Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Kelompok 3 Semester 5B 2011. Penggolongan perilaku normal dan abnormal dipengaruhi oleh faktor sosiokultural. Perilaku seksual dapat dianggap abnormal.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Kelompok 3 Semester 5B 2011. Penggolongan perilaku normal dan abnormal dipengaruhi oleh faktor sosiokultural. Perilaku seksual dapat dianggap abnormal."— Transcript presentasi:

1 Kelompok 3 Semester 5B 2011

2

3 Penggolongan perilaku normal dan abnormal dipengaruhi oleh faktor sosiokultural. Perilaku seksual dapat dianggap abnormal jika hal tersebut bersifat self-defeating, menyimpang dari norma sosial, menyakiti orang lain, menyebabkan distress personal, atau mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berfungsi secara normal

4 Gangguan identitas gender (transeksualisme): merasa bahwa jauh di dalam dirinya, biasanya sejak awal masa kanak- kanak mereka adalah orang yang berjenis kelamin berbeda dengan dirinya saat ini. Gangguan identitas gender bermula di masa kanak- kanak, yang biasanya teramati oleh orang tua ketika anak berusia antara 2 dan 4 tahun (Green & Blanchard, 1995).

5 lebih banyak terjadi pada anak laki- laki daripada anak perempuan sebagian besar anak yang mengalami gangguan identitas gender tidak tumbuh dewasa sebagai orang yang terganggu, meskipun banyak yang menunjukkan orientasi homoseksual.

6 Gangguan identitas gender fetishisme transvestik Sering kali memakai pakaian lawan jenis, tapi para transvestite tidak mengidentifikasikan diri mereka sebagai lawan jenis. Perubahan tubuh Operasi perubahan kelamin Perubahan Identitas Gender

7 Identitas gender dipengaruhi oleh hormone Faktor biologis Orang tua mereka tidak mencegah dan bahkan mendorong prilaku memakai pakaian lawan jenis pada anak- anak mereka. Daya tarik si anak. Faktor sosial dan psikologis

8 Parafilia adalah sekelompok gangguan yang mencakup ketertarikan seksual terhadap objek yang tidak wajar atau aktivitas seksual yang tidak pada umumnya. Dengan kata lain terdapat deviasi (para) dalam ketertarikan seseorang (filia). Fantasi, dorongan atau perilaku harus berlangsung setidaknya selama 6 bulan dan menyebabkan distress atau hendaya signifikan. Banyak orang sering kali mengalami lebih dari satu parafilia dan pola semacam itu dapat merupakan aspek gangguan mental lain, seperti skizofrenia, depresi, atau salah satu gangguan kepribadian.

9 Jenis Parafilia Eksibisionisme adalah preferensi tinggi dan berulang untuk mendapatkan kepuasan seksual dengan memamerkan alat kelamin kepada orang yang tidak dikenal yang tidak menginginkannya, kadang kepada seorang anak.

10 Jenis Parafilia Fetishisme mencakup ketergantungan pada benda-benda mati untuk menimbulakn gairah seksual. Benda-benda yang umum digunakan untuk menimbulkan gairah seksual bagi para fetis seperti stoking transparan, sepatu, pakaian dari bulu, benda-benda dari karet, celana dalam, dsb. Beberapa orang dapat melakukan tindakan fetishisme mereka sendirian secara diam-diam dengan membelai-belai, mencium, membaui menghisap, atau hanya menatap benda-benda tersebut seraya melakukan masturbasi.

11 Jenis Parafilia Bila seorang laki-laki mengalami gairah seksual dengan memakai pakaian perempuan, meskipun ia tetap merasa sebagai laki-laki, kondisi ini disebut fetishisme transventik atau transvestisme. Para transvestik adalah heteroseksual, selalu laki-laki dan secara umum hanya memakai pakaian lawan jenis secara episodik, bukan secara rutin. Di luar itu mereka cenderung berpenampilan, berperilaku, dan memiliki minat seksual maskulin.

12 Jenis Parafilia Pedofil adalah orang dewasa yang mendapatkan kepuasan seksual melalui kontak fisik dan sering kali melakukan seksual dengan anak-anak pubertas yang tidak memiliki hubungan darah dengan mereka Seseorang yang didiagnosis pedofilia, setidaknya berusia 16 tahun dan biasanya minimal 5 tahun lebih tua dari si anak.

13 Jenis Parafilia Insect adalah hubungan seksual antar kerabat dekat yang dilarang untuk menikah. Hal ini sering terjadi antara saudara kandung laki-laki dan perempuan. Bentuk paling umum berikutnya, yang dianggap lebih patologis adalah antara ayah dan anak perempuannya. Insect dicantumkan dalam DSM –IV –TR sebagai subtipe pedofilia. Terdapat dua perbedaan utama antara insect dan pedofilia. Pertama, berdasarkan definisinya insect dilakukan antar anggota keluarga. Kedua, korban insect cenderung lebih tua dari korban pedofil.

14 Jenis Parafilia Voyeurisme adalah kondisi dimana seseorang memiliki preferensi tinggi untuk mendapatkan kepuasan seksual dengan melihat orang lain yang sedang tanpa busana atau sedang melakukan hubungan seksual. Orgasme seorang voyeur dicapai dengan melakukan masturbasi baik sambil mengintip atau setelah mengintip sambil membayangkan apa yang dilihatnya. Kadang seorang voyeur berfantasi melakukan hubungan seksual dengan orang yang diintipnya

15 Jenis Parafilia Froteurisme adalah gangguan yang berkaitan dengan melakukan sentuhan yang berorientasi seksual pada bagian tubuh seseorang yang tidak menaruh curiga akan terjadinya hal itu. Freteur bisa menggosokan penisnya ke paha atau pantat seorang perempuan atau menyentuh payudara atau alat kelaminnya.

16 Jenis Parafilia Preferensi kuat untuk mendapatkan atau meningkatkan kepuasan seksual dengan menimbulkan rasa sakit atau penderitaan psikologis (seperti dipermalukan) pada orang lain merupakan karakteristik utama sadisme seksual Preferensi kuat untuk mendapatkan atau meningkatkan kepuasan seksual dengan menjadikan diri sendiri sebagai subjek rasa sakit atau kondisi dipermalukan merupakan karakteristik utama masokisme seksual.

17 Perspektif Psikodinamika. Parafilia dipandang oleh para teoritikus psikodinamika sebagai tindakan defensif melindungi ego agar tidak menghadapi rasa takut dan memori yang di repres dan menciptakan fiksasi di tahap pregenital dalam perkembangan psikoseksual. Perspektif Biologis. Karena sebagian besar yang mengidap parafilia adalah laki-laki, terdapat spekulasi bahwa androgen, hormon utama pada laki-laki, berperan dalam gangguan ini.

18 Perspektif Behavioral dan Kognitif. Beberapa teoritis yang memiliki paradigma behavioral berpendapat bahwa parafilia terjadi karena pengondisian klasik yang secara tidak sengaja menghubungkan gairah seksual dengan sekelompok stimuli yang oleh masyarakat dianggap sebagai stimuli yang tidak tepat.

19

20 Empat fase dalam sikius respons seksual manusia: 1.Keinginan (Appetitive). tahap ini merujuk nafsu seksual. 2.Kegairahan (Excitement). suatu pengalarnan subjektif tentang kenikmatan seksual yang dihubungkan dengan perubahan fisiologis yang disebabkan meningkatnya aliran darah ke alat kelamin dan pada perempuan juga ke payudara. 3.Orgasme. Pada fase ini kenikmatan seksual rnencapai puncaknya 4.Resolusi.

21 Gangguan ditandai oleh sedikitnya atau tidak adanya minat terhadap seks yang menimbulkan masalah dalam suatu hubungan. Dorongan seksual dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu hormon testosteron, kesehatan tubuh, faktor psikis dan pengalaman seksual sebelumnya. Jika di antara faktor tersebut ada yang menghambat atau faktor tersebut terganggu, maka akan terjadi gangguan dorongan seksual.

22

23 Disfungsi orgasme adalah terhambatnya atau tidak tercapainya orgasme yang bersifat persisten atau berulang setelah memasuki fase rangsangan (excitement phase) selama melakukan aktivitas seksual. Hambatan orgasme dapat disebabkan oleh penyebab fisik yaitu penyakit SSP seperti multiple sklerosis, parkinson, dan lumbal sympathectomy. Penyebab psikis yaitu kecemasan, perasaan takut menghamili, dan kejemuan terhadap pasangan.

24 Sexual pain disorder adalah nyeri genital yang berulang kali terjadi, baik yang dialami oleh laki-laki maupun perempuan sebelum, selama, atau setelah hubungan seksual. Dyspareunia adalah rasa nyeri/sakit atau perasaan tidak nyaman selama melakukan hubungan seksual. Vaginismus adalah spasme (kejang urat) pada otot-otot di pertiga luar vagina, yang terjadi diluar kehendak, yang mengganggu hubungan seksual, dan keadaan ini berulang kali terjadi.

25 1.Faktor Fisik. Gangguan organik atau fisik dapat terjadi pada organ, bagian-bagian badan tertentu atau fisik secara umum. Bagian tubuh yang sedang terganggu dapat menyebabkan disfungsi seksual dalam berbagai tingkat 2.Faktor Psikis. Faktor psikoseksual ialah semua faktor kejiwaan yang terganggu dalam diri penderita. Gangguan ini mencakup gangguan jiwa misalnya depresi, anxietas (kecemasan) yang menyebabkan disfungsi seksual

26

27 Gangguan Tidur Masalah tidur yang menyebabkan stres pribadi yang signifikan atau fungsi sosial, pekerjaan, atau peran lain diklasifikasikan dalam sistem DSM sebagai gangguan tidur (sleep disorder). Orang dengan gangguan tidur biasanya menghabisakan beberapa malam di pusat tidur, dimana mereka di hubungkan dengan kabel ke alat-alat yang mencatat respons fisiologis mereka selama tidur atau berusaha untuk tidur seperti gelombang otak, tingkat jantung dan pernafasan, dan seterusnya. Bentuk evaluasi ini disebut pencatatan polisomnografik (polysomnographic [PSG] recording ) Jenis gangguan tidur terdiri dari Dissomnia dan Parasomnia

28 Dissomnia Istilah insomnia berasal dari bahasa latin in-, yang artinya “ tidak” atau “ tanpa”, dan tentu saja somnus yang artinya “tidur”. Faktor psikologis memainkan peran penting dalam insomnia primer. Ciri-Ciri: 1.Kesulitan yang terus menerus untuk tidur dalam jangka waktu sebulan atau lebih. 2.Rasa lelah di siang hari 3.Menimbulkan stress pribadi

29 Dissomnia Kata hipersomnia (hypersomnia) berasal dari kata Yunani hyper, yang artinya “lebih” atau “lebih dari normal”, dan dari bahasa Latin somnus, artinya “tidur”. Hipersomnia (hypersomnia) primer merupakan rasa kantuk yang berlebihan sepanjang hari yang berlangsung sampai sebulan atau lebih Ciri-Ciri: 1.Kesulitan bangun setelah periode tidur panjang 2.Kesulitan untuk melakukan kegiatan sehari-hari karena rasa kantuk atau sulit bangun

30 Dissomnia

31 Kata narkolepsi (narcolepsy) berasal dari bahasa Yunani narke, yang artinya “tidak sadar atau pingsan (stupor)” dan lepsis, yang artinya “serangan”. 1.Serangan tidur mendadak tanpa adanya waktu pertanda 2.Muncul setiap hari selama 3 bulan 3.Dapat berkombinasi dengan kemunculan cataplexy dan gangguan tidur REM 4.Dapat mengalami sleep Paralysis 5.Dapat mengalami halusinasi

32 Dissomnia Orang dengan gangguan tidur yang berhubungan dengan pernapasan (breathing-related sleep disorder) mengalami gangguan untuk tidur secara berulang yang disebabkan oleh masalah pernapasan (APA, 2000). Gangguan untuk tidur yang berkala ini mengakibatkan insomnia atau rasa kantuk yang berlebihan di siang hari. Dapat mengalami gangguan sebanyak 500x sepanjang periode tidurnya

33 Dissomnia Pada gangguan irama tidur sirkadia (circadian rhytm sleep disorder), irama tidur menjadi sangat terganggu karena ketidakcocokan terjadi secara terus-menerus dan cukup parah sehingga menimbulkan distres yang signifikan

34 Parasomnia Gangguan mimpi buruk (nightmare disorder) merupakan proses terjaga dari tidur secara berulang karena mimpi yang menakutkan (mimpi buruk).

35 Parasomnia Biasanya dimulai dengan tangisan atau teriakan yang keras di malam hari. Bahkan orang tua yang tidurnya paling berisik sekalipun akan terpanggil ke kamar tidur anaknya seperti peluru yang meluncur tajam. Anak (sebagian besar kasus terjadi pada anak) kemungkinan terduduk, terlihat ketakutan dan menunjukkan tanda-tanda dari proses terjaga yang ekstrem, keringat berlebihan dengan detak jantung dan pernapasan yang cepat.

36 Parasomnia Gangguan berjalan sambil tidur (sleepwalking disorder) melibatkan episode berulang di mana orang yang sedang tidur bangkit dari tempat tidur dan berjalan di sekitar rumah sambil tetap tertidur. Karena episode ini cenderung terjadi saat tahap tidur yang lebih dalam di mana mimpi tidak hadir, episode berjalan dalam tidur tidak terlihat melibatkan kehadiran mimpi.

37 Gangguan Tidur Farmakologis, pemakaian obat-obatan Medis, misalnya sakit kepala, kesulitan bernafas. Genetik, memiliki darah keturunan dari penderita insomnia yang parah. Konsumsi tembakau dan alkohol Psikiatris, misalnya gangguan emosi, kecemasan, schizoprenia, somatoform Gangguan Psikologis, setelah mengalami pengalaman traumatis, ditinggal ornag yang dicintai dan frustasi kesulitan mencoba untuk tidur.


Download ppt "Kelompok 3 Semester 5B 2011. Penggolongan perilaku normal dan abnormal dipengaruhi oleh faktor sosiokultural. Perilaku seksual dapat dianggap abnormal."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google