OM SWASTIASTU.

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
STATUS GIZI LANJUT USIA
Advertisements

Paskalis Lukimon (Ners)
Kacang Hijau: Si Hijau yang Menyehatkan
KESEHATAN TENTANG DIARE.
KEPERAWATAN SISTEM PERKEMIHAN GLOMERULUSNEFROTIK KRONIK
Gagal Ginjal Oleh Nugroho.
REVIEW MATERI DASAR GIZI
Sistem Kardiovaskular dan Gizi
OLEH: Ns. Titik Anggraeni, S.Kp.,M.Kes.
PENGKAJIAN FISIK PADA ANAK DIARE
Askep Lansia dengan Gangguan sistem pencernaan
Derajat 1 inequality drought war Derajat 2 kemiskinan dan gangguan sosial Derajat 3 kurang makan infeksi neglet Derajat 4 anoreksia Derajat 5 malnutrisi.
TYPOID PADA ANAK.
GIZI PADA REMAJA oleh : Ketut Martadiputra
SIFAT SIFAT DAGING.
STATUS GIZI LANJUT USIA
Gizi untuk lansia Oleh: Yeti Herliza.
MALNUTRISI Abdullah Luthfi (D ) Agistha Ghina R (D ) Dini Rizki (D )
ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN GANGGUAN GASTROINTESTINAL
PATOFISIOLOGI DAN TERMINOLOGI MEDIK
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN GASTRITIS PADA LANSIA
Kebutuhan Gizi Ibu Hamil
Santi susanti nim :
DIABETES MELLITUS.
ILMU GIZI GIZI PADA IBU HAMIL DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN
KEKURANGAN ENERGI PROTEIN
PERSENTASE CAIRAN (LIQUID)
GIZI WANITA HAMIL SEMESTER VI -12.
Gizi pada ibu hamil & komplikasinya
MINERAL (LANJUTAN) Seng (Zn) sebagaian besar terdapat dalam tulang, namun semua jaringan tubuh yang lain juga mengandung seng. Kulit, rambut dan bulu ternak.
Gizi Pada Ibu Hamil dan Komplikasinya
GIZI PADA IBU HAMIL DAN KOMPLIKASINYA
PENATALAKSANAAN GIZI PADA PASIEN ANAK DENGAN GASTRO ENTERITIS di RUMAH SAKIT PERSAHABATAN ONLY IVONILA RIWU ( ) 
PROTEIN Oleh : Kelompok 3 Chreistin Maylinda Tumbol Muhammad Fahmi
MARASMUS MATERI KULIAH.
VITAMIN YANG LARUT DALAM AIR DAN DALAM LEMAK
POLA HIDUP SEHAT DENGAN MEMPERHATIKAN VITAMIN YANG ADA DALAM TUBUH
GIZI PADA LANSIA Oleh : SILVIA MELINI
GIZI PADA KEHAMILAN UTARY DWI L, SST, M.Kes.
PATOFISIOLOGI DAN TERMINOLOGI MEDIK DEFICIENCY & MALNUTRITION
Gizi untuk lansia Oleh: Dzakirah.
TYPOID PADA ANAK.
SEMESTER IV - 13.
GIZI PADA LANSIA Intan Julianingsih I A.
MASALAH DAN PROGRAM KEP
KEBUTUHAN NUTRISI UNTUK PRA SEKOLAH
MANFAAT ZAT-ZAT GIZI BAGI WANITA SEPANJANG DAUR KEHIDUPAN
GIZI UNTUK LANSIA TRIWIDIARTI
Oleh: Weni Pratiwi Azhar Billah Aziz Agung Kurniaji
Atika Yasmine Wulandari Herlinda Puspitasari
SEROSIS HEPATIS Ariana. D
Manfaat Zat-Zat Bagi Wanita Sepanjang Daur Kehidupannya (Protein)
MACAM-MACAM ZAT MAKANAN
By Nyimas Heny Purwati, M.Kep.Sp.Kep.An.Ns
POLA HIDUP SEHAT DENGAN MEMPERHATIKAN VITAMIN YANG ADA DALAM TUBUH
Oleh : Tini Fajarwati (12.116)
GIZI BURUK.
PROSES PENUAAN Saptawati Bardosono 9/17/2018.
CONCEPT MAPPING ABOUT DIARE DI SUSUN OLEH : AWINDA SARI AHMAD REDHO HILDA NUR AFNI RAMADHAN SUPRIADIN Y. KALVEIN M.M.
MALNUTRISI.
Ns. Yanti Rostianti, S.Kep, M.SI
KEBUTUHAN NUTRISI UNTUK PRA SEKOLAH OLEH : RITA ASRIYANTI, SST.
Asam urat adalah penyakit yang berasal dari sisa metabolisme zat purin dari sisa makanan yang kita konsumsi secara berlebihan.
ASUHAN KEBIDANAN LANJUTAN II
Ns. Yanti Rostianti, S.Kep, M.SI
GIZI BURUK PADA BALITA Ruang Flamboyan 3 Rumah Sakit Umum Daerah Dr Drajat Prawiranegara Kabupaten Serang 2017.
DEFINISI  Syok merupakan kegagalan sirkulasi tepi menyeluruh yang mengakibatkan hipotensi jaringan.  Kematian karena syok terjadi bila kejadian ini.
TATALAKSANA DIET PADA PASIEN PERIOPERATIF
Transcript presentasi:

