Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

LOWLAND RICE FARMING SYSTEM  Merupakan prioritas utk GCP (Generation Challenge Program), yg memiliki 13,4 juta (34%) anak kuntet (kerdil)  Terutama meliputi.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "LOWLAND RICE FARMING SYSTEM  Merupakan prioritas utk GCP (Generation Challenge Program), yg memiliki 13,4 juta (34%) anak kuntet (kerdil)  Terutama meliputi."— Transcript presentasi:

1 LOWLAND RICE FARMING SYSTEM  Merupakan prioritas utk GCP (Generation Challenge Program), yg memiliki 13,4 juta (34%) anak kuntet (kerdil)  Terutama meliputi negara-negara Thailand, Vietnam, Myanmar, South and Central- Eastern China, Philippines and Indonesia, dan sebagian kecil wiyalah di Cambodia, the Koreas, Laos and Malaysia.

2  Indonesia merupakan penghasil padi terbesar ke tiga di dunia, tetapi pengimpor beras no 7 di dunia  Impor beras 1.1 juta ton/tahun  Beberapa tahun terakhir konsumsi beras meningkat lebih cepat daripada produksi padi  Indonesia merupakan penghasil padi terbesar ke tiga di dunia, tetapi pengimpor beras no 7 di dunia  Impor beras 1.1 juta ton/tahun  Beberapa tahun terakhir konsumsi beras meningkat lebih cepat daripada produksi padi

3 RankCountry Name Rice Production (1000 Metric Ton) 1China India Indonesia Bangladesh Vietnam Thailand Philippines Myanmar Brazil Japan7500 Most Rice Producing Countries in the World

4

5

6

7 Jawa dan Bali memilki gunung berapi aktif paling padat di dunia, shgg menyediakan lahan subur yang luas Curah hujan tinggi, rata-rata nasional 3.175mm/tahun, dpt mencapai mm di daerah pegunungan Jawa dan Bali (ideal untuk pertanian, terutama sistem padi sawah) Jawa dan Bali (ideal untuk pertanian, terutama sistem padi sawah) Wilayah Penghasil Padi di Inddonesia

8

9 Berdasarkan geografi dan altitude-nya wilayah Indonesia (utk pertanian) dibagi menjadi dua wilayah WilayahCakupanKesuburan Tanah Komoditi Inner Islands Java, Bali, Lombok and Madura Sangat subur (paling subur) Food crop production Outer Islands Sumatra, Kalimantan Sulawesi, and Papua Kurang subur, didominasi tanah masam (pH rendah) Estate crops: oil palm, sugar, rubber, cocoa, coffee, tea

10  56% produksi pangan berasal dari P. Jawa  Luar biasa subur (incredibly lush) dan dikelola secara intensif, ada mitos P. Jawa adalah “garden of Eden”

11 Katagori Lahan Sawah 1.Pluvial 2.Phreatik 3.Fluxial 1.Pluvial 2.Phreatik 3.Fluxial Katagori Lahan Sawah Berdasarkan kondisi hidrologi dan rezim air, Moormann van Breemen (1978)

12 Pluvial  Sumber air berasal dari air hujan  Kelebihan air hilang melalui perkolasi dan aliran permukaan  Terdapt di daerah landai – berlereng curam  Air tanah dalam, drainase baik, tdk ada gejala jenuh air dlm profil tanah  Padi ditanam sbg padi gogo

13

14

15 Padi gogo

16 Phreatik  Sumber air berasal dr air hujan dan air tanah  Air tanah (phreatic) dangkal, paling tidak pd wkt musim hujan  Kelebihan air hilang melalui aliran permukaan  Tdk pernah tergenang lebih dari bbp jam  Dlm profil tanah ada gejala jenuh air (gley motling)  Bila tanpa perataan tanah (leveling) dan pembuatan pematang, akan lebih baik ditanami padi gogo  Bila dgn perataan dan pembuatan pematang dpt dikembangkan utk padi sawah

17

18

19 Air tanah dangkal, tanpa perataan dan tanpa pematang (Padi gogo)

20 Fluxial  Sumber air seluruhnya atau sebagian berasal dari aliran permukaan, air sungai dan air hujan  Dlm keadaan alami tergenang air selama bbp bulan selama periode pertumbuhan padi  Terdapat di daerah lembah, dataran aluvial sungai, dsb  Drainase permukaan dan drainase dalam (perkolasi) lambat, shgg mudah terjadi genangan air  Padi ditanam sebagai padi sawah

21 Padi sawah beririgasi teknis di dataran aluvial

22 Padi Sawah Tadah Hujan (Padi Gogo) Istilah sawah tadah hujan (rainfed agriculture) digunakan untuk menjelaskan kegiatan pertanian yang menggantungkan sumber air semata dari air hujan.

