Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Data: karakteristik individu, sangat sulit diinterpretasikan karena jumlahnya sangat banyak dan beragam bentuknya [nominal, ordinal, interval] dan sifatnya.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Data: karakteristik individu, sangat sulit diinterpretasikan karena jumlahnya sangat banyak dan beragam bentuknya [nominal, ordinal, interval] dan sifatnya."— Transcript presentasi:

1 Data: karakteristik individu, sangat sulit diinterpretasikan karena jumlahnya sangat banyak dan beragam bentuknya [nominal, ordinal, interval] dan sifatnya [obyektif/terukur, subyektif/persepsi] Statistik: penyederhanaan [summarizing] data individu ke dalam bentuk aggregasi: persentase, proporsi, rata-rata, rate, rasio, menjadi lebih mudah diinterpretasikan walaupun tidak selalu dapat memberikan gambaran besarnya permasalahan Indikator: statistik yang dapat digunakan untuk memberikan gambaran besaran permasalahan: % penduduk miskin, PDRB per kapita, % pertumbuhan ekonomi, angka kematian bayi, produksi padi per hektar, dll Materi Kuliah – Kesra STIS – 2 SK

2 IndikatorKec AKec B - Jumlah P P5+ yg sekolah % P5+ yg sekolah3,0%4,0% Indikator yang tepat untuk menjawabnya adalah ‘Persentase P5+ yang bersekolah’ bukan ‘Jumlah P5+ yang bersekolah’ Pada kasus di atas, maka Kec B mempunyai partisipasi sekolah P5+ yang lebih tinggi dibanding Kec A

3 Pengertian Besaran/nilai yang menggambarkan/mendeteksi kecenderungan suatu fenomena/keadaan atau mengidentifikasi hubungan antara beberapa elemen Syarat indikator yang baik Valid, sahih, absah Reliable, andal, terpercaya, konsisten Sensitif, mendeteksi perubahan kecil Spesifik, untuk permasalahan tertentu Data tersedia, keberlanjutan monev Tidak semua indikator yang diperlukan tersedia datanya, sehingga harus menggunakan indikator proksi

4 Indikator Rujukan: informasi statistik tentang besaran kelompok sasaran program Indikator Input: informasi statistik tentang besaran sumberdaya yang digunakan dalam implementasi program dan kebijakan contoh: jumlah murid, jumlah guru Indikator Proses: informasi statistik tentang besarnya partisipasi kelompok sasaran pada impelementasi suatu program dan kebijakan contoh: ‘rata-rata jam belajar’ Indikator Output: informasi statistik tentang hasil dari implementasi program dan kebijakan contoh: ‘persentase anak yang lulus’ - hasilkan ‘banyak anak yang diterima di pt’, manfaatnya ‘banyaknya pekerja terdidik’ dan dampak ‘produktivitas kerja’ Indikator Outcome: informasi statistik tentang dampak dan manfaat yang diperoleh kelompok sasaran dari program/kebijakan

5 Indikator Tunggal: statistik yang dihitung berdasarkan satu variabel, S: evaluasi program sektoral; W: eksekutif tertinggi, bupati/ walikota, memerlukan indikator lain untuk memantau kemajuan keseluruhan satu aspek angka buta huruf, % balita diimunisasi, multi aspek: angka kemiskinan, angka kematian bayi, status gizi, PDRB per kapita, pertumbuhan ekonomi Indikator Komposit: statistik yang dihitung dengan formula tertentu dari beberapa indikator: IPM, IMH, IPJ, IKM, IDJ, W: tidak dapat digunakan untuk evaluasi program spesifik, perlu beberapa angka => intertemporal dan interspatial S: sederhana, satu angka menjelaskan pencapaian, kemajuan dari banyak aspek, untuk bupati, anggota DPRD

6 Isu Kesehatan reproduksi ada di MDG’s: Tujuan 4: menurunkan angka kematian balita, Tujuan 5: meningkatkan derajat kesehatan ibu Tujuan 6: memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya Kesehatan reproduksi (ICPD,1994) didefinisikan: Keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial secara utuh, Tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan Berkaitan dengan sistem reproduksi serta fungsi dan prosesnya

