Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

METODA PELAKSANAAN JEMBATAN. JEMBATAN  Bangunan Atas  Bangunan Atas  Landasan  Landasan  Bangunan Bawah  Bangunan Bawah  Pondasi  Pondasi  Jalan.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "METODA PELAKSANAAN JEMBATAN. JEMBATAN  Bangunan Atas  Bangunan Atas  Landasan  Landasan  Bangunan Bawah  Bangunan Bawah  Pondasi  Pondasi  Jalan."— Transcript presentasi:

1 METODA PELAKSANAAN JEMBATAN

2 JEMBATAN  Bangunan Atas  Bangunan Atas  Landasan  Landasan  Bangunan Bawah  Bangunan Bawah  Pondasi  Pondasi  Jalan Pendekat (oprit)  Jalan Pendekat (oprit)  Bangunan Pengaman  Bangunan Pengaman

3 BANGUNAN ATAS Rangka Baja Rangka Baja Gelagar Baja - Komposit Gelagar Baja - Komposit Gelagar Beton Bertulang Gelagar Beton Bertulang Gelagar Beton Prategang Gelagar Beton Prategang Gantung Gantung Cable Stayed Cable Stayed Pelengkung dsb. Pelengkung dsb.

4 LANDASAN  SENDI  ROL  GESER. HAL HAL YG. PERLU DIPERHATIKAN : - Perencanaan Teknik ( Gaya-gaya hori - zontal, vertikal dan putaran sudut) - Spesifikasi

5 LANDASAN PERLU PERHATIAN PADA MANUAL PELAKSANAAN Dipasang sebelum atau sesudah bangunan atas menumpu Dipasang sebelum atau sesudah bangunan atas menumpu Temperatur Temperatur Persiapan pemasangan - baut angker posisi, elevasi Persiapan pemasangan - baut angker posisi, elevasi

6  Sistim perletakan ROL KARET SENDI PERLETAKAN KARET BAJI

7

8 BANGUNAN BAWAH  KEPALA JEMBATAN (ABUTMENT, LANDHOOF), pada umumnya berfungsi LANDHOOF), pada umumnya berfungsi sebagai tembok penahan tanah untuk sebagai tembok penahan tanah untuk menahan tekanan tanah aktif menahan tekanan tanah aktif

9  PILAR  PILAR BEBAN-BEBAN PADA PILAR TIDAK BEBAN-BEBAN PADA PILAR TIDAK HANYA BEBAN VERTIKAL SAJA TETAPI : HANYA BEBAN VERTIKAL SAJA TETAPI : - Gaya gesekan - Gaya gesekan - Gaya aliran dan benda hanyutan - Gaya aliran dan benda hanyutan - Gaya rem - Gaya rem - Gempa - Gempa

10 BANGUNAN PENGAMAN PADA JEMBATAN TERHADAP GERUSAN (SCOURING) PADA ARAH : HORIZONTAL DAN VERTIKAL TERHADAP LONGSORAN (SLIDING) TERHADAP TUMBUKAN BENDA-BENDA HANYUTAN (KAYU, POHON DSB) TERHADAP TUMBUKAN KENDARAAN (GUARD RAIL) TERHADAP TUMBUKAN KAPAL (FENDER)

11 BANGUNAN PENGAMAN PADA SUNGAI  KRIB - sebagai pengarah aliran air  BOTTOM CONTROLLER (CHECK-DAM), untuk menaikkan dasar sungai, biasanya diakibatkan karena adanya galian C  PEREDAM KECEPATAN ARUS SUNGAI

12 JALAN PENDEKAT (OPRIT)  PERHATIKAN KONDISI TANAH DASAR  TINGGI TIMBUNAN HARUS DIPERHITUNG- KAN YAITU : KAN YAITU : H = H kr /3 H = H kr /3 H kr = tinggi timbunan max yang dipikul H kr = tinggi timbunan max yang dipikul H = tinggi timbunan yang diijinkan H = tinggi timbunan yang diijinkan H kr = C.N c /  H kr = C.N c / 

13 JALAN PENDEKAT (OPRIT)  MUTU MATERIAL TIMBUNAN (  = 30 0 )  CARA PENIMBUNAN SEBAIKNYA DILAKSANAKAN DULU (untuk menda - DILAKSANAKAN DULU (untuk menda - patkan kondisi tanah dasar yang baik) patkan kondisi tanah dasar yang baik)

14 JALAN PENDEKAT (OPRIT) PENANGANAN OPRIT YANG TANAHNYA JELEK: Diperhitungkan terhadap pondasi abutment Diperhitungkan terhadap pondasi abutment Dipikul oleh cerucuk, tiang pancang Dipikul oleh cerucuk, tiang pancang Ditanggulangi dengan turap, bronjong dll. Ditanggulangi dengan turap, bronjong dll. Digunakan material timbunan ringan - abu sekam, abu terbang dll. Digunakan material timbunan ringan - abu sekam, abu terbang dll. Dengan sistem counterweight Dengan sistem counterweight Berat material timbunan dikurangi dengan armco, gorong-gorong Berat material timbunan dikurangi dengan armco, gorong-gorong Kombinasi cara-cara di atas Kombinasi cara-cara di atas

15 JALAN PENDEKAT (OPRIT) BRONJONG ABUTMENT

16 JALAN PENDEKAT (OPRIT)  Perbaikan tanah dasar TURAP ABUTMENT CERUCUK

17 JALAN PENDEKAT (OPRIT)  Mengurangi gaya lateral ABUTMENT ARMCO

18 JALAN PENDEKAT (OPRIT) MEMERLUKAN RUANG YG. BANYAK

19  POLA KERUNTUHAN SLIDING PADA OPRIT Q’ LL lapisan tanah lembek Timbunan oprit lapisan lempung kenyal Bidang longsor HLHL H LK H

20 Check gaya lateral yang terjadi :  Tinggi timbunan rencana = H Tinggi timbunan kritis = H kr H kr = (C U ’. N C ) /  t C U ’ = k rc. C U  k rc = ( 0,5 -- 0,7) N C = 5,14 ( factor daya dukung)  t = berat volume tanah timbunan C U = kuat geser tanah dasar.  Tinggi timbunan rencana harus diperhitungkan sebesar : H = H kr / 3 Indikasi : H  H kr  tanah dasar runtuh  Tahanan lateral tiang pancang (R PL ’)  Tahanan lateral 1 tiang dalam kelompok yang tertahan oleh pile cap sama dengan (ekivalen) dengan tahanan pasif pada kolom ekivalen sebesar (6d x 3d).

