PPB Intakindo Juni 2015 Prakiraan Dampak Kualitas Udara Yeremiah R. Tjamin.

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
KINEMATIKA Kinematika adalah cabang ilmu Fisika yang membahas gerak benda tanpa memperhatikan penyebab gerak benda tersebut. Penyebab gerak yang sering.
Advertisements

GERAK LINEAR dan NON LINEAR.
Kerja dan Energi Dua konsep penting dalam mekanika kerja energi
BAB 3 HUKUM GAUSS PENGERTIAN FLUKS FLUKS MEDAN LISTRIK HUKUM GAUSS
TEKANAN UDARA INDIKATOR KOMPETENSI
Perilaku dan Transportasi Polutan di Lingkungan Laut
Fisika Dasar I (FI-321) Topik hari ini (minggu 2)
Fisika Dasar I (FI-321) Topik hari ini (minggu 3)
DASAR-DASAR KOROSI DALAM LINGKUNGAN ATMOSFERIK
KINEMATIKA ROTASI TOPIK 1.
Dasar-dasar Pemodelan Dinamika Arus di Perairan Dangkal
MINGGU 6.
ATMOSPHERIC DISPERSION Dispersi/Persebaran Atmosfir
Fisika Umum (MA-301) Topik hari ini (minggu 2)
GERAK LURUS Hukum-hukum Newton tentang gerak menjelaskan mekanisme yang menyebabkan benda bergerak. Di sini diuraikan perubahan gerak benda dengan konsep.
3. KINEMATIKA Kinematika adalah ilmu yang membahas
KARAKTERISTIK ARUS L.L. PARAMETER LALU LINTAS KUANTITAS PENGUKURAN
Rumus-rumus ini masihkah anda ingat?
4. DINAMIKA.
6. SISTEM PARTIKEL.
TEKANAN UDARA DAN ANGIN
Ukuran kecepatan rata-rata molekul
Berkelas.
Berkelas.
Presented by: M. ZAHRI KADIR
ALIRAN INVISCID DAN INCOMPRESSIBLE, PERSAMAAN MOMENTUM, PERSAMAAN EULER DAN PERSAMAAN BERNOULLI Dosen: Novi Indah Riani, S.Pd., MT.
MM FENOMENA TRANSPORT Kredit: 3 SKS Semester: 5
BAB 3 HUKUM GAUSS PENGERTIAN FLUKS FLUKS MEDAN LISTRIK HUKUM GAUSS
KINEMATIKA Mekanika adalah cabang ilmu fisika yang mempelajari gerak benda dan pengaruh lingkungan terhadap gerak benda. Mempelajari gerak benda tanpa.
Berkelas.
ATMOSPHERIC DISPERSION Dispersi/Persebaran Atmosfir
Ir. Mochamad Dady Ma‘mun M.Eng, Phd
Toxic Release and Dispersion Models
ATMOSPHERE (Atmosfir)
DISTRIBUSI KONTINU DISTRIBUSI NORMAL.
Kinematika Kinematics
Mekanika Fluida Statika Fluida.
Fisika Dasar (Fr-302) Topik hari ini (Pertemuan ke 3)
Resume.
FISIKA DASAR MUH. SAINAL ABIDIN.
LATIHAN SOAL MENJELANG UJIAN TENGAH SEMESTER
Fisika Dasar (FR-302) Topik hari ini (minggu 4)
Dinamika Atmosfer-1 Sistem Gaya Atmosfer
PERTEMUAN III KINEMATIKA PARTIKEL.
PENGERTIAN METEOROLOGI
BAB III Kurva Non Linear.
Latihan Soal Kinematika Partikel
Kurva Non Linear.
BAB 2 GERAK SATU DIMENSI 3.1.
KINEMATIKA.
TEKANAN UDARA INDIKATOR KOMPETENSI
TEKANAN UDARA INDIKATOR KOMPETENSI
Perpindahan Panas Minggu 07
HUKUM NEWTON Pendahuluan Hukum Newton
METEOROLOGI Disusun oleh : Adi prasetya ( )
A. Posisi, Kecepatan, dan Percepatan
Pemantauan dan Analisis Kualitas Udara
Distribusi Multinormal
PERHITUNGAN PENYEBARAN PENCEMARAN UDARA HUKUM GAUSS
ANGIN PERSENTASI OLEH : 1.Maula Khitlana Sa’adah / Rizky Maulidiyah /
Teknik Sampling Kualitas Udara
Radiasi Matahari, Bumi, dan Atmosfer
Minggu 2 Gerak Lurus Satu Dimensi.
Pertemuan ke-4 Oleh : Sonni Setiawan
Kesetimbangan Rotasi dan Dinamika Rotasi
ANALISIS KUALITAS UDARA
GERAK PADA BIDANG DATAR
Penentuan posisi chamber di lapangan (clearing)
OM SWASTYASTU. NAMA KELOMPOK  I Gede Made Indra Adi Suputra( )  Wayan Dhani Saputra ( )  Wayan Mahendra Pratama( )
MEKANIKA Oleh WORO SRI HASTUTI
Transcript presentasi:

PPB Intakindo Juni 2015 Prakiraan Dampak Kualitas Udara Yeremiah R. Tjamin

Pendekatan Prakiraan Dampak

Dasar Pemodelan Dispersi Sistem koordinat Konsep dasar Distribusi Gauss (dispersi) Persamaan Gauss Asumsi model Keterbatasan model Plume rise

Y (Cross-wind) Z X (Downwind) X 3 X 2 X 1 Stack Emissions Q, g/s Wind Flow Vector u, m/s Plume Centerline Reseptor (x,y,z) x y z Sistem Koordinat

Y Z X X 3 X 2 X 1 Q, g/s Q u, m/s Konsep Dasar: Kekekalan Massa

Y Z X X 3 X 2 X 1 Q, g/s Q u, m/s Konsep Dasar: Konsentrasi, x (ug/m 3 )

Y Z X X 3 X 2 X1X1 Q=100 g/s Q u = 5 m/s 5 m Asumsi semua polutan (100 g) berada dalam kotak 1000 x 1000 x 5 m 3  t = 1 s 1000 m X m Contoh: Selama  t, terjadi emisi 100 g, seiring bidang YZ bergerak 5 m

Y Z X X 3 X 2 X1X1 Q=100 g/s Q u = 5 m/s 5 m X m Rataan Keseluruhan Konsentrasi (X) setelah 1 detik X = 100 g / 5,000,000 m 3 X = g/m 3 or X = 20 ug/m 3 Sebetulnya bagaimana distribusi polutan dalam volume ini? Asumsi semua polutan (100 g) berada dalam kotak 1000 x 1000 x 5 m 3

Distribusi Gauss Atau disebut juga: Distribusi Normal Distribusi Nilai Baku Kurva Lonceng

Distribusi Gauss   1.0  2.15 

Distribusi Gauss H h s h h h s H Y Z X Sumber Titik Virtual ZZ YY Batas Plume pada 0.1 of X CL

H h s h h h s H Y Z X ZZ YY Persamaan Distribusi Normal

H h s h Y Z X ZZ YY Distribusi Cross-wind x y z

H h s h Y Z X ZZ YY x y z Distribusi Vertikal

H h s h Y Z X ZZ YY x y z Apa yang terjadi saat distribusi vertikal mencapai permukaan tanah?

z x Bum!

z x Masuk ke dalam tanah?

z x Dipantulkan

z x Konsentrasi total = sumber + yang dipantulkan

z x z z H Jarak dari garis tengah ke reseptor : H - z H Reflected Source Jarak dari garis tengah ke reseptor: H + z H + z Dari Sumber Dari Yang Dipantulkan Total

Persamaan Gauss Untuk Pemodelan Dispersi

Koef Dispersi Cross-wind  y A B C D E F ,000 10, Distance Downwind, km  y, meters Pasquill-Gifford Sigmas Rural 0.1 A-B McElroy-Pooler Sigmas Urban C D E-F

Koef Dispersi Vertikal  z ,000 10, Distance Downwind, km  z, meters A B C D E F Pasquill-Gifford Sigmas Rural McElroy-Pooler Sigmas Urban A-B C D E-F

Buoyancy Induced Dispersion  e = [   + (  h / 3.5) 2 ] 1/2

Parameter Meterologi Stabilitas Atmosfer Solar Angle Angin: arah dan kecepatan Suhu Mixing Height Tutupan awan

Kategori Stabilitas Untuk deskripsi dispersi yang terjadi Kuantifikasi turbulensi atmosfer

Kategori Stabilitas Atmosfer Kategori stabilitas untuk pemodelan dispersi  A (1) – sangat tidak stabil  B (2) – tidak stabil  C (3) – agak tidak stabil  D (4) - netral  E (5) – agak stabil  F (6) - stabil

Kategori Stabilitas Surface Wind Day Night Speed at 10 m Incoming Solar Radiation (Insolation) Thinly Overcast  3/8 (m/s) or  4/8 Low Cloud Strong Moderate Slight Cloud Cover Cover < 2 A A - B B F F A - B B C E F B B - C C D E C C - D D D D > 6 C D D D D Untuk kondisi berawan baik siang maupun malam diasumsikan kategori netral (D) Malam didefinisikan sebagai periode 1 jam sebelum matahari terbenam sampai 1 jam setelah matahari terbit

Insolation Sky Cover Solar Elev. Angle Solar Elev. Angle Solar Elev. Angle (Opaque or Total) > 60 O  60 O and > 35 O  35 O and > 15 O 4/8 or Less or Any Amount of Strong Moderate Slight High Thin Clouds 5/8 to 7/8 Middle Clouds (7,000 to Moderate Slight Slight 16,000 ft) 5/8 to 7/8 Low Clouds Slight Slight Slight (< 7,000 ft)

Kebutuhan Data Meteorologi Untuk Pemodelan Data hipotetik (screening): SCREEEN3, AERCREEN Data per jam (pemodelan rinci): ISCST3, AERMOD

Model mengasumsikan: Kekekalan massa Kondisi tetap (Steady-State) untuk: Laju emisi emission Wind Suhu Stabilitas Homogeneous Surface True Point-Source Asumsi Kondisi Tetap (Steady State) U S = 1.0 m/s, Lokasi Receptor 5 km downwind Waktu tempuh adalah 5,000 detik atau 1,39 jam Apakah arah angin akan tetap selama 1,39 jam? Angin Riil Arah saat ini 5 km Arah angin Asumsi Model Model

usus plume centerline Kenaikan Perlahan Ketinggian Akhir x x f – Jarak ke Ketinggian Akhir  h H hshs momentum buoyancy Plume Rise (Δh)

Volumetric Flow Rate (V f, m 3 / sec) V f = V s  d 2 /4 V s : Kecepatan emisi d : diameter (dalam) cerobong Buoyancy Flux (F, m 4 / sec 3 ) g : konstanta gravitasi T s : suhu emisi T a : suhu udara ambien F = (g/  V f (T s -T a ) / T s Brigg’s Buoyant Plume Rise

