Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

MEWUJUDKAN TN SEMBILANG SEBAGAI STASIUN RISET EKOSISTEM LAHAN BASAH DAN RANCANGAN RISET DASAR DAN TERAPAN JANGKA WAKTU 20 TAHUN TIM FAKULTAS PERTANIAN.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "MEWUJUDKAN TN SEMBILANG SEBAGAI STASIUN RISET EKOSISTEM LAHAN BASAH DAN RANCANGAN RISET DASAR DAN TERAPAN JANGKA WAKTU 20 TAHUN TIM FAKULTAS PERTANIAN."— Transcript presentasi:

1 MEWUJUDKAN TN SEMBILANG SEBAGAI STASIUN RISET EKOSISTEM LAHAN BASAH DAN RANCANGAN RISET DASAR DAN TERAPAN JANGKA WAKTU 20 TAHUN TIM FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG 2009

2 I. PENDAHULUAN Taman Nasional Sembilang (TNS) yang terletak di pesisir timur Provinsi Sumatera Selatan merupakan kawasan lahan basah yang sebagian besar terdiri dari hutan mangrove dengan hutan rawa air tawar dan hutan rawa gambut yang terletak di belakangnya. Taman Nasional Sembilang (TNS) yang terletak di pesisir timur Provinsi Sumatera Selatan merupakan kawasan lahan basah yang sebagian besar terdiri dari hutan mangrove dengan hutan rawa air tawar dan hutan rawa gambut yang terletak di belakangnya. Hutan mangrove yang meluas hingga 35 km ke arah darat (hulu) di kawasan ini merupakan sebagian kawasan hutan mangrove terluas yang tersisa di sepanjang pantai timur pulau Sumatera. Hutan mangrove yang meluas hingga 35 km ke arah darat (hulu) di kawasan ini merupakan sebagian kawasan hutan mangrove terluas yang tersisa di sepanjang pantai timur pulau Sumatera.

3 LETAK DAN LUAS KAWASAN TAMAN NASIONAL SEMBILANG Berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 76/Kpts-II/2001 Terletak di pesisir timur provinsi Sumatera Selatan, pada ’ ’ Lintang Timur dan Lintang Selatan. Secara administratif termasuk wilayah Desa Sungsang IV, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan; Luas kawasan mencakup ha terdiri dari: hutan mangrove Suaka Margasatwa (SM) Terusan Dalam ( ha), Hutan Suaka Alam (HSA) Sembilang seluas ha, Hutan Produksi Terbatas (HPT) Sungai Terusan Dalam seluas ha dan kawasan perairan di sekitarnya seluas ha.

4 LETAK GEOGRAFIS Secara geografis, kawasan yang ditunjuk sebagai Taman Nasional Sembilang berbatasan di sebelah Utara dengan Sungai Benu dan batas Provinsi Jambi di sebelah Timur dengan Selat Bangka, Sungai Banyuasin di sebelah Selatan dengan Sungai Banyuasin, Sungai Air Calik, dan Karang Agung di sebelah Barat dengan Hutan Produksi wilayah ex HPH PT Riwayat Musi Timber dan PT. Sukses Sumatra Timber (saat ini termasuk wilayah INHUTANI V); dan juga kawasan transmigrasi (Karang Agung Tengah, Karang Agung Ilir).

5 II. KONDISI FISIK LINGKUNGAN KAWASAN TNS Aksesibilitas Aksesibilitas Untuk menjangkau kawasan TN Sembilang dapat ditempuh melalui jalur kapal motor (speed boat) 40PK selama  2 jam perjalanan dari ibukota kecamatan Banyuasin II (Sungsang) atau  4 jam dari ibukota provinsi Sumatera Selatan (Palembang). Untuk menjangkau kawasan TN Sembilang dapat ditempuh melalui jalur kapal motor (speed boat) 40PK selama  2 jam perjalanan dari ibukota kecamatan Banyuasin II (Sungsang) atau  4 jam dari ibukota provinsi Sumatera Selatan (Palembang). Topografi Topografi Berdasarkan Peta Rupa Bumi Indonesia Lembar 1013 (skala 1: ) yang diterbitkan dari BAKOSURTANAL, kawasan TN Sembilang memiliki topografi datar. Berdasarkan Peta Rupa Bumi Indonesia Lembar 1013 (skala 1: ) yang diterbitkan dari BAKOSURTANAL, kawasan TN Sembilang memiliki topografi datar.

6  Geologi, Geomorfologi dan Jenis Tanah TN Sembilang merupakan lahan rawa dengan formasi sedimen Palembang. Sebagian besar kawasan ini didominasi oleh sedimen alluvia (termasuk sedimen marin dan sedimen organik di pesisir, dan deposit organik, biasanya sebagai kubah gambut jauh di daratan). Kubah gambut terdalam terdapat di antara sungai Terusan Dalam dan Sungai Benu. TN Sembilang merupakan lahan rawa dengan formasi sedimen Palembang. Sebagian besar kawasan ini didominasi oleh sedimen alluvia (termasuk sedimen marin dan sedimen organik di pesisir, dan deposit organik, biasanya sebagai kubah gambut jauh di daratan). Kubah gambut terdalam terdapat di antara sungai Terusan Dalam dan Sungai Benu. Elevasi kawasan TN Sembilang berkisar antara 0 hingga 20 m dpl, dengan variasi pasang surut hingga 3,5 m (Danielsen & Verheught 1990). Elevasi kawasan TN Sembilang berkisar antara 0 hingga 20 m dpl, dengan variasi pasang surut hingga 3,5 m (Danielsen & Verheught 1990). Jenis Tanah umumnya terdiri dari histosol (termasuk typic haplohemists, typic hydraquents, typic sulfaquents, histic sulfaquent, sodic psammaquents) dan inceptisol (termasuk sulfic endoaquepts dan typic sulfaquepts). Jenis Tanah umumnya terdiri dari histosol (termasuk typic haplohemists, typic hydraquents, typic sulfaquents, histic sulfaquent, sodic psammaquents) dan inceptisol (termasuk sulfic endoaquepts dan typic sulfaquepts).

7  Iklim di Kawasan TN Sembilang Iklim tropis dengan rata-rata curah hujan pertahun sebesar mm ( ) melingkupi kawasan TN Sembilang. Musim kering biasanya terjadi di bulan Mei hingga Oktober, sedangkan musim hujan dengan angin baratdaya yang kuat terjadi di bulan November hingga April. Iklim dapat dijabarkan sesuai dengan Zona C : 5 hingga 6 bulan berturut-turut bulan basah dan 3 bulan atau kurang berturut-turut bulan kering (Whitten et al. 2000:15, menurut Oldeman et al. 1979). Iklim tropis dengan rata-rata curah hujan pertahun sebesar mm ( ) melingkupi kawasan TN Sembilang. Musim kering biasanya terjadi di bulan Mei hingga Oktober, sedangkan musim hujan dengan angin baratdaya yang kuat terjadi di bulan November hingga April. Iklim dapat dijabarkan sesuai dengan Zona C : 5 hingga 6 bulan berturut-turut bulan basah dan 3 bulan atau kurang berturut-turut bulan kering (Whitten et al. 2000:15, menurut Oldeman et al. 1979).

8 TUJUAN Menjadikan TN Sembilang sebagai pusat riset unggulan ekositem lahan basah

9 III. KONDISI EKOSISTEM KAWASAN TN SEMBILANG Bentang alam kawasan Sembilang didominasi oleh gradien yang mencakup hutan hujan dataran rendah, rawa gambut dan hutan rawa air tawar di daerah pedalaman hingga mangrove, dataran lumpur pasang surut, dan seringkali berupa pantai berpasir di sepanjang garis pantai. Beberapa sungai pendek memotong mangrove dan membentuk sebuah ekosistem estuarin yang unik. Bentang alam kawasan Sembilang didominasi oleh gradien yang mencakup hutan hujan dataran rendah, rawa gambut dan hutan rawa air tawar di daerah pedalaman hingga mangrove, dataran lumpur pasang surut, dan seringkali berupa pantai berpasir di sepanjang garis pantai. Beberapa sungai pendek memotong mangrove dan membentuk sebuah ekosistem estuarin yang unik.

10 SKEMA GRADIEN EKOSISTEM DI KAWASAN TN SEMBILANG Hutan tropis dataran rendah Hutan rawa gambut Mangrove Kubah GambutDataran Lumpur

11 Hutan Tropis Dataran Rendah Hutan hujan dataran rendah yang tersisa (akibat ditebang secara berlebihan) merupakan batas langsung Taman Nasional. Hutan hujan dataran rendah yang tersisa (akibat ditebang secara berlebihan) merupakan batas langsung Taman Nasional. Daerah ini tadinya merupakan kawasan HPH dari tiga perusahaan. Bagian dari tipe hutan ini mungkin layak dimasukkan ke dalam kawasan penyangga Taman Nasional Daerah ini tadinya merupakan kawasan HPH dari tiga perusahaan. Bagian dari tipe hutan ini mungkin layak dimasukkan ke dalam kawasan penyangga Taman Nasional

12 Hutan Rawa Air Tawar Tipe hutan ini ditemukan di bagian hulu sungai yang mengalir di kawasan Sembilang. Tipe hutan ini ditemukan di bagian hulu sungai yang mengalir di kawasan Sembilang. Hutan rawa air tawar telah beradaptasi dari gangguan yang seringkali terjadi oleh air tawar luapan sungai selama musim hujan. Hutan rawa air tawar telah beradaptasi dari gangguan yang seringkali terjadi oleh air tawar luapan sungai selama musim hujan. Spesies pohon yang tipikal adalah Shorea spp., Alstonia spp., Durio spp., Litsea spp., Pithecellobium spp., Lophopetalum spp., Dyera costulata, Campnosperma auriculata. Pepohonan ini terutama ditemukan pada air tawar yang kaya alluvium. Spesies pohon yang tipikal adalah Shorea spp., Alstonia spp., Durio spp., Litsea spp., Pithecellobium spp., Lophopetalum spp., Dyera costulata, Campnosperma auriculata. Pepohonan ini terutama ditemukan pada air tawar yang kaya alluvium. Sedikitnya 189 spesies burung yang ditemukan di Hutan Rawa Sembilang (Danielsen & Verheught 1990). Sedikitnya 189 spesies burung yang ditemukan di Hutan Rawa Sembilang (Danielsen & Verheught 1990).

13 Hutan Rawa Gambut Hutan rawa gambut TN Sembilang merupakan bagian sistem hutan Berbak-Sembilang seluas ha yang mengarah ke selatan. Hutan rawa gambut TN Sembilang merupakan bagian sistem hutan Berbak-Sembilang seluas ha yang mengarah ke selatan. Kondisi Gambut terutama dari tipe ombrogen, membentuk kubah dengan ketebalan 0, meter di atas batas pasang surut. Kondisi Gambut terutama dari tipe ombrogen, membentuk kubah dengan ketebalan 0, meter di atas batas pasang surut. Sumber air secara khusus berasal dari hujan. Sumber air secara khusus berasal dari hujan. Spesies tumbuhan termasuk Tristania obovata, Architea alternifolia, Pdananus spp., Nepenthes spp. Spesies tumbuhan termasuk Tristania obovata, Architea alternifolia, Pdananus spp., Nepenthes spp. Hutan ini masih menjadi tempat berlindung keaneka ragaman hayati yang berharga, meliputi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan Bangau Storm (Ciconia stormi,). Hutan ini masih menjadi tempat berlindung keaneka ragaman hayati yang berharga, meliputi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan Bangau Storm (Ciconia stormi,).

14 Mangrove TN Sembilang terdiri dari kira-kira ha hutan mangrove yang masih utuh. Meluas ke arah darat hingga 35 km menjadikannya kawasan mangrove terluas di Indonesia bagian barat. TN Sembilang terdiri dari kira-kira ha hutan mangrove yang masih utuh. Meluas ke arah darat hingga 35 km menjadikannya kawasan mangrove terluas di Indonesia bagian barat. Terdapat 17 spesies mangrove (yaitu 43% dari seluruh spesies mangrove yang ada di Indonesia) yang ditemukan, meliputi Sonneratia alba, Avicennia marina (langsung di garis pantai); Rhizophora mucronata, R. apiculata, Bruguiera gymnorhiza, dan Xylocarpus granatum (jauh ke daratan pada tanah dengan salinitas rendah dan padat). Terdapat 17 spesies mangrove (yaitu 43% dari seluruh spesies mangrove yang ada di Indonesia) yang ditemukan, meliputi Sonneratia alba, Avicennia marina (langsung di garis pantai); Rhizophora mucronata, R. apiculata, Bruguiera gymnorhiza, dan Xylocarpus granatum (jauh ke daratan pada tanah dengan salinitas rendah dan padat). Sedikitnya 112 spesies burung ditemukan di daerah mangrove Sembilang, yang mana 44 spesies menggunakan mangrove sebagai habitat utama mereka, sementara 22 spesies yang terikat dengan kawasan ini. Jumlah ini lebih besar daripada hutan mangrove lainnya di dunia Sedikitnya 112 spesies burung ditemukan di daerah mangrove Sembilang, yang mana 44 spesies menggunakan mangrove sebagai habitat utama mereka, sementara 22 spesies yang terikat dengan kawasan ini. Jumlah ini lebih besar daripada hutan mangrove lainnya di dunia

15 Dataran Lumpur Pasang Surut Dataran lumpur yang luas, yang secara berganti-ganti tenggelam dan terdedah di udara terbuka dengan berubahnya pasang surut, menyediakan habitat penting untuk invertebrata, seperti remis, cacing, kepiting, dan sebagainya. Dataran lumpur yang luas, yang secara berganti-ganti tenggelam dan terdedah di udara terbuka dengan berubahnya pasang surut, menyediakan habitat penting untuk invertebrata, seperti remis, cacing, kepiting, dan sebagainya. Beberapa dataran lumpur ini mencapai hingga lebih dari 1,5 km ke laut. Beberapa dataran lumpur ini mencapai hingga lebih dari 1,5 km ke laut. Komunitas ikan ditemukan selama pasang pada wilayah dataran lumpur termasuk spesies air tawar sebagaimana halnya spesies laut (misalnya ikan Sembilang - Clarias melanoderma - dan Gelodok - terutama Gobiidae). Komunitas ikan ditemukan selama pasang pada wilayah dataran lumpur termasuk spesies air tawar sebagaimana halnya spesies laut (misalnya ikan Sembilang - Clarias melanoderma - dan Gelodok - terutama Gobiidae). Selama akhir musim gugur di belahan bumi utara, dataran lumpur sepanjang Semenanjung Banyuasin didatangi oleh sekumpulan besar burung migran dengan jumlah mencapai ekor (diperkirakan jumlah keseluruhannya adalah 0,5 - 1 juta burung migran per musim; antara lain % dari jalur terbang Palaearctic Timur). Selama akhir musim gugur di belahan bumi utara, dataran lumpur sepanjang Semenanjung Banyuasin didatangi oleh sekumpulan besar burung migran dengan jumlah mencapai ekor (diperkirakan jumlah keseluruhannya adalah 0,5 - 1 juta burung migran per musim; antara lain % dari jalur terbang Palaearctic Timur).

16 Pantai Berpasir Pada beberapa lokasi ditemukan pantai berpasir dengan tegakan Casuarina equisetifolia dan Ipomoea pes-caprae. Pada beberapa lokasi ditemukan pantai berpasir dengan tegakan Casuarina equisetifolia dan Ipomoea pes-caprae. Spesies burung di wilayah-wilayah ini termasuk cerek (Charadriidae), Kepudang Kuduk-hitam (Oriolus chinensis) dan Cabak Kota (Caprimulgus affinis). Spesies burung di wilayah-wilayah ini termasuk cerek (Charadriidae), Kepudang Kuduk-hitam (Oriolus chinensis) dan Cabak Kota (Caprimulgus affinis).

17 Rawa Belakang Rawa belakang besar (Acrostichum sp.) menutupi bagian dalam Semenanjung Banyuasin. Rawa belakang besar (Acrostichum sp.) menutupi bagian dalam Semenanjung Banyuasin. Menurut nelayan setempat, daerah persarangan dari Bangau Bluwok (Mycteria cinerea) dan Bangau Tongtong (Leptoptilos javanicus) ditemukan disini. Spesies lainnya termasuk Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Beruang Madu (Helarctos malayanus), dan kemungkinan Gajah (Elephas maximus). Menurut nelayan setempat, daerah persarangan dari Bangau Bluwok (Mycteria cinerea) dan Bangau Tongtong (Leptoptilos javanicus) ditemukan disini. Spesies lainnya termasuk Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Beruang Madu (Helarctos malayanus), dan kemungkinan Gajah (Elephas maximus). Rawa belakang sangat rentan kebakaran hutan, seperti pada 1991, 1994, 1997 Rawa belakang sangat rentan kebakaran hutan, seperti pada 1991, 1994, 1997

18 Persentase Tipe Habitat di Kawasan TN Sembilang Tipe Habitat Persen Mangrove45% Rawa belakang 42% Hutan Belakang(H.R. Tawar dan H.R. Gambut) 9% Dataran Lumpur 2,5% Tambak1,5% Pantai Pasir <1% Jumlah100%

19 PEMUKIMAN DAN KEGIATAN SOSIAL-EKONOMI Masyarakat pada umumnya tinggal di atas rumah-rumah panggung di tepi sungai di daerah pasang surut, dan sedikit masuk ke arah darat. Ketersediaan air bersih/tawar merupakan masalah utama masyarakat yang tinggal di kawasan Sembilang. Mereka mengandalkan air hujan sebagai sumber air bersih/tawar Masyarakat pada umumnya tinggal di atas rumah-rumah panggung di tepi sungai di daerah pasang surut, dan sedikit masuk ke arah darat. Ketersediaan air bersih/tawar merupakan masalah utama masyarakat yang tinggal di kawasan Sembilang. Mereka mengandalkan air hujan sebagai sumber air bersih/tawar Pemukiman di dalam kawasan Sembilang meliputi Terusan Dalam, Tanjung Birik, Simpang Ngirawan (Merawan), Dusun Sembilang, Sungai Bungin, dan bagan-bagan ikan di perairan pantai. Di sekitar kawasan, seperti di Tanah Pilih, Sungsang, dan Karang Agung juga terdapat sejumlah pemukiman. Karang Agung merupakan daerah transmigrasi yang berada di selatan kawasan. Di Semenanjung Banyuasin terdapat beberapa pemukiman para petambak udang (Solok Buntu dan sekitarnya). Pemukiman di dalam kawasan Sembilang meliputi Terusan Dalam, Tanjung Birik, Simpang Ngirawan (Merawan), Dusun Sembilang, Sungai Bungin, dan bagan-bagan ikan di perairan pantai. Di sekitar kawasan, seperti di Tanah Pilih, Sungsang, dan Karang Agung juga terdapat sejumlah pemukiman. Karang Agung merupakan daerah transmigrasi yang berada di selatan kawasan. Di Semenanjung Banyuasin terdapat beberapa pemukiman para petambak udang (Solok Buntu dan sekitarnya).

20 MEMPERSIAPKAN TN SEMBILANG MENJADI STASIUN RISET EKOSISTEM LAHAN BASAH Menentukan Lokasi Stasiun Pusat Riset dan Stasiun Pengamatan dalam Kawasan TN Sembilang Menentukan Lokasi Stasiun Pusat Riset dan Stasiun Pengamatan dalam Kawasan TN Sembilang Mempersiapkan Fasilitas Pendukung Stasiun Riset di Kawasan TN Sembilang Mempersiapkan Fasilitas Pendukung Stasiun Riset di Kawasan TN Sembilang Melakukan Sosialisasi keberadaan Stasiun Riset Ekosistem Lahan Basah dalam Kawasan TN Sembilang kepada masyarakat ilmiah dalam dan luar negeri Melakukan Sosialisasi keberadaan Stasiun Riset Ekosistem Lahan Basah dalam Kawasan TN Sembilang kepada masyarakat ilmiah dalam dan luar negeri Menyusun Rancangan Riset Dasar dan Terapan jangka waktu 20 tahun Menyusun Rancangan Riset Dasar dan Terapan jangka waktu 20 tahun

21 Menentukan Lokasi Stasiun Pusat Riset dan Stasiun Pengamatan dalam Kawasan TN Sembilang Menentukan Lokasi Stasiun Pusat Riset dan Stasiun Pengamatan dalam Kawasan TN Sembilang Kegiatan Riset ekosisitem lahan basah di kawasan TN Sembilang di Pusatkan di Stasiun Riset dan Stasiun Pengamatan Kegiatan Riset ekosisitem lahan basah di kawasan TN Sembilang di Pusatkan di Stasiun Riset dan Stasiun Pengamatan Stasiun Pusat Riset berada bersama dengan kantor Pengelola TN Sembilang di Desa Sungsang Stasiun Pusat Riset berada bersama dengan kantor Pengelola TN Sembilang di Desa Sungsang Lokasi Stasiun Pengamatan ada di 3 lokasi bersamaan dengan Pos Penjagaan kawasan TN Sembilang yaitu di Sungai Bungin (untuk mengamati bagian selatan dan timur kawasan), Sembilang (untuk mengamati kawasan sungai- sungai) dan Terusan Dalam (untuk mengamati sungai- sungai dan bagian utara kawasan). Lokasi Stasiun Pengamatan ada di 3 lokasi bersamaan dengan Pos Penjagaan kawasan TN Sembilang yaitu di Sungai Bungin (untuk mengamati bagian selatan dan timur kawasan), Sembilang (untuk mengamati kawasan sungai- sungai) dan Terusan Dalam (untuk mengamati sungai- sungai dan bagian utara kawasan).

22 Mempersiapkan Fasilitas Pendukung Stasiun Riset di Kawasan TN Sembilang Fasilitas pendukung yang dibutuhkan untuk Stasiun Riset yaitu:  Wisma peneliti  Stasiun klimatologi  Laboratorium  Perpustakaan  Kebun koleksi  Kebun persemaian  Klinik dan Karantina satwa  Pusat Informasi  Ruang pemaran/Musium Fasilitas pendukung yang dibutuhkan untuk Stasiun Pengamatan yaitu:  Menara Pengamatan Burung  Shelter dan Jalan setapak

23 Sosialisasi keberadaan Stasiun Riset Ekosistem Lahan basah dalam Kawasan TN Sembilang Melakukan sosialisasi keberadaan Stasiun Riset Unggulan Ekosistem Lahan Basah dengan menggunakan Teknologi Informasi kepada masyarakat Ilmiah dalam dan luar negeri Melakukan sosialisasi keberadaan Stasiun Riset Unggulan Ekosistem Lahan Basah dengan menggunakan Teknologi Informasi kepada masyarakat Ilmiah dalam dan luar negeri Membuat Brosur, Leaflet, poster dll dan menyampaikannya kepada perguruan tinggi dan instansi penelitian baik pemerintah maupun swasta Membuat Brosur, Leaflet, poster dll dan menyampaikannya kepada perguruan tinggi dan instansi penelitian baik pemerintah maupun swasta Mengadakan kegiatan pertemuan ilmiah (seminar, lokakarya dll.), mengikuti pameran-pameran, mengadakan pelatihan atau workshop dll. Mengadakan kegiatan pertemuan ilmiah (seminar, lokakarya dll.), mengikuti pameran-pameran, mengadakan pelatihan atau workshop dll.

24 Menyusun Rancangan Riset Dasar dan Terapan jangka waktu 20 tahun Bidang Penelitian yang diterapkan di kawasan TN Sembilang Bidang Penelitian yang diterapkan di kawasan TN Sembilang Matrik Rancangan Kegiatan Riset Ekosistem Lahan Basah di Kawasan TN Sembilang Jangka Waktu 20 tahun Matrik Rancangan Kegiatan Riset Ekosistem Lahan Basah di Kawasan TN Sembilang Jangka Waktu 20 tahun

25 Bidang Penelitian yang diterapkan di kawasan TN Sembilang Penelitian Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistem Kawasan TN Sembilang Penelitian Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistem Kawasan TN Sembilang Penelitian Pemanfaatan Kawasan TN Sembilang Penelitian Pemanfaatan Kawasan TN Sembilang Penelitian Pengelolaan kawasan TN Sembilang Penelitian Pengelolaan kawasan TN Sembilang Penelitian Budidaya pertanian, perikanan dan peternakan Penelitian Budidaya pertanian, perikanan dan peternakan

26 Topik Penelitian Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistem Kawasan TN Sembilang Komunitas tumbuhan yang meliputi: inventarisasi jenis, pemetaan sebaran, dan klasifikasi vegetasi Komunitas tumbuhan yang meliputi: inventarisasi jenis, pemetaan sebaran, dan klasifikasi vegetasi Komunitas satwa meliputi inventarisasi satwa, pemetaan sebaran jenis, analisa range sebaran satwa dan klasifikasi ekologi. Komunitas satwa meliputi inventarisasi satwa, pemetaan sebaran jenis, analisa range sebaran satwa dan klasifikasi ekologi. Evaluasi dampak kerusakan lingkungan pada komunitas vegetasi dan habitat satwa. Evaluasi dampak kerusakan lingkungan pada komunitas vegetasi dan habitat satwa.

27 Topik Penelitian Pemanfaatan Kawasan TN Sembilang Kajian tentang kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat Kajian tentang kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat Evaluasi tentang biaya hidup dan matapencarian serta seberapa jauh ketergantungan masyarakat pada kawasan Evaluasi tentang biaya hidup dan matapencarian serta seberapa jauh ketergantungan masyarakat pada kawasan Studi tentang tataguna lahan masyarakat di sekitar kawasan sehingga keluaran berupa rekomendasi penggunaan lahan. Studi tentang tataguna lahan masyarakat di sekitar kawasan sehingga keluaran berupa rekomendasi penggunaan lahan. Studi tentang etnografi masyarakat setempat yang hasilnya dapat digunakan landasan pengelola kawasan untuk pendekatan pada masyarakat. Studi tentang etnografi masyarakat setempat yang hasilnya dapat digunakan landasan pengelola kawasan untuk pendekatan pada masyarakat.

28 Topik Penelitian Pengelolaan Kawasan TN Sembilang Topik Penelitian Pengelolaan Kawasan TN Sembilang Penelitian yang berkaiatan dengan pengelolaan diharapkan akan berupa rekomendasi yang berkaitan dengan pengelolaan batas, pemanfaatan dan koordinasi. Penelitian yang berkaiatan dengan pengelolaan diharapkan akan berupa rekomendasi yang berkaitan dengan pengelolaan batas, pemanfaatan dan koordinasi. Studi tentang Geodesi dan Kartografi, output yang diperoleh berupa peta-peta mapun foto udara tentang habitat atau kawasan yang akurat Studi tentang Geodesi dan Kartografi, output yang diperoleh berupa peta-peta mapun foto udara tentang habitat atau kawasan yang akurat Studi dampak parawisata pada sumberdaya hayati, hal ini berkaitan dengan usaha untuk memperbarui peraturan untuk wisatawan Studi dampak parawisata pada sumberdaya hayati, hal ini berkaitan dengan usaha untuk memperbarui peraturan untuk wisatawan Studi dampak parawisata pada kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat, hal dapat digunakan untuk mengevaluasi kebijaksanaan tentang peran serta masyarakat dalam pengembangan keparawisatan Studi dampak parawisata pada kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat, hal dapat digunakan untuk mengevaluasi kebijaksanaan tentang peran serta masyarakat dalam pengembangan keparawisatan

29 Topik Penelitian Budidaya Pertanian, Peternakan dan Perikanan Studi dampak budidaya pertanian meliputi evaluasi berbagai sistem pertanian, perkebunan dan metode pengembangan konservasi tanah dan air Studi dampak budidaya pertanian meliputi evaluasi berbagai sistem pertanian, perkebunan dan metode pengembangan konservasi tanah dan air Studi dampak budidaya peternakan meliputi sistem peternakan tradisional dan identifikasi penyakit ternak Studi dampak budidaya peternakan meliputi sistem peternakan tradisional dan identifikasi penyakit ternak Studi dampak penangkapan ikan secara tradisional dan dampak kegiatan tambak di dalam kawasan Studi dampak penangkapan ikan secara tradisional dan dampak kegiatan tambak di dalam kawasan

30 TOPIK PENELITIAN JUDUL PENELITIANMETODEJANGKA WAKTU OUTCOME Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem 1.Studi inventarisasi jenis, pemetaan sebaran, dan klasifikasi vegetasi 2.Studi inventarisasi satwa, pemetaan sebaran jenis, analisa range sebaran satwa dan klasifikasi ekologi. 3.Studi Evaluasi dampak kerusakan lingkungan pada komunitas vegetasi dan habitat satwa. 4.Survai Kualitas Lingkungan akibat aktifitas pertambakan liar dan upaya perbaikannya 1.Survey penelitian dasar 2.Survey penelitian dasar 3.Survey penelitian dasar 4.Survey penelitian terapan 6 bulan 1.Terinventarisirnya vegetasi di kawasan TN Sembilang 2.Terinventarisirnya habitat satwa di kawasan TN Sembilang 3.Adanya informasi dampak kerusakan lingkungan terhadap habitat satwa 4.Adanya informasi dampak kerusakan lingkungan akibat pertambalan liar dan upaya mengatasinya Periode Riset I ( 2010 – 2015 ) Matrik Rancangan Kegiatan Riset Ekosistem Lahan Basah di Kawasan TN Sembilang Jangka Waktu 20 tahun TN Sembilang Jangka Waktu 20 tahun

31 Pemanfaatan Kawasan TN Sembilang 1.Kajian tentang kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat 2.Evaluasi tentang biaya hidup dan mata pencarian serta seberapa jauh ketergantungan masyarakat pada kawasan, 3.Studi tentang tataguna lahan masyarakat di sekitar kawasan sehingga keluaran berupa rekomendasi penggunaan lahan. 4.Studi tentang etnografi masyarakat setempat yang hasilnya dapat digunakan landasan pengelola kawasan untuk pendekatan pada masyarakat. 1.Survey penelitian dasar 2.Survey penelitian terapan 3.Survey penelitian dasar 4.Survey penelitian terapan 6 bulan Didapatkannya cara untuk mendoronga masyarakat untuk ikut mengelola kawasan dalam rangka meningkatkan kesejahteraannya

32 Pengelolaan Kawasan TN Sembilang 1.Studi Geodesi dan Kartografi dalam kawasan TN Sembilang 2.Studi dampak parawisata terhadap sumberdaya hayati 3.Studi dampak parawisata pada kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat 4.Studi potensi gambut dan kandungan carbon di kawasan TN Sembilang 1.Survey penelitian dasar 2. Survey penelitian terapan 3.Survey Penelitian terapan 4. Survey Penelitian terapan 6 bulan 1.Adanya informasi tentang geodesi dan kartografi di kawasan 2.Terindentifikasinya pola kearifan terhadap pengelolaan ekowisata terhadap masyarakat 3.Terindentifikasinya meningkat kesejahteraan masyarakat 4.Penerapan sistem REDD dalam kawasan dan trading carbon

33 Budidaya Pertanian, Perikanan dan Peternakan 1.Studi evaluasi berbagai sistem pertanian dan perkebunan 2.Studi metode pengembangan konservasi tanah dan air dalam budidaya pertanian 3.Studi sistem peternakan tradisional dalam masyarakat sekitar kawasan 4.Studi identifikasi penyakit ternak masyarakat sekitar kawasan 5.Studi dampak penangkapan ikan secara tradisional 6.Studi dampak kegiatan tambak di dalam kawasan  Survey dan eksperimen  Penelitian terapan 6 – 12 bulan Teridentifikasinya sistem pertanian dan perkebunan dalam kawasan Terdapatnya metode pengembangan untuk pengelolaan tanah dan air dalam kawasan Teridentifikasinta sistem peternaan dan perikanan dalam kawasan

34 TOPIK PENELITIAN JUDUL PENELITIANMETODEJANGKA WAKTU OUTCOME Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem 1.Studi biologi ikan langka yang khas di kawasan TN Sembilang 2.Studi Sifat fisika dan kimia pengembangan gula nipah dari berbagai pengaruh bahan pengumpal (CaCO3, KMnO4, CaCl2dll.) 3.Studi aplikasi senyawa antioksidan buah pedada untuk mempertahankan kesegaran dan pengawetan ikan 4.Analisis Riap Flora Mangrove Kawasan TN Sembilang 5.Analisis Perilaku burung migran terhadap kesesuaian ekosistem di kawasan TN Sembilang 1.Survai penelitian dasar 2. Eksprimen penelitian terapan 3. Eksprimen penelitian dasar 4. Survai Penelitian dasar 5. Survai Penelitian dasar 6 bulan 1.Adanya informasi ikan langka yang khas di kawasan 2.Adanya informasi teknologi bahan pengumpal dalam pembuatan gula alami 3.Adanya informasi bahan pengawet ikan alami 4.Adanya informasi Riap Flora Mangrove Kawasan TN Sembilang 5.Adanya informasi prilaku burung migran Periode Riset II ( 2016 – 2020 ) Matrik Rancangan Kegiatan Riset Ekosistem Lahan Basah di Kawasan TN Sembilang Jangka Waktu 20 tahun TN Sembilang Jangka Waktu 20 tahun

35 Pemanfaatan Kawasan TN Sembilang 1.Studi Strategi dan model pengembangan objek wisata puspa-satwa budaya dalam rangka mendukung kelestarian TN Sembilang 2.Studi pemanfaatan tanaman nipah sebagai bahan pemanis alami 3.Studi inventarisasi ikan- ikan yang tertangkap di kawasan perairan TN Sembilang 4.Kajian keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan kawasan TN Sembilang 1.Survey penelitian dasar 2.Eksprimen penelitian terapan 3.Survai Penelitian terapan 4, Survey penelitian terapan 6 bulan Didapatkannya cara untuk mendoronga masyarakat untuk ikut mengelola kawasan dalam rangka meningkatkan kesejahteraannya

36 Pengelolaan Kawasan TN Sembilang 1.Kaji Tindak Proses penyadaran dan pendidikan konservasi TN Sembilang di Sekolah dasar sekitar Kawasan 2.Akses dan kontrol perempuan pesisir terhadap sumberdaya alam dan perannya dalam kelestarian kawasan TN Sembilang 3.Studi perhitungan carbon dalam kawasan TN Sembilang dalam rangka Trading Carbon 4.Studi persepsi masyarakat terhadap keberadaan TN Sembilang 1.Eksprimen penelitian terapan 2. Survey penelitian terapan 3.Survey Penelitian terapan 4. Survey Penelitian terapan 6 bulan 1.Adanya pendidikan konservasi pada anak sekolah dasar 2. Adanya peran perempuan pesisirdalam pelestarian lingkungan TNS 3.Sudah diketahui kandungan carbon dalam trading carbon 4.Adanyaperan serta masyarakat dalam pengelolaan TNS

37 Budidaya Pertanian, Perikanan dan Peternakan 1.Studi Pengembangan Kelompok Pembibitan Mangrove Masyarakat sekitar TN Sembilang 2.Studi Tata Ruang Pertambakan yang Ramah Lingkungan 3.Studi Penentuan Habitat untuk Daerah Suaka Ikan 4.Studi penerapan sistem budidaya pertanian organik di zona penyangga 5.Studi penerapan sistem pertanian terpadu atau integrated farming di zona penyangga 6.Studi budidaya kepiting bakau  Survey dan eksperimen  Penelitian terapan 6 – 12 bulan Teridentifikasinya sistem pertanian dan perkebunan dalam kawasan Terdapatnya metode pengembangan untuk pengelolaan tanah dan air dalam kawasan Teridentifikasinta sistem peternaan dan perikanan dalam kawasan

38 TOPIK PENELITIAN JUDUL PENELITIANMETODEJANGKA WAKTU OUTCOME Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem 1.Studi kekayaan Biodiversitas di perairan sungai dalam kawasan TN Sembilang 2.Studi struktur dan komposisi hutan rawa gambut di kawasan Tn Sembilang 3.Studi potensi pohon/vegetasi unggulan sebagai penghasil kayu dalam kawasan 4.Studi debit dan kualiras air dalam kawasan TN Sembilang 5.Studi inventasisasi SDAyang sering dirambah dan jumlah perambah dalam kawasan TN sembilang 6.Studi penyebab kebakaran hutan dan lahan gambut dalam kawasan TN sembilang 1.Survai penelitian dasar 2. Survai penelitian dasar 3. Survai penelitian dasar 4. Survai dan eksprimen Penelitian dasar 5. Survai Penelitian dasar 6. Survai Penelitian dasar 6 bulan 1.Adanya informasi kekayaan Biodiversitas di perairan sungai dalam kawasan 2.Adanya informasi struktur dan komposisi hutan rawa gambut di kawasan 3.Adanya informasi potensi pohon/vegetasi unggulan sebagai penghasil kayu dalam kawasan 4.Adanya informasi debit dan kualiras air dalam kawasan 5.Adanya informasi SDAyang sering dirambah dan jumlah perambah dalam kawasan 6.Adanya informasi penyebab kebakaran hutan dan lahan gambut dalam kawasan Periode Riset III ( 2021 – 2025 ) Matrik Rancangan Kegiatan Riset Ekosistem Lahan Basah di Kawasan TN Sembilang Jangka Waktu 20 tahun TN Sembilang Jangka Waktu 20 tahun

39 Pemanfaatan Kawasan TN Sembilang 1.Studi pengembangan vegetasi asli kawasan untuk tanaman reibosasi 2.Studi pemasaran potensi wisata alam (ekowisata) kepada masyarakat 3.Survai kubah gambut yang terdapat dalam kawasan TN Sembilang 4.Analisis nilai ekonomi dan ekologi kawasan TN Sembilang 5.Studi sifat fisika dan kimia ekstrak buah pedada sebagai sumber senyawa potensial antioksidan 1.Survey dan eksprimen penelitian terapan 2.Survai penelitian terapan 3.Survai Penelitian dasar 4, Survey penelitian dasar 5. Eksprimen penelitian dasar 6 bulan 1.Diperoleh vegetasi asli kawasan untuk tanaman reibosasi 2.Diperoleh metode pamasaran wisata alami di kawasan 3.Mengetahui sebaran dan kedalam kubah gambut dalam kawasan 4.Mengetahui nila ekonomi dan ekologi dari kawasan 5.Diperoleh senyawa antioksidan

40 Pengelolaan Kawasan TN Sembilang 1.Kajian sistem penataan zona kawasan TN Sembilang untuk revitalisasi kawasan 2.Studi kearipan teknologi konservasi lingkungan masyarakat 3. Studi prilaku penggunaan potensi flora dan fauna dalam penanganan kesehatan keluarga 4.Studi inventarisasi adat kebiasaan setempat yang terkait dengan pelestarian kawasan TN sembilang 5.Studi strategi pengendalian kebakaran hutan dilahan gambut dalam kwasan TN Sembilang 1.Survai penelitian terapan 2. Survey penelitian terapan 3, Survey Penelitian terapan 4. Survey Penelitian terapan 5, Survey Penelitian terapan 6 bulan 1.Tertatanya dengan baik zona kawasan TN Sembilang 2. Adanya informasi kearipan teknologi konservasi lingkungan masyarakat 3.Sudah diketahuipotensi flora dan fauna dalam penanganan kesehatan 4.Adanyaperan serta masyarakat dalam pengelolaan TNS 5.Diketahui strategi pengendalian kebakaran hutan dilahan gambut dalam kwasan

