Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

POKOK BAHASAN SOSIOLOGI  Pokok Bahasan Sosiologi  Pembagian Sosiologi  Perspektif Sosiologi pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc1.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "POKOK BAHASAN SOSIOLOGI  Pokok Bahasan Sosiologi  Pembagian Sosiologi  Perspektif Sosiologi pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc1."— Transcript presentasi:

1 POKOK BAHASAN SOSIOLOGI  Pokok Bahasan Sosiologi  Pembagian Sosiologi  Perspektif Sosiologi pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc1

2 Pokok-pokok Bahasan Sosiologi Pokok bahasan Sosiologi ditinjau dari pandangan dua perintis sosiologi:  Emile Durkheim  Max Weber Pokok bahasan Sosiologi ditinjau dari pandangan dua tokoh sosiologi masa kini:  Wright Mills  Peter Berger pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc2

3 Pandangan Para Perintis: EMILE DURKHEIM: Fakta Sosial Fakta Sosial Sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari apa yang dianamakannya fakta sosial (fait social). Fakta sosial merupakan cara bertindak, berpikir, dan berperasaan, yang berada di luar individu, dan mempunyai kekuatan memaksa yang mengendalikannya. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc3

4 Pandangan Para Perintis: EMILE DURKHEIM: Fakta Sosial Here, then, is a category of facts with very distinctive characteristics: it consists of ways of acting, thinking, and feeling, external to the individual, and endowed with a power of coercion, by reason of which they control him … these ways of thinking and acting … constitute the proper domain of sociology (Durkheim, 1965:3-4) pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc4

5 Pandangan Para Perintis: EMILE DURKHEIM: Fakta Sosial Durkheim menyajikan contoh, yang salah satunya pendidikan anak sejak kecil: bagaimana dan kapan makan, minum, tidur, menjaga kebersihan, diharuskan tenggang rasa kepada orang lain, menghormati adat dan kebiasaan. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc5

6 Pandangan Para Perintis: EMILE DURKHEIM: Fakta Sosial Pada proses tersebut, dijumpai unsur-unsur cara bertindak, berpikir, dan berperasaan, yang bersumber pada suatu kekuatan di luar individu, bersifat memaksa dan mengendalikan individu, dan berada di luar kehendak pribadi individu. JIka tidak taat, akan mengalami sanksi dari suatu kekuatan luar. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc6

7 Pandangan Para Perintis: EMILE DURKHEIM: Fakta Sosial Pembagian kerja dalam masyarakat - (spesialisasi – diferensiasi) merupakan fakta sosial. Spesialisasi dan diferensiasi dalam semua aspek kehidupan masyarakat merupakan cara bertindak yang dianut secara umum, bersifat memaksa, berada di luar kehendak pribadi individu, dan dapat menjalankan paksaan luar terhadap individu. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc7

8 Pandangan Para Perintis: EMILE DURKHEIM: Fakta Sosial pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc8 Angka bunuh diri (suicide rate) juga merupakan fakta sosial. Angka bunuh diri disebabkan oleh kekuatan yang berada di luar individu. Altruistic suicide: disebabkan integrasi sosial yang terlalu kuat. Egoistic suicide: sejumlah besar orang melakukan bunuh diri karena integrasi masyarakat terlalu lemah; misal ketika agamanya kurang mengikatnya, krisis politik, atau keluarga kurang mengikat. Anomic: bunuh diri karena masyarakat tidak memberi pegangan lagi pada warganya.

9 Pandangan Para Perintis: MAX WEBER: Tindakan Sosial Tidak semua tindakan manusia dapat dianggap sebagai tindakan sosial. Suatu tindakan hanya dapat disebut tindakan sosial apabila tindakan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain, dan berorientasi pada perilaku orang lain. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc9

10 Pandangan Para Perintis: MAX WEBER: Tindakan Sosial Bunuh diri yang terjadi karena tidak dapat menahan penderitaan pribadi bukan tindakan sosial; tetapi bunuh diri karena malu tertangkap basah korupsi, merupakan tindakan sosial. Suatu tindakan ialah perilaku manusia yang mempunyai makna subyektif bagi pelakunya. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc10

11 Pandangan Para Perintis: MAX WEBER: Tindakan Sosial Sosiologi bertujuan memahami (verstehen) mengapa tindakan sosial mempunyai arah dan akibat tertentu, sedangkan tiap tindakan mempunyai makna subjektif bagi pelakunya, maka ahli sosiologi yang hendak melakukan penafsiran bermakna, yang hendak memahami makna subjektif suatu tindakan sosial harus dapat membayangkan dirinya di tempat pelaku untuk dapat ikut menghayati pengalamannya. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc11

12 Pandangan Para Perintis: MAX WEBER: Tindakan Sosial “Put one’s self imaginatively in the place of the actor and thus sympathetically to participate in his experience.” (Weber, 1964:90). pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc12

13 Pandangan Sosiolog Masa Kini: C. WRIGHT MILLS: The Sociological Imagination Untuk dapat memahami apa yang terjadi di dunia maupun apa yang ada dalam diri sendiri manusia memerlukan apa yang dinamakan imajinasi sosial (social imagination). pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc13

14 Pandangan Sosiolog Masa Kini: C. WRIGHT MILLS: The Sociological Imagination “The sociological imagination enables us to grasp history and biography and the relations between the two within society.” (Mills, 1968:6). pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc14

15 Pandangan Sosiolog Masa Kini: C. WRIGHT MILLS: The Sociological Imagination  Public issues of social structure: merupakan hal yang berada di luar lingkungan setempat individu dan di luar jangkauan kehidupan pribadinya. Bersifat umum, suatu nilai yang didukung umum dirasa terancam. Untuk melakukan sociological imagination diperlukan dua hal pokok:  Personal trouble of milieu: merupakan masalah pribadi dan merupakan ancaman terhadap nilai yang didukung pribadi. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc15

16 Pandangan Sosiolog Masa Kini: PETER BERGER: Invitiation to Sociology Citra yang melekat pada ahli sosiologi:  Suka bekerja dengan orang lain, menolong orang lain, melakukan sesuatu untuk orang lain.  Teoretikus di bidang pekerjaan sosial.  Perekayasa sosial.  Pengumpul data statistik mengenai perilaku manusia.  Mempelajari fenomena manusia.  Manipulator manusia. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc 16

17 Pandangan Sosiolog Masa Kini: PETER BERGER: Invitiation to Sociology Tipe ideal seorang sosiolog: “The sociologist … is someone concerned with understanding society in a disciplined way. The nature of this discipline is scientific.” Untuk memahami masyarakat, yang sifatnya teoretis, sosiolog harus mengikuti aturan ilmiah, mengikuti aturan pembuktian ilmiah, objektif, mengendalikan prasangka dan pilihan pribadi, menghindar dari penilaian normatif. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc17

18 Pandangan Sosiolog Masa Kini: PETER BERGER: Invitiation to Sociology Things are not what they seem. Seeing through the facades of social structures. “The sociologist … is a person intensively, endlessly, shamelessly interested in the doings of men.” “The fascination of sociology lies in the fact that its perspective makes us see in a new light the very world in which we have lived all our lives.” pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc18

19 Pandangan Sosiolog Masa Kini: PETER BERGER: Invitiation to Sociology … there is a debunking motif inherent is sociological consciousness. The sociologist will be driven time and again, by the very logic of his discipline, to debunk the social systems he is studying. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc19

20 Pandangan Sosiolog Masa Kini: PETER BERGER: Invitiation to Sociology Sociological Problem Concept: kesalingterkaitan antara personal troubles dan public issues - yang menurutnya bersumber pada pengaturan sosial yang sering melibatkan antagonisme dan kontradiksi. “The sociological problem is … how the whole system works in the first place, what are its presuppositions and by what means it is held together.” pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc20

21 Pandangan Sosiolog Masa Kini: PETER BERGER: Invitiation to Sociology perceraian kebahagiaan rumah tangga pengangguran kemiskinan pelacuran kesuksesan suatu kelompok masyarakat pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc21

22 PEMBAGIAN SOSIOLOGI Auguste Comte:  statika sosial  dinamika sosial Durkheim:  sejumlah subdisiplin pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc22

23 PEMBAGIAN SOSIOLOGI Broom dan Selznick (1977)  macro-order (tatanan makro)  micro-order (tatanan mikro) Jack Douglas (1973)  The sociology of everyday life situations: perspektif sehari-hari, interaksionis, mikrososial.  The sociology of social structures: perspektif struktur atau makrososial. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc23

24 PEMBAGIAN SOSIOLOGI Randall Collins (1981) menjabarkan perbedaan makrososiologi dan mikrososiologi. Mikrososiologi melibatkan analisis terinci mengeai apa yang dilakukan, dikatakan, dan dipikirkan manusia dalam laju pengalaman sesaat. Makrososiologi melibatkan analisis proses berskala besar dan berjangka panjang. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc24

25 PEMBAGIAN SOSIOLOGI Collins menetapkan dua landasan empiris untuk membedakan mikrososiologi dan makrososiologi:  Faktor waktu: suatu detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, sampai ke suatu abad atau lebih.  Faktor ruang: seseorang, kelompok kecil, kerumunan atau organisasi, komunitas, sampai ke masyarakat. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc25

26 PEMBAGIAN SOSIOLOGI Gerhard Lenski (1985) mengemukakan bahwa dalam sosiologi terdapat tiga jenjang analisis: Mikrososiologi: mempelajari dampak sistem sosial dan kelompok primer pada individu. Mesososiologi: tertarik pada institusi khas dalam masyarakat mereka. Makrososiologi: mempelajari ciri masyarkat secara menyeluruh serta sistem masyarakat dunia. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc26

27 PEMBAGIAN SOSIOLOGI MACROSOCIOLOGY (Lenski): bagian sosiologi yang mempelajari ciri masyarakat secara menyeluruh serta sistem masyarakat dunia (Lenski); bagian sosiologi yang melibatkan analisis proses sosial berskala besar dan berjangka panjang. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc27

28 PEMBAGIAN SOSIOLOGI MESOSOCIOLOGY (Lenski): bagian sosiologi yang tertarik pada institusi khas dalam masyarakat. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc28

29 PEMBAGIAN SOSIOLOGI MICROSOCIOLOGY (Lenski): bagian sosiologi yang mempelajari dampak sistem sosial dan kelompok primer pada individu (Lenski); Bagian sosiologi yang melibat analisis rinci mengenai apa yang dilakukan, dikatakan, dan dipikirkan manusia dalam laju pengalaman sesaat (Collins). pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc29

30 PEMBAGIAN SOSIOLOGI Inkeles (1965) melihat bahwa sosiologi mempunyai tiga pokok bahasan yang khas: Hubungan sosial. Institusi. Masyarakat. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc30

31 PERSPEKTIF SOSIOLOGI Perspektif atau paradigma sosiologi merupakan seperangkat asumsi kerja yang digunakan dalam menelaah sesuatu. Misal, untuk menelaah sesuatu kita harus memulai dengan membuat asumsi tentang sifat-sifat yang akan kita pelajari. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc31

32 PERSPEKTIF SOSIOLOGI Perspektif adalah kerangka kerja konseptual, sekumpulan asumsi, nilai, gagasan yang mempengaruhi perspektif manusia sehingga menghasilkan tindakan dalam suatu konteks situasi tertentu. Dalam konteks sosiologi perspektif memandang proses sosial didasarkan pada sekumpulan asumsi, nilai, gagasan yang melingkupi proses sosial yang terjadi. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc32

33 PERSPEKTIF SOSIOLOGI Dalam mengamati perubahan ekonomi, politik dan sosial, para teoritisi menggunakan berbagai label dan kategori teoritis yang berbeda untuk menggambarkan ciri-ciri dan struktur masyarakat lama yang telah runtuh dan tatanan masyarakat baru yang sedang terbentuk. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc33

34 PERSPEKTIF SOSIOLOGI F. Tonnnies menggunakan istilah Gemeinschaft dan Gesellschaft. Emil Durkheim mengamati dengan solidaritas mekanik dan solidaritas organik. Herbet Spencer melihatnya dengan kategori masyarakat militer dan industri. Auguste Comte mengujinya dengan tiga tahap perkembangan yaitu tahap teologis, metafisik dan positif atau ilmiah. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc34

35 PERSPEKTIF SOSIOLOGI Empat perspektif:  Perspektif struktural fungsional  Perspektif interaksionisme simbolis  Perspektif evolusi  Perspektif konflik pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc35

36 PERSPEKTIF SOSIOLOGI Struktural Fungsional Perspektif struktural fungsional banyak dipengaruhi oleh ilmu-ilmu alam khususnya oleh ilmu biologi. Perspektif ini menganalogikan masyarakat seperti mahluk hidup atau yang dikenal dengan istilah “organisme”. Masyarakat terdiri dari berbagai unsur yang saling berhubungan dan menjalankan fungsinya masing- masing. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc36

37 PERSPEKTIF SOSIOLOGI Struktural Fungsional Ralph Dahrendorf mengemukakan empat asumsi dasar dari perspektif ini, yaitu:  Setiap masyarakat merupakan suatu struktur unsur yang relatif gigih dan stabil.  Mempunyai struktur unsur yang terintegrasi dengan baik.  Setiap unsur dalam masyarakat mempunyai fungsi, memberikan sumbangan pada terpeliharanya masyarakat sebagai suatu sistem.  Setiap struktur sosial yang berfungsi didasarkan pada konsensus mengenai nilai di kalangan para anggotanya. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc37

38 PERSPEKTIF SOSIOLOGI Struktural Fungsional Menurut perspektif struktural fungsional masyarakat merupakan suatu sistem yang unsur-unsurnya saling tergantung dan berhubungan. Bagi perspektif ini individu dibentuk oleh masyarakat, dan ini merupakan fungsi penting yang harus dilakukan oleh masyarakat. Perubahan sosial menurut perspektif ini akan mendapat perlawanan dari sistem sosial yang ada dalam masyarakat. Penjelasan perspektif struktural fungsional menitik beratkan pada konsep-konsep integrasi, saling ketergantungan, stabilitas, equilibrium atau titik keseimbangan. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc38

39 PERSPEKTIF SOSIOLOGI Struktural Fungsional Tokoh-Tokoh dari perspektif struktural fungsional di antaranya adalah Aguste Comte, Turner, Herbert Spenser, Emile Durkheim, Talcott Parsons, dan Robert K. Merton pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc39

40 PERSPEKTIF SOSIOLOGI Interaksionisme Simbolik Perspektif Interaksionisme simbolik dikembangkan dari konsep interaksi sosial. Interaksi sosial menurut perpektif ini merupakan bagian yang penting dari masyarakat. Menurut Turner, ada empat asumsi dasar yang mendasari perspektif interaksionisme simbolik yaitu :  Manusia merupakan makhluk yang mampu menciptakan dan menggunakan simbol.  Manusia menggunakan simbol untuk saling berkomunikasi.  Manusia berkomunikasi melalui pengambilan peran (terjadi melalui role taking).  Masyarakat tercipta, bertahan, dan berubah berdasarkan kemampuan manusia untuk berpikir, untuk mendefinisikan, untuk melakukan renungan, dan untuk melakukan evaluasi. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc40

41 PERSPEKTIF SOSIOLOGI Interaksionisme Simbolik Perspektif Interaksionisme simbolik melihat masyarakat sebagai kumpulan individu-individu yang berinteraksi secara tatap muka dan membentuk konsensus sosial. Perkembangan diri (kepribadian) individu berasal dari komunikasi dan interaksi sosial. Perubahan sosial bagi perspektif ini terjadi ketika tidak ada lagi konsensus bersama mengenai perilaku yang diharapkan. Perubahan itu termasuk dikembangkannya pencapaian konsensus yang baru. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc41

42 PERSPEKTIF SOSIOLOGI Interaksionisme Simbolik Perspektif ini menekankan pada konsep- konsep interpretasi, konsensus, simbol-simbol, adanya harapan-harapan bersama, dan kehidupan sosial membentuk kenyataan sosial Para tokoh yang mengembangkan perspektif interaksionisme simbolik diantaranya adalah Georg Simmel dan Max Weber, William James, Charles Horton Cooley, John Dewey, George Herbert Mead, W.I. Thomas, Herbert Blumer, Erving Goffman, dan Peter Berger. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc42

43 PERSPEKTIF SOSIOLOGI Evolusi Umumnya orang berpendapat bahwa ide mengenai kemajuan – salah satu tipe dasar perkembangan linier—hanya akan ditemukan jika kita memasuki era modern. Konsep linier tentang sejarah terlihat dari karya St. Augustine yang menulis secara rinci mengenai kebangkitan, kemajuan, dan tujuan yang ditentukan dari dua kota yakni kota Tuhan dan kota Dunia. Sejarah adalah proses interaksi antara dua kota itu. Kota yang satu menderita gangguan setan dan yang satunya lagi mendapat rahmat Tuhan. Kedua kota itu mempunyai keyakinan, harapan dan cinta yang berbeda. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc43

44 PERSPEKTIF SOSIOLOGI Evolusi Di dunia modern ide kemajuan menjadi tema dominan dan di abad ini saja kemajuan itu muncul dalam pikiran manusia. Teoretisi perkembangan percaya bahwa pada dasarnya evolusi manusia dan masyarakat itu berjalan lambat namun pasti, berkembang menuju keadaan yang lebih baik. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc44

45 PERSPEKTIF SOSIOLOGI Evolusi Comte menemukan tiga tingkat perkembangannya yaitu:  tingkat teologis atau khayalan,  tingkat metafisik atau abstrak,  tingkat ilmiah atau positif. Ketiga tingkat itu Comte menyebutnya sebagai hukum fundamental perkembangan pemikiran manusia yang dilewati secara berurutan. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc45

46 PERSPEKTIF SOSIOLOGI Evolusi Dalam pandangan Herbert Spencer perkembangan masyarakat dianalogikan dengan perubahan masyarakat homogen ke masyarakat heterogen seperti masyarakat primitive dan masyarakat modern. Suku-suku primitive serupa dalam seluruh bagian- bagiannya tetapi masyarakat modern semua struktur dan fungsinya tidaklah sama. Selanjutnya seriring dengan peningkatan heterogenitas meningkat pula hubungannya. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc46

47 PERSPEKTIF SOSIOLOGI Evolusi Kedua pandangan tersebut tidak saling meniadakan dalam teori dan kenyataannya. Keduanya saling bercampur baur. Namun kecenderungan evolusi adalah dari tipe militant ke tipe masyarakat industri. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc47

48 PERSPEKTIF SOSIOLOGI Evolusi Satu perangkat asumsi teori modernisasi berasal dari konsep-konsep dan metafora yang diturunkan dari teori evolusi. Menurut teori evolusi perubahan social pada hakekatnya merupakan gerakan searah, linier, progresif dan perlahan-lahan yang membawa masyarakat berubah dari tahapan primitive ke tahapan yang lebih maju atau modern dan membuat berbagai masyarakat memiliki bentuk dan struktur yang serupa. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc48

49 PERSPEKTIF SOSIOLOGI Evolusi Dibangun dari premis seperti ini, para teoritisi modern secara implicit membangun kerangka teori dgn ciri-ciri sebagai berikut:  Modernisasi merupakan proses yang bertahap  Modernisasi dapat dikatakan sebagai homogenisasi sehingga masyarakat terbentuk dengan tendesi dan struktur yang serupa.  Modernisasi terkadang mewujudkan dirinya dalam bentuk lahirnya sebagai proses Eropanisasi atau Amerikanisasi  Moderinisasi merupakan proses yang tidak dapat mundur karena tidak bisa dihentikan  Modernisasi merupakan perubahan progresif artinya memang diinginkan dan diperlukan  Modernisasi memerlukan waktu yang panjang. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc49

50 PERSPEKTIF SOSIOLOGI Konflik Pemikiran perspektif konflik menekankan pada adanya perbedaan pada diri individu dalam mendukung suatu sistem sosial. Menurut perspektif konflik masyarakat terdiri dari individu yang masing-masing memiliki berbagai kebutuhan (interests) yang sifatnya langka. Keberhasilan individu mendapatkan kebutuhan dasar tersebut berbeda-beda, hal ini dikarenakan kemampuan individu untuk mendapatkannya pun berbeda-beda. Persaingan untuk mendapatkan kebutuhan itulah yang akan memicu munculnya konflik dalam masyarakat pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc50

51 PERSPEKTIF SOSIOLOGI Konflik Menurut Dahrendorf, asumsi utama dari perspektif ini ada empat, yaitu;  Setiap masyarakat tunduk pada proses perubahan;  Disensus dan konflik terdapat di mana-mana;  Setiap unsur masyarakat memberikan sumbangan pada disintegrasi dan perubahan masyarakat;  Setiap masyarakat didasarkan pada paksaan beberapa orang anggota terhadap anggota lainnya. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc51

52 PERSPEKTIF SOSIOLOGI Konflik Perspektif ini beranggapan bahwa masyarakat dibentuk oleh persaingan kelompok-kelompok dalam menguasai sumber-sumber yang bersifat langka. Individu dibentuk oleh institusi sosial dan posisi kelompok-kelompok mereka dalam masyarakat. Perubahan sosial merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindarkan dan selalu terjadi dalam setiap masyarakat. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc52

53 PERSPEKTIF SOSIOLOGI Konflik Konsep-konsep yang ditekankan dalam perspektif ini adalah kepentingan, kekuasaan, dominasi, konflik, dan pemaksaan Tokoh-tokoh yang mengembangkan teori konflik di antaranya adalah Karl Marx, Max Weber, Ralf Dahrendorf, dan Lewis Coser. pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc53


Download ppt "POKOK BAHASAN SOSIOLOGI  Pokok Bahasan Sosiologi  Pembagian Sosiologi  Perspektif Sosiologi pkk_bhsn_sosiologi_2nd_jc1."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google