Jarak saat turbulensi > Entrainment (x*, m) If F 55: x* = 34 F 2/5 Jarak ke ketinggian akhir (x f, m) x f = 3.5 x* Plume Rise (  h, m) u s : kecepatan angin rataan di ujung cerobong x : jarak dari cerobong searah sumbu x If x > x f, x = x f "Final Rise" P  h = (1.6 F 1/3 x 2/3 ) / (u s ) Brigg’s Buoyant Plume Rise: Untuk Kondisi Tidak Stabil atau Netral (Kelas Stabilitas A-D)

s = g (d  / dz ) / (T a ) d  / dz = untuk E d  / dz = untuk F Stability parameter ( s, 1 / s 2 ) g : konstanta gravitasi (9.8 ms -2 ) d  : perubahan suhu dz : perubahan ketinggian T a : suhu ambien Distance to Final Rise (  h, m) x f = (  u s ) / (s 1/2 ) Plume Rise (  h, m) If x > x f,  h = 2.6 F 1/3 / (u s s) "Final Rise"  h = (1.6 F 1/3 x 2/3 ) / (u s ) Brigg’s Buoyant Plume Rise: Untuk Kondisi Stabil (Kelas Stabilitas E & F)

Tidak Stabil/Netral ( A - D ) u s : kecepatan angin rataan d : diameter cerobong v : kecepatan emisi  h m = 1.5 [(v 2 d 2 T a ) / (4 T s u s )] 1/3 s -1/6 Stabil ( E - F )  h m = 3 d v / u s Yang lebih kecil dari: Brigg’s Momentum Plume Rise:

Karakteristik Sumber: Q = 100 g/s V s = 11.7 m/s T s = 432 O K d s = 2.4 m h s = 35 m  = ?  g/m x = 1300 m, y = 0 m 1300 m Data Meteorologi: u = 5.0 m/s T a = 30 O C Stabilitas = "3" ("C") L = 5000m z o = 10m (Pengukuran kecepatan angin) Konsentrasi? Contoh

Kecepatan Angin di Ketinggian Cerobong: u s = u m ( h / z o ) p [p = 0,10 untuk "C"] u s = 5,0 ( 35/10 ) 0.10 u s = 5,67 m/s Penyesuaian Kecepatan Angin Di Ketinggian Cerobong

Volumetric Flow Rate Perhitungan Plume Rise V f = V s  d 2 /4 V f = 11.7  (2.4) 2 / 4 V f = 52.9 m 3 /s Perhitungan Buoyancy Flux F = (g/  V f (T s -T a ) / T s F = (9.8/  52.9 ( ) / 432 F = 49,28 m 4 /s 3

Jarak Ke Ketinggian Akhir x* = 14 F 5/8 (F < 55) x* = 14 (49,28) 5/8 x* = 159,97 m x f = 3,5 x* x f = 3,5 (159,97) x f = 559,91 m Perhitungan Plume Rise (2)

 h = (1,6 F 1/3 x 2/3 ) / (u s )  h = [(1,6)(49,28) 1/3 (559,91) 2/3 ] / (5,67)  h = 70,3 m Perhitungan Plume Rise (3)  h m = 3 d V s / u s  h m = 3 (2,4) (11,7) / 5,67  h m = 14,9 m Hitung Buoyant Plume Rise Hitung Momentum Plume Rise

H = h s +  h H = ,3 H = 105,3 m Tinggi Akhir Plume

Untuk stabilitas "C": Koef Dispersi Horizontal:  ey = [  y 2 + (  h / 3,5) 2 ] 1/2  ey = [ (130.9) 2 + (70,3/ 3,5) 2 ] 1/2  ey = 132,4 m Koef Dispersi Vertical:  ez = [  z 2 + (  h / 3,5) 2 ] 1/2  ez = [ (77,7) 2 + (70,3 / 3,5) 2 ] 1/2  ez = 80,3 m Perhitungan  y &  z

y = 0 z = 0 u s = 5,67 m/s  y = 132,4 m  z = 80,6 m H = 105,3 m Q = 100 g/s Data Input Perhitungan Dispersi Berdasarkan Persamaan Gauss

e 0 = 1 0,85160,  = 0, x 1 x 0,8516  = 0, g/m 3 or  = 224,0  g/m 3

Penerapan Dengan MS Excel: Model Sumber Garis (Line Source)

Penerapan Dengan ScreenView

ScreenView (2)

ScreenView (3)

Grafik Hasil

Tabel Hasil

Terima Kasih