Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Faktor Sosial dan Ekonomi terhadap Bisnis Internasional Idham Cholid Dampak.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Faktor Sosial dan Ekonomi terhadap Bisnis Internasional Idham Cholid Dampak."— Transcript presentasi:

1 Faktor Sosial dan Ekonomi terhadap Bisnis Internasional Idham Cholid Dampak

2 Mengapa Bisnis Internasional Berbeda ? Bisnis internasional tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi di dalam negeri saja, namun juga dipengaruhi kondisi di luar negeri (mitra dagang) Ada faktor kekuatan lingkungan yang mempengaruhi bisnis internasional yaitu segala sesuatu di luar organisasi yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan perusahaan. Kekuatan lingkungan Kekuatan yang tidak dapat dikendalikan (uncontrollable forces)/ eksternal Kekuatan yang dapat dikendalikan (controllable forces)/ internal

3 Kekuatan yang tidak dapat dikendalikan Pesaing Saluran distribusi Ekonomi Sosial Keuangan Hukum Fisik Politik Sosial budaya Tenaga kerja Teknologi

4 Kekuatan yang dapat dikendalikan :

5 Isu pokok yang dibahas Tujuan dilakukan analisa ekonomi Pola konsumsi masyarakat dan pengaruhnya terhadap bisnis internasional Variasi nilai tenaga kerja antar negara (tingkat upah dan produktifitas) Peran hutang luar negeri bagi pelaku bisnis internasional Pengaruh menurunnya tingkat kelahiran terhadap bisnis internasional Memahami pola kebijakan di sebuah negara

6 Tujuan dilakukan analisa ekonomi Menetapkan asumsi-asumsi ekonomi makro dalam sebuah perekonomian Tingkat nilai tukar Pertumbuhan ekonomi Hutang luar negeri Pengangguran Jumlah uang beredar Tingkat inflasi

7 Asumsi Ekonomi Makro Indonesia 2012 Pada januari 2012 ditetapkan Asumsi Makro 2012, yaitu : Produk Domestik Bruto (Triliun Rp) 8.119,8 Pertmbhn Ekonomi 6,7 %; Inflasi 5,30%; Kurs Rp 8.800,0 per dolar AS; SPN 3 bln 6,0%; Minyak Ind. 90,0 US$/brl; Lift. Mnyk 950,0 Jt.brl/hr.Pada januari 2012 ditetapkan Asumsi Makro 2012, yaitu : Produk Domestik Bruto (Triliun Rp) 8.119,8 Pertmbhn Ekonomi 6,7 %; Inflasi 5,30%; Kurs Rp 8.800,0 per dolar AS; SPN 3 bln 6,0%; Minyak Ind. 90,0 US$/brl; Lift. Mnyk 950,0 Jt.brl/hr. Dalam APBN-P 2012, asumsi dasar pertumbuhan ekonomi direvisi, dan kemudian ditetapkan pada angka 6,5 persen (dari sebelumnya 6,7% pada Januari 2012), sementara itu inflasi pada tingkat 6,8 persen (dari sebelumnya 5,30% pada Januari 2012). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sebesar Rp9.000 per dolar AS (dari sebelumnya Rp 8.800,0 per dolar AS pada Januari 2012), di sisi lain suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan sebesar 5,0 persen (dari sebelumnya 6,0% pada Januari 2012).Dalam APBN-P 2012, asumsi dasar pertumbuhan ekonomi direvisi, dan kemudian ditetapkan pada angka 6,5 persen (dari sebelumnya 6,7% pada Januari 2012), sementara itu inflasi pada tingkat 6,8 persen (dari sebelumnya 5,30% pada Januari 2012). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sebesar Rp9.000 per dolar AS (dari sebelumnya Rp 8.800,0 per dolar AS pada Januari 2012), di sisi lain suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan sebesar 5,0 persen (dari sebelumnya 6,0% pada Januari 2012).

8 Pola konsumsi masyarakat dan pengaruhnya terhadap bisnis internasional Pola konsumsi suatu masyarakat sangat penting dalam menentukan bisnis internasional Dengan menggunakan data pola konsumsi, maka seorang pengusaha dapat menentukan industri atau kegiatan bisnis apa yang dianggap menguntungkan di sebuah negara Pola konsumsi biasanya dipengaruhi oleh struktur pendapatan masyarakat di negara yang bersangkutan.

9 Persentase Pengeluaran Rata-rata per Kapita Sebulan Menurut Kelompok Barang, Indonesia, 1999, Kelompok Barang Makanan: - Padi-padian Umbi-umbian Ikan Daging Telur dan susu Sayur-sayuran Kacang-kacangan Buah-buahan Minyak dan lemak Bahan minuman Bumbu-bumbuan Konsumsi lainnya Makanan jadi 10.48*)11.44*)12.63*)12.79*)13.73*) - Minuman beralkohol Tembakau dan sirih Jumlah makanan

10 Kelompok Barang Bukan makanan: - Perumahan dan fasilitas rumahtangga Barang dan jasa Pakaian, alas kaki dan tutup kepala Barang-barang tahan lama Pajak dan asuransi Keperluan pesta dan upacara Jumlah bukan makanan

11 Variasi nilai tenaga kerja antar negara (tingkat upah dan produktifitas) Secara umum produktifitas tenaga kerja dipengaruhi oleh beberapa hal : 1. Tingkat Upah 2. Pengalaman dan keterampilan 3. pendidikan dan keahlian 4. Usia pekerja 5. Pengadaan barang 6. Cuaca 7. Jarak material 8. Hubungan kerja sama antar pekerja 9. Faktor manajerial 10.Efektivitas jam kerja

12 Penduduk Menurut Jenis Kegiatan Jenis Kegiatan 2005 (Nov) 2006 (Agst) 2007 (Agst) 2008 (Agst) 2009 (Agst) 2010 (Agst) 2011 (Agst) 1 Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas Angkatan Kerja Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (%) Bekerja Pengangguran Terbuka*) Tingkat Pengangguran Terbuka (%) Bukan Angkatan Kerja Sekolah Mengurus Rumah Tangga Lainnya

13 Peran hutang luar negeri bagi pelaku bisnis internasional FAKTOR PENYEBABNYA  Defisit transaksi berjalan  Kebutuhan dana investasi  Tingkat inflasi yang tinggi  Structural inefficiences dalam ekonomi PERKEMBANGAN UTANG LUAR NEGERI INDONESIA  Mengalami peningkatan terus seiring dengan peningkatan PDB (seharusnya berbalikan)  Dalam struktur hutang, komposisi utang dari IMF terus meningkat  Sejak Orde Baru, Indonesia sangat tergantung pada bantuan/utang LN, karena: Defisit I-S gap, defisit transaksi berjalan, defisit keuangan pemerintah (fiscal gap)

14 14 Hutang dan Arus Modal Masuk MANFAAT ARUS MODAL INTERNATIONAL  Keuntungan Moneter  Pertumbuhan PDB  Kesempatan kerja dan pendapatan  Peralihan Teknologi  Pengetahuan Manajemen PERKEMBANGAN ARUS MODAL INTERNASIONAL DI INDONESIA Arus modal internasional mengalami fluktuasi dipengaruhi oleh:  Country Risk  Inflasi  BOP  Pertumbuhan Ekonomi

15 15 UTANG LUAR NEGERI DIGUNAKAN UNTUK APA ?  Pembangunan Infra Struktur, seperti pembangunan pelabuhan yang bertaraf internasional untuk menunjang ekspor dan impor ( termasuk bahan baku impor), Pembangunan Sarana transportasi (jalan dan jembatan) untuk membuka keterisolasian dan menggerakkan roda perekonomian  Menyeimbangkan neraca pembayaran untuk menutupi defisit neraca pembayaran  Meningkatkan cadangan devisa  Menciptakan iklim yang kondusif bagi penanaman modan asing (PMA)

16 16 Permasalahan yang dihadapi Beberapa permasalahan yang sering terjadi sebagai akibat dari PMA dan utang luar negeri adalah :  Transfer keuntungan yang dilakukan oleh PMA ke negara asal modal  Terjadi aliran dana dari Indonesia keluar negeri  untuk mengontrolnya cukup sulit.  Jumlah utang luar negeri sangat tergantung pada fluktuasi kurs mata uang negara kepada siapa Indonesia berhutang  Apabila terjadi depresiasi rupiah, maka hutang akan membengkak  Selama ini Indonesia terus meminjam dari LN untuk membayar utang LN  “ Gali Lubang Tutup Lubang”  Kecenderungan sebagai negara terlilit hutang, karena selalu memanfaatkan tawaran hutang

17 17 Indikator Baik atau Buruknya Hutang Luar Negeri Ada dua pedoman yang digunakan untuk mengetahui seberapa jauh beban utang luar negeri: Ratio hutang kumulatif dengan PDB Uk R Uk = x 100% < 30% PDB Ratio bunga dan cicilan terhadap ekspor bersih (Debt Service Ratio = DSR) Dt DSR = x 100 % < 20% Xnt Ambang batasnya = 20% DSR = Debt Service Ratio, DT = Bunga dan cicilan hutang, Xnt= ekspor – impor migas Kedua ratio tersebut merupakan ratio pinjaman pemerintah, bukan ratio pinjaman swasta/perorangan

18

19 Pengaruh menurunnya tingkat kelahiran terhadap bisnis internasional Penduduk dapat dipandang menjadi dua faktor yang berbeda dalam Bisnis Internasional: Faktor Positif Dengan banyaknya penduduk maka ketersediaan tenaga kerja terjamin Merupakan pasar yang potensial bagi produk Faktor Negatif Membutuhkan fasilitas sosial yang banyak Menimbulkan masalah sosial jika tidak di tangani secara serius.

20 Apakah Indonesia merupakan pasar potensial bagi produk luar negeri?? Negara sedang berkembang Penduduk lebih dari 240 juta jiwa Pola konsumsi yang tinggi Sifat meniru yang sangat tinggi Arus informasi bebas masuk Belum ketatnya pemerintah dalam melindungi produk dalam negeri

21 Penduduk Indonesia menurut Provinsi Provinsi *) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat R i a u J a m b i Sumatera Selatan B e n g k u l u L a m p u n g Kep. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten B a l i Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat M a l u k u Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA

22 Laju Pertumbuhan Penduduk menurut Provinsi Provinsi Laju Pertumbuhan Penduduk per Tahun Nanggroe Aceh Darussalam2,932,721,46 Sumatera Utara2,62,061,32 Sumatera Barat2,211,620,63 R i a u3,114,34,35 J a m b i4,073,41,84 Sumatera Selatan3,323,152,39 B e n g k u l u4,394,382,97 L a m p u n g5,772,671,17 Kep. Bangka Belitung 0,97 DKI Jakarta3,932,420,17 Jawa Barat2,662,572,03 Jawa Tengah1,641,180,94 DI Yogyakarta1,10,570,72 Jawa Timur1,491,080,7 Banten3,21 B a l i1,691,181,31 Nusa Tenggara Barat2,362,151,82 Nusa Tenggara Timur1,951,791,64 Kalimantan Barat2,312,652,29 Kalimantan Tengah3,433,882,99 Kalimantan Selatan2,162,321,45 Kalimantan Timur5,734,422,81 Sulawesi Utara2,311,61,33 Sulawesi Tengah3,862,872,57 Sulawesi Selatan1,741,421,49 Sulawesi Tenggara3,093,663,15 Gorontalo 1,59 Maluku2,882,790,08 Maluku Utara 0,48 Papua2,673,463,22 INDONESIA2,311,981,49

23 End of session


Download ppt "Faktor Sosial dan Ekonomi terhadap Bisnis Internasional Idham Cholid Dampak."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google