Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

MENYOAL PENYEBAB, DAN KEBIJAKAN PENANGGULANGAN PENGANGGURAN YANG PERSISTEN.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "MENYOAL PENYEBAB, DAN KEBIJAKAN PENANGGULANGAN PENGANGGURAN YANG PERSISTEN."— Transcript presentasi:

1 MENYOAL PENYEBAB, DAN KEBIJAKAN PENANGGULANGAN PENGANGGURAN YANG PERSISTEN

2 PENDAHULUAN Di dalam satu laporannya, United Nations mengatakan bahwa masalah krusial dan sangat provokatif yang dihadapi oleh pasar kerja dunia termasuk Indonesia tentunya sampai saat ini adalah masalah pengangguran. Silalahi menyatakan bahwa pengangguran juga mempunyai efek domino, dimana orang akan mengurangi pengeluaran untuk pembelian barang karena mereka menganggur, yang akan mengakibatkan produsen dan pedagang barang tertentu kehilangan pekerjaan. Layard dan Calmfors menambahkan bahwa krusialnya masalah pengangguran juga ditunjukkan oleh adanya kecenderungan sifat pengangguran yang persisten, yaitu suatu keadaan dimana tingkat pengangguran cenderung terus meningkat.

3 M E T O D E Paper ini merupakan pengamatan dan kajian empiris yang didasarkan pada tinjauan literatur yang tersedia dan dapat ditemukan mengenai fenomena pengangguran, penyebabnya dari berbagai pandangan.

4 Pengangguran yang krusial dan provokatif Penggunaan konsep pengangguran adalah proporsi angkatan kerja yang tidak memiliki pekerjaan tetapi aktif mencari pekerjaan mengabaikan konsep pengangguran sukarela. Oleh karena itu menjadi sangat penting untuk mengulas tentang pengangguran terpaksa dan pengangguraan putus asa. Pengangguran terpaksa dan pengangguraan putus asa dapat terjadi karena: pertama, adanya orang-orang beralih pekerjaan atau yang baru memasuki pasar kerja; kedua, karena ketidak sesuaian antara keterampilan kerja yang dibutuhkan dangan keterampilan kerja yang dimiliki oleh pencari kerja, atau ketidak sesuaian antara lokasi pekerjaan dan pencari kerja (pengangguran struktural); dan ketiga, karena pekerjaan yang tersedia sangat sedikit karena lambatnya pertumbuhan ekonomi (pengangguran siklis).

5 POLA TINGKAT PENGANGGURAN YANG DIANGGAP PERSISTEN Tingkat pengangguran persistensi yakni suatu keadaan dimana tingkat pengangguran cenderung meningkat. Tetapi bila memperhatikan teori yang mengatakan bahwa ada tingkat pengangguran yg secara alamiah dianggap akan tetap ada yakni pada kisaran 4%-6%, karena full employment tidak identik dengan zero unemployment.

6 PENYEBAB TIMBULNYA PENGANGGURAN Penyebab terjadinya pengangguran adalah lebih sedikitnya pekerjaan daripada yang membutuhkan. Dalam pusaran mencari penyebab ini, pendapat kelompok klasik mengatakan bahwa pengangguran merupakan masalah makroekonomi. Menurut mereka pengangguran adalah fenomena jangka pendek sebagai akibat dari diskrepansi antara tingkat harga dan tingkat upah. Kelompok ini jelas-jelas sangat concern terhadap kebijakan ketenagakerjaan. Sementara itu, kelompok yang lain mengatakan bahwa pengangguran terjadi adalah karena tidak mampunya pertumbuhan ekonomi menyediakan pekerjaan yang mencukupi.

7 LANJUTAN... Ada pula kelompok yang menunjuk semua faktor di dalam ekonomi sebagai penyebab dapat terjadinya pengangguran. Para penganut pandangan Keynes misalnya, berpendapat bahwa pengangguran adalah hasil dari beberapa faktor yang diklasifikasikan sebagai struktural, musiman, siklikal, friksional, dan demand-deficient. Diantara faktor-faktor tersebut yang paling penting adalah demand-deficient yang mengatakan bahwa pengangguran dapat terjadi juga di dalam jangka panjang karena kurangnya permintaan agregat. Melberg mengungkapkan bahwa pengklasifikan pengangguran apakah menurut teori makro ataupun mikro adalah salah. Menurutnya, perbedaan antara ekonomi makro-mikro adalah ambigu karena makroekonomi dibangun di atas mikroekonomi, dan pengangguran adalah fenomena yg sangat kompleks yang diakibatkan baik oleh faktor makro maupun mikro.

8 IMPLIKASI KEBIJAKAN Menurut para penganut keynes, menyimpulkan bahwa penanggulangan pengangguran harus dilakukan secara holistik agar bangsa ini dapat bergerak menuju lingkaran kebajikan (virtous circle), dimana perbaikan ekonomi terjadi secara berkesinambungan dan membawa perekonomian Indonesia pada tingkat kesejahter aan yg lebih tinggi. Sejak saat ini, kebiasaan untuk menunjuk satu faktor tertentu saja sebagai penyebab terjadinya pengagguran tidak tepat lagi sama sekali. Selanjutnya, bila kebijakan pembangunan sudah dijalankan secara holistik, dimana kebijakan ekonomi makro dan mikro sudah berjalan seirama dan saling mendukung, masih diperlukan satu komitmen mendasar dari seluruh pelaksana pembangunan, yaitu bahwa pembangunan tersebut harus didasarkan pada atau mempertimbangkan kesempatan kerja, atau pembangunan berbasis kesempatan kerja.

9 LANJUTAN... Bagaimana struktur pembangunan seperti ini harus dibangun? Ada tiga hal yang harus dilakukan. Pertama, harus disusun program-program pokok yang langsung maupun tidak langsung berpengaruh positif terhadap penciptaan kesempatan kerja, seperti :  Penciptaan lingkungan usaha yang baik dengan mengutamakan masuknya foreign direct investment yang berkualitas.  pemberdayaan sektor-sektor tradeable seperti pertanian, industri pengolahan, dan jasa agar dapat tumbuh diatas atau setidaknya menyamai pertumbuhan PDB.  Pengembangan wilayah untuk mengurangi kesenjangan antar wilayah. Kedua, membentuk mainsteraming program-program yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan penciptaan kesempatan kerja yang tersebar yang tersebar di berbagai instansi Ketiga, kesadaran dan kemauan baik dari seluruh pelaksana program untuk melakukan pembaruan, yakni melakukan suatu perubahan bukan karena tekanan dari luar, melainkan karena dorongan dari dalam, atau yang oleh Osborne disebut sistem pembaruan diri.

10 KESIMPULAN Apabila struktur pembangunan sebagaimana dijelaskan di atas dapat dibangun, maka jumlah pengangguran akan dapat ditekan secara signifikan, yang berarti juga akan menurunkan tingkat pengangguran sehingga Indonesia dapat terlepas dari cengkeraman persistensi pengangguran serta dapat bergerak menuju lingkaran kebijakan yang kita cita-citakan. Dengan demikian, tentu saja downward rigidity upah nominal, militansi serikat pekerja/serikat buruh dan ketentuan mengenai pesangon tidak lagi menjadi faktor yang menakutkan bagi kalangan pelaku usaha. Pemerintah juga tidak perlu terpaksa menempuh langkah yang tidak populer dengan menurunkan upah pekerja, karena bagaimanapun, bila upah diturunkan, yang akan terjadi adalah seperti hipotesis Keynes mengenai kepedulian pekerja/buruh dan pengusaha terhadap keadilan sosial yang menjadi salah satu penyebab adanya downward rigidity; dan selain itu, pada dasarnya memang upah bersifat asimetrik atau harus membatasi jumlah dan ruang gerak serikat pekerja/serikat buruh dan lain-lain yang bersifat kontra produktif.

