Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

BERIMAN DALAM MASYARAKAT MAJEMUK Disampaikan pada Diklat Fasilitator Guru Agama Katolik SMP Jakarta, 23 Maret 2011 Oleh Drs. Natanael Sesa, M.Si 1.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "BERIMAN DALAM MASYARAKAT MAJEMUK Disampaikan pada Diklat Fasilitator Guru Agama Katolik SMP Jakarta, 23 Maret 2011 Oleh Drs. Natanael Sesa, M.Si 1."— Transcript presentasi:

1 BERIMAN DALAM MASYARAKAT MAJEMUK Disampaikan pada Diklat Fasilitator Guru Agama Katolik SMP Jakarta, 23 Maret 2011 Oleh Drs. Natanael Sesa, M.Si 1

2 PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK 1.Mengajarkan dan mewariskan pengetahuan, keyakinan, dan praktek Agama Katolik, dengan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. 2.Menyiapkan siswa menjadi warga masyarakat majemuk yang toleran, mampu bekerjasama dengan sesama warga masyarakat. 3.Menyiapkan siswa menjadi warga negara yang kritis dan suportif. 4.Mendidik siswa menjadi warga masyarakat yang makin mondial dalam era globalisasi. 2

3 PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK Faktor “Kunci keberhasilan” : 1.Materi :  Substansi (apa yang disajarkan)  Kurikulum  Metodologi (bagaimana mengajarkan) 2.Pendidik :  Wawasan/ penguasaan bahan bahan ajar  Keterampilan metodologis  kreatifitas  Spiritualitas  keaksian hidup/iman 3.“Lingkungan strategis” (faktor eksternal) 3

4 BERIMAN DALAM MASYARAKAT MAJEMUK 1.Agama dan Iman :  Agama (yang berdasarkan Wahyu) : berasal dari Tuhan, tetapi praktek agama tidak dapat disamakan dengan kehendak Tuhan.  Hubungan antara Iman dan Agama identik dengan hubungan antara Cinta dengan aneka ungkapan cinta 2.Praktek Agama 4

5 2. Beberapa Jenis Praktek Agama :  Menunjukkan kontak khusus dengan Tuhan (kelihatan dalam doa tata ibadat dengan pelbagai caranya).  Memperlihatkan bahwa seseorang merupakan bagian dari suatu persekutuan jemaah (tampak dalam kerukunan antara rekan-rekan se-jemaah).  Mewujudkan cinta konkrit seseorang kepada manusia lain demi imannya (misalnya dalam saling menghibur, saling membantu kebutuhan materi).  Mengungkapkan keyakinan intelektual mengenai kebenaran-kebenaran iman (muncul dalam tulisan, pemikiran dan diskusi mengenai iman). 5

6 Beriman ……… 3. Pengaruh Masyarakat  Dalam praktek agama, ada segi Ilahi yang mutlak, dan segi manusiawi yang nisbi  Kemanusiawian praktek agama mengikuti hukum sosial, dipengaruhi oleh gejolak dan adat istiadat masyarakat.  Bentuk praktek agama perlu disesuaikan dengan perkembangan dan situasi konkrit, dengan mengingat “tanda-tanda jaman” dalam rangka “pembumian segi Ilahi” yang mutlak. 6

7 DISKUSI KELOMPOK Mengenali – memahami tanda-tanda Jaman Indonesia :  Apa saja yang menjadi tanda-tanda jaman Indonesia kini dan ke depan yang berpengaruh terhadap pendidikan Agama (kemanusiaan, ekonomi, politik, agama, …) 7

8 TANDA JAMAN MASYARAKAT INDONESIA : TANTANGAN AGAMA 1.Peningkatan taraf hidup - Materialisme : materi sebagai ukuran “kemajuan” 2.Persaingan ketat di bidang ekonomi : keterbatasan lapangan kerja - pengangguran intelektual 3.“Kegamangan Agama” :  Formalisme /simbolisme - Sekularisme  “Politisasi”  kekuasaan dan ekonomi.  Fundamentalisme  “gelora syariah” 4.Peranan IPTEK  mendorong rasionalitas 5.Kebersamaan dan Otentisitas dalam era global 8