21  Tanah non kohesif R PL ’ = 54. Kp’. . d3 dimana : Kp’ = (1 + sin Ø’) / (1 - sin Ø’) d = diameter tiang pancang  = berat volume tanah Tiang L 6d d 3d 6d6d

22  Tanah kohesif c u + 6  d Tiang L 6d d 3d R PL ’ = 36. C U ’. d . d 3 dimana : d = diameter tiang pancang  = berat volume tanah C U = kuat geser tanah C U ’ = kuat geser tanah efektif  Gaya lateral akibat timbunan oprit (Q LL ’) Gaya lateral yang bekerja pada baris tiang belakang setinggi ketebalan tanah lembek (H L ) : Q LL ’ =  t. H L. H ekses. d dimana : Hekses = H – H kr Persyaratan stabilitas abutment : R PL ’ > Q LL ’

23 JENIS-JENIS PEKERJAAN STRUKTUR  Pematokan  Kayu  Pondasi  Jembatan sementara  Beton  Cofferdam  Beton prategang  Perancah  Struktur baja  Perbaikan beton  Landasan

24 PEMATOKAN HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN Titil kontrol Titil kontrol Cara pengukuran horizontal, vertikal Cara pengukuran horizontal, vertikal Penentuan titik-titik elemen struktur seperti Penentuan titik-titik elemen struktur seperti letak pondasi – tiang pancang, sumuran dan letak pondasi – tiang pancang, sumuran dan landasan landasan Elemen-elemen sekunder lainnya Elemen-elemen sekunder lainnya

25 PENENTUAN TITIK ELEMEN PONDASI : letak titik pancang tdk. sesuai desain perlu recek stabilitas pondasi perlu recek stabilitas pondasi DESAIN PELAKSANAAN

26 PENENTUAN TITIK ELEMEN PONDASI : letak sumuran tidak sesuai desain jika terlalu extreem perlu recek stabilitas terlalu extreem perlu recek stabilitas DESAIN PELAKSANAAN

27 JENIS PONDASI  PONDASI DANGKAL (SHALLOW FOUNDATION) - LANGSUNG - LANGSUNG - SUMURAN - SUMURAN  PONDASI DALAM (DEEP FOUNDATION) TIANG PANCANG : TIANG PANCANG : - Baja (pipa, propil), beton - Baja (pipa, propil), beton - Beton (Beton bertulang, prategang – precast) - Beton (Beton bertulang, prategang – precast)

28 PONDASI LANGSUNG HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN  Termasuk pondasi dangkal Dipergunakan bila tanah pondasi cukup keras & padat Dipergunakan bila tanah pondasi cukup keras & padat Daya dukung izin tanah > 2,0 kg/cm2 Daya dukung izin tanah > 2,0 kg/cm2 Kedalaman > 3 m dari dasar sungai / tanah dasar Kedalaman > 3 m dari dasar sungai / tanah dasar Bebas dari pengaruh scouring vertikal Bebas dari pengaruh scouring vertikal  Perlu diperhatikan terhadap scouring horizontal  Bentangan jembatan sedemikian sehingga tidak mengurangi luas profil basah sungai  Perlu diperhatikan pada bagian kepala jembatan, mungkin perlu diberi pengamanan (protection)

29 PONDASI LANGSUNG HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN  Diusahakan agar pada pilar tidak digunakan pondasi langsung, dan apabila tidak dapat pondasi langsung, dan apabila tidak dapat dihindari maka perlu dipasang pengamanan dihindari maka perlu dipasang pengamanan untuk melindungi pondasi untuk melindungi pondasi  Penggunaan jenis pondasi langsung/dangkal pada jembatan TIDAK DISARANKAN, pada pada jembatan TIDAK DISARANKAN, pada sungai-sungai yang tidak dapat diperkirakan sungai-sungai yang tidak dapat diperkirakan perilakunya pada waktu musim banjir yaitu : perilakunya pada waktu musim banjir yaitu : - Perilaku gerusan - Perilaku gerusan - Perilaku benda-benda hanyutan - Perilaku benda-benda hanyutan

30 PONDASI LANGSUNG PONDASI LANGSUNG PERSYARATAN : PERSYARATAN :  Cukup kuat (d. dukung ada < d. dukung izin)  Cukup kuat (d. dukung ada < d. dukung izin)  Aman terhadap geser n > 1,5  Aman terhadap geser n > 1,5  Aman terhadap guling n > 1,5  Aman terhadap guling n > 1,5  D > kedalaman scouring max.  D > kedalaman scouring max.  h > tinggi timbunan izin  h > tinggi timbunan izin D h timbunan tanah asli

31

32

33 dipegang

34 PONDASI SUMURAN Termasuk pondasi dangkal Termasuk pondasi dangkal Dipergunakan bila tanah pondasi Dipergunakan bila tanah pondasi - Cukup keras - Cukup keras - Daya dukung tanah > 3 kg/cm 2 - Daya dukung tanah > 3 kg/cm 2 - Kedalaman > 4 m dari dasar sungai / tanah - Kedalaman > 4 m dari dasar sungai / tanah dasar setempat dasar setempat - Bebas dari pengaruhi scouring vertikal - Bebas dari pengaruhi scouring vertikal Perlu diperhatikan adanya pengaruh scouring horizontal Perlu diperhatikan adanya pengaruh scouring horizontal Bentang jembatan ditetapkan sedemikian rupa sehingga tidak mengurangi profil basah sungai Bentang jembatan ditetapkan sedemikian rupa sehingga tidak mengurangi profil basah sungai Kemungkinan diperlukan pengamanan (protection) pada bagian kepala jembatan Kemungkinan diperlukan pengamanan (protection) pada bagian kepala jembatan

35 PONDASI SUMURAN  Bila tanah pondasi berpasir, hati-hati dalam pengga- lian sumuran. Pengambilan tanah jangan sampai ter- bawa airnya. Hal ini untuk menghindari longsornya tanah masuk dari luar sumuran ke dalam sumuran  Usahakan dipergunakan pondasi sumuran dengan diameter > 3 m untuk lebih menjamin kemudahan pengambilan tanah dari dalam sumuran dan lebih mudah penanganannya bila terjadi penyimpangan dalam pelaksanaan penurunan sumuran  Tidak dianjurkan pelaksanaan penurunan sumuran dengan cara penggalian terbuka (seperti pada pelak- sanaan pondasi langsung). Ini berarti akan merusak struktur tanah di sekitar sumuran. Gaya geser hilang atau berkurang

36 PONDASI SUMURAN PERSYARATAN : Cukup kuat utk faktor : - Daya dukung < daya dukung izin - D > 3 m - h < h izin timbunan - D > scouring max (s max ) - Jika D < s < D’, maka perlu protection D h timbunan tanah asli D’

37 PONDASI TIANG PANCANG  Termasuk pondasi dalam  Jenis tiang pancang yang'umum dipakai - Tiang pancang beton - Tiang pancang beton Dibuat setempat : ukuran 35 x 35 cm 2 atau 40 x 40 cm 2 Dibuat setempat : ukuran 35 x 35 cm 2 atau 40 x 40 cm 2 Dibuat di pabrik (precast) Dibuat di pabrik (precast) Umumnya bulat dan bermutu tinggi, diameter > 30 cm Umumnya bulat dan bermutu tinggi, diameter > 30 cm - Tiang pancang baja - Tiang pancang baja Yang sering dipergunakan berbentuk pipa Yang sering dipergunakan berbentuk pipa Ukuran diameter 40, 50, 60, 75, 100 (cm) Ukuran diameter 40, 50, 60, 75, 100 (cm)  Secara garis besar daya dukung tiang ada 2 macam - Tiang Pancang Tumpu (Point Bearing Pile) - Tiang Pancang Tumpu (Point Bearing Pile) - Tiang Pancang Geser (Friction Pile) - Tiang Pancang Geser (Friction Pile)

38 PONDASI TIANG PANCANG  Dipergunakan bila lapisan tanah pondasi cukup dalam (>8 m) dari dasar sungai atau tanah setempat  Bila terjadi scouring - Bisa terjadi pengura- - Bisa terjadi pengura- ngan daya dukung ngan daya dukung pada jenis friction pada jenis friction (bagian a hilang) (bagian a hilang) - Perlu kontrol tekuk pada - Perlu kontrol tekuk pada jenis point bearing pile jenis point bearing pile s max a

39 PONDASI TIANG PANCANG  Agar dipegunakan konstruksi bangunan bawah yang berbentuk pile cap, atau bangunan bawah yang bebas dari pengaruh air normal dan bangu- nan atas tetap di atas clearance yang diperlukan MAB MAN MAB MAN clearance

40 PONDASI TIANG PANCANG Posisi clearance terhadap muka air banjair (MAB) Posisi clearance terhadap muka air banjair (MAB) clearance MAB Slope protection

41 PONDASI TIANG PANCANG  Pada waktu pemancangan, selalu dicatat kalende - ringnya. Dipergunakan alat pancang yang memadai ringnya. Dipergunakan alat pancang yang memadai  Pada umumnya dipergunakan alat pancang dengan berat hammer minimal 2,2 ton dengan berat hammer minimal 2,2 ton  Pada point bearing, kalendering terakhir untuk : - T. Pancang Baja (1 – 3) cm / 10 pukulan untuk : - T. Pancang Baja (1 – 3) cm / 10 pukulan - T. Pancang Beton (3 – 5) cm / 10 pukulan - T. Pancang Beton (3 – 5) cm / 10 pukulan  Pada friction pile, kalendering hauya sebagai kontrol  Bila basil pemancangan meragukan dapat dicek dengan loading test

42 PONDASI TIANG PANCANG Loading test dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu :  Pembebanan langsung  Pembebanan dengan jack W

43 PONDASI TIANG PANCANG  Bila pada lapisan atas terdapat lapisan cukup keras (N.S. = 80 kg/cm 2 ) sebelum pemancangan dapat dibantu dengan penggalian lebih dulu. Penggalian > 150 kg/cm 2 80 kg/cm 2

44 PONDASI TIANG PANCANG  Pada kelompok tiang pancang geser perlu diperhi - tungkan daya dukungnya secara kelompok : Salah satu rumusnya adalah : dimana :  = effisiency of pile group m = jumlah baris tiang n = jumlah tiang per baris  = tan -1 d/s (dalam derajad) d = diameter tiang s = jarak tiang

45  Rumus daya dukung tiang berdasarkan kalendering sangat banyak, mungkin mendekati 500 rumus banyak, mungkin mendekati 500 rumus  Biasanya setiap alat pancang yang dipergunakan mempunyai rumus tersendiri  Hiley : dimana : dimana : R u = Daya dukung batas dari tiang dalam tanah R u = Daya dukung batas dari tiang dalam tanah e h = efisiensi daari pemukulan palu (<1) e h = efisiensi daari pemukulan palu (<1) E h = Tingkat enersi palu (nilai dari pabrik) E h = Tingkat enersi palu (nilai dari pabrik) C = Koefisien persamaan C = Koefisien persamaan s = Penetrasi tiang untuk pukulan palu terakhir s = Penetrasi tiang untuk pukulan palu terakhir w = Berat tiang w = Berat tiang W = Berat palu W = Berat palu n = Koefisien restitusi / pengembalian n = Koefisien restitusi / pengembalian PONDASI TIANG PANCANG  SF = 3

46 RUMUS PEMANCANGAN TIANG  Janbu FK = 3 s/d 6 FK = 3 s/d 6

47 RUMUS PEMANCANGAN TIANG  Eng. News-Record (ENR) FK = 6 FK = 6  Modified ENR FK = 6 FK = 6  Danish FK = (3 s/d 6) FK = (3 s/d 6)  Kobe FK = 3 FK = 3

48 RUMUS PEMANCANGAN TIANG A = Luas penampang tiang A = Luas penampang tiang C 1, C 2 C 3 = Koefisien dalam persamaan Hiley E h = Efisiensi pemukulan palu (<1) E h = Efisiensi pemukulan palu (<1) E = Modulus Young dari tiang E = Modulus Young dari tiang E h = Tingkat enersi palu (nilai dari pabrik) E h = Tingkat enersi palu (nilai dari pabrik) L = Panjang tiang L = Panjang tiang n = Koefisien restitusi / pengembalian n = Koefisien restitusi / pengembalian R u = Daya dukung batas dari tiang dalam tanah R u = Daya dukung batas dari tiang dalam tanah s = Penetrasi tiang untuk 10 pukulan terakhir s = Penetrasi tiang untuk 10 pukulan terakhir w = Berat tiang w = Berat tiang W = Berat palu W = Berat palu z = 0,1 untuk palu dengan tenaga uap z = 0,1 untuk palu dengan tenaga uap dan 1 untuk drop hammer dan 1 untuk drop hammer

49 HAMMER EFFICIENCY, ef a Hammer Typeef - Drop hammer released by trigger - Drop hammer actuated by rope and friction winch - McKiernan-Terry single-acting hammers - Warrington-Vulcan single-acting hammers - Differential-acting hammers - McKiernan-Terry, Industrial Brownhoist, National & Union double acting hammers - Diesel hammers 1,00 0,75 0,85 0,75 0,85 1,00

50 VALUES OF C 1 FOR HILEY FORMULA Material to Which Blow is Applied Easy Driving P 1 = 500 psi on Cushion Or Pile Butt if no cushion (inch) Med. Driving P 1 = 1000 psi on Head or Cap (inch) Hard Driving P 1 = 1500 psi on Head or Cap (inch) Very Hard Driving P 1 = 2000 psi on Head or Cap (inch) - Head of timber pile 0,050,100,150, in. pack. Inside cap on - head of prec. conc. Pile 0,05+0,07 b - 0,5-1 in. mat only on head of precast conc.pile 0,025 0,050,075 0,10 - Steel-covered cap, contai- ing wood pack., for steel piling or pipe 0,04 0,080,120,16 - 3/16 in. red electrical fiber disk between two - 3/8 in. steel plates, for use - with sever driving on - monotube pile 0,02 0,040,060,08 - Head of steel piling or pipe 0000

51 VALUES OF C 2 & C 3 FOR HILEY FORMULA Value of C 2  C 2 = R u L / Ae p (include additional value for followers) Value of C 2  C 2 is temp. compression allow. for quake of ground Nominal value = 0,1 inches Range = 0,2 for resilient soils to 0 for hardpan

52 Formula Upper & lower Limits of SF = R u / Rd b Nominal Range of Ru (kips) Engineering News Hiley Pacific Coast Uniform Building Code Redtenbacher Eytelwein Navy-McKay Rankine Canadian National Building Code Modified Eng. News Gates Rabe 1,1 – 2,4 1,1 – 4,2 2,7 – 5,3 1,7 – 3,6 1,0 – 2,4 0,8 – 3,0 0,9 – 1,7 3,2 – 6,0 1,7 – 4,4 1,8 – 3,0 1,0 – 4,8 0,9 – 2,1 3,0 – 6,5 4,3 – 9,7 2,8 – 6,5 1,0 – 3,8 0,2 – 2,5 1,3 – 2,7 5,1 – 11,1 1,6 – 5,2 2,5 – 4,6 2,4 – 7,0 1,2 – 2,7 4,0 – 9,6 8,8 – 16,5 6,0 – 10,9 2,2 – 4,1 0,2 – 3,0 2,3 – 5,1 10,1 – 19,9 2,7 – 5,3 3,8 – 7,3 3,2 – 8, SAFETY FAKTOR RANGE FOR EQUATIONS (THE MICHIGAN PILE-TEST PROGRAM)

53 VALUES OF COEFFISIENT OF RESTITUTION,n Pile TypeHead Conditon Drop, Single acting, or Diesel Hammers Double acting Hammers Reinforced concrete Helmet with comp.plastic or greenheart dolly and packing on top of pile 0,4 0,5 Helmet with timber dolly & packing on top of pile 0,250,4 Hammer direct on pile with pad only -- Steel Driving cap with standart plastic or greenheart dolly 0,5 Driving cap with timber dolly0,3 Hammer direct on pile-0,5 Timber Hammer direct on pile 0,250,4

54 PEMILIHAN TYPE ALAT PANCANG   Berdasarkan mesin Kobelco Description Hammer Model K-13K-25K-35K-45 Weight of pile (ton)1,0 - 2,51,5 - 4,52,5 - 6,53,5 - 8,5 Bearing capacity (ton)

55 Pondasi tiang pancang  Untuk menambah kekuatan dan kekakuan, maka di dalam tiang pancang baja perlu diisi beton bertulang  Pengisian beton bertulang sampai pada batas M tiang = 0, sedangkan sisanya bisa diisi pasir M tiang = 0, sedangkan sisanya bisa diisi pasir h+h' diisi beton bertulang h+h' diisi beton bertulang h"diisi pasir h"diisi pasir Untuk tanah jelek : Untuk tanah jelek : h' biasanya sekitar 8 m h' biasanya sekitar 8 m h” h’ h M tiang = 0

56 PONDASI TIANG PANCANG  Pelaksanaan pemancangan dengan sepatu tiang sebaiknya dengan percobaan dulu (bandingkan dengan tanpa sepatu). Bila hasilnya sama, lebih baik tanpa sepatu saja, karena dengan memakai sepatu akan menambah biaya  Cara penyambungan tiang sebaiknya lihat pada standar-standar yang sudah ada standar-standar yang sudah ada  Hal-hal yang menyangkut bentang dan protection jembatannya, sama dengan pondasi sumuran dan pondasi langsung jembatannya, sama dengan pondasi sumuran dan pondasi langsung

57 TIANG PANCANG BAJA Dalam pembayaran dibagi sebagai berikut:  Pengadaan bahan tiang pancang pipa baja ter- masuk sambungan, sepatu tiang kalau perlu dan sesuai dengan ukurannya dalam meter panjang  Beton isian (K-225) dalam meter kubik  Baja tulangan dalam kilogram  Pemancangan dalam meter panjang

58 TIANG PANCANG BETON Dalam pembayaran dibagi menjadi :  Pengadaan tiang pancang beton (furnished) termasuk sambungan serta sesuai dengan ukurannya dalam meter panjang  Furnished disini diartikan tiang pancang beton tersebut sudah jadi di mana didalamnya terma - suk beton dan baja tulangan  Pemancangan dalam meter panjang

59 TIANG PANCANG HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN  Jenis alat pancang harus sesuai dengan jenis, berat serta panjang tiang pancang dan disetujui oleh Direksi Teknik  Percobaan pembebanan diperlukan apabila tiang pancang tersebut merupakan tiang pancang yang bersifat friction  Untuk jenis tiang pancang yang sifatnya point bearing, maka rumus pile dynamic dapat dipakai asal jenis alat pancangnya sudah sesuai tcrlebih dahulu, apabila jenis alat pancang tidak sesuai maka rumus tersebut tidak berlaku

60 TIANG PANCANG BORE PILE - Biaya pengeboran dan beton serta tulangannya masuk dalam bagian ini dan dihitung dalam meter panjang bore pile sesuai ukuran CRUCUK KAYU - Pengadaan crucuk kayu yang sudah di treatment (furnished) dengan bahan anti rayap dan anti lapuk dihitung dalam meter panjang - Pemancangan dalam meter panjang SHEET PILE - Pengadaan sheet pile baja/beton furnished dalam meter panjang - Pemancangan sheet pile baja/beton dalam meter panjang

61 SPESIFIKASI JEMBATAN Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam spe-sifikasi jembatan (yang berbeda dengan spesifikasi jalan) adalah :  Pemeliharaan dan pengaturan lalu lintas  Pengumpulan, pengangkutan dan pengiriman material bangunan atas jembatan  Galian Konstruksi  Pembongkaran  Struktur - Beton, beton pratekan, tiang pancang, sumuran, besi tulangan,

62 PEMELIHARAAN DAN PENGATURAN LALU LINTAS  JEMBATAN SEMENTARA  JALAN SEMENTARA  JALAN SIMPANG  PENGATURAN LALU-LINTAS  LALU-LINTAS SATU ARAH

63 JEMBATAN SEMENTARA HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN  Waktu pelaksanaan - Jenis dan material jem - batan sementara harus sesuai dengan umur batan sementara harus sesuai dengan umur jembatan itu sendiri jembatan itu sendiri  MST - Muatan sumbu terberat, tinjau MST yg. ada pada ruas jalan tersebut, karena MST ini menentukan jenis dan kekuatan jembatan sementara yang akan dibangun ada pada ruas jalan tersebut, karena MST ini menentukan jenis dan kekuatan jembatan sementara yang akan dibangun  AADT (LHR) - Jumlah lalu lintas yang lewat pada ruas jalan tersebut menentukan lebar pada ruas jalan tersebut menentukan lebar serta jumlah jembatan sementara, agar tidak serta jumlah jembatan sementara, agar tidak terjadi kemacetan terjadi kemacetan

64 GALIAN KONSTRUKSI ADALAH GALIAN UNTUK LANTAI PONDASI KEPALA JEMBATAN, PILAR, GORONG-GORONG, TEMBOK PENAHAN TANAH, TEMBOK SAYAP Pekerjaan ini termasuk pekei jaan mengisi kembali lu- bang lubang galian konstruksi dengan material yang baik, membuang kelebihan material, pengeringan yang perlu, pemompaan, melindungi, membuat batas-batas tepi konstruksi krib, cofferdam, pembongkaran kons- truksi lama pada daerah galian konstruksi

65 GALIAN KONSTRUKSI PENGUKURAN HASIL KERJA Adalah volume prisma yang dibatasi oleh bidang  Bidang atas, yaitu bidang horizontal seluas bidang pondasi yang melewati titik terendah dari terain tanah asli, bagian di atas ini merupakan galian batu atau galian tanah biasa  Bidang bawah, yaitu bidang dasar pondasi  Bidang tegak, adalah bidang vertikal keliling pondasi Galian di bawah bidang dasar pondasi atau di bawah bidang batas bawah yang ditentukan oleh Direksi tidak dibayar, juga yang diakibatkan oleh pengembangan tanah, pemancangan, longsor, bergeser, runtuh atau sebab-sebab lain.

66 GALIAN KONSTRUKSI DAN TIMBUNAN, PEMADATAN  Pembayaran dilakukan pada mata pembiayaan Galian Konstruksi untuk 0 s/d 2 meter, 2 s/d 4 meter, 4 s/d 6 meter dan galian di bawah permu-kaan air, yang dihitung dalam meter kubik  Timbunan dan Pemadatan yaitu pekerjaan mengu- rug/menimbun tanah guna keperluan badan jalan sesuai dengan gambar rencana. Jenis tanah yang dipakai untuk keperluan ini harus sesuai dengan persyaratannya masing-masing.  Pada penimbunan jalan pendekat harus memakai jenis Tanah pilihan dengan gradasi yang baik, guna menghindari terjadinya settlement / amblas-nya timbunan jalan pendekat tersebut.

67 PENIMBUNAN DAN PEMADATAN HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN Pekerjaan ini diukur setelah dipadatkan dan dihitung berdasarkan meter persegi   Bagian yang tidak dapat dipadatkan dengan alat berat, maksimuin tiap lapisannya 10 cm dan di- stamper  Pada penimbunan dan pemadatan jalan pendekat, perlu diperhatikan kekuatan kepala jembatan, dan apabila kepala jembatan belum kuat maka perlu dilakukan penundaan penimbunan sampai me - mungkinkan.

68 PEMBONGKARAN PEMBONGKARAN JEMBATAN LAMA yaitu peker jaan pembongkaran jembatan baja, beton, kayu atau komposit yang dibayar secara lump sum PEMBONGKARAN PASANGAN BATU/BATA yaitu pekerjaan pembongkaran pasangan bata/batu, beton tak bertulang/beton bertulang, untuk segala macam jenis konstruksi yang dibongkar dan dibayar secara meter kubik PEMBONGKARAN GEDUNG yaitu pembongkaran gedung yang terkena proyek, dan dihitung berdasarkan luas lantai dalam meter persegi

69 STRUKTUR  Beton  Tiang Pancang  Tulangan  Baja Bangunan  Sumuran  Beton Pratekan

70 BETON (spesifikasi) Yang termasuk dalam pekerjaan beton ini adalah penyelesaian pekerjaan beton, rangka beton, beton komposit, beton bertulang sesuai dengan gambar rencana BETON BERTULANG  K-175, untuk gorong-gorong pipa, bang. pelimpah  K-225, untuk gorong-gorong persegi (box culvert), tiang pancang, struktur bangunan bawah, bangunan atas bila disyaratkan demikian  K-350, untuk lantai jembatan baja  K- 400 atau lebih, untuk struktur beton pratekan

71 BETON (Spesifikasi)  Beton tak bertulang K untuk lantai kerja  Beton siklop Untuk isian sumuran JUMLAH SEMEN & AIR PER KUBIK BETON (Hanya sebagai perkiraan) Beton kelas Jumlah semen (kg) Jumlah air(lt) K K K

72 BETON (Spesifikasi) PENGADUKAN  CENTRAL MIXING PLANT - Kapasitas tidak dilampaui - Putaran mesin harus kontinyu - Adukan lama harus sudah dikeluarkan semua  SAAT PENGANGKUTAN (TRUCK MIXER) - Kecepatan putaran > 4 rpm - Maksimum < 150 putaran (6 rpm) - Aduk setelah maksimum mencapai 30 menit semen masuk (bila perlu 15 menit)  KONDISI DARURAT - Mixer mekanis - Bila rusak gunakan tenaga manusia

73 PERANCAH BETON (saat pengecoran)  Pengecoran di atas perancah dan formwork dilakukan setelah perancah dan formwork disetujui oleh Direksi  Perancah harus cukup kuat untuk menahan gaya ver-tikal (beban beton basah) sebelum beton mengering  Hubungan-hubungan yang menahan gaya horizontal sangat penting, karena dalam hal ini perancah harus bekerja sama antara satu tiang dengan tiang yang lain  Usahakan hubungan pada perancah yang cukup ko-koh dan untuk perancah yang berada di sungai, perhi-tungkan gaya horizontal pada saat banjir, dan akibat terhalangnya aliran sungai.

74 TULANGAN HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM PEMASANGAN TULANGAN  Batang tulangan tidak boleh diluruskan kembali atau dibengkokkan kembali tanpa persetujuan direksi teknik.  Pelurusan atau pembengkokan kembali baja tulangan harus dalam keadaan dingin  Baja tulangan yang telah dibengkokkan kembali lebih dari satu kali pada tempat yang sama, tidak boleh dipa-kai dan harus diganti dengan yang baru.  Penggantian ukuran batang baja tulangan yang ber-beda harus diperhatikan luas tulangan rencana yang ada, dan luas tulangan harus sama atau lebih besar dan harus disetujui oleh Direksi  Bahan-bahan pengikat, penjepit, pemisah, pengganjal tidak dimasukkan dalam berat pada butir pembiayaana tulangan melainkan sudah termasuk didalamnya.

75 BAJA BANGUNAN YANG TERMASUK DALAM BAGIAN INI  Baja profil yang berfungsi sebagai pengaku pada tiang pancang baja  Pekerjaan baja bangunan seperti pembuatan gelagar baja untuk jembatan  Pekerjaan ini dibayar dalam kilogram

76 SUMURAN  PENGADAAN SILINDER atau bentuk khusus pon- dasi sumuran sesuai dengan yang diperlukan dalam meter panjang  PENURUNAN SILINDER atau bentuk khusus pon - dasi sumuran yang diperlukan dalam meter panjang

77 SUMURAN HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN  Silinder sumuran harus masuk ke dalam tanah keras minimum 1 meter  Bagian dasar sumuran harus diberi beton kedap air terlebih dulu sebelum dicor beton siklop  Tulangan stek untuk menghubungkan antara sumu - ran dengan bagian bawah abutment, pilar tidak ma-suk dalam perhitungan kuantitas berat tulangan, me-lainkan sudah diperhitungkan dalam pengadaan sumuran  Beton siklop mempunyai mata pembiayaan tersendiri  Penurunan sumuran tidak boleh dilakukan secara terbuka

78 KESALAHAN UMUM PONDASI  GALIAN UNTUK PONDASI LONGSOR karena : - Cara penggalian yang salah - Terlalu dekat ke jembatan / jalan darurat - Cofferdam kurang kuat dan kedap air  MENURUNKAN PONDASI SUMURAN dilakukan secara terbuka mengakibatkan : - Fungsi pondasi sumuran tidak tercapai - Sifat pondasi sumuran menjadi pondasi langsung  PEMANCANGAN TIDAK SESUAI KEMIRINGANNYA dapat mengakibatkan abutment bergeser ke depan, hal tsb.disebabkan oleh : - Salah memancang - Gambar / desain salah

79 KESALAHAN YANG SERING TERJADI PADA PELAKSANAAN PONDASI  Kedalaman tiang pancang geser tidak sesuai desain  Kalendering pada tiang yang terlalu kecil  Salah penanganan, penempatan dan pemanca- ngan tiang beton  Selimut beton kurang pada tiang beton yang dicor di tempat  Letak dasar pondasi yang tidak memperhitung- kan kedalaman scouring

80 KESALAHAN UMUM PADA BANGUNAN BAWAH  MUTU BETON TIDAK SESUAI mungkin disebab- kan oleh : Kecerobohan dalam pelaksanaan, baik dalam pengecoran campuran maupun kualitas agregat   SETTING OUT YANG TIDAK TEPAT mengakibat- kan bentang jembatan menjadi tidak sesuai, hal tersebut diakibatkan oleh : - Peralatan pengukuran yang kurang akurat - Ketidak telitian pada waktu set out - Tidak ada kontrol kedua atau ketiga

81 KESALAHAN UMUM PADA BANGUNAN ATAS TIDAK SESUAINYA JENIS BANGUNAN ATAS ANTARA DESAIN DAN PELAKSANAAN yang disebabkan :  Tidak adanya konsultasi atau koordinasi antara proyek/pemilik proyek dengan Dit.Jen.Bina Marga  Kesalahan setting out di lapangan  Desain yang tidak akurat  Tidak mau menggunakan manual pada waktu pelaksanaan pemasangan bangunan atas

82 KESALAHAN UMUM PADA BANGUNAN ATAS PEMASANGAN BANGUNAN ATAS TIDAK SEMPURNA disebabkan oleh :  Manual pemasangan yang digunakan tidak sesuai dengan jenis bangunan atas yang dipasang  Manual pemasangan tidak dibaca dengan baik  Tidak mengerti cara membaca manual atau gambar rencana  Dinding backwall dicor dulu sehingga terjadi kesuli-tan pemasangan bangunan atas  Celah expansion joint tidak sesuai dengan manual  Tidak mengerti cara pelaksanaan pemasangan ba - ngunan atas dengan sebenarnya (cantilever, peran-cah, semi kantilever, launching)

83 KESALAHAN UMUM PADA ERECTION BANG. ATAS  Camber yang terjadi di lapangan tidak sesuai dengan camber yang sudah disyaratkan dalam buku manual, hal ini disebabkan  Pengencangan baut yang tidak sesuai urutan pema- sangan tidak sesuai manual Contoh : pada lantai jembatan rangka yang menggu- nakan lantai baja gelombang, baja geloinbang terse- but berfungsi sebagai pengaku, sehingga wajib dipa- sang bers,amaan dengan rangka batangnya  Pemasangan batang yang tertukar, mengakibatkan adanya batang yang tidak mampu menahan gaya

84 KESALAHAN UMUM PADA PENYELESAIAN AKHIR  JALAN PENDEKAT - amblas disebabkan oleh: - Bahan timbunan tidak menggunakan jenis material pilihan - Pemadatan yang tidak sempurna - Tinggi lapisan yang dipadatkan tidak sesuai de - ngan jenis alat pemadat yang digunakan  BETON LANTAI - retak, keropos disebabkan oleh: - Mutu beton tidak sesuai dengan persyaratan - Jumlah tulangan tidak sesuai - Cara pengecoran salah - Curing tidak sesuai prosedur

85 AKIBAT KESALAHAN PADA PELAKSANAAN BETON  SEGREGASI  BLEEDING  RETAK  KEROPOS

86 SEGREGASI Adalah pemisahan agregat kasar dari adukannya Penyebab segregasi adalah:  Pembatasan slump yang terlalu rendah  Gradasi yang kurang memadai  Berat jenis agregat kasar terlalu tinggi dibandingkan dengan agregat halus  Jumlah agregat halus terlalu sedikit  Tinggi jatuh pengecoran terlalu tinggi  Penggunaan alat penggetar yang terlampau lama  Penggunaan bahan admixture yang salah

87 BLEEDING ADALAH BENTUK LAIN DARI SEGREGASI, DIMANA PARTIKEL AGREGAT KASAR TURUN KE BAWAH KARENA KETIDAK MAMPUAN MENGIKAT CAMPURAN AIR DARI ADUKAN MORTAR, SEHINGGA AIR KELUAR KEATAS PERMUKAAN BETON SEBAB-SEBAB BLEEDING : - Campuran beton terlalu basah - Temperatur terlalu tinggi pada saat pengecoran - Rancangan campuran beton kurang baik - Adanya penambahan air pada saat pengecoran berlangsung

88 PERAWATAN (CURING) BETON TUJUAN :   Mencegah penguapan / pelepasan air yang ber -lebihan, karena penguapan / pelepasan air yang berlebihan akan meriyebabkan hambatan dalam proses hidrasi  Beton harus dipelihara agar berada dalam suhu tertentu sedemikian rupa sehingga terhindar dari perbedaan suhu yang berlebihan yang dapat menimbukan retakan

89 METODA PERAWATAN  WATER CURING Dengan ponding, spraying, sprinkling dan satu- rated covering  SEALED CURING Dengan kertas waterproof, lembaran plastik dan curing membrane  STEAM CURING Dengan pemanasan terutama banyak digunakan untuk beton-beton pracetak

90 JANGKA WAKTU CURING TERGANTUNG PADA BEBERAPA FAKTOR  Jenis semen  Kekuatan beton yang dibutuhkan / direncanakan  Perbandingan antara luas permukaan terhadap volume beton  Kondisi dan keadaan cuaca sekeliling  Biasanya minimum 7 hari dan tidak kurang dan 14 hari untuk beton masif  Perbedaan temperatur diusahakan antara luar dan dalam beton tidak lebih dari 20 derajat  Perbedaan temperatur beton dengan udara diseke- lilingnya tidak lebih dari 11 derajat

