Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

MODEL EVALUASI PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Burhan Nurgiyantoro FBS/PPs Universitas Negeri Yogyakarta Yogyakarta, 22 November 2010.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "MODEL EVALUASI PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Burhan Nurgiyantoro FBS/PPs Universitas Negeri Yogyakarta Yogyakarta, 22 November 2010."— Transcript presentasi:

1

2 MODEL EVALUASI PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Burhan Nurgiyantoro FBS/PPs Universitas Negeri Yogyakarta Yogyakarta, 22 November 2010

3 PENDAHULUAN (1) Ada berbagai faktor yang memengaruhi keberhasilan atau ketidakberhasilan kegiatan pembelajaran, juga untuk pembelajaran bahasa Indonesia (BI) Berbagai dapat saja diredusir ke dalam beberapa faktor utama, misalnya faktor pembelajar, guru, bahan ajar, dan model evaluasi Tiap faktor tersebut dapat dirinci lagi ke dalam sejumlah subfaktor Namun, satu hal yang pasti ada sifat saling ketergantungan, saling memengaruhi di antara faktor-faktor tersebut Seorang guru mungkin saja kreatif, inovatif, dan rajin mengembangkan diri, tetapi jika tidak diimbangi oleh faktor- faktor yang lain, hasilnya juga tidak akan maksimal Seorang guru Bahasa Indonesia membelajarkan peserta didik dengan menekankan kompetensi berbahasa Indonesia, tetapi jika soal ujian masih lebih mengujikan kompetensi bahasa, hasilnya juga kurang memuaskan

4 Pendahuluan (2) Sebaliknya, tim pembuat soal ujian (misalnya Ujian Nasional, UN) membuat soal BI dengan benar-benar mengukur kompetensi ber-BI sesuai dengan fungsi bahasa di masyarakat, tetapi jika para guru di sekolah masih menekankan pembelajaran pada kompetensi BI, hasilnya juga kurang maksimal. Berbagai faktor penentu keberhasilan pembelajaran, antara apa dan bagaimana pembelajaran yang dilakukan guru dan apa yang ditagih dalam UN harus selaras Kegagalan capaian maksimal peserta didik dalam berbagai level pendidikan, perlu ditemukan penyebabnya dalam faktor-faktor penentu utama Dalam kaitan ini: antara apa dan bagaimana pembelajaran yang dilakukan para guru dan apa yang diujikan dalam UN

5 Pendahuluan (3) Kurikulum yang kini dipakai di dunia pendidikan di Indonesia (KBK/KTSP) menekankan pentingnya kompetensi berkinerja, ber-doing something Berkinerja yang dimaksud haruslah dipahami sesuai dengan kondisi tiap mata pelajaran Pelaksanaan pembelajaran dalam KBK/KTSP disarankan memergunakan metode pembelajaran kontekstual (CTL, Contextual teaching and Learning) Ada sejumlah hal yang disarankan dalam pelaksanaan CTL, yang salah satunya dalam hal penilaian hasil pembelajaran adalah penggunaan model asesmen otentik Asesmen otentik menekankan kinerja secara nyata lewat demonstrasi dan atau praktik melakukan sesuatu Dalam penilaian kompetensi berbahasa (BI) berarti hal itu menunjuk pada kompetensi berbahasa aktif-produktif

6 UJIAN BERBAHASA INDONESIA (1) Ada perbedaan makna antara ujian Bahasa Indonesia dan Berbahasa Indonesia Ujian BI: konotasi ke sistem bahasa Ujian ber-BI: konotasi ke kompetensi mempergunakan BI untuk kepentingan berkomunikasi Dalam kurikulum kita ditulis mata pelajaran BI dan ujian (UUB, UN) BI, namun itu harus dimaknai ujian ber-BI Analog untuk sastra: ujian bersastra, kompetensi bersastra Ujian ber-BI inilah yang sesuai dengan makna pembelajaran kontekstual (CTL), ujian berkinerja bahasa, ujian ber-doing something dengan bahasa Ujian ber-BI ini pula yang semestinya menjadi fokus utama semua kegiatan penilaian pembelajaran bahasa Konsekuensinya: semua model penilaian pembelajaran bahasa (BI), harus bermuara pada ujian ber-BI

7 Ujian Berbahasa Indonesia (2) Jika pembelajaran BI ditekankan pada kompetensi berbahasa, penilaian harus juga berupa tagihan kompetensi ber-BI Model asesmen yang cocok dipergunakan untuk maksud itu adalah asesmen otentik Jika dilakukan dengan benar, model asesmen otentik dapat menjamin tercapainya kompetensi ber-BI Skor hasil ujian kompetensi ber-BI sekaligus menunjukkan tinggi rendahnya kompetensi ber-BI dalam konteks nyata Namun, dalam ujian-ujian yang dibatasi waktu secara ketat (UU/UUB/UAS/ UN) pengukuran kemampuan berbahasa yang betul-betul otentik tidak praktis. Asesmen otentik lebih cocok untuk penilaian proses (Callison, 2009) Penilaian dilakukan sepanjang dan bersamaan dengan proses pembelajaran dan bahkan dapat menjadi bagian dari strategi pembelajaran

8 Ujian Berbahasa Indonesia (3 ) Dalam proses itulah penilaian kompetensi mempergunakan bahasa (ber-BI) sebagai sarana berkomunikasi, dan bukan tes bahasa demi bahasa itu sendiri, dapat dilakukan dengan maksimal Pada intinya,soal ujian harus tidak hanya berurusan dengan bahasa, tetapi bahasa dan sekaligus makna yang dikandung Jadi, ia mesti berurusan dengan ketepatan bahasa dan kejelasan/ketepatan makna Hal itu juga berlaku dalam hal ujian kompetensi bersastra Artinya, ujian kompetensi bersastra mesti berurusan dengan berbagai teks kesastraan sebagai suatu bentuk ekspresi seni lewat bahasa, bukan tentang sistem sastra Maka, soal penilaian kompetensi ber-BI juga dapat mengambil bentuk wacana kesastraan

9 Soal Ujian Berbahasa Indonesia (4) Persoalan yang muncul adalah ujian (UU/UUB/UAS, UN) sering dibuat dengan bentuk tes tradisional objektif-pilihan ganda (karena memang lebih praktis) Namun, bagaimanapun ujian bentuk objektif bukan merupakan ujian berkinerja dalam pengertian aktif- produktif seperti tuntutan asesmen otentik Ujian secara tradisional objektif-pilihan ganda adalah ujian dalam bentuk merespon jawaban yang disediakan Di pihak lain, asesmen otentik memberi kebebasan peserta didik untuk mengreasikan jawaban sendiri (ini jelas kurang praktis, bahkan sering tidak konsisten, dalam hal memeriksa pekerjaan, belum lagi masalah waktu) Maka, persoalan yang muncul berikutnya adalah: bagaimanakah membuat soal-soal ujian, UU/UN, yang bernuansakan otentik, namun dalam bentuk tes tradisional objektif-pilihan ganda Hal ini jelas merupakan sebuah tantangan yang menarik (namun haruslah selaras dengan teknik pembelajaran yang dilakukan)

10 MODEL UJIAN BER-BI: TRADISIONAL ATAU OTENTIK? (1) Tes Tradisional Model soal ujian yang selama ini dipakai, maka disebut sebagai model/tes tradisional, adalah bentuk objektif; khususnya objektif pilihan ganda Penggunaan tes objektif pilihan ganda pada ujian-ujian akhir memang banyak keuntungannya Misalnya, dapat melibatkan banyak soal (bahan ajar), koreksi cepat dan konsisten, dan mengukur kompetensi pemahaman dengan baik Kesulitannya terutama dalam membuat soal yang baik dan itu membutuhkan waktu lama dan harus cermat Namun, masalahnya tinggi rendahnya skor tes bentuk ini belum tentu menjamin kompetensi aktif produktif dalam berkinerja bahasa dalam konteks sesungguhnya Belum lagi masalah keterbacaan soal yang belum tentu baik sehingga itu juga memengaruhi skor hasil ujian