9 HUBUNGAN AGAMA - NEGARA 1.Dua ekstrim : Neg. Agama – Neg. Sekuler. 2.Indonesia, Negara ber-Kementerian Agama: a. Bukan negara agama, bukan negara sekuler. b.Dinamika Posisi Pemerintah agama dipengaruhi oleh “kepentingan” Pemerintah : Politik Agama 9

10 POLITIK AGAMA Pra Kemerdekaan : – Peranan Agama dalam perjuangan kemerdekaan sangat besar. – Jaman Jepang (“Shumubu”): Mobilisasi agama untuk kepentingan politik. Pasca Kemerdekaan : – Tanpa Kementerian Agama : 3 Sept 1945 – 3 Januari 1946 – Sukarno : “Agama merupakan unsur mutlak dalam revolusi Indonesia dan Nation building”  mobilisasi Agama, perhatian terhadap Katolik sangat besar. – Suharto : memadukan politik mobilisasi agama ala Shumubu dan Surveilance ala Snouck Hurgronje (pemilahan Islam ritual dan Islam politik) – Era Reformasi : Sila Pertama Pancasila dan kementerian agama mengarah pada konfessionalisasi agama dengan munculnya sejumlah UU, PP, dan Perda berbasis agama. 10

11 Tradisi Katolik : Kerjasama Agama - Negara 1.Pandangan tentang hubungan Agama dan Negara (berdasarkan “tradisi”)  Pada abad pertengahan, Kristianitas dianggap sebagai satu sistem yang sangat dominan dan mengontrol segala bentuk kehidupan manusia, lalu (Eropa) memutuskan menjalani hidup sekuler dan memisahkan agama dari kehidupan sosial. 11

12 Tradisi Katolik ………  Eropa mengarah pada negara sekuler dengan menyingkirkan Gereja Katolik dari panggung politik dan sosial kemasyarakatan. Sekularisme menimbulkan: (1)Ketidakacuhan religious di antara orang Kristen. (2)Hilangnya perasaan transenden dalam kehidupan. (3)Relativisme etik, (4)Ketidakpastian moral, (5)Kebingungan teologi. 12

13 Tradisi Katolik …….. 2. Kembali ke ajaran klasik kristiani Keinginan untuk menghadirkan kembali agama (Gereja) dalam ranah politik diungkapkan oleh presiden Akademi Kristen Ceko, Praha, Mgr. Thomas Halik dalam Dialog antaragama : Mempromosikan peradaban yang harmonis dalam masyarakat plural. Namun Harapan itu belum bisa dipenuhi karena pembatasan negara yang kuat. “Upaya melibatkan kembali agama ke ranah publik di negara Barat yang sekuler memang tak mudah. Kelindan antara agama dan negara abad pertengahan masih menyisakan trauma dan ketakutan” (Kompas, Rabu 23 Juni 2010, hal. 5). 13

14 PENDIDIKAN AGAMA 1.Beberapa Pandangan :  Eric Promm : Agama Hukanis dan Agama Otoriter, agama wahyu cenderung otoriter, eksklusif karena klaim penyelamatan dan kebenaran.  John Michletwait dan Adrian Woorlridge : (1) makin masyarakat terdidik, makin lalai dalam agama, (2) Masy selalu berharap akan merasa lebih beragama jika makin terdidik.  Jika pendidikan agama berorientasi “transfer ilmu”, dan kurang menumbuhkan tranformasi nilai agama, maka akan mengarah pada kekerasan  peran GA 14

15 Pendidikan agama ….. 2.Menjadi Guru Agama (Katolik) Profesional:  Bakat, Panggilan jiwa dan idealisme  Sadar dan orientasi pada mutu  Kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan  Kompeten  Keseimbangan penghasilan dengan prestasi  “Bersih” (menjunjung tinggi “NILAI”, rasional, berNURANI)  Sensus catolicus – militransi iman 15


Download ppt "BERIMAN DALAM MASYARAKAT MAJEMUK Disampaikan pada Diklat Fasilitator Guru Agama Katolik SMP Jakarta, 23 Maret 2011 Oleh Drs. Natanael Sesa, M.Si 1."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google