23 Karakeristik Sawah Tadah Hujan  Petak-petak dibatasi oleh pematang, atau tanpa pematang  Ketersediaan air sepenuhnya tergantung pd air hujan  Menggunakan bibit tradisional dan modern  Rata-rata produksi sekitar 2 ton/hektar  Topografi datar sampai bergelombang, atau di dasar lembah-lembah wilayah pegunungan  Tidak tergenang secara terus-menerus  Penanaman langsung dari biji atau bibit

24

25

26 Problem  Pembatas produksi adalah lemahnya pengendalian air: curah hujan, kekeringan dan banjir sulit diprediksi  Pembatas lainnya adalah: hama, gulma, kualitas tanah, hasil tdk stabil, menggunakan varietas tradisional, dan kurang tersedia teknologi produksi

27 Karakteristik  Merupakan petak-petak yang dibatasi oleh pematang, air sepenunhya terkendali (irigasi dan drainase)  Hanya menggunakan varietas modern  Rata-rata produksi tinggi > 4 ton/ha Padi sawah dataran rendah beririgasi (irrigated lowland rice)

28  Menggunakan chemical input tinggi (pupuk dan pestisida)  Tanah umumnya dilumpurkan dan rata, kedelaman air tertentu terpelihara selama pertumbuhan

29  Kekeringan sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman, terutama jika kekurangan air terjadi pd saat fase pembungaan dan pembentukan biji  Menghadapi problem akibat Green Revolution, spt ketidakseimbangan tanah karena sistem penggenangan (anaerobic) secara terus-menerus.

30 Sistem Budidaya Padi Sawah  Sistem tanam persegi (tegel, konvensional)  Sistem Surjan  Sistem Jajar Legowo.

31 1. Tanam Model Konvesional atau Persegi (Tegel) Tanam model ini paling umum diterapkan di kebanyakan wilayah di Indonesia, karena persiapan tanahnya lebih mudah dan cepat Tanaman ditanam dengan jarak tanaam yang sama pola persegi, misalnya 25 x 25 cm atau 20 x 20 cm, sehingga jarak antar tanaman semuanya sama Tanaman yg berada di pinggir hanya yang berada di sekeliling petak

32 TANAM MODEL KONVENSIONAL ATAU PERSEGI (TEGEL): 25 x 25 - Tanam biasa dengan menggunakan sistem tegel jarak tanam 25cm x 25cm - Populasi rumpun/ha

33 Sistem Budidaya Surjan Sistem budidaya surjan (atau sistem surjan saja) adalah salah satu sistem pertanaman campuran yang dicirikan oleh perbedaan tinggi permukaan bidang tanam pada suatu luasan lahan. Perbedaan ketinggian ini minimal 50 cm (disebut jg alternating bed system)

34

35 Dalam sistem surjan, bidang yang rendah disebut "lembah" dan yang tinggi disebut "bukit". Lembah biasanya ditanami padi pada musim hujan. Pada musim kemarau, lembah ditanami palawija untuk memanfaatkan sisa kelembaban air yang tersisa. Bagian bukit dapat ditanami bermacam- macam komoditi, palawija, sayur-sayuran atau rumput pakan ternak, pohon buah-buahan, misalnya jeruk.

36 Legowo” di ambil dari bahasa jawa yang berasal dari kata “Lego” yang berarti Luas dan “Dowo” yang berarti panjang. Tujuan utama ialah untuk meningkatkan populasi tanaman dengan cara mengatur jarak tanam dan memanipulasi lokasi dari tanaman yang seolah-olah tanaman padi berada di pinggir (tanaman pinggir) atau seolah-olah tanaman lebih banyak berada di pinggir Sistem Jajar Legowo

37

38 Posisi di pinggir larikan

39 Prinsip sistem tanam Jajar legowo ada 2, yaitu : 1.Meningkatkan populasi pertanaman dengan pengaturan jarak tanam 2.Memanipulasi barisan tanam yang berada di pinggir dengan menyisipkan tanaman ke dalam barisan. PRINSIP JAJAR LEGOWO

40 Jajar Legowo Tipe 2:1 Setiap dua baris diselingi satu baris yang kosong dengan lebar dua kali jarak tanam, dan pada jarak tanam dalam baris yang memanjang di perpendek menjadi setengah jarak tanam dalam barisannya. Tipe Jajar Legowo

41 TANAM JAJAR LEGOWO 2 : 1 - Semua barisan pertanaman disisipkan - Populasi rumpun/ha (peningkatan populasi 33,31%)

42

43 Jajar Legowo Tipe 3:1 Setiap tiga baris tanaman padi di selingi dengan satu baris kosong dengan lebar dua kali jarak tanam, dan untuk Jarak tanam tanaman padi yang dipinggir menjadi setengah jarak tanam dalam barisannya

44 Jajar Legowo Tipe 4:1 Setiap empat baris tanaman padi diselingi dengan satu baris kosong dengan lebar dua kali jarak tanam, dan untuk Jarak tanam tanaman padi yang dipinggir menjadi setengah jarak tanam dalam barisannya

45 TANAM JAJAR LEGOWO TIPE 4 : 1 - Sisipan hanya diberikan pada kedua barisan tanaman pinggir - Jumlah populasi ,04 rumpun/ha (peningkatan populasi 20,44%)

46 1.Populasi tanaman bertambah banyak 2.Efek tanaman pinggir, semua barisan tanaman padi berada di pinggir, dan biasanya memberikan hasil lebih tinggi krn mendapatkan sinar matahari lebih banyak. 3.Pengendalian Hama dan Penyakit tanaman & pemupukan akan menjadi lebih mudah & lebih berdaya guna. 4.Penyediaan ruang kosong untuk pengaturan air, saluran pengumpul keong mas, atau untuk mina padi. Keunggulan Sistem jajar Legowo


Download ppt "LOWLAND RICE FARMING SYSTEM  Merupakan prioritas utk GCP (Generation Challenge Program), yg memiliki 13,4 juta (34%) anak kuntet (kerdil)  Terutama meliputi."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google