Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Benedicta/Calvin/Christopher/Deriyan/ Dwi/Evan/Faradila/Farah/Hanifah/Herli.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Benedicta/Calvin/Christopher/Deriyan/ Dwi/Evan/Faradila/Farah/Hanifah/Herli."— Transcript presentasi:

1 Benedicta/Calvin/Christopher/Deriyan/ Dwi/Evan/Faradila/Farah/Hanifah/Herli

2  Identitas: Tn. I, laki-laki, 44 tahun, pegawai swasta, pendidikan terakhir SMA, tinggal di Jakarta  KU: Hidung tersumbat

3  Sejak 5 bulan yang lalu pasien mengeluh hidung terasa tersumbat. Tersumbat dirasakan hilang timbul dan bergantian antara hidung kanan dan kiri. Jika sedang kambuh, ia bernapas melalui mulut. Dikeluhkan juga suaranya yang menjadi sengau.

4  Sejak satu setengah tahun yang lalu, pasien sering pilek hilang timbul. Ingus berwarna putih encer dan terkadang berwarna putih hingga hijau kental. Terkadang pasien merasa ingusnya mengalir sendiri. Hidung pasien juga sering terasa gatal. Pasien juga mengeluh penciumannya tidak terlalu peka, bahkan pasien terkadang tidak bisa mencium bau sama sekali sejak satu tahun yang lalu

5  Pada pagi hari, terutama setelah mandi menggunakan air dingin, pasien sering bersin. Ia juga terkadang batuk, dahak sedikit berwarna putih.  Pasien juga mengeluh pendengarannya terganggu. Ia merasakan kedua telinganya seperti kemasukan air. Keluhan tersebut dirasakan hilang timbul. Dari kedua telinganya tidak keluar cairan maupun telinga berdenging.  Keluarga pasien juga mengeluh mulut pasien bau dan sering tidur mengorok.

6  RPD: Tidak terdapat riwayat penyakit diabetes melitus, hipertensi, trauma, penggunaan obat tuberkulosis maupun operasi.  RPK: Tidak ada keluarga yang menderita penyakit serupa, penyakit jantung, DM, atau keganasan  Pasien sudah menghentikan kebiasaan merokok sejak 5 tahun yang lalu. Sebelumnya merokok 5 batang perhari.

7  Pasien mengeluhkan hidung tersumbat sejak 5 bulan yang lalu disertai gangguan penciuman dan pendengaran

8 1,5 Tahun lalu Pilek hilang timbul Hidung gatal Bersin pagi hari Batuk berdahak putih 1 Tahun lalu Gangguan penciuman 5 Bulan lalu Hidung tersumbat Halitosis Suara sengau Mengorok RHINOSINUSITIS KRONIK Riwayat Merokok Polip hidung Kelainan anatomi Rhinitis

9  Pasien mengalami rhinosinusitis kronik

10  Jelaskan struktur dan fungsi hidung dan sinus!  Jelaskan mengenai rhinosinusitis kronis! Epidemiologi Etiologi Faktor predisposisi & pencetus Patogenesis & patofisiologi Anamnesis & pemeriksaan Tatalaksana Komplikasi  Jelaskan diagnosis banding pada kasus ini!

11

12 Marrieb EN, Hoehn K. Human Anatomy & Physiology : 7 th edition [ebook]

13  Fungsi Repirasi Pintu masuk udara inspirasi Humudifikasi, pengatur suhu, penyaring udara Sistem pertahanan  Fungsi Penghidu Keterlibatan mukosa olfaktorius  Fungsi Fonetik (Fonasi Suara) Resonansi suara  Refleks Nasal Refleks bersin Soepardi EA, Iskandar N, et al. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher: Edisi ke-6. Fakultas Kedokteran UI : 2007.

14

15

16

17  Sinus Maksilaris Terbesar Dasarnya berdekatan dengan akar gigi  risiko penyebaran infeksi Drainase tergantung silia dan harus melewati infundibulum Dapat menyebabkan komplikasi orbita Ostium sinus maksila bermuara ke hiatus semilunaris melalui infundibulum etmoid  Sinus Frontal Berasal dari sel-sel resesus frontal atau sel- sel infundibulum etmoid. Kiri-kanan tidak simetris Bersekat-sekat dan berlekuk Infeksi dapat menjalar ke orbita dan fosa serebri anterior Soepardi EA, Iskandar N, et al. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher: Edisi ke-6. Fakultas Kedokteran UI : 2007.

18  Sinus Etmoid Dapat menjadi fokus infeksi bagi sinus lain Struktur : berongga, menyerupai sarang tawon Sering komplikasi ke orbita Tediri dari :  Sinus etmoid anterior  Sel : kecil dan banyak  Di depan lamina basalis  Bermuara di meatus medius  Sinus etmoid posterior  Sel : besar dan sedikit  Di belakang lamina basalis  Bermuara di meatus superior  Sinus Sfenoid Dalam os. Sfenoid (di belakang sinus etmoid posterior Dipisahkan oleh septum intersfenoid Batas  Superior : fosa serebri media, kel. Hipofisis  Inferior : atap nasofaring  Lateral : sinus kavernosus dan a. karotis interna  Posterior : fosa serebri posterior Soepardi EA, Iskandar N, et al. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher: Edisi ke-6. Fakultas Kedokteran UI : 2007.

19 Alison Burke Medocal & Scientific Illustration : Anatomy of Paranasal Sinuses and Nasal Passages. anatomy.html [web]http://www.alison-burke.com/works- anatomy.html

20  Sampai saat ini belum diketahui pasti  Beberapa teori menyebutkan fungsi sinus paranasal: Air conditioning Penahan suhu Keseimbangan kepala Resonansi suara Peredam perubahan tekanan udara Produksi mukus Soepardi EA, Iskandar N, et al. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher: Edisi ke-6. Fakultas Kedokteran UI : 2007.

21  Meatus medius  muara saluran sinus maksila, sinus etmoid anterior, sinus frontalis.  Terdiri dari: infundibulum etmoid (di belakang prosesus unsinatus) resesus frontalis (bagian terdepan sinus etmoid anterior) bula etmoid (sel etmoid terbesar), sel etmoid anterior dan ostiumnya Ostium sinus maksila American Association of Family Physician: Acute Sinusitis. [web]http://www.aafp.org/afp/1998/1115/p1795.html Alison Burke Medocal & Scientific Illustration : Anatomy of Paranasal Sinuses and Nasal Passages. anatomy.html [web]http://www.alison-burke.com/works- anatomy.html

22

23  Sinusitis= inflamasi mukosa sinus paranasal  Disertai/dipicu rhinitis  rhinosinusitis  6-15% populasi  Common cold  Multisinusitis; pansinusitis  Tersering: sinus etmoid & maksila  Sinusitis dentogen  Komplikasi orbita & intrakranial

24  ISPA (virus)  Rhinitis: alergi, hormonal  Polip hidung  Kelainan anatomi  Sumbatan KOM  Infeksi tonsik  Infeksi gigi  Kelainan imunologik  Diskinesia silia  Hipertrofi adenoid  LPR  Ansietas & depresi  Penyakit kronik  Polusi  Udara dingin & kering  Rokok

25  Edema organ-organ yang membentuk KOM edema  silia tidak bisa bergerak  ostium tersumbat  tekanan (-) rongga sinus  transudasi  rhinosinusitis non-bakterial  Menetap  multiplikasi nakteri  sekret purulen  rinosinusitis akut bakterial

26  Terapi tidak berhasil, inflamasi berlanjut  hipoksia  bakteri anaerob  mukosa makin edema  perubahan mukosa kronik: hipertrofi, polipoid; polip, kista  Akut: Streptococcus pneumonia, Hemophylus influenzae, Moraxella catarrhalis  Kronik: bakteri gram negatif, anaerob

27

28  Akut: < 4 minggu  Subakut: 4 minggu – 3 bulan  Kronik: > 3 bulan

29  Gejala lebih berat  Hidung tersumbat  Nyeri/tekanan pada wajah  Ingus mukopurulen  PND  batuk, sesak  Demam  Lesu  Sakit kepala  Hiposmia/anosmia  Halitosis  Nyeri tenggorok  Disfonia  Batuk  Malaise

30  Nyeri pipi  maksila  Nyeri antara/belakang bola mata  etmoid  Nyeri dahi/seluruh kepala  frontal  Nyeri verteks, osipital,,belakang bola mata, mastoid  sphenoid  Referred pain

31  Onset tiba-tiba 2/lebih gejala, salah satunya harus berupa hidung tersumbat atau sekret hidung (anterior atau PND):  + nyeri/tekanan pada wajah  + hiposmia/anosmia  <12 minggu

32  Sakit kepala kronik  PND  Batuk kronik  Gangguan tenggorok  Gangguan telinga (sumbatan tuba)  Gangguan paru: bronkitis, bronkiektasis, asma  Gastroenteritis

33  2/lebih gejala, salah satunya harus berupa hidung tersumbat atau sekret hidung (anterior atau PND):  + nyeri/tekanan pada wajah  + hiposmia/anosmia  >12 minggu

34  Didukung oleh tanda endoskopi: Polip nasal, dan/atau Sekret mukopurulen terutama dari meatus media, dan/atau Edema/obstruksi mukosa terutama di meatus media  Dan/atau  Perubahan pada CT  Perubahan mukosa KOM dan/atau sinus

35  Anamnesis  Pemeriksaan fisik: rinoskopi anterior & posterior, nasoendoskopi  Pus di meatus medius (sinusitis maksila, etmoid anterior, frontal) / meatus superior (sinusitis etmoid posterior, sphenoid)  Mukosa edema & hiperemis

36  Foto polos, CT scan  perselubungan, air fluid level, penebalan mukosa  Pemeriksaan mikrobiologik & tes resistensi  Sinuskopi

37

38

39  Infeksi gigi rahang atas: infeksi apikal akar gigi, inflamasi jaringan periodontal  Menyebar langsung/pembuluh darah & limfe  Sinusitis maksila kronik satu sisi, ingus purulen, bau napas busuk

40  Pemakaian antibiotik, kortikosteroid, imunosupresan, radioterapi  Diabetes melitus, neutropenia, AIDS, perawatan lama di RS  Aspergillus & Candida  Sinusitis unilateral, sulit disembuhkan dengan antibiotik, kerusakan tulang dinding sinus, membran putih keabuan

41  Tujuan: Mempercepat penyembuhan Mencegah komplikasi Mencegah perubahan menjadi kronik  Prinsip: membuka sumbatan KOM  drainase & ventilasi sinus pulih

42  Sinusitis akut bakterial Antibiotik: penisilin (amoksisilin), amoksisilin- klavulanat, sefalosporin generasi 2 (10-14 hari) Dekongestan  Kronik: antibiotik sesuai bakteri  Terapi tambahan: analgetik, mukolitik, steroid oral/topikal, pencucian rongga hidung dengan NaCl, diatermi, irigasi sinus, Proetz displacement therapy, imunoterapi

43  Bedah sinus endoskopi fungsional, indikasi: Sinusitis kronik + kista atau kelainan ireversibel Polip ekstensif Komplikasi Sinusitis jamur

44  Kelainan orbita: edema palpebra, selulitis orbita, abses subperiosteal, abses orbita, trombosis sinus kavernosus  Kelainan intrakranial: meningitis, abses ekstradural/subdural, abses otak, trombosis sinus kavernosus  Osteomielitis & abses subperiosteal  Kelainan paru: bronkitis ktonik, bronkiektasis (sinobronkitis), asma bronkial

45

46  Massa lunak yang mengandung banyak cairan di dalam rongga hidung, berwarna putih keabu-abuan, yang dapat terjadi akibat inflamasi mukosa.  Teori Bernstein, peradangan/aliran udara turbulensi  terjadi prolaps submukosa  reepitelisasi  pembentukan kelenjar baru; penyerapan air  retensi air