11 Model Ujian Ber-BI: Tradisional atau Otentik? (2) Tes Otentik Otentik berarti: nyata, konkret, benar-benar tampilan peserta didik, objektif, akurat, dan bermakna. Penilaian otentik: pemberian tugas kepada pembelajar untuk menampilkan kemampuannya mempergunakan bahasa target secara bermakna dan kemudian dinilai Authentic Assessment: a form of assessment in which students are asked to perform real-world tasks that demonstrate meaningful application of essential knowledge and skills (John Mueller, 2008) Jadi, ada dua kata kunci untuk asesmen otentik: kinerja dan bermakna. Pengukuran hasil pembelajaran haruslah berupa kinerja berbahasa: (bukan sekadar terkait dengan tagihan yang aktif reseptif dan apalagi hanya pengetahuan tentang sistem) Bermakna berarti kontekstual, kinerja berbahasa yang ditampilkan itu ditemukan dan dibutuh kan dalam kehidupan, misalnya di dunia kerja.

12 Karakteristik Penilaian Tradisional dan Penilaian Otentik (Mueller, 2008) No.Penilaian TradisionalPenilaian Otentik Misi sekolah adalah mengembangkan warga negara yang produktif. Untuk menjadi warga negara produktif, seseorang harus menguasai disiplin keilmuan dan keterampilan tertentu. Maka, sekolah mesti mengajarkan siswa disiplin keilmuan dan keterampilan tersebut. Untuk mengukur keberhasilan pembelajaran, guru mengetes siswa untuk mengetahui tingkat penguasaan keilmuan dan keterampilan itu. The curriculum drives assessment; the body of knowledge is determined first. Misi sekolah adalah mengembangkan warga negara yang produktif. Untuk menjadi warga negara produktif, seseorang harus mampu menunjukkan penguasaan melakukan sesuatu secara bermakna Maka, sekolah mesti mengembang- kan siswa untuk dapat mendemonstra- sikan kemampuan/keterampilan melakukan sesuatu. Untuk mengukur keberhasilan pembelajaran, guru meminta siswa melakukan aktivitas tertentu secara bemakna yang mencerminkan aktivitas di dunia nyata. Assessment drives the curriculum; the teachers first determine the tasks that student will perform to demonstrate their mastery.

13 Tes Tradisional vs Tes Otentik Perbedaan antara: memilih jawaban dan menunjukkan suatu aktivitas menunjukkan penguasaan pengetahuan dan demonstrate proficiency by doing something memanggil kembali atau rekognisi dan mengonstruksi atau aplikasi soal dan jawaban disusun guru dan siswa menyusun sendiri jawaban bukti tidak langsung dan bukti langsung (faktual )

14 Model Ujian Ber-BI: Tradisional atau Otentik? (3) Pertanyaan: Model mana yang lebih baik? Penilaian tradisional ataukah otentik? Jawabnya: standar, keduanya baik, tergantung kapan dan bagaimana penggunaanny a Untuk penilaian produk (akhir) atau proses?

