Modul / Tatap Muka 14 KOLONIALISME IDEOLOGI EKONOMI,TEORI EKONOMI DAN

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
1 PENDIDIKAN KARAKTER MOH. SALEH, SH., MH. UNIVERSITAS NAROTAMA SURABAYA 2011 KARAKTER DAN KEMAJUAN BANGSA.
Advertisements

MENGENAL KARAKTER BANGSA DI BEBERAPA NEGARA
Home End Modern House Sumatra Sumbawa House Bolon – Sumatra Utara Rumoh - Aceh Gedang - Bengkulu Nuwou Balak - Lampung Gadang – Sumatra BaratKajang -
STATISTIK PERTAMBANGAN NON MIGAS
EVALUASI PENCAPAIAN INDIKATOR KKP SD DESEMBER TAHUN 2014
Sumatera Selatan Lampung Banten Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan.
ANGKET PEMBACA HARIAN Field Data dan Sampel Angket dimuat pada hari Jumat, 1 Mei 2009 Penantian pengembalian Angket dari tanggal 1-15 Mei 2009 Jumlah.
ANGKET PEMBACA TABLOID Field Data dan Sampel Angket dimuat pada hari Jumat, 1 Mei 2009 Penantian pengembalian Angket dari tanggal 1-15 Mei 2009.
Kegiatan Statistik Kehutanan
THE ISLANDS IN INDONESIAN. IN 1972, INDONESIAN INSTITUTE OF SCIENCES (LIPI) PUBLISH AS MANY AS 6,127 NAMES OF ISLANDS IN INDONESIA. [CITATION NEEDED]
PROFIL IAP -Ikatan Ahli Perencanaan- Jawa Timur
Peta Peningkatan Pemenuhan Energi Listrik Tiap Provinsi Hasil Model
EKSPOSE HASIL SURVEI NASIONAL
Provinsi D.I. Yogyakarta
Asisten Pemerintahan dan Kesra
Feedback Sistem Informasi SDM Kesehatan
Rakornas MAjlis Dikti-Litbang PP Muhammadiyah
WILAYAH SASARAN PROGRAM PKB PPPPTK MATEMATIKA 2017
Sumber : Juknis Pengembangan KSM Hal.12
Aplikasi Pemetaan Mutu
Efektivitas Penelitian Dosen Terhadap Pemberantasan Narkoba
Kebijakan Registrasi Tenaga Kesehatan Indonesia
Modul / Tatap Muka 12 EKONOMI RAKYAT PEMBANGUNAN EKONOMI DAERAH
Peranan Usaha Mikro, Usaha Kecil Dan Menengah (UMKM)
Strategi Penanggulangan Kemiskinan di Daerah Istimewa Yogyakarta
DIREKTORAT FASILITASI PENGEMBANGAN KAPASITAS APARATUR DESA”
dengan pendapatan disposible (Yd).
Hasil Permodelan Tahap I
Modul / Tatap Muka 11 LEMBAGA KEUANGAN MIKRO Pendahuluan
Pengembangan Kurikulum 2013 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Kabupaten/Kota yang telah Menginisiasi KLA sampai Tahun 2014
DATA KELULUSAN SERTIFIKASI GURU TAHUN 2007 S.D 2010
MODUL 5 Teori Produksi Dan Biaya TEORI PRODUKSI
DATA KEBUTUHAN GURU (NASIONAL) TAHUN
Sumber Jurnal: Agung Eddy Suryo Saputro PPT oleh: Siska Anggraeni
Peranan Sektor Bisnis Dalam Perkembangan Ekonomi
Disampaikan pada Rakornas BAN-S/M Jakarta , Maret 2014
Modul / Tatap Muka 13 EKONOMI INDONESIA MENUJU 2013
Lesson Learned 2015.
dengan pendapatan disposible (Yd).
STRATEGI IMPLEMENTASI KURIKULUM PAI 2013
DATA KEBUTUHAN GURU SD NEGERI (NASIONAL) TAHUN
KEBIJAKAN PELAKSANAAN BIMBINGAN DAN KONSELING
DEFINISI BAKU GT adalah guru tersedia yaitu jumlah guru yang ada dikurangi jumlah guru pensiun/mutasi/meninggal JM adalah jumlah murid/siswa yang ada (untuk.
HASIL PENELITIAN (8) Gambar 7 Peta Potensi Energi Angin Perairan Pantai Nusa Tenggara Barat (Tahun )
5 KONSEP WILAYAH dan PERTUMBUHAN MATERI
Trend menonton tv yang terus naik
DATA KEBUTUHAN GURU SMK NEGERI (NASIONAL) TAHUN
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA
KEBIJAKAN BAN-S/M TAHUN 2014
SOSIALISASI SERTIFIKASI GURU & PENGAWAS DALAM JABATAN
Sumatera Selatan Lampung Banten Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Bali
Negara Kesatuan Republik Indonesia
Oleh: Risyana Hermawan
PERENCANAAN TATA RUANG NASIONAL, PROVINSI, DAN KABUPATEN/KOTA
Disusun oleh :       Kasmiati (H )
EVALUASI PENANGGULANGAN GANGGUAN REPRODUKSI WILAYAH BVET MEDAN
EVALUASI PENANGGULANGAN GANGGUAN REPRODUKSI 2017
Kebijakan dan strategi pengelolaan tutupan lahan
BADAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL
PENJELASAN PELAKSANAAN RAPAT KOORDINASI DAN MEKANISME DESK
RENCANA DAN REALISASI KEGIATAN PISEW
Direktur Perlindungan Hortikultura Direktorat Jenderal Hortikultura
Progres dan Rencana Kerja Tindak Lanjut PFI
SIKLUS PERENCANAAN PEMAJUAN KEBUDAYAAN
Traditional Houses of Indonesia
EVALUASI PENYERAPAN ANGGARAN PERCEPATAN PENDAFTARAN VARIETAS LOKAL
Pertemuan 10 Pembangunan Ekonomi Daerah
Disusun Oleh: Fitra Firmansyah Mutia Agnes Hambali Rozi Syaputra Wahyu Pradana Ginting UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2018/2019 PERKEMBANGAN WILAYAH.
RAPAT KOORDINASI Penyesuaian Target Kemiskinan Kab/kota
Transcript presentasi:

