BERPIKIR Para ahli mendefinisikan berpikir sebagai suatu proses mental yang bertujuan memecahkan masalah, Menurut solso (1988) menyatakan bahwa berpikir.

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
TEORI PERKEMBANGAN MANUSIA
Advertisements

Penalaran, Asumsi, Konteks dan Peta Berpikir
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
BERPIKIR OLEH NUR ADDIANSYAH.
Pada Masa ini anak sangat aktif
BAB VII TINJAUAN PSIKOLOGIS PENDIDIKAN DI INDONESIA
Pokok Bahasan 8 BERPIKIR
Metodologi Penelitian
TEORI BELAJAR.
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
BAHAN KULIAH PENDIDIKAN ANAK BERBAKAT (2)
Materi Pertemuan 4 Psikologi Anak Berbakat Olivia Tjandra W., M. Si., Psi.
Pemecahan masalah pemecahan masalah adalah bagian dari proses berpikir. Sering dianggap merupakan proses paling kompleks di antara semua fungsi kecerdasan,
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
Metodologi Penelitian
PENALARAN Pengertian Penalaran merupakan suatu proses berpikir manusia untuk menghubung-hubungkan dat atau fakta yang ada sehingga sampai pada suatu kesimpulan.
Pembentukan Sikap Dan Tingkah Laku
Intelligence Akademi Perawat Panti Waluya
Culture Fair Intelligence Test
PEMACAHAN MASALAH DAN BERFIKIR KREATIF Di Susun Oleh: HERYANTO( ) BAHRUN MUHIT T( ) M IRWAN HARDI(
Model discovery learning
ESTY ARYANI SAFITHRY, M.PSI, PSI
INTELIGENSI.
Model discovery learning
STRATEGI PEMBELAJARAN DISCOVERY
Tes Inteligensi Stanford-Binet
Intelegensi dan Kreativitas
KARAKTERISTIK MATEMATIKA
7 Materi Psikologi Anna. Psi – KesMasy 2015
Kesulitan Belajar Matematika NOVENDAWATI WAHYU SITASARI
PSIKOLOGI UMUM INTELEGENSI.
Veny Hidayat, M.Psi., Psikolog
Psikologi Pendidikan : Pertemuan ke-2
TEORI BELAJAR Teori Keterampilan Proses Oleh : Iswadi, M. Pd.
Oleh: KUNTJOJO UNP Kediri 2010
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
INTELIGENSI.
INTELIGENSI.
KARAKTERISTIK MATEMATIKA
Perkembangan Kognitif
Psikologi Anak Berbakat Olivia Tjandra W., M. Si., Psi
HAKIKAT BELAJAR & PEMBELAJARAN
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
Pokok Bahasan 8 BERPIKIR
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
Perbedaan Individu.
CULTURE FAIR INTELLIGENCE TEST (CFIT) NOVENDAWATI WAHYU SITASARI
Pokok Bahasan 9 INTELIGENSI
PENINGKATAN KREATIVITAS BELAJAR MELALUI KEMAMPUAN BERFIKIR KRITIS
Perkembangan Peserta Didik: Presentasi Kelompok 2
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
TEORI BELAJAR Teori Keterampilan Proses Oleh : Iswadi, M. Pd.
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
Raven’s Progressive Matrices (RPM) dan CFIT
Binet Inteligensi terdiri dari 3 komponen :
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)
Tes I Q (Intelligence Quotient)
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN MODEL PEMBELAJARAN.
PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK MODUL 4 KARATERISTIK DAN KEBUTUHAN PESERTA DIDIK USIA DEWASA DISUSUN OLEH KELAS A.8 KELOMPOK 4 1. MUH. IKHWAN( ) 2.
MINAT DAN BAKAT.
Transcript presentasi:

BERPIKIR Para ahli mendefinisikan berpikir sebagai suatu proses mental yang bertujuan memecahkan masalah, Menurut solso (1988) menyatakan bahwa berpikir merupakan proses yang menghasilkan representasi mental yang baru melalui transformasi informasi yang melibatkan interaksi yang kompleks antara berbagai proses mental seperti penilaian, abstraksi, penalaran, imajinasi dan pemecahan masalah

MENURUT MAYER (DALAM SOLSO, 1988) BERPIKIR MELIPUTI TIGA KOMPONEN POKOK, YAITU Berpikir merupakan aktifitas kognitif Berpikir merupakan proses yang melibatkan beberapa manipulasi pengetahuan didalam system kognitif Berpikir diarahkan dan menghasilkan perbuatan pemecahan masalah