15 Model Ujian Ber-BI: Tradisional atau Otentik? (4) Ujian Ber-BI secara Tradisional-Objektif Ujian ber-BI dengan model tradisional lebih praktis dan efisien untuk ujian-ujian akhir yang waktunya terbatas Namun sekali lagi, soal-soal ujian harus dikreasikan sedemikian rupa sehingga betul-betul mengungkap kompetensi ber-BI dan bukan hanya sistem BI Tekanan pengukuran pada kompetensi pemahaman dan kompetensi memilih proposisi jawaban yang tepat untuk mengisi stem (pokok soal) Model yang populer adalah objektif pilihan ganda, namun hal itu tidak mengurangi kreativitas pengembangan model- model pengukuran agar soal terasa segar Khususnya yang berkaitan dengan apa yang ditanyakan (makna) dan bagaimana cara menanyakan (bentuk, stile)

16 Model Ujian Ber-BI: Tradisional atau Otentik? (5) Ujian Ber-BI secara Otentik Ujian ber-BI secara otentik tepat diterapkan dalam penilaian proses karena waktu yang relatif panjang Asesmen otentik mengukur kompetensi kinerja ber-BI secara aktif-produktif dengan berbagai model/bentuk yang dapat dipilih Skor tes otentik mencerminkan kompetensi ber-BI yang sebenarnya, maka nilai ini harus ikut menentukan nilai akhir capaian seorang peserta didik Idealnya, hal itu tidak hanya terjadi pada ujian-ujian sekolah untuk mengisi rapor dan menentukan kenaikan kelas, melainkan juga untuk Ujian Nasional (UN, UNAS) Jadi, penentu kelulusan tidak semata dari skor UN yang pengukurannya hanya lewat tes objektif, melainkan juga skor tes proses yang diukur dengan tes otentik

17 Model Ujian Ber-BI: Tradisional atau Otentik? (6) Ujian Ber-BI bentuk tradisional objektif, tetapi bernuansakan otentik Ujian ber-BI secara tradisional dalam bentuk objektif pilihan ganda lebih memfokus pada pemahaman (aktif-reseptif) walau yang diteskan sebetulnya kompetensi aktif-produktif Jika peserta didik telah terbiasa diuji secara otentik, artinya betul- betul ujian ber-BI, berhadapan dengan soal-soal ujian ber-BI dalam bentuk objektif tentunya lebih mudah Dalam soal ujian objektif peserta uji tinggal merespon soal jawaban yang telah disediakan yang bernuansakan otentik Bernuansakan otentik karena soal-soal itu juga menekankan kebermaknaan, namun bukan berkinerja aktif-produktif Soal-soal ujian yang demikian juga sudah bagus dan mengukur kompetensi ber-BI

18 STRATEGI ASESMEN OTENTIK (1) Penilaian Kinerja (Performance Assessment): Menguji kemampuan mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan, menguji apa yang diketahui dan dapat dilakukan, sebagaimana ditemukan dalam situasi nyata dan dalam konteks tertentu Unjuk kerja dalam konteks hasil pembelajaran bahasa berkaitan dengan kinerja aktif-produktif lewat berbicara dan menulis Kinerja sering dilakukan atau adalah berbicara dan menulis dengan segala jenisnya secara bermakna Wawancara Lisan (Oral Interview): Tugas ini bagian kinerja kebahasaan Dalam penilaian pembelajaran bahasa tujuan utamanya adalah menilai kompetensi peserta didik membahasakan secara lisan informasi yang ditanyakan Dalam asesmen otentik yang diutamakan adalah ketepatan bahasa dan kejelasan informasi yang disampaikan

19 Strategi Asesmen Otentik (2) Pertanyaan Terbuka (Constructed-Response Items): Penilaian dengan memberikan pertanyaan/tugas yang harus dijawab atau dilakukan oleh siswa secara tertulis atau lisan Pertanyaan harus memaksa siswa mengreasikan jawaban yang menunjukkan kualitas berpikir, mengembangkan argumentasi, dan membuat kesimpulan. Kemampuan memilih atau mengreasikan pesan dan bahasa secara akurat dan tepat mencerminkan kualitas berpikir tingkat tinggi. Menceritakan kembali Teks atau Cerita (Story or Text Retelling): Pemberian tugas menceritakan kembali wacana yang didengar atau dibaca secara lisan atau tertulis Ada integrasi beberapa kemampuan berbahasa. Misalnya teks bacaan dapat diceritakan kembali secara lisan dan tertulis. Tugas ini dimaksudkan untuk mengukur kompetensi pemahaman isi dan informasi yang terkandung dalam wacana yang disampaikan. Penilaian terkait dengan ketepatan bahasa dan ketepatan informasi yang terkandung dalam wacana