Modul / Tatap Muka 14 KOLONIALISME IDEOLOGI EKONOMI,TEORI EKONOMI DAN Materi Pembahasan IDEOLOGI EKONOMI,TEORI EKONOMI DAN KOLONIALISME OTONOMI DAERAH A. Otonomi Daerah & Peluang Serta Tantangan Bisnis di Daerah. 1. Pembangunan yang tidak merata. Pembangunan ekonomi nasional selama pemerintahan Orba yang lebih terfokus pada pertumbuhan ternyata tidak membuat banyak daerah di tanah air berkembang dengan baik. Proses pembangunan dan peningkatan kemakmuran sebagai hasil pembangunan selama itu lebih terkonsentrasi di pusat (Jawa). Pada tingkat nasional memang laju pertumbuhan ekonomi rata-rata per tahun cukup tinggi dan tingkat pendapatan perkapita naik terus setiap tahun (hingga krisis terjadi). Namun, dilihat pada tingkat regional, kesenjangan pembangunan ekonomi antar propinsi makin membesar. Demikian juga dengan kesenjangan dalam distribusi pendapatan semakin besar, bukannya semakin membaik sesuai hipotesis Kuznets mengenai adanya suatu korelasi negatif dalam periode jangka panjang antara tingkat pertumbuhan dan kesenjangan di dalam distribusi pendapatan. Masalah ketimpangan ekonomi regional di Indonesia disebabkan antara lain, karena selama pemerintah Orba, berdasarkan UU No. 5 Tahun 1974, pemerintah pusat menguasai dan mengontrol hampir semua sumber pendapatan daerah yang ditetapkan sebagai penerimaan negara, termasuk pendapatan dari hasil sumber daya alam di sektor pertambangan, perkebunan, kehutanan dan perikanan/kelautan. Akibatnya, selama itu daerah-daerah yang kaya sumber daya alam tidak dapat menikmati ‘12 Perekonomian Indonesia Drs. Hasanuddin Pasiama, MS. 1 Pusat Bahan Ajar dan Elearning Universitas Mercu Buana http://www.mercubuana.ac.id

betapa kecilnya peran keuangan daerah, baik dari sisi penerimaan maupun dari sisi pengeluaran. ‘12 Perekonomian Indonesia Drs. Hasanuddin Pasiama, MS. Pusat Bahan Ajar dan Elearning Universitas Mercu Buana http://www.mercubuana.ac.id 3

Tabel 2. Ketimpangan Fiskal Vertikal di Indonesia Tahun 1990/1991 (% dari Penerimaan Sendiri) Sumber : Tabel 3, Indef (1998) Tabel 3. Struktur Fiskal Pusat – Daerah Tahun 1995 (dalam persen) Sumber : Tabel 4, Basri (2000) Pangsa Penerimaan Pengeluaran Surplus / Defisit Nasional Daerah Dati I Dati II Seluruh Tingkatan 96,1 3,9 2,8 1,1 100,0 83,1 16,9 9,3 7,6 13,0 -13,0 -6,5 Propinsi Penerimaan Daerah Bersama Kontribusi Pusat DI Aceh 18,06 11,61 68,31 Sumatera Utara 25,57 5,43 64,44 Sumatera Barat 39,22 6,70 45,03 Riau 33,47 26,17 25,04 Jambi 25,68 10,57 54,49 Sumatera Selatan 31,93 19,68 37,92 Bengkulu 20,79 6,25 67,13 Lampung 36,06 4,78 51,84 DKI Jakarta 61,57 10,82 13,27 Jawa Barat 29,57 2,93 59,32 Jawa Tengah 21,18 1,78 73,56 DI Yogyakarta 21,05 2,03 71,97 Jawa Timur 29,68 2,22 61,32 Kalimantan Barat 20,73 13,67 55,38 Kalimantan Tengah 5,92 23,32 0,65 Kalimantan Selatan 23,40 19,04 52,34 Kalimantan Timur 23,98 30,46 28,19 Sulawesi Selatan 39,61 12,36 42,45 Sulawesi Utara 22,54 10,36 65,54 Sulawesi Tengah 9,29 4,81 85,28 Sulawesi Tenggara 11,35 10,68 70,72 Bali 50,33 5,24 30,43 Nusa Tenggara Barat 20,44 5,01 68,37 Nusa Tenggara Timur 18,9 4,72 69,10 Maluku 12,34 15,55 66,65 Irian Jaya 6,67 40,63 44,45 ‘12 Perekonomian Indonesia Drs. Hasanuddin Pasiama, MS. Pusat Bahan Ajar dan Elearning Universitas Mercu Buana http://www.mercubuana.ac.id 5