Pemantauan Kemajuan Pelaksanaan PRB 2009-2011 Kelompok 2– Prioritas Aksi 2 Workshop Nasional, 21 Juli 2010 FGD Prioritas Verifikasi di Daerah.

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
PERENCANAAN STRATEGIS UNTUK ORGANISASI NON-PROFIT
Advertisements

SATKER SANITASI KOTA TASIKMALAYA
LAPORAN FOTO ESSAY YES FOR SAFER SCHOOL DI MAN 1 KOTA BANDUNG 9 OKTOBER 2013.
Disampaikan Oleh : Dirjen Penataan Ruang
SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan 2014
PRINSIP-PRINSIP SISTEM MANAJEMEN MUTU
Manajemen Bencana Berbasis Masyarakat
Kontinjensi dalam Pengurangan Risiko
Peraturan Mendiknas Nomor: 20 Tahun 2007 tentang
Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah Departemen Dalam Negeri
BUSINESS PROCESS DEPUTI BIDANG PERLINDUNGAN ANAK
IMPLIKASI PELAKSANAAN UU NO
European Union Ekosistem Mangrove, masyarakat dan konflik: mengembangkan pengetahuan berdasarkan pendekatan untuk menyelesaikan beragam kebutuhan Kegiatan.
Audit Produksi dan Operasi
LOCAL GOVERNMENT SELF ASSESSMENT TOOLS (LG-SAT)
PENGURANGAN RISIKO BENCANA - BERBASIS KOMUNITAS (PRB-BK)
HUBUNGAN ANTARA KERENTANAN, RISIKO DAN BAHAYA
LOCAL GOVERNMENT SELF ASSESSMENT TOOLS (LG-SAT)
Program Desa/Kelurahan Tangguh
Keuangan Mikro dan Manajemen Bencana
BIRO ADMINISTRASI AKADEMIK DAN KEMAHASISWAAN
Topik Bahasan PENYUSUNAN DOKUMEN RTPRB.
Pradipta Paramitha1 The Methodology for Participatory Assessment MPA.
DINAS PERTANIAN PROVINSI BENGKULU 2012
Menginspirasi Konservasi berbasis komunitas
Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) dan posyandu remaja
MITIGASI DAN MANAJEMEN BENCANA
ANALISIS PADA INTEGRASI PERTIMBANGAN LINGKUNGAN
Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Sektor Industri Oleh : Hermien Roosita Asisten Deputi Urusan Manufaktur, Prasarana dan.
Prof. Dr. Ir. Dietriech G. Bengen, DEA
Ir. Rachmat Tatang Bachrudin, M.Si.
PEMAPARAN PEMBERDAYAAN GENDER DAN ENERGI
KEBIJAKAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK:
KONSEP PENANGANAN KUMUH
PEMBERDAYAAN POKJA PKP PROVINSI
Bimbingan Teknis Penguatan Pendidikan Karakter
ADAPTASI.
SEMINAR NASIONAL PERUMUSAN RENCANA AKSI PELESTRAIAN KERIS INDONESIA
Stop AIDS Pencegahan Positif
Sosialisasi dan Pelatihan Penguatan Pendidikan Karakter
SHIP PARTNER.
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/
Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan 2014
NORMA STANDAR PROSEDUR DAN KRITERIA
LATAR BELAKANG Pada saat ini >100 juta penduduk Indonesia belum memiliki akses terhadap layanan air minum dan sanitasi dasar yang layak Sarana AMPL yang.
PENGURANGAN RISIKO BENCANA pengantar dalam membangun ketahanan komunitas Disampaikan pada materi kelas TRADAS XXVI KMPLHK RANITA, Ciputat 13 Januari 2015.
Bahan tayang 3-4 Mei.
SISTEM INFORMASI NASIONAL (SIKNAS) Dan SIKDa
LAPORAN FOTO ESSAY YES FOR SAFER SCHOOL
SISTEM PELAYANAN KESEHATAN PERTEMUAN 12
KONSEP DESA/KELURAHAN TANGGUH BENCANA
ANALISIS SWOT IMPLEMENTASI GERAKAN SADAR ARSIP DI DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN KABUPATEN BANYUWANGI Oleh : Lastria Nurtanzila1, Widiatmoko Adi Putranto2.
Pariwisata Bekelanjutan
KEBIJAKAN OBAT  .
Konsep Desa dan Kelurahan Tangguh
PEMBERDAYAAN POKJA PKP PROVINSI
KEBIJAKAN PENANGGULANGAN BENCANA
HUBUNGAN ANTARA KERENTANAN, RISIKO DAN BAHAYA
SUB BIDANG SUB-SUB BIDANG PEMERINTAH PEMERINTAHAN DAERAH PROVINSI
DESTANA desa tangguh bencana.
STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN (SNP) di SATUAN PENDIDIKAN
Materi 1 Manajemen Penanggulangan Bencana
DESA / KEL. TANGGUH BENCANA ( DESTANA )
LAPORAN FOTO ESSAY YES FOR SAFER SCHOOL
Penguatan Kapasitas Kecamatan untuk Meningkatkan Pelayanan Dasar
“PEMBANGUNAN DESA YANG BERBASIS PENGURANGAN RISIKO BENCANA ”
PROSES MANAJEMEN BENCANA
SISTEM INFORMASI KESEHATAN
PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR TERPADU
Transcript presentasi:

Pemantauan Kemajuan Pelaksanaan PRB Kelompok 2– Prioritas Aksi 2 Workshop Nasional, 21 Juli 2010 FGD Prioritas Verifikasi di Daerah

Mengidentifikasi, mengkaji dan memantau Risiko dan meningkatkan peringatan dini

Indikator Prioritas Aksi 2:1 Penilaian risiko lokal dan nasional berdasarkan data bahaya/hazard dan informasi kerentanan yang tersedia dan meliputi penilaian risiko untuk sektor-sektor utama Peta risiko semua jenis bahaya sudah dibuatkan dalam Renas PB ( ) tingkat nasional, yang kemudian dijabarkan dalam Rencana Aksi Nasional. Dokumen Parba (Hazard analysis) sudah diterbitkan oleh BNPB, belum dioverlay dengan data kerentanan termasuk aspek sosek Belum diketahui pedoman umum analisis risiko menurut spesifik bahaya, di tingkat nasional. Kalaupun ada, belum ‘public accessible’ Pusat Studi Bencana sudah membuat peta index risiko bencana nasional. Namun belum diketahui (tdk ada data yg dimiliki kelompok) mengenai parameter dan metode yang digunakan Tidak diketahui apakah pengembangan peran pusat studi memberikan kontribusi terhadap penyediaan produk analisi risiko Terbitnya Surat Edaran dari Mendiknas dan Menkes mengenai pengarusutamaan pendidikan PRB, serta Rumah Sakit Aman Bencana, mendukung kebutuhan penilaian risiko RPP Sungai sudah menyertakan parameter kerentanan dan risiko bencana banjir. Belum ada pedomannya. RSNI PB sedang dalam proses penggodokan, panitian teknis telah dibentuk Dapat dianggap 90% daerah belum membuat kajian risiko (risk assessment). Sudah masuk dalam UU 24, bahwa setiap pembangunan gedung harus menyertakan dokumen kajian risiko.ada Masih ada keragaman bahasa dan pemahaman mengenai risiko, peta risiko, kajian risiko, elemen peta risiko, parameter kajian risiko, dst. Masalah kapasitas nasional dan daerah, serta keinginan dan upaya. Perlu peningkatan kapasitas tk.nasional dan daerah

Indikator Prioritas Aksi 2:1 Penilaian risiko lokal dan nasional berdasarkan data bahaya/hazard dan informasi kerentanan yang tersedia dan melipyuti penilaian risiko untuk sektor-sektor utama Progress Level 1Progress Level 2Progress Level 3Progress Level 4Progress Level 5 Kemajuan kecil dengan beberapa tanda- tanda kemajuan dalam perencanaan atau kebijakan Ada kemajuan, tetapi tanpa kebijakan dan atau komitmen lembaga yang sistematis Komitmen kelembagaan tercapai, tetapi prestasi belum komprehensif dan juga belum cukup berarti Keberhasilan yang substansial tercapai tetapi dengan keterbatasan- keterbatasan yang disadari dalam hal kapasitas dan sumber daya Keberhasilan yang komprehensif dengan komitment dan kapasitas yang terjaga di semua tingkat x Tingkat kemajuan untuk

Indikator Prioritas Aksi 2:1 Penilaian risiko lokal dan nasional berdasarkan data bahaya/hazard dan informasi kerentanan yang tersedia dan meliputi penilaian risiko untuk sektor-sektor utama Alasan-alasan mengapa kemajuan dari indikator 2:1 ada di tingkat kemajuan tersebut : Peta risiko semua jenis bahaya sudah dibuatkan dalam Renas PB ( ) tingkat nasional, yang kemudian dijabarkan dalam Rencana Aksi Nasional. Dokumen Parba (Hazard analysis) sudah diterbitkan oleh BNPB, belum dioverlay dengan data kerentanan termasuk aspek sosek

Indikator Prioritas Aksi 2:1 Penilaian risiko lokal dan nasional berdasarkan data bahaya/hazard dan informasi kerentanan yang tersedia dan melipyuti penilaian risiko untuk sektor-sektor utama Kendala/tantangan-tantangan: Peta risiko semua jenis bahaya sudah dibuatkan dalam Renas PB ( ) tingkat nasional, yang kemudian dijabarkan dalam Rencana Aksi Nasional. Dokumen Parba (Hazard analysis) sudah diterbitkan oleh BNPB, belum dioverlay dengan data kerentanan termasuk aspek sosek Belum ada pedoman umum/standar analisis risiko menurut spesifik bahaya, di tingkat nasional. Kalaupun ada, belum ‘public accessible’ Pusat Studi Bencana sudah membuat peta index risiko bencana nasional. Namun belum diketahui (tdk ada data yg dimiliki kelompok) mengenai parameter dan metode yang digunakan Tidak diketahui apakah pengembangan peran pusat studi memberikan kontribusi terhadap penyediaan produk analisi risiko Terbitnya Surat Edaran dari Mendiknas dan Menkes mengenai pengarusutamaan pendidikan PRB, serta Rumah Sakit Aman Bencana, mendukung kebutuhan penilaian risiko RPP Sungai sudah menyertakan parameter kerentanan dan risiko bencana banjir. Belum ada pedomannya. RSNI PB sedang dalam proses penggodokan, panitian teknis telah dibentuk Dapat dianggap 90% daerah belum membuat kajian risiko (risk assessment). Sudah masuk dalam UU 24, bahwa setiap pembangunan gedung harus menyertakan dokumen kajian risiko.ada Masih ada keragaman bahasa dan pemahaman mengenai risiko, peta risiko, kajian risiko, elemen peta risiko, parameter kajian risiko, dst. Masalah kapasitas nasional dan daerah, serta keinginan dan upaya. Perlu peningkatan kapasitas tk.nasional dan daerah Kurangnya strategi sosialisasi, akses informasi dan dibutuhkannya peningkatan kapasitas untuk pemfaatan data dan informasi Masyarakat, pemerintah daerah dan stakeholder terkait belum cukup proaktif untuk mengakses

Indikator Prioritas Aksi 2:1 Penilaian risiko lokal dan nasional berdasarkan data bahaya/hazard dan informasi kerentanan yang tersedia dan meliputi penilaian risiko untuk sektor-sektor utama Rekomendasi/Opportunity:

HFA Priority 2:2 Sistem-sistem tersedia dan siap untuk memantau, mengarsip, dan menyebarluaskan data tentang bahaya-bahaya dan kerentanan- kerentanan utama. Sistem sudah ada (gempa, tsunami, banjir, cuaca ekstrim, gelombang pasang, kebakaran, gunung api, gerakan tanah) Belum semua sistem menyediakan data kerentanan termasuk isu kesetaraan gender Masih terbatasnya pedoman2 terstandardisasi, termasuk level/status bahaya contoh: banjir) Standar pengarsipan juga belum cukup baik/berbeda-beda menurut instansi Pengarsipan meta data dan sejarah bencana belum cukup baik. Sebaiknya masuk dalam DIBI Pengarsipan pengetahuan kearifan lokal yang masih terbatas Mekanisme diseminasi dan aksesibilitas informasi belum optimal Perlu penguatan DIBI Belum ada safety index standard

HFA Priority 2:2 Sistem-sistem tersedia dan siap untuk memantau, mengarsip, dan menyebarluaskan data tentang bahaya- bahaya dan kerentanan-kerentanan utama. Tingkat kemajuan untuk Progress Level 1Progress Level 2Progress Level 3Progress Level 4Progress Level 5 Kemajuan kecil dengan beberapa tanda- tanda kemajuan dalam perencanaan atau kebijakan Ada kemajuan, tetapi tanpa kebijakan dan atau komitmen lembaga yang sistematis Komitmen kelembagaan tercapai, tetapi prestasi belum komprehensif dan juga belum cukup berarti Keberhasilan yang substansial tercapai tetapi dengan keterbatasan- keterbatasan yang disadari dalam hal kapasitas dan sumber daya Keberhasilan yang komprehensif dengan komitment dan kapasitas yang terjaga di semua tingkat x

HFA Priority 2:2 Sistem-sistem tersedia dan siap untuk memantau, mengarsip, dan menyebarluaskan data tentang bahaya-bahaya dan kerentanan- kerentanan utama.  Alasan-alasan mengapa kemajuan dari indikator 2:2 ada di tingkat kemajuan tersebut:  Data dan informasi teknis tersedia di sektor, belum ada format standar. Data dan informasi yang terarsip disediakan oleh fasilitas DIBI

HFA Priority 2:2 Sistem-sistem tersedia dan siap untuk memantau, mengarsip, dan menyebarluaskan data tentang bahaya-bahaya dan kerentanan- kerentanan utama. Kendala/Tantangan : Pemanfaatan DIBI Sistem jaringan yang ada belum memungkinkan data dikumpulkan di DIBI Kebijakan lembaga dan kurangnya koordinasi, termasuk payung hukum Keterbatasan sumber daya berkesinambungan, infrastruktur di daerah, dalam pemantauan, pengarsipan dan penyebarluasan data Belum ada pedoman penyusunan risk map

HFA Priority 2:2 Sistem-sistem tersedia dan siap untuk memantau, mengarsip, dan menyebarluaskan data tentang bahaya-bahaya dan kerentanan- kerentanan utama. Rekomendasi/Opportunity:

HFA Priority 2:3 Sistem peringatan dini tersedia dan siap untuk segala bahaya besar, dengan jangkauan ke tingkat komunitas/masyarakat

Tingkat Kemajuan Progress Level 1Progress Level 2Progress Level 3Progress Level 4Progress Level 5 Kemajuan kecil dengan beberapa tanda- tanda kemajuan dalam perencanaan atau kebijakan Ada kemajuan, tetapi tanpa kebijakan dan atau komitmen lembaga yang sistematis Komitmen kelembagaan tercapai, tetapi prestasi belum komprehensif dan juga belum cukup berarti Keberhasilan yang substansial tercapai tetapi dengan keterbatasan- keterbatasan yang disadari dalam hal kapasitas dan sumber daya Keberhasilan yang komprehensif dengan komitment dan kapasitas yang terjaga di semua tingkat

HFA Priority 2:3 Sistem peringatan dini tersedia dan siap untuk segala bahaya besar, dengan jangkauan ke tingkat komunitas/masyarakat  Alasan-alasan mengapa kemajuan dari indikator 2:3 ada di tingkat kemajuan tersebut:  sudah ada kejelasan pengambilan keputusan  Beberapa daerah sudah memiliki SOP. Belum ada pedoman SOP yang menjadi panduan bagi daerah-daerah

HFA Priority 2:3 Sistem peringatan dini tersedia dan siap untuk segala bahaya besar, dengan jangkauan ke tingkat komunitas/masyarakat Kendala/Tantangan: Terjadi penurunan dukungan sumberdaya signifikan dalam sistem peringatan dini tsunami (struktur dan kultur) Pemantauan sistem termasuk Operation & Maintenance (Operasi & Pemeliharaan) yang bersinambung Belum selesainya grand strategi sistem peringatan dini multi- bencana

HFA Priority 2:3 Sistem peringatan dini tersedia dan siap untuk segala bahaya besar, dengan jangkauan ke tingkat komunitas/masyarakat Rekomendasi/Opportunity:

HFA Priority 2:4 Pengkajian risiko lokal dan nasional mempertimbangkan risiko- risiko regional/lintas batas, guna menggalang kerja sama reginal mengenai pengurangan risiko -Pemerintah daerah memiliki kemampuan yang berbeda- beda, pada kawasan dan hazard yang sama. -sistem administrasi kepemerintahan membatasi sumberdaya dalam pengurangan risiko bencana (pendekatan kajian risiko yang tidak holistik) - komitmen bersama pemerintahan dan lintas sektor yang berada dalam satu wilayah/regio dalam menghadapi satu hazard

HFA Priority 2:4 Pengkajian risiko lokal dan nasional mempertimbangkan risiko-risiko regional/lintas batas, guna menggalang kerja sama reginal mengenai pengurangan risiko Tingkat Kemajuan untuk Progress Level 1Progress Level 2Progress Level 3Progress Level 4Progress Level 5 Kemajuan kecil dengan beberapa tanda- tanda kemajuan dalam perencanaan atau kebijakan Ada kemajuan, tetapi tanpa kebijakan dan atau komitmen lembaga yang sistematis Komitmen kelembagaan tercapai, tetapi prestasi belum komprehensif dan juga belum cukup berarti Keberhasilan yang substansial tercapai tetapi dengan keterbatasan- keterbatasan yang disadari dalam hal kapasitas dan sumber daya Keberhasilan yang komprehensif dengan komitment dan kapasitas yang terjaga di semua tingkat X

HFA Priority 2:4 Pengkajian risiko lokal dan nasional mempertimbangkan risiko-risiko regional/lintas batas, guna menggalang kerja sama reginal mengenai pengurangan risiko  Alasan-alasan mengapa kemajuan dari indikator 2:4 ada di tingkat kemajuan tersebut: 1..blm ada kemajuan yang cukup berarti dalam hal kerjasama kajian risiko lintas batas/lintas negara 2.Blm ada pedoman baku dan kesepakatan bersama antar daerah untuk melakukan kajian risiko bersama 3.Pernah/sedang dilakukan kerjasama ASEAN dan Indian Ocean (IOTWS) untuk risk assessment, dan disaster management. 4.Rencana kerjasama regional dilakukan pada prioritas jangka menengah (setelah 3 tahun) implementasi kerjasama AIFDR-Indonesia-ASEAN 5.Sudah ada kesepakatan dan komitmen dalam pengurangan tingkat ASEAN 6.Sudah ada pengelolaan untuk pemantauan risiko lintas batas daerah seperti pengelolaan DAS 7.Sudah terbentuk organisasi yang memungkinkan pertukaran informasi lintas batas negara seperti AHA Center, IO TWS, PTWS dan AEIC

HFA Priority 2:4 Pengkajian risiko lokal dan nasional mempertimbangkan risiko- risiko regional/lintas batas, guna menggalang kerja sama regional mengenai pengurangan risiko Kendala/Tantangan: 1.Lemah dalam pengimplementasian 2.Kerjasama baru ditingkat penguatan kapasitas, belum pada melakukan kajian risiko bersama (lintas batas) 3.Masih dalam tataran sosialisasi kebijakan tingkat ASEAN dengan negara bersangkutan (untuk AADMER) 4.Keterlibatan komunitas NGO dalam area kajian risiko belum optimal.

HFA Priority 2:4 Pengkajian risiko lokal dan nasional mempertimbangkan risiko- risiko regional/lintas batas, guna menggalang kerja sama reginal mengenai pengurangan risiko Rekomendasi/Opportunity:

Pendorong Kemajuan (Drivers of Progress) 1.Pendekatan terpadu multibahaya dalam pengurangan risiko bencana dan pembangunan. 2.Perspektif jender tentang pengurangan risiko dan pemulihan diadopsi dan dilembagakan 3.Kapasitas untuk pengurangan risiko dan pemulihan teridentifikasi dan diperkuat 4.Pendekatan keamanan manusia dan kesetaraan sosial dipadukan ke dalam aktivitas-aktivitas pengurangan risiko bencana dan pemulihan 5.Keterlibatan dan kemitraan dengan para aktor nonpemerintah: antara lain masyarakat sipil dan sektor swasta telah digalakkan di semua tingkat. 6.Pendorong kemajuan kontekstual lainnya sesuai dengan konteks/kondisi nasional dan daerah  Apakah faktor-faktor tersebut bertindak sebagai pendorong atau katalis untuk mencapai kemajuan yang berarti dalam pengurangan risiko bencana dan pemulihan yang berkelanjutan dari bencana. Faktor-faktor tersebut bervariasi dalam konteks nasional dan daerah, namun umumnya menekankan faktor-faktor/isu- isu yang dipandang penting oleh satu negara untuk dipadukan ke dalam perencanaan, kebijakan dan program sebagai cara untuk mencapai sasaran- sasaran pengurangan risiko bencana. Penilaian anda akan mempertimbangkan seberapa besar penekanan diberikan pada masing-masing faktor tersebut dalam mewujudkan hasil pengurangan risiko bencana yang diinginkan.

Pendorong Kemajuan# 1: Pendorong Kemajuan Level I: Tidak bisa/sedikit bisa diandalkan Level 2: Bisa diandalkan secara parsial/sebagian Level 3: Sangat bisa dan sedang menjadi andalan 1. Pendekatan terpadu multibahaya dalam pengurangan risiko bencana dan pembangunan. tidak ada pengakuan tentang isu tersebut dalam kebijakan atau dalam praktik; atau ada pengakuan namun tidak ada/hanya sedikit tindakan yang dilakukan untuk menanganinya. ada pengakuan penuh tentang adanya isu tersebut; strategi/kerangka aksi disusun untuk menanganinya; penerapan masih belum dilaksanakan secara penuh dalam kebijakan dan praktik; tidak terwujud dukungan penuh dari para pemangku kepentingan. ada upaya-upaya penting yang sedang dilakukan untuk mewujudkan komitmen dengan menggunakan strategi koheren yang ada; para pemangku kepentingan teridentifikasi dan terlibat

1. Identifikasi apabila ada upaya-upaya atau penekanan lebih lanjut yang mungkin diperlukan di tahun-tahun mendatang dan pikirkan juga jenis-jenis investasi/strategi yang diperlukan sehingga masing-masing upaya pengurangan risiko bencana dan pemulihan memberikan penekanan yang optimal pada “pendorong-pendorong” yang relevan. Ini juga merupakan kesempatan untuk menjelaskan mengapa satu hasil tertentu yang diharapkan menekankan – atau tidak menekankan – pada satu pendorong. Penyusunan pedoman Penguatan kapasitas Sosialisasi Penyediaan sumberdaya yang berkesinambungan Penguatan dan advokasi kerjasama lintas batas

Pendorong Kemajuan # 2: Pendorong Kemajuan Level I: Tidak bisa/sedikit bisa diandalkan Level 2: Bisa diandalkan secara parsial/sebagian Level 3: Sangat bisa dan sedang menjadi andalan 2. Perspektif gender tentang pengurangan risiko dan pemulihan diadopsi dan dilembagakan tidak ada pengakuan tentang isu tersebut dalam kebijakan atau dalam praktik; atau ada pengakuan namun tidak ada/hanya sedikit tindakan yang dilakukan untuk menanganinya. ada pengakuan penuh tentang adanya isu tersebut; strategi/kerangka aksi disusun untuk menanganinya; penerapan masih belum dilaksanakan secara penuh dalam kebijakan dan praktik; tidak terwujud dukungan penuh dari para pemangku kepentingan. ada upaya-upaya penting yang sedang dilakukan untuk mewujudkan komitmen dengan menggunakan strategi koheren yang ada; para pemangku kepentingan teridentifikasi dan terlibat

2. Identifikasi apabila ada upaya-upaya atau penekanan lebih lanjut yang mungkin diperlukan di tahun-tahun mendatang dan pikirkan juga jenis-jenis investasi/strategi yang diperlukan sehingga masing-masing upaya pengurangan risiko bencana dan pemulihan memberikan penekanan yang optimal pada “pendorong-pendorong” yang relevan. Ini juga merupakan kesempatan untuk menjelaskan mengapa satu hasil tertentu yang diharapkan menekankan – atau tidak menekankan – pada satu pendorong. Pemenuhan kebutuhan data dan informasi untuk memenuhi pertimbangan mainstreaming gender dalam PRB Pemahaman dan sosialisasi konteks gender yang lebih baik, terutama di tingkat daerah, yang akan berdampak terhadap dukungan kebijakan yang lebih baik

Pendorong Kemajuan # 3: Pendorong Kemajuan Level I: Tidak bisa/sedikit bisa diandalkan Level 2: Bisa diandalkan secara parsial/sebagian Level 3: Sangat bisa dan sedang menjadi andalan 3. Kapasitas untuk pengurangan risiko dan pemulihan teridentifikasi dan diperkuat tidak ada pengakuan tentang isu tersebut dalam kebijakan atau dalam praktik; atau ada pengakuan namun tidak ada/hanya sedikit tindakan yang dilakukan untuk menanganinya. ada pengakuan penuh tentang adanya isu tersebut; strategi/kerangka aksi disusun untuk menanganinya; penerapan masih belum dilaksanakan secara penuh dalam kebijakan dan praktik; tidak terwujud dukungan penuh dari para pemangku kepentingan. ada upaya-upaya penting yang sedang dilakukan untuk mewujudkan komitmen dengan menggunakan strategi koheren yang ada; para pemangku kepentingan teridentifikasi dan terlibat

3. Identifikasi apabila ada upaya-upaya atau penekanan lebih lanjut yang mungkin diperlukan di tahun-tahun mendatang dan pikirkan juga jenis-jenis investasi/strategi yang diperlukan sehingga masing-masing upaya pengurangan risiko bencana dan pemulihan memberikan penekanan yang optimal pada “pendorong-pendorong” yang relevan. Ini juga merupakan kesempatan untuk menjelaskan mengapa satu hasil tertentu yang diharapkan menekankan – atau tidak menekankan – pada satu pendorong.

Pendorong Kemajuan # 4: Pendorong Kemajuan Level I: Tidak bisa/sedikit bisa diandalkan Level 2: Bisa diandalkan secara parsial/sebagian Level 3 Sangat bisa dan sedang menjadi andalan: 4. Pendekatan keamanan manusia dan kesetaraan sosial dipadukan ke dalam aktivitas- aktivitas pengurangan risiko bencana dan pemulihan tidak ada pengakuan tentang isu tersebut dalam kebijakan atau dalam praktik; atau ada pengakuan namun tidak ada/hanya sedikit tindakan yang dilakukan untuk menanganinya. ada pengakuan penuh tentang adanya isu tersebut; strategi/kerangka aksi disusun untuk menanganinya; penerapan masih belum dilaksanakan secara penuh dalam kebijakan dan praktik; tidak terwujud dukungan penuh dari para pemangku kepentingan. ada upaya-upaya penting yang sedang dilakukan untuk mewujudkan komitmen dengan menggunakan strategi koheren yang ada; para pemangku kepentingan teridentifikasi dan terlibat

4. Identifikasi apabila ada upaya-upaya atau penekanan lebih lanjut yang mungkin diperlukan di tahun-tahun mendatang dan pikirkan juga jenis-jenis investasi/strategi yang diperlukan sehingga masing-masing upaya pengurangan risiko bencana dan pemulihan memberikan penekanan yang optimal pada “pendorong-pendorong” yang relevan. Ini juga merupakan kesempatan untuk menjelaskan mengapa satu hasil tertentu yang diharapkan menekankan – atau tidak menekankan – pada satu pendorong.

Pendorong Kemajuan # 5: Pendorong Kemajuan Level I: Tidak bisa/sedikit bisa diandalkan Level 2: Bisa diandalkan secara parsial/sebagian Level 3: Sangat bisa dan sedang menjadi andalan 5. Keterlibatan dan kemitraan dengan para aktor nonpemerintah: antara lain masyarakat sipil dan sektor swasta telah digalakkan di semua tingkat. tidak ada pengakuan tentang isu tersebut dalam kebijakan atau dalam praktik; atau ada pengakuan namun tidak ada/hanya sedikit tindakan yang dilakukan untuk menanganinya. ada pengakuan penuh tentang adanya isu tersebut; strategi/kerangka aksi disusun untuk menanganinya; penerapan masih belum dilaksanakan secara penuh dalam kebijakan dan praktik; tidak terwujud dukungan penuh dari para pemangku kepentingan. ada upaya-upaya penting yang sedang dilakukan untuk mewujudkan komitmen dengan menggunakan strategi koheren yang ada; para pemangku kepentingan teridentifikasi dan terlibat

5. Identifikasi apabila ada upaya-upaya atau penekanan lebih lanjut yang mungkin diperlukan di tahun-tahun mendatang dan pikirkan juga jenis-jenis investasi/strategi yang diperlukan sehingga masing-masing upaya pengurangan risiko bencana dan pemulihan memberikan penekanan yang optimal pada “pendorong-pendorong” yang relevan. Ini juga merupakan kesempatan untuk menjelaskan mengapa satu hasil tertentu yang diharapkan menekankan – atau tidak menekankan – pada satu pendorong.

Pendorong Kemajuan # 6: Pendorong Kemajuan Level I: Tidak bisa/sedikit bisa diandalkan Level 2: Bisa diandalkan secara parsial/sebagian Level 3: Sangat bisa dan sedang menjadi andalan 6. Pendorong kemajuan kontekstual lainnya sesuai dengan konteks/kondi si nasional dan daerah tidak ada pengakuan tentang isu tersebut dalam kebijakan atau dalam praktik; atau ada pengakuan namun tidak ada/hanya sedikit tindakan yang dilakukan untuk menanganinya. ada pengakuan penuh tentang adanya isu tersebut; strategi/kerangka aksi disusun untuk menanganinya; penerapan masih belum dilaksanakan secara penuh dalam kebijakan dan praktik; tidak terwujud dukungan penuh dari para pemangku kepentingan. ada upaya-upaya penting yang sedang dilakukan untuk mewujudkan komitmen dengan menggunakan strategi koheren yang ada; para pemangku kepentingan teridentifikasi dan terlibat

6. Identifikasi apabila ada upaya-upaya atau penekanan lebih lanjut yang mungkin diperlukan di tahun-tahun mendatang dan pikirkan juga jenis-jenis investasi/strategi yang diperlukan sehingga masing-masing upaya pengurangan risiko bencana dan pemulihan memberikan penekanan yang optimal pada “pendorong-pendorong” yang relevan. Ini juga merupakan kesempatan untuk menjelaskan mengapa satu hasil tertentu yang diharapkan menekankan – atau tidak menekankan – pada satu pendorong.