Demam Tifoid Dr. AM. Hanif, SpPD, MARS.

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
Patologi Manusia Dasar
Advertisements

Yetti Wira Citerawati Sy
PENYAKIT KAKI TANGAN DAN MULUT PENDAHULUAN
TUBERKULOSIS PADA ANAK ???? Oleh: Ikeu Nurhidayah K, S.Kep., Ners
TUBERCULOSIS (TB PARU)
KEGIATAN AKHIR.
SURVEILANS EPIDEMIOLOGI
Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB)
Pembekalan Field Lab semester II
oleh: Dr. