Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

SEMANTIK BAHASA INDONESIA SEMESTER 5 PROGRAM STUDI S-1 PGSD FKIP UKSW SALATIGA KODE MK: JG138.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "SEMANTIK BAHASA INDONESIA SEMESTER 5 PROGRAM STUDI S-1 PGSD FKIP UKSW SALATIGA KODE MK: JG138."— Transcript presentasi:

1 SEMANTIK BAHASA INDONESIA SEMESTER 5 PROGRAM STUDI S-1 PGSD FKIP UKSW SALATIGA KODE MK: JG138

2 Pengertian Semantika (semantics) adalah ilmu yang objek kajiannya ihwal makna tanda bahasa Semantika berbeda dengan semantik, semantika ilmunya, sedangkan semantik adalah bidang kajiannya Semantika menurut Kridalaksana adalah cabang semiotika yang mempelajari hubungan antara lambang dan referennya

3 Semantik dan cakupannya Ada 2 bidang yang mempelajari makna, yaitu semantik dan semiotik Semantik hanya mempelajari makna yang ada dalam semua sistem lambang dan tanda Ruang lingkup studi semantik mencakup semua tataran bahasa, kecuali tataran fonetik dan fonemik karena satuan pada kedua tataran itu tidak memiliki makna meskipun fonem dapat membedakan makna kata Berdasarkan objek yang dipelajari dibedakan adanya semantik leksikal dan semantik gramatikal

4 Hakikat makna Untuk memahami apa yang dimaksud makna, kita dapat melihat dari beberapa pendekatan, yaitu pendekatan konseptual, pendekatan komponensial, pendekatan operasional Pendekatan konseptual menyatakan setiap kata/leksem pada dirinya secara inheren telah terkandung suatu makna yang bias berupa gagasan, ide, konsep hal atau proses Pendekatan komponensial menyatakan bahwa setiap makna sebuah kata/leksem terdiri dari sejumlah komponen yang secara keseluruhan membentuk makna kata tersebut Pendekatan operasional menyatakan makna sebuah kata/leksem beru jelas bila kata/leksem itu sudah digunakan di dalam konteks kalimat tertentu

5 Ragam makna Ragam makna dapat dilihat dari berbagai kriteria dan sudut pandang: 1. Makna leksikal dan gramatikal 2. Makna konotatif dan denotatif Pembedaan makna leksikal dan gramatikal adalah makna yang terjadi sebagai akibat proses-proses gramatikal, seperti proses afiksasi, reduplikasi, dan komposisi Pembedaan makna konotatif dan denotatif didasarkan pada ada tidaknya nilai rasa. Makna denotatif adalah makna yang ada pada setiap leksem atau kata, sedangkan makna konotatif adalah nilai rasa positif, negatif maupun netral

6 Lanjut: Dalam berbagai buku pendidikan, makna konotatif disebutkan juga sebagai makna tambahan yang ada pada setiap kata, termasuk makna lugas dan makna asosiasi Makna konseptual adalah makna yang ada pada sebuah leksem, yang sebenarnya sama saja dengan makna leksikal dan makna denotatif Makna asosiasi adalah makna lain yang dikaitkan dengan makna pada kata tertentu. Makna kata biasanya bersifat umum. Dibedakan dengan makna leksikal atau makna istilah yang tetap dan khusus karena hanya digunakan pada bidang kegiatan tertentu Makna lugas sebenarnya sama saja dengan makna leksikal atau makna leksikal denotatif, dipertentangkan dengan makna kias, yaitu makna yang merupakan kiasan, perbandingan atau persamaan dengan sesuatu yang lain

