Pertemuan 9: AKAR SUATU FUNGSI

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
PERSAMAAN NON LINEAR.
Advertisements

AKAR – AKAR PERSAMAAN Penyelesaian suatu fungsi ¦(x) = ax2 + bx + c = 0 pada masa “Pra Komputer” dapat dilakukan dengan cara : Metode Langsung (analitis);
METODE DERET PANGKAT.
PERSAMAAN & FUNGSI KUADRAT.
5. SOLUSI PERSAMAAN NON-LINIER.
SELAMAT BELAJAR SEMOGA BERHASIL DAN SUKSES 4/28/2017.
INTERPOLASI.
BAB II : PENYELESAIAN AKAR-AKAR PERSAMAAN
Penyelidikan Operasi Penyelesaian Numerik
Persamaan Non Linier (lanjutan 02)
Pembelajaran 1 F U N G S I Analisis Real 2.
Suku Banyak Dan Teorema Sisa Oleh Sujinal Arifin.
Kami mohon Donasi dari saudara-saudara sekalian agar blog ini tetap MGMP MATEMATIKA SD SMP SMA SKKK JAYAPURA Kami mohon Donasi dari saudara-saudara.
C. Pembagian Suku Banyak 2. Cara Pembagian dengan Horner
PERSAMAAN non linier 3.
Dr. H. Heris Hendriana, M.Pd. Wahyu Hidayat, S.Pd., M.Pd.
Optimasi Dengan Metode Newton Rhapson
Metode NEWTON-RAPHSON CREATED BY : NURAFIFAH
Pertemuan VIII: NILAI PRIBADI DAN VEKTOR PRIBADI
VII. PENYELESAIAN PERSAMAAN Ax = b Dengan A adalah MBS (IV)
Solusi Sistem Persamaan Nonlinear
SISTEM PERSAMAAN LINIER SIMULTAN
Akar-Akar Persamaan.
Metode Numerik untuk Pencarian Akar
Suku Banyak Matematika SMA Kelas XI Semester 2 Oleh : Mazhend
Pembelajaran M a t e m a t i k a .... MATEMATIKA SMU
Pertemuan ke – 4 Non-Linier Equation.
AKAR PERSAMAAN Metode Pengurung.
Metode Terbuka.
PERSAMAAN LINEAR.
Solusi Persamaan Nonlinear
Akar-akar Persamaan Non Linier
SUKUBANYAK SEMESTER 2 KELAS XI IPA Tujuan: 1
Metode Terbuka Metode Iterasi Titik Tetap, Newton-Rapson, Secant, Kasus Khusus.
MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS IT
BAB 3 PERSAMAAN KUADRAT.
PERTEMUAN 6 MATEMATIKA DASAR
Polinomial Tujuan pembelajaran :
SOLUSI PERSAMAAN NON LINEAR
AKAR PERSAMAAN NON LINEAR
Metode Newton-Raphson
Metode Numerik untuk Pencarian Akar
PERSAMAAN DAN PERTIDAKSAMAAN KUADRAT
Teknik Komputasi Persamaan Non Linier Taufal hidayat MT.
Sistem Persamaan non Linier
Fungsi Persamaan, dan Pertidaksamaan Kuadrat
4.Menggunakan aturan suku banyak dalam penyelesai an masalah
Materi I Choirudin, M.Pd PERSAMAAN NON LINIER.
Ring Polinomial.
Suku Banyak dan Teorema Faktor Kelas XI IPA/IPS Semester 2.
P O L I N O M I A L (SUKU BANYAK) Choirudin, M.Pd.
Pencocokan Kurva / Curve Fitting
PERSAMAAN KUADRAT DAN FUNGSI KUADRAT
Metode Newton-Raphson
1 Turunan fungsi f ‘ (x) didefinisikan sebagai : Rumus-rumus Turunan : untuk a = konstanta f(x) = ax^n maka f'(x) = an.x^{n-1} f(x) = a maka f'(x) = 0.
MATA KULIAH METODE NUMERIK NOVRI FATMOHERI
RIDHA AMALIAH YUSRIANA THAMRIN RAHMI IBRAHIM ADAUS.
PERSAMAAN NON –LINIER Pengantar dan permasalahan persamaan Non-Linier
Damar Prasetyo Metode Numerik I
FUNGSI & GRAFIKNYA 2.1 Fungsi
BAB 5 Sukubanyak.
Bab 2 AKAR – AKAR PERSAMAAN
METODE NUMERIK (3 SKS) STMIK CILEGON.
DERET FOURIER:.
Persamaan non Linier Indriati., ST., MKom.
Persamaan Non Linier Metode Tabel Metode Biseksi Metode Regula Falsi
Persamaan Lingkaran dan Garis Singgung
POLYNOMIAL (suku banyak)
Materi 5 Metode Secant.
8/5/ MATEMATIKA KELAS VIII BAB I FAKTORISASI SUKU ALJABAR.
Transcript presentasi:

