Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

MASALAH OBJEKTIVITAS. Objektif Dalam percakapan sehari-hari: “ditemukan padanannya dalam objek”, atau “bisa dikonfrontasi dengan objeknya”. “Objeknya”

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "MASALAH OBJEKTIVITAS. Objektif Dalam percakapan sehari-hari: “ditemukan padanannya dalam objek”, atau “bisa dikonfrontasi dengan objeknya”. “Objeknya”"— Transcript presentasi:

1 MASALAH OBJEKTIVITAS

2 Objektif Dalam percakapan sehari-hari: “ditemukan padanannya dalam objek”, atau “bisa dikonfrontasi dengan objeknya”. “Objeknya” di sini biasanya objek-objek fisik. Pernyataan dikatakan tidak benar jika tidak ditemukan objek fisiknya. Pernyataan yang tidak terkait dengan fisik dianggap meaningless, tak bermakna, dan omong kosong [positivistik].

3 Mulyadhi Kartanegara Sesuai kenyataan. Namun karena yang nyata tidak hanya fisik, maka ukuran objektivitas sebuah ilmu tidak bisa hanya diukur dengan kriteria fisik, tetapi harus diukur berdasarkan, atau disesuaikan dengan sifat dasar dari objeknya yang bisa fisik, tetapi juga bisa nonfisik.

4 Sulitnya Mencapai Objektivitas Tidak mudah, terutama objektivitas pengamatan indriawi. Misalnya; [1] laut pada hari yang cerah tampak biru. Namun apa betul warnanya biru seperti kita lihat? [2] apakah bintang itu kecil? Ternyata tidak.

5 Ukuran Objektivitas Fungsi ukuran dalam praktik ilmiah: lebih dari sekadar tujuan praktis, yaitu mengukur objek- objek fisik secara lebih akurat dan lebih “objektif”. Pelbagai jenis ukuran diciptakan untuk tujuan tersebut; misalnya meter [dengan ramifikasinya]; gram [dengan ramifikasinya]. Namun, kerja ilmiah menuntut ukuran2

6 ----yang lebih halus dan canggih ketika ukuran-ukuran dasar tidak lagi memadai. Misalnya, untuk mengukur suhu udara atau suhu badan, diciptakan termometer. Untuk mengukur tekanan udara, diciptakan barometer. Untuk mengetahui kecepatan gerak, diciptakan spidometer. Penemuan Einstein tentang relativitas mengubah optimisme keakuratan ukuran- ukuran objektif. Betapapun akuratnya, ia tidak bisa dilepaskan dari subjek.

7 Misal: kita tidak bisa mengatakan sepeda motor “cepat” atau “lambat” sampai kita menentukan posisi subjek, yakni asal mula kecepatan sepeda motor tersebut diukur. Bagi subjek yang berjalan kaki di trotoar, sepeda motor tersebut “cepat”, sedangkan bagi subjek yang mengendarai mobil balap, “lambat”. Pengukuran tetap bisa dilakukan, tetapi penilaian cepat atau lambat baru bisa ditemukan di mana posisi subjek dan asal mula pengukuran.

8 Kalau dalam dunia fisik saja objektivitas tidak bisa dicapai secara meyakinkan, apalagi absolut, apalagi dalam bidang-bidang ilmu nonfisik, seperti psikologi, sosiologi, atau metafisika. Sains apa pun tidak akan mampu terbebas sama sekali dari unsur subjektivitas. Tidak ada ilmu yang pada hakikatnya betul-betul objektif. Karena itu kita tidak bisa menolak status ilmiah ilmu-ilmu nonempiris, seperti filsafat dan metafisika, karena sulitnya dicapai objektivitas.

9 Jika kita menerima subyektivitas ilmu, maka kita seharusnya bisa menerima ilmu nonempiris sejajar dengan ilmu kealaman. Ilmu nonempiris memang pengukurannya tidak sejelas dan dan semudah ilmu empiris. Pengalaman pengunjung pameran subjektif, tetapi tidak menghilangkan objektivitas pameran. Dunia gaib, tempat pengalaman mistik terjadi, tidak bisa dianggap begitu saja---

10 -----sebagai ilusi hanya berdasarkan perbedaan pandangan para mistikusnya. Dunia mistik itu objektif, dalam arti riil, sekalipun tentu saja tidak fisik, karena adanya the orderliness dan uniformity, karena tidak masuk akal para mistikus—yang sangat dihormati karena integritas moral dan spiritualnya—akan sepakat berbohong dan merekayasa pengalaman keagamaan atau mistiknya [William James].

11 Pengalaman mistik, betapapun subjektifnya, ia tetap memiliki basis ontologis dan objektivitas pada dunia yang riil, sekalipun tidak fisik karena tidak semua yang riil mesti fisik. Objektivitas absolut adalah ilusi.


Download ppt "MASALAH OBJEKTIVITAS. Objektif Dalam percakapan sehari-hari: “ditemukan padanannya dalam objek”, atau “bisa dikonfrontasi dengan objeknya”. “Objeknya”"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google