REKAYASA JALAN RAYA I TKS 232 (2 SKS) Dosen : Weka Indra Dharmawan, ST

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
DRAINASE JALAN RAYA.
Advertisements

DAERAH MANFAAT JALAN (DAMAJA)
KARAKTERTISTIK JARINGAN JALAN
13 MODUL 13 Stabilitas lereng (lanjutan) 1 Jurusan Teknik Sipil
ABSTRAK Pola pergerakan dalam sistem transportasi sering dijelaskan sebagai arus pergerakan (kendaraan, penumpang dan barang) yang bergerak dari zona asal.
MANUAL KAPASITAS JALAN INDONESIA’97
Konsep Dasar dan Parameter Geometrik Jalan Raya
TS 4447: Rekayasa Geometrik Jalan
MATA KULIAH DASAR-DASAR TRANSPORTASI
Klasifikasi Jalan Jalan umum dikelompokan berdasarkan (ada 5)
Klasifikasi Jalan Menurut Wewenang Pembinaan
Pendahuluan Jalan raya sejak mulai di rintis, hanya berupa lintas lalu lalang manusia untuk mencari nafkah dengan jalan kaki atau menggunakan kendaraan.
BAB II PENAMPANG MELINTANG JALAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS GUNADARMA
PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN
DIALOG PUBLIK “SINERGITAS PEMANGKU KEBIJAKAN RENCANA UMUM NASIONAL KESELAMATAN (RUNK) JALAN GUNA MEWUJUDKAN BUDAYA KESELAMATAN BERLALU LINTAS DALAM MENCEGAH.
PERANCANGAN GEOMETRI JALAN ALTERNATIF JALAN NASIONAL GITGIT, BALI
TS4273 TEKNIK LALULINTAS Matakuliah wajib bagi Bidang Studi Desain
05 CIRI PRASARANA TRANSPORTASI
SO324 - REKAYASA TRANSPORTASI UNIVERSITAS BINA NUSANTARA 2005
PENGANTAR PERENCANAAN JALAN RAYA
REKAYASA TRANSPORTASI
1.1 Perkembangan Teknologi Jalan Raya
PENGANTAR PERENCANAAN JALAN RAYA
MANUAL KAPASITAS JALAN INDONESIA (MKJI)
Sartika Nisumanti, ST.,MT
REKAYASA TRANSPORTASI
Teknologi Dan Rekayasa
KLASIFIKASI JALAN Klasifikasi jalan menurut fungsinya dapat digolongkan menjadi: Jalan Arteri, yaitu jalan yang melayani angkutan jarak jauh dengan kecepatan.
KAJIAN RUAS JALAN LUAR KOTA
PERSYARATAN TEKNIS JALAN
Pertemuan 10 Drainase Jalan Raya
REKAYASA TRANSPORTASI
Sistem Transportasi Pertemuan 5 Transportasi Darat 04 –
JURUSAN TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS JAYABAYA
PERENCANAAN GEOMETRIK DAN
Dasar Hukum: UU 38/2004 tentang Jalan
Lengkung Peralihan (Lengkung Transisi, Lengkung Spiral)
REKAYASA TRANSPORTASI
PERANCANGAN GEOMETRIK JALAN
PENGANTAR PERENCANAAN JALAN RAYA
PENGANTAR PERENCANAAN JALAN RAYA
03. SISTEM PRASARANA TRANSPORTASI DARAT
Jaringan Transportasi
PENGERTIAN JARINGAN TRANSPORTASI
PRASARANA JALAN.
PENGANTAR PERENCANAAN JALAN RAYA
PARAMETER PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN
PARAMETER PERENCANAAN
BAHAN KULIAH HKM LALIN OLEH : AIRI SAFRIJAL RAMBU-RAMBU DAN
TUGAS PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN
Penataan Kawasan Tanah Abang dari Aspek Transportasi
PENGANTAR PERENCANAAN JALAN RAYA
DISAIN TRASE JALAN BARU DIATAS PERMUKAAN TANAH
Kuliah 3 Transportasi Darat.
DRAINASE JALAN RAYA.
Perencanaan Transportasi
Desain dan Pengendalian Persimpangan
PENGANTAR GEOMETRIK JALAN
DASAR – DASAR PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN
Lampu Lalu Lintas & Metode Pengaturan Waktu Lampu Lalu-Lintas
Konsep Dasar dan Parameter Geometrik Jalan Raya Perencanaan geometrik merupakan bagian dari suatu perencanaan konstruksi jalan, yang meliputi rancangan.
Kelompok 3 : Ranugrah Pamula Priyoga Resty Rika Primeswari Rizky Rendyana Firmansyah Ronny Hendratmoko Saktya Dewanta
DRAINASE PERMUKIMAN DAN JALAN RAYA
REKAYASA JALAN (TSP – 214) DRAINASE JALAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA
Perencanaan Tebal Perkerasan Jalan Lentur
K O N S T R U K S I J A L A N D A N J E M B A T A N JENIS BAHAN PEKERASAN JALAN KONSTRUKSI JALAN DAN JEMBATAN KLASIFIKASI JALAN Pendidikan Teknik Sipil.
PENERANGAN JALAN UMUM. TUJUAN PEMBELAJARAN 1.Siswa dapat menjelaskan konsep dasar penerangan jalan umum. 2.Setelah melihat bahan tayang ini, siswa dapat.
KONSTRUKSI JALAN DAN JEMBATAN ASEP ARYADI, ST SMK NEGERI 2 CIAMIS.
Transcript presentasi:

