Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Pendidikan Nasional Indonesia (PNI) dari Hari ke Hari Pada bulan September 1932 saya sudah pindah pondokan, menyewa di Jalan Kopo. Waktu itu Pimpinan Umum.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Pendidikan Nasional Indonesia (PNI) dari Hari ke Hari Pada bulan September 1932 saya sudah pindah pondokan, menyewa di Jalan Kopo. Waktu itu Pimpinan Umum."— Transcript presentasi:

1 Pendidikan Nasional Indonesia (PNI) dari Hari ke Hari Pada bulan September 1932 saya sudah pindah pondokan, menyewa di Jalan Kopo. Waktu itu Pimpinan Umum Pendidikan Nasional Indonesia sudah boyong dari Yogyakarta ke Bandung. Mula-mula Pimpinan Umum PNI di tangan Saudara Sukemi (ketua), Surat (sekretaris), Makmur Salim (bendahara), Sayogo (pembantu), dan lain-lain. Menurut hasil kongres pertama di Bandung, susunan pengurus pengganti ialah: Sjahrir (ketua), Hamdani (sekretaris), Maskun (bendahara), Moh. Hatta (pembantu umum), dan lain-lain. Susunan pengurus PNI ialah Moh. Hatta (ketua), Maskun (wakil ketua), Burhanuddin (sekretaris), Suka (bendahara), Sjahrir (pembantu umum). Adapun kantor partai yang dipilih ialah pondokan saya di Jalan Kopo No. 5 Bandung. Seperti diterangkan di atas tadi, setelah selesai pertemuan di Hotel Semarang, Bung Hatta benar-benar menepati janjinya, yaitu pada awal bulan September ia datang ke Bandung dan menginap di pondokan saya. Kedatangan Bung Hatta ke Bandung dimanfaatkan oleh pimpinan PNI untuk mengadakan diskusi mengenai asas, tujuan, dan politiknya. Pada keesokan harinya pada hari Minggu Bung Hatta turut berbicara pada rapat umum PNI cabang Cimahi. Ia menerangkan asas dan tujuan PNI. Pada malam harinya (Minggu malam) Bung Hatta mengadakan ceramah umum pada rapat anggota PNI cabang Bandung tentang krisis ekonomi dan nasib rakyat. Pada hari Senin Bung Hatta kembali ke Jakarta dengan kereta api. Dalam perundingan dengan pimpinan umum PNI sudah diputuskan bahwa setiap hari Jumat sampai dengan Minggu Bung Hatta akan berada di Bandung, melakukan tugas partai. Sehabis sembahyang Jumat Bung Hatta berangkat dari Jakarta dan pulang pada hari Senin pagi. Menjelang akhir bulan September Bung Hatta datang ke pondokan saya dari Jakarta. Seperti biasa setelah minum teh dan menanyakan hal keselamatan, Bung Hatta mulai menerangkan maksud kedatangannya, yaitu memenuhi undangan Bung Karno dengan perantara Mr. Sartono. Pesan Bung Karno ialah agar diadakan pertemuan antara Soekarno, Sartono, Hatta, dan Sjahrir, untuk merundingkan masalah persatuan Partai Nasional dan Pendidikan Nasional Indonesia. Sjahrir berpendapat bahwa ia tidak perlu ikut dalam perundingan di rumah Bung Karno itu. Apabila dikehendaki dua orang dari pihak Pendidikan Nasional Indonesia, maka ia mengusulkan agar Maskun saja yang menggantikannya. Atas keterangan Bung Hatta itu saya menjawab bahwa secara organisatoris semestinya Saudara Sjahrir yang berunding, karena ia ketua PNI. Lebih lanjut saya katakan bahwa Saudara Hatta tentu sudah tahu pendirian kita masing-masing. Saya sudah sering mengatakan kepada Bung Karno semenjak tinggal bersama di satu rumah bahwa yang mungkin dapat dilakukan oleh PI dan PNI ialah kerja sama atas dasar saling harga- menghargai. Sebab itu biarlah Bung Hatta saja yang memenuhi undangan Bung Karno itu.

2 Dugaan saya memang tepat. Malam harinya diadakan pertemuan Pimpinan Umum di rumah Hamdani, karena malam itu Hatta akan menginap di sana. Laporan Hatta kepada rapat menerangkan hal gagalnya usaha mempersatukan PI dengan PNI adalah karena memang ada perbedaan asasi yang tidak dapat dipersatukan. Dianjurkan oleh Hatta agar antara anggota-anggota PNI dan PI hidup rukun saling harga-menghargai karena sama-sama melawan kolonialisme. Pada penutup rapat Hatta mengajukan permintaan agar ia disetujui untuk sementara waktu pergi berkunjung menengok keluarganya di Bukittinggi, yang sudah berpisah belasan tahun lamanya sejak ia pergi belajar ke Eropa. Tatkala Bung Hatta sedang mempersiapkan keperluan untuk kepergiannya ke Bukittinggi, maka pimpinan umum Pendidikan Nasional Indonesia di Bandung mengadakan sidang membahas isi ceramah Hatta tentang tujuan dan asas PNI yang diucapkan dalam pertemuan diskusi di balai pertemuan rakyat Indonesia. Sidang memutuskan bahwa harus ada keterangan tentang tujuan dan asas PNI yang tertulis agar menjadi pegangan para anggota. Berdasarkan keputusan sidang, saya diberi tugas untuk minta kesediaan Bung Hatta agar menuliskan keterangan tentang tujuan dan asas PNI. Atas permintaan saya, Bung Hatta dalam suratnya menjawab bahwa karena waktu sudah sangat sempit untuk keberangkatannya ke kampung, permintaan pimpinan umum untuk menulis brosur hal keterangan tentang tujuan dan asas PNI akan dilakukan di Bukittinggi. Pada pertengahan bulan November 1932 saya menerima surat dari Bung Hatta dari Bukittinggi beserta naskah Keterangan tentang Tujuan dan Asas Pendidikan Nasional Indonesia. Pada malam harinya saya sempat mempelajari naskah tersebut, dan pada keesokan harinya dibicarakan dan dipelajari bersama-sama dengan anggota-anggota pimpinan umum lainnya. Saudara Sjahrir dan Soebagio menyarankan agar beberapa kalimat yang mengeritik kaum komunis tidak dimuat, agar terhindar dari pertentangan-pertentangan yang tidak perlu. Saran ini disetujui oleh anggota-anggota pimpinan umum lainnya. Kemudian oleh sidang ditetapkan agar naskah tersebut dicetak dijadikan brosur dengan diberi nama Ke Arah Indonesia Merdeka, disingkat KIM. Tugas mencetak brosur KIM ini diserahkan kepada saya, karena saya adalah bendahara pimpinan umum. Setelah brosur KIM itu terbit dan disebarkan kepada para anggota dan masyarakat, maka Saudara Soebagio yang berpengalaman dalam urusan pendidikan masyarakat menyampaikan pendapat bahwa isi KIM berat untuk rakyat umum. Setelah dipertimbangkan masak-masak, maka sidang pimpinan umum Pendidikan Nasional Indonesia menugaskan kepada Saudara Soebagio dan Sjahrir agar menyusun daftar tanya-jawab tentang isi brosur Ke Arah Indonesia Merdeka itu. Tim Soebagio/Sjahrir berhasil menyusun dafatr terdiri dari 150 tanya-jawab KIM. Konon kabarnya, waktu Pendidikan Nasional Indonesia mengadakan aksi-aksi di bawah tanah di zaman Belanda dan di zaman Jepang, maka daftar 150 tanya-jawab KIM inilah yang dicari-cari oleh cecunguk-cecunguk. Maskun Sumadiredja, Pribadi Manusia Hatta, Seri 7, Yayasan Hatta, Juli 2002


Download ppt "Pendidikan Nasional Indonesia (PNI) dari Hari ke Hari Pada bulan September 1932 saya sudah pindah pondokan, menyewa di Jalan Kopo. Waktu itu Pimpinan Umum."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google