7 INDIKATOR KESEHATAN (1) Indikator Rujukan Jumlah penduduk Jumlah bayi Jumlah balita Jumlah wanita usia subur Jumlah wanita usia tahun Jumlah lansia Jumlah rumah tangga Rata-rata jumlah anggota rumah tangga Jumlah penduduk yang dilindungi asuransi kesehatan

8 INDIKATOR KESEHATAN (2) Indikator Rujukan Rata-rata pengeluaran rumah tangga untuk kesehatan (Rp per kapita per tahun) % belanja pembangunan sektor kesehatan % belanja daerah untuk pembangunan % belanja pembangunan sektor kesehatan terhadap belanja pembangunan satuan biaya penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan dasar

9 INDIKATOR KESEHATAN (3) Status dan derajat kesehatan Angka kematian bayi Angka kematian balita Angka kematian ibu Prevalensi malaria Prevalensi tuberkulosa % penduduk dengan keluhan kesehatan Status gizi balita Status gizi wanita usia subur % Bayi dengan Berat Lahir Rendah (< 2,5 kg) Rata-rata lama sakit (hari) % penduduk tidak mencapai usia 40 tahun

10 INDIKATOR KESEHATAN (4) Upaya kesehatan Jumlah tenaga kesehatan (dokter, bidan, paramedis) per penduduk Jumlah tempat tidur RS per penduduk Angka kunjungan ke fasilitas kesehatan Angka kontak ke fasilitas kesehatan Angka kunjungan K4 % ibu hamil mendapat imunisasi TT % persalinan dibantu nakes % bayi mendapat imunisasi dasar lengkap

11 INDIKATOR KESEHATAN (5) Kesehatan lingkungan permukiman % rumah mempunyai saluran pembuangan limbah rumah tangga % rumah dengan saluran pembuangan limbah rumah tangga yang buruk [tergenang] % rumah tangga dengan sistem pembuangan sampah % rumah tangga dengan jamban tangki septik % rumah tangga mengkonsumsi air bersih* DEFINISI AIR BERSIH: air kemasan, PAM, sumber air terlindung [mata air dan sumur] dengan jarak dari penampungan limbah rumah tangga > 10 meter

12 INDIKATOR KESEHATAN (6) Akses pada fasilitas kesehatan Rata-rata jarak (km) rumah ke puskesmas Rata-rata jarak (km) rumah ke rumah sakit Rata-rata jarak (km) rumah ke fasilitas kesehatan lain % penduduk yang dilindungi asuransi kesehatan

13 DATA KESEHATAN DI SUSENAS Keluhan kesehatan Keterangan berobat dikumpulkan setiap tahun Kesehatan balita Biaya kesehatan Keadaan ibu balita ketika mengandung Perilaku hidup sehat Pelayanan kesehatan Pengalaman kesehatan

14 SURVEI KESEHATAN LAINNYA Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Survei Surveilans Perilaku (HIV/AIDS) Survei Garam Yodium Survei Kesehatan Rumah Tangga Survei Kesehatan Ibu dan Anak

15 1. Angka Kematian Bayi (AKB)/IMR: Definisi AKB/IMR adalah banyaknya kematian bayi berumur kurang dari satu tahun per seribu kelahiran hidup Rumus perhitungan: Do = Banyaknya kematian bayi di bawah usia satu tahun pada tahun tertentu B = Banyaknya kelahiran pada tahun tertentu. Hasil SDKI 2007: AKB/IMR Indonesia saat ini sebesar 34 per kelahiran, artinya dari seribu kelahiran hidup pada tahun terdapat kematian 34 bayi sebelum mencapai usia satu tahun

16 2. Angka Kematian Ibu/MMR: Definisi AKI/MMR adalah banyaknya wanita yang meninggal pada waktu melahirkan per kelahiran dalam tahun tertentu Rumus perhitungan: Hasil SDKI 2007: Di Indonesia saat ini angka MMR sebesar 228 per kelahiran hidup, artinya dari kelahiran pada tahun terdapat kematian 228 ibu akibat komplikasi kehamilan, sekitar kelahiran/keguguran atau pada masa nifas Banyaknya kematian ibu pada masa hamil, pada saat kelahiran/keguguran, atau pada masa nifas pada tahun tertentu MMR = x Banyaknya kelahiran pada tahun tertentu

