Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Hingga saat ini pengertian apresiasi sastra masih sering kacau dan rumpang dengan pengertian kritik sastra dan penelitian sastra. Para pakar dan ahli.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Hingga saat ini pengertian apresiasi sastra masih sering kacau dan rumpang dengan pengertian kritik sastra dan penelitian sastra. Para pakar dan ahli."— Transcript presentasi:

1

2 Hingga saat ini pengertian apresiasi sastra masih sering kacau dan rumpang dengan pengertian kritik sastra dan penelitian sastra. Para pakar dan ahli sastra belum memberikan batas yang jelas mengenai perbedaan apresiasi sastra, kritik sastra, dan penelitian sastra secara jelas sehingga kekacauan dan kerumpangan, dan atau kekaburan pengertian terus berlanjut hingga saat ini. Di samping itu ada beberapa hal yang menyebabkan pengertian apresiasi sastra menjadi beraneka ragam: 1. Apresiasi sastra memang merupakan fenomena yang unik dan rumit 2. Terjadinya perubahan dan perkembangan pemikiran tentang apresiasi sastra 3. Adanya perbedaan penyikapan dan pendekatan terhadap hakikat apresiasi sastra 4. Adanya perbedaan kepentingan di antara orang yang satu dan orang lain. Hal ini menyebabkan mereka merumuskan pengertian apresiasi sastra menurut kepentingan masing-masing tanpa menghiraukan dan mengindahkan hakikat apresiasi sastra secara utuh dan lengkap.

3 Hanya memasukkan genusnya saja tanpa menghiraukan hakikat apresiasi sastra yang utuh dan lengkap. Apresiasi sastra ialah penghargaan (terhadap karya sastra) yang didasarkan atas pemahaman (Panuti Sudjiman, 1990:9) Apresiasi sastra adalah penghargaan dan pemahaman atas suatu hasil seni atau budaya. (T. Suparman Natawidjaja, 1981:1)

4 Pengertian yang sudah berusaha memasukkan berbagai spesies, namun masih kacau dengan pengertian kritik sastra. Apresiasi sastra adalah penaksiran kualitas karya sastra serta pemberian nilai yang wajar kepadanya berdasarkan pengamatan dan pengalaman yang sadar dan kritis (H.G.Tarigan, 1984:233) Apresiasi adalah penimbangan, penilaian, pemahaman, dan pengenalan secara memadai. (A.S. Hornby, 1973:41)

5 Pengertian yang memasukkan berbagai unsur hakikat apresiasi sastra secara relatif memadai sehingga meskipun pengertian itu merupakan pemadatan atau penurunan saripati hakikat apresiasi sastra, tetapi tetap utuh, holistik, dan rinci. Apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli cipta sastra dengan sungguh-sungguh hingga timbul pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra. (S. Effendi, 1982:7) Apresiasi sastra ialah kegiatan memahami cipta sastra dengan sungguh-sungguh hingga menimbulkan pengertian dan penghargaan yang baik terhadapnya. (Sofyan Zakaria, 1981:6)

6 Apresiasi sastra ialah proses (kegiatan) pengindahan, penikmatan, penjiwaan, dan penghayatan karya sastra secara individual dan momentan, subjektif dan eksistensial, ruhaniah dan budiah, khusuk dan kafah, dan intensif dan total, supaya memperoleh sesuatu daripadanya sehingga tumbuh, berkembang, dan terpiara kepedulian, kepekaan, ketajaman, kecintaan, dan keterlibatan terhadap karya sastra. (Djoko Saryono)

7 Apresiasi sastra dapat dikatakan sebagai dunia- perjumpaan antara dunia-manusia dan dunia- kewacanaan. Sejalan dengan hal ini, pada kehadirannya sendiri apresiasi sastra sesungguhnya mempunyai satu tujuan membangun dunia-perjumpaan yang memungkinkan adanya dunia-perjamuan dan dunia-percakapan sehingga terselenggara perjamuan-perjamuan dan percakapan- percakapan antara manusia-pengapresiasi dan sastra-yang-diapresiasi. Setidak-tidaknya ada empat macam tujuan aresiasi sastra, yaitu: (a) pengalaman, (b) pengetahuan, (c) kesadaran, dan (d) hiburan.

8 Pengalaman yang dimaksud di sini bukan pengalaman empiris, fisikal, dan kasat mata yang memerlukan tindakan jasmani, melainkan pengalaman non-empiris, nonfisikal atau metafisikal, dan tidak kasat mata yang sesungguhnya hanya berkelebatan dalam rohani kita. Pengalaman dalam apresiasi sastra merupakan pengalaman rohaniah-batiniah manusia, bukan pengalaman jasmaniah.

9 Pengalaman literer-estetis ialah pengalaman- pengalaman keindahan, keelokan, kebagusan, kenikmatan, kememikatan, dan kemanaan (ingat: pana-terpana) yang memungkinkan oleh segala unsur pengada karya sastra dan rajutan-rajutan di antara segala unsur pengada karya sastra. Pengalaman literer-estetis dapat diperoleh dari sesuatu yang selaras atau memiliki keselarasan, dan juga sesuatu yang bertentangan atau memiliki pertentangan.

