Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

PUISI JAWA MODERN. 1. Pengkajian Puisi Puisi selalu berubah-ubah sesuai dengan evolusi selera dan perubahan konsep estetikanya (Riffaterre, 1978). Sebelum.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "PUISI JAWA MODERN. 1. Pengkajian Puisi Puisi selalu berubah-ubah sesuai dengan evolusi selera dan perubahan konsep estetikanya (Riffaterre, 1978). Sebelum."— Transcript presentasi:

1 PUISI JAWA MODERN

2 1. Pengkajian Puisi Puisi selalu berubah-ubah sesuai dengan evolusi selera dan perubahan konsep estetikanya (Riffaterre, 1978). Sebelum pengkajian puisi ke aspek-aspek yang lain perlu dahulu puisi dikaji sebagai struktur yang bermakna dan bernilai estetis. Puisi itu mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama.

3 Perbedaan pokok antara prosa dan puisi 1. Kesatuan-kesatuan korespondensi prosa yang pokok ialah kesatuan sintaksis; kesatuan korespondensi puisi resminya bukan kesatuan sintaksis-kesatuan akustis 2. Di dalam puisi korespondensi dari corak tertentu, yang terdiri dari kesatuan tertentu, meliputi seluruh puisi dari semula sampai akhir. Kesatuan ini disebut baris sajak. 3. Di dalam baris sajak ada periodisitas dari mula sampai akhir.

4 2. Puisi Itu Karya Seni Karya sastra disebut puitis apabila membangkitkan persaan, menarik perhatian, menimbulkan tanggapan yang jelas, dan menimbulkan keharuan. Kepuitisan dapat dicapai dengan bentuk visual: tipografi, susunan bait; dengan bunyi: persajakan, asonansi, aliterasi, kiasan bunyi, lambang rasa, dan orkestrasi; dengan pemilihan kata (diksi), bahasa kiasan, sarana retorika, unsur-unsur ketatabahasaan, gaya bahasa, dsb.

5 II. Analisis Puisi Berdasarkan Strata Norma Puisi merupakan karya sastra yang memiliki struktur yang sangat kompleks yang terdiri dari beberapa strata (lapis) norma. Masing-masing norma menimbulkan lapis norma di bawahnya Rene Wellek menjelaskan analisis Roman Ingarden, seorang filsuf Polandia dalam bukunya Das Literarische Kunstwerk ia menganalisis norma-norma sebagai berikut: Lapis norma pertama adalah lapis bunyi (sound stratum).

6 Lanjutan Bila orang membaca puisi, maka yang terdengar adalah serangkaian bunyi yang dibatasi jeda pendek, agak panjang, dan panjang Lapis arti (units of meaning) berupa rangkaian fonem, suku kata, kata, frase, dan kalimat. Semua merupakan satuan arti. Lapis suara (sound stratum): berupa satuan- satuan suara suku kata, kata, dan berangkai merupakan seluruh bunyi (suara) sajak itu: suara frase dan suara kalimat.

7 Lanjutan Lapis bunyi semua satuan bunyi yang berdasarkan konvensi bahasa tertentu, di sini bahasa Indonesia. Lapis Arti (units of meaning) Satuan terkecil berupa fonem. Kata bergabung menjadi kelompok kata, kalimat, alenia, bait, bab, dan seluruh cerita yang merupakan satuan arti. Lapis Ketiga berupa objek dikemukan, latar, pelaku, dan dunia pengarang.

8 Dunia pengarang aadalah ceritanya, yang merupakan dunia yang diciptakan oleh si pengarang. Hal ini merupakan gabungan dan jalinan antara objek-objek yang dikemukakan, latar, pelaku, serta struktur ceritanya (alur). Lapis Keempat adalah lapis dunia yang tak usah dinyatakan tetapi sudah implisit tampak dari sudut pandang tertentu, menyatakan suasana Lapis kelima adalah lapis metafis yang menyebabkan pembaca berkontemlasi.

9 Analisis strata norma Roman Ingarden itu dapat dikatakan hanya analisis puisi secara formal saja, menganalisis fenomena-fenomena saja. Analisis strata norma dimaksudkan untuk mengetahui semua unsur (fenomena) karya sastra yang ada.) Analisis strata norma harus ditingkatkan ke analisis semiotik, karya sastra sebagai sistem tanda yang bermakna. Dengan analisis strata norma dan semiotik, karya sastra (puisi) akan dapat didapatkan makna sepenuhnya dan dapat dipahami sebagai karya seni yang bernilai puitis (estetis), yaitu dengan mengingat fungsi estetik setiap fenomena atau unsur-unsur karya sastra (puisi)

10 III. BUNYI Dalam puisi bunyi bersifat estetik, merupakan unsur puisi untuk mendapatkan keindahan dan tenaga ekspresif. Bunyi bertugas memperdalam ucapan, menimbulkan rasa, menimbulkan bayangan angan secara jelas, menimbulkan suasana khusus dsb. Pentingnya peranan bunyi dalam kesusastraan, sehingga dalam bunyi pernah menjadi unsur kepuitisan yang utama dalam sastra romantik. Menurut teori simbolisme (Slametmuljana, 1956: 57) tiap kata menimbulkan asosiasi dan menciptakan tanggapan di luar arti yang sebenarnya. Hal itu dapat diusahakan dengan gaya bahasa. Kenyataan sebenarnya tidak dapat ditangkap dengan panca indera

11 Menurut teori simbolisme tugas puisi adalah mendekati kenyataan ini, dengan cara tak usah memikirkan arti katanya, tidak perlu memikirkan arti katanya, melainkan mengutamakan suara, lagu, irama, dan rasa timbul karenanya dan tanggapan-tanggapan yang mungkin dibangkitkannya. Dengan begitu kesusastraan telah kemasukan aliran seni musik (Slametmuljana, 1956:59)

12 Dalam sajak penyair simbolis kebanyakan karena mementingkan suara, irama, maka kata-katanya sudah melepaskan tugasnya sebagai tanda yang mewakili pengertian (Slametmuljana, 1956:60) karena dalam puisi pengertian tidak lagi diutamakan Di Indonesia simbolisme tidak dianut secara nyata, hanya unsur-unsur memntingkan bunyi dan lambang-lambang atau simbolik-simbolik dipergunakan oleh para penyair dalam sajak- sajaknya.

13 Dalam puisi bunyi dipergunakan sebagai orkestrasi, ialah untuk menimbulkan bunyi musik. Dari bunyi musik murni ini dapatlah mengalir perasaan, imaji-imaji dalam pikiran atau pengalaman-pengalaman jiwa pendengarnya. Kombinasi bunyi yang merdu itu biasanya disebut efoni (euphony), bunyi indah. Kombinasi bunyi vokal (asonansi): a, e, I, o, u, bnyi bersuara (voiced): b, d, g, j, bunyi liquida: r, l dan bunyi sengau: m, n, ng, ny menimbulkan buyi merdu dan berirama (efoni).

14 Dalam puisi bunyi kata itu di samping tugasnya yang pertama sebagai simbol arti dan juga untuk orkestrasi, digunakan juga sebagai: 1. Peniru bunyi atau anomatope 2. Lambang suara (klanksymboliek), dan 3. Kiasan suara (klankmetaphoor) (Slametmuljana, 1956:61) Dalam sajak yang paling banyak digunakan adalah lambang. Lambang rasa dihubungkan dengan suasana hati (Slametmuljana, 1956:72)

15 Unsur kepuitisan bunyi lai adalah sajak Sajak pola estetika bahasa yang berdasarkan ulangan suara yang diusahakan dan dialami dengan kesadaran, sajak tidak hanya untuk hiasan, tetapi untuk mempertinggi mutu bila mempunyai daya evokasi, yaitu daya kuat untuk menimbulkan pengertian Macam sajak (rima) yang banyak digunakan sebagi unsur kepuitisan adalah saja ahir, saja dalam, sajak tengah, aliterasi, dan asonansi.

16 Asonansi dan aliterasi berungsi untuk memperdalam rasa, selain untuk orkestrasi dan memperlancar ucapan. Sajak memberikan dan memperkuat kepuitisan bila mengandung hakikat ekspresi dan daya evokasi.

17 IV IRAMA Bunyi-bunyi yang berulang, pergantian yang teratur, dan variasi-variasi bunyi menimbulkan suau gerak yang hidup, seperti gercik air yang mengalir turun tak putus-putus. Gerak yang teratur yang disebut irana Irama dalam bahasa asing rhythm (Ing), rythme (Pr) berasal dari kata Yunani reo, yang berarti riak air. Gerakan tersebut adalah gerakan yang teratur, terus menerus tidak putus-pputus. Barang kali gerak yang teratur disebut re, menjadi ritmos rhythmus (L), kemudian menjadi rhythm, rhythme, rite (Ind)

18 Irama adalah pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembut ucapan bunyi bahasa dengan teratur. Irama dapat dibagi menjadi dua metrum dan ritme. Metrum adalah irama yang tetap,artinya pergantiannya sudah tetap menurut pola tertentu. Dalam kesusatraan Jawa Kno, kakawin kita kenal kaki sajaknya terdiri dari kombinasi data macam suku yang panjangnya atau berat disebut guru, sedang suku kata yang bertekanan ringan atau pendek disebut laghu

19 Puisi yang merdu bunyinya dikatakan melodius: berlagu seolah-olah seoerti nyanyian yang mempunyai melodi Melodi adalah paduan susunan deret suara yang teratur berirama (Kusbini, 1953: 2) Perbedaan melodi dengan puisi adalah terletak pada macam bunyi (nada) yang terdapat pada sajak itu tak seberapa banyaknya dan intervalnya (jarak nada) juga terbatas. Dalam berdeklamasi, irama puisi ini dapt tercipta dengan tekanan-tekanan, jeda. Deklamator/tris haus memperhatikan irama puisi itu sebab tiap puisi membawa iramanya sendiri-sendiri.

20 Dalam berdeklamasi irama dan ketepatan ekspresi didapatkan dengan mempergunakan tekanan dinamik, tekanan nada, dan tekanan tempo pada kata Tekanan dinamik: tekanan pada kata terpenting, menjadi sari kalimat dan bait sajak Tekanan nada ialah tekanan tinggi (rendah) Tekanan tempo: lambat cepatnya pengucapan suku kata atau kata (atau kalimat). Dalam berdeklamasi perlu diperhatikan dksi, yaitu cara mengucapkan sajak atau teknik pengucapannya supaya tepat.

21 V. KATA Di antara arti denotatif dan konotatif, perbendaharaan kata (kosa kata, pemilihan kata (diksi), bahasa kiasan, citraan, sarana retorika, faktor ketatabahasaan, dan hal-hal yang berhubungan dengan struktur kata-kata atau kalimat puis, yang semua itu dipergunakan oleh penyair untuk melahirkan pengalaman jiwanya dalam sajak-sajak.

22 1. Kosa kata Alat untuk menyampaikan perasaan dan pikiran sastrawan adalah bahasa. Bahasa atau kata yang kuna, yang sudah mati, yang tidak dimengerti oleh masyarakat bila digunakan oleh sastrawan dapat menyebabkan sajaknya menjadi mati, tak berjiwa. penggunaan kata-kata bahasa sehari-hari dapat memberi efek gaya yang realistis, sedang penggunaan bahasa/kata-kata nan indah dapat membeeri efek romantis.

23 2. Pemilihan Kata Brfiel mengemukakan bahwa bila kata –kata dipilh dan disusun dengan cara yang sedemikian rupa sehingga artinya menimbulkan imajinasi estetik, maka hasilnya disebut diksi puitis (1952: 41) Diksi digunakan untuk mendapatkan kepuitisan dan nilai estetik.

24 3. Denotasi dan Konotasi Termasuk pembicaraan diksi ialah tentang denotasi dan konotasi. Denotasi artinya yang menunjuk dan konotasi artinya tambahannya. Denotasi sebuah kata adalah definisi kamusnya, yaitu pengertian yang menunjuk benda atau hal yang diberi nam adengan kata itu, disebutkan atau diceritakan (Altenbernd) Konotasi adalah kumpulan asosiasi-asosiasi perasaan yang terkumpul dalam sebuah kata diperoleh dari setting yang dilukiskan

25 4. Bahasa Kiasan Bahasa kiasan (figurative language) mengiaskan atau mempersamakan sesuatu hal dengan ha lain supaya gambaran menjadi jelas, lebih menarik, dan hidup. Macam-macam bahasa kiasan mempunyai sesuatu hal (sifat) yang umum, yang bahasa kiasan tersebut mempertalikan sesuatu dengan cara menghubungkan dengan sesuatu yang lain.

26 Jenis Kiasan a. Perbandingan (simile) b. Metafora c. Perumpamaan epos (epic smile) d. Personifikasi e. Metonimi f. Sinekdoki (synecdoche) g. allegori

27 Jenis Kiasan a. Perbandingan (simile) atau perumpamaan atau smile, ialah bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain dengan mempergunakan kata-kata pembanding seperti; bagai, sebagai, bak, seperti dan lain-lain b. Metafora ini bahasa kiasan spereti perbandingan, hanya tidak mempergunakan kata-kata pembanding, seperti bagai, laksasana, dsb.

28 c. Perumpamaan epos (epic smile) ialah perbandingan yang dilanjutkan, atau diperpanjang, yaitu dibentuk dengan cara melanjutkan sifat-sifat pembandingnya lebih lanjut dalam kalimat-kalimat aau frase yang berturut-turut d. Allegori adalah cerita kiasan ataupun lukisan kiasan e. Personifikasi, kiasan ini mempersamakan benda denga manusia, benda-benda mati dibuat dapat berbuat, berpikir, dan sebagainya seperti manusia.

