SOSIOLOGI UMUM (KPM 130) Koordinator Matakuliah Sosiologi Umum

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
LEMBAGA KEMASYARAKATAN (Lembaga sosial)
Advertisements

Beberapa Konsep dalam Antropologi Budaya
SOSIOLOGI UMUM (KPM 130) Koordinator Matakuliah Sosiologi Umum
Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
Lembaga Pertanian di Desa
SOSIOLOGI UMUM (KPM 130) Koordinator Matakuliah Sosiologi Umum
Sosiologi Pedesaan Pertemuan IV
KELOMPOK SOSIAL Adalah : kumpulan orang yang memiliki kesadaran bersama akan keanggotaan dan saling berinteraksi. Kelompok diciptakan oleh anggota masyarakat.
Sesi 3 : Aspek Sosial Budaya Perilaku Kesehatan
MANUSIA SEBAGAI MAHLUK INDIVIDU DAN SOSIAL
PRANATA SOSIAL Oleh: Tim.
PRANATA SOSIAL.
Sosial, Budaya dan Perilaku Kesehatan
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS BINA DARMA PALEMBANG Anita Trisiah, S.Pd., M.Sc.  
KELEMBAGAAN SOSIAL.
DAFTAR BACAAN PRANATA SOSIAL
A. PENGERTIAN PRANATA SOSIAL
PRANATA SOSIAL & PENYIMPANGAN SOSIAL.
Lembaga Kemasyarakatan
MANUSIA, HUKUM DAN MORAL
ILMU BUDAYA DASAR MATERI PERTEMUAN 1.
MANUSIA DAN KEBUDAYAAN
PEMAHAMAN, BATASAN DAN FUNGSI KELEMBAGAAN MASYARAKAT
Sosiologi Antropologi Pendidikan
PRANATA SOSIAL/ LEMBAGA SOSIAL
Aspek Sosial Budaya Perilaku Kesehatan
INSTITUSI SOSIAL PERTEMUAN 05
Tertib Sosial Keadaan yang aman, damai, tenteram atau stabil/ harmonis. MENGAPA DIPERLUKAN KEADAAN YANG TERTIB? Agar upaya kebutuhan hidup itu dapat.
Lembaga Sosial (pranata sosial)
Lembaga Kemasyarakatan Karina Jayanti
VALERIA GABELAN
PRANATA SOSIAL.
LEMBAGA KEMASYARAKATAN
SOSIOLOGI POWER POINT OLEH: Panjilmo Putro MSi SMA NEGERI 7 MALANG.
PRANATA SOSIAL.
Struktur Dan Proses Sosial
SOCIAL INSTITUTION Pertemuan Keempat TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM:
BAB III LEMBAGA SOSIAL OLEH: MAHARROMIYATI, S. Pd
Lembaga Sosial (pranata sosial)
Nilai, Norma, Hukum, Pranata
BAHAN AJAR PERTEMUAN KE-5
PENDIDIKAN MULTIKULTURAL
Lembaga Sosial Muhammad Noor Hidayat.
KEBUDAYAAN Antarin Prasanthi.
LEMBAGA SOSIAL Social- Institution Pranata sosial
LEMBAGA KEMASYARAKATAN
LEMBAGA SOSIAL HASAN BISRI.
PRANATA SOSIAL Pengertian Pranata Sosial Ciri-ciri Umum Pranata Sosial
BAB III LEMBAGA SOSIAL.
Pertemuan 3 Lembaga Sosial.
Lembaga Kemasyarakatan
Deni agus stiawan ( ) Rut indiyani ( )
Lembaga Kemasyarakatan
Matakuliah : L0094-Ilmu Sosial Untuk Psikologi
Oleh: Anton Budiarto, S.H., M.H.
Matakuliah : O0012 / Pengantar Antropologi Sosial
Lembaga Kemasyarakatan
PRESENT BY: Deska Ayu Sekar Mustika Rahsajati P. Lina Lestari
BAB 03 SOCIAL INSTITUTION
TIPE – TIPE KELEMBAGAAN
SOCIAL INSTITUTION Pertemuan Keempat TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM:
KELEMBAGAAN SOSIAL PRANATA SOSIAL SOCIAL INSTITUTION
KAIDAH SOSIAL.
MANUSIA DAN LINGKUNGAN BAB VIII
Sesi 3 : Aspek Sosial Budaya Perilaku Kesehatan
LEMBAGA KEMASYARAKATAN
Latar Belakang Lembaga sosial  lemabag kemasyarakatan  social institution Didalam masyarakat pasti ada norma yang mengatur hidup mereka guna mencapai.
MASYARAKAT PEDESAAN DAN PERKOTAAN
Sesi 3 : Aspek Sosial Budaya Perilaku Kesehatan
MASYARAKAT PEDESAAN DAN PERKOTAAN
Transcript presentasi:

SOSIOLOGI UMUM (KPM 130) Koordinator Matakuliah Sosiologi Umum Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor Website: http://skpm.fema.ipb.ac.id

POKOK BAHASAN 4 KELEMBAGAAN SOSIAL

Sub Pokok Bahasan Pengertian Kelembagaan Sosial Perspektif Kelembagaan Sosial dan Ciri-cirinya Pelembagaan Sosial Penggolongan Kelembagaan Sosial Kontrol Sosial, Konformitas dan Deviasi

1. Pengertian Kelembagaan Sosial

“Social institution” BUKAN “Institute” (lembaga yang merujuk kepada suatu badan atau asosiasi atau organisasi) “Social institution” diterjemahkan sebagai : “Lembaga kemasyarakatan” (Soekanto, 1990) “Pranata sosial” (Koentjaraningrat, 1964) “Bangunan sosial” (Soziale-Gebilde) “Kelembagaan Sosial” atau “Kelembagaan”

Masyarakat dan Kebudayaan --- Kelembagaan “Sistem Norma” Masyarakat “Kelakuan Berpola” “Kelakuan berpola dari manusia dalam kebudayaannya” (Koentjaraningrat, 1964)

Sistem Norman Kelakuan Peralatan Fisik Berpola Peralatan Fisik Personel Komponen Kelembagaan Sosial (Koentjaraningrat, 1964)

Kelembagaan (Institution) Tata Abstraksi Tata Abstraksi “Sistem Norma” Kelompok Organisasi Birokrasi Komunitas “Kumpulan Orang” “Tata abstraksi yang lebih tinggi dari grup, organisasi, dan sistem sosial lainnya” (Bertrand, 1974)

“Wujud kongkrit kelembagaan sosial adalah assosiasi (association)” Abstrak Kongkrit Kelembagaan Assosiasi Perguruan Tinggi Institut Pertanian Bogor Perkawinan Keluarga Perkreditan Bank BRI Rumahsakit PMI Kesehatan Penelitian Pusat Penelitian Sosial Ekonomi “Wujud kongkrit kelembagaan sosial adalah assosiasi (association)” (Soekanto, 1990)

Koentjaraningrat (1964) Soerjono Soekanto (1990) “Suatu sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktivitas-aktivitas untuk memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat” Soerjono Soekanto (1990) “Himpunan norma-norma dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok di dalam kehidupan masyarakat”

Fungsi Kelembagaan Sosial Memberi pedoman berperilaku kepada individu / masyarakat; Menjaga keutuhan; Memberi pegangan kepada masyarakat untuk mengadakan kontrol sosial (social control);

2. Perspektif Kelembagaan Sosial dan Ciri-cirinya

Perspektif Pertama Kompleks peraturan dan peranan sosial secara abstrak sedangkan assosiasi sebagai bentuk organisasi kongkrit Secara prinsipil memandang penting proses pelembagaan(institutionalization) dan pembaharuan kelembagaan sosial

Perspektif Kedua Bahwa kelembagaan maupun asosiasi sebagai bentuk organisasi sosial Kelembagaan bersifat lebih universal dan penting Asosiasi bersifat kurang penting dan bertujuan lebih spesifik Mampu membedakan beragam asosiasi sebagai bentuk-bentuk organisasi sosial dengan tujuan-tujuan spesifik

Ciri-ciri pokok yang membedakan kelembagaan sosial dengan konsepsi lain (Soekanto, 1990): Merupakan pengorganisasian pola pemikiran yang terwujud melalui aktivitas masyarakat & hasil-hasilnya Memiliki kekekalan tertentu Mempunyai satu atau lebih tujuan tertentu Mempunyai lambang-lambang yang secara simbolik menggambarkan tujuan Mempunyai alat untuk mencapai tujuan tertentu Mempunyai tradisi tertulis atau tidak tertulis

3. Pelembagaan Sosial

Pelembagaan sosial: proses perkembangan kelembagaan sosial Meliputi lahirnya peraturan dan norma-norma baru (proses strukturalisasi dan enkulturasi) Terjadi dimana-mana dan terus menerus dalam masyarakat Proses pengaturan dan pembinaan pola-pola prosedur (tatacara) disertai beragam sanksi dalam masyarakat (mengenalmengakuimenghargaimentaati menerimainternalisasi) Tingkat internalisasi “dinilai” berdasarkan kuat atau lemahnya ikatan yang dimiliki oleh norma tersebut

Tingkatan Norma Cara (usage), lebih menonjol pada hubungan antar individu dalam masyarakat atau menunjuk pada suatu bentuk perbuatan Kebiasaan (folkways), mempunyai kekuatan mengikat yang lebih besar dibandingkan cara Tata kelakuan (mores), merupakan kebiasaan yang dianggap sebagai cara berperilaku dan diterima sebagai norma-norma pengatur Adat istiadat (customs), adalah tata-kelakuan yang kekal serta kuat integrasinya dengan pola-pola perilaku masyarakat

Tingkatan Norma Berdasarkan Sanksi

4. Penggolongan Kelembagaan Sosial

Penggolongan Kelembagaan Sosial Berdasarkan Kebutuhan Pokok (Khusus) Kehidupan Manusia No Kebutuhan Hidup Kelembagaan 1 Kekerabatan (domestic institutions) Penglamaran; Perkawinan; Poligami; Pengasuhan; Perceraian 2 Produksi (Matapencaharian) (economic institutions) Pertanian; Peternakan; Perburuan; Feodalisme, Industri; Barter; Koperasi; Pemasaran 3 Pendidikan dan Penerangan (education institutions) Pendidikan; Penyuluhan; Pengembangan Masyarakat 4 Ilmiah dan Alam Semesta (scientific institutions) Penelitian; Pendidikan Ilmiah; Profesi Ilmiah 5 Rasa Keindahan dan Rekreasi (aesthetic & recreational institutions) Seni; Olahraga (Sport); Kesusasteraan 6 Hubungan dengan Tuhan (religious institutions) Kenduri; Dakwah; Masjid; Gereja; Kuil; Pura 7 Berkelompok dan Bernegara (political institutions) Pemrintahan; Demokrasi; Kehakiman; Kepartaian; Kepolisian; Militer 8 Jasmaniah (somatic institutions) Pemeliharaan Kecantikan; Pemeliharaan Kesehatan; Kedokteran

Penggolongan kelembagaan berdasar sektor (Uphoff, 1992): Sektor Publik di tingkat lokal mencakup administrasi dan pemerintah lokal dengan birokrasi dan organisasi politik sebagai bentuk organisasi yang mutakhir. Sektor Partisipatori sesuai dengan namanya, tumbuh dan dibangkitkan oleh masyarakat secara sukarela, misalnya organisasi non-pemerintah (Ornop atau NGO atau LSM). Sektor Swasta yang berorientasi kepada upaya mencari keuntungan, yakni dalam bidang jasa, perdagangan, dan industri.

Penggolongan Kelembagaan berdasarkan Sektor di Tingkat Lokalitas

4. Kontrol Sosial, Konformitas, dan Deviasi

Tujuan: mencapai keserasian antara stabilitas dengan perubahan-perubahan dalam masyarakat, Berdasarkan sifatnya, pengendalian sosial (kontrol sosial) dapat berupa preventif atau represif, atau keduanya Suatu proses pengendalian sosial dapat dilaksanakan dengan pelbagai cara: tanpa kekerasan (persuasive) ataupun dengan paksaan (coersive) Conformity berarti proses penyesuaian atau penyelarasan diri dengan masyarakat, dengan cara mengindahkan kaidah-kaidah dan nilai-nilai Deviation adalah penyimpangan terhadap kaidah-kaidah dan nilai-nilai dalam masyarakat

Baca Buku Teks Tim Editor Sosiologi Umum IPB. 2003. Sosiologi Umum. Bogor: Bagian Ilmu-Ilmu Sosial, Komunikasi dan Ekologi Manusia Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian IPB (Halaman 29-37) Soerjono Soekanto. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada (Halaman 217-250) Koentjaraningrat, 2004. Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan. Jakarta: Penerbit Djambatan (Halaman 23-26 dan 59-68)

TERIMA KASIH