OM SWASTIASTU

TINJAUAN TEORI DAN TINJAUAN TEORI ASKEP KKP KELOMPOK 7   I KETUT MARTADIPUTRA

  BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Manusia membutuhkan makan untuk bertahan hidup. Selain untuk bertahan hidup, makanan juga berfungsi memenuhi kebutuhan-kebutuhan tubuh akan zat-zat seperti karbohidrat, protein, lemak, mineral, vitamin, dan zat-zat lain. Namun, di zaman yang sudah modern ini justru banyak orang yang tidak dapat memenuhi zat-zat tersebut. Pada kali ini akan membahas secara khusus mengenai kekurangan kalori protein. Protein yang berasal dari kata protos atau proteos yang berarti pertama atau utama. Protein berfungsi sebagai zat utama dalam pembentukan dan pertumbuhan tubuh. Kita memperoleh protein dari makanan yang berasal dari hewan dan tumbuhan. Jika kita tidak mendapat asupan protein yang cukup dari makanan tersebut, maka kita akan mengalami kondisi malnutrisi energi protein.

B. TUJUAN 1. Tujuan umum Mahasiswa dapat memahami asuhan keperawatan anak pada klien dengan KKP 2. Tujuan khusus Mahasiswa dapat menjelaskan : 1. definisi KKP 2. etiologi KKP 3. manifestasi klinik KKP 4. patofisiologi KKP 5. komplikasi KKP 6. penatalaksanaan KKP pada anak 7. asuhan keperawatan yang harus diberikan pada klien dengan KKP

BAB II TINJAUAN PUSTAKA I. PENGERTIAN Nama internasional KKP yaitu Calori Protien Malnutrition atau CPM adalah suatu penyakit difisiensi gizi dari keadaan ringan sampai berat, disebut juga Protien Energi Malnutrisi ( PEM ). Kekurangan kalori protein adalah defisiensi gizi terjadi pada anak yang kurang mendapat masukan makanan yang cukup bergizi, atau asupan kalori dan protein kurang dalam waktu yang cukup lama (Ngastiyah, 1997). Kurang kalori protein (KKP) adalah suatu penyakit gangguan gizi yang dikarenakan adanya defisiensi kalori dan protein dengan tekanan yang bervariasi pada defisiensi protein maupun energi (Sediatoema, 1999).

II.       ETIOLOGI KKP Etiologi malnutrisi dapat primer, yaitu apabila kebutuhan individu yang sehat akan protein, kalori atau keduanya, tidak dipenuhi oleh makanan yang adekuat, atau sekunder, akibat adanya penyakit yang menyebabkan asupan suboptimal, gangguan penyerapan dan pemakaian nutrien, dan/atau peningkatan kebutuhan karena terjadinya hilangnya nutrien atau keadaan stres. Kekurangan kalori protein merupakan penyakit energi terpenting di negara yang sedang berkembang dan salah satu penyebab utama morbilitas dan mortalitas pada masa kanak – kanak diseluruh dunia. (Rudolph, 2006). Penyebab langsung dari KKP adalah defisiensi kalori protein dengan berbagai tekanan, sehingga terjadi spektrum gejala-gejala dengan berbagai nuansa dan melahirkan klasifikasi klinik (kwashiorkor, marasmus, marasmus kwashiorkor). Penyebab tak langsung dari KKP sangat banyak sehingga penyakit ini disebut sebagai penyakit dengan multifactoral.