29 f. Metonimia Disebut kiasan pengganti nama. Bahasa ini berupa penggunaan sebuah atribut sebuah objek atau penggunaan sesuatu yang dekat berhubungan dengannya untuk menggantikan objek tersebut (Altenbernd, 1970:21) g. Sinekdoki (synecdoche) Adalah bahasa kiasan yang menyebutkan suatu bagian yang penting suatu benda (hal) untuk benda atau hal itu sendiri. 1. Pars pro toto: sebagian untuk keseluruhan 2. Totum pro parte: keseluruhan untuk sebagian.

30 5. Citraan (Gambaran-gambaran Angan) gambar-gambar dalam pikiran dan bahasa yang menggambarkannya (Altern, berd, 1970: 12), sedang setiap gambar pikiran disebut citra atau imaji (image). Gambaran pikiran ini adalah sebuah efek dalam pikiran yang sangat menyerupai (gambaran) yang dihsilkan oleh mata, saraf penglihatan, dan daerah-daerah otak yang berhubungan (yang bersangkutan). Citraan biasanya lebih mengingatkan kembali daripada membuat baru kesan pikiran, sehingga pembaca terlibat dalam kreasi puitis.

31 Jenis-jenis Imaji Gambaran-gambaran angan itu ada bermacam- macam, dihasilkan oleh indera penglihatan, pendengaran, perabaan, pencecapan, dan penciuman. Citraan yang timbul oleh pengihatan disebut citra penglihatan (visual amagery), yang ditimbulkan oleh pendengaran (auditory iamgery) dsb. Citra penglihatan adalah jenis yang paling sering dipergunakan oleh penyair dibandingkan dengan citraan yang lain Citraan pendengaran juga sering digunakan penyair, dengan menguraikan bunyi suara.

32 Ada juga citraan gerak (movement imagery) atau kinaesthetic imagery). Imagery ini menggambarkan sesuatu yang sesungguhnya tidak bergerak, tetapi dilukiskan sebagai bergerak, ataupun gambaran gambaran gerak pada umumnya Altenbernd (1970: 14) mengemukakan bahwa citraan adalah satu alat kepuitisan yang terutama yang dengan itu kesustraan mencapi sifat-sifat konkret, khusus, mengharukan, dan menyaran.

33 6. Gaya Bahasa dan Sarana Retorika susunan perkatakaan yang terjadi karena perasaan yang timbul atau hidup dalam hati pnulis, yang enimbulkan suatu perasaan tertentu dalam hati pembaca, begitu kata slametmuljana (Tt: 20). Gaya bahasa menghidupkan kalimat dan memberi gerak pad akallimat. Gaya bahasa merupakan cap seorang pengarang. Gaya itu merupakan idiosyncracy (keistimewaan, kekhususan) seorang penulis kata Middleton Mury, begitu juga kata Buffon gaya itu adalah orangnya sendiri.

34 Sarana retorika sarana kepuitisan yang berupa muslihat pikiran. Dengan itu penayair berusaha menarik perhatian, pikiran hingga pembaca berkontemplasi atas apa yang dikemukakan penyair. Sarana retorika dapat menimbulkan ketegangan puitis karena pembaca harus memikirkan efek apa yang itimbulkan dan dimaksudkan oleh penyairnya. Sarana retorika yang biaanya dominan adalah tautologi, plenasme, keseimbangan, retorikretisensi, paralelisme, dan penjumlahan (enumerasi).

35 Tautologi adalah sarana retorika yang menyatakan hal atau keadaan dua kali: maksudnya supaya arti kata atau keadaan itu lebih mendalam bagi pembaca atau pendengar. Pleonasme (keterangan berulang) adalah sarana retorika yang sepintas lalu seperti tautologi, tetapi kata yang kedua sebenarnya telah tersimpul dalam kata yang pertama. Dengan demikian sifat yang dimaksudkan lebih terang. Enumerasi adalah sarana retorika yang berupa pemecahan suatu hal atau keadaan menjadi beberapa bagian dengan tujuan agar hal atau keadaan itu lebih jelas dan nyata bagi pembaca atau pendenagr (Slametmuljana dalam Djoko Pradopo, 2009: 96)

36 Paralelisme adalah mengulang isi kaliamat yang maksud dan tujuannya serupa. Retorik retisense sarana ini mempergunakan titik- titik banyak untuk mengganti perasaan yang tak terungkap. Penyair romantik banyak mempergunakan sarana retorika ini, lebih-lebih sajak romantik remaja banyak menggunakannya. Hiperbola adalah sarana yang melebih-lebihkan satu hal atau keadaan. Paradoks adalah sarana retorika yang menyatakan sesuatu yang berlawanan, tetapi sebetulnya tidak bila sungguh-sungguh dipikir dan dirasakan.

37 7. Faktor Ketatabahasaan Penggunaan bahasa seseorang (parole) merupakan penerapan sistem bahasa (language) yang ada (Culler, 1997: 8), danpenggunaan bahasa penyairsekaligus penerapan konvensi puisi yang ada. 7.1 Faktor Ketatabahasaan Chairil Anwar - Pemendekan Kata untuk kelancaran ucapan, untuk mendapatkan irama yang menyebabkan liris. Misalnya: “kan” dari “akan” - Penghilangan Imbuhan - Untuk memperlancar ucapan, membuat berirama. Misalnya: : “berbicara” jadi “bicara ”

38 - Penyimpangan Struktur Sintaksis Untuk mendapatkan irama yang liris, kepadatan, dan ekpresivitas para penyair sering membuat penyimpangan-penyimpangan dari struktur sintaksis yang normatif. Misalnya “Rumah besar atau rumah ini, rumah itu. 7.2 Faktor Ketatabahasaan Sutardji - Penghapusan Tanda Baca - Penghapusan tanda baca yang dilakukan dengan sengaja yang efeknya memberikan kegandaan tafsir ataupun efek stream of conscousnes arus pikiran yang mengalir tak terkendalikan dari bawah sadar. Misal dalam kalimat yang panjang tanpa ada koma, baru pada akhir kalimat yang sangat panjang ditutup dengan tanda baca.

39 - Penggabungan Dua Kata ata Lebih Adalah penggabungan dua kata atau lebih menjadi satu gabungan hingga seolah-olah sudah menjadi satu kata, menjadi satu pengertian tak terpisahkan. Misalkan lekukbungkalanlobangmu, lukakitaku - Penghilangan Imbuhan Menghilangkan imbuhan baik awalan, akhiran, ataupun awalan dan akhiran. Misalnya “saling gigitan yang mestinya saling bergigitan.

40 - Pemutusan Kata Kata diputus-putus menjadi suku kata atau dibalik suku katanya, dengan cara yang demikian itu, menjadi menarik perhatian dan artinya berubah atauun hilang artinya. Pembentukan Jenis Kata - Sutardji membentuk kata-kata benda atau kata kerja langsung menjadi kata keadaan atau kata sifat dengan mengawalinya kata yang atau yang paling. Misal sipa tanah yang paling pijak

41 I. ANALISIS STRUKTURAL SEMIOTIK Dengan dianalisis secara menyeluruh dan kaitannya yang erat, maka makna sajak dapat ditangkap dan dipahami secara seutuhnya. Norma-norama puisi atau unsur-unsur sajak berjalinan secara erat atau koherensi secara padu.untuk memahami makna secara utuh perlu sajak dianalisis secara struktural. analisis struktulah analisis yang melihat bahwa unsur-unsur struktur sajak itu saling berhubungan erat, saling menentukan artinya.

42 1. Analisis Struktural Kesatuan unsur-unsur dalam sastra bukan hanya berupa kumpulan atau tumpukan hal-hal atau benda-benda yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan hal-hal itu saling terkait, saling berkaitan dan saling bergantung. Dalam pengertian struktur (Piaget dalam Djoko Pradopo, 2009: 119) terlihat adanya rangkaian kesatuan yang meliputi tiga dasar, yaitu ide kesatuan, ide transformasi, dan ide pengaturan dri sendiri (self-regulation). Struktur itu merupakan keseluruhan yang bulat yaitu bagian yang membentuknya tidak dapat berdiri sendiri di luar struktur itu.

43 Kedua struktur berisi gagasan tranformasi dalam arti bahwa struktur itu tidak statis Struktur itu mampu melakukan prosedur-prosedur transformasional, dalam arti bahan-bahan baru diproses dengan prosedur. Analisis struktural sajak adalah analisis sajak ke dalam unsur-unsurnya dan fungsinya dalam struktur sajak dan penguraian bahwa setiap unsir itu mempunyai makna hanya dalam kaitannya dengan unsur-unsur lainnya, bahkan berdasar tempat dalam struktur.

44 2. Analisis Semiotik Menganalisis sajak bertujuan memahami makna sajak. Menganalisis sajak adalah usaha menangkap dan memberi makna kepada teks sajak. Karya sastra itu merupakan struktur yang bermakna Karya sastra merupakan sistem tanda yang mempunyai makna yang mempergunakan medium bahasa. Bahasa sebagai medium karya sastra sudah merupakan sistem semiotik atau ketandaan, yaitu sistem ketandaan yang mempunyai arti.

45 Lambang-lambang atau tanda-tanda kebahasaan itu berupa satuan-satuan bunyi yang mempunyai arti oleh konvensi masyarakat. Bahasa itu merupakan sistem ketandaan yang berdasarkan atau ditentukan oleh konvensi (perjanjian) masyarakat. Sistem ketandaan itu disebut semiotik Dalam pengertian tanda ada dua prinsip, yaitu penanda (signifer) atau yang menandai yang merupakan arti tanda.

46 Ada tiga jenis tanda yang pokok, yaitu ikon, indeks, dan simbol. ikon adalah tanda hubungan antara penanda dan pertandanya bersifat persamaan bentuk alamiah, misalnya potret orang menandai orang yang dipoteret (berarti orang yang dipotret), gambar kuda itu menandai kuda yang nyata. Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah antara tanda dan pertanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab- akibat. Misalnya asap itu menandai api.

47 Simbol itu tnada yang tidak mnunjukkan hubungan alamiah antara penanda dan petandanya. Hubungan antaranya bersifat arbitrer atau semaunya, hubungannya berdasarkan konvensi (perjanjian) masyarakat dalam semiotik arti bahasa sebagai sistem tanda tingkat pertama itu disebut meaning (arti). Karya sastra itu juga merupakan sistem tanda yang berdasarkan konvensi masyarakat (sastra). Jadi arti sastra merupakan arti dari arti (meaning of meaning). Untuk membedakan dari arti bahasa arti sastra itu disebt makna (significance).

48 Sastra bersifat semiotik adalah usaha menganalisis karya sastra, di sini sajak khususnya, sebagai suatu sistem tanda-tanda dan sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna. Satuan-satuan berfungsi sastra adalah alur, setting, penokohan, satuan-satuan bunyi, kelompok kata, kalimat (gaya bahasa), satuan visual seperti tipografi, enjambement, satuan baris (bait), dan sebagainya

49 3. Latar Belakang Sejarah dan Sosial Budaya Sastra Menurut teori strukturalisme murni, karya sastra haruslah dianalisis struktur instrinsiknya saja. Analisis struktural murni tidak menghubungkan unsur-unsur struktur dengan sesuatu yang berda di luar strukturnya karena makna setiap unsur karya sastra itu hanya ditentukan oleh jalinannya dengan unsur lainnya dalam struktur itu sendiri. Sebuah karya sastra tidak lahir dalam kekosongan karya sastra, tidak lepas dari hubungan dengan karya-karya sebelumnya.

50 Jadi analisis struktural murni mempunyai keberatan-keberatan, yaitu diantaranya mengasingkan karya sastra dari kerangka kesejahrahannya dan latar belakang sosial budayanya. Untuk mendapatkan makna sajak secara sepenuhnya, maka analisis sajak tidak dapat dilepaskan dari kerangka sejarah sastranya. Jadi untuk mendapatkan makna teks yang sepenuhnya, latar belakang sosial-budaya dalam karya sastra (sajak) yang dianalisis haruslah diberi pertimbangan

51 II. ANALISIS STRUKTURAL DAN SEMIOTIK SAJAK-SAJAK AMIR HAMZAH Strukturalisme paling tuntas dilaksanakan bila yang dianalisis adalah sajak yang merupakan keseluruhan, yang unsur-unsur atau bagian- bagiannya saling erat berjalinan (Hawkes, 1978: 18) Sajak merupakan kesatuan yang utuh/bulat 1. Padamu Jua Sajak ini merupakan monolog si aku kepada kekasihnya.

52 Tuhan dalam sajak ini diantropomorfkan diwujudkan sebagai manusi, dikiaskan sebagai dara, sebagai kekasih, adalah salah satu cara untuk membuat pathos, yaitu menimbulkan simpati dan empati kepada pembaca hingga is bersatu mesra dengan obyeknya (Budi Darma, 1982: 112) Penggunaan citraan gerak pada Segala cintaku hilang terbang/ pulang kembali aku padamu/seperti dahulu: gerak itu ditandai dengan bunyi konsonan 1 diperkuat bunyir, seolah tampak gerak burung terbang yang mengiiaskan cinta yang hilang.

53 Penggunaan citra rabaan dan penglihatan yang merangsang indera dipergunakan dalam: Aku manusia/Rindu rasa/ Rindu rupa (bait 4). Untuk merangsang pendengaran dipergunakan citra pendengaran suara sayupnya kata merangkai hati

54 2. Barangkali Ide percintaan tersebt secara semiotik sesuai dengan pilihan-pilihan kata-katanya yang menimbulkan suasana romantis. Secara semiotik yang mempelajari sistem- sistem, aturan-aturan, dan konvensi-konvensi yang memungkinkan bahasa sebagai tanda mempunyai arti (Preminger, 1974:980), pilihan kata-kkatanya dalam sajak ini menandai suasana percintaan yang romantis, sesuai dengan khayalan si aku tentang kekasihnya.

55 3. Hanya Satu Dalam sajak hanya satu digambarkan betapa hebat kekuasaan Tuhan. Ia menurunkan hujan lebat dan membangkitkan badai untuk menenggelamkan bumi serta merusak, menghancurkan taman dunia yang indah. 4. Tetapi Aku Dalam sajak “Tetapi Aku” dikemukakan oleh si aku bahwa tiba-tiba ia sekejap ditemui Tuhan, tetapi si aku tiada merasa, tiada sadar akan hal itu, meskipun mutiara-jiwa si aku telah lama dicari-carinya

56 5. Sebab Dikau Dalam sajak si aku senang atau kasih akan hidup karena gadisnya, menyebabkan semua harapan menjadi mekar, terbuka, sebagai kuntum bunga yang mekar, membuka kelopaknya Citra-citra yang menunjukkan bahwa hidup ini hanya sebagai permainan wayang: Hidup seperti mimpi, laku lakon di layar terkelar, aku pemimpi lagi penari: di datar layar, wayang warna menayang rasa, dst. Adanya kesatuan citraan tersebut menyebabkan kejelasan dan kekonkretan tanggapan.

57 6. Turun Kembali Dalam sajak dikemukakan ide bahwa manusia itu tidak bersatu dengan Tuhan. Manusia itu hamba, sedangkan Tuhan itu penghulu, maharaja. Manusia hidup di bawah lindungan Tuhan, dan dapat senang berkat karunia Tuhan Ide ini merupakan sanggahan terhadap pendapat kaum sufi.

58 7. Insyaf Dalam sajak dikemukakan bahwa si aku seperti buntu karena semua permintaan dan pertanyaan tidak di jawab oleh Tuhan.tetapi kemudian si aku merasa salah arah hingga hancur segala harapn. Si aku kemudian insaf akan kedurhakaannya terhadap Tuhan. 8. Astana Rela Pokok pikiran sajak ini adah tiadalah mengapa si aku dengan kekasihnya tidak berjumpa di dunia sebab si aku yakin bahwa nanti mereka akan bersua di sorga.

59 III. ANALISIS STRUKTURAL DAN SEMIOTIK SAJAK-SAJAK CHAIRIL ANWAR Proses analisis dan parafase sajak-sajak Chairil Anwar adalah seperti analisis dan parafase Amir Hamzah sebagai berikut: 1. Aku Secara struktural dengan melihat hubungan antar unsur-unsur dan keseluruhannya, juga berdasarkan kiasan-kiasan yang terdapat di dalamnya, maka dapat ditafsirkan bahwa dalam sajak ini dikemukakan ide kepribadian bahwa orang itu harus bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri

60 2. Selamat Tinggal Sajak ini merupakan intropeksi kepada dirinya sendiri Dalam sajak ini merupakan penggalian masalah pribadi dan kesadaran kepada kejelekan dan kekurangan diri manusia sebagi pribadi. Di samping itu, si aku mengemukakan bahwa dalam diri manusia itu banyak sekali persoalan yang dihadapi, yang semua itu tidak disadari..

61 3. Doa Dalam Sajak ini tampak Chairil Anwar menyatakan suatu pengertian itu dengan cara yang tak langsung, dengan kiasan, dan gambaran-gambaran yang artinya membias, yaitu arti katanya terurai, seperti halnya cahaaya masuk prisma terurai menjaid warna pelangi. Makna kata menjadi warna pelangi makna: aku hilanng bentuk/ remuk aku mengembara, hal itu disebut bergaya prismatis atau sajk prismatis

62 4. Kepada Peminta-minta Mengenai arti kata peminta-minta, kata ni dapt berarti peminta-minta dalam arti harfiah, arti kamusnya, yaitu orang yang memeinta sedekah atau pengemis. Melihat pengemis itu si aku merasa berdosa karena ia turut menyia-nyiakan nasib si peminta-minta itu, tak mau memperjuangkan nasibnya.

63 5. Sajak Putih Sajak ini merupakan kiasan suara hati si penyair, suara hati si aku.putih mengiaskan ketulusan, kejujuran, atau keikhlasan. 6. Sebuah Kamar Puisi itu menyatakan pengertian secara tidak langsung (Riffaterre, 1978:10 yaitu menyatakan sesuatu hal yang berarti yang lain, ketidaklangsungan itu diantaranya karena penggunaan bahasa kiasan merupakan penukaran arti atau displacing

64 Dalam sajak ini penyair mengemukakan sebuah ironi kehidupan di Indonesia, yaitu pertama orang luar itu selalu ingin mengetahui rahasia orang lain, mencampuri urusan orang lain. Ironi kehidupan tersebut dinyatakan dengan bahasa yang ironik-hiperbolik, yaitu sindiran yang dilebih-lebihkan. Ironi itu dinyatakan dengan pertentangan keadaan danparadoks.

65 7. Catetan Th 1946 Dalam sajak ini penyair mengemukakan abstrak dipergunakan bahsa-bahasa kiasan dan citraan untuk megkonkretkan tanggapan dan menarik karena memberikan gambaran yang jelas dan pars pro toto yaitu tangan untuk menyatakan aku. 8. Cerita buat Dien Tamaela Yang paling menonjol dalam sajak ini adalah ulangan-ulangan, baik ulangan kata, kalimat, maupun bait. Ulangan itu diantaranya berupa paralellisme, yaitu penjajaran kalimat-kalimat yang artinya sama/hampir sama dengan mengganti sebagian katanya

66 9. Tuti Artic Dalam sajak ini mengemukakan pokok pikiran bahwa orang itu tidak dapat mengetahui apa yang terjadi antara kebahagiaan sekarang dan nanti. Ketidaktahuan digambarkan sebagai jurang yang ternganga. Sajak ini berbentuk soneta dengan persajakan akhir yang rapi: a b a b:a c a c:e d d

67 IV KETIDAKLANGSUNGAN EKSPRESI PUISI Analisis struktural yang digabungkan dengan semiotik disebut strukturalisme dinamik (Teeuw, 1983:62). Sastra merupakan sistem tanda sebelum dipergunakan dalam bahasa yang sudah merupakan sistem tanda sebelum dipergunakan dalam sastra. Dipandang dari sudut sastra bahasa sistem tanda tingkat kedua. Bahasa adalah tanda/simbol yang mempunyai arti dan kohesi sendiri Kohesi tambahan dalam sastra yaitu bahasa kiasan, persajakan, pembagian bait, persajakan juga peloncatan baris dan tipografi (susunan tulisan)

68  Ketidaklangsungan pernyataan puisi menurut Riffaterre (1978:2) disebabkan oleh tiga hal: 1. Penggantian Arti Pada umumnya kata-kata kiasan menggantikan arti sesuatu yang lain, lebih-lebih metafora dan metonimi (Riffaterre: 1978:2). Dalam penggantian arti ini suatu kata (kiasan) berarti yang lain, tidak menurut arti sesungguhnya. 2. Penyimpangan arti Dikemukakan Riffaterre (1978:2) penyimpangan arti terjadi bila dalam sajak ada mabiguitas, kontradiksi, ataupun nonsense.

69 3. Penciptaan Arti Terjadi penciptaan arti (Riffaterre: 1978:2) bila ruang teks (spasi teks) berlaku sebagi prinsip pengorganisasian untuk membuat tanda-tanda keluar dari hal-hal ketatabahasaan yang sesungguhnya secara linguistik tidak ada artinya, misalnya simitri, rima, enjebement (peloncatan baris) atau ekuivalensi-ekuivalensi makna (semantik) di antara persamaan- persamaan posisi dalam bait.

70 V HUBUNGAN INTERTEKTUAL Untuk mendapatkan makna sepenuhnya sebuah sajak, selain sajak harus diinsafi ciri khasnya sebagai tanda (sign), tidak boleh pula dilupakan hubungan kesejarahannya. Karya sastra menghendaki adanya kebaruan, namun tentu tidak baru sama sekali sebab bila sama sekali menyimpang dari konvensi, maka ciptaan itu akan tidak dikenal atau tidak dapat dimengerti oleh masyarakatnya. konvensi sastra yang disimpangi dapat berupa konvensi bentuk formalnya atau isi pikiran, masalah, dan tema yang terkandung di dalamnya.

71 Aturan pantun yang ketat yang telah menjadi konvensi itu yang utama adalah: Tiap baris terdiri 4 baris Baris pertama dan kedua merupakan sampiran, baris ketiga dan keempat isi Sajak akhirnya berpola abab, Tiap baris terdiri atas dua periodus terdiri atas dua kata

72 Aturan syair yang utama adalah: Tiap baris terdiri 4 baris keempat baris itu mengandung isi Syair untuk menguraikan cerita hingga biasanya tidak cukup hanya satu bait Pola sajak a a a a Tiap baris terdiri atas dua periodus terdiri atas dua kata Akan tetapi para penyair pujangga baru menentang aturan dan kohesi tersebut Dalam kesusastraan Indonesia hubungan intertektual antara suatu karya sastra dengan karya lain, baik antara karya sezaman maupun zaman sebelum terjadi.

73 1. Hubungan Intertektual Sajak Kusangka dengan penerimaan Tiap baris terdiri 4 baris keempat baris itu mengandung isi Syair untuk menguraikan cerita hingga biasanya tidak cukup hanya satu bait Pola sajak a a a a Tiap baris terdiri atas dua periodus terdiri atas dua kata


Download ppt "PUISI JAWA MODERN. 1. Pengkajian Puisi Puisi selalu berubah-ubah sesuai dengan evolusi selera dan perubahan konsep estetikanya (Riffaterre, 1978). Sebelum."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google