Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

V. FAKTOR BIOTIK SEBAGAI PENYEBAB PENYAKIT HUTAN 1. Virus 2. Bakteri (Schizomycetes) 3. Mycoplasma, Spiroplasma dan rickettsia 4. Jamur 5. Nematoda 3/28/2015Call.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "V. FAKTOR BIOTIK SEBAGAI PENYEBAB PENYAKIT HUTAN 1. Virus 2. Bakteri (Schizomycetes) 3. Mycoplasma, Spiroplasma dan rickettsia 4. Jamur 5. Nematoda 3/28/2015Call."— Transcript presentasi:

1 V. FAKTOR BIOTIK SEBAGAI PENYEBAB PENYAKIT HUTAN 1. Virus 2. Bakteri (Schizomycetes) 3. Mycoplasma, Spiroplasma dan rickettsia 4. Jamur 5. Nematoda 3/28/2015Call

2 Perlindungan Hutan 5 1. Virus Virus adalah mikroorganisme yang berbentuk benang, tongkat atau bulat, memiliki asam inti ribonucleic acid (RNA) atau deoxyribonucleic acid (DNA), tidak mengadakan respirasi dan metabolisme. Para pakar menganggap virus adalah organisme hidup yang masih primitif, karena hanya mempunyai asam inti yang berfungsi dalam perkembangbiakan sebagaimana organisme hidup lainnya. Tetapi karena tidak mengadakan proses respirasi dan metabolisme, maka disimpulkan bahwa virus adalah mahluk yang terletak antara hidup dan mati. 3/28/2015Call

3 Perlindungan Hutan 5 Asam inti terbungkus oleh protein dan dapat mengkristal. Dengan adanya proses membelah diri di dalam sel inangnya, maka terjadi gangguan pada sel tersebut. Cara virus menyerang tumbuhan Partikel-partikel virus memasuki sel tumbuhan melalui luka-luka kecil atau secara tidak sengaja dimasukkan oleh serangga vektor dan kemudian menempati ruang sel. Virus termasuk parasit obligat yang memerlukan sel hidup untuk melangsungkan kehidupan dan perkembangbiakannya. 3/28/2015Call

4 Perlindungan Hutan 5 Di dalam sel-sel hidup, kehadiran partikel-partikel virus RNA mengakibatkan sel tumbuhan memproduksi lebih banyak RNA, bersatu dengan virus dan terbentuk virus RNA baru. Kemudian virus baru ini mengadakan perpaduan dengan protein yang secara otomatis menyelimutinya dan dengan demikian tubuh virus menjadi lengkap. Dengan adanya kegiatan perkembangbiakan virus di dalam sel inang, maka metabolisme tumbuhan terganggu, akibatnya tumbuhan kekurangan makanan dan energi. Tetapi virus tidak menyebabkan kematian pada inangnya. 3/28/2015Call

5 Perlindungan Hutan 5 Kadang-kadang sulit untuk membedakan antara tumbuhan yang terserang virus dengan yang sehat bila gejala yang terlihat hanya pada beberapa lembar daun saja, tetapi kalau gejala yang terlihat terjadi pada sebagian besar jumlah daunnya, maka pengenalan mudah diketahui. Virus dapat berkumpul di dalam vakuola, organella atau di dalam sitoplasma. Kumpulan ini membentuk kristal yang kadang-kadang dapat terlihat dengan mikroskop biasa. Virus dapat berpindah dari satu sel ke sel lainnya melalui benang- benang protoplasma yang disebut plasmodesmata. 3/28/2015Call

6 Perlindungan Hutan 5 Mereka dapat juga tersebar di seluruh sel floem dan silem. Virus memerlukan perantara untuk pindah dari satu inang ke inang lainnya, yaitu dengan melalui perkembangbiakan secara vegetatif (stek, okulasi, cangkok), vektor (serangga- serangga penggit dan penghisap seperti kutu (aphid), lalat putih (white ply), kumbang dan tungau (mite), nematoda, jamur, benih dan serbuk sari tumbuhan. Gejala serangan virus Akibat serangan virus pada tumbuhan dapat terlihat dengan adanya gejala, tetapi kadang-kadang gejala-gejala tidak tampak. 3/28/2015Call

7 Perlindungan Hutan 5 Gejala yang khas: - warna bunga tertentu belang-belang - bercak-bercak berbentuk lingkaran/cincin pada daun (ring spot) - nekrosis - mosaik (noda-noda kuning, hijau atau hijau tua pada daun) - klorosis pada seluruh lembaran daun - klorosis pada tulang-tulang dan pinggiran daun - daun keriting - tanaman kerdil - perubahan bentuk batang 3/28/2015Call

8 Perlindungan Hutan 5 - Percabangan yang berlebihan (menyapu, witches broom) dan roset (pertumbuhan daun atau cabang yang bergerombol dengan jarak tangkai daun atau cabang sangat berdekatan). Serangan virus yang tidak tampak gejalanya pada morfologi tumbuhan, kadang-kadang dapat diketahui dari hasil tumbuhan tersebut, misalnya produksi buahnya yang kurang, tidak seperti biasanya. 3/28/2015Call

9 Perlindungan Hutan 5 Pengendalian secara umum Tanaman yang terserang virus dicabut atau ditebang dan dibakar. Penyemprotan dengan insektisida akan mengurangi vektor penyebar virus. Untuk memperoleh bibit yang benar-benar bebas virus ialah dengan cara mengambil jaringan meristem di pucuk pohon atau ujung akar kemudian dikulturkan di dalam laboratorium (kultur jaringan/tissue culter) 3/28/2015Call

10 Perlindungan Hutan 5 2. Bakteri (Schizomycetes) Bakteri adalah tumbuhan bersel satu. Ada 6 type/bentuk bakteri; a. tipe cocus (Bulat) b. tipe bacillus (tongkat) c. tipe spirillum (spiral) d. seperti miselium e. bentuk berubah-ubah f. seperti pir 3/28/2015Call

11 Perlindungan Hutan 5 Cara bakteri menyerang tumbuhan semua bakteri patogen tumbuhan adalah berbentuk tongkat dari tipe bacillus. Panjangnya antara 1-3 mikron. Bakteri patogen memproduksi enzim pelarut dinding sel tumbuhan dan juga memproduksi zat racun. Dinding primer dan lamella tengah pada sel tumbuhan dilarutkan dengan enzim sellulose dan pektinase, sedang plasma yang mengatur konsentrasi protoplasma dihancurkan dengan racunnya. Cara lainnya ialah dengan mengeluarkan suatu zat yang mengandung hormon tertentu yang dapat mengakibatkan sel-sel tumbuhan giat 3/28/2015Call

12 Perlindungan Hutan 5 tumbuhan giat membelah diri secara berlebihan (hipertrofi). Setelah menembus dinding sel, maka isi sel tumbuhan itu digunakannya proses metabolisme dengan terlebih dahulu meresap melalui dinding tubuhnya. Gejala serangan bakteri Bakteri dapat menyebabkan sakit pada banyak bagian tumbuhan dengan gejala yang berbeda-beda. Bakteri patogen daun dan pucuk daun menyebabkan daun nekrosis (sel-selnya mati) atau membusuk. Bakteri yang menyerang jaringan pengangkut menyebabkan tanaman layu. Serangan pada floem mengakibatkan daun menguning atau cabang 3/28/2015Call

13 Perlindungan Hutan 5 atau cabang menyapu (witches broom) dan serangan pada jaringan kayu mengakibatkan pembengkakan (gall, tumor atau kanker). Contoh: - Mati pucuk (shoot blight, die back) penyebabnya Erwinia amylovora Pengendalian dengan cara memotong bagian tanaman yang terserang dan membakarnya. - Layu (wilt) - Kanker batang (stem canker) - Bengkak batang (gall, tumor) 3/28/2015Call

14 Perlindungan Hutan 5 - Busuk akar (root rot) - Busuk kayu/batang (wood decay) - Busuk basah (soft rot) Pengendalian secara umum terhadap penyakit bakteri Cara pengandaliannya secara umum dapat dilakukan beberapa cara yaitu: a. Karantina b. Insektisida c. Antibiotik d. Formalin 4% digunakan untuk menyeterilkan tanah media semai. 3/28/2015Call

15 Perlindungan Hutan 5 e. Bakterisida Agrimycin. Terramycin dan Musarin dapat digunakan untuk pengendalian di persemaian, sedangkan untuk di pertanaman kurang praktis. 3/28/2015Call

16 Perlindungan Hutan 5 3. Mycoplasma, spiroplasma dan rickettsia Mikroorganisme yang mirip dengan bakteri penyebab sakit pada tanaman ialah mycoplasma-like organism (MLO) dan spiroplasma. MLO adalah mikroorganisme yang bersel satu, bentuknya bervariasi, sering berubah-ubah karena tidak mempunyai dinding sel, selnya mengandung protoplasma yang terdiri dari ribosom dan inti sel. Diameter selnya hanya 100 nanometer (1 nm = 1/ mm), termasuk makhluk hidup yang sangat kecil, lebih kecil dari virus. 3/28/2015Call

17 Perlindungan Hutan 5 Mikroorganisme ini menyerang floem dengan gejala tajuk kerdil dan menyapu, ukuran daun mengecil dan klorosis. Kalau intensitas serangan telah berat, maka pohon dapat mati. Penularan MLO dari satu pohon yang lain terjadi dengan perantara serangga vektor dan dari pembiakan secara vegetatif (stek, cangkok, sambungan dll). Contoh. - Penyakit Kuning (yellow disease) pada Santalum album sebagai vektornya serangga pemakan daun dari jenis Moonia albimaculata, Coelidia indica (Jassus indicus) dan Nephotettix virescens. 3/28/2015Call

18 Perlindungan Hutan 5 Spiroplasma Spiroplasma adalah mikroorganisme yang bersel satu, berbentuk spiral, panjangnya 2-4 mikrometer dan tidak mempunyai dinding sel. Mikroorganisme ini menyerang floem dan gejala yang ditunjukkan ialah daun menjadi klorosis atau kecoklatan dan cabang menyapu. Perbedaan gejala pohon yang terserang MLO dengan spiroplasma secara sepintas sama. Tetapi sebenarnya terdapat perbedaan yaitu klorosis pada daun dan cabang menyapu yang disebabkan oleh spiroplasma lebih ringan daripada yang disebabkan oleh MLO. 3/28/2015Call

19 Perlindungan Hutan 5 Belum diketahui adanya spiroplasma yang menyerang pohon kehutanan, melainkan jenis tumbuhan semak, bunga-bungaan dan jeruk. Rickettsia-like organism (RLO) ialah mikroorganisme bersel satu yang berukuran panjang 0,6-2,0 mikrometer dan diameter 0,3--,5 mikrometer, mengandung struktur yang mirip ribosom di dalam sitoplasma dan benang-benang mirip DNA serta bulatan-bulatan gelap dan terang, dinding selnya berombak. Serangan telah diketahui pada pohon buah-buahan seperti anggur, almond, apel. 3/28/2015Call

20 Perlindungan Hutan 5 Pada pohon kehutanan di daerah subtropis terjadi pada Ulmus americana dan Larix decidua, sedangkan pada pohon tropis belum diketahui. 4. Jamur (Eumycetes) Jamur di dalam masyarakat hutan banyak peranan, baik yang merugikan maupun yang menguntungkan. Yang merugikan termasuk jamur parasit dan tidak merugikan termasuk jamur saprofit. Jamur saprofit yang telah diketahui manfaatnya adalah termasuk jamur yang menguntungkan seperti yang bisa dimakan dan simbion. Ada juga yang merugikan dan sekaligus menguntungkan yaitu jamur parasit yang bisa dimakan 3/28/2015Call

21 Perlindungan Hutan 5 Jamur saprofit Jamur saprofit berperan penting dalam penghancuran atau pembusukan bahan-bahan organik, terutama yang mengandung sellulosa dan lignin. Hifa jamur secara aktif memasuki sel-sel bahan-bahan organik di seluruh permukaan tanah, sedangkan bakteri secara pasif hanya menghancurkan bahan organik di satu tempat yang terbatas. Jamur parasit Perbedaan dengan jamur saprofit, sasaran jamur parasit adalah sel-sel tumbuhan yang masih hidup, 3/28/2015Call

22 Perlindungan Hutan 5 sedangkan jamur saprofit pada sel-sel tumbuhan yang sudah mati. Walaupun jamur parasit lebih sedikit jumlah jenisnya, tetapi di dalam masyarakat hutan, jamur parasit dapat merugikan/merusak hutan. Jamur sebagai makanan bagi mahluk lain Jamur berguna untuk makanan manusia dan binatang, terutama invertebrata. Manusia mengenalnya sebagai makanan yang lezat. Contoh - Amanita 3/28/2015Call

23 Perlindungan Hutan 5 Jamur sebagai simbion dari organisme lain di Dalam masyarakat hutan, beberapa jenis jamur hidup bersimbiosis dengan ganggang dan disebut lichen. Lichen dapat dilihat pada permukaan kulit pohon seperti panu, berwarna putih sampai abu-abu. Beberapa pakar berpendapat, bahwa lichen merupakan indikator lingkungan, yang mana bila lingkungan telah tercemar, maka variasi jenis lichen sedikit atau bahkan tidak ada, sebaliknya bila lingkungan semakin bersih dari polusi, maka kehadiran jenis-jenis lichen semakin banyak. Bentuk simbiosis yang lain adalah mikoriza. Jamur yang menginfeksi akar tumbuhan menyebabkan 3/28/2015Call

24 Perlindungan Hutan 5 Menyebabkan morfologi akar. Akar yang bermikoriza dapat menyerap bahan makanan dan air untuk inangnya lebih banyak, sehingga pertumbuhan tanaman inangnya lebih baik dibandingkan dengan yang tidak bermikoriza. Mikoriza ialah struktur akar yang terbentuk dari hasil simbiosis mutualismtis antara akar tumbuhan tingkat tinggi dengan jamur. Dalam hubungan ini jamur menginfeksi sel-sel korteks dan menyerap makanan (karbohidrat) dari dalam sel-sel korteks tersebut. Tumbuhan tidak dirugikan dengan penyerapan ini, karena jamur memberikan kepada tumbuhan 3/28/2015Call

25 Perlindungan Hutan 5 berupa bahan makanan yang belum jadi dan air, sehingga tumbuhan yang bersimbiosis dengan jamur tumbuh lebih baik daripada yang tanpa simbiosis. Selain itu, jamur berguna sebagai penghalang masuknya patogen ke dalam akar tumbuhan yang ditumpanginya. Tipe-tipe mikoriza: a. Endomikoriza b. Ektomikoriza c. Ektendomikoriza 3/28/2015Call

26 Perlindungan Hutan 5 Contoh beberapa penyakit penting yang disebabkan oleh jamur A. Di persemaian 1. Lodoh (Damping Off) Damping off (lodoh) didifinikan sebagai penyakit yang disebabkan oleh jamur yang mengakibatkan busuk pada batang dan atau akar semai yang masih muda, berkulit halus dan berair banyak (succulent). Penyakit ini sering terjadi di persemaian yang disebabkan oleh jamur yang bersifat parasit fakultatif. 3/28/2015Call

27 Perlindungan Hutan 5 Gejala Lodoh Hifa jamur menular melalui tanah dan infeksi terjadi dengan cara masuk (penetrasi) melalui epidermis dan sampai ke dalam jaringan yang masih succulent. Penetrasi terjadi pada akar atau pangkal batang atau keduanya. Penularan dapat juga terjadi dengan spora yang diterbangkan oleh angin. Ada 3 macam gejala yang ditimbulkan: a. Lodoh dini (pre-emergence damping off) b. Lodoh Batang (post-emergence damping off) c. Lodoh akar (root rot) 3/28/2015Call

28 Perlindungan Hutan 5 Patogen lodoh patogen lodoh adalah jamur yang hidup secara saprofit di permukaan tanah pada sisa-sisa tumbuhan yang telah mati. Dengan adanya kondisi lingkungan dan inang yang sesuai, maka jamur tersebut menjadi parasit yang ganas. Beberapa jenis jamur yang dikenal sebagai patogen lodoh ialah: a. Kelas Deuteromycetes: Botrytis cineria, diplodia pinea, Cylindrocladium scoparium, Fusarium spp, Pestalozzia funerea, Rhizoctonia solani, sclerotium spp, dan Colletotrichum acutatum. 3/28/2015Call

29 Perlindungan Hutan 5 b. Kelas Phycomycetes : Phytophthora spp, Pythium spp Pencegahan dan pemberantasan a. Dengan cara silvikultur b. Dengan cara biologi c. Dengan cara fisik d,. Dengan cara kimia 3/28/2015Call

30 Perlindungan Hutan 5 2. Penyakit Tepung (Powdery Mildew) Penyakit ini sebagian besar menyebabkan penyakit pada jenis pohon kehutanan daun lebar. Gejala Daun-daun muda dan pucuk dapat terserang berat, semakin tua daun semakin berkurang serangan jamur. Permukaan atas dan bawah daun-daun pucuk tersebut tertutup olah lapisan berwarna putih atau hitam (tergantung dari jenis jamurnya) yang terdiri dari miselium dan konidia. Daun yang terserang mengeriting, berwarna pucat dan kemudian rontok. 3/28/2015Call

31 Perlindungan Hutan 5 Bibit yang terserang pertumbuhannya terhambat (kerdil), tetapi pada bibit sapihan yang telah dewasa sampai tingkat pohon tahan terhadap serangan jamur tepung. Penularannya terjadi melalui konidia yang terbawa oleh angin. Musim kemarau serangan berkurang dan musim penghujan serangan menjadi berat. Pencegahan dan pemberantasan Daun yang rontok dikumpulkan ditimbun ditanah atau dibakar. Penyemprotan dengan fungisida secara rutin. Untuk bibit dengan maneb dithane setiap 2 minggu sekali. 3/28/2015Call

32 Perlindungan Hutan 5 5. Nematoda Nematoda adalah sejenis binatang yang sangat kecil, berbentuk bulat seperti cacing, hidup secara saprofit di dalam air atau tanah atau secara parasit pada tumbuhan atau inang. Tipe-tipe nematoda a. Nematoda saprofit b. Nematoda parasit pada binatang besar c. Nematoda predator pada binatng-binatang kecil yang tidak bertulang belakang di dalam tanah d. Nematoda parasit pada tumbuhan 3/28/2015Call

33 Perlindungan Hutan 5 Gejala serangan nematoda Serangan nematoda mengakibatkan pertumbuhan tanaman terhambat, daun menguning, ukuran daun tidak normal, gugur daun sebelum waktunya, mudah layu dalam musim kering, percabangan akar berlebihan seperti akar serabut, kerusakan (luka-luka) pada akar dan pembengkakan bagian yang terserang. Penanggulangan Pencegahan serangan nematoda dapat dilakukan dengan karantina serta menyeterilkan tanah dengan pemanasan dan bahan kimia (fumigan) seperti Methylbromide. 3/28/2015Call

34 Perlindungan Hutan 5 3/28/2015Call Pemberantsan Secara fisik mencabut semai yang terserang kemudian dibakar. Secara biologi digunakan jamur fungi imferfecti seperti Verticilium spaerosporum dan Paecilomyces coccospora

35 3/28/2015Call


Download ppt "V. FAKTOR BIOTIK SEBAGAI PENYEBAB PENYAKIT HUTAN 1. Virus 2. Bakteri (Schizomycetes) 3. Mycoplasma, Spiroplasma dan rickettsia 4. Jamur 5. Nematoda 3/28/2015Call."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google