47 MAKROSKOPISMIKROSKOPIS  Massa bertangkai  Permukaan liicin  Bulat lonjong  Tunggal/multipel  Tidak sensitif  Warna Putih Keabuan Kemerahan Kekuningan  Ostio-meatal meatus medius & Sinus etmoid  Sinus maksila – antro koana  Epitel semu bersilia dengan submukosa sembab  epitel transisional, kubik.gepeng berlapis non keratin  Limfosit, sel plasma, eosinofil, neutrofil, makrofag  Sel goblet

48 ANAMNESISPEMERIKSAAN  Rasa tersumbat  Rinore jernih-purulen  Post nasal drip  Hiposmia-anosmia  Bersin, nyeri hidung, sakit kepala frontal Bernafas mulut Suara sengau Halitosis Gg. Tidur  Fisik Rinoskopi anterior  massa pucat  meatus medius Nasoendoskopi  derajat 1-2  Radiologi Rx Sinus nasal  Penebalan mukosa, batas udara cairan CT  Polip gagal terapi  Perencanaan op. endoskopi

49  Deviasi Septum Sumbatan hidung, unilateral/bilateral Rasa nyeri di kepala, paraorbita Gg. Penciuman F. Predisposisi sinusitis  Hematoma Septum Sumbatan hidung Nyeri hidung Pembengkakan unilateral/bilateral, bulat, licin, merah

50  Terapi Kortikosteroid  polipektomi medikamentosa Bedah  Polipektomi  Etmoidektomi intranasal/ekstranasal  Caldwell-Luc  Sinus maksila  BSEF (Bedah Sinus Endoskopi Fungsional)

51  Abses Septum Hidung tersumbat Rasa nyeri berat, di puncak hidung Demam, sakit kepala Pembengkaan septum, bulat licin

52  Kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal, dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh IgE.  RAFC (1 jam), RAFL (2-4 jam, hingga jam)  Intermitten  <4hari/minggu; <4 minggu  Persisten  >4hari/minggu; >4 minggu  Ringan, Berat

53 ANAMNESISPEMERIKSAAN  Bersin berulang  Rinore encer, banyak  Hidung tersumbat  Hidung dan mata gatal  Lakrimasi  Allergic Shiner  Allergic Salute  Allergic Crease  R. Anterior Mukosa edema, basah pucat, livid Sekret encer Hipertrofri  Facied Adenoid  Cobblestone appearance  Geographic tounge

54  Pemerikssan Penunjang Eosinofilia IgE total IgE spesifik

55  Keadaan idiopatik tanpa adanya infeksi, alergi, eosinofilia, perubahan hormonal, panjanan obat  Etiologi Neurogenik Neuropeptida NO Trauma

56 ANAMNESISPEMERIKSAAN  Dicetuskan oleh Asap rokok Bau menyengat Minuman alkohol Makanan pedas Udara dingin Stress emosi  Gejala mirip rhinitis alergi Bergantian kanan,kiri Rinore mukoid-serosa Jarang dengan gejala mata  3 Golongan; Sneezers, Runners, Blockers  Mukosa hidung edema  Konka, merah gelap/pucat  Sekret mukoid  Laboratorium Eosinofil tidak meningkat/meningkat sedikit IgE spesifik tidak meningkat

57  Terapi Menghindari stimulus Simptomatis 3  Dekongestan oral, cuci hidung  garam fisiologis, kauterisasi hipertrofi konka AgNO 3 25% Triklorasetat pekat, kortikosteroid topikal Bedah beku, elektrokauter, konkotomi parsial konka inferior Neurektomi N. Vidianus

58  Diagnosis Kerja  Diagnosis Banding

59  Perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan yaitu berupa Rinoskopi anterior Rinoskopi posterior Nasoendoskopi (jika terdapat fasilitas) X-ray  Berdasarkan data yang didapat sekarang, maka hipotesis belum dapat diterima.

60


Download ppt "Benedicta/Calvin/Christopher/Deriyan/ Dwi/Evan/Faradila/Farah/Hanifah/Herli."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google