TEKNOLOGI PERKAKAS PEMOTONG Pertemuan 24

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
Rangka Batang Statis Tertentu
Advertisements

SISTEM KOORDINAT.
FUNCTION ; MAINTENANCE AND REPAIR AT THE OPERATIONAL LEVEL
KELAS VIII SEMESTER GENAP
OSILASI.
OSILASI Departemen Sains.
PEMBENTUKAN LOGAM (METAL FORMING)
Pertemuan Cahaya Pembiasan dan Dasar-Dasar Optik Geometri
Gaya Geser Pada Penampang Beton Prategang Pertemuan 12
PROSES PENGOLAHAN PERMUKAAN (Layer Addition) Pertemuan 22
BOR DAN GURDI Pertemuan 17
Pertemuan 12 TEORI GAS KINETIK DAN PERPINDAHAN PANAS(KALOR)
Pertemuan 5-6 Metode pemulusan eksponential tunggal
MESIN PERKAKAS NON KONVENSIONAL Pertemuan 21
OPERASI JUMP DAN EXCEPTION HANDLING
LINEAR PROGRAMMING Pertemuan 05
BOR DAN GURDI Pertemuan 17
Fungsi Logaritma Pertemuan 12
Mengambar kurva fungsi linier Pertemuan 4
Pertemuan 13 Hukum Castigliano I
PERENCANAAN PENULANGAN PONDASI DALAM Pertemuan 26
KONSEP DASAR TEKNOLOGI PROSES Pertemuan 1
Pemotongan Logam.
Konferensi Nasional Engineering Perhotelan V- 2014
GETARAN HARMONIK SEDERHANA
GERINDA DAN PROSES ABRASIF LAINNYA Pertemuan 20
GERGAJI DAN PARUT Pertemuan 19
MM FENOMENA TRANSPORT Kredit: 3 SKS Semester: 5
GETARAN HARMONIK SEDERHANA
PERAWATAN MESIN JURUSAN TEKNIK MESIN
Hubungan Tegangan dan Regangan (Stress-Strain Relationship) Untuk merancang struktur yang dapat berfungsi dengan baik, maka kita memerlukan pemahaman.
MODUL 7 PERILAKU MEKANIKA MATERIAL 7.1 Prosedur pengujian mekanik
Matakuliah : K0074/Kalkulus III Tahun : 2005 Versi : 1/0
Kurva Linear dan Aplikasi dalam Ekonomi
APLIKASI FUNGSI LINIER DALAM EKONOMI DAN BISNIS
Analisis Reliabilitas Pertemuan ke-2/14
PENGECORAN BIASA Pertemuan 11
Aturan Dasar Untuk Memberi Ukuran
Penerapan Metode Taguchi pada Proses EDM dari Tungsten Carbide (2009)
Pertemuan 3 MEKANIKA GAYA
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK MESIN
Pertemuan Ke-1 SEDIMENTASI
Pertemuan 26 Hidrolika Aliran Air Tanah
PERAWATAN MESIN JURUSAN TEKNIK MESIN
GAMBAR UNTUK DESAIN FURNITURE TOKO PERTEMUAN 14
Mesin Gergaji dan Pembesar Lubang (Broaching)
KINEMATIKA PARTIKEL Pertemuan 1-2
LATIHAN SOAL MENJELANG UJIAN TENGAH SEMESTER
PENYALURAN TULANGAN Pertemuan 23
Matakuliah : I0014 / Biostatistika Tahun : 2005 Versi : V1 / R1
Pertemuan 5 GAYA-MOMEN DAN KOPEL
Maksimum dan Minimun ( Titik Ekstrim ) Pertemuan 18
Matakuliah : R0262/Matematika Tahun : September 2005 Versi : 1/1
Pertemuan 10 ANALISA GAYA PADA KERANGKA BATANG
Regresi Dalam Lambang Matriks Pertemuan 09
KRITERIA DESAIN, STANDAR DESAIN, DAN METODE ANALISIS PERTEMUAN 6
Gerak 1 Dimensi Pertemuan 4
GETARAN HARMONIK SEDERHANA
Pertemuan 20 Tegangan Geser
PERSAMAAN LINIER SATU VARIABEL
Pertemuan Gerak Harmonik Sederhana dan Gelombang
Learning Outcomes Mahasiswa dapat menjelaskan definisi aljabar boole dan hukum-hukum aljabar boole,duality dan contoh pemakaian aljabar boole. Bina Nusantara.
1. Pengukuran panjang dengan menggunakan jagka Mikrometer sekrup diperoleh panjang mm
Bab 8 Ellyawan Arbintarso
Proses Manufakture Mata Pahat
Pertemuan 11 Torsi dan Tekuk pada Batang
KAPASITAS PENAMPANG MENAHAN GAYA LINTANG Pertemuan 13
Prategang Pada Struktur Statis Tak Tentu Pertemuan 13
PEMBENTUKAN LOGAM (METAL FORMING)
TUGAS MESIN PERKAKAS KELENGKAPAN MESIN PERKAKAS MESIN SEKRAP Nama : Angga Prasetiawan Nim : Teknik Mesin.
Transcript presentasi:

TEKNOLOGI PERKAKAS PEMOTONG Pertemuan 24 Matakuliah : D0234/Teknologi Proses Tahun : 2007/2008 TEKNOLOGI PERKAKAS PEMOTONG Pertemuan 24

. Learning Outcomes Outline Materi : TEKNOLOGI PERKAKAS PEMOTONG Learning Outcomes Mahasiswa dapat menunjukkan faktor penyebab kerusakan dan menghitung umur perkakas . Outline Materi : Jenis Penyebab Kerusakan Mekanisme Terjadinya Kerusakan Persamaan Umur Perkakas Taylor Kreteria Umur Perkakas dalam Industri Bina Nusantara

JENIS PENYEBAB KERUSAKAN TEKNOLOGI PERKAKAS PEMOTONG JENIS PENYEBAB KERUSAKAN Dalam teknologi perkakas pemotong terdapat dua aspek utama yang harus diperhatikan, yaitu : gaya potong, dan temperatur. Gaya potong yang terlalu besar, melebihi kemampuan yang dimiliki material perkakas akan dapat menye-babkan keretakan/patah pada perkakas, sedang temperatur akan meningkat bila gaya gesek antara perkakas dengan serpihan/benda kerja terlalu besar, sehingga perkakas menjadi lunak dan mudah rusak akibat mengalami deformasi plastik. Bina Nusantara

TEKNOLOGI PERKAKAS PEMOTONG Tiga jenis penyebab kerusakan yang mungkin terjadi pada proses pemotongan : Kerusakan karena retak/patah (fracture failure), terjadi bila gaya potong (Fc) terlalu tinggi. Kerusakan karena temperatur (temperature failure), terjadi bila temperatur akibat gesekan terlalu tinggi. Aus karena pemakaian berulang-ulang (gradual wear); pemakaian yang berulang-ulang dapat menyebabkan ketajaman perkakas berkurang. Ketajaman berkurang menyebabkan efisiensi pemakaian berkurang dan temperatur meningkat akibat gaya gesekan bertambah, maka akan terjadi kerusakan seperti pada point 2. Bina Nusantara

TEKNOLOGI PERKAKAS PEMOTONG Keausan perkakas : Biasanya terjadi bila pemakaian dilakukan secara berulang-ulang. Terdapat dua jenis keausan pada perkakas, yaitu : keausan dalam bentuk lubang (crater wear), dan keausan pada panggul (flank wear). Gambar 22.1 Jenis keausan perkakas Bina Nusantara

TEKNOLOGI PERKAKAS PEMOTONG Keausan dalam bentuk lubang, yaitu keausan yang terjadi pada permukaan garuk perkakas berupa lubang kecil yang disebabkan oleh kenaikan temperatur (akibat pergesekan antara serpihan dengan permukaan garuk perkakas) sehingga terjadi proses defusi, adesif, abrasif/pengikisan, dan akhirnya terbentuklah lubang kecil pada permukaan garuk perkakas; Keausan panggul, yaitu keausan yang terjadi pada bagian yang melengkung (panggul) perkakas akibat adanya pengikisan. Bina Nusantara

MEKANISME TERJADINYA KEAUSAN PADA PERKAKAS TEKNOLOGI PERKAKAS PEMOTONG MEKANISME TERJADINYA KEAUSAN PADA PERKAKAS Gambar 22.2 Mekanisme terjadinya keausan pada perkakas Bina Nusantara

TEKNOLOGI PERKAKAS PEMOTONG Abrasif; terjadi karena adanya pengikisan pada perka-kas akibat pengerjaan benda kerja yang keras. Adesif; terjadi akibat adanya gaya tekan dan panas yang tinggi sehingga perkakas mengalami keausan akibat adanya partikel-partikel kecil material per-kakas yang lepas dari permukaannya dan melekat pada bagian benda kerja. Hal ini biasa terjadi antara serpihan dengan permukaan garuk perkakas. Difusi; prosesnya hampir sama dengan adesif, tetapi disini yang melepaskan diri adalah atom-atom mate-rial perkakas, berdifusi menuju serpihan sehingga kekerasan perkakas berkurang. Bila proses ini berlan-jut secara terus-menerus, maka akan mudah menga-lami adesi dan abrasi. Difusi adalah merupakan pe-nyebab terjadinya keausan dalam bentuk lubang (crater wear) pada perkakas. Deformasi plastik; karena adanya peningkatan tem-peratur yang tinggi akibat gesekan, maka material perkakas menjadi lunak dan mudah mengalami defor-masi plastik. Deformasi plastik merupakan penyebab utama terjadinya keausan panggul (flank wear). Keausan perkakas akan bertambah cepat bila kecepatan potong dan temperatur tinggi. Bina Nusantara

UMUR PERKAKAS DAN PERSAMAAN UMUR PERKAKAS TAYLOR TEKNOLOGI PERKAKAS PEMOTONG UMUR PERKAKAS DAN PERSAMAAN UMUR PERKAKAS TAYLOR Umur perkakas didefinisikan sebagai panjang waktu potong dimana perkakas masih dapat digunakan. Tiga daerah yang biasanya digunakan untuk mengidenti-fikasi laju keausan perkakas, yaitu : Periode peretakan (break-in period); Daerah keausan konstan (steady-state wear region); Daerah kerusakan (failure region) . Gambar 22.3 Kurve hubungan antara keausan dan waktu potong perkakas Bina Nusantara

TEKNOLOGI PERKAKAS PEMOTONG Periode peretakan, yaitu periode keausan yang terjadi sesaat setelah pengoperasian, dimana pada periode ini keausan perkakas berjalan sangat cepat terutama pada bagian tajam dari ujung perkakas; Daerah keausan konstan; daerah ini menggambarkan laju keausan sebagai fungsi linear terhadap waktu; Daerah kerusakan; pada periode ini laju keausan perkakas berjalan dengan cepat sehingga temperatur potong bertambah tinggi dan efisiensi proses pemesinan berkurang, dan akhirnya perkakas menjadi rusak akibat temperatur tinggi. Bina Nusantara

material benda kerja, dan kondisi pemotongan. TEKNOLOGI PERKAKAS PEMOTONG Kemiringan (slope) kurve pada daerah keausan konstan dipengaruhi oleh : material benda kerja, dan kondisi pemotongan. Material yang lebih keras akan menyebabkan peningkatan laju keausan (kemiringan kurve bertambah); Kondisi pemotongan, dengan menambah kecepatan potong, hantaran (pemakanan), dan kedalaman potong juga akan menyebabkan peningkatan laju keausan. Gambar 22.4 Kurve keausan perkakas dengan beberapa kecepatan yang berbeda Dengan bertambahnya kecepatan potong, maka laju keausan juga bertambah, sehingga tingkat kerusakan yang sama akan dicapai dalam waktu yang lebih cepat. Bina Nusantara

Persamaan Umur Perkakas Taylor : TEKNOLOGI PERKAKAS PEMOTONG Persamaan Umur Perkakas Taylor : Bila tiga harga umur perkakas dalam gambar 22.4 diplot kembali pada grafik hubungan antara kecepatan potong terhadap umur perkakas (dalam bentuk grafik logaritme natural), maka hubungan tersebut akan berbentuk garis lurus seperti ditunjukkan dalam gambar 22.5. Hubungan ini ditemukan oleh F.W. Taylor pada sekitar tahun 1900, sehingga persamaannya disebut persamaan umur perkakas Taylor. vT n = C Gambar 22.5 Grafik hubungan antara kecepatan potong terhadap umur perkakas (dalam bentuk logaritme natural) Bina Nusantara

kecepatan potong, ft/menit (m/menit); TEKNOLOGI PERKAKAS PEMOTONG dimana : v = kecepatan potong, ft/menit (m/menit); T = umur perkakas, menit; n dan C adalah parameter yang nilainya tergantung pada hantaran, kedalaman potong, material benda kerja, material perkakas, dan kreteria umur perkakas yang digunakan. Nilai n lebih dipengaruhi oleh material perkakas, sedang nilai C lebih tergantung pada material benda kerja dan kondisi pemotongan. Dalam gambar 22.5 n ditunjukkan oleh kemiringan kurve, sedang C menunjukkan nilai kecepatan potong setiap 1 menit umur perkakas. Bina Nusantara

TEKNOLOGI PERKAKAS PEMOTONG Pada persamaan tersebut terlihat bahwa satuan pada ruas kiri tidak konsisten dengan satuan pada ruas kanan. Agar satuannya konsisten, maka persamaan tersebut harus dirubah menjadi : vT n = C(Tref) n dimana : Tref = 1 menit bila v dalam ft/menit (m/menit), dan T dalam menit, tetapi bila v dalam ft/detik (m/detik), dan T dalam detik, maka Tref = 1 detik. Bina Nusantara

ln (400) + n ln (5) = ln (200) + n ln (41) TEKNOLOGI PERKAKAS PEMOTONG Contoh soal : Tentukan nilai C dan n dalam gambar 22.4 dengan memilih dua diantara tiga titik pada kurve tersebut. Jawab : Misalnya kita pilih titik-titik yang ekstrim yaitu v = 400 ft/menit, T = 5 menit dan v = 200 ft/menit, T = 41 menit, maka diperoleh : 400(5)n = C 200(41)n = C Ruas kiri dari kedua persamaan di atas adalah sama : 400(5)n = 200(41)n ln (400) + n ln (5) = ln (200) + n ln (41) 5,9915 + 1,609n = 5,2983 + 3,7136n n = 0,329 Bina Nusantara

vT nf m = K(Tref) n(fref) m TEKNOLOGI PERKAKAS PEMOTONG dimana : f = hantaran (pemakanan), in (mm); d = kedalaman potong, in (mm); H = kekerasan, skala kekerasan; m, p dan q adalah parameter yang nilainya ditentukan secara eksperimen; K analog dengan C; fref, dref, Href adalah nilai referensi dari hantaran, kedalaman potong, dan kekerasan. Dalam prakteknya sangat sulit menerapkan rumus di atas, maka untuk menyederhanakan sebagian parameter biasanya diabaikan, seperti misalnya dengan mengabai-kan kedalaman potong dan kekerasan, sehingga rumus di atas dapat dirubah menjadi : vT nf m = K(Tref) n(fref) m Bina Nusantara

KRETERIA UMUR PERKAKAS DALAM INDUSTRI TEKNOLOGI PERKAKAS PEMOTONG KRETERIA UMUR PERKAKAS DALAM INDUSTRI Terdapat 9 kreteria yang biasa digunakan dalam operasi pemesinan produksi, yaitu : Kerusakan total (complete failure), yaitu kerusakan total pada mata potong seperti kerusakan karena retak/patah, kerusakan karena temperatur, atau karena aus akibat pemakaian terus-menerus sampai patah. Inspeksi keausan panggul atau keausan lubang secara visual yang dilakukan oleh operator mesin. Kreteria ini hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang telah memiliki keakhlian di bidang tersebut; Uji mata potong dengan menggunakan kuku jari tangan yang dilakukan oleh operator; Bina Nusantara

Perubahan suara selama operasi, hal ini juga ditentukan oleh operator; TEKNOLOGI PERKAKAS PEMOTONG Perubahan suara selama operasi, hal ini juga ditentukan oleh operator; Serpihan berserabut dan susah dibuang; Degradasi pada penyelesaian permukaan benda kerja; Peningkatan pemakaian daya selama operasi, dapat diukur dengan wattmeter yang dihubungkan dengan mesin perkakas; Menghitung bendakerja/part yang dikerjakan. Operator diminta untuk menggantikan perkakasnya setelah mengerjakan part dalam jumlah tertentu; Kumulatif waktu potong, hampir sama dengan menghitung bendakerja, hanya disini yang dimonitor panjang waktu potong perkakas. Bina Nusantara

TEKNOLOGI PERKAKAS PEMOTONG SELESAI TERIMA KASIH Bina Nusantara