Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

STUDI KASUS PENGKAJIAN FISIK KELOMPOK II. KASUS Seorang Ibu membawa anak B umur 3 bulan, dengan keluhan demam dan kejang dirumah. Anak tampak letargis.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "STUDI KASUS PENGKAJIAN FISIK KELOMPOK II. KASUS Seorang Ibu membawa anak B umur 3 bulan, dengan keluhan demam dan kejang dirumah. Anak tampak letargis."— Transcript presentasi:

1 STUDI KASUS PENGKAJIAN FISIK KELOMPOK II

2 KASUS Seorang Ibu membawa anak B umur 3 bulan, dengan keluhan demam dan kejang dirumah. Anak tampak letargis. Saat dilakukan pemeriksaan ditemukan ada cairan nanah keluar dari telinga, ubun-ubun besar tampak cembung, suhu 38,5°C. Saat dilakukan pengkajian riwayat kesehatan keluarga, diketahui kalau ayah dari anak B sedang makan obat rutin selama 6 bulan. Setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan lainnya, maka diputuskan oleh tim kalau anak B perlu dirawat di RS.

3 IDENTIFIKASI ISTILAH 1.Kejang demam  Kejang demam adalah terbebasnya sekelompok neuron secara tiba-tiba yang mengakibatkan suatu kerusakan kesadaran, gerak, sensasi atau memori yang bersifat sementara (Hudak and Gallo,1996).

4 PENGKAJIAN Data Subyektif  Biodata/Identitas Nama : Anak B Umur: 3 bulan  Masalah Kesehatan Sekarang  Demam dan kejang dirumah  Riwayat Kesehatan Dahulu  Tidak ada  Riwayat Kesehatan Keluarga  Ayah dari Anak B sedang makan obat rutin selama 6 bulan.

5 Cont’ Data Obyektif  Pemeriksaan Umum Pertama kali perhatikan keadaan umum vital: tingkat kesadaran, tekanan darah, nadi, respirasi dan suhu (38,5°C).

6  Pemeriksaan Fisik Kepala Adakah tanda-tanda mikro atau makrosepali? Adakah dispersi bentuk kepala? Apakah tanda-tanda kenaikan tekanan intrakarnial, yaitu ubun-ubun besar cembung, bagaimana keadaan ubun-ubun besar menutup atau belum ? Rambut Dimulai warna, kelebatan, distribusi serta karakteristik lain rambut. Pasien dengan malnutrisi energi protein mempunyai rambut yang jarang, kemerahan seperti rambut jagung dan mudah dicabut tanpa menyebabkan rasa sakit pada pasien. Muka/ Wajah. Paralisis fasialis menyebabkan asimetri wajah; sisi yang paresis tertinggal bila anak menangis atau tertawa, sehingga wajah tertarik ke sisi sehat. Adakah tanda rhisus sardonicus, opistotonus, trimus ? Apakah ada gangguan nervus cranial ?

7 Mata Saat serangan kejang terjadi dilatasi pupil, untuk itu periksa pupil dan ketajaman penglihatan. Apakah keadaan sklera, konjungtiva ? Telinga Periksa fungsi telinga, kebersihan telinga serta tanda-tanda adanya infeksi seperti pembengkakan dan nyeri di daerah belakang telinga, keluar cairan dari telinga, berkurangnya pendengaran. Hidung Apakah ada pernapasan cuping hidung? Polip yang menyumbat jalan napas? Apakah keluar sekret, bagaimana konsistensinya, jumlahnya ? Mulut Adakah tanda-tanda sardonicus? Adakah cynosis? Bagaimana keadaan lidah? Adakah stomatitis? Berapa jumlah gigi yang tumbuh? Apakah ada caries gigi ? Tenggorokan Adakah tanda-tanda peradangan tonsil ? Adakah tanda-tanda infeksi faring, cairan eksudat ?

8 Leher Adakah tanda-tanda kaku kuduk, pembesaran kelenjar tiroid ? Adakah pembesaran vena jugulans ? Thorax Pada infeksi, amati bentuk dada klien, bagaimana gerak pernapasan, frekwensinya, irama, kedalaman, adakah retraksi Intercostale ? Pd auskultasi, adakah suara napas tambahan? Jantung Bagaimana keadaan dan frekwensi jantung serta iramanya ? Adakah bunyi tambahan ? Adakah bradicardi / tachycardia? Abdomen Adakah distensia abdomen serta kekakuan otot pd abdomen ? Bagaimana turgor kulit dan peristaltik usus ? Adakah tanda meteorismus? Adakah pembesaran lien dan hepar ?

9 Kulit Bagaimana keadaan kulit baik kebersihan maupun warnanya? Apakah terdapat oedema, hemangioma ? Bagaimana keadaan turgor kulit ? Ekstremitas Apakah terdapat oedema, atau paralise terutama setelah terjadi kejang? Bagaimana suhunya pada daerah akral ? Genetalia Adakah kelainan bentuk oedema, sekret yang keluar dari vagina, tanda-tanda infeksi ?

10  Pengkajian Penunjang Tergantung sarana yang tersedia dimana pasien dirawat, pemeriksaannya meliputi : Darah Glukosa Darah:Hipoglikemia merupakan predisposisi kejang (N < 200 mq/dl) BUN:Peningkatan BUN mempunyai potensi kejang dan merupakan indikasi nepro toksik akibat dari pemberian obat. Elektrolit:K, Na Ketidakseimbangan elektrolit merupakan predisposisi kejang Kalium ( N 3,80 – 5,00 meq/dl ) Natrium ( N 135 – 144 meq/dl ) Cairan Cerebo Spinal:Mendeteksi tekanan abnormal dari CCS tanda infeksi, pendarahan penyebab kejang. Skull Ray:Untuk mengidentifikasi adanya proses desak ruang dan adanya lesi

11 Tansiluminasi: Suatu cara yang dikerjakan pada bayi dengan UUB masih terbuka (di bawah 2 tahun) di kamar gelap dengan lampu khusus untuk transiluminasi kepala. EEG : Teknik untuk menekan aktivitas listrik otak melalui tengkorak yang utuh untuk mengetahui fokus aktivitas kejang, hasil biasanya normal. CT Scan:Untuk mengidentifikasi lesi cerebral infaik hematoma, cerebral oedem, trauma, abses, tumor dengan atau tanpa kontras.


Download ppt "STUDI KASUS PENGKAJIAN FISIK KELOMPOK II. KASUS Seorang Ibu membawa anak B umur 3 bulan, dengan keluhan demam dan kejang dirumah. Anak tampak letargis."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google