Pertemuan 9: AKAR SUATU FUNGSI TEKNIK KOMPUTASI Pertemuan 9: AKAR SUATU FUNGSI

2.1. Komputasi Iteratif (1) Apabila diberikan suatu fungsi ƒ dari suatu variabel bebas x adalah ƒ(x). Harga x* adalah nilai yang membuat ƒ(x) = 0 , maka harga x* itu disebut nilai nol atau akar dari fungsi ƒ(x). Suatu strategi komputasi iteratif dapat dilakukan untuk menetapkan akar fungsi ƒ(x). Bertolak dari taksiran awal atas nilai x* yang diinginkan, dengan menggunakan sebuah metode , dibuat suatu deretan taksiran x1, x2, x3, ………, xN, xN+1. Deretan taksiran tersebut diharapkan konvergen kepada nilai x* yang dicari. Apabila didefinisikan εk = abs(xk-x*) adalah galat taksiran yang ke-k, maka terbentuklah deretan galat ε0, ε 1, ε 2, ε 3, …….. …. ε N, ε N+1 yang konvergen pada nilai nol.

2.1. Komputasi Iteratif (2) Persoalan konkrit yang dihadapi dalam strategi komputasi iteratif adalah sebagai berikut : Bagaimana taksiran awal dipilih Bagaimana taksiran baru xk+1 ditetapkan dari deretan taksiran sebelumnya Apakah deretan taksiran konvergen kepada nilai yang diinginkan Bagaimana laju konvergensinya. Pada dasarnya taksiran awal hanya satu buah saja yaitu x0 (pada metode Newton), atau dua buah saja yaitu x0 dan x1 (pada metode Sekan), atau tiga buah saja yaitu x0, x1, x2 (pada metode Muller)

2.1. Komputasi Iteratif (3) Taksiran awal dapat ditentukan secara bebas , kecuali ada informasi lain yang dapat diandalkan agar proses iterasi tidak terlalu lama. Taksiran baru xk+1 ditetapkan dari satu, dua, atau tiga taksiran terakhir menurut rumusan dari metode yang dipilih. Pada dasarnya metode yang digunakan dalam proses iterasi harus konvergen pada nilai x*. Laju konvergensi dapat diamati pada deretan galat taksiran, dapat didefinisikan sebagai berikut. Laju konvergensi : k+1 = C( k) m , m>0. Laju konvergensi disebut linear jika m=1, kuadratis jika m=2, dan kubis jika m=3, dan seterusnya . Makin tinggi harga m, makin tinggi laju konvergensinya , yang berarti makin laju menuju kepada nilai yang dicari.

2.2. Metode Newton Metode Newton hanya memerlukan satu buah taksiran awal x0. Algoritma yang digunakan adalah : Metode ini dijamin konvergen jika taksiran awal x0 dipilih cukup dekat dengan x*. Jika taksiran awal merupakan nilai real, maka nilai akan konvergen pada nilai real juga, kecuali jika nilai nol real memang tak ada, juga sebaliknya. Metode ini mensyaratkan tersedianya ƒ’ (x) (=diferensial pertama ). Laju konvergensi metode Newton adalah kuadratis.

2.3. Metode Sekan Metode ini memerlukan dua taksiran awal x0 dan x1. Rumus yang dipakai adalah : Metode ini tidak mesyaratkan penetapan ƒ’(x). Laju konvergensi m=1.62, lebih lambatt daripada newton, tetapi tidak selambat laju konvergensi linear. Karena itu laju konvergensi 1 < m > 2 disebut superlinear.

2.4. Metode Muller (1) Metode Muller memerlukan 3 buah taksiran awal. Misalkan 3 buah taksiran awal itu adalah p, q, dan r, maka taksiran baru s. Seperti diketahui, lewat 3 titik (pƒ(p)), (q, ƒ(q)), (r, ƒ(r)) dapat dibuat kurve atau fungsi kuadratis : h(x)=a(x-r)2+b(x-r)+c yang memotong sumbu x di x=s yang merupakan taksiran terbaru atas nilai nol fungsi ƒ(x).

2.4. Metode Muller (2) Mengingat : ƒ(p)=a(p-r)2+b(p-r)+c ƒ(q)=a(q-r)2+b(q-r)+c ƒ(r)=a(r-r)2+b(r-r)+c=c membentuk 3 persamaan linear dalam a,b, dan c, maka tidak sulit untuk menetapkan , bahwa : c=ƒ(r)

2.4. Metode Muller (3) Atas dasar kenyataan itu, maka : Agar taksiran baru s dekat dengan taksiran terakhir r, maka biasanya dipilih : Metode Muller diketahui memiliki laju konvergensi m= 1.84, jadi lebih baik dari metode sekan.

2.5. Metode Olver Metode Olver memilki laju konvergensi kubis : Perhatikanlah bahwa laju konvergensi tinggi dalam metode Olver dibayangi oleh tuntutan tersedianya turunan kedua ƒ’’(x).

2.6. Metode Newton-ganda Metode ini juga diketahui memiliki laju konvergensi kubis :

2.7. Metode Traub Metode Traub juga memiliki konvergensi kubis :

2.8. Metode Cauchy (1) Misalkan x adalah salah satu nilai nol dari ƒ(x), jadi ƒ(x)=0. Nyatakanlah xk sebagi taksiran ke-k atas nilai nol tersebut. Dengan menggunakan expansi deret Taylor ƒ(x) di titik xk, dan dengan mengambil tiga suku pertama, diperoleh : yang merupakan bentuk kuadratis dalam (x-xk). Jika bentuk kuadratis ini dibuat sama dengan nol, diperoleh akar persamaan kuadrat yang menjadi basis bagi penetapan xk+1.

2.8. Metode Cauchy (2) Manipulasi aljabar memberi : dengan ± dipilih yang sesuai dengan tanda dari ƒ’(xk).

  2.9. Polinominal (1) Poliniminal p(x) disebut memiliki pangkat n dengan koefisien a0,a1,a2,,….,an jika dapat dirumuskan sebagai berikut : P(x)=a0xn+a1xn-1+a2xn-2+…+an-1x+an Bentuknya yang istimewa membuat turunan pertamanya dapat langsung ditetapkan, yaitu : P’ (x)=a0nxn-1+a1(n-1)xn-2+a2(n-2)xn-3+…+an-2(2)x+an-1

2.9. Polinominal (2) Polinomial p(n) dapat ditulis sebagai berikut : P(x)=(…((a0xn+a1)x+a2)x+…+an-1)x+an Sehingga untuk x=s, nilai polinomial adalah p(s) yang dapat ditetapkan dengan bantuan program MATLAB di bawah ini: b0 = a0 for k = 1:n bk= sbk-1+ak; end; maka bn = p(s).

2.9. Polinominal (3) Untuk sekaligus menghitung nilai turunan pertama p’(x) pada x=s dapat digunakan statemen MATLAB sebagai berikut: b0 = a0; c0 = b0 for k = 1:n-1 bk= sbk+1+ak; ck=sck-1+bk; end; bn=sbn-1+an; Dengan bn = p(s) and cn-1=p’(s)

2.9. Polinominal (4) Untuk sembarang nilai s ada polinomial lain q(x) sedemikian sehingga : P(x)=(x-s)q(x)+p(s) Dalam hal ini q(x) di sebut polinomial tereduksi, tentunya dengan pangkat n-1. Jika p(s)=0, maka x=s adalah nilai nol akar dari polinomial p(x). Dikatakan juga bahwa p(s) habis dibagi oleh (x-s). Akar s dari polinomial p(x)= 0 disebut memiliki kerangkapan r hanya jika p(s)= p’(s)= p’’(s)= …= p(r-1)(s)= 0 dan p(r) ≠ 0.