10 Pengalaman humanistis (manusiawi) ialah pengalaman-pengalaman yang berisi dan bermuatan nilai-nilai kemanusiaan, menjujnjung harkat dan martabat manusia, dan menggambarkan situasi dan kondisi kemanusiaan. Meskipun penggambaran situasi dan kondisi kemanusiaan yang dihidangkan dapat bermacam-maca, misalnya: tragis, dramatis, sinis, ironis, humoristis, riang, murung, garang, dan penasaran, namun penggambaran itu berpihak pada nilai-nilai kemanusiaandan harkat-martabat manusia.

11 Pengalaman etis dan moral mengacu pada pengalaman yang berisi dan bermuatan bagaimana seharusnya sikap dan tindakan manusia sebagai manusia; pengalaman yang melukiskan benar salahnya sikap dan tindakan manusia; pengalaman yang menyajikan bagaimana seharusnya kewajiban dan tanggung jawab manusia sebagai manusia. Etis bersifat abstrak, moral bersifat konkret, namun keduanya merujuk pada kualitas sikap dan tindakan manusia, sehingga pengalaman etis dan moral bersifat abstrak sekaligus konkret.

12 Setiap sastra yang baik selalu menyajikan dan menyuguhkan soal-soal filosofis. Fuad Hassan (1988:64) menegaskan bahwa dalam setiap karya sastra yang baik, niscaya tersirat sikap filsafat tertentu; jejak-jejak filsafat itu cenderung tembus dari balik segi kebahasaan yang berwujud kesusastraan. Budi Darma (1984:52) menegaskan bahwa karya sastra yang baik selalu berfilsafat meskipun karya sastra bukan sebuah karya filsafat. Mangunwijaya (1986:3) juga menegaskan bahwa karya sastra yang baik selalu menyajikan perenungan-perenungan sekaligus relung-relung terdalam tentang manusia. Pengalaman filosofis akan diperoleh jika radar-radar nurani, rasa dan budi terarah secara tajam dan peka terhadap soal-soal filosofis sewaktu membaca sastra.

13 Pengalaman religius akan terhidang jika radar-radar penjiwaan, penghayatan, dan penikmatan mampu menangkap fenomena-fenomena yang ditandai oleh kesadaran keilahian. Pengapresiasi melihat (dunia) karya sastra menghidangkan fenomena keilahian dan seluruh bahan “pembangunannya” dibaktikan pada kesadaran akan pengakuan ketuhanan. Pengalaman tasawuf merupakan pengalaman yang membimbing kita ke maqam kesadaran keilahian yang demikian tinggi, membawa batin manusia ke arasy rahman rahim dalam intensitas kekhusukan, kekariban yang sangat mendalam. Pengalaman profetis atau nubuwah sesungguhnya merupakan persenyawaan pengalaman religius (diniyah) yang menekankan atau terarah pada tablig sosial nilai-nilai keilahian.

14 Pengalaman magis-mistis lebih condong menggulati kekuatan-kekuatan gaib yang perkasa dan mahadaya yang sumbernya dapat berasal dari agama terutama agama budaya dan dapat pula tidak (misalnya, kekuatan-kekuatan alam semesta)

15 Meskipun mungkin berbeda dengan kenyataan psikologis dalam kehidupan sehari-hari, karya sastra yang baik sering memancarkan sinyal-sinyal psikologis kepada pengapresiasi atau pembacanya. Ketika mengapresiasi karya sastra yang bermatra dan sarat muatan psikologis, kita dapat menikmati, menghayati, dan menjiwai suasana dan situasi-situasi psikologis melalui berbagai unsurnya, misalnya latar, penokohan, alur, dan konflik yang terdapat dalam karya sastra.

16 Walaupun karya sastra tidak selalu dapat diperlakukan sebagai dokumen sosial budaya, karya sastra selalu memanfaatkan dan/atau menanggapi kenyataan- kenyataan sosial budaya. Bahkan dapatndikatakan bahwa karya sastra selalu melukiskan suatu kenyataan sosial budaya meskipun cara pelukisannya metaforis dan atau simbolis dan yang dilukiskannya mungkin tidak sama dengan kenyataan sosial budaya sehari-hari.

17 Karya sastra sering memanfaatkan dan menanggapi kenyataan-kenyataan sosial politis yang ada dalam suatu masyarakat, bahkan bangsa dan negara. Jika kita mengapresiasi Lintang Kemukus Dini Hari, Anak Tanah Air Kita, Sri Sumarah dan Bawuk secara sungguh-sungguh dan total berarti kita memasuki dan menjelajahi suasana dan situasi-kondisi sosial politis tertentu yang akan membawa nurani, rasa dan budi kita memasuki dan menjelajahi pergolakan tahun 1965 beserta risiko-risikonya.