91 KESALAHAN UMUM PADA PENYELESAIAN AKHIR GAP EXPANSION JOINT terlalu besar  Salah setting out  Tidak dilakukan penyesuaian pada bagian ujung lantai  Dapat mengakibatkan retak pada panel ujung Iantai beton jembatan  Bila digunakan jenis expansion joint tertentu menjadi mahal  Penggunaann expansion joint yang tidak sesuai dapat mengakibatkan mudah rusaknya expansion tersebut

92 PERBAIKAN KESALAHAN  PONDASI TIANG PANCANG - mengalami eksentrisitas akibat kesalahan pemancangan - Hitung kembali momen yang terjadi - Kalau perlu diberi tambahan tiang  PONDASI SUMURAN MIRING - karena salah pelaksa-naan penurunan silinder - Usahakan agar silinder sumuran tegak, dan apabila tidak dapat, angkat kembali cincin sumuran dan dilakukan penggalian terbuka - Kemudian lakukan pengecekan kestabilan pondasi sesuai dengan pondasi langsung Pada bagian yang dikhawatirkan mengalami scouring vertikal atau horizontal langsung diberi pengamanan

93 PERBAIKAN KESALAHAN SETTING YANG SALAH  Apabila jarak tidak terlampau besar, bagian ke - pala abutment atau pilar dapat diberi tambahan dengan konsol pendek, dan penyesuaian-penye- suaian lainnya.  Apabila sudah tidak mungkin, maka bentangan dan mungkin tipe bangunan atas perlu penye- suaian  Cek kembali terhadap kestabilan pondasi, apa- kah masih cukup aman akibat terjadinya peruba- han letak bangunan atasnya

94 PERBAIKAN BETON RETAK  Perbaikan retak dapat dilakukan dengan cara grou- ting, penyuntikan bahan epoxy  Apabila tulangan kurang, adanya retak struktur perlu perkuatan dengan menambahkan plat penguat  Untuk gelagar beton bertulang atau beton pratekan dapat menggunakan perkuatan dengan cara external stressing  Untuk kolom beton perkuatan dilakukan dengan cara jacketing dengan pelat baja, fibrewrap dll.

95 LAUNCHING OF PRESTRESSED GIRDER BASIRIH BRIDGE Prestressed Girder Span = 40 m’ Temporary Steel Frame Pilar

96 MID SPAN OF BASIRIH BRIDGE Prestressed Girder Span = 40 m’ Pilar

97

98

99

100 PELAKSANAAN PEMASANGAN JEMBATAN RANGKA Metoda yang sesuai tergantung dari :  Lokasi jembatan  Kondisi sungai  Kondisi jalan penghubung (oprit)  Kondisi jembatan lama  Kemajuan pekerjaan bangunan bawah  Peralatan yang tersedia  Tenaga buruh yang digunakan

101 METODA PEMASANGAN JEMBATAN RANGKA BAJA Ada 3 macam  Kantilever  Kombinasi Perancah + Kantilever (semi kantilever)  Perancah

102 KANTILEVER Dilakukan pada kondisi  Keadaan aliran sungai buruk dan berbahaya bila dipasang perancah ditengah sungai (sering banjir)  Profil sungai dalam.  Mempunyai bentang jembatan lebih besar atau sama dengan jembatan yang dipasang.  Jalan penghubung (oprit) yang tersedia cukup untuk menempatkan jembatan pemberat  Dan timbunan / galian tanah dibelakang kepala jembatan memungkinkan untuk konstruksi jembatan pemberat.  Tersedia tenaga-tenaga yang terlatih.

103 SEMI KANTILEVER Dilakukan pada kondisi  Jembatan terdiri dari satu bentang dan kesulitan peminjaman jembatan pemberat  Sebagian profil sungai masih dimungkinkan untuk pemasangan perancah (dangkal).  Tempat untuk jembatan pemberat pada oprit telalu pendek karena trase jalan penghubung dekat jembatan membelok tajam atau terjal.

104 PERANCAH Dilakukan pada kondisi :  Kondisi profil sungai datar/tidak dalam  Arus tidak besar jika banjir (tidak membahayakan)  Biaya pembuatan perancah relatif lebih murah  Tenaga terlatih sukar didapat

105 ERECTION (Metoda Kantilever) Pemberat (Ballast)

106 DETAIL BALLAST TYPEBALLASTTYPEBALLAST 40 A18 Ton40 B16 Ton 45 A17 Ton45 B16 Ton 50 A20 Ton50 B16 Ton 55 A22 Ton55 B16 Ton 60 A24 Ton60 B20 Ton

107 PENGGUNAAN ALAT BANTU KHUSUS (Special Lingking Steel)

108 (Uppercord Component) PENGGUNAAN ALAT BANTU BATANG ATAS (Uppercord Component)

109 JEMBATAN PEMBERAT DIATAS TUMPUAN SEMENTARA

110 ERECTION JEMBATAN SELESAI

111 ERECTION JEMBATAN RANGKA METODA SEMI KANTILEVER PEKERJAAN SEDANG BERLANGSUNG YOKE BALLAST

112 ERECTION JEMBATAN RANGKA METODA SEMI KANTILEVER PEKERJAAN ERECTION SELESAI REMOVE YOKE

113 ERECTION JEMBATAN RANGKA METODA PERANCAH  PEMASANGAN PERANCAH

114 ERECTION JEMBATAN RANGKA METODA PERANCAH  MEMULAI PEKERJAAN ERECTION

115 ERECTION JEMBATAN RANGKA METODA PERANCAH  PEKERJAAN ERECTION SELESAI REMOVE FILES

116 TRANSPANEL BRIDGES Transfield - MBK

117

118 COMPACT BAILEY

119  BRIDGE DIMENSIONS

120 COMPACT BAILEY  Tampak Samping


Download ppt "METODA PELAKSANAAN JEMBATAN. JEMBATAN  Bangunan Atas  Bangunan Atas  Landasan  Landasan  Bangunan Bawah  Bangunan Bawah  Pondasi  Pondasi  Jalan."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google