11 Mengurangi pengangguran di Indonesia dengan model elastisitas pertumbuhan lapangan kerja Daniel Suryadarma, Asep Suryahadi, Sudarno Sumarto SMERU Research Institute January 2007

12 Para ahli berpendapat bahwa sebagian besar pengangguran di Indonesia masih muda dan berpendidikan rendah Dalam tulisan ini, menyelidiki apakah pertumbuhan di berbagai sektor suatu perekonomian memiliki perbedaan elastisitas pekerjaan dengan menggunakan dataset survei dari Indonesia. Perekonomian Indonesia diklasifikasikan menjadi tiga sektor:, pertanian, industri, dan jasa, dan dua lokasi: perkotaan dan pedesaan Abstrak

13 pendahuluan Pengangguran terbuka merupakan masalah utama yang harus di atasi oleh setiap negara berkembang Secara makro pertumbuhan ekonomi dapat meningkatkan elastisitas lapangan pekerjaan masyarakat miskin yang tidak bekerja dan berpendidikan rendah cenderung menjadi pekerja putus asa (Kingdon & Ksatria 2006; Suryadarma, Suryahadi, Sumarto & 2005)

14 Model elastisitas pertumbuhan lapangan kerja terhadap pengurangan pengangguran Model elastisitas pertumbuhan lapangan kerja dapat di lihat dari sektor ekonomi di daerah perkotaan dan pedesaan. Yaitu dari sektor industri perkotaan,sektor jasa dan pertanian

15 Lanjutan Meningkatnya pertumbuhan industri perkotaan mengurangi tenaga kerja di pedesaan namun meningkatkan tenaga kerja di perkotaan Meningkatnya pertumbuhan pertanian dapat mengurangi pengagguran di pedesaan tetapi belum tentu mengurangi pengangguran di perkotaan

16 Meningkatnya pertumbuhan jasa di perkotaan dapat meningkatkan tenaga kerja di perkotaan dan sebagian kecil di pedesaan pertumbuhan pedesaan di sektor apapun tidak akan memiliki dampak secara langsung terhadap lapangan kerja di daerah perkotaan

17 metodologi menggunakan data dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), dan satu modul dari Survei Penduduk Antarsensus (Supas), Keduanya diterbitkan oleh BPS (Statistik Indonesia).

18 Lanjutan.... data Sakernas dikumpulkan di tingkat provinsi dalam enam tahun: 1987, 1990, 1993, 1996, 1999, dan menggunakan tingkat provinsi Produk Regional Domestik Bruto (PDRB) yang diterbitkan oleh BPS periode

19 Hasil analisis Pertambahan populasi penduduk dapat meningkatkan pengangguran Peneliti menyebutkan bahwa perkembangan lapangan kerja di desa tidak menarik pekerja di perkotaan Pertumbuhan ekonomi semakin tinggi, pengangguran semakin berkurang

20

21 Kesimpulan memberikan kontribusi untuk tingkat makro tentang pengangguran terbuka melihat elastisitas pertumbuhan kerja dari sektor ekonomi di daerah perkotaan dan pedesaan sebagian besar pengangguran muda, berpendidikan tinggi, dan berpengalaman,dan masih tinggal dengan orangtua mereka sektor jasa akan sangat cocok karena menyerap sebagian besar berpendidikan tinggi pekerja pertanian masih mendominasi lapangan kerja di daerah pedesaan, terutama di kalangan rendah pendidikan Sektor industri dapat menyerap tenaga kerja di perkotaan

22 Tanggapan/rekomendasi Perlu di tindak lanjuti apakah benar Perkembangan lapangan kerja di desa tidak menarik pekerja di perkotaan Perlu di tindak lanjuti kembali dampak langsung dari perbedaan pendidikan yang masing-masing memiliki proporsi pengagguran yang berbeda Perlu di perjelas lagi mengenai hubungan pertumbuhan tenaga kerja,pertumbuhan ekonomi dan tingkat partisipan tenaga kerja

23 EVOLUSI PASAR TENAGA KERJA PEDESAAN CHINA Scott Rozelle,Professor, Alan de Brauw, Assistant Professor, Department of Agricultural and Resource Economics University of California Davis, CA 95616

24 Abstract Menurut survei rumah tangga di China, pendapatan diluar sektor pertanian meningkat dan dipercepat selama akhir 1990-an. Para peneliti meyakini bahwa dalam perekonomian di China masih terdapat kekurangan. Migrasi telah menjadi kegiatan diluar pertanian yang paling umum di daerah mayarakat China Tenaga kerja yang dominan di daerah China adalah pekerja peremuan, walaupun presentasi harapan pekerja laki-laki paling tinggi daripada perempuan. Untuk mengurangi pengangguran disektor pertanian, pemerintah China mempekerjakan masyarakat pedesaan untuk dipekerjakan disetor industri sebagai salah satu alternatif mengurangi pengangguran. Metode yang digunakan dalam mengatasi ketanaga kerjaan adalah “Modeling the Determinants of Off-farm Employment” dan “Results of the Multivariate Analysis”