20 Strategi Asesmen Otentik (3) Portofolio (Portfolio): Portofolio: asesmen otentik yang tepat dipakai dalam penilaian proses Portofolio: kumpulan karya siswa yang dibuat secara terencana dan sistemik yang kemudian dianalisis secara cermat untuk menunjukkan perkembangan kemajuan mereka setiap waktu Jika ada banyak karya, dipilih dengan memergunakan kriteria tertentu, misalnya yang relevan, bermakna, dan menggambarkan kemajuan serta capaian belajar Proyek (Projects): Tugas penelitian seperti menganalisis fiksi, makna puisi-puisi anak, tajuk rencana bermuatan kependidikan di koran, pementasan drama, dll. Pemilihan topik proyek sebaiknya didiskusikan dengan peserta didik. Kegiatan proyek harus dapat diselesaikan dalam jangka waktu tertentu. Tugas proyek merupakan kegiatan investigasi sejak perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data sampai pembuatan laporan Tugas proyek menunjukkan penguasaan pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis informasi, sampai dengan pemaknaan dan penyimpulan

21 ASESMEN OTENTIK BER-BI DAN BERSASTRA (1) Tes kinerja berbahasa dan bersatra mesti melalui keempat kompetensi berbahasa Persoalannya adalah bagaimana mengembangkan soal keempat kompetensi berbahasa tersebut menjadi tes otentik (atau minimal bernuansakan otentik) Tes berbicara dan menulis mudah untuk dijadikan tes otentik, tetapi bagaimana tes menyimak dan membaca yang bersifat aktif reseptif yang notabene lebih banyak untuk mengukur pemahaman? Sebetulnya, kuncinya adalah bagaimana cara mengukur kemampuan pemahaman itu Tes yang lazim (tradisional-objektif ) adalah meminta siswa merespon jawaban (selecting a response) Padahal, tes otentik menuntut siswa untuk melakukan sesuatu (performing a task) sebagai bukti nyata bahwa mereka memang memahami hal-hal yang dipelajari

22 Asesmen Otentik Ber-BI dan Bersastra (2 ) Jadi, masalahnya adalah bagaimana membuat tes menyimak dan membaca menjadi performing a task dan bukan sekadar selecting a response Di pihak lain, tes performing a task menuntut peserta didik untuk aktif produktif dalam bentuk unjuk kerja berbahasa secara bermakna Hal itu berarti bahwa untuk mengukur kemampuan menyimak dan membaca dibuat menjadi tes performing a task Respon biasanya terkait dengan pemahaman siswa tentang materi yang disimak atau didengarkan, dan respon itu hatrus diubah menjadi tes performing a task Soal harus dijadikan tugas-tugas kinerja bahasa secara bermakna walau hal itu juga harus tetap diprasyarati kemampuan pemahaman bahan yang disimak dan dibaca Artinya, tanpa bekal pemahaman isi teks yang didengar atau dibaca, peserta didik tidak bisa melakukan tugas yang diberikan

23 Asesmen Otentik Ber-BI dan Bersastra (3 ) Bentuk kinerja bahasa adalah berbicara atau menulis Jadi, tes menyimak dan membaca kini diubah dengan menuntut jawaban siswa lewat berbicara atau menulis, jadi mereka mengreasikan jawaban sendiri Bentuk tugas kinerja dapat berupa menceritakan kembali secara lisan dan atau menuliskan kembali secara tertulis Selain itu, agar tugas-tugas itu juga harus bermakna sebagaimana tuntutan tes otentik, perlu adanya komentar atau tanggapan kawannya Tanggapan ditekankan pada isi teks, tetapi dapat juga berkaitan dengan aspek kebahasaan Untuk menilai tingkat kemampuan siswa dibuatkan lembar-lembar rubrik yang sesuai Di bawah dicontohkan rubrik yang dimaksud