17 Banyaknya ibu hamil yang paling sedikit melakukan 4 kali pemeriksaan kehamilan dengan distribusi sekali pada triwulan 1, sekali pada triwulan 2 dan dua kali pada triwulan 3 K4 = x 100% Jumlah balita yang dilahirkan Banyaknya ibu hamil yang paling sedikit melakukan 4 kali pemeriksaan kehamilan dengan distribusi sekali pada triwulan 1, sekali pada triwulan 2 dan dua kali pada triwulan 3 K4 = x 100% Jumlah balita yang dilahirkan 3. Cakupan kunjungan ibu hamil K.4 adalah: Banyaknya ibu paling sedikit melakukan 4 kali pemeriksaan kehamilan dengan distribusi sekali pada triwulan 1, sekali pada triwulan 2 dan dua kali pada triwulan 3 dibagi dengan jumlah ibu periksa hamil Rumus perhitungan: Hasil SDKI : Ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya pada petugas kesehatan sebesar 92 persen (lebih 81% melakukan pemeriksaan kehamilannya sebanyak 4 kali, 11 persen periksa 2-3 kali, 3 persen periksa 1 kali, dan 4 persen tidak pernah periksa Banyaknya ibu hamil yang paling sedikit melakukan 4 kali pemeriksaan kehamilan dengan distribusi sekali pada triwulan 1, sekali pada triwulan 2 dan dua kali pada triwulan 3 K4 = x 100% Jumlah balita yang dilahirkan

18 Rumus perhitungan: Jumlah sarana kesehatan (rumah sakit, puskesmas, puskesmas pembantu) x 100 Total penduduk Jumlah tenaga kesehatan (dokter, bidan perawat, tenaga medis lain) × 100 Total penduduk 4. Rasio Sarana dan Tenaga Kesehatan terhadap Penduduk: Indikator ini menunjukkan tingkat ketersediaan sarana kesehatan (seperti rumah sakit, apotik, dan puskesmas) dan tenaga kesehatan (dokter, bidan, dan perawat) yang melayani kelompok masyarakat. Sebagai konstanta biasanya dipakai angka atau tergantung level Rumus perhitungan:

19 5. Cakupan Imunisasi : Indikator ini merupakan persentase anak berusia 1 – 2 tahun yang telah mendapat imunisasi lengkap. Indikator ini menggambarkan tingkat pelayanan kesehatan terhadap anak usia 1 – 2 tahun. Cakupan yang baik minimal 80 persen Jumlah anak usia 1-2 tahun yang diimunisasi lengkap × 100 Jumlah anak usia 1-2 tahun Contoh : Pada tahun 2006 jumlah anak yang berusia 1– 2 tahun di Indonesia sebanyak orang. Di antaranya sebanyak sudah pernah dimunisasi. Dengan demikian pesentase cakupan imunisasi baru sekitar 22,35 persen. (Umur 1-2 tahun adalah bayi berumur 0-24 bulan)

20 Jumlah persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (dokter, bidan, dan tenaga medis lainnya) x 100 % Jumlah kelahiran 6. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan: SDKI - persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan seperti dokter, dokter ahli kebidanan dan kandungan, bidan, perawat, dan bidan di desa Susenas - persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan seperti dokter, bidan, dan tenaga medis lainnya Rumus perhitungan: Hasil Susenas 2009: Proses kelahiran yang ditolong oleh tenaga kesehatan sebesar 77,34 persen. Target cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan tahun 2010 diharapkan mencapai 90 persen

21 Banyaknya PUS yang Sedang Memakai Alat/Cara KB KB = x 100% Jumlah PUS Banyaknya PUS yang Sedang Memakai Alat/Cara KB KB = x 100% Jumlah PUS 7. Prevalensi kontrasepsi pada PUS (15-49 tahun): Peran pelayanan KB dalam kesehatan reproduksi diarahkan untuk menunjang tercapainya kesehatan ibu dan anak Rumus perhitungan: Hasil Susenas 2009: Prevalensi pemakaian kontrasepsi pada pasangan usia subur (PUS) pada tahun 2009 mencapai 60,63 persen, baik cara modern maupun tradisional


Download ppt "Data: karakteristik individu, sangat sulit diinterpretasikan karena jumlahnya sangat banyak dan beragam bentuknya [nominal, ordinal, interval] dan sifatnya."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google