2.9. Polinominal (5) Jika diketahui z dan z+ adalah akar kompleks berpasangan, maka polinomial itu dapat dibagi oleh : (x-z) (x-z+) = x2- x+ β2 dengan  = 2 Re (z) dan β = │z│ Atas dasar itu : dengan : c0 = a0; c1 = a0+  c0; ck = ak+  ck-1- β ck -2 untuk ≤ 2k ≥ n-2.

2.9. Polinominal (6) Jika p(x) merupakan polinomial pangkat n dengan akar-akar s1, s2, s3, …, sk, masing- masing dengan kerangkapan , β, δ, v, maka polinomial dapat difaktorisasikan menjadi : P(x)= (x-s1)(x-s2)β(x-s3)δ … (x-sk)v

2.9. Polinominal (7) Metode Laguerre Metode Laguerre dikembangkan khusus untuk polinomial p(x) pangkat n. Rumus yang dipakai : dengan H(x) = (n-1) [(n-1)(p’(x))2-np(x)p’(x)] Tanda dari nilai akar yang diambil harus sesuai dengan tanda dari p’(x).

Contoh Program Penyelesaian f(x)= 0 (1) Prosedur fungsi(x) menghitung nilai fungsi dan turunan fungsi. Dalam contoh ini fungsi yang dicari nilai akarnya adalah : f(x)= 16x4- 40x3+ 5x2+20x+6. Function [y, yy]= fungsi(x) Y = 16*x^4-40*x^3+5*x^2+20*x+6; yy = 64*x^3- 120*x^2 + 10*x +20;

Contoh Program Penyelesaian f(x)= 0 (2) Program atau prosedur di bawah ini menggunakan metode Newton :  % menyelesaikan f(x)= 0 dengan metode newton. % p= nilai dari taksiran awal, dianggap sudah tersedia dimemori [f,ff]= fungsi(p) while abs(f) > 0.000001 p= p-f/ff; [f,ff]= fungsi (p) end;

Contoh Program Penyelesaian f(x)= 0 (3) Program atau procedur di bawah ini menggunakan metode Sekan : %menyelesaikan f(x)= 0 dengan metode sekan. % p= nilai dari taksiran awal, dianggap sudah tersedia memori [f,df]= fungsi (p); [ff, df]= fungsi (q) while abs(ff) > 0.000001 r= q-(q-p) /(ff-f)*ff p=q; q=r; [f, df]= fungsi(p); [ff,df]= funsi(q) end;

Contoh Program Penyelesaian f(x)= 0 (4) Program atau prosedur di bawah ini menggunakan metode Muller : % menyelesaikan f(x)= 0 dengan metode muller % p, q, r adalah tiga taksiran awalnya, dianggap sudah ada dalam memori  [f, df] = fungsi (p); [ff, df] = fungsi (q); [fff,df] = fungsi (r); while abs(ff) > 0.000001 c = fff;pmr = p-r;

Contoh Program Penyelesaian f(x)= 0 (5) qmr = q-r; pmq= p-q; ddd= pmr*qmr*pmq; d= pmr*pmr*(ff-fff); dd= qmr*qmr*(f-fff); b=( d-dd)/ddd d= qmr*(f-fff); dd= pmr* (f-fff); a= (d-dd)/ddd sb= sign(b); dis= sqrt(b*b-4*a*c); del= -2*c/(b+ sb*dis); s= r+ del; p= q; q=r; r= s; f= ff; ff=fff;[fff, df]= fungsi(s); end

Contoh Program Penyelesaian f(x)= 0 (6) Nilai akar yang diperoleh adalah : 1.24168, 1.97044, dan -0.35602 ±j 0.16278.