REKAYASA JALAN RAYA I TKS 232 (2 SKS) Dosen : Weka Indra Dharmawan, ST REKAYASA JALAN RAYA I TKS 232 (2 SKS) Dosen : Weka Indra Dharmawan, ST., MT

KONTRAK PERKULIAHAN (1/2) Perkuliahan dilaksanakan 14 kali tatap muka plus 2 kali ujian (UTS dan UAS). Satu kali tatap muka = kuliah 2 kali 50 menit dengan istirahat 10 menit diantaranya (bila diperlukan). Dosen melaksanakan perkuliahan sesuai silabus dan Rencana Mutu Pembelajaran (RMP) kurikulum JTS UNIMAL tahun 2009. Mahasiswa wajib mengikuti perkuliahan minimal 11 kali (exclude UTS dan UAS). Bila dosen terlambat 15 menit dan tidak ada pemberitahuan maka mahasiswa boleh meninggalkan kelas dan melakukan pengisian presensi kehadiran. Mahasiswa terlambat 30 menit dan tanpa ada pemberitahuan tidak boleh mengikuti perkuliahan.

KONTRAK PERKULIAHAN (2/2) Nilai ujian = (Nilai tes tertulis) + (nilai tugas) + (nilai diskusi/tanya jawab/presentasi). Mahasiswa ketahuan menyontek atau memberi contekan langsung mendapat sangsi tidak lulus.

SILABUS PERTEMUAN POKOK BAHASAN SUB POKOK BAHASAN 1 PENDAHULUAN 2 PENAMPANG MELINTANG JALAN Jalur Lalu Lintas, Bahu Jalan, Trotoar, Median, Saluran Smping, Talud, Kereb, Pengaman Tepi, Lapisan Perkerasan Jalan, Ruang Manfaat Jalan, Ruang Milik Jalan, Ruang Pengawasan Jalan. 3,4 PARAMETER PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN Kendaraan Rencana, Kecepatan, Volume Lalu Lintas, Tingkat Pelayanan Jalan, Jarak Pandangan. 5,6,7 ALINYEMEN HORIZONTAL Gaya Sentrufugal, Lengkung Peralihan, Diagram Superelevasi, Bentuk Lengkung Horizontal, Pelebaran Perkerasan Lengkung horizontal, Jarak Pandangan Lengkung Horizontal, Pedoman Umum Perencanaan Alinyemen Horizontal. 8 UTS 9,10,11 ALINYEMEN VERTIKAL Kelandaian Alinyemen Vertikal, Lengkung Vertikal, Lengkung Vertikal Cembung, Lengkung Vertikal Cekung. 12,13,14 KOORDINASI ALINYEMEN VERTIKAL DAN ALINYEMEN HORIZONTAL SECARA TERPADU 14,15, PENOMORAN PANJANG JALAN (STATIONING) 16 UAS

DAFTAR PUSTAKA AASHTO 1984, Policy on Geometric Design of Highway and Streets AASHTO 1990, Policy on Geometric Design of Highway and Streets Dirjen Bina Marga, Peraturan Perencanaan Geometrik Jalan Raya 1970 Silvia Sukirman, Dasar-Dasar Perencanaan Geometrik Jalan.

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM Memahami konsep perencanaan jalan raya yang didasarkan atas kelancaran, keamanan, dan kenyamanan kendaraan bergerak, serta menguasai rekayasa detil geometrik yang meliputi potongan melintang, alinyemen horisontal, alinyemen vertikal, serta persimpangan. Buku Pegangan, 2008

Jotin & Khisty, 2002

KETERKAITAN DENGAN MATAKULIAH TRANSPORTASI YANG LAIN DDRT & Rekper (mekanika tanah)  Desain perkerasan. RGJ  Desain alinyemen. RLL  Evaluasi dan desain sistem kendali (Mikro). Pertrans  Evaluasi dan desain sistem transportasi (Makro).

