Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Program pembangunan dan pengembangan hutan kota dapat membantu mengurangi sifat yang negatif tersebut. Kesejukan dan kesegaran yang diberikannya akan menghilangkan.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Program pembangunan dan pengembangan hutan kota dapat membantu mengurangi sifat yang negatif tersebut. Kesejukan dan kesegaran yang diberikannya akan menghilangkan."— Transcript presentasi:

1 Program pembangunan dan pengembangan hutan kota dapat membantu mengurangi sifat yang negatif tersebut. Kesejukan dan kesegaran yang diberikannya akan menghilangkan kejenuhan dan kepenatan. Cemaran timbal, CO, SOx, NOx dan lainnya dapat dikurangi oleh tajuk dan lantai hutan kota. Kicauan dan tarian burung akan menghilangkan kejemuan. Hutan kota juga dapat mengurangi kekakuan dan monotonitas.

2 Hutan kota Hutan kota seringkali terlupakan keberadaannya, di tengah- tengah hiruk-pikuknya pengembangan wilayah perkotaan. Kehadiran hutan kota dan ruang-ruang terbuka hijau (RTH) senantiasa dirindukan di tengah himpitan pembangunan sarana-prasarana fisik kota yang semakin pesat. Salah satu ruang terbuka hijau itu tampak hanya sekadar pajangan, pelengkap dalam sebuah kebutuhan penataan ruang. Warga kota pun banyak yang memandang sebelah mata. Padahal, ada beragam potensi wisata yang bisa digali dari keberadaaan ekosistem hutan kota.

3 RUANG TERBUKA HIJAU Susutnya lahan bervegetasi mendorong penghuni kota berbondong-bondong pergi ke luar kota, mencari daerah hijau yang masih tersisa. Di tengah persaingan hidup yang kian meninggi, kebutuhan rekreasi menjadi mutlak adanya. Akhirnya sebuah pemandangan yang lazim kita saksikan, setiap akhir pekan atau masa libur, warga kota beramai-ramai ”mengungsi” ke daerah hijau nan sejuk. Umumnya, ruang hijau itu berada di luar kota, kawasan paling dekat adalah kawasan pegunungan sekitarnya.

4 RUANG TERBUKA HIJAU Pada waktu tertentu, liburan sekolah atau hari raya, ruang terbuka hijau perkotaan ini selalu dipadati pengunjung. Kejadian seperti itu sebetulnya bisa dihindari. Kalau warga jeli, ada ruang terbuka hijau di dalam kota lainnya yang bisa dimanfaatkan sebagai ajang pelesiran. Sebagai contoh hutan kota, kawasan seperti dapat bertipe hutan kota konservasi resapan air, seluas 15 ha.

5 HUTAN KOTA Hutan kota mempunyai bentang alam yang cukup beragam, dari lahan datar, bergelombang sampai danau serta pulau yang ada di tengah kawasan. ”Luas hutan kota juga bermacam-macam, dengan vegetasi yang beragam pula.

6 HUTAN KOTA Selain aktivitas memancing, jalan- jalan keliling hutan juga menarik. Beragam jenis pohon yang ditanam di hutan kota, misalnya Rambutan Irian, Kayu Manis, Tanjung, Pilang, Buah Nona, Buni, Saga, Bambu Kuning, Bintaro, Mahoni, Asam Ranji, Jati Lampung, Dadap Merah dan masih banyak lagi. Tak jarang, di balik tajuk tanaman pelindung itu terdengar kicauan burung. Kalau rajin mengintip dengan teropong sosok cerucuk, burung gereja, kutilang, tekukur dan cabe-cabean dapat terlihat jelas. Foto: smno-pampus.ub-juli2011

7 KAWASAN HIJAU KOTA Lingkungan kota berkembang secara ekonomis, namun menurun secara ekologis. Perkembangan kota di Indonesia dewasa ini cenderung ke arah perkembangan fisik yang lebih banyak ditentukan oleh banyaknya sarana dan prasarana yang ada. Akibatnya, ruang terbuka hijau terabaikan, bahkan menghilangkan wajah alam yang asri. Kawasan hijau sering kali dikalahkan atau dialihfungsikan menjadi kawasan perdagangan, permukiman, perindustrian, serta untuk sarana dan prasarana kota lainnya. Taman Taman berisi tanaman yang ditanam dan ditata sedemikian rupa, sebagian atau seluruhnya merupakan hasil rekayasa manusia, untuk mendapatkan komposisi tertentu yang indah. Keindahan dapat berasal dari bentuk/warna/tekstur tajuk, tekstur daun, bentuk percabangan, bunga dan buahnya.

8 ECOCITY "Keseimbangan lingkungan perkotaan secara ekologi sama pentingnya dengan perkembangan nilai ekonomi. Kondisi menurunnya ekologi ini akan menyebabkan terganggunya ekosistem perkotaan. Hal ini antara lain ditandai dengan meningkatnya suhu udara, meningkatkan pencemaran udara, serta menurunnya permukaan air tanah, dan permukaan tanah." Foto: smno-malang-sept2009

9 KAWASAN RESAPAN AIR Daerah resapan juga air semakin kurang, maka apabila curah hujan tinggi, menjadi sangat mudah terjadi banjir atau genangan. Hal ini juga akan meningkatkan kandungan logam berat dalam air tanah, serta intrusi air laut. Oleh karena itu, sudah saatnya sekarang kota-kota di Indonesia menggalakkan pembangunan hutan kota.

10 FUNGSI HUTAN KOTA Pembangunan hutan kota lebih ditekankan pada fungsinya, yaitu untuk memperbaiki dan menjaga iklim mikro, meningkatkan nilai estetika, meningkatkan kemampuan resapan air, menciptakan keseimbangan ekologis dan keserasian lingkungan fisik kota, serta mendukung pelestarian keanekaragaman hayati. Di sisi lain, hutan kota juga banyak memberikan manfaat lain. Sepanjang tidak mengganggu fungsinya, masyarakat dapat memanfaatkan hutan kota untuk berbagai keperluan, seperti wisata alam, rekreasi, olahraga, penelitian, dan pendidikan serta untuk pelestarian plasma nutfah atau budi daya hasil hutan bukan kayu.

11 LOKASI HUTAN KOTA Pembangunan hutan kota tidak boleh sembarangan, Melainkan harus menjadi bagian dari rencana tata ruang wilayah perkotaan, dalam pelaksanaannya disusun berdasarkan kajian dari aspek teknis, ekologis, ekonomis, sosial, dan budaya setempat. Hal ini penting agar hutan yang dibangun benar- benar dapat berfungsi secara ekologi dan mempunyai nilai estetika

12 MANFAAT RTH Penghijauan perkotaan yaitu menanam tumbuh-tumbuhan sebanyak-banyaknya di halaman rumah atau di lingkungan sekitar rumah maupun dipinggir jalan, apakah itu berbentuk pohon, semak, perdu, rumput atau penutup tanah lainnya, di setiap jengkal tanah yang kosong yang ada dalam kota dan sekitarnya, sering disebut sebagai ruang terbuka hijau (RTH). RTH sangat penting, mengingat tumbuh-tumbuhan mempunyai peranan sangat penting dalam alam, yaitu dapat dikategorikan menjadi fungsi lansekap (sosial dan fisik), fungsi lingkungan (ekologi) dan fungsi estetika (keindahan).

13 HUTAN KOTA Berdasarkan kepada fungsi utama RTH dapat dibagi menjadi: 1. Pertanian perkotaan, fungsi utamanya adalah untuk mendapatkan hasilnya untuk konsumsi yang disebut dengan hasil pertanian kota seperti hasil hortikultura. 2. Taman kota, mempunyai fungsi utama untuk keindahan dan interaksi sosial 3. Hutan kota, mempunyai fungsi utama untuk peningkatan kualitas lingkungan. Suhu udara pada daerah berhutan lebih nyaman daripada daerah yang tidak ditumbuhi oleh tanaman. Suhu udara yang dianggap nyaman untuk manusia di Indonesia adalah sekitar 25oC.

14 HUTAN KOTA Hutan Kota dapat memberikan kota yang nyaman sehat dan indah (estetis). Kita sangat membutuhkan hutan kota, untuk perlindungan dari berbagai masalah lingkungan perkotaan. Hutan kota mempunyai banyak fungsi (kegunaan dan manfaat). Hal ini tidak terlepas dari peranan tumbuh-tumbuhan di alam. Tumbuh-tumbuhan sebagai produsen pertama dalam ekosistem, mempunyai berbagai macam kegiatan metabulisme untuk ia hidup, tumbuh dan berkembang. Kegiatan metabulisme tumbuh-tumbuhan dimaksud telah memberikan keuntungan dalam kehidupan kita. Tidak ada satu makhlukpun yang dapat hidup tanpa tumbuh- tumbuhan.

15 Dalam pembangunan itu kita akan tahu tentang sejauh mana kerugian kita, jika kita menebang pohon atau membabat tumbuh- tumbuhan tanpa pertimbangan dengan alasan nanti toh tumbuh-tumbuhan itu akan tumbuh kembali.

16 HUTAN KOTA Mengurangi Stress Kehidupan masyarakat di kota besar menuntut aktivitas, mobilitas dan persaingan yang tinggi. Namun di lain pihak lingkungan hidup kota mempunyai kemungkinan yang sangat tinggi untuk tercemar, baik oleh kendaraan bermotor maupun industri. Petugas lalu lintas sering bertindak galak serta pengemudi dan pemakai jalan lainnya sering mempunyai temperamen yang tinggi diakibatkan oleh cemaran timbal dan karbon-monoksida. Oleh sebab itu gejala stress (tekanan psikologis) dan tindakan ugal-ugalan sangat mudah ditemukan pada anggota masyarakat yang tinggal dan berusaha di kota atau mereka yang hanya bekerja untuk memenuhi keperluannya saja di kota. Program pembangunan dan pengembangan hutan kota dapat membantu mengurangi sifat yang negatif tersebut. Kesejukan dan kesegaran yang diberikannya akan menghilangkan kejenuhan dan kepenatan. Cemaran timbal, CO, SOx, NOx dan lainnya dapat dikurangi oleh tajuk dan lantai hutan kota. Kicauan dan tarian burung akan menghilangkan kejemuan. Hutan kota juga dapat mengurangi kekakuan dan monotonitas.

17 HUTAN KOTA Hutan kota merupakan suatu ekosistem dan tidak sama dengan pengertian hutan selama ini. Hutan kota adalah komunitas tumbuh-tumbuhan berupa pohon dan asosiasinya yang tumbuh di lahan kota atau sekitar kota, berbentuk jalur, menyebar atau bergerombol (menumpuk) dengan struktur meniru (menyerupai) hutan alam, membentuk habitat yang memungkinkan kehidupan bagi satwa dan menimbulkan lingkungan sehat, nyaman, dan estetis. PERDU BERBUNGA Kesumba (Bixa orellana); Bunga kupu-kupu (Bauhinia purpurea); Dadap hibrida (Erythrina crista galli); Kembang merak (Caesalpinia pulcherima); Daun putri (Musaenda frontdosa); Ketepeng cina (Cassia alata); Bunga kuning (Cassia multijuga); Asem londo (Pithecelobium dulce)

18 HUTAN KOTA Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan membangun dan mengembangkan bentuk hutan kota serta membangun dan mengembangkan struktur hutan kota, maka kendala lahan dapat di modifikasi sehingga kita akan tetap dapat membangun dan mengembangkan hutan kota. Disamping itu secara bertahap kita selalu berusaha membangun dan mengembangkan persepsi tentang hutan kota. Bentuk tergantung kepada bentuk lahan yang tersedia untuk hutan kota. HUTAN KOTA Tipe Rekreasi dan Keindahan Hutan kota yg berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan rekreasi dan keindahan, dg jenis pepohonan yang indah dan unik Karakteristik pepohonannya: Pohon-pohon yang indah dan atau penghasil bunga/buah yg digemari oleh satwa, seperti burung, kupu-kupu dan lainnya

19 HUTAN KOTA Bentuk hutan kota ada bermacam-macam: Berbentuk bergerombol atau menumpuk adalah hutan kota dengan komunitas tumbuh-tumbuhannya terkonsentrasi pada suatu areal dengan jumlah tumbuh-tumbuhannya minimal 100 pohon dengan jarak tanam rapat tidak beraturan. Tipe Perlindungan Hutan kota yg berfungsi untuk: 1.Mencegah atau mengurangi bahaya erosi dan longsor pd daerah dengan kemiringan cukup tinggi dan sesuai dg karakter tanah 2.Melindungi daerah pantai dari gempuran ombak (abrasi) 3.Melindungi daerah resapan air untuk mengatasi masalah menipisnya volume air tanah dan atau masalah intrusi air laut Karakteristik pepohonannya: 1.Pohon-pohon yg memiliki daya evapotranspirasi yg rendah. 2.Pohon yg dapat berfungsi mengurangi bahaya abrasi pantai seperti mangrove atau pohon yg berakar kuat. Termasuk dalam tipe ini adalah jalur hijau di sepanjang tepi jalan bebas hambatan. Dengan menanam jenis perdu yang liat dan dilengkapi dengan jalur pohon dan tanaman jenis legume merambat secara berlapis-lapis, diharapkan dapat menahan kendaraan yang ke luar dari jalur jalan.

20 Pelestarian Plasma Nutfah Plasma nutfah merupakan bahan baku yang penting untuk pembangunan di masa depan, terutama di bidang pangan, sandang, papan, obat-obatan dan industri. Penguasaannya merupakan keuntungan komparatif yang besar bagi Indonesia di masa depan. Oleh karena itu, plasma nutfah perlu dilestarikan dan dikembangkan bersama untuk mempertahankan keanekaragaman hayati. Hutan kota dapat dijadikan sebagai tempat koleksi keanekaragaman hayati yang tersebar di seluruh wilayah tanah air kita. Kawasan hutan kota dapat dipandang sebagai areal pelestarian di luar kawasan konservasi, karena pada areal ini dapat dilestarikan flora dan fauna secara exsitu. Salah satu tanaman yang langka adalah nam-nam (Cynometra cauliflora).

21 Udara alami yang bersih sering dikotori oleh debu, baik yang dihasilkan oleh kegiatan alami maupun kegiatan manusia. Dengan adanya hutan kota, partikel padat yang tersuspensi pada lapisan biosfer bumi akan dapat dibersihkan oleh tajuk pohon melalui proses jerapan dan serapan. Partikel yang melayang-layang di permukaan bumi sebagian akan terjerap (menempel) pada permukaan daun, khususnya daun yang berbulu dan yang mempunyai permukaan yang kasar dan sebagian lagi terserap masuk ke dalam ruang stomata daun. Berbentuk jalur yaitu komunitas tumbuh-tumbuhannya tumbuh pada lahan yang berbentuk jalur lurus atau melengkung, mengikuti bentukan sungai, jalan, pantai, saluran dan lainnya. Foto: smno-malang-mei2010

22 Fungsi lansekap. Fungsi lansekap meliputi fungsi fisik dan fungsi sosial. Fungsi fisik, yaitu berfungsi antara lain untuk perlindungan terhadap angin, sinar matahari, pemandangan yang kurang bagus dan terhadap bau, sebagai pemersatu, penegas, pengenal, pelembut, dan pembingkai.

23 VEGETASI HUTAN KOTA Struktur hutan kota adalah komposisi dari tumbuh-tumbuhan, jumlah dan keanekaragaman dari komunitas tumbuh-tumbuhan yang menyusun hutan kota, dapat dibagi menjadi: Berstrata dua yaitu komunitas tumbuh-tumbuhan hutan kota hanya terdiri dari pepohonan dan rumput atau penutup tanah lainnya. Berstrata banyak yaitu komunitas tumbuh-tumbuhan hutan kota selain terdiri dari pepohonan dan rumput juga terdapat semak, terna, liana, epifit, ditumbuhi banyak anakan dan penutup tanah, jarak tanam rapat tidak beraturan, dengan strata dan komposisi mengarah meniru komunitas tumbuh-tumbuhan hutan alam. POHON PENEDUH Angsana (Pterocarpus indicus); Ki Hujan / Trembesi (Samanea saman); Mahoni (Swietenia microphylla); Asam (Tamarindus indica); Kere Payung (Filicium decipiens); Glodokan Tiang, G. Pecut (Polyalthia longifolia); Ketapang (Terminalia catapa); Mimbo; Sawo Kecik (Manilkara kauki); Kepel (Stelechocarpus burahol); Ficus elastica (Burgundi) dan Decora; F. benyamina; F. elastica (daun kuning); F. lyrata; Johar (Cassia siamea); Jambu Batu; Pala

24 HUTAN KOTA Fungsi sosial. Penataan tumbuh-tumbuhan dalam hutan kota dengan baik akan memberikan tempat interaksi sosial yang sangat menyenangkan. Hutan kota dengan aneka ragam tumbuh-tumbuhan mengandung nilai-nilai ilmiah sehingga hutan kota dapat sebagai laboratorium hidup untuk sarana pendidikan dan penelitian. REKRESI Rekreasi dapat berarti kegiatan manusia untuk memanfaatkan waktu luangnya, terjadi di dalam ruangan (indoor) atau di alam terbuka (outdoor). Rekreasi di alam terbuka dapat mendatangkan pengalaman baru, lebih menyehatkan jasmani dan rohani, serta meningkatkan ketrampilan. Rekreasi di hutan kota bertujuan untuk menyegarkan kembali kondisi badan yang sudah penat dan jenuh dengan kegiatan rutin, hingga siap mengahadpi tugas baru.

25 MANFAAT HUTAN KOTA Fungsi kesehatan misalnya untuk terapi mata dan mental serta fungsi rekreasi, olah raga, dan tempat interaksi sosial lainnya. Fungsi sosial politik ekonomi misalnya untuk persahabatan antar negara. Hutan kota dapat memberikan hasil tambahan secara ekonomi untuk kesejahteraan penduduk seperti buah-buahan, kayu, obat-obatan sebagai warung hidup dan apotik hidup. Hutan kota (urban forest) adalah suatu lahan yang bertumbuhan pohon-pohonan di wilayah perkotaan, berfungsi sebagai penyangga lingkungan dalam hal pengaturan tata air, udara, habitat flora dan fauna, yang memiliki nilai estetika dan dengan luasan yang solid merupakan ruang terbuka hijau pohon-pohonan

26 HUTAN KOTA Fungsi Pelestarian Lingkungan (ekologi). Dalam pengembangan dan pengendalian kualitas lingkungan fungsi lingkungan diutamakan tanpa mengesampingkan fungsi-fungsi lainnya. Fungsi lingkungan ini antara lain adalah: a. Menyegarkan udara atau sebagai "paru-paru kota". Fungsi menyegarkan udara dengan mengambil CO2 dalam proses fotosintesis dan menghasilkan O2 yang sangat diperlukan bagi makhluk hidup untuk pernafasan. CO2 diambil dari udara, sedangkan air diambil dari dalam tanah melalui akar tanaman

27 HUTAN KOTA Menurunkan Suhu Kota dan meningkatkan kelembaban. Suhu disekitar tanaman menjadi lebih sejuk. Uap air di atmosfir bertindak sebagai pengatur panas (suhu udara) karena sifatnya dapat menyerap energi radiasi matahari gelombang pendek maupun gelombang panjang. Hutan kota mempunyai pengaruh besar pada daerah-daerah yang suhunya tinggi, dan sangat bermanfaat khususnya untuk daerah tropis.

28 HUTAN KOTA Sebagai Ruang Hidup Satwa. Tumbuh-tumbuhan selain sebagai produsen pertama dalam ekosistem juga dapat menciptakan ruang hidup (habitat) bagi makhluk hidup lainnya, sebagai burung, kupu-kupu, serangga. Burung sebagai komponen ekosistem mempunyai peranan penting, diantaranya untuk mengontrol populasi serangga, membantu penyerbukan bunga dan pemencaran biji. Hampir pada setiap bentuk kehidupan terkait erat dengan burung, sehingga burung mudah dijumpai. Dengan kondisi tersebut diduga burung dapat dijadikan sebagai indikator lingkungan, karena apabila terjadi pencemaran lingkungan, burung merupakan komponen alam terdekat yang terkena pencemaran

29 . HUTAN KOTA Burung berperanan dalam rekreasi alam, adanya taman burung selalu dikunjungi orang, untuk menikmati bunyi, kecantikan ataupun kecakapan burung. Malahan sekarang hampir di setiap rumah orang memelihara burung. Burung mempunyai nilai pendidikan dan penelitian. Keindahan burung dari segala yang dimilikinya akan memberikan suatu kenikmatan tersendiri. Kebiasaan burung-burung beranekaragam, ada burung yang mempunyai kebiasaan berada mulai dari tajuk sampai kebawah tajuk. Ini menunjukkan bahwa bila hutan kota mempunyai komposisi banyak jenis, berlapis-lapis dan berstrata akan memikat banyak burung Jenis tanaman untuk penghijauan kota adalah (1)mempunyai perakaran yang dalam (2) pertumbuhannya cepat dan tahan terhadap pemangkasan dan gangguan fisik, (3) Tahan terhadap kekurangan air, (4) selalu hijau dan berbunga, (5) dapat tumbuh pada berbagai kondisi tanah, (6) tajuknya melebar, (7) cabangnya tidak mudah rontok, (8) berpengaruh baik terhadap tanah, (9) dapat tumbuh pada lahan terbuka, (10) disenangi oleh warga kota.

30 HUTAN KOTA Hasil penelitian menunjukkan bahwa burung lebih banyak dijumpai baik jenis maupun jumlahnya pada hutan kota yang ditanami dengan tanaman produktif (berbunga, berbuah dan berbiji) pada struktur hutan kota yang berstrata banyak. Kehadiran burung pada hutan kota yang berstara banyak selain karena jumlah tumbuh-tumbuhan yang beranekaragam, juga pohonnya adalah jenis buah- buahan (tanaman produktif). Tanaman produktif dalam hal ini adalah tanaman yang menghasilkan bunga, buah, biji aroma, sehingga memberikan kesempatan lebih besar kepada burung (herbivor) yang menyukainya untuk datang, mencari makan, bercengkrama atau bersarang.

31 HUTAN KOTA PELINDUNG TANAH Hutan kota sebagai Penyanggah dan Perlindungan Permukaan Tanah dari Erosi, sebagai penyanggah dan melindungi permukaan tanah dari air hujan dan angin. Sehubungan dengan itu hutan kota dapat membantu penyediaan air tanah dan pencegahan erosi. Keberadaan tajuk pepohonan berarti air hujan tidak langsung jatuh di permukaan tanah. Daya pukulan tetesan air hujan tidak menghancurkan partikel tanah, sehingga efek erosinya menjadi tidak ada. Keberadaan pepohonan dengan sistem perakarannya yang menghunjam jauh ke dalam tanah, sangat membantu perkolasi air hujan menembus jauh ke dalam tanah. Hal seperti ini sangat menguntungkan bagi sistem hidrologi mata air.

32 HUTAN KOTA Pengendalian dan Mengurangi Polusi Udara dan Limbah, sebagai pengendalian dan atau mengurangi polusi udara dan limbah, serta menyaring debu. Debu atau partikulat terdiri dari beberapa komponen zat pencemar. Dalam sebutir debu terdapat unsur-unsur seperti garam sulfat, sulfuroksida, timah hitam, asbestos, oksida besi,silika, jelaga dan unsur kimia lainnya. Berbagai hasil penelitian lainnya menunjukkan bahwa tumbuh-tumbuhan dapat mengakumulasi berbagai jenis polutan (pencemar). Seperti pohon johar, asam landi, angsana dan mahoni dapat mengakumulasi Pb (timah hitam) yaitu hasil pencemaran oleh kendaraan bermotor, pada daun dan kulit batang.

33 HUTAN KOTA Tempat Pelesterian Plasma nutfah dan bioindikator, yaitu sebagai tempat pelestarian plasma nutfah dan bioindikator dari timbulnya masalah lingkungan seperti. Karena tumbuhan tertentu akan memberikan reaksi tertentu akan perubahan lingkungan yang terjadi disekitarnya. Plasma nutfah sangat diperlukan dan mempunyai nilai yang sangat tinggi dan diperlukan untuk kehidupan.

34 Peredaman Kebisingan. Kebisingan adalah suara yang berlebihan, tidak diinginkan dan sering disebut "polusi tak terlihat" yang menyebabkan efek fisik dan psikologis. Efek fisik berhubungan dengan transmisi gelombang suara melalui udara, efek psikologis berhubungan dengan respon manusia terhadap suara.

35 Menyuburkan Tanah. Sisa-sisa tumbuhan akan dibusukkan oleh mikroorganisma dan akhirnya terurai menjadi humus atau materi yang merupakan sumber hara mineral bagi tumbuhan itu kembali. Energy Conservation Trees and shrubs can help reduce overall energy use in buildings. The amount of energy saved depends on the building type, choice of tree species, positioning around the building and the prevailing climate. For example, by planting deciduous trees on the west side of an exposed building: ● wind penetration can be significantly reduced ● shading provided in summer ● solar gain achieved in winter. Savings on energy costs by the careful planting of trees can, for a conventional house over a one year period, be as much 25%

36 HUTAN KOTA Ruang terbuka hijau di wilayah perkotaan yang berperan penting dalam menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan serta membuat lingkungan menjadi sejuk dan segar telah banyak digantikan oleh bangunan beton, aspal dan lainnya. Kenyataan tersebut telah merubah suasana lingkungan alami yang sehat menjadi suasana lingkungan yang formal dan serba keras. Tipe kawasan industri Hutan kota yg dibangun di kawasan industri yg berfungsi untuk mengurangi polusi udara dan kebisingan, yg ditimbulkan dari kegiatan industri Karakteristik pepohonannya: Pohon berdaun lebar dan rindang, berbulu dan mempunyai permukaan daun kasar/berlekuk, bertajuk tebal, tanaman yg menghasilkan bau harum Beberapa jenis tanaman mampu menyerap polutan di udara bebas, serta ada jenis-jenis yang tahan terhadap polutan udara.

37 HUTAN KOTA Berkurangnya ruang terbuka hijau di perkotaan menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan yang ditandai dengan meningkatnya suhu udara, penurunan air tanah, banjir atau penggenangan, penurunan permukaan tanah, instrusi air laut, abrasi pantai dan sebagainya. Suasana kota yang tidak menyenangkan tersebut membuat masyarakat perkotaan menjadi tidak nyaman tinggal di dalam kota serta menghambat produktivitas masyarakat.

38 Kegiatan ekonomis masyarakat perkotaan memang dapat menghasilkan peningkatan kesejahteraan, namun di sisi lain kegiatan ekonomis tersebut masih banyak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Damar (Agathis alba), mahoni (Swietenia macrophylla), jamuju (Podocarpus imbricatus) dan pala (Mirystica fragrans), asam landi (Pithecelobiumdulce), johar (Cassia siamea), mempunyai kemampuan yang sedang tinggi dalam menurunkan kandungan timbal dari udara. Tanaman ini : glodogan (Polyalthea longifolia) keben (Barringtonia asiatica) dan tanjung (Mimusops elengi), walaupun kemampuan serapannya terhadap timbal rendah, tanaman tidak peka terhadap pencemar udara. Tanaman daun kupu-kupu (Bauhinia purpurea) dan kesumba (Bixa orellana) mempunyai kemampuan yang sangat rendah dan sangat tidak tahan terhadap pencemar yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor.

39 Terutama dilihat dari aspek tata ruang kota, kegiatan ekonomis masyarakat perkotaan cenderung mengurangi ruang terbuka hijau yang berfungsi menjaga keseimbangan ekosistem kota.

40 Fungsi Estetika. Tumbuh-tumbuhan dapat memberikan keindahan dari garis, bentuk, warna, dan tekstur yang ada dari tajuk, daun, batang, cabang, kulit batang, akar, bunga, buah maupun aroma. Hutan kota yang berstrata banyak mempunyai nilai estetika lebih tinggi, daripada hutan kota berstrata dua.

41 HUTAN KOTA Hutan kota memiliki peran sangat penting, terutama dalam meningkatkan kualitas lingkungan hidup perkotaan sehingga menjadi lebih nyaman, segar, indah dan bersih. Selain itu, hutan kota juga dapat menciptakan keserasian lingkungan alam dan lingkungan binaan yang berguna bagi kepentingan kesejahteraan masyarakat perkotaan. Daun yang berbulu dan berlekuk seperti halnya daun Bunga Matahari dan Kersen mempunyai kemampuan yang tinggi dalam menjerap partikel dari pada daun yang mempunyai permukaan yang halus (Wedding dkk. dalam Smith, 1981). Manfaat dari adanya tajuk hutan kota ini adalah menjadikan udara yang lebih bersih dan sehat, jika dibandingkan dengan kondisi udara pada kondisi tanpa tajuk dari hutan kota.

42 Hutan kota sebagai identitas kota. Jenis tanaman dan hewan yang merupakan simbol atau lambang suatu kota dapat dikoleksi pada areal hutan kota.

43 Hutan kota berperan dalam pelestarian keanekaragaman hayati plasma nutfah. Plasma nutfah merupakan bahan baku keanekaragaman hayati yang penting untuk pembangunan di masa depan terutama di bidang pangan, sandang, pangan dan obat-obatan.

44 Hutan kota berperan sebagai penahan dan penyaring partikel padat dari udara. Dengan adanya hutan kota partikel padat yang tersuspensi pada lapisan biosfer bumi akan dapat dibersihkan oleh tajuk pohon melalui proses jerapan dan serapan. Pohon dapat meredam suara dengan cara mengabsorpsi gelombang suara oleh daun, cabang dan ranting. Jenis tumbuhan yang paling efektif untuk meredam suara ialah yang mempunyai tajuk yang rindang. Dengan menanam berbagai jenis tanaman dengan berbagai strata yang cukup rapat dan tinggi akan dapat mengurangi kebisingan, khususnya dari kebisingan yang sumbernya berasal dari bawah. Menurut Grey dan Deneke (1978), dedaunan tanaman dapat menyerap kebisingan sampai 95%.

45 Hutan kota berperan sebagai penyerap dan penjerap partikel timbal. Sebagaimana diketahui pencemaran udara di perkotaan antara lain disebabkan oleh pembakaran bensin yang mengandung timbal. Sejumlah tanaman seperti damar, mahoni, pala, asam lindi dan johar diketahui mampu menurunkan kandungan timbal di udara.

46 HUTAN KOTA Hutan kota berperan sebagai penyerap dan penjerap debu semen. Sebagaimana diketahui, laju pembangunan di perkotaan sangat tinggi yang antara lain menimbulkan dampak negatif berupa polusi debu semen. Hasil penelitian menunjukkan sejumlah tanaman seperti mahoni, tanjung, kenari, meranti merah dan kayu hitam mampu menjerap (adsorpsi) dan menyerap (absorpsi) debu semen. SPESIALISASI POHON Pohon Penyerap Polutan Timbal: Mahoni (Swietenia microphyla); Jamuju (Podocarpus imbricatus); Pala (Mirystica fragrans); Asam Londo (Pithecelobium dulce); Jambu Batu (Psidium guajava); Angsana (Pterocarpus indicus); Cemara Gunung ( Casuarina junghuhniana); Kayu manis (Cinamomun burmani); Tanjung (Mimosup elegi)

47 Hutan kota sebagai peredam kebisingan. Kepadatan kendaraan bermotor di perkotaan dapat menimbulkan kebisingan yang sangat mengganggu, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar jalan raya. Dengan menanam berbagai jenis tanaman dalam berbagai strata yang cukup rapat dan tinggi di pinggir jalan raya atau di tengah sebagai pembatas jalan raya akan dapat merangi kebisingan, khususnya kebisingan yang bersumber dari bawah seperti kendaraan bermotor. Tipe Kawasan Pemukiman: Hutn kota yang dibangun pada areal permukiman, berfungsi sbg penghasil oksigen, penyerap CO2, peresap air, penahan angin, dan peredam kebisingan; berupa jenis komposisi tanaman pepohonan yg tinggi dikombinasi dg perdu dan rerumputan Karakteristik pepohonannya: 1. Pohon dengan perakaran yg kuat, ranting tidak mudah patah, daun tidak mudah gugur. 2. Pohon penghasil bunga/buah/biji yg bernilai ekonomis

48 Hutan kota berperan dalam mengurangi bahaya hujan asam. Polusi udara di perkotaan dapat menghasilkan hujan asam yang berbahaya bagi kehidupan. Hujan asam yang mengandung H2SO4 atau HNO3 apabila tiba di permukaan daun pepohonan akan mengalami reaksi yang menetralkan air hujan yang asam tersebut.

49 HUTAN KOTA Hutan kota berperan sebagai penyerap karbon monoksida. Polusi udara berupa karbon monoksida yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakan minyak dapat berbahaya bagi manusia. Mikroorganisme serta tanah pada lantai hutan kota mempunyai peranan yang sangat baik dalam menyerap gas karbon monoksida dari udara yang semula konsentrasinya sebesar 120 ppm manjadi mendekati nol hanya dalam waktu 3 jam saja. Jenis tanaman untuk penghijauan kota adalah (1) mempunyai perakaran yang dalam (2) pertumbuhannya cepat dan tahan terhadap pemangkasan dan gangguan fisik, (3) Tahan terhadap kekurangan air, (4) selalu hijau dan berbunga, (5) dapat tumbuh pada berbagai kondisi tanah, (6) tajuknya melebar, (7) cabangnya tidak mudah rontok, (8) berpengaruh baik terhadap tanah, (9) dapat tumbuh pada lahan terbuka, (10) disenangi oleh warga kota.

50 Hutan kota berperan sebagai penyerap karbon dioksida dan penghasil oksigen. Cahaya matahari akan dimanfaatkan tumbuhan hutan kota dalam proses fotosintesis yang berfungsi mengubah gas CO2 dan air menjadi karbohidrat dan oksigen.

51 Hutan kota berperan sebagai penahan angin. Untuk tujuan ini perlu dipilih jenis tanaman yang memiliki dahan kuat, daun tidak mudah rontok, akarnya menghunjam ke dalam tanah serta tinggi dan lebar daun cukup besar. Pohon peneduh jalan raya, jalur hijau di bawah kawat listrik tegangan tinggi, jalur hijau di tepi jalan kereta api, jalur hijau di tepi sungai di dalam kota atau di luar kota dapat dibangun dan dikembangkan sebagai hutan kota guna diperoleh manfaat kualitas lingkungan perkotaan yang baik. Tanaman yang ditanam pada daerah di bawah jalur kawat listrik dan telepon diusahakan yang rendah saja, atau boleh saja dengan tanaman yang dapat menjulang tinggi, namun pada batas ketinggian tertentu harus diberikan pemangkasan. Foto: smno-malang-juli2009

52 Hutan kota berperan sebagai penyerap dan penapis bau. Tanaman dapat menyerap bau secara langsung juga dapat menahan gerakan angin dari sumber bau.

53 Hutan kota berperan dalam mengatasi penggenangan. Daerah rendah yang sering digenangi air perlu ditanami dengan jenis tanaman yang mempunyai kemampuan evapotranspirasi tinggi. Dalam hal ini diperlukan jenis tanaman dengan jumlah daun banyak sehingga mempunyai luas permukaan daun untuk penguapan yang tinggi.

54 Hutan kota berperan mengatasi intrusi air laut. Kota di daerah pantai perlu membangun hutan kota di daerah resapan air dengan jenis tanaman yang mempunyai daya evapotranspirasi rendah sehingga kandungan air tanah dapat dipertahankan.

55 Hutan kota berperan sebagai hutan produksi terbatas. Untuk tujuan ini perlu dipilih jenis tanaman yang memiliki nilai ekonomis tinggi sehingga pada saatnya nanti dapat dipanen kemudian dijual untuk menghasilkan pemasukan bagi pemerintah daerah.

56 IKLIM MIKRO KOTA Hutan kota berperan dalam menjaga kestabilan iklim mikro perkotaan. Hutan kota diperlukan untuk mengelola lingkungan perkotaan agar pada siang hari tidak terlalu panas sebagai akibat banyaknya jalan aspal, gedung bertingkat, jembatan dan sebagainya. Sebaliknya pada malam hari iklim mikro perkotaan dapat lebih hangat karena tajuk pohon dapat menahan radiasi balik dari bumi. Jalur hijau meredam kebisingan dan panasnya kota Foto: smno-malang-juni2010

57 Hutan kota berperan dalam pengelolaan sampah. Hutan kota dapat sebagai penyekat bau, pelindung tanah hasil bentukan dekomposisi dari sampah dan penyerap zat berbahaya yang mungkin terkandung dalam sampah.

58 Hutan kota berperan dalam pelestarian air tanah. Sistem perakaran tanaman dan serasah yang berubah menjadi humus akan memperbesar jumlah pori tanah dengan kemampuan menyerap air yang besar sehingga kadar air tanah akan meningkat. BENEFITS OF TREES IN THE BUILT ENVIRONMENT Amenity Benefits Trees: ● introduce an element of natural scale to buildings and streets ● reflect the changing seasons and provide a psychological link with the countryside ● bring visual beauty to the built environment.

59 HUTAN KOTA Hutan kota berperan dalam meningkatkan keindahan. Lingkungan buatan di perkotaan walaupun bentuk, tekstur dan warnanya telah dibentuk sedemikian rupa tetap tidak alami. Dengan menghadirkan pohon di perkotaan maka akan tercipta keindahan yang telah ada menjadi makin sempurna. Beberapa jenis burung sangat membutuhkan pohon sebagai tempat mencari makan maupun sebagai tempat bersarang dan bertelur. Pohon kaliandra di antaranya disenangi burung pengisap madu. Pohon jenis lain disenangi oleh burung, karena berulat yang dapat dimakan oleh jenis burung lainnya.

60 VEGETASI DAN BURUNG Menurut Ballen (1989), beberapa jenis tumbuhan yang banyak didatangi burung antara lain : Kiara, caringin dan loa (Ficus spp.) F. benjamina, F. variegata, dan F. glaberrima buahnya banyak dimakan oleh burung seperti punai (Treron sp.). Dadap (Erythrina variegata). Bunganya menghasilkan nektar. Beberapa jenis burung yang banyak dijumpai pada tanaman dadap yangtengah berbunga antara lain : betet (Psittacula alexandri), serindit (Loriculus pusillus), jalak (Sturnidae) dan beberapa jenis burung madu. Dangdeur (Gossampinus heptaphylla). Bunganya yang berwarna merah menarik burung ungkut-ungkut dan srigunting. Aren (Arenga pinnata). Ijuk dari batangnya sering dimanfaatkan oleh burung sebagai bahan untuk pembuatan sarangnya. Bambu (Bambusa spp.). Burung blekok (Ardeola speciosa) dan manyar (Ploceus sp.) bersarang di pucuk bambu. Sedangkan jenis burung lainnya seperti : burung cacing (Cyornis banyumas), celepuk (Otus bakkamoena), sikatan (Rhipidura javanica), kepala tebal bakau ( Pachycephala cinerea) dan perenjak kuning (Abroscopus superciliaris) bertelur pada pangkal cabangnya, di antara dedaunan dan di dalam batangnya.

61 Hutan kota berperan sebagai penapis cahaya silau. Pohon dapat dipilih berdasarkan ketinggian dan kerimbunan tajuknya untuk meredam cahaya silau.

62 Hutan kota bermanfaat sebagai habitat burung dan satwa lain. Beberapa jenis burung membutuhkan pohon sebagai tempat mencari makan, bersarang dan bertelur. Dengan adanya hutan kota akan membuat sebuah kota menjadi hijau dan penuh dengan kicau burung. Foto: smno-malang-juli2009

63 Hutan kota berperan penting bagi masyarakat perkotaan sebagai tempat untuk mengurangi stress. Hutan kota dapat memberikan kesejukan dan kesegaran sehingga menghilangkan kejenuhan dan kepenatan. Kicauan burung dan tarian burung akan menghilangkan kejemuan serta hutan kota dapat mengurangi kekakuan dan monotonitas. Penyerap dan Penapis Bau Daerah yang merupakan tempat penimbunan sampah sementara atau permanen mempunyai bau yang tidak sedap. Tanaman dapat digunakan untuk mengurangi bau. Tanaman dapat mengeluarkan bau harum yang dapat menetralisir bau busuk dan menggantinya dengan bau harum. Tanaman yang dapat menghasilkan bau harum antara lain : Cempaka (Michelia champaka) dan tanjung (Mimusops elengi).

64 Hutan kota berperan mengamankan pantai dari bencana abrasi. Hutan kota berupa formasi hutan mangrove di pesisir pantai dapat meredam de-buran ombak dan membantu proses pengendapan lumpur di pantai untuk pembentukan daratan baru.

65 Hutan kota berperan dalam meningkatkan industri pariwisata. Aneka jenis tanaman dan satwa langka yang ditangkar di hutan kota dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Foto: smno-malang-juli2009

66 Hutan kota berperan sebagai tempat penyaluran hobi dan pengisi waktu luang. Monotonitas, rutinitas dan kejenuhan masyarakat kota perlu diimbangi dengan kegiatan lain bersifat rekreatif yang dapat disalurkan di hutan kota. Tanaman dalam bentuk, warna dan tekstur tertentu dapat dipadu dengan benda-benda buatan seperti gedung, jalan dan sebagainya untuk mendapatkan komposisi yang baik. Peletakan dan pemilihan jenis tanaman harus dipilih sedemikian rupa, sehingga pada saat pohon tersebut telah dewasa akan sesuai dengan kondisi yang ada. Warna daun, bunga atau buah dapat dipilih sebagai komponen yang kontras atau untuk memenuhi rancangan yang nuansa (bergradasi lembut).

67 PENGHIJAUAN KOTA Penghijauan perkotaan yaitu menanam tumbuh-tumbuhan sebanyak-banyaknya di halaman rumah atau Di lingkungan sekitar rumah maupun dipinggir jalan, apakah itu berbentuk pohon, semak, perdu, rumput atau penutup tanah lainnya, di setiap jengkal tanah yang kosong yang ada dalam kota dan sekitarnya, sering disebut sebagai ruang terbuka hijau (RTH). RTH sangat penting, mengingat tumbuh-tumbuhan mempunyai peranan sangat penting dalam alam, yaitu dapat dikategorikan menjadi fungsi lansekap (sosial dan fisik), fungsi lingkungan (ekologi) dan fungsi estetika (keindahan)

68 . BENTUK-BENTUK RTH Berdasarkan kepada fungsi utama RTH dapat dibagi menjadi: 1. Pertanian perkotaan, fungsi utamanya adalah untuk mendapatkan hasilnya untuk konsumsi yang disebut dengan hasil pertanian kota seperti hasil hortikultura. 2. Taman kota, mempunyai fungsi utama untuk keindahan dan interaksi sosial 3. Hutan kota, mempunyai fungsi utama untuk peningkatan kualitas lingkungan

69 . VEGETASI HUTAN KOTA Hutan Kota dapat memberikan kota yang nyaman sehat dan indah (estetis). Kita sangat membutuhkan hutan kota, untuk perlindungan dari berbagai masalah lingkungan perkotaan. Hutan kota mempunyai banyak fungsi (kegunaan dan manfaat). Hal ini tidak terlepas dari peranan tumbuh- tumbuhan di alam. Tumbuh-tumbuhan sebagai produsen pertama dalam ekosistem, mempunyai berbagai macam kegiatan metabulisme untuk ia hidup, tumbuh dan berkembang. Kegiatan metabulisme tumbuh-tumbuhan dimaksud telah memberikan keuntungan dalam kehidupan kita. Tidak ada satu makhlukpun yang dapat hidup tanpa tumbuh- tumbuhan

70 . PENTINGNYA POHON Untuk menghadapi kemajuan, kita perlu melakukan perubahan dan untuk itu kita perlu melakukan pembangunan. Dalam pembangunan itu kita akan tahu tentang sejauh mana kerugian kita, jika kita menebang pohon atau membabat tumbuh-tumbuhan tanpa pertimbangan dengan alasan nanti toh tumbuh-tumbuhan itu akan tumbuh kembali. Mudah-mudahan pelaku pembangunan dapat menyadari, bahwa tumbuh-tumbuhan itu adalah makhluk hidup dan butuh waktu untuk tumbuh dan berkembang Menanggulangi Hujan Asam Pohon dapat membantu mengatasi dampak hujan asam melalui proses fisiologis yang disebut GUTASI. Proses ini akan menghasilkan unsur alkalis seperti Ca, Na, K, dan Mg, serta senyawa organik seperti glutamin dan gula (Smith, 1981). Unsur alkalis ini akan menhgikat sulfat atau nitrat yang terdapat dalam air hujan.

71 KENYAMANAN HUTAN KOTA Hutan kota dapat memberikan kenyamanan dan kenikmatan kepada konsumen pengunjung. Apalagi bila kita dapat mengembangkan dan membangun hutan kota yang berstruktur, dengan keanekaragam jenis tumbuh- tumbuhan dan jumlah yang banyak serta ditata dengan baik. Diharapkan hutan kota dapat memenuhi tingkat kenyamanan yang dikehendaki, karena hutan kota dapat memodifikasi iklim mikro.

72 Hutan kota yang berstrata banyak memberikan lingkungan sekitarnya relatif lebih nyaman daripada yang berstrata dua, dan di dalam hutan akan kita rasakan lingkungannya lebih nyaman dibandingkan dengan di luar hutan kota.

73 Diharapkan hutan kota dapat memenuhi tingkat kenyamanan yang dikehendaki, karena hutan kota dapat memodifikasi iklim mikro. Trees reduce airborne particulate matter by as much as 75%. The high surface-to-volume ratio of trees and fine hair on the surface of their bark, twigs and leaves are all important factors in filtering out such pollutants. Another benefit to air quality is the amount of oxygen a tree produces during photosynthesis. A 24m tall beech tree with a crown diameter of 15m produces enough oxygen for 10 people to breath. Trees counteract visual pollution. Glare from highly reflective building materials or street lighting is reduced by the presence of trees.

74 Hutan Kota dapat memberikan kota yang nyaman sehat dan indah (estetis). Trees increase humidity in the atmosphere and absorb airborne particulates. Leaves are then cleansed by the rain.

75 HASIL-HAISL PENELITIAN PRODUKSI OKSIGEN TUMBUHAN Diunduh dari: ……. 6/1/2013

76 OXYGEN PRODUCTION BY URBAN TREES IN THE UNITED STATES David J. Nowak, Robert Hoehn, and Daniel E. Crane Arboriculture & Urban Forestry (3):220–226. Urban forests in the coterminous United States are estimated to produce ≈61 million metric tons (67 million tons) of oxygen annually, enough oxygen to offset the annual oxygen consumption of approximately two-thirds of the U.S. population. Although oxygen production is often cited as a significant benefit of trees, this benefit is relatively insignificant and of negligible value as a result of the large oxygen content of the atmosphere. Other benefits of the urban forest are more critical to environmental quality and human health than oxygen production by urban trees. Urban forests produce large amounts of oxygen. However, with the large and relatively stable amount of oxygen in the atmosphere and extensive production by aquatic systems, this tree benefit is relatively insignificant. Tree impacts on important atmospheric trace chemicals such as carbon dioxide and U.S. Environmental Protection Agency criteria air pollutants (ozone, particulate matter, sulfur dioxide, nitrogen dioxide, carbon monoxide, and lead) will have greater significant impacts on human health and environmental quality. Urban forest carbon sequestration and air pollution removal along with other environmental impacts of urban forests (e.g., water quality improvement, lower air temperatures, reduced ultraviolet radiation loads) need to be better incorporated within local and regional planning efforts to improve environmental quality and enhance the quality of urban life. Diunduh dari: ……. 6/1/2013

77 OXYGEN PRODUCTION BY URBAN TREES IN THE UNITED STATES David J. Nowak, Robert Hoehn, and Daniel E. Crane Arboriculture & Urban Forestry (3):220–226. Urban vegetation, particularly trees, provides numerous benefits that can improve environmental quality and human health in and around urban areas. These benefits include improvements in air and water quality, building energy conservation, cooler air temperatures, reductions in ultraviolet radiation, and many other environmental and social benefits (Nowak and Dwyer 2007). Although many ecology textbooks reveal that the vast majority of oxygen- producing organisms in the world are aquatic, oxygen production is one of the most commonly cited benefits of urban trees. Common questions related to the benefits of urban forests are directed toward understanding the amount of oxygen produced by urban forests, often in relation to the amount of oxygen consumed by humans. It is well known that trees produce oxygen, but how significant is the oxygen production benefit provided by urban forests? 1.Nowak, D.J., and J.F. Dwyer Understanding the benefits and costs of urban forest ecosystems, pp. 25–46. In Urban and Community Forestry in the Northeast. Kuser, J., Ed. Springer Science and Business Media, New York, NY.

78 OXYGEN PRODUCTION BY URBAN TREES IN THE UNITED STATES David J. Nowak, Robert Hoehn, and Daniel E. Crane Arboriculture & Urban Forestry (3):220–226. Oxygen Production by Trees Net oxygen production by trees is based on the amount of oxygen produced during photosynthesis minus the amount of oxygen consumed during plant respiration (Salisbury and Ross 1978): Photosynthesis: n(CO2) + n(H2O) + light → (CH2O)n + nO2 Respiration: (CH2O)n + nO2 → n(CO2) + n(H2O) + energy If carbon dioxide uptake during photosynthesis exceeds carbon dioxide release by respiration during the year, the tree will accumulate carbon (carbon sequestration). Thus, a tree that has a net accumulation of carbon during a year (tree growth) also has a net production of oxygen. The amount of oxygen produced is estimated from carbon sequestration based on atomic weights: net O2 release (kgyr) = net C sequestration (kgyr) × Salisbury, F.B., and C.W. Ross Plant Physiology. Wadsworth Publishing Company, Belmont, CA. 422 pp.

79 OXYGEN PRODUCTION BY URBAN TREES IN THE UNITED STATES David J. Nowak, Robert Hoehn, and Daniel E. Crane Arboriculture & Urban Forestry (3):220–226. Tree Biomass The net amount of oxygen produced by a tree during a year is directly related to the amount of carbon sequestered by the tree, which is tied to the accumulation of tree biomass. Biomass for each measured tree was calculated using equations from the literature with inputs of dbh and tree height (Nowak 1994; Nowak et al. 2002a). Equations that predict aboveground biomass were converted to whole tree biomass based on a belowground to aboveground ratio of 0.26 (Cairns et al. 1997). Equations that compute fresh weight biomass were multiplied by species- or genus-specific conversion fac tors to yield dry weight biomass. These conversion factors, derived from average moisture contents of species given in the literature, averaged 0.48 for conifers and 0.56 for hardwoods (Nowak 1994). 1.Nowak,D.J Atmospheric carbon dioxide reduction by Chicago’s urban forest, pp. 83–94. In Chicago’s Urban Forest Ecosystem: Results of the Chicago Urban Forest Climate Project. McPherson, E.G., Nowak, D.J., and Rowntree, R.A., Eds. USDA Forest Service General Technical Report NE-186, Radnor, PA. 2.Nowak, D.J., D.E. Crane, J.C. Stevens, and M. Ibarra. 2002a. Brooklyn’s Urban Forest. General Technical Report NE- 290, U.S. Department of Agriculture, Forest Service, Northeastern Research Station, Newtown Square, PA. 107 pp. 3.Cairns, M.A., S. Brown, E.H. Helmer, and G.A. Baumgardner Root biomass allocation in the world’s upland forests. Oecologia 111:1–11. Diunduh dari: ……. 6/1/2013

80 OXYGEN PRODUCTION BY URBAN TREES IN THE UNITED STATES David J. Nowak, Robert Hoehn, and Daniel E. Crane Arboriculture & Urban Forestry (3):220–226. Tree Biomass Open-grown, maintained trees tend to have less aboveground biomass than predicted by forest-derived biomass equations for trees of the same diameter at breast height (Nowak 1994). To adjust for this difference, biomass results for open-grown urban trees were multiplied by a factor of 0.8 (Nowak 1994). No adjustment was made for trees found in more natural stand conditions (e.g., vacant lands, forest preserves). Because deciduous trees drop their leaves annually, only carbon stored in woody biomass was calculated for these trees. Total tree dry weight biomass (above- and belowground) was converted to total stored carbon by multiplying by Nowak,D.J Atmospheric carbon dioxide reduction by Chicago’s urban forest, pp. 83–94. In Chicago’s Urban Forest Ecosystem: Results of the Chicago Urban Forest Climate Project. McPherson, E.G., Nowak, D.J., and Rowntree, R.A., Eds. USDA Forest Service General Technical Report NE-186, Radnor, PA. 2.Nowak, D.J., D.E. Crane, J.C. Stevens, and M. Ibarra. 2002a. Brooklyn’s Urban Forest. General Technical Report NE- 290, U.S. Department of Agriculture, Forest Service, Northeastern Research Station, Newtown Square, PA. 107 pp. 3.Cairns, M.A., S. Brown, E.H. Helmer, and G.A. Baumgardner Root biomass allocation in the world’s upland forests. Oecologia 111:1–11. Diunduh dari: ……. 6/1/2013

81 OXYGEN PRODUCTION BY URBAN TREES IN THE UNITED STATES David J. Nowak, Robert Hoehn, and Daniel E. Crane Arboriculture & Urban Forestry (3):220–226. Urban Tree Growth and Carbon Sequestration Average diameter growth from the appropriate land use and diameter class was added to the existing tree diameter (year x) to estimate tree diameter in year x + 1. For urban trees in forest stands, average dbh growth was estimated as 0.38 cm/ year (0.15 in/year) (Smith and Shifley 1984); for trees on land uses with a park-like structure (e.g., parks, cemeteries, golf courses), average dbh growth was 0.61 cm/year (0.24 in/year) (deVries 1987); for more open-grown trees, dbh classspecific growth rates were based on Nowak (1994). Average height growth was calculated based on formulas from Fleming (1988) and the specific dbh growth factor used for the tree. 1.deVries, R.E A preliminary investigation of the growth and longevity of trees in Central Park. New Brunswick, NJ, Rutgers University, MS thesis. 2.Fleming, L.E Growth estimation of street trees in central New Jersey. New Brunswick, NJ, Rutgers University. MS thesis. 3.Nowak,D.J Atmospheric carbon dioxide reduction by Chicago’s urban forest, pp. 83–94. In Chicago’s Urban Forest Ecosystem: Results of the Chicago Urban Forest Climate Project. McPherson, E.G., Nowak, D.J., and Rowntree, R.A., Eds. USDA Forest Service General Technical Report NE-186, Radnor, PA. 4.Smith, W.B., and S.R. Shifley Diameter Growth, Survival, and Volume Estimates for Trees in Indiana and Illinois. Res. Pap. NC U.S. Department of Agriculture, Forest Service, North Central Forest Experiment Station, St. Paul, MN. Diunduh dari: ……. 6/1/2013

82 OXYGEN PRODUCTION BY URBAN TREES IN THE UNITED STATES David J. Nowak, Robert Hoehn, and Daniel E. Crane Arboriculture & Urban Forestry (3):220–226. Urban Tree Growth and Carbon Sequestration Growth rates were adjusted based on tree canopy condition. Adjustment factors were proportional to percent crown dieback (i.e., the greater the crown dieback, the slower the growth rate) and the assumption that less than 25% crown dieback had a limited effect on dbh growth rates. For trees with fair to excellent condition (less than 25% dieback), no adjustment was made to the growth rate; for poor condition trees (26% to 50% dieback), growth rates were multiplied by 0.76; critical trees (51% to 75% dieback) by 0.42; dying trees (76% to 99% dieback) by 0.15; and dead trees by 0. The difference in estimates of carbon storage between year x and year x + 1 is the net amount of carbon sequestered annually. Diunduh dari: ……. 6/1/2013

83 OXYGEN PRODUCTION BY URBAN TREES IN THE UNITED STATES David J. Nowak, Robert Hoehn, and Daniel E. Crane Arboriculture & Urban Forestry (3):220–226. Tree death leads to the eventual release of stored carbon. To estimate the net amount of carbon sequestered by the urban trees after decomposition, carbon emissions resulting from decomposition after tree death must be considered. To calculate the potential release of carbon resulting from tree death and decomposition, estimates of annual mortality rates by condition class were derived from a study of street-tree mortality (Nowak 1986). Annual mortality was estimated as 1.9% for trees 0 to 3 in dbh in the good–excellent condition class (less than 10% dieback); 1.5% for trees greater than 3 in dbh in the good–excellent condition class; 3.3% for trees in fair condition (11% to 25% dieback); 8.9% for poor condition; 13.1% for critical condition; 50% for dying; and 100% for dead. Diunduh dari: ……. 6/1/2013

84 OXYGEN PRODUCTION BY URBAN TREES IN THE UNITED STATES David J. Nowak, Robert Hoehn, and Daniel E. Crane Arboriculture & Urban Forestry (3):220–226. Two types of decomposition rates were used: (1) rapid release for aboveground biomass of trees that are projected to be removed and (2) delayed release for standing dead trees and tree roots of removed trees. Trees that are removed from urban sites are not normally developed into wood products that provide for long-term carbon storage (i.e., removed trees are often burned or mulched); therefore, they will most likely release their carbon relatively soon after removal. Individual tree estimates of mortality probability and decomposition rates were aggregated upward to yield total estimates of decomposition for the tree population. The amount of carbon sequestered as a result of tree growth was reduced by the amount lost resulting from tree mortality to estimate a net carbon sequestration rate that accounts for carbon loss resulting from decomposition. Diunduh dari: ……. 6/1/2013

85 OXYGEN PRODUCTION BY URBAN TREES IN THE UNITED STATES David J. Nowak, Robert Hoehn, and Daniel E. Crane Arboriculture & Urban Forestry (3):220–226. If dead trees are not removed annually, they have an increased probability of being measured in the tree sample, and decomposition rates must reflect this difference. All trees on vacant, transportation, and agriculture land uses, and 50% of trees in parks, were assumed to be left standing (i.e., not removed) because these trees are likely within forest stands and/or away from intensively maintained sites. These trees were assumed to decompose over a period of 20 years. Data on tree decomposition rates are limited. However, using decomposition rates from 10 to 50 years had little effect on overall net decomposition within a single year. Trees on all other land uses were assumed to be removed within 1 year of tree death. For removed trees, aboveground biomass was assumed to be mulched with a decomposition rate of 3 years; below-ground biomass was assumed to decompose in 20 years. Although no mulch decomposition studies could be found, studies on decomposition reveal that 37% to 56% of carbon in tree roots and 48% to 67% of carbon in twigs is released within the first 3 years (Scheu and Schauermann 1994). Diunduh dari: 6/1/2013

86 OXYGEN PRODUCTION BY URBAN TREES IN THE UNITED STATES David J. Nowak, Robert Hoehn, and Daniel E. Crane Arboriculture & Urban Forestry (3):220–226. Estimates of carbon emissions resulting from decomposition were based on the probability of the tree dying within the next year and the probability of the tree being removed using the formula: Emission = C × Mc × Σpi((Dremove) + (Dstand)) Dremove = (pabyi)(1dm) + ((1−pab)yi)(1dr) Dstand = ((yi−1)yi)(1dr) where emission individual tree contribution to carbon emissions; C carbon storage in the next year; Mc probability of mortality based on condition class; i decomposition class (based on number of years left standing before removal); pi proportion of the land use tree population in decomposition class i; pab proportion of tree biomass aboveground; yi number of years left standing before removal (yi → for dead trees that will never be cut down (natural decomposition)); dm decomposition rates for mulched aboveground biomass (3 years); and dr decomposition rate for standing trees and tree roots (20 years). Diunduh dari: ……. 6/1/2013

87 OXYGEN PRODUCTION BY URBAN TREES IN THE UNITED STATES David J. Nowak, Robert Hoehn, and Daniel E. Crane Arboriculture & Urban Forestry (3):220–226. Human Oxygen Consumption An average adult human oxygen consumption rate of 0.84 kg/day (1.85 lb/day) (Perry and LeVan c. 2003) was used to estimate how much human oxygen consumption would be offset by urban forest oxygen production annually. To estimate how much human oxygen consumption would be offset, oxygen production was divided by average annual oxygen consumption per person. Diunduh dari: ……. 6/1/2013

88 OXYGEN PRODUCTION BY URBAN TREES IN THE UNITED STATES David J. Nowak, Robert Hoehn, and Daniel E. Crane Arboriculture & Urban Forestry (3):220–226. RESULTS Net annual oxygen production by urban forests (after accounting for decomposition) in selected cities ranged from 1,000 metric tons (1,100 tons) in Freehold, New Jersey, U.S. to 86,000 metric tons (94,800 tons) in Atlanta, Georgia (Table 2). This net oxygen production offsets oxygen consumption from between 2% of the human population in Jersey City, New Jersey, and New York, New York, to greater than 100% in Moorestown, New Jersey. Mean net annual oxygen production (after accounting for decomposition) per hectare of trees (100% tree canopy) offsets oxygen consumption of 19 people per year (eight people per acre of tree cover), but ranges from nine people per hectare of canopy cover (four people/ac cover) in Minneapolis, Minnesota, to 28 people/ha cover (12 people/ac cover) in Calgary, Alberta. The average number of trees needed to offset the annual oxygen consumption of one adult was 30 trees (net oxygen production after accounting for decomposition) but ranged from 17 trees in Freehold, New Jersey, to 81 trees in Calgary, Alberta. This difference is a reflection of different tree sizes, conditions, and growth rates among these cities. Diunduh dari: 6/1/2013

89 OXYGEN PRODUCTION BY URBAN TREES IN THE UNITED STATES David J. Nowak, Robert Hoehn, and Daniel E. Crane Arboriculture & Urban Forestry (3):220–226. Tree oxygen production varies by tree size. Based on data from Minneapolis, Minnesota (Nowak et al. 2006b), trees 1–3 dbh produced ≈2.9 kg O2/year (6.4 lb O2/year); trees 9–12 dbh: 22.6 kg O2/year (49.9 lb O2/year); 18–21 dbh: 45.6 kg O2/year (100.5 lb O2/year); 27–30 dbh: 91.1 kg O2/year (200.8 lb O2/year); and greater than 30 dbh: kg O2/year (243.2 lb O2/year). Based on the national estimate of net carbon sequestration in the coterminous United States of 22.8 million metric tonsC/year (25.1 million tonsC/year) (Nowak and Crane 2002), urban forests in the United States produce ≈61 million metric tons (67 million tons) of oxygen annually, which is enough oxygen to offset human oxygen consumption for approximately two-thirds of the U.S. population. Diunduh dari: 6/1/2013

90 OXYGEN PRODUCTION BY URBAN TREES IN THE UNITED STATES David J. Nowak, Robert Hoehn, and Daniel E. Crane Arboriculture & Urban Forestry (3):220–226. DISCUSSION Oxygen production by trees varies among cities based on differences in number of healthy trees, growth rates, and diameter distributions. Cities with mostly small trees would require more trees on average to offset the oxygen consumption of one person. Percent of the population’s oxygen consumption offset by urban forests varies depending on population density and total oxygen production. Cities with high human population density (e.g., Jersey City and New York) tend to have the lowest proportion of their oxygen consumption offset by their urban forest. A commonly cited statement is an acre of trees (100% tree canopy) can provide enough oxygen for 18 people (e.g., American Forests 2006; Tree- People 2006), but based on this study, this estimate appears to be high by at least a factor of two. The number is more on the order of eight people per acre of tree cover (100% tree canopy). Oxygen production per acre of tree cover will vary based on tree density, diameter distribution, and tree health and growth. Diunduh dari: 6/1/2013

91 OXYGEN PRODUCTION BY URBAN TREES IN THE UNITED STATES David J. Nowak, Robert Hoehn, and Daniel E. Crane Arboriculture & Urban Forestry (3):220–226. Oxygen production is one of many environmental benefits that trees produce, and urban trees can produce a significant amount of oxygen. However, is this oxygen production actually creating a significant environmental benefit in comparison with other environmental benefits of trees such as carbon sequestration and air pollution removal? In the coterminous United States, annual carbon sequestration by urban forests is estimated at 22.8 million metric tons (25.1 million tons) with a societal value of ≈$460 million per year (Nowak and Crane 2002). Air pollution removal in the coterminous United States is estimated at 711,000 metric tons (784,000 tons) with a $3.8 billion annual value (Nowak et al. 2006a). Oxygen production by U.S. urban forests is estimated at 61 million metric tons (67 million tons), but the value to society is negligible. Diunduh dari: 6/1/2013

92 OXYGEN PRODUCTION BY URBAN TREES IN THE UNITED STATES David J. Nowak, Robert Hoehn, and Daniel E. Crane Arboriculture & Urban Forestry (3):220–226. The reason the oxygen production value of urban trees is insignificant has to do with the large amount of oxygen within the atmosphere (approximately 21% of the atmosphere’s volume is oxygen). As stated by Miller (1979): “We have a large number of serious ecological problems, but suffocation from lack of oxygen is not one of them (Broecker 1970; SCEP 1970). The oxygen content of the atmosphere remains essentially constant with the oxygen consumed by all animals, bacteria, and respiration processes roughly balanced by the oxygen released by land and sea plants during photosynthesis. The present atmospheric oxygen content seems not to have changed since 1910 (SCEP 1970). Furthermore, because air is about 20 percent oxygen, the total supply is immense (Broecker 1970).” Our atmosphere has such an enormous reserve of oxygen that even if all fossil fuel reserves, all trees, and all organic matter in soils were burned, atmospheric oxygen would only drop a few percent (Broecker 1996). Also, waters of the world are the main oxygen generators of the biosphere; their algae are estimated to replace ≈90% of all oxygen used (Encyclopaedia Britannica 1994). Thus, although urban trees do produce significant amounts of oxygen, it is not a significant ecologic benefit given the global nature of oxygen and the sheer volume of oxygen in the atmosphere. Diunduh dari: 6/1/2013

93 OXYGEN PRODUCTION BY URBAN TREES IN THE UNITED STATES David J. Nowak, Robert Hoehn, and Daniel E. Crane Arboriculture & Urban Forestry (3):220–226. A growing forest will remove carbon dioxide and produce oxygen. Conversely, a decaying or declining forest will release carbon dioxide and consume oxygen through decomposition processes. If forest canopy cover is increased (more trees are added) and sustained through time, net carbon dioxide will be removed and oxygen produced. Given the carbon dioxide level in the atmosphere (≈0.03%) is much less than the oxygen level (21%), the relative impact of urban forests and their management are much more significant for carbon dioxide than for oxygen. Fossil fuel combustion also consumes oxygen and as a result of fossil fuel use, the oxygen content of the atmosphere is slowly declining. Between 1989 and 1994, the oxygen content of the atmosphere dropped at an annual rate of 2 ppm out of 210,000 ppm (Broecker 1996). Thus, reducing fossil fuel use in the management of urban forests not only reduces emission of carbon dioxide, but also the consumption of oxygen. If fossil fuels are consistently used to maintain an urban forest, the net effect of the forest and its management will be carbon dioxide production and oxygen consumption. The point in the future when carbon emissions from maintenance exceed carbon sequestration by the forest varies by tree species and intensity of fossil fuel-based management (Nowak et al. 2002b). 1.Nowak, D.J., R. Hoehn, D.E. Crane, J.C. Stevens, and J.T. Walton. 2006b. Assessing Urban Forest Effects and Values: Minneapolis’ Urban Forest. Resource Bulletin NE-166. U.S. Department of Agriculture, Forest Service, Northeastern Research Station, Newtown Square, PA. 20 pp. Diunduh dari: 6/1/2013

94 OXYGEN PRODUCTION BY URBAN TREES IN THE UNITED STATES David J. Nowak, Robert Hoehn, and Daniel E. Crane Arboriculture & Urban Forestry (3):220–226. Urban trees can improve air quality (Cardelino and Chameides 1990; Taha 1996; Nowak et al. 2000, 2006a). Because small changes in air pollution concentrations can have relatively considerable impacts on air quality and human health, the effects of urban forests on air pollution can be significant. Recently, the U.S. Environmental Protection Agency has introduced urban tree cover as a potential emerging measure to help meet air quality standards (U.S. Environmental Protection Agency 2004; Nowak 2005). 1.Cardelino, C.A., and W.L. Chameides Natural hydrocarbons, urbanization, and urban ozone. Journal of Geophysical Research 95:13971– Nowak, D.J., K.L. Civerolo, S.T. Rao, G. Sistla, C.J. Luley, and D.E. Crane A modeling study of the impact of urban trees on ozone. Atmospheric Environment 34: 1610– Nowak,D.J Strategic tree planting as an EPA encouraged pollutant reduction strategy: How urban trees can obtain credit in State Implementation Plans. Sylvan Communities. Summer/Fall:23–27. 4.Nowak, D.J., D.E. Crane, and J.C. Stevens. 2006a. Air pollution removal by urban trees and shrubs in the United States. Urban Forestry and Urban Greening 4:115– Taha, H Modeling impacts of increased urban vegetation on ozone air quality in the South Coast Air Basin. Atmospheric Environment 30:3423–3430. Diunduh dari: 6/1/2013

95 OXYGEN PRODUCTION BY URBAN TREES IN THE UNITED STATES David J. Nowak, Robert Hoehn, and Daniel E. Crane Arboriculture & Urban Forestry (3):220–226. In general, tree effects on trace chemicals in the atmosphere (chemicals that are minor components of the total atmosphere) will have a much greater relative impact on environmental quality and human health than chemicals such as oxygen that comprise a large proportion of the atmosphere. Relatively minor changes in trace chemicals can have significant effects on environmental and human health (e.g., impacts of ozone, particulate matter, nitrogen, and sulfur oxides) and climate change (e.g., impact of carbon dioxide). 1.Cardelino, C.A., and W.L. Chameides Natural hydrocarbons, urbanization, and urban ozone. Journal of Geophysical Research 95:13971– Nowak, D.J., K.L. Civerolo, S.T. Rao, G. Sistla, C.J. Luley, and D.E. Crane A modeling study of the impact of urban trees on ozone. Atmospheric Environment 34: 1610– Nowak,D.J Strategic tree planting as an EPA encouraged pollutant reduction strategy: How urban trees can obtain credit in State Implementation Plans. Sylvan Communities. Summer/Fall:23–27. 4.Nowak, D.J., D.E. Crane, and J.C. Stevens. 2006a. Air pollution removal by urban trees and shrubs in the United States. Urban Forestry and Urban Greening 4:115– Taha, H Modeling impacts of increased urban vegetation on ozone air quality in the South Coast Air Basin. Atmospheric Environment 30:3423–3430. Diunduh dari: 6/1/2013

96 OXYGEN PRODUCTION BY URBAN TREES IN THE UNITED STATES David J. Nowak, Robert Hoehn, and Daniel E. Crane Arboriculture & Urban Forestry (3):220–226. Although the absolute magnitude of oxygen production by urban forests is over 2.5 times greater than for carbon sequestration and 85 times greater than for air pollution removal nationally, the relative impacts of carbon sequestration and air pollution removal are much more significant than oxygen production. Urban forest effects on trace chemicals can lead to significant improvements in environmental quality and human health and well-being. Diunduh dari: 6/1/2013


Download ppt "Program pembangunan dan pengembangan hutan kota dapat membantu mengurangi sifat yang negatif tersebut. Kesejukan dan kesegaran yang diberikannya akan menghilangkan."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google