Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Oleh: Yusman Syaukat Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Oleh: Yusman Syaukat Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor."— Transcript presentasi:

1 Oleh: Yusman Syaukat Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor

2 Pendahuluan Pergeseran tujuan pembangunan dari konvensional menuju kepada pembangunan berkelanjutan: integrasi antara tujuan peningkatan kesejahteraan ekonomi dengan tujuan-tujuan sosial, politik, dan lingkungan Memperhatikan keterkaitan dan ketergantungan antara ekonomi, lingkungan dan komunitas, sehingga mengarah kepada pencapaian tujuan “well-being of the people” Sustainable development bisa di level internasional, nasional, regional, maupun lokal

3 Perkembangan Teori Pembangunan 1980’s ’s Cold war ending + Free market growing:  Economic Development Economic + Social + Environmental Development:  Sustainable Development Sustainable Development + Institutional Capacity:  Good Governance Decentralization + Globalization + Poverty Reduction:  Local Economic Development Recognition today:  Local Problems Need Local Solutions

4 Dua Teori Pembangunan Berkelanjutan Ada pertentangan antara ekonomis dan ekologis terkait dengan isu: discount of future B&C, substitutability between man-made capital and natural resources, dan earth’s carrying capacity for human Terdapat dua teori (yang bertentangan) tentang PB: Weak-form Sustainability Strong-form sustainability Kedua teori tersebut konsisten dengan pengertian dasar PB, namun terdapat perbedaan dalam cara pencapaian mandat tersebut

5 Weak-form Sustainability Teori ini dikembangkan dari model pertumbuhan ekonomi dan perkembangan teknologi dalam konteks keterbatasan sumberdaya (limited resources) Asumsi dasar: bahwa human-made capital dapat mensubstitusikan natural capital and the services provided by ecological system Perhatian: jika sumberdaya terbatas, dan substituta- bilitas antar jenis sumberdaya relatif rendah, maka per- capita consumption mungkin tidak bisa berkelanjutan ketika jumlah penduduk mengalami peningkatan

6 Weak-form Sustainability (2) Menurut Hartwick Rule, untuk mempertahankan constant per-capita consumption over time maka pendapatan saat ini dari hasil eksploitasi sumberdaya harus direinvestasikan pada sumberdaya alam (SDA) dan sumberdaya manusia (SDM) Substitusi kedua sumberdaya tersebut dapat mendapatkan justifikasi-nya manakala peningkatan produktivitas pada SDM lebih tinggi dibandingkan hilangnya/menurunnnya kapasitas produksi SDA

7 Strong-form Sustainability Strong-form sustainability lebih menekankan pada aspek ekologi: carrying capacity, biodiversity, dan biotic resilience Berdasarkan teori ini: human capital tidak dapat menggantikan secara efektif jasa-jasa yang diselenggarakan oleh sistem lingkungan, terutama dari aspek: Uncertainty – dampak dari menurunnya SDA dan sistem ekologi yang kompleks tidak dapat diprediksi secara tepat, sehingga harus selalu hati-hati (caution) Irreversibility – sebagian besar tingkah laku manusia menimbulkan dampak kerusakan terhadap SDA yang bersifat irreversible; sehingga weak-form sustainability tidak mungkin tercapai Scale – berbeda dengan weak-form sustainability yang bersifat smooth and continuous cause-and-effect relationships, dalam strong-form sustainability dihadapkan pada masalah discontinuity dan threshold effects

8 Weak- and Strong-form Sustainability: Summary Strong-form sustainability (SfS): tidak ada substitusi sempurna antara kedua jenis sumberdaya Dari aspek teknis: Weak-form Sust. (WfS) didasarkan pada konsepsi ekonomi dimana hubungan sebab-akibat tersebut bersifat smooth and continues; sementara SfS didasarkan pada prinsip ekologi dimana kita dihadapkan pada masalah discontinuity, discreteness, and threshold in cause-and- effect relationships Basis evaluasi PB: WfS – didasarkan pada pendekatan ekonomi, sedangkan SfS – didasarkan pada prinsip ekologi Tujuan: WfS mempertahankan total kapital (SDA, SDM dan human-made), sedangkan SfS keberadaan ketiga kapital tersebut dipisahkan (diperhatikan secara individual)

9 Practical Policy Implications Kebijakan-kebijakan yang sesuai dengan WfS ditunjukkan oleh World Bank, dimana SDA, SDM dan human-made capital dapat bersubstitusi sempurna Kebijakan-kebijakan yang sesuai dengan SfS mengaplikasikan Safe Minimum Standard untuk meyakinkan kebaradaan fungsi minimal dari sumberdaya, ekosistem, dan biodiversity SfS mensyaratkan preserving unique and vital natural capital stock (ecological infrastructure), sehingga dapat mensinkronkan seluruh aktivitas manusia dengan the earth’s carrying capacity and the available environmental utilization space

10 Indikator Weak-form Sustainability WfS: mempertahankan constant per-capita consumption dengan tidak memperhatikan apakah itu berasal dari SDA, SDM atau human-made capital Hartwick Rule: NNP atau Green GDP Green GDP = GDP – Hotelling rents for non- renewables – total expenditures on pollution control – other direct costs due to environmental degradation Hotelling rents = opportunity costs of current resource consumption = forgone future consumption value Steady-state consumption dapat dipertahankan jika Hotelling rents diinvestasikan ulang pada SDM dan SDA untuk konsumsi masa datang

11 Indikator Weak-form Sustainability (2) Genuine Saving: untuk menentukan apakah total human- made, natural, and other capital stocks are growing, remaining constant, or declining Genuine Saving (GS): GS = I – r(R-g) – p(e-d) I = aggregate investment in human and human-made capital R = harvest rate of renewable resource, g = regeneration rate, dan r = per-unit value of natural capital; sehingga r(R-g) = nilai uang yang harus disisihkan untuk mempertahankan kapasitas produksi sumber daya (ketika R-g < 0) e= emission of human waste, d = assimilative capacity of the environment, p = MSC per unit of pollution; sehingga p(e-d) = nilai uang yang harus disisihkan untuk mengatasi polusi (ketika e-d <0)

12 Indikator Weak-form Sustainability (3) Baik Green GDP maupun Genuine Saving hanya memasukkan penyesuaian nilai lingkungan terhadap indikator pendapatan konvensional (GDP), namun belum memasukkan nilai-nilai aspek sosial dan budaya Dua indikator Sosio-ekonomi WfS: Index of Sustainable Economic Welfare (ISEW) developed by Daly & Cobb (1989) Genuine Progress Indicator (GPI) developed by Cobb et al (1991) Kedua indikator tersebut masih dianggap kontroversial diantara para ekonom

13 Indikator Weak-form Sustainability (4) Index of Sustainable Economic Welfare (ISEW): per-capita real consumption spending adjusted by some socio- economic and environmental factors: Deduction for estimates of pollution & environmental damages Deduction for income inequality Addition of non-marketed value of household production Addition of the government expenditures on education, health, road, highway Deduction for higher costs of urban living Genuine Progress Indicator (GPI per-capita real consumption spending adjusted by income distribution, and other socio-economic and environmental (B&C) factors

14 Indikator Strong-form Sustainability SD terjadi hanya jika elemen kunci dari stok sumberdaya alam mampu mempertahankan ekologi secara terintegrasi Ada dua indikator SfS: Carrying capacity based on Net Primary Product (NPP) Ecological Footprint (EF) NPP menggambarkan besarnya vegetasi yang dapat diproduksi per tahun dari seluruh wilayah suatu negara EF menggambarkan rata-rata konsumsi natural resources per individu manusia. EF lebih komprehensif dalam menggambarkan human carrying capacity

15 Indikator Strong-form Sustainability Weckernagel and Rees (1997): di negara-negara industry, rata-rata setiap orang memerlukan 2-5 ha lahan produktif untuk menghasilkan material yang mereka konsumsi Kore a & Jepang: EF sekitar 2 ha/kapita, sedangkan di Amerika & Canada sekitar 5 ha/kapita Karena rata-rata tingkat dunia EF= 1.5 ha/kapita, sedangkan ketersediaan sumberdaya lahan hanya 0.3 ha/kapita, maka terdapat “sustainability gap” antara DCs dan LDCs Negara-negara maju (DCs) menggunakan lebih banyak stok SDA (mengimpornya dari LDCs) daripada hidup pada sustainable flows

16 Indikator Umum PB Commission on Sustainable Development (CSD) dari UN Conference on Environment and Development – pada tahun 2006 telah menyusun indikator SD yang terdiri dari tema- tema berikut dan secara keseluruhan mencakup 50 indikator:

17 Referensi Hackett, Steven C Environmental and Natural Resource Economics: Theory, Policy, and the Sustainable Society. M.E. Sharpe, New York. (Chapter 13) United Nations Indicators of Sustainable Development: Guidelines and Methodologies (third edition). The United Nations, New York.

18 Terima Kasih


Download ppt "Oleh: Yusman Syaukat Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google