Berikut ini merupakan sistem holistik penyebab multifactoral menuju ke arah terjadinya KKP : 1. Ekonomi negara rendah 2. Pendidikan umum kurang 3. Produksi bahan pangan rendah 4. Hygiene rendah 5. Pekerjaan rendah 6. Pasca panen kurang baik 7. Sistem perdagangan dan distribusi tidak lancar 8. Persediaan pangan kurang 9. Penyakit infeksi dan investasi cacing 10. Konsumsi kurang 11. Absorpsi terganggu 12. Utilisasi terganggu 13. K K P 14. Pengetahuan gizi kurang 15. Anak terlalu banyak

III. MANIFESTASI KLINIK 1. KKP Ringan : a. Pertumbuhan linear terganggu b. Peningkatan berat badan berkurang, terhenti, bahkan turun c. Ukuran lingkar lengan atas menurun d. Maturasi tulang terlambat e. Ratio berat terhadap tinggi normal atau cenderung menurun f. Anemia ringan atau pucat g. Aktifitas berkurang h. Kelainan kulit (kering, kusam) i. Rambut kemerahan

2. KKP Berat : a. Gangguan pertumbuhan b. Mudah sakit c. Kurang cerdas d. Jika berkelanjutan menimbulkan kematian  

  IV.    KOMPLIKASI 1. Defisiensi vitamin A (xerophtalmia) Vitamin A berfungsi pada penglihatan (membantu regenerasi visual purple bila mata terkena cahaya). Jika tidak segera teratasi ini akan berlanjut menjadi keratomalasia (menjadi buta). 2. Defisiensi Vitamin B1 (tiamin) disebut Atiaminosis. Tiamin berfungsi sebagai ko-enzim dalam metabolisme karbohidrat. Defisiensi vitamin B1 menyebabkan penyakit beri-beri dan mengakibatkan kelainan saraf, mental dan jantung. 3. Defisiensi Vitamin B2 (Ariboflavinosis) Vitamin B2/riboflavin berfungsi sebagai ko-enzim pernapasan. Kekurangan vitamin B2 menyebabkan stomatitis angularis (retak-retak pada sudut mulut, glositis, kelainan kulit dan mata.

Con’t 4. Defisiensi vitamin B6 yang berperan dalam fungsi saraf. 5. Defisiensi Vitamin B12 Dianggap sebagai faktor anti anemia dalam faktor ekstrinsik. Kekurangan vitamin B12 dapat menyebabkan anemia pernisiosa. 6. Defisit Asam Folat Menyebabkan timbulnya anemia makrositik, megaloblastik, granulositopenia, trombositopenia. 7. Defisiensi Vitamin C Menyebabkan skorbut (scurvy), mengganggu integrasi dinding kapiler. Vitamin C diperlukan untuk pembentukan jaringan kolagen oleh fibroblas karena merupakan bagian dalam pembentukan zat intersel, pada proses pematangan eritrosit, pembentukan tulang dan dentin. 8. Defisiensi Mineral seperti Kalsium, Fosfor, Magnesium, Besi, Yodium Kekurangan yodium dapat menyebabkan gondok (goiter) yang dapat merugikan tumbuh kembang anak.

V. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan kurang kalori protein (Suriand & Rita Yuliani, 2001) : 1. Diit tinggi kalori, protein, mineral dan vitamin 2. Pemberian terapi cairan dan elektrolit 3. Penannganan diare bila ada : cairan, antidiare, dan antibiotic

VI. KLASIFIKASI KURANG KALORI PROTEIN (KKP) 1. Kwashiorkor a. Pengertian Kwashiorkor disebabkan oleh insufiensi asupan protein yang bernilai biologis adekuat dan sering berkenaan dengan defisiensi asupan energy ( Rudolph, 2006, hal : 1123). Kwashiorkor adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan protein baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Kekurangan protein dalam makanan akan mengakibatkan asam amino esensial dalam serum yang diperlukan untuk sistesis dan metabolisme terutama sebagai pertumbuhan dan perbaikan sel, semakin berkurangnya asam amino dalam serum menyebabkan kurangnya produksi albumin oleh hati (Suriand & Rita yuliani, 2001).