25 pendahuluan  Apakah tenaga kerja pedesaan mampu untuk menumbuhkan perekonomian di China???  Sejak reformasi ekonomi dan politik dimulai di China pada akhir tahun 1970, telah mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat (Putterman, 1992; Perkins, 1994).  Pasar tenaga kerja pedesaan selama dua puluh tahun terakhir telah memberikan kontribusi terhadap keberhasilan ekonomi pedesaan (Solinger, 1999; Barat dan Zhao, 2000; Bank Dunia,2001).  munculnya pasar tenaga kerja pedesaan lebih penting dari perannya dalam menyediakan penduduk pedesaan dengan sarana untuk meningkatkan pendapatan mereka (Todaro, 1976; Stark, 1976).  Tanpa pasar tenaga kerja pedesaan yang berjalan dengan baik, maka susah untuk melakukan proses produksi di sektor industri.

26  Karakteristik perubahan pola tenaga kerja China yaitu, pergeseran ke arah luar pertanian tenaga kerja didominasi oleh pekerja muda  Salah satu indikator yang paling dasar dari pasar tenaga kerja adalah kesehatan, tingkat kesempatan kerja, mendukung hipotesis bahwa pasar tenaga kerja memiliki tingkatan dari waktu ke waktu  Di negara China para pekerja muda di pedesaan meninggalkan rumah untuk bermigrasi ke perkotaan untuk mendapatkan pekerjaan di sektor Industri, rata-rata pekerja di sektor indutri berumur tahun.  Sektor pertanian mempunyai keterbatasan pada perluasan area pertanian.

27 Evolusi pasar tenaga kerja China  Perluasan Pasar Tenaga Kerja Pedesaan, persentase CNRS pada pasar tenaga kerja di luar pertanian meningkat. Meskipun adanya krisis keuangan asia pedesaan di luar pertanian pertumbuhan lapangan kerja terus berkembang antara 1995 dan Untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian para pekerja di pedasaan banyak yang berpindah ke luar provinsi (Rozelle scot, 1999)  Kontur gerakan buruh diciptakan dari luar pertanian sejarah kerja kelompok usia yang berbeda memperkuat tren ini dan menunjukkan salah satu yang paling mencolok karakteristik perubahan pola China kerja, yaitu, pergeseran ke arah luar pertanian kerja didominasi oleh pekerja muda

28  Disaggregating evolusi dari pasar tenaga kerja pedesaan bahwa pasar tenaga kerja menyediakan pendapatan lebih dari hanya diluar pertanian pedesaan penduduk. Tren dari jenis pekerjaan menunjukkan dengan jelas bahwa tujuan target pekerja selama 20 tahun telah bergeser dari pedesaan ke perkotaan. migrasi telah muncul sebagai jenis yang paling dominan aktivitas tenaga kerja, tingkat partisipasi tenaga kerja di provinsi ini telah dipercepat. Dalam analisis deskriptif ini dengan menggunakan 2 kemungkinan : 1). perkembangan pasar tenaga kerja telah mempengaruhi tingkat partisipasi perempuan dalam kegiatan diluar pertanian. 2). pasar kerja dapat memfasilitasi geografis spesialisasi.

29  Pengaruh Pengembangkan Pasar Tenaga Kerja Pedesaan tingkat keterlibatan di sektor luar pertanian, tingkat partisipasi bagi perempuan tumbuh lebih perlahan daripada pria. Tingkat partisipasi meningkatnya perempuan telah didorong dengan masuknya perempuan ke dalam semua kategori pekerjaan, meskipun keuntungan mutlak paling mencolok berasal dari migrasi. kenaikan pekerjaan perempuan bisa saja terjadi, sebagai jenis-jenis industri yang memiliki preferensi untuk keterampilan perempuan naik. China mungkin menghasilkan generasi baru penduduk pedesaan yang memiliki lebih sedikit pengetahuan dikarenakan layanan pendidikan, kesehatan kurang memadai di daerah pedesaan. Masyarakat pedesaan sendiri banyak yang bermigrasi didaerah perkotaan.