BERPIKIR Berpikir adalah proses dinamis, dimana individu bertindak aktif dalam menghadapi hal-hal yang bersifat abstrak Pada proses berpikir individu membuat hubungan antara obyek yang menjadi pokok permasalahan dengan bagian-bagian pengetahuan yang sudah dimilikinya. Bagian dari pengetahuan adalah segala sesuatu yang sudah diperolehnya dalam ujud pengertian-pengertian Proses berpikir Pembentukan pengetian Pembentukan pendapat Penarikan kesimpulan (pembentukan keputusan)

1. Pembentukan Pengertian Pengertian logis dibentuk melalui empat tingkat, yakni Menganalisis ciri-ciri sejumlah obyek yang sejenis  diperhatikan unsurnya satu persatu Membandingkan ciri-ciri tersebut untuk ditemukan ciri yang sama dan selalu ada serta yang hakiki Mengabstraksikan, yaitu menyisihkan, membuang ciri-ciri yang tidak hakiki dan menangkap ciri-ciri yang hakiki Pembentukan pengertian

2. Pembentukan Pendapat Pendapat afirmatif/positip  pendapat yang mengiyakan, yang secara tegas menyatakan keadaan sesuatu, misalnya si Ani itu rajin, si Wawan itu pandai Pendapat negatif  pendapat yang secara tegas menerangkan tentang tidak adanya sesuatu sifat pada sesuatu hal, misalnya si Wawan tidak bodoh, si Ani tidak malas Pendapat modalitas (kebarangkalian) pendapat yang menerangkan kebarangkalian atau kemungkinan-kemungkinan sesuatu sifat pada sesuatu hal, misalnya hari ini mungkin hujan Pembentukan pendapat, yakni meletakkan hubungan antara dua buah pengertian atau lebih. Pendapat yang dinyatakan dalam bahasa disebut kalimat yang terdiri dari pokok kalimat/subyek, sebutan dan predikat. Ada tiga macam pendapat:

Tipe-tipe Berpikir A. Berpikir Reflektif Berpikir reflektif adalah kemampuan individu di dalam menyeleksi pengetahuan yang pernah diperolehnya, yang relevan dengan tujuan pemecahan masalah, serta memanfaatkannya secara efektif di dalam memecahkan masalahnya. Apabila seseorang individu ingin mencapai sesuatu tujuan, ia harus dapat memecahkan masalah-masalah yang menghambatnya. Apabila individu dapat menemukan cara-cara untuk mengatasi hambatan yang ada, dan akhirnya dapat mencapai tujuan yang diharapkan, maka berarti individu sudah melakukan berpikir reflektif. Di dalam berpikir reflektif tidak semata-mata tergantung pada pengetahuan yang ada pada masing-masing individu, karena adanya perbedaan individual, ada yang dapat memanfaatkan pengetahuannya untuk pemecahan maslah, ada yang tidak dapat.

Berpikir menurut Skinner Tergantung 2 hal: Kompleksitas problemnya Individu ybs Taraf binatang, dibedakan menjadi a. instingtif  digunakan untuk memecahkan maslah yang sederhana dan bersifat survival, bersifat universal, cara pemecahan masalahnya dari generasi ke generasi (ontogenetis), tidak termodifikasi b. trial and error  secara coba-coba c. insight  tahu hubungan antara fasilitas dengan pemecahan masalah 2. Taraf manusia a. secara insight b. hasil pemecahan masalah dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan estimasi pada masalah-masalah lain Berdasarkan 2 hal tersebut, taraf berpikir dibedakan :

Langkah-langkah berpikir reflektif Individu merasakan adanya suatu problem Individu mengerti problemnya dan dapat menegaskan permasalahannya Mengajukan kemungkinan pemecahannya  hipotesis Mengumpulkan informasi-informasi untuk dianalisis Mengambil kesimpulan  hipotesis diterima/tidak Mengadakan generalisasi

Guilford (dalam Munandar, 1999) yang melihat kreatifitas sebagai kemampuan berpikir divergen Merupakan kemampuan berpikir yang “menyebar”, melihat stimulus dari berbagai sudah pandang. Orang kreatif dapat memandang suatu barang dapat diciptakan menjadi berbagai fungsi, Misalnya pena atau pensil dapat digunakan untuk penggaris, garuk-garuk, alat penunjuk, mengambil barang di lubang dan fungsi lainnya yang tidak biasa dilakukan orang.

B. Berpikir Kreatif Dalam berpikir kreatif, orang berusaha mencetuskan ide-ide/kreasi atau berusaha menimbulkan inspirasi Berpikir kreatif meliputi 3 tahap Tahap persiapan (pengumpulan bahan) Tahap inkubasi Tahap insight

3. Penarikan kesimpulan/pembentukan keputusan Keputusan induktif keputusan yang diambil dari pendapat-pendapat khusus menuju ke satu pendapat umum. Contoh: tembaga, besi, perak dipanaskan memuai. Jadi semua logam dipanaskan memuai. Keputusan deduktif keputusan yang ditarik dari hal umum ke khusus. Misalnya: semua logam dipanaskan memuai. Besi adalah logam. Jadi besi dipanaskan memuai. Keputusan analogis keputusan diperolehdengan jalan membandingkan atau menyesuaikan dengan pendapat-pendapat khusus yang telah ada. Contoh: Totok anak pandai, naik kelas. Titik anak pandai, naik kelas. Jadi Wawan anak yang pandai itu tentu naik kelas.

INTELEGENSI ?

Inteligensi Inteligensi dan kepribadian sebenarnya tidak dapat dipisahkan, dan inteligensi merupakan salah satu aspek dari kepribadian Inteligensi mempunyai sumbangan penting dan berperanan sangat menonjol dalam setiap tingkah laku individu, misalnya dalam kasus pekerjaan dan sekolah

Pengertian Inteligensi Menurut Branca: inteligensi adalah kemampuan untuk melakukan penyesuaian terhadap lingkungan secara efektif Menurut Wechsler: inteligensi adalah kemampuan keseluruhan untuk bertindak secara rasional dalam menghadapi lingkungan secara efektif Menurut Woodworth: inteligensi dikaitkan dengan test dan cara-cara individu dalam menghadapi situasi tersebut gagal/berhasil. Inteligensi merupakan kualitas bukan kuantitas. kemampuan menurut Woodworth:  kemampuan potensial: kemampuan yang belum digunakan, contohnya inteligensi  kemampuan aktual: kemampuan yang terlihat saat ini yang diperoelh karena derajad, contohnya kepandaian

Inteligensi sebagai kemampuan menyesuaikan diri ( Tyler, 1956, Wechsler 1958, Sorenson, 1977) Inteligensi sebagai kemampuan untuk belajar ( Freeman, 1971, Flynn, dalam Azwar 1996 ) Inteligensi sebagai kemampuan untuk berfikir abstrak (Mehrens, 1973., Terman dalam Crider dkk, 1983 Stoddard, dalam Azwar, 1996., )

Pengertian Inteligensi (Vernon) Inteligensi adalah kapasitas bawaan yang diterima anak dari orangtua melalui gen yang natinya menentukan perkembangan mentalnya berhubungan dengan genotype, disebut inteligensi A. Inteligensi mengacu pada “pandai”, cepat dalam bertindak, bagus dalam penalaran dan pemahaman, efisien dalam aktivitas mental berhubungan dengan phenotype, disebut inteligensi B. Inteligensi adalah umur mental atau IQ atau skor dari test inteligensi  disebut inteligensi C.

Pengertian inteligensi (Cattell) Inteligensi sebagai faktor umum (G)  diklasifikasikan sebagai Fluid Intelligence (Gf) adalah pengaruh faktor biologis pada perkembangan intelek Crystallised Intelligence (Gc) adalah hasil interaksi kemampuan bawaan dengan kebudayaan, pendidikan dan pengalaman

Intelligence Quotient (IQ) Istilah IQ pertama kali dikemukakan William Stern (1912) Hasil tes inteligensi berbentuk IQ, tapi ada juga yang berupa tingkatan atau grade

Pengukuran Inteligensi Penghitungan IQ menurut Stern adalah rasio antara Mental Age (MA) dan Chronological Age (CA) IQ = (MA/CA) x 100 Keterangan: MA = Mental Age (umur mental) CA = Chronological Age (umur kronologis) 100 = angka konstan

Klasifikasi IQ (Crow dan Crow) Genius Very Superior Superior Above Average Average Below Average Dull/Borderline Feeble minded-moron Feeble minded-imbecile dan idiot 140 ke atas 130 – 139 120 – 129 110 – 119 91 – 109 80 – 90 70 – 79 50 – 69 49 ke bawah

Debil/Moron Angka IQnya 50 – 69 Dapat menulis dan membaca, sehingga dapat bekerja dengan pekerjaan yang sederhana Pengendalian emosinya kurang Mudah terlibat pada tingkah laku yang kurang baik Tingkah laku debil dewasa seperti anak berusia 7 – 10 tahun

Imbecile Tingkat IQnya sekitar 25 – 49 Dapat melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari tanpa bantuan orang lain, misalnya berpakaian, makan, minum Dapat dilatih melakukan pekerjaan yang sederhana dan bersifat rutin, misalnya mengambil telur dari kandang Masih membutuhkan perawatan Imbecile dewasa tingkah lakunya seperti anak berusia 5 – 7 tahun

Idiot Mempunyai IQ kurang dari 25 Merupakan tingkatan feeble minded yang paling berat Tidak dapat mengurus dirinya sendiri Tingkatan yang terberat anak idiot hanya dapat berbicara beberapa kata