18 Pengetahuan yang terhidang selama apresiasi sastra berlangsung merupakan penangkapan kognitif, konseptual, dan penyimpulan atas fenomena-fenomena karya sastra yang kita apresiasi. Dalam hubungan ini harus dipahami benar bahwa pengetahuan di sini bukanlah pengetahuan ilmiah, empirik-faktual dan sungguh-sungguh terjadi dalam masyarakat, melainkan pengetahuan yang merupakan tanggapan dunia sastra atas fenomena- fenomena kehidupan, harapan-harapan ideal manusia yang dipersepsi oleh sastrawqn, dan citra-citra kehidupan yang kita inginkan dalam kehidupan kita.

19 Disamping menghidangkan pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan, apresiasi sastra juga menghidangkan dan memberikan kesadaran kepada pengapresiasinya. Radar-radar penjiwaan, penghayatan, dan penikmatan pengapresiasi diharapkan dapat mengirimkan sinyal-sinyal kesadaran pada nurani, rasa dan budi si pengapresiasi. Dengan demikian, pengapresiasi dapat memperoleh kesadaran tentang berbagai hal; tentang keindahan, kekejaman, ketidakmanusiawian, kebermaknaan hidup, hakikat hidup manusia, hakikat hidup bersama, kebobrokan dan kelicikan permainan kekuasaan, ketidakmampuan manusia berkelit dari tradisi belenggu budayanya, dan sebagainya.

20 Apresiasi sastra menghidangkan hiburan mentalistis yang bermain- main dalam jiwa kita batin kita. Hiburan dalam apresiasi sastra memiliki gejala sebagai berikut: 1. Ketika menghadapi atau menemui suatu fenomena yang parodis dan melecehkan. 2. Sastra yang diapresiasi mempunyai kemerduan bunyi yang demikian tinggi atau ikonisitas begitu tinggi sehingga asosiasi kita terarah pada sesuatu yang lucu dan menggelikan. 3. Peristiwa-peristiwa absurd, tidak masuk akal atau irasional, dan yang kabur antara kenyataan dan imajinasi. 4. Tema menggelikan, gaya ungkapnya polos sekaligus mbeling (nakal), dan melecehkan norma-norma literer-estetik yang mapan. 5. Kenikmatan hiburan sewaktu membaca karya sastra tertentu yang dapat mewakili suasana batin kita atau pikiran-pikiran kita sendiri yang tidak mungkin kita sampaikan sendiri.

21 Fungsi merupakan suatu jalan atau wahana tercapainya tujuan-tujuan apresiasi sastra. Diselaraskan dengan tujuan yang hendak dicapai, fungsi apresiasi sastra dapat digolongkan menjadi empat macam, yaitu: 1. Fungsi eksperensial 2. Fungsi informasional 3. Fungsi penyadaran 4. Fungsi rekreatif

22 Fungsi eksperensial (experiencial), yaitu fungsi menyediakan, menawarkan, menyuguhkan, dan menghidangkan pengalaman- pengalaman manusia kepada pengapresiasi sastra agar ia dapat menjiwai, menghayati, dan menikmati pengalaman-pengalaman manusia itu. Di sini ditekankan makna pengalaman, bukan faktanya yang real life karena memang sastra tidak merawat dan memperjuangkan fakta, melainkan makna pengalaman manusia.

23 Fungsi informatif yaitu fungsi menyediakan, menawarkan, menyuguhkan, dan menghidangkan pengetahuan-pengetahuan kepada pengapresiasi sastra agar ia dapat menjiwai, menghayati, dan menikmati pengetahuan itu. Pengetahuan di sini ditekankan maknanya, bukan fakta empirisnya meskipun hal itu dimungkinkan juga. Hal ini berarti bahwa pengetahuan yang masih terbuka untuk dimaknai, bukan pengetahuan diskursif (tertutup) yang harus dipahami.

24 Fungsi penyadaran yaitu fungsi menyediakan, menawarkan, menyuguhkan, dan menghidangkan sinyal-sinyal kesadaran kepada pengapresiasi sastra. Setelah itu, si pengapresiasi diharapkan menyadari sesuatu, misalnya hakikat hidup, hakikat manusia, kewajiban hidup, tanggung jawab manusia, dan kebebasan hidup serta makna menjadi manusia.

25 Yang dimaksud fungsi rekreatif di sini adalah fungsi menyediakan, menawarkan, menyuguhkan, dan menghidangkan hiburan-hiburan kepada pengapresiasi bilamana ia melakukan apresiasi suatu karya sastra. Sudah tentu pengertian rekreatif di sini tidaklah fisikal dan empiris, tetapi batiniah dan sukmawi.

26 Proses apresiasi sastra dapat teremban atau tertunaikan dalam beberapa fungsi sekaligus tergantung pada proses keberlangsungan apresiasi sastra, pengapresiasian sastra, dan karya sastra.


Download ppt "Hingga saat ini pengertian apresiasi sastra masih sering kacau dan rumpang dengan pengertian kritik sastra dan penelitian sastra. Para pakar dan ahli."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google