KEPALA DINAS KESEHATAN PROVINSI BENGKULU IBU HENDARINI, Bsc, S.Sos 1.

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB)
Advertisements

SELAMAT DATANG PARA PESERTA
POSYANDU BALITA RIWANTO, SKM.
PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS)
Dr. Ina Hernawati, MPH Direktur Bina Gizi Masyarakat
PENCAPAIAN INDIKATOR KINERJA
KUESIONER RUMAH TANGGA Blok V
DINKES PROPINSI LAMPUNG
Bagian Program & Informasi Ditjen PP & PL
Bagian Program & Informasi Ditjen PP & PL
DIARE (MENCRET).
SURVEILANS EPIDEMIOLOGI PENYAKIT SARS TOPIK 7
Sistem Kewaspadaan Dini KLB Gizi Buru
PUSKESMAS KARANGAN OLEH MARTA RAHAYU
ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KESEHATAN TAHUN OLE h Dr.Hj.Musdiawaty HR RoE,M.Kes Watansoppeng, 19 Maret 2014.
HASIL STUDI EHRA ( Environmental Health Risk Asessment ) KAB
Dalam Penanggulangan Bencana
PRINSIP DASAR SURVEILANS
PROSEDUR TETAP PENANGGULANGAN KLB
ANALISIS KEBUTUHAN DATA DAN INFORMASI PUSKESMAS
Hepatitis Fatty Liver.
Selamat datang peserta
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1501 Tahun 2010
Pemberian Obat Pencegahan Massal Dinas Kesehatan Provinsi Bali
PENGENDALIAN HEPATITIS
ELIMINASI MALARIA DI BANYUMAS 2015
Surveilans Berbasis Masyarakat
BADAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN DESA PROVINSI KEPULAUAN RIAU
PENGUKURAN KESEHATAN Definisi indikator
Ukuran Frekuensi Epidemiologi
UKURAN EPIDEMIOLOGI DAN INTEPRETASI DATA
DEASY ROSMALA DEWI, SKM,MKES
Bagaimana menanggulangi masalah gizi:
Promosi Kesehatan dalam Berbagai Tatanan
ILMU KESMAS X (PROGRAM2 KESEHATAN)
PENGANTAR KESEHATAN LINGKUNGAN
PROGRAM PENANGGULANGAN DIARE
Pengendalian Penyakit Menular Ketika Bencana
OPTIMALISASI PELAKSANAAN JAMINAN PERSALINAN Dalam rangka Percepatan Pencapaian MDGs 2015 Tjetjep Yudiana,SKM, M.Kes KEPALA DINAS KESEHATAN PROPINSI KEPULAUAN.
KLB HEPATITIS A.
PEMBANGUNAN KESEHATAN DI PULAU KALIMANTAN
PROSEDUR TETAP PENANGGULANGAN KLB
Intan Silviana Mustikawati
EPIDEMIOLOGI PENYAKIT DIARE
H. ASLI, S.Kep, M.Kes DINAS KESEHATAN KABUPATEN REJANG LEBONG.
EPIDEMIOLOGI DIARE by WIDYA HC.
PRINSIP DASAR SURVEILANS EPIDEMIOLOGI
DASAR-DASAR PENYIDIKAN KEJADIAN LUAR BIASA dan MODEL PELACAKAN KEMATIAN IBU BAYI DAN BALITA Oleh Nugroho.
Dr. Jum’atil Fajar, MHlthSc
PROGRAM PENANGGULANGAN DIARE
Surveilens penyakit diare
PROGRAM PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT
KETERKAITAN PERTUMBUHAN PENDUDUK DENGAN KESEHATAN
MUSYAWARAH MASYARAKAT DESA (MMD)
PENERAPAN SISTEM SURVEILANS EPIDEMIOLOGI PENYAKIT MENULAR DAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TERPADU SUCI SRI WAHYUNI A1.
Dalam Penanggulangan Bencana
SANITASI DAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PENYAKIT DIARE.
KEBIJAKAN kemenKES TENTANG PELAYANAN KEPERAWATAN KELUARGA
DISUSUN OLEH : KELOMPOK 4
HIDUP SEHAT DENGAN SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT ( STBM ) 1.
Balikpapan, 01 Nopember 2018 BAPPEDA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
SURVEILANS KETIKA BENCANA
PROGRAM PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN RABIES PROVINSI KALIMANTAN UTARA
Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB)
SURVEY MAWAS DIRI. PENGERTIAN SURVEY MAWAS DIRI (SMD) Survei Mawas Diri adalah kegiatan untuk mengenali keadaan dan masalah yang dihadapi masyarakat,
Upaya akselerasi pencapaiaN SDGs. SDGs ( Sustainable Development Goals ) sebuah dokumen yang akan menjadi sebuah acuan dalam kerangka pembangunan dan.
1 PRINSIP DASAR SURVEILANS Khairul Amal, SKM Puskesmas Blang Bintang Kabupaten Aceh Besar.
Transcript presentasi:

KEPALA DINAS KESEHATAN PROVINSI BENGKULU IBU HENDARINI, Bsc, S.Sos 1

Kesepakatan pemimpin dunia pada tahun 2000,melahirkan 8 kesepakatan MDGs  Millenium development Goals (MDG) 4 yakni menurunkan angka kematian bayi dan balita 2/3 dengan rentan waktu 1990 – AKB= 23/1000 KH AKBAL= 32/1000 KH  SDKI 2003 AKB= 35/1000 KH AKBAL= 46 / 1000 KH  SDKI 2007 AKB= 34/1000 KH AKBAL= 44/1000 KH 2

PENYEBAB KEMATIAN UMUR 1 – 11 BULANUMUR 1 – 4 TAHUN 3

KEMATIAN DIARE PADA BALITA (LANCET 2003) SETIAP TAHUN ADA 2 JUTA ANAK MENINGGAL DISEBABKAN OLEH DIARE 80% KEMATIAN AKIBAT DIARE DAPAT DICEGAH DENGAN ORALIT DAN ZINC 4

WHO/UNICEF Joint Statement “Many more lives can be saved if these advances are used in conjunction with effective home treatment and use of appropriate health services. To be the most effective these revised recommendations must become routine practice both in the home and the health facility.” Source: WHO/UNICEF. Joint statement on the clinical management of acute diarrhea

WHO/UNICEF Joint Statement Recommendations : Prevention and treatment of dehydration with new ORS or fluids available in the home Breastfeeding Continued feeding Selective use of antibiotics Zinc supplementation for days 6

ORALIT ORALIT (WHO/ UNICEF 1978) ORALIT (WHO/ UNICEF 2004) Na K HCO3 Cl Glucose 90 mEq/l 20 mEq/l 30 mEq/l 80 mEq/l 111 mmol/l 75 mEq/l 20 mEq/l 10 mEq/l 65 mEq/l 75 mmol/l osmolar331 mmol/l245 mmol/l 7

8 SEPTEMBER 2006 Rekomendasi para akhli (IDAI) penggunaan ZINC dalam tatalaksana Diare Pembentukan ZINC TASK FORCE TAHUN 2007 ZINC dimasukkan dalam Tatalaksana Diare TAHUN 2008 ZINC Menjadi obat program Dimulai Pengadaan ZINC dari Dana APBN SAMPAI TAHUN 2012 SOSIALISASI DILAKSANAKAN DI 11 PROPINSI MENGUSULKAN MASUK DALAM DAFTAR OBAT GENERIK dan OBAT DOEN

DIARE MERUPAKAN PENYEBAB UTAMA KEMATIAN PADA BAYI DAN BALITA DI INDONESIA Proporsi SKRT 2001: Bayi: 9% (No.2) Balita: 13% (No.2) Study mortalitas 2005 : Bayi: 9,1% Balita: 15,3 RISKESDAS hari – 11 bulan: 31,4% ( No.1) 1 – 4 tahun: 25,2% ( No. 1) Semua umur: 13,2% ( No.4) 9

Angka kesakitan diare cenderung meningkat 10 Sumber data : survey morbiditas diare Depkes KLB masih sering terjadi Target

Air Tangan Lalat Makanan Sakit Agent Environment Host Jamban Air Bersih Limbah Perilaku: *Cuci Tangan * Cara Pemb Tinja * Cara Menyiap mkn * Cara Pemb ASI/MPAISI * Immunisasi Campak SIKLUS PENULARAN PENYAKIT DIARE PENGENDALIAN Sumber Tanah FAKTOR RESIKO SAB SAB JAMBAN JAMBAN > 80 % KUALITAS AIR MINUM, BAKTERIOLOGIS, FISIK, KIMIA MS MS TMS TMS > 60 % < 60 % KUALITAS AIR MINUM, BAKTERIOLOGIS, FISIK, KIMIA MS MS TMS TMS > 60 % < 60 % PHBS Cuci Tangan Cuci Tangan TTL SE Faktor Resiko 11

Potret Sanitasi di Indonesia mencuci dan mandi di sungai tercemar MCK yang tidak berfungsi selokan tersumbat efluen industri di kawasan pemukiman buang air besar sembarangan Jamban yang asal-asalan pembuangan liar lumpur tinja 12

T U J U A N Menurunkan angka kesakitan dan kematian diare bersama lintas program dan sektor terkait 13

KEBIJAKAN Melaksanakan tatalaksana diare sesuai standar, baik disarana kesehatan maupun di rumah tangga / masyarakat. Melaksanakan SKD diare. Melaksanakan surveilans dan penanggulangan KLB diare Penyediaan logistik yang cukup. Mengembangkan pedoman penyakit diare Peningkatan SDM. Pencegahan diare dengan pengendalian faktor risiko. Mengembangkan jejaring lintas program dan lintas sektor. Meningkatan Monitoring dan Evaluasi 14

15 TTL di SARKES (LINTAS DIARE) TTL di RUMAH TANGGA SKD dan PENANGGULANGAN KLB PENCEGAHAN MONEF PENINGKATAN SDM  Meningkatkan pemberian cairan RT  Teruskan emberian ASI  Rujuk  ORALIT osmolaritas rendah  ZINC 10 hari  ASI dan MP ASI  ANTI BIOTIK SELEKTIF  NASIHAT  SKD PRE KLB  Penyelidikan dan Penanggulangan KLB  TL Pasca KLB  PENGENDALIAN FAKTOR RISIKO (LINGKUNGAN DAN PERILAKU)  IMUNISASI CAMPAK  Training  Sosialisasi  Pengamatan hasil pelaksanaan P2 Diare  Umpan balik

KEGIATAN Tatalaksana penderita diare Surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB Kerjasama lintas program dan sektor Pencegahan diare Pengelolaan logistik Pemantauan dan Evaluasi. 16

PROGRAM TIFOID 17

Masalah  Merupakan penyakit endemik  Kesakitan 358 – 800 kasus / pnddk/Tahun  – kasus baru/tahun diperkirakan kematian / thn 18

Riskesdas 2007 prevalensi tifoid klinis pada kelompok umur : Terbanyak 5 – 14 tahun  1,9%) Terendah pada bayi  0,8% Menurut jenis kelamin laki-laki  1,6% perempuan  1,5% Menurut tempat pedesaan  1,8% perkotaan  1,2%. 19

TUJUAN PROGRAM TYFOID Menurunkan angka kesakitan dan kematian melalui peningkatan upaya pencegahan, penemuan dini serta pengobatan dan perawatan tifoid secara tepat, akurat dan berkualitas. 20

KEBIJAKAN Penegakan diagnose secara klinis dan dibantu dengan pemeriksaan penunjang ( serologis dan pemeriksaan Microbiologis ) Melaksanakan TTL Tifoid sesuai standar, baik di puskesmas maupun di Rumah Sakit Pengembangan pedoman penyakit tifoid Peningkatan SDM Pencegahan tifoid dengan pengendalian faktor risiko Mengembangkan jejaaring dengan lintas program dan lintas sektor. 21

22 TATALAKSANA DIAGNOSIS TATALAKSANA PENGOBATAN & PERAWATAN PENCEGAHAN & PENGENDALIAN PENANGGULANGA N KLB Diagnose klinis SURVEILANS Diagnose Etiologi Diagnose Komplikasi Pencegahan & Pengendalian Carier Pengendalian F.Risiko

PROGRAM HEPATITIS 23

DASAR MASUKNYA PROGRAM HEPATITIS INDONESIA sebagai sponsor utama bersama sama dengan Brasil dalam menggolkan resolusi mengenai Hepatitis virus pada sidang WHA ke 63. Sidang ke 63 World Health Assembly (WHA) tanggal 20 Mei 2010 di Genewa, menyetujui :  Hepatitis virus masuk dalam agenda prioritas di WHO  Menetapkan tanggal 28 juli sebagai Hari Hepatitis sedunia (WORDL HEPATITIS DAY)

SITUASI DIDUNIA  Penyakit hepatitis A,B,C merupakan masalah kesehatan besar didunia.  Lebih dari 2 milyar penduduk pernah terinfeksi oleh virus hepatitis B (HBV)  Lebih dari 400 juta orang pengidap kronik hepatitis B  Diperkirakan orang meninggal setiap tahun akibat sirosis hati dan kanker hati  170 juta penduduk dunia pengidap virus hepatitis C (HCV)

SITUASI DI INDONESIA  Jumlah penderita Hepatitis B dan C diperkirakan sekitar 20 juta orang, diperkirakan 13 juta penderita hepatitis B dan 7 juta penderita hepatitis C  Prevalensi HBsAg kategori Tinggi ( > 8%)  Sekitar 50% dari penderita virus Hepatitis B dan C berpotensi menjadi Chronic liver desease.  Jika chronic liver desease tidak diobati secara baik maka 10% diantaranya menjadi liver fibrosis  liver cancer

UPAYA PEMERINTAH  Sejak tahun 1992 dilakukan penapisan darah melalui Palang Merah Indonesia (PMI)  Tahun 1997 imunisasi hepatitis B telah masuk dalam program imunisasi rutin Nasional, yang sebelumnya pada tahun 1987 ujicoba dilaksanakan di Pulau Lombok (NTB)

Rencana Penapisan Hepatitis B Proyek sentinel, akan dilaksanakan di 5 wilayah DKI Jakarta Tiap wilayah akan diwakili oleh 1 puskesmas dengan kriteria puskesmas yang mempunyai kunjugan terbanyak Umur penderita : diatas18 tahun Perkiraan sampel selama setahun : sampel 28

29