SERI PRESENTASI JURNALISTIK OLAHRAGA 2015 Dr. Made Pramono, M.Hum.

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
SUMBER BELAJAR.
Advertisements

MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK SD KELAS I-III
MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK
MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK SD KELAS I-III
Macam (KTI) Karya Tulis Ilmiah
MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK SD KELAS I-III
Dra. Istiyati Catharina, M.Pd.
Handout 11 SUMBER BELAJAR IPS
PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN PROFESI GURU
MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK
BAB XVII ALAT PERAGA VISUAL Pertemuan 17
Paket 9 Mata Kuliah Pembelajaran Tematik
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (UNTUK IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013)
STRATEGI BELAJAR MENGAJAR
Paket 4 Pengembangan Materi Pembelajaran PKn MI
PENGEMBANGAN BAHAN PEMBELAJARAN SEKOLAH DASAR
Pelatihan Penulisan Buku Ajar Program Studi Magister Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah PPS Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Sabtu.
MEDIA PEMBELAJARAN.
MODEL-MODEL PEMBELAJARAN IPS
RAMBU-RAMBU PEMBELAJARAN
Pusat Pendidikan dan Pelatihan BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL
Bimbingan Tugas Akhir Program (TAP) Pertemuan ke 7
PENDEKATAN PEMBELAJARAN
MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK SD KELAS I-III
DIAGRAM PROSES PENGELOLAAN PROGRAM PENDIDIKAN & PELATIHAN KOPDIT
Langkah-Langkah Audit Manajemen
Media Pembelajaran OLEH : RATNASARI
MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK SD KELAS I-III
PERTEMUAN 9 HARLINDA SYOFYAN, S.Si., M.Pd
Aplikasi Keterampilan Membaca dalam Pembelajaran
Pembekalan PPL Mahasiswa UPSI Tahun 2015
PENGERTIAN KURIKULUM Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman.
WAWASAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS Bahan diskusi dan Lembar Kerja PTK
RANCANGAN KERANGKA DASAR DAN STRUKTUR KURIKULUM
SILABUS MATA KULIAH PEMBELAJARAN IPA DI SD
Potret Bahan Ajar Pengembangan Bahan Ajar di SD
Presentasi hasil pembekalan dan penilaiannya
KONSEP PENGENBANGAN DAN PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Making Higher Education Open to All
NARASUMBER WAWANCARA Pertemuan 13 & 14
PENGEMBANGAN MATERI AJAR IPA SD
PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA DI SD
KOMPUTER/MEDIA GRAFIS
Metode pembelajaran bahasa arab
KOMUNIKASI INSTRUKSIONAL
MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK
J PENGEMBANGAN KEPROFESIAN GURU
JABATAN PROFESIONAL DAN TANTANGAN GURU DALAM PEMBELAJARAN
Workshop Pembuatan RPP
2. KEDUDUKAN BAHAN AJAR DALAM PEMBELAJARAN
Apa itu PAKEM?.
MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK SD KELAS I-III
Tugas Strategi Pembelajaran Akuntansi
FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI
BAHASA JURNALISTIK Dr. Made Pramono, M.Hum..
MELIPUT BAHAN TULISAN Dr. Made Pramono, M.Hum..
SERI PRESENTASI JURNALISTIK OLAHRAGA 2015 Dr. Made Pramono, M.Hum.
MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK
SERI PRESENTASI JURNALISTIK OLAHRAGA 2015 Dr. Made Pramono, M.Hum.
Natanael Dwi Nugroho Metode demonstrasi.
UPT Pelayanan Pendidikan Unila
BERBICARA DALAM PRESENTASI ILMIAH
SUMBER BELAJAR.
MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK SD KELAS I-III
JENIS PROGRAM DAN PELAPORAN KKN
SILABUS MATA KULIAH PEMBELAJARAN IPA DI SD
UPT Pelayanan Pendidikan Unila
MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK
MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK SD KELAS I-III
PENYUSUNAN PROGRAM PELATIHAN
Transcript presentasi:

SERI PRESENTASI JURNALISTIK OLAHRAGA 2015 Dr. Made Pramono, M.Hum.

PELATIHAN JURNALISTIK

Ada berapa macam modulkah dalam dunia pelatihan? Dasar Garis besar paket belajar mengajar lengkap Tujuan: agar peserta memiliki pengetahuan dasar tentang suatu bidang, sektor atau materi yang dilatihkan Lepas paket belajar – mengajar detil dan mendalam, namun hanya menyangkut satu bagian dari keseluruhan kegiatan Lengkap paket belajar – mengajar detil dan mendalam = modul dasar + lepas

Keterkaitan Dasar Lengkap Lepas Peserta didik diharapkan memiliki pengetahuan dasar teori jurnalistik, berikut semua bentuk tulisan di media massa dan tatakerja penerbitannya. Peserta sudah siap untuk terjun sebagai wartawan pemula. Modul dasar cocok untuk melatih pengelola bulletin, jurnal dan penerbitan intern lainnya. 2-3 hari Lepas Bisa berdiri sendiri, atau gabungan, namun masih terkait keseluruhan paket kegiatan. Misalnya modul penulisan news, artikel, features, reportase. Atau modul penentuan tema tulisan, pengumpulan bahan dan peliputan, memotret, bahasa jurnalistik, pemilihan media, rubrikasi dll. 2-3 hari/modul Lengkap Gabungan keseluruhan modul lepas ditambah modul dasar Alokasi waktu bisa antara 18 hari atau 360 s.d 540 jam Untuk menghemat biaya, biasanya disusun modul dasar dulu, baru modul lepas yang dianggap paling urgen. Setelah jumlah modul lepas dirasa cukup, baru dirangkai menjadi modul lengkap.

Apa sajakah yang harus dibuat dalam sebuah modul pelatihan jurnalistik? Karakteristik kelompok sasaran dari pelatihan yang direncanakan. Misalnya, usia antara 20 sd. 40 tahun, berpendidikan perguruan tinggi (heterogen), sudah bekerja di berbagai bidang/sektor. Menentukan tujuan pelatihan. Dari tujuan tersebut, yang diperlukan adalah modul dasar dengan modul lepas penulisan artikel. Dua modul ini harus dikonkritkan dengan mendata kuantitas dan kualitas peserta, kurikulum, jadwal, hand out, alat peraga, instruktur, narasumber, lokasi dan waktu palatihan. Dari data yang ada bisa disusun proposal berikut anggaran biayanya.

Tentang kurikulum... Kurikulum adalah kelompok mata pelajaran yang harus diberikan dalam satu program pendidikan, lengkap dengan satuan waktu yang diperlukannya

kurikulum yang bagaimanakah yang diperlukan? Kurikulum disusun berdasarkan karakteristik peserta didik, berikut kebutuhan yang mereka rasakan. Kurikulum untuk para calon wartawan koran terkemuka, tentu lebih banyak terfokus pada news dan reporting. Untuk penulis lepas, lebih banyak ke artikel. Materi apa saja yang harus disampaikan untuk mencapai tujuan tersebut, berapa waktu yang diperlukan dan metodologi apa yang paling tepat untuk menyampaikannya.

Apa saja materi minimal dalam kurikulum modul dasar pelatihan jurnalistik untuk umum? Pengenalan media massa dan kegiatan jurnalistik Bentuk-bentuk tulisan, menentukan tema, mencari bahan/meliput, memotret, menulis dengan 5 W 1 H dan terakhir mengirim tulisan ke media massa umum. Idealnya materi tersebut disampaikan dalam jangka waktu satu minggu. Namun bisa saja dilakukan strategi hanya dua hari di kelas, kemudian latihan di rumah masing-masing untuk berkumpul lagi di kelas selama dua hari.

Apakah yang disebut sebagai metodologi? Metodologi adalah strategi dan teknik penyampaian kurikulum kepada peserta didik, yang dilakukan instruktur atau narasumber, dengan tujuan diperoleh efektifitas dan efisiensi optimal. Misalnya, kalau tujuan pelatihan adalah agar tulisan peserta didik (umum) bisa dimuat di media massa, maka metode workshop paling efektif dan efisien.

Faktor apa yang harus diperhatikan dalam menentukan metodologi? Peserta. Kalau pesertanya remaja dan anak-anak, metode bermain akan lebih efektif dan efisien. Peserta ibu-ibu atau bapak-bapak, lebih cocok metode simulasi atau diskusi kelompok. Jumlah. Peserta 10 sd. 20 orang, paling tepat metodologi diskusi intensif. Jumlah 20 sd. 30 orang dengan metode diskusi kelompok dan pleno. Modelnya masih model kelas. Peserta di atas 50 harus menggunakan metode ceramah. Peserta berjumlah ratusan harus memakai metode pidato. Waktu dan lokasi pelatihan. Kalau waktunya pendek, maka metode ceramah dan tanya jawab labih tepat. kalau waktunya panjang, maka diskusi kelompok dan pleno. Ruang kelas, peraga, kuantitas, dan kualitas instruktur/narasumber. Biaya.

Hand out apa sajakah yang diperlukan? Buku-buku pelajaran dan pengetahuan tulis – menulis serta jurnalistik. Di Indonesia buku-buku demikian masih sangat sedikit. Bahan-bahan pelatihan intern media massa dan diktat- diktat pelajaran di jurusan publisistik dan jurnalistik perguruan tinggi.

Mengapa hand out mutlak diperlukan dalam pelatihan? Karena ibaratnya buku pelajaran. Hand out diharapkan bisa terus membantu peserta didik setelah yang bersangkutan selesai mengikuti program pelatihan. Hand out pelatihan adalah barang cetakan, kaset, DVD atau bentuk-bentuk lain yang berisi materi pelatihan, sebagai acuan bagi peserta didik, instruktur maupun narasumber.

Bisakah hand out dibuat khusus oleh penyelenggara pelatihan untuk kebutuhan yang sangat khusus? Seharusnya memang demikian. Penyelenggara pelatihan seharusnya menyusun modul, kurikulum berikut hand outnya dalam sebuah paket palatihan. Namun untuk melakukan tiga hal ini sekaligus, biayanya akan sangat mahal. Hingga bisa saja pelatihan memanfaatkan hand out berupa buku-buku, brosur, diktat dll dari luar.

Apakah yang disebut sebagai alat peraga pelatihan? Alat peraga pelatihan adalah benda, termasuk tumbuhan, binatang dan manusia, yang bisa membantu proses transfer informasi dari instruktur, narasumber dan hand out ke peserta didik. Benda yang biasa dijadikan sebagai peraga adalah peta, gambar, poster, foto, televisi, OHP, Slide Projector, In Focus, papan panel, papan tulis dll. Barang-barang yang tidak lazim pun, termasuk tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia, bisa dijadikan alat peraga asal efektif dan efisien.

Mengapa alat peraga penting dalam sebuah pelatihan? Karena bisa membantu meningkatkan prosentase informasi yang bisa ditangkap oleh peserta didik. Kalau narasumber hanya membagikan makalah, kemudian berbicara lalu tanya jawab, maka informasi yang bisa ditangkap peserta didik sekitar 40%. Kalau dalam mata pelajaran menulis artikel tentang martabak telor, diundang seorang tukang martabak lengkap dengan gerobaknya untuk dijadikan peraga (diwawancarai), maka prosentase informasi yang bisa ditangkap peserta didik akan meningkat sampai 70%.

Apakah semua penulis artikel hebat (terkenal), bisa dijadikan narasumber dalam sebuah pelatihan? Tergantung. Penulis tersebut harus bersedia tampil dengan mamatuhi ketentuan penyelenggara pelatihan (menyangkut honor dll). Kedua, penulis tersebut harus bisa berbicara di depan peserta dengan jelas, menarik namun tetap akurat. Ketiga, narasumber tersebut diharapkan benar-benar menguasai bidang penulisan dengan cukup baik (bukan sekadar terampil menulis).

Apakah konkritnya target pelatihan yang hendak dicapai? Misalnya saja 20 orang dosen FIK mampu menulis artikel dan 50% bisa lolos dimuat di media massa pada tahun ini. Kriteria target harus jelas (terukur), realistis namun menantang dan ada batas waktunya. *** ada beda yang harus dipahami antara target pelatihan (perubahan apa pada peserta didik setelah pelatihan) dengan target penyelenggaraan (target panitia yang lebih ke hal2 teknis)