PENDAHULUAN PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN merupakan bagian dari perencanaan jalan yang dititik beratkan pada perencanaan bentuk fisk sehingga dapat memenuhi fungsi dasar dari jalan yaitu memberikan pelayanan yang optimum pada arus lalu lintas. TUJUAN PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN adalah menghasilkan infra struktur yang aman, efisien dalam melayani arus lalu lintas dan memaksimalkan rasio antara tingkat penggunaan dan biaya pelaksanaan. Ruang, bentuk dan ukuran jalan (dimensi jalan) dikatakan baik jika dapat memberikan rasa aman dan nyaman kepada pemakai jalan.

DASAR PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN Sifat gerakan kendaraan. Ukuran fisik kendaraan. Sifat dan karakter pengemudi dalam mengendalikan kendaraan. Karakteristik arus lalu lintas. ELEMEN PERENCANAAN GEOMETRTIK JALAN Alinyemen horizontal atau trase jalan, terutama dititik beratkan pada perencanaan sumbu jalan. Alinyemen vertikal atau penampang memanjang jalan. Penampang melintang jalan.

KLASIFIKASI JALAN Pengelompokan Jalan Menurut Sistem Sistem Jaringan Jalan Primer Jaringan jalan dengan peranan pelayanan jasa distribusi untuk pengembangan semua wilayah, yang menghubungkan simpul jasa distribusi yang berwujud kota. Sistem Jaringan Jalan Sekunder Jaringan jalan dengan peranan pelayanan jasa distribusi untuk masyarakat di dalam kota, yang menghubungkan antar dan dalam kawasan di dalam kota. Pusat-Pusat Produksi Pusat-pusat yang menghasilkan barang dan jasa, termasuk kawasan pemukiman dan kawasan lainnya. Simpul Jasa Distribusi Pusat-pusat kegiatan yang mempunyai jangkauan pelayanan nasional, wilayah dan lokal.

Pengelompokan Jalan Menurut Fungsi Jalan Arteri Jalan yang melayani angkutan utama. - Perjalanan jarak jauh. - Kecepatan rata-rata tinggi. - Jumlah jalan masuk (accses) dibatasi secara efisien. Jalan Kolektor Jalan yang melayani angkutan pengumpul atau pembagi. - Perjalan jarak sedang. - Kecepatan rata-rata sedang. - Jumlah jalan masuk (accses) dibatasi.

3. Jalan Lokal Jalan yang melayani angkutan lokal. - Perjalanan jarak dekat. - Kecepatan rata-rata rendah. - Jumlah jalan masuk (accses) tidak dibatasi. 4. Jalan Lingkungan Jalan yang melayani angkutan lingkungan. - Perjalan jarak pendek. - Kecepatan rata-rata redah.

PENAMPANG MELINTANG JALAN PENAMPANG MELINTANG JALAN : merupakan potongan melintang tegak lurus sumbu jalan

Bagian-Bagian Jalan Utama (1/2) A. Bagian yang langsung berguna untuk lalu lintas : Jalur lalu lintas Lajur lalu lintas Bahu jalan Trotoar Median B. Bagian yang berguna untuk drainase : Saluran kemiringan Kemiringan melintang jalur lalu lintas Kemiringan melintang bahu Kemiringan lereng

Bagian-Bagian Jalan Utama (2/2) C. Bagian pelengkap jalan : Kereb Pengaman tepi D. Bagian perkerasan jalan : Lapisan permukaran jalan (Surface) Lapisan pondasi atas (Base) Lapisan pondasi bawah (Sub Base) Lapisan tanah dasar (Subgrade) E. RUMAJA (Ruang Manfaat Jalan) F. RUMIJA (Ruang Milik Jalan) G. RUWASJA (Ruang Pengawasan Jalan)

Jalur Lalu Lintas Jalur lalu lintas (traveled way or carriged way) : keseluruhan bagian perkerasan jalan yang diperuntukan untuk lalu lintas kendaraan dan terdiri dari beberapa lajur (lane). Lajur kendaraan : bagian dari jalur lalu lintas yang khusus diperuntukan untuk dilewati oleh suatu rangkaian kendaraan dalam satu arah. Jalan 1 arah minimal 1 lajur. Jalan 2 arah minimal 2 lajur (2 lajur 2 arah = 2/2).

Lebar Lajur Lalu Lintas Merupakan lebar kendaraan ditambah dengan ruang bebas antar kendaraan, yang besarnya sangat ditentukan oleh faktor keamanan dan kenyamanan. Bina Marga Lebar kendaraan rencana penumpang : 1,50 m – 1,75 m Lebar kendaraan rencana truk/bis/semitrailer : 1,70 m – 2,50 m Jalan lokal (kecepatan rendah) lebar jalan minimum : 2 x 2,75 m Jalan arteri (kecepatan tinggi) lebar jalur minimum : 3,25 m

Jumlah Lajur Lalu Lintas Banyaknya lajur tergantung dari volume lalu lintas yang akan melewati jalan tersebut sesuai dengan tingkat pelayanan yang diharapkan. Kemiringan Melintang Jalur Lalu Lintas Di jalan yang lurus kemiringan melintang digunakan untuk kebutuhan drainase jalan. Sedangkan pada tikungan, selain untuk drainase juga untuk keseimbangan gaya sentrifugal. Besarnya kemiringan melintang : 2% - 4 % (permukaan aspal atau semen) 5% (lapisan permukaan tanpa pengikat)

Bahu Jalan Bahu Jalan : jalur yang terletak berdampingan dengan jalur lalu lintas. Fungsi Bahu Jalan : Ruang tempat pemberhentian sementara dari kendaraan. Ruang untuk menghindarkan diri pada kondisi darurat agar tidak terjadi kecelakaan. Memberikan ruang kepada pengemudi dalam meningkatkan kapasitas jalan. Memberikan sokongan kekuatan pada konstruksi perkerasan jalan di arah samping. Ruang tempat meletakkan peralatan pada saat perbaikan jalan. Ruang lintasan kendaraan darurat (ambulan, patroli dll).

Dilihat dari letaknya terhadap arah arus lalu lintas : Jenis Bahu : Bahu yang tidak diperkeras (dibuat dari material perkerasan jalan tanpa bahan pengikat). Bahu yang diperkeras (dengan menggunakan bahan pengikat sehingga kedap air). Dilihat dari letaknya terhadap arah arus lalu lintas : Bahu kiri atau bahu luar (left shoulder or outer shoulder). Bahu kanan atau bahu dalam (right shoulder or inner shoulder).

Lebar bahu dipengaruhi : Fungsi jalan Volume lalu lintas Kegiatan disekitar jalan Ada atau tidaknya trotoar Biaya yang tersedia Lebar bahu : 0,5 m – 2,5 m Besar kemiringan melintang bahu jalan 6% sampai 8%.

Trotoar (Jalur Pejalan Kaki / Side walk) Merupakan jalur yang terletak berdampingan dengan jalur lalu lintas yang khusus dipergunakan untuk pejalan kaki (pedestrian). Lebar trotoar : 1,5 m – 3,0 m

Median Merupakan jalur yang terletak ditengah jalan untuk membagi jalan pada masing-masing arah. Fungsi Median Merupakan daerah netral bagi pengemudi agar dapat mengontrol kendaraan pada saat darurat. Menyediakan jarak yang cukup untuk mengurangi kesilauan terhadap lampu besar dari kendaraan arah berlawanan. Menambah rasa kelegaan, kenyamanan dan keindahan bagi setiap pengemudi. Mengamankan kebebasan sampingdari masing-masing arah arus lalu lintas. Lebar median : 1.0 m – 12 m

Jalur Tepian Median Jalur yang terletak berdampingan dengan median (pada ketinggian yang sama dengan jalur perkerasan) yang fungsinya untuk mengamankan kebebasan samping arus lalu lintas. Lebar jalur tepian : 0,25 m – 0,75 m dan dibatasi dengan marka berupa garis putih menerus

Saluran Samping Fungsi : Mengalirkan air dari permukaan perkerasan jalan atau bagian luar jalan. Menjaga supaya konstruklsi jalan selalu berada dalam kondisi kering.

Talud (Kemiringan Lereng) Konstruksi talud dibuat 2H : 1V, tetapi untuk tanah yang mudah longsor, dibuat landai yang aman sesuai perhitungan kesetabilan lereng. Talud dapat dibuat bronjong, tembok penahan tanah, lereng bertingkat (Berm) atau dengan menggunakan rumput.

Kereb Merupakan penonjolan atau peninggian tepi perkerasan atau bahu jalan, terutama untuk keperluan draenase, mencegah keluarnya kendaraan dari tepi jalan dan memberikan ketegasan tepi jalan.

Pengaman Tepi Bertujuan untuk memberikan ketegasan tepi badan jalan, jika terjadi kecelakaan dapat mencegah kendaraan keluar dari badan jalan.

Ruang Manfaat Jalan Terdiri dari : badan jalan, saluran tepi jalan dan ambang pengamannya.

Ruang Milik Jalan Merupakan ruang sepanjang jalan dibatasi oleh lebar dan tinggi tertentu yang dikuasai oleh Pembina Jalan dengan suatu hak tertentu. Per 1 km dipasang DMJ.

Ruang Pengawasan Jalan Merupakan sejalur tanah tertentu yang terletak di luar RUMIJA, yang penggunananya diawasi oleh Pembina Jalan dengan maksud agar tidak menggangu pandangan pengemudi dan konstruksi bangunan jalan.