Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presented by. ASPEK SOSIAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN IBU HAMIL DAN MERAWAT BALITA.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Presented by. ASPEK SOSIAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN IBU HAMIL DAN MERAWAT BALITA."— Transcript presentasi:

1 Presented by

2 ASPEK SOSIAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN IBU HAMIL DAN MERAWAT BALITA

3

4 Kata kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta yaitu “buddhayah” yang merupakan bentuk jamak dari (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.

5 Kebudayaan adalah sikap hidup yang khas dari sekelompok individu yang dipelajari secara turun temurun.

6 Kebudayaan yaitu sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia,sehingga dalam kehidupan sehari-hari kebudayaan bersifat abstrak.

7 Budaya yaitu suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah sekelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi selanjutnya.

8 Unsur Budaya :  Sistem agama  Politik  Adat istiadat  Bahasa  Perkakas  Pakaian  Bangunan dan karya seni.

9 CONTOH KASUS

10 Hubungan antara kebudayaan dan kesehatan sebelum ibu melahirkan

11 Kebiasaan menyusukan bayi yang lama pada beberapa masyarakat. Merupakan contoh yang baik, bertujuan melindungi bayi.

12

13 BRONKOPNEUMONIA Infeksi atau peradangan pada jaringan paru MALNUTRISI

14 Adanya kepercayaan-kepercayaan dan pantangan-pantangan terhadap beberapa makanan yang sangat dibutuhkan oleh wanita hamil, tentunya akan berdampak negatif terhadap kesehatan ibu dan janin Contoh : Anemia

15 Beberapa kepercayaan yang ada misalnya di Jawa Tengah, ada kepercayaan bahwa ibu hamil pantang makan telur karena akan mempersulit persalinan dan pantang makan daging karena akan menyebabkan perdarahan yang banyak.

16 Sementara di salah satu daerah di Jawa Barat, ibu yang kehamilannya memasuki 8-9 bulan sengaja harus mengurangi makannya agar bayi yang dikandungnya kecil dan mudah dilahirkan.

17 Di masyarakat Betawi berlaku pantangan makan ikan asin, ikan laut, udang dan kepiting karena dapat menyebabkan ASI menjadi asin.

18 Di daerah Subang, ibu hamil pantang makan dengan menggunakan piring yang besar karena khawatir bayinya akan besar sehingga akan mempersulit persalinan. Dan memang, selain ibunya kurang gizi, berat badan bayi yang dilahirkan juga rendah.

19 Selain itu, larangan untuk memakan buah- buahan seperti pisang, nenas, ketimun dan lain-lain bagi wanita hamil juga masih dianut oleh beberapa kalangan masyarakat terutama masyarakat di daerah pedesaan.

20 Masih banyak praktek dukun bayi yang bisa membahayakan ibu dan bayi. Karena layanan kesehatan yang belum merata ke pedesaan.

21 Pemilihan dukun beranak sebagai penolong persalinan pada dasarnya disebabkan karena beberapa alasan antara lain dikenal secara dekat, biaya murah, mengerti dan dapat membantu dalam upacara adat yang berkaitan dengan kelahiran anak serta merawat ibu dan bayi sampai 40 hari.

22 Secara medis penyebab klasik kematian ibu akibat melahirkan adalah perdarahan, infeksi dan eklamsia (keracunan kehamilan). Kondisi-kondisi tersebut bila tidak ditangani secara tepat dan profesional dapat berakibat fatal bagi ibu dalam proses persalinan.

23 Kefatalan ini sering terjadi tidak hanya karena penanganan yang kurang baik tepat tetapi juga karena ada faktor keterlambatan pengambilan keputusan dalam keluarga.

24 Didaerah pedesaan, keputusan terhadap perawatan medis apa yang akan dipilih harus dengan persetujuan kerabat yang lebih tua; atau keputusan berada di tangan suami yang seringkali menjadi panik melihat keadaan krisis yang terjadi sehingga dapat menghambat tindakan yang seharusnya dilakukan dengan cepat.

25 Faktor geografis : Jarak rumah si ibu dengan tempat pelayanan kesehatan cukup jauh tidak tersedianya transportasi.

26 Faktor kendala ekonomi : Ada anggapan bahwa membawa si ibu ke rumah sakit akan memakan biaya yang mahal.

27 Faktor keterlambatan dalam pengambilan keputusan Adanya suatu keyakinan dan sikap pasrah dari masyarakat bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan takdir yang tak dapat dihindarkan

28 Hubungan antara kebudayaan dan kesehatan ibu bersalin

29 Tradisi Babaran Masyarakat Jawa Setelah Ibu Melahirkan

30 Babar dapat diartikan: sudah selesai, sudah menghasilkan dalam wujud yang sempurna. Babaran juga menggambarkan selesaianya proses karya batik tradisional. Istilah babaran juga dipakai untuk seorang ibu yang melahirkan anaknya

31 Pada jaman ini Brokohan basanya terdiri dari : beras, telur, mie instan kering, gula, teh dan sebagainya. Namun jika dikembalikan kepada makna yang terkandung dalam selamatan bayi lahir, brokohan cukup dengan empat macam ubarampe saja yaitu: 1. kelapa, dapat utuh atau cuwilan 2. gula merah atau gula Jawa 3. dawet 4. telor bebek

32 Makna dari keempat macam ubarampe tersebut adalah: Kelapa: daging kelapa yang berwarna putih adalah manifestasi dari sukra (bahasa Jawa kuno) yaitu sperma, benihnya laki- laki, bapak

33 Gula Jawa: berwarna merah adalah manifestasi dari swanita (bahasa Jawa kuno) yaitu sel telur, benihnya wanita, ibu.

34 Dawet : dawet terdiri dari tiga bahan yaitu : 1. santan kelapa, berwarna putih wujud dari sperma, benihnya Bapak. 2. juruh dari gula Jawa yang berwarna merah wujud dari sel telur, benihnya Ibu. 3. cendol dari tepung beras manifestasi dari jentik-jentik kehidupan.

35 Telor bebek Ada dua alasan mengapa memakai telor bebek, tidak memakai telor ayam. 1. telor bebek kulitnya berwarna biru, untuk menggambarkan langit biru, alam awang-uwung, kuasa dari atas. 2. biasanya telur bebek dihasilkan dari pembuahan bebek jantan tidak dari endog lemu atau bertelur karena faktor makanan. Dengan demikian telor bebek kalau diengrami dapat menetas, artinya bahwa ada roh kehidupan di dalam telor bebek.

36 Melalui keempat macam ubarampe untuk selamatan bayi lahir tersebut, para leluhur dahulu ingin menyatakan perasaannya yang dipenuhi rasa sukur

37 Keempat ubarampe yang dikemas dalam selamatan Brokohan tersebut mampu menjelaskan bahwa Tuhan telah berkenan mengajak kerjasama kepada Bapak dan Ibu untuk melahirkan ciptaan baru, mbabar putra.

38 Masyarakat Jawa mempunyai beberapa upacara adat untuk menyambut kelahiran bayi : 1. Mitoni 2. Upacara mendhem ari-ari 3. Brokohan 4. Upacara puputan 5. Sepasaran dan selapanan.

39 Upacara selapanan

40 Selapanan dilakukan 35 hari setelah kelahiran bayi. Pada hari ke 35 ini, hari lahir si bayi akan terulang lagi. Namun selapanan utamanya dilakukan sebagai wujud syukur atas kelahiran dan kesehatan bayi.

41 Yang pertama dilakukan dalam rangkaian selapanan, adalah potong rambut atau parasan.Pemotongan rambut pertama-tama dilakukan oleh ayah dan ibu bayi, kemudian dilanjutkan oleh sesepuh bayi.

42 Namun pada tradisi potong rambut ini, beberapa orang ada yang takut untuk menggunduli bayinya, maka pemotongan rambut hanya dilakukan seperlunya, tidak digundul, hanya untuk simbolisasi.

43 Setelah potong rambut, dilakukan pemotongan kuku bayi. Dalam rangkaian ini, dilakukan pembacaan doa-doa untuk keselamatan dan kebaikan bayi dan keluarganya.

44 Tradisi Masyarakat Kalimantan Ibu melahirkan

45 Kultur budaya suku Dayak Kalimantan Tengah menempatkan kaum wanita pada derajat yang tinggi. Tak heran, kedudukan wanita dalam masyarakat dayak memang spesial, kaum perempuan selalu mendapatkan perhatian penuh, terlebih saat proses menjelang persalinan.

46 Pada proses jelang melahirkan bayi atau Awau, sang calon ibu dibaringkan pada sebuah dipan kecil dengan posisi miring terbuat dari kayu yang disebut Sangguhan dengan motif ukiran Dayak di masing- masing sisi.

47 Kemudian saat melahirkan, disiapkan pula Botol Mau sebagai tempat untuk menungku perut ibu agar darah kotor cepat keluar. Selain sebagai perlengkapan suku dayak menjelang persalinan Botol Mau ini juga digunakan untuk menyimpan air panas.

48 Keluarga yang melahirkan juga perlu menyiapkan Kain Bahalai (Jarik dalam bahasa Jawa) dengan lapisan yang berbeda. Tujuh lapis kain bahalai saat menyambut bayi laki-laki dan lima lapis kain bahalai untuk bayi dengan jenis kelamin perempuan.

49 Ketika bayi telah lahir, maka tali pusar atau ari-ari bayi dipotong menggunakan sebuah sembilu dan disimpan di dalam Kusak Tabuni. Untuk tahap pertama dan pemotongan terakhir ari-ari dengan uang ringgit.

50 Bayi (awau) yang baru lahir dimandikan dalam Kandarah, dan popok bayi yang digunakan disimpan dalam Saok.

51 Ibu setelah melahirkan biasa menggunakan Stagen (Babat Kuningan) untuk mengikat perut agar mengembalikan perut ibu ke kondisi semula dengan cepat.

52 Masyarakat Dayak memiliki cara yang khas dan bernuansa magis, yakni menggunakan buah kelapa yang bertunas untuk kemudian disentuhkan ke arah selaput bayi. Tujuannya adalah agar dapat membuka ruang sehingga bayi dapat keluar dengan mudah.

53 Tradisi Masyarakat NTT Ibu melahirkan

54 Proses melahirkan dengan di urut oleh seseorang yang diangap ahli.

55 Setelah ada kelahiran bayi diadakan upacara atau ritual selamatan. Perlakuan masyarakat Nusa Tenggara Timur terhadap ari-ari 1. Tali pusar dipotong menggunakan kulit bambu. 2. Ditaruh sekitar 3 bulan di atas perapian sampai kering. 3. Selanjutnya di tanam di sertai doa dan alat tulis.

56 Hubungan antara kebudayaan dan kesehatan ibu pasca bersalin

57 Selain pada masa hamil, pantangan-pantangan atau anjuran masih diberlakukan juga pada masa pasca persalinan. misalnya, ada makanan tertentu yang sebaiknya dikonsumsi untuk memperbanyak produksi ASI; ada pula makanan tertentu yang dilarang karena dianggap dapat mempengaruhi kesehatan bayi.

58 Secara tradisional, ada praktek-praktek yang dilakukan oleh dukun beranak untuk mengembalikan kondisi fisik dan kesehatan si ibu. Misalnya mengurut perut yang bertujuan untuk mengembalikan rahim ke posisi semula memasukkan ramuan-ramuan seperti daun-daunan kedalam vagina dengan maksud untuk membersihkan darah dan cairan yang keluar karena proses persalinan memberi jamu tertentu untuk memperkuat tubuh.

59 Faktor budaya yang dipertimbangkan karena menyumbang angka kematian

60

61 Secara medis, perlakuan ini dapat menyebabkan infeksi pada bayi dikarenakan tali pusat yang baru saja terlepas belum dalam keadaan menutup sempurna dan kering.

62

63 Sebagian masyarakat di Aceh merayakan tujuh hari kelahiran bayinya dengan adat peucicap. Adat peucicap adalah memperkenalkan makanan kepada bayi biasanya dengan mencampur berbagai rasa makanan seperti sari buah apel, jeruk, pisang, anggur, nangka, gula, garam, madu yang dioleskan kepada bibir si bayi disertai dengan doa dan harapan agar si bayi kelak tumbuh menjadi anak yang saleh, berbakti pada orangtua dan agama, dan kepada bangsa.

64 Peucicap

65 Faktanya secara medis, usus bayi baru lahir belum memiliki enzim yang mampu mencerna karbohidrat dan serat-serat tumbuhan yang begitu tinggi. Akibatnya, pemberian makanan tambahan pada bayi berusia di bawah 6 bulan dapat menyebabkan sumbatan pada usus dan diare yang berlebihan pada bayi.

66 Di Nusa Tenggara, ibu yang baru melahirkan diasapi di tempat tidur dengan meletakkan tungku yang panas dan berasap di bawah tempat tidur. Masyarakat daerah tersebut percaya bahwa tindakan tersebut bertujuan agar ibu dan bayi tidak digigit nyamuk, lebih kuat, dan terhindar dari sakit.

67 Ibu yang baru melahirkan diasapi di tempat tidur dengan meletakkan tungku yang panas dan berasap di bawah tempat tidur. Masyarakat daerah tersebut percaya bahwa tindakan tersebut bertujuan agar ibu dan bayi tidak digigit nyamuk, lebih kuat, dan terhindar dari sakit. Padahal secara medis, pengasapan ibu dan bayi dapat menimbulkan risiko bagi ibu dan bayi. Risiko yang mungkin dapat ditimbulkan adalah dehidrasi karena kepanasan serta risiko pneumonia karena menghirup asap di ruang tertutup.

68 secara medis, pengasapan ibu dan bayi dapat menimbulkan risiko bagi ibu dan bayi. Risiko yang mungkin dapat ditimbulkan adalah dehidrasi karena kepanasan serta risiko pneumonia karena menghirup asap di ruang tertutup.

69 Di daerah Papua, terdapat kebiasaan menempatkan ibu hamil yang akan melahirkan di kandang ternak.

70 Secara medis tentu saja hal ini sangat berisiko bagi ibu dan bayi karena umumnya kandang ternak sangat tidak bersih untuk proses melahirkan.

71 Selain itu, di Papua juga banyak ibu di daerah pedalaman Papua yang masih melahirkan dengan cara yang tradisional dengan berjuang seorang diri di pinggir sungai juga memotong tali pusat sendiri.

72 Pemotongan tali pusat jika dilakukan seorang diri akan rentan menimbulkan infeksi akibat tidak higienisnya alat pemotong pusat.

73 Sebagian masyarakat di sana juga mempercayai bahwa jika ibu melahirkan anak kembar, maka si ibu harus memilih salah satu anak untuk dibawa pulang dan membunuh salah satunya. Hal tersebut disebabkan oleh keyakinan bahwa anak kembar adalah dua saudara yang akan tumbuh saling bermusuhan.

74 Di sebagian daerah, mempercayai bahwa memandikan bayi dengan menggunakan air dingin dapat membuat bayi kuat.

75 Secara medis, bayi masih rentan terhadap lingkungan, termasuk suhu dingin. Air dingin dapat menyebabkan pembakaran dan metabolisme tubuuh bayi meningkat sehingga makanan dalam tubuh dapat habis hanya untuk mengatur suhu tubuh saat kedinginan. Akhirnya bayi tersebut dapat mudah kehabisan tenaga dan mudah sakit.

76 Kesimpulan Dari pembahasan sebelumnya dapat ditarik kesimpulan, sebagai berikut: Masih banyak ibu-ibu yang menganggap kehamilan sebagai hal yang biasa, alamiah dan kodrati. Mereka merasa tidak perlu memeriksakan dirinya secara rutin ke bidan ataupun dokter. Masih banyaknya ibu- ibu yang kurang menyadari pentingnya pemeriksaan kehamilan menyebabkan tidak terdeteksinya faktor-faktor risiko tinggi yang mungkin dialami oleh mereka. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya informasi.

77 Kelancaran persalinan sangat tergantung faktor mental dan fisik si ibu. Faktor fisik berkaitan dengan bentuk panggul yang normal dan seimbang dengan besar bayi. Sedangkan faktor mental berhubungan dengan psikologis ibu, terutama kesiapannya dalam melahirkan. Bila ia takut dan cemas, bisa saja persalinannya jadi tidak lancar hingga harus dioperasi. Ibu dengan mental yang siap bisa mengurangi rasa sakit yang terjadi selama persalinan.

78 Masih banyak tradisi yang perlu mendapatkan perhatian akibat perlakuan yang kurang tepat dalam penanganan perawatan ibu dan bayi baru lahir. Sebaiknya, ada program yang melakukan pendekatan-pendekatan kepada masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil, calon ibu, dan keluarga mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan ibu dan bayi. Pendekatan kepada keluarga juga sangat diperlukan dikarenakan tindakan yang dilakukan kepada ibu dan bayi cenderung atas masukan dari suami, ibu ayah kandung, ibu ayah mertua, atau kakek nenek yang mewarisi tradisi-tradisi tersebut.

79 Saran yang kami berikan untuk para pembaca makalah ini yaitu setiap aspek sosial budaya yang melintas atau menjadi dasar bagi pola kehidupan manusia sehari-hari hendaknya dapat disaring, karena tidak setiap aspek sosial budaya yang masuk adalah postif. Saran

80


Download ppt "Presented by. ASPEK SOSIAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN IBU HAMIL DAN MERAWAT BALITA."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google