Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Unsur Pembangun Karya Sastra A. INTRINSIK : Unsur pembangun dari dalam karya sastra itu sendiri Unsur pembangun dari dalam karya sastra itu sendiri 1.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Unsur Pembangun Karya Sastra A. INTRINSIK : Unsur pembangun dari dalam karya sastra itu sendiri Unsur pembangun dari dalam karya sastra itu sendiri 1."— Transcript presentasi:

1 Unsur Pembangun Karya Sastra A. INTRINSIK : Unsur pembangun dari dalam karya sastra itu sendiri Unsur pembangun dari dalam karya sastra itu sendiri 1. Tema 1. Tema Inti cerita; dasar pengembangan seluruh cerita Inti cerita; dasar pengembangan seluruh cerita 2. Alur / Plot Jalinan cerita 2. Alur / Plot Jalinan cerita a.Maju : sekarang masa berikutnya. a.Maju : sekarang masa berikutnya. b. Mundur / Flash Back b. Mundur / Flash Back Saat ini masa lalu Saat ini masa lalu c. Gabungan / Campuran c. Gabungan / Campuran

2 3. Penokohan a. Antagonis Masalah b. Protagonis Pusat cerita c. Tritagonis Membantu menyelesaikan masalah

3 Intrinsik 4. Karakter Sifat setiap tokoh Sifat setiap tokoh Cara penggambaran tokoh : Cara penggambaran tokoh : a. secara langsung a. secara langsung sifat tokoh disebutkan dalam sifat tokoh disebutkan dalam cerita cerita * … ia sangat sombong, * … ia sangat sombong, bahkan lebih dari itu. bahkan lebih dari itu.

4 Intrinsik 2. Tak langsung Dapat diketahui dari : Dapat diketahui dari : dialog antartokoh dialog antartokoh Contoh: Contoh: ”Aku tidak peduli! Pokoknya hari ini, malam ini, detik ini juga kalian angkat kaki dari rumah ini!” Sang juragan menatap Adi dan ibunya dengan mata penuh api. ”Aku tidak peduli! Pokoknya hari ini, malam ini, detik ini juga kalian angkat kaki dari rumah ini!” Sang juragan menatap Adi dan ibunya dengan mata penuh api. ”Juragan, kasihanilah kami. Beri waktu seminggu lagi, kami akan segera lunasi uang kontrakan,” ibu memandang sang juragan dengan air mata berlinang. ”Juragan, kasihanilah kami. Beri waktu seminggu lagi, kami akan segera lunasi uang kontrakan,” ibu memandang sang juragan dengan air mata berlinang. cara berbicara cara berbicara

5 Intrinsik perilaku perilaku Contoh: Contoh: Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak- anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan. Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka,melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.. Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak- anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan. Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka,melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.. Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya. Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

6 Intrinsik tanggapan (ucapan) tokoh lain tanggapan (ucapan) tokoh lain Contoh: Contoh: ”Ada masalah apa antara kau dan Leni, Meri?” tanya Mak suatu malam. ”Ada masalah apa antara kau dan Leni, Meri?” tanya Mak suatu malam. ”Itulah, Mak. Aku memang tak senang dengan dia. Dia tak bisa menyimpan rahasia. Mulutnya ember, bocor, tak ada remnya. Aku sudah bilang, tolong jangan cerita pada orang lain. Eh, barus sehari udah banyak orang yang tahu.” ”Itulah, Mak. Aku memang tak senang dengan dia. Dia tak bisa menyimpan rahasia. Mulutnya ember, bocor, tak ada remnya. Aku sudah bilang, tolong jangan cerita pada orang lain. Eh, barus sehari udah banyak orang yang tahu.”

7 5. Latar Tempat dan waktu terjadinya suatu peristiwa atau kejadian di dalam cerita. a. Latar tempat b. Latar waktu c. Latar sosial: berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, cara berpikir, serta status sosial tokoh yang bersangkutan.

8 6. Sudut Pandang (Point of View) Cara pandang pengarang terhadap para tokoh dalam cerita Ada tiga jenis : a. Sudut pandang orang pertama sebagai pelaku utama. Pengarang sebagai tokoh cerita. Pengarang sebagai tokoh cerita. aku, hamba, beta. aku, hamba, beta. Contoh: sudah seminggu ini aku gelisah. Balasan surat dari sahabatku tak kunjung datang. Padahal, balasan surat itu sangat berarti bagiku.

9 6. Sudut Pandang (Point of View) Contoh: Mereka berdua tampak sedang mengobrol. Asyik benar kelihatannya. Sesekali terdengar suara tawa mereka. Aku hanya melihat dari kejauhan. Tak ada keberanian dalam diriku untuk mencoba mendekati mereka.

10 6. Sudut Pandang (Point of View) b. Sudut pandang orang pertama sebagai pelaku sampingan. Pengarang hanya sebagai saksi. Contoh: Ia datang tepat waktu. Memang selama ini ia yang ditunggu-tunggu oleh keluarga. Tak ada satu pun yang berani mengambil keputusan tentang hal ini. Semua menyerahkan kepadanya. Aku hanya menerima apa yang menjadi keputusannya.

11 6. Sudut Pandang (Point of View) c. Sudut pandang orang ketiga. Menggunakan kata ganti orang ketiga, seperti dia, ia, nama tokoh, dan mereka. Contoh: pukul tampaknya Sobri belum datang. Romli merasa gelisah. Mereka hari ini harus pergi ke rumah Angga untuk mengerjakan tugas dari guru.

12 6. Sudut Pandang (Point of View) Sudut pandang orang pertama pelaku utama Sudut pandang orang pertama pelaku sampingan Sudut pandang orang ketiga Pengarang memposisikan dirinya sebagai pelaku utama Pengarang memposisikan dirinya sebagai saksi, bukan pelaku utama Pengarang berada di luar cerita Aku, saya, betaDiaMereka, nama tokoh, dia

13 Intrinsik 7. Amanat / Pesan Pesan yang terkandung dalam Pesan yang terkandung dalam sebuah cerita. sebuah cerita. Apa yang didapatkan pembaca Apa yang didapatkan pembaca setelah membaca cerita setelah membaca cerita

14 Latihan soal “Entah telah berapa kali aku baca surat Estu ini,” kata Wawan sambil tetap memegang secarik kertas warna merah jambu. Ia tak mengira jika harus begini akhir persahabatannya dengan Estu. a. a. Orang pertama pelaku utama b. b. Orang pertama pelaku sampingan c. c. Orang pertama serba tahu d. d. Orang ketiga

15 Latihan soal Aku tak tahu apa sebabnya hingga Rian secara tiba-tiba selalu menghindariku,” kata Tyas dalam hati. Sudah dua hari ini Tyas gelisah dengan sikap Rian. Padahal selama ini, mereka selalu berdua. Namun, kini ia hanya sendirian. a. a. Orang pertama pelaku utama b. b. Orang pertama pelaku sampingan c. c. Orang pertama serba tahu d. d. Orang ketiga

16 Latihan soal Burik tergolong wanita hemat. Pendapatannya sehari-hari diikutkan arisan kampung setelah disisihkan sebagian untuk belanja hariannya. Beberapa tahun lalu, Burik menarik arisannya dan segera dirupakannya sebuah cincin dan sepasang gelang. Watak Burik?


Download ppt "Unsur Pembangun Karya Sastra A. INTRINSIK : Unsur pembangun dari dalam karya sastra itu sendiri Unsur pembangun dari dalam karya sastra itu sendiri 1."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google