b. Etiologi Penyebab utama dari kwashiorkor adalah makanan yang sangat sedikit mengandung protein (terutama protein hewani), kebiasaan memakan makanan berpati terus-menerus, kebiasaan makan sayuran yang mengandung karbohidrat.

  c. Patofisiologi Kwashiorkor adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan protein baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Kekurangan protein dalam makanan akan mengakibatkan asam amino esensial dalam serum yang diperlukan untuk sistesis dan metabolisme terutama sebagai pertumbuhan dan perbaikan sel, semakin berkurangnya asam amino dalam serum menyebabkan kurangnya produksi albumin oleh hati. Kulit akan tampak bersisik dan kering karena depikmentasi. Anak dapat mengalami gangguan pada mata karena kekurangan vitamin A. kekurangan mineral khususnya Besi, kalsium dan Seng. Edema yang terjadi karena hipoproteinnemia yang mana cairan akan berpindah dari intravaskuler komperteman kerongga interstinal yang kemudian menimbulkan asites. Gangguan gastrointestinal seperti adanya perlemakan pada hati dan atropi pada sel acinipankreas.

d. Manifestasi Klinik 1) Muka sembab 2) Lethargi 3) Edema 4) Jantung otot mengecil 5) Jaringan subkutan tipis dan lembut 6) Warna rambut pirang atau seperti rambut jagung 7) Kulit kering dan bersisik 8) Alopecia 9) Anorexia 10) Gagal dalam tumbuh kembang 11) Tampak anemia

2. Marasmus a. Pengertian Marasmus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan kalori protein. (Suriadi, 2001:196). Marasmus merupakan gambaran KKP dengan defisiensi energi yang ekstrem (Sediaoetama, 1999). Marasmus adalah penyakit yang timbul karena kekurangan energi (kalori) sedangkan kebutuhan protein relatif cukup (Ngastiyah, 1997).

b. Etiologi Penyebab marasmus yang paling utama adalah karena kelaparan. Kelaparan biasanya terjadi pada kegagalan menyusui, kelaparan karena pengobatan, kegagalan memberikan makanan tambahan.

c. Patofisiologi Marasmus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan kalori dan protein. Pada marasmus ditandai dengan atropi jaringan terutama lapisan subkutan dan badan tampak kurus seperti orang tua. Pada marasmus metabolisme kurang terganggu daripada kwasiorkhor sehingga kekurangan vitamin biasanya minimal atau tidak ada. Pada marasmus tidak ditemukan edema akibat dari hipoalbuminemia dan atau retensi sodium. Pemenuhan kebutuhan dalam tubuh masih dapat dipenuhi dengan adanya cadangan protein sebagai sumber energi.( Suriadi, 2001)

d. Manifestasi klinis 1) Selalu ada gangguan perkembangan dan hilangnya lemak di otot dan di bawah kulit. 2) Kadang-kadang ada Mencret/diare atau konstipasi, perubahan pada rambut, seperti pada kwashiorkor, Tanda-tanda dari defisiensi vitamin.dan dehidrasi (Jelliffe,1994). 3) Tanda dan Gejala yang lain yaitu: Anak menjadi cengeng, sering bangun tengah malam, turgor kulit rendah dan kulitnya nampak keriput, pipi terlihat kempot, vena superfisialis tampak lebih jelas, ubun-ubun besar cekung, tulang dagu dan pipi kelihatan menonjol, mata tampak besar dan dalam, sianosi, ekstremitas dingin, perut buncit/cekung dengan gambaran usus jelas, atrofi otot, apatis, bayi kurus kering.

e. Komplikasi Kwashiorkor : marasmus, infeksi tuberculosisi, parasitosis, disentri, malnutrisi kronik, gangguan tumbuh kembang.

3. Kwashiorkor Marasmus a. Pengertian Kwashiorkor Marasmus merupakan kelainan gizi yang menunjukkan gejala klinis campuran antara marasmus dan kwashiorkor. (Markum, 1996) Kwashiorkor Marasmus merupakan malnutrisi pada pasien yang telah mengalami kehilangan berat badan lebih dari 10%, penurunan cadangan lemak dan protein serta kemunduran fungsi fisiologi. (Graham L. Hill, 2000). Kwashiorkor - marasmus merupakan satu kondisi terjadinya defisiensi, baik kalori, maupun protein. Ciri-cirinya adalah dengan penyusutan jaringan yang hebat, hilangnya lemak subkutan dan dehidrasi. (http.www.yahoo.com. Search engine by keywords: malnutrisi pada anak).

b. Etiologi Penyebab dari kwashiorkor - maramus sama pada marasmus dan kwashiorkor.