7 Relasi makna dalam bahasa Indonesia Relasi Sinonim dan antonim 1. Secara etimologi, sinonim berasal dari bahasa Yunani Kuno yang terdiri dari dua kata, yaitu onoma=nama dan syn=sama dengan. Secara harafiah, sinonim dapat diartikan sebagai ‘nama lain untuk benda lain pula’, sedangkan secara semantis, sinonim dapat didefinisikan sebagai ungkapan (dapat berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanya kurang lebih sama dengan makna ungkapan lain 2. Dua buah kata yang bersinonim tidak memiliki makna yang persis sama. Oleh karena itu, kata-kata tersebut tidak selalu dapat saling menggantikan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadi, yaitu (1) faktor waktu yang berbeda, (2) faktor tempat atau daerah yang berbeda, (3) faktor sosial, (4) faktor bidang kegiatan, (5) faktor nuansa makna

8 Lanjut: Antonim berasal dari onona yang berarti nama dan anti yang berarti melawan (Yunani Kuno). Jadi secara harfiah antonim berarti nama lain untuk menda lain pula, sedangkan secara semantis, antonim berarti ungkapan (biasanya kata) yang dianggap bermakna kebalikan dari makna ungkapan lain. Antonim sering juga disebut dengan istilah oposisi, ada kata-kata yang memiliki oposisi mutlak, oposisi kutub, oposisi hubungan, oposisi hierarkial, oposisi majemuk

9 Relasi polisemi dan homonim Polisemi adalah suatu bahasa (terutama kata atau frase) yang memiliki makna lebih dari satu. Polisemi terjadi karena: 1. Faktor gramatikal 2. Faktor leksikal 3. Faktor pengaruh bahasa asing 4. Faktor pemakai bahasa 5. Faktor keterbukaan bahasa

10 Homonim Homonim berasal dari kata onama=nama dan homos=sama.Secara harfiah, homonim dapat diartikan sebagai ‘nama sama untuk benda lain’. Secara semantis, Verhaar mendefinisikan homonim sebagai ungkapan (kata, frase, atau kalimat) yang bentuknya sama dengan suatu ungkapan lain, tetapi berbeda makna Homonim dapat dibedakan berdasarkan tingkat terjadinya, yaitu: 1. Homonim antarkalimat 2. Homonim antarfrase 3. Homonim antarkata 4. Homonim antarmorfem Sedangkan berdasarkan bentuknya dibedakan: 1. Homonim yang homograf 2. Homonim yang homofon 3. Homonim yang homograf dan homofon

11 Beda polisemi dan homonim Polisemihomonim 1. Bersumber dari satu kata saja 2. Maknanya masih berhubungan/berdekat an 3. Di dalam kamus didaftar sebagai satu entri 4. Ditulis mendatar 1. Bersumber dari dua kata atau lebih 2. Maknanya tidak berhubungan 3. Dalam kamus didaftar sebagi entri yang berbeda 4. Ditulis vertikal

12 Relasi hiponim dan ambiguitas Hiponim berasal dari kata onama (nama) dan hypo (di bawah). Secara harfiah hiponim berarti nama yang termasuk di bawah nama lain. Secara semantis, hiponim dapat didefinisikan sebagai ungkapan (kata, frase, atau kalimat) yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna ungkapan lain Berbeda dengan anonim, sinonim, dan homonim yang memiliki hubungan dua arah maka hiponim memiliki hubungan satu arah Hiponim memiliki hubungan transitif, maksudnya jika a merupakan hiponim dari b, dan b adalah hiponim dari c, maka seharusnya merupakan hiponim dari c

13 Ambiguitas Berasal dari ambiguity, yang berarti suatu konstruksi dapat ditafsirkan lebih dari satu arti Ada tiga bentuk utama ambiguitas: 1. Ambiguitas pada tingkat fonetik 2. Ambiguitas pada tingkat gramatikal 3. Ambiguitas pada tingkat leksikal Dari sisi bahasa ambiguitas terjadi karena: 1. Sifat kata atau kalimat yang bersifat umum 2. Ketidakjelasan konteks 3. Batas makna yang relatif/tidak mutlak;rujukan yang berupa konsep/abstrak

14 Perubahan makna Prubahan makna adalah perubahan makna kata sebagai akibat dari berbagai faktor yang mempengaruhi pemakai kata-kata tersebut, yaitu manusia. Perubahan pada manusia yang disebabkan oleh berbagai faktor membawa perubahan pula pada bahasa yang digunakannya. Ada dua faktor pemnyebab perubahan makna, yaitu faktor linguistis dan nonlinguistis

15 lanjut Yang termasuk faktor linguistis: a. proses pengimbuhan (afiksasi) b. proses penggabungan (komposisi) Yang termasuk faktor nonlinguistis: a. perkembangan iptek b. perkembangan sosial budaya c. perbedaan bidang pemakaian d. adanya asosiasi e. Pertukaran tanggapan indera f. Perbedaan tanggapan

16 Janis perubahan makna: Kata-kata dalam bahasa Indonesia dapat mengalami perubahan makna, di antaranya adalah perluasan, penyempitan, penghalusan, pengasaran makna Perluasan makna adalah perubahan makna kata dari yang lebih khusus/sempit ke makna yang lebih umum/luas. Jadi cakupan makna baru/sekarang lebih luas daripada makna semula

17 lanjut: Penyempitan makna adalah perubahan makna kata dari yang lebih umum/luas menjadi makna yang lebih khusus/sempit Penghalusan makna: makna kata kadangkala dirasakan kurang pantas/halus, kemudian timbullah bentuk kata dengan makna yang lebih halus untuk menggantikan kata tersebut Pengasaran makna: mengganti kata yang bermakna halus/tinggi dengan kata-kata yang bermakna kasar/rendah

18 Kolokasi dalam Frase Bahasa Indonesia Frase dalam bahasa Indonesia merupakan gabungan dua kata atau lebih yang menduduki satu fungsi Kata apa saja dapat berkolokasi: dalam sebuah frase sangat tergantung pada ciri khas komponen makna sebuah kata. Makna gramatikal yang dapat terjadi pada sebuah frase sangat tergantung pada makna leksikal kata yang berkolokasi dengan kata yang menjadi inti frasenya Sebuah frase terutama frase nominal dapat menjadi sangat luas sesuai dengan makna stribut yang berkolokasi dengan inti frasenya

19 Makna dan Struktur Kalimat dalam Bahasa Indonesia Dalam tatabahasa tradisional bahwa setiap kalimat minimal memiliki fungsi sintaksis S-P, O apabila diperlukan, sedangkan K bersifat opsional Kajian semantik berpendapat fungsi-fungsi yang harus ada dalam suatu struktur kalimat sangat tergantung pada tipe verba yang menjadi pengisi fungsi predikat Secara umum predikat diisi oleh verba tindakan, verba kejadian, verba keadaan, verba nominal (nominal yang menduduki predikat). Keempat tipe yang menduduki fungsi itu harus hadir, serta makna- makna apa yang dimiliki. Nuansa makna dari setiap verba dapat berkolokasi dengan preposisi ke, pada, dari, tetapi tidak dengan preposisi akan.

20 Hakekat ungkapan Ungkapan sebagai salah satu komponen dan retorika dapat diwujudkan dalam bentuk satuan ujaran yang memiliki makna kias, makna asosiatif, makna perbandingan maupun makna penyamaan Satuan-satuan ujaran itu termasuk yang lazim disebut idiom, metafora, majas, gaya bahasa dsb Ungkapan merupakan bagian yang sangat penting di dalam seni berbicara, sebab ungkapan itu dapat memberi ‘warna’ akan keindahan dan kerapian suatu bentuk kebahasaan Ungkapan bersifat terbuka sehingga sewaktu-waktu dapat bertambah dari mereka yang pandai berbahasa.

21 Bentuk ungkapan Ungkapan sebagai salah satu komponen pendting dalam retorika mempunyai tiga macam bentuk, yaitu kata, frase, kalimat Ungkapan yang berupa kata biasanya


Download ppt "SEMANTIK BAHASA INDONESIA SEMESTER 5 PROGRAM STUDI S-1 PGSD FKIP UKSW SALATIGA KODE MK: JG138."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google