24 Contoh Rubrik Penilaian Kinerja Pemahaman Menyimak/Membaca Secara Lisan No.Aspek yang DinilaiTingkat Kefasihan Pemahaman isi teks 2.Keruntutan pengungkapan isi teks 3.Kelancaran dan kewajaran pengungkapan 4.Ketepatan diksi 5.Ketepatan struktur kalimat 6.Kebermaknaan penuturan Jumlah Skor: Nilai:

25 Contoh Rubrik Penilaian Kinerja Pemahaman Menyimak/membaca Secara Tertulis No.Aspek yang DinilaiTingkat Ketepatan Pemahaman isi teks 2.Keruntuttan pengungkapan isi teks 3.Ketepatan diksi 4.Ketepatan struktur kalimat 5.Ejaan dan tatatulis 6.Kebermaknaan penuturan Jumlah Skor: Nilai:

26 Asesmen Otentik Ber-BI dan Bersastra (4 ) Tes kompetensi berbicara dan menulis otomatis akan berwujud performing a task dan bukan sekadar memilih respon yang disediakan, selecting a response Jika tes sudah berupa performing a task, kita tinggal membawa, menjadikan, atau memastikan bahwa tugas-tugas itu bermakna sesuai dengan tuntutan tes otentik Tugas kinerja berbicara dapat berupa berdiskusi, berpidato, wawancara, penyampaian laporan, dll Tugas kinerja menulis dapat berupa menulis dengan tema tertentu, membuat laporan kegiatan, membuat resensi buku, membuat bermacam surat, menulis puisi, dll Model penyekoran tes berbicara dan menulis secara otentik adalah dengan rubrik Ada banyak model rubrik penilaian tergantung pada tugas berbicara atau menulis yang diberikan Di bawah dicontohkan beberapa model rubrik penilaian untuk kinerja berbicara dan menu

27 Contoh Pedoman Penilaian Kompetensi Berbicara (Contoh 1) No.Aspek yang Dinilai Tingkat Kefasihan Keaktualan topik penuturan 2.Keluasan materi penuturan 3.Keruntutan penyampaian gagasan 4.Ketepatan diksi 5.Ketepatan struktur kalimat 6.Kelancaran dan kewajaran penuturan Jumlah Skor: Nila i:

28 Contoh PedomanPenilaian Kemampuan Berbicara (Contoh 2) No. Nama Siswa Aspek yang Dinilai Jumlah Skor Keakuratan & Kelengkap- an Informasi Keruntutan Penyampaian Gagasan Ketepatan Struktur & Kosakata Kelancaran dan Kewajaran Gaya Pengu- capan 1. 25*) 30*) 10*) *) Skor Maksimal

29 Contoh Panduan Penilaian Menulis (Contoh 1) No.Komponen yang Dinilai Tingkat Ketercapaian Keaktualan topik penulisan 2.Keluasan materi penulisan 3.Keruntutan penyampaian gagasan 4.Ketepatan diksi 5.Ketepatan struktur kalimat 6.Ketepatan ejaan Jumlah Skor: Nilai:

30 Contoh Panduan Penilaian Menulis (Contoh 2) No. Nama Siswa Skor dan Aspek yang Dinilai Isi Organisasi Isi Struktur Bahasa DiksiEjaan & Tata tulis Jumlah Skor 1.25*) 15*)10*) *) Skor Maksimal

31 Model Penilaian Otentik Jadi, model penilaian otentik memergunakan model penilaian analitis daripada holistis Penilaian karangan atau unjuk kerja yang lain dirinci ke dalam komponen-komponen tertentu Tiap komponen diberi bobot sesuai dengan perannya dalam karangan secara keseluruhan Skor sebuah karangan diperoleh dengan menjumlah seluruh skor per komponen Dengan model analitis kita akan tahu komponen tertentu yang sudah baik atau sebaliknya Dengan demikian, kita dapat memberikan pembenahan yang lebih dibutuhkan Teknik penilaian ini dipakai untuk keperluan diagnostik- edukatif Perincian karya ke dalam komponen-komponen dapat berbeda tergantung jenis karya yang dinilai Demikian juga dalam hal pembobotan tiap komponen

32 CATATAN PENUTUP UJIAN BER-BI (1) Ujian ber-BI dapat dilakukan dengan model tradisional dengan soal objektif-piihan ganda dan model otentik Model tes tradisional berupa merespon jawaban dengan tekanan kompetensi pemahaman: pemahaman terhadap isi perintah dan perintahnya itu sendiri Model tes otentik menekankan kinerja ber-BI secara bermakna sebagaimana yang dibutuhkan di dunia nyata atau dunia kerja Model tes pilihan ganda dapat menjadi ujian ber-BI yang baik jika isi perintah mencerminkan tuntutan ber-BI dan bukan sekadar sistem BI Tes pilihan ganda dapat divariasikan menjadi banyak model, baik yang mencakup isi perintah, ragam BI yang diujikan, maupun bunyi perintahnya Model ujian tradisional yang demikian paling tidak sudah mengarah ke tes otentik, rohnya adalah tes otentik

33 Catatan Penutup Ujian Ber-BI (2) Ujian ber-BI dapat dilakukan dengan model tradisional dan model otentik tergantung waktu dan tujuan pengukuran Model tes tradisional lebih cocok untuk ujian-ujian akhir yang dibatasi waktu, sedang tes otentik untuk tes proses sepanjang waktu pembelajaran Model UN ber-BI memergunakan tes tradisional pilihan- ganda, namun dengan roh tes otentik Jadi, tugas-tugas kinerja ber-BI selama pembelajaran yang otentik dapat dipandang sebagai latihan UN ber-BI dengan bentuk lain Lewat tes otentik yang penilaiannya dilakaukan secara analitis lewat rubrik, sekaligus dapat diketahui keunggulan dan kelemahan seorang peserta didik Hal itu merupakan umpan balik yang berharga untuk pembenahan dan peningkatan kerja pembelajaran selanjutnya

34 Catatan Penutup Ujian Ber-Bi (3) Survei awal keterbacaan UN BI 2010 menemukan sejumlah masalah yang dapat memengaruhi keterbacaan soal UN yang sebenarnya dapat diminimalisir jika soal-soal itu dulu direviu oleh ahli di bidangnya. UN adalah ujian resmi, maka soal-soal yang diujikan harus baik, dapat dipertanggungjawabkan, dan mencerminkan kompetensi yang dibelajarkan. UN adalah penentu nasib dan masa depan anak-anak kita. Tidak adil rasanya jika mereka dihakimi salah, gagal, tidak lulus, atau minimum nilai UN BI rendah gara-gara butir soalnya kurang dapat dipertanggungjawabkan. Bahwa butir soal UN sudah melibatkan aspek makna dalam komunikasi dengan bahasa, itu adalah hal positif dalam UN ini. Namun, pemilihan teks dengan segala karakteristiknya yang diujikan masih perlu dipertimbangkan agar terdapat kesesuaian dengan jenjang pendidikan peserta ujian. Intinya, pembuatan soal-soal UN yang melibatkan berbagai aspek penulisan masih harus ditingkatkan lagi dengan melihat kelebihan dan kekurangan yang ada pada soal-soal sebelumnya.

35 TERIMA KASIH SEMOGA BERMANFAAT


Download ppt "MODEL EVALUASI PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Burhan Nurgiyantoro FBS/PPs Universitas Negeri Yogyakarta Yogyakarta, 22 November 2010."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google