B. ASKEP TEORITIS 1. Pengkajian a. Pemeriksaan Fisik 1) Kaji tanda-tanda vital. 2) Kaji perubahan status mental anak, apakah anak nampak cengeng atau apatis. 3) Pengamatan timbulnya gangguan gastrointestinal, untuk menentukan kerusakan fungsi hati, pankreas dan usus. 4) Menilai secara berkelanjutan adanya perubahan warna rambut dan keelastisan kulit dan membran mukosa. 5) Pengamatan pada output urine.

Con’t 6) Penilaian keperawatan secara berkelanjutan pada proses perkembangan anak. 7) Kaji perubahan pola eliminasi. Gejala : diare, perubahan frekuensi BAB. Tanda : lemas, konsistensi BAB cair. 8) Kaji secara berkelanjutan asupan makanan tiap hari. Gejala : mual, muntahdan tanda : penurunan berat badan. 9) Pengkajian pergerakan anggota gerak/aktivitas anak dengan mengamati tingkah laku anak melalui rangsangan.

b. Pemeriksaan Penunjang 1) Pemeriksaan Laboratorium a) pemeriksaan darah tepi memperlihatkan anemia ringan sampai sedang, umumnya berupa anemia hipokronik atau normokromik. b) Pada uji faal hati tampak nilai albumin sedikit atau amat rendah, trigliserida normal, dan kolesterol normal atau merendah. c) Kadar elektrolit K rendah, kadar Na, Zn dan Cu bisa normal atau menurun. d) Kadar gula darah umumnya rendah. e) Asam lemak bebas normal atau meninggi.

c. Pemeriksaan Radiologik Pada pemeriksaan radiologik tulang memperlihatkan osteoporosis ringan.

2. Diagnosa keperawatan A. Pada Kwashiorkor 1 2. Diagnosa keperawatan A. Pada Kwashiorkor 1. Gangguan nutrisi s/d intake yang kurang ( protien ) ditandai dengan pasien tidak mau makan, anoreksia, makanan tidak bervariasi, BB menurun, tinggi badan tidak bertambah. Tujuan : Kebutuhan nutrisi pasein terpenuhi dengan kreteria timbul nafsu makan, BB bertambah ½ kg per 3 hari.

2. Intoleransi aktivitas b. d kelemahan fisik 2. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan fisik. Tujuan : Aktivitas pasien dapat maksimal dengan kreteria pasien dapat melakukan aktivitas sehari-harinya tanpa dibantu orang lain. 3. Potensial terjadinya komplikasi b.d rendahnya daya tahan tubuh Tujuan : a. Mencegah komplikasi

B. Pada marasmus. 1. gangguan pemenuhan nutrisi b B. Pada marasmus. 1. gangguan pemenuhan nutrisi b.d intake yang kurang adekuat ditandai dengan pasien tidak mau makan, BB menurun, anoreksia, rambut merah dan kusam, fisik tampak lemah. Tujuan : Kebutuhan nutisi pasien terpenuhi dengan kreteria; BB bertambah ½ kg / 3 hari , rambut tidak kusam, penderita mau makan.

2. gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b 2. gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b.d intake yang kurang adekuat ditandai dengan turgor kulit yang jelek, bibir pecah-pecah. Pasien merasa haus ,nadi cepat 120 / menit. Tujuan : Keseimbangan cairan dan elektrolit terpenuhi dengan kreteria ; turgor kulit normal, bibir lembab, pasien tidak mengeluh haus, nadi normal.

3. Intoleransi aktivitas b. d kelemahan fisik 3. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan fisik. Tujuan : Aktivitas pasien dapat maksimal dengan kriteria pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa dibantu orang lain.

DAFTAR PUSTAKA   Nelson. 2000. Ilmu kesehatan Anak,volume 2 Edisi 15. EGC. Jakarta. http://rabelanti.blogspot.com/2009/03/askep-anak-dengan-kkp.html http://texbuk.blogspot.com/2011/04/asuhan-keperawatan-pada-anak-     kekurangan.html#ixzz1qE2Rw5wB

TERIMA KASIH ATAS PERHATIANYA