30 METODELOGI  Modeling Penentu Ketenagakerjaan luar pertanian Untuk menjelaskan faktor-faktor penentu berbagai jenis pekerjaan di luar pertanian antara sampel individu di desa dan untuk memeriksa data setelah mempertimbangkan efek multivariat dengan menggunakan estimator efek logit kondisional dikembangkan oleh McFadden (1974). Hipotesis yang muncul adalah jenis kelamin seseorang dan tingkat umur mempengaruhi partisipasi. Menurut pengamatan bahwa dalam catatan pekerjaan dari tahun pekerja pedesaan selalu ikut partisipasi observasi dari 59 desa digunakan untuk menjelaskan partisipasi dalam kerja mandiri di desa.

31  Hasil Analisis Multivariat Dalam analisis Multivaria meliputi beberapa komponen yaitu : 1. Pekerja (partisipasi) seseorang yang ikut terjun langsung dalam menambah jumlah produksi. 2. Desa jumlah desa yang terdapat pada wilayah tertentu akan mempengaruhi jumlah pekerja yang dapat di salurkan untuk memenuhi jumlah permintaan tenaga kerja. 3. Individu individu atau perorangan mampu melakukan suatu keputusan untuk bekerja dalam setiap bidang. 4. Jenis kelamin (gender) Jenis kelamin biasanya di perlukan dalam posisi suatu pekerjaan 5. Tahun lulus Dalam sektor industri mencari tenga kerja yang masih mudah berkisar umur tahun atau fresh graduate

32 HASIL ANALISIS Hasil analisis yang diperoleh bahwa untuk mengurangi pengangguran di sektor pertanian masyarakat pedesaan bermigrasi ke sektor industri atau dengan kata lain perpindahan penduduk desa ke kota. Dalam memepertimbangkan tenaga kerja yang akan diambil adalah umur, jenis kelamin, tahun lulus. Untuk menambah hasil produksi lebih banyak. Jumlah penduduk akan meningkat di daerah perkotaan.

33 Jumlah pendapatan perkapita masyarakat pedesaan akan meningkat tetapi untuk jumlah PDRB rata-rata tetap (kenaikan tidak terlalu tajam). Dikerenakan penduduk pedesaan membelanjakan hasil pendapatannya ke daerah kota. Model yang digunakan adalah Modeling the Determinants of Off-farm Employment dan Results of the Multivariate Analysis. Untuk meningkatkan sektor pertanian, dibidang pendidikan menciptakan teknologi untuk meningkatkan jumlah pertanian. Yang disalurkan oleh penduduk perkotaan. Pendidikan, kesejahteraan masyarakat, tingkat pendapatan perkapita merupakan tolak ukur dari daerah pedasaan yang makmur.

34 KESIMPULAN  Analisis deskriptif dalam jurnal ini menggambarkan pasar tenaga kerja yang memungkinkan perpindahan menjadi bentuk dominan dari kegiatan luar pertanian, menjadi semakin di dominasi oleh pekerja mudah, pekerja perempuan yang dulunya tidak ikut partisipasi dan daerah atau desa yang mempunyai lahan pertanian luas serta berpenduduk tinggi lebih cepat berkembang.  Pekerja muda sangat kecil kemungkinannya untuk bekerja di pertanian daripada pekerja yang lebih tua.  Pekerja di pedesaan juga menunjukkan tanda-tanda spesialisasi terutama ketika kita meneliti perilaku mereka bekerja menurut kelompok umur dan lokasi desa mereka.  Dalam analisis multivariat, kami menemukan dukungan kuat untuk semua deskriptif temuan dan menunjukkan bahwa banyak dari tren yang konsisten dengan munculnya pasar tenaga kerja yang dapat mengubah perekonomian China menjadi lebih kuat.


Download ppt "MENYOAL PENYEBAB, DAN KEBIJAKAN PENANGGULANGAN PENGANGGURAN YANG PERSISTEN."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google