41 Budidaya Pertanian, Perikanan dan Peternakan 1.Studi pembenihan dan penangkaran jenis flora dan fauna yang berpotensi ekonomis 2.Studi penerapan silvofisry pada masyarakat sekitar kawasan 3.Studi penerapan Agroforesty pada masyarakat sekitar kawasan 4.Studi pemanfaatan limbah tanaman sebagai pupuk dan pestisida alami 5.Studi penerapan Pertanian terpadu pada masyarakat sekitar kawasan  Survey dan eksperimen  Penelitian terapan 6 – 12 bulan Diperoleh benih atau bibit yang mempunyai nilai ekonomis 1.Silvofisry telah diterapkan masyarakat sekitar kawasan 2.Agroforesry telah diterapkan masyarakat sekitar kawasan 3.Masyarakat dapat memanfaatkan limbah tanaman sebagai pupuk dan pestisida alami 4.Pertanian terpadu telah diterapakan masyarakat sekitar kawasan

42 TOPIK PENELITIAN JUDUL PENELITIANMETODEJANGKA WAKTU OUTCOME Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem 1.Studi inventarisasi potensi secara detil yang berperan dalam kegiatan ekologi, ekonomi, sosial budaya 2.Survai kualitas lingkungan TN Sembilang akibat aktifitas penebangan liar dan pertambakan liar serta upaya perbaikannya 3.Analisis prilaku fauna terhadap kesesuaian ekosistem di TN Sembilang 4. Studi inventarisasi flora dan fauna di zona pemanfaatan wisata alam 5.Studi pengelolaan ekowisata berbasis masyarakat lokal 1.Survai penelitian dasar 2. Survai penelitian dasar 3. Survai penelitian dasar 4. Survai Penelitian dasar 5. Survai Penelitian terapan 6 bulan 1.Adanya informasi potensi secara detil yang berperan dalam kegiatan ekologi, ekonomi, sosial budaya 1.Diketahui kualitas lingkungan TN Sembilang akibat aktifitas penebangan liar dan pertambakan liar serta upaya perbaikannya 2.Diketahui prilaku fauna terhadap kesesuaian ekosistem di TN Sembilang 3. Diketahui flora dan fauna yang ada di zona pemanfaatan wisata alam 4.Diterapkan pengelolaan ekowisata berbasis masyarakat lokal Periode Riset IV ( 2026 – 2030 ) Matrik Rancangan Kegiatan Riset Ekosistem Lahan Basah di Kawasan TN Sembilang Jangka Waktu 20 tahun TN Sembilang Jangka Waktu 20 tahun

43 Pemanfaatan Kawasan TN Sembilang 1.Studi pengembangan vegetasi asli kawasan untuk tanaman reibosasi 2.Studi pemasaran potensi wisata alam (ekowisata) kepada masyarakat 3.Survai kubah gambut yang terdapat dalam kawasan TN Sembilang 4.Analisis nilai ekonomi dan ekologi kawasan TN Sembilang 1.Survey dan eksprimen penelitian terapan 2.Survai penelitian terapan 3.Survai Penelitian dasar 4, Survey penelitian dasar 6 bulan 1.Diperoleh vegetasi asli kawasan untuk tanaman reibosasi 2.Diperoleh metode pamasaran wisata alami di kawasan 3.Mengetahui sebaran dan kedalam kubah gambut dalam kawasan 4.Mengetahui nila ekonomi dan ekologi dari kawasan

44 Pengelolaan Kawasan TN Sembilang 1.Kajian sistem penataan zona kawasan TN Sembilang untuk revitalisasi kawasan 2.Studi kearipan teknologi konservasi lingkungan masyarakat 3. Studi prilaku penggunaan potensi flora dan fauna dalam penanganan kesehatan keluarga 4.Studi inventarisasi adat kebiasaan setempat yang terkait dengan pelestarian kawasan TN sembilang 5.Studi strategi pengendalian kebakaran hutan dilahan gambut dalam kwasan TN Sembilang 1.Survai penelitian terapan 2. Survey penelitian terapan 3, Survey Penelitian terapan 4. Survey Penelitian terapan 5, Survey Penelitian terapan 6 bulan 1.Tertatanya dengan baik zona kawasan TN Sembilang 2. Adanya informasi kearipan teknologi konservasi lingkungan masyarakat 3.Sudah diketahuipotensi flora dan fauna dalam penanganan kesehatan 4.Adanyaperan serta masyarakat dalam pengelolaan TNS 5.Diketahui strategi pengendalian kebakaran hutan dilahan gambut dalam kwasan

45 Budidaya Pertanian, Perikanan dan Peternakan 1.Studi budidaya nibung untuk pelestarian kawasan TN Sembilang 2.Studi pembenihan dan penangkaran jenis flora dan fauna yang berpotensi ekonomis 3.Studi penerapan silvofisry pada masyarakat sekitar kawasan 4.Studi penerapan Agroforesty pada masyarakat sekitar kawasan 5.Studi pemanfaatan limbah tanaman sebagai pupuk dan pestisida alami 6.Studi penerapan Pertanian terpadu pada masyarakat sekitar kawasan  eksperimen  Penelitian terapan 6 – 12 bulan 1. Diperoleh teknologi budidaya tanaman nibung 2. Diperoleh benih atau bibit yang mempunyai nilai ekonomis 3. Silvofisry telah diterapkan masyarakat sekitar kawasan 4. Agroforesry telah diterapkan masyarakat sekitar kawasan 5. Masyarakat dapat memanfaatkan limbah tanaman sebagai pupuk dan pestisida alami 6. Pertanian terpadu telah diterapakan masyarakat sekitar kawasan


Download ppt "MEWUJUDKAN TN SEMBILANG SEBAGAI STASIUN RISET EKOSISTEM LAHAN BASAH DAN RANCANGAN RISET DASAR DAN TERAPAN JANGKA WAKTU 20 TAHUN TIM FAKULTAS PERTANIAN."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google