhan yang berbeda akan menyebabkan perbedaan persepsi. 4) Sistem nilai. Sistem nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat berpengaruh pula terhadap persepsi. 5) Tipe kepribadian juga mempengaruhi persepsi. 6) Gangguan kejiwaan. Kesalahan persepsi pada penderita gangguan jiwa berupa halusinasi dan delusi.

14 (2) Berpikir dan Belajar Belajar adalah suatu proses dimana suatu perilaku ditimbulkan, diubah atau diperbaiki melalui serentetan reaksi atas situasi (atau rangsang) yang terjadi. Proses belajar meliputi: perilaku motorik (naik sepeda, berenang, menyetir, menari), berpikir (pelajaran sekolah seperti matematika, sejarah), dan emosi (belajar sopan santun, belajar bergaul, dll).

15 Proses Belajar Dalam proses belajar yang melibatkan berpikir, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi proses belajar, yaitu: 1) Waktu istirahat/jeda, agar yang sudah dipelajari punya cukup kesempatan untuk mengendap dalam ingatan dan guna menghindari kejenuhan otak. 2) Pengetahuan tentang materi yang dipelajari secara menyeluruh, setelah itu detail-detailnya. 3) Pemahaman terhadap materi yang dipelajari; ketika mempelajari sesuatu tanpa pemahaman maka usaha belajar akan menemui kesulitan. 4) Pengetahuan akan prestasi sendiri. 5) Transfer: pengaruh mengenai hal-hal yang pernah dipelajari sebelumnya dan mempengaruhi proses belajar saat ini.

16 Proses Berpikir Proses berpikir dapat digolongkan dalam dua jenis: 1) Berpikir asosiatif, yakni proses berpikir dimana suatu ide merangsang timbulnya ide-ide lain. Jalan pikiran tidak ditentukan atau diarahkan sebelumnya, jadi ide- ide itu timbul atau terasosiasi (terkaitkan) dengan ide sebelumnya secara spontan. Jenis berpikir ini disebut juga jenis berpikir divergen (menyebar) atau kreatif. Jenis-jenis berpikir divergen adalah: (a) Asosiasi bebas: satu ide akan menimbulkan ide mengenai hal lain, yaitu hal apa saja tanpa ada batasnya.

17 Proses berpikir (lanjutan) (b) Asosiasi terkontrol: satu ide tertentu akan menimbulkan ide mengenai hal lain dalam batas-batas tertentu saja. (c) Melamun: mengkhayal bebas, sebebas-bebasnya tanpa batas, juga mengenai hal-hal yang tidak realistis. (d) Mimpi: ide-ide tentang berbagai hal yang timbul secara tidak disadari pada waktu tidur. (e) Berpikir artistik: merupakan proses berpikir yang sangat subjektif. 2) Berpikir terarah (konvergen): proses berpikir yang sudah ditentukan sebelumnya dan diarahkan pada sesuatu, biasanya diarahkan pada pemecahan suatu persoalan.

18 Penggunaan Simbol dalam Berpikir Proses berpikir selalu menggunakan simbol, yaitu sesuatu yang dapat mewakili segala hal di lingkungan luar maupun yang ada pada diri kita sendiri dan dalam alam pikiran kita. Simbol adalah suatu lambang yang oleh manusia, melalui kesepakatan bersama yang disebut kebudayaan, dianggap mewakili suatu hal tertentu. Bentuk simbol: kata, angka, huruf, simbol matematika, tanda-tanda lalu lintas, not musik, mata uang, suara, dll.

19 Strategi Berpikir Berpikir terarah diperlukan dalam memecahkan persoalan, maka diperlukan penyusunan strategi. Ada dua macam strategi umum dalam memecahkan persoalan yaitu: 1) Strategi menyeluruh: persoalan dipandang sebagai keseluruhan dan dicoba dipecahkan dalam rangka keseluruhan itu. 2) Strategi detailitas: persoalan dibagi-bagi dalam bagian-bagian dan dicoba dipecahkan bagian demi bagian.

20 Strategi Berpikir (lanjutan) Kesulitan dalam memecahkan persoalan dapat ditimbulkan oleh: 1) Set: pola yang sama untuk memecahkan persoalan yang berbeda. 2) Sempitnya pandangan: hanya melihat satu kemungkinan jalan keluar.

21 Ingatan Mengingat adalah perbuatan menyimpan hal-hal yang sudah pernah diketahui untuk dikeluarkan dan pada saat lain digunakan kembali. Proses penyimpanan yang dilakukan adalah upaya kita mengkodekan, menyimpan dan mengeluarkan kembali informasi. Ada 3 (tiga) sistem ingatan, yaitu: 1) Ingatan sensori: tempat sementara penyimpanan informasi (1 detik di korteks, akurasinya tinggi). 2) Ingatan jangka pendek :(15-25 detik di korteks frontal), kapasitasnya terbatas, sekitar 5 – 9 unit informasi. 3) Ingatan jangka panjang: di lobus temporal, penyimpanan informasi relatif permanen, walaupun sulit untuk dikeluarkan kembali. Kapasitas tak terbatas. Pada sistem ingatan jangka panjang bisa terjadi lupa.

22 Cara mengingat Ada beberapa cara untuk mengingat kembali hal-hal yang sudah pernah diketahui, yaitu: 1) Rekoleksi: menimbulkan kembali dalam ingatan suatu peristiwa, lengkap dengan segala detail dan hal-hal yang terjadi di sekitar tempat peristiwa itu dahulu terjadi. 2) Pembaruan ingatan: ingatan hanya timbul kalau ada hal yang merangsang ingatan itu. 3) Memanggil kembali ingatan (recall): mengingat kembali suatu hal, sama sekali terlepas dari hal-hal lain di masa lalu. 4) Rekognisi: mengingat lagi sesuatu hal setelah menjumpai sebagian dari hal tersebut. 5) Mempelajari kembali: terjadi kalau mempelajari sesuatu yang dulu pernah dipelajari.

23 Lupa Lupa adalah tidak dapat mengingat kembali. Proses lupa: 1) Kalau materi yang harus diingat itu tidak pernah digunakan, maka karena proses metabolisme otak, lambat laun jejak materi itu akan terhapus dari otak dan kita tak dapat mengingatnya kembali. 2) Kalau mempelajari hal baru, mungkin hal yang sudah pernah diingat tidak dapat diingat lagi. 3) Dalam psikoanalisis ada yang dinamakan represi: melupakan peristiwa-peristiwa yang mengerikan, menakutkan, penuh dosa, menjijikkan, dsb. Proses ini dilakukan tanpa disadari karena dilakukan oleh bagian tidak sadar dari sistem jiwa (teori Freud). 4) Proses penuaan fisiologis otak.

24 (3) Emosi Selain dipengaruhi oleh pengindraan (persepsi) dan pikiran, perilaku manusia juga disertai oleh perasaan atau emosi. Perasaan yang masih dekat dengan tataran biologis dan fisiologi/faal disebut warna afektif (affective tone). Contoh: orang kenyang makan maka merasa puas dan senang, sebaliknya orang kelaparan cenderung cepat marah. Warna afeksi yang kuat, maka perasaan-perasaan menjadi lebih mendalam, lebih luas, dan lebih terarah, dan sudah mencapai tingkat mental/psikologi, tidak lagi pada tingkat biologis/fisiologis saja, maka perasaan seperti inilah yang disebut sebagai emosi. Contoh: karyawan dimarahi atasan.

25 Definisi Emosi Emosi adalah reaksi penilaian (positif atau negatif) yang kompleks dari sistem syaraf seseorang terhadap rangsangan dari luar atau dari dalam dirinya sendiri. Proses terjadinya emosi: rangasangan  penafsiran rangsangan sebagai sesuatu yang positif/negatif  respon fisiologik dan motorik  pada saat inilah terjadi emosi. Secara etimologi, emosi berarti “bergerak keluar.”

26 Teori-teori Emosi Ada dua macam pendapat tentang terjadinya emosi, yaitu: 1) Pendapat nativistik yang mengatakan bahwa emosi adalah pembawaan. 2) Pendapat empirik yang mengemukakan bahwa emosi adalah hasil belajar/pengalaman).

27 Bentuk Perubahan Tubuh Emosi yang kuat pada umumnya diikuti perubahan- perubahan pada tubuh, seperti: 1) Reaksi elektris pada kulit meningkat bila terpesona. 2) Peredaran darah bertambah cepat bila marah. 3) Denyut jantung bertambah cepat bila terkejut. 4) Pernafasan bernafas panjang kalau kecewa. 5) Pupil mata membesar bila sakit atau marah. 6) Liur mengering kalau takut atau tegang.

28 Bentuk Perubahan Tubuh (lanjutan) 7) Buluroma berdiri kalau takut. 8) Gangguan pencernaan berupa mencret-mencret kalau tegang. 9) Ketegangan dan ketakutan menyebabkan otot menegang atau bergetar (tremor). 10) Komposisi darah akan ikut berubah dalam keadaan emosional karena kelenjar-kelenjar akan lebih aktif.

29 Bentuk-bentuk Emosi Takut. Takut adalah salah satu bentuk emosi yang mendorong individu untuk menjauhi sesuatu dan sedapat mungkin menghindari kontak dengan suatu hal. Cemburu. Cemburu adalah bentuk khusus dari kekhawatiran yang didasari oleh kurang adanya keyakinan terhadap diri sendiri dam ketakutan akan kehilangan kasih sayang dari seseorang. Gembira. Gembira adalah ekspresi dari kelegaan, yaitu perasaan terbebas dari ketegangan. Biasanya kegembiraan disebabkan oleh hal-hal yang bersifat tiba- tiba (surprise) dan kegembiraan biasanya bersifat sosial, yaitu melibatkan orang-orang lain disekitar orang yang sedang gembira tersebut.

30 Bentuk-bentuk Emosi (lanjutan) Marah. Sumber utama kemarahan adalah hal-hal yang mengganggu aktivitas untuk sampai pada tujuannya. Dengan demikian, ketegangan (stress) yang terjadi dalam aktivitas itu tidak mereda, bahkan bertambah. Untuk menyalurkan ketegangan- ketegangan itu individu yang bersangkutan menjadi marah.

31 Kecerdasan Emosi (Emotional Quotient/EQ) Adapun orang yang dikatakan mempunyai EQ yang tinggi bila: 1) Mampu mengenali emosinya sendiri. 2) Mampu mengendalikan emosinya sesuai dengan situasi dan kondisi. 3) Mampu menggunakan emosinya untuk meningkatkan motivasinya sendiri (bukan malah membuat diri putus asa atau bersikap negatif pada orang lain). 4) Mampu mengenali emosi orang lain. 5) Mampu berinteraksi positif dengan orang lain.

32 (4) Motif Motif dalam psikologi berarti juga rangsangan, dorongan, atau pembangkit tenaga bagi terjadinya suatu perbuatan (action) atau perilaku (behavior). Motivasi adalah seluruh proses gerakan itu, termasuk situasi yang mendorong, dorongan yang timbul dalam diri individu, perilaku yang ditimbulkan oleh situasi tersebut, dan tujuan atau akhir daripada tindakan atau perbuatan.

33 Lingkaran Motivasi Kebutuhan Motif Perilaku Keseimbangan Ketidakseimbangan

34 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motif Tidak semua kebutuhan menimbulkan motif. Motif juga dipengaruhi oleh faktor sosial dan kebudayaan, misalnya seseorang yang lapar dalam kelas, namun adanya aturan yang tidak mengizinkan makan di dalam kelas, sehingga motif untuk makan tidak timbul atau ditunda.

35 Frustrasi Frustrasi adalah suatu keadaan emosi yang disebabkan oleh tidak tercapainya kepuasan atau suatu tujuan akibat adanya hambatan atau rintangan dalam usaha mencapai kepuasan atau tujuan tersebut.

36 Jenis-jenis Frustrasi Frustrasi lingkungan yaitu frustrasi yang disebabkan oleh halangan atau rintangan yang terdapat dalam lingkungan. Frustrasi pribadi yaitu frustrasi yang tumbuh dari ketidakmampuan orang itu sendiri dalam mencapai tujuan. Frustrasi konflik yaitu frustrasi yang disebabkan oleh konflik dari berbagai motif dalam diri seseorang.

37 Frustrasi Konflik Frustrasi konflik ini dapat timbul dari 3 (tiga) macam konflik yang berbeda, yaitu: a) Konflik mendekat-mendekat: individu dihadapkan kepada dua atau lebih tujuan yang sama-sama mempunyai nilai positif, dimana individu harus memilih satu dari beberapa pilihan tersebut. b) Konflik mendekat-menjauh: dimana objek yang menjadi tujuan mempunyai nilai yang positif dan negatif sekaligus. c) Konflik menjauh-menjauh: individu dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama mempunyai nilai negatif dan sama-sama harus dihindari.

38 Cara Mengatasi Frustrasi 1) Bertindak eksplosif: semua energi dalam diri individu diledakkan atau dihabiskan dengan jalan melakukan perbuatan-perbuatan atau ucapan- ucapan yang biasanya bersifat eksplosif. Setelah “meletus”, maka biasanya individu merasa ketegangan dalam dirinya berkurang atau menghilang. 2) Melakukan kompensasi: orang berusaha untuk menutupi kekuranga/kegagalannya dengan cara- cara lain yang dianggapnya memadai/lebih baik.

39 Cara Mengatasi Frustrasi (lanjutan) 3) Dengan cara introversi: individu yang tidak dapat mencapai tujuannya dalam dunia realitas/nyata, maka ia menempuh jalan dengan menarik diri dan masuk dalam dunia khayalan. Dalam dunia khayal ia membayangkan dirinya seolah-olah sudah berhasil mencapai tujuannya. 4) Sublimasi: individu dalam hal ini mengalihkan tujuannya pada tujuan alternatif, yang memiliki sifat- sifat yang kurang lebih sama dengan tujuan awal. Akan tetapi, di samping itu tujuan alternatif tersebut mempunyai nilai sosial dan etis yang lebih tinggi.

40 Cara Mengatasi Frustrasi (lanjutan) 5) Reaksi psikopatis: golongan individu yang cenderung bertindak melanggar aturan dalam mengatasi frustrasinya disebut individu yang bereaksi secara psikopatis. 6) Simbolisasi: dalam keadaan dimana individu tidak berhasil menembus memecahkan rintangan, maka dia dapat berbuat seolah-olah telah berhasil mencapai tujuannya.

41 Toleransi terhadap Frustrasi Toleransi terhadap frustrasi adalah kemampuan individu untuk mengatasi ketegangan dalam diri akibat penundaan pemuasan motif atau konflik pada dirinya tanpa menggunakan perilaku dan cara-cara yang tidak tepat. Toleransi tinggi terhadap frustrasi: tabah, sabar, mampu berpikir panjang dalam menghadapi kekecewaan, kegagalan, dll. Toleransi rendah terhadap frustrasi: mudah kecewa dan putus asa.

42 Jenis Motif Motif diantaranya penggolongan berdasarkan kebutuhan primer (kebutuhan fisiologis) dan sekunder (kebutuhan sosial). Teori motivasi Abraham Maslow: motivasi dapat digolongkan dalam beberapa jenis mengikuti suatu hirarki/jenjang tertentu, artinya: motivasi dari kebutuhan yang lebih rendah merupakan motivasi yang mendesak sifatnya (lebih darurat), sehingga perlu diprioritaskan. Bila kebutuhan pada tingkat rendah telah terpenuhi, maka akan timbul kebutuhan pada tingkat yang lebih tinggi yang akan memotivasi perilaku, dan kebutuhan yang lebih rendah tidak lagi mendorong tingkah laku.

43 Hirarki kebutuhan A.H Maslow Self- actualization Self-esteem Socialization Safety Biological

44 Hirarki kebutuhan A.H Maslow 1) Kebutuhan biologis dan fisiologis: kebutuhan akan udara, makanan, seks, dll (biological). 2) Kebutuhan akan perasaan aman (safety need). 3) Kebutuhan akan cinta kasih dan kebutuhan untuk memiliki atau dimiliki (need for socialization). 4) Kebutuhan akan penghargaan (self-esteem). 5) Kebutuhan akan kebebasan bertingkah laku tanpa hambatan dari luar untuk menjadikan diri sendiri sesuai dengan citra dirinya sendiri (self- actualization).

45 Pembagian Motif menurut McClelland 1) Kebutuhan untuk berkuasa (need for power). 2) Kebutuhan untuk berprestasi (need for achievement). 3) Kebutuhan untuk mencari teman, mencari pegangan pada orang lain (need for affiliation).

46 Insentif Insentif adalah kondisi atau situasi di luar diri individu yang dapat meningkatkan atau menghambat suatu motif. Sesuai dengan fungsinya, insentif dibagi dalam 2 (dua) jenis, yaitu: 1) Insentif yang meningkatkan motif (insentif positif); 2) Insentif yang menghambat motif (insentif negatif). Faktor yang mempengaruhi insentif adalah struktur kepribadian dan motif orang yang akan diberi insentif.


Download ppt "DOSEN: RAVIANTY DONY, PSIKOLOG FUNGSI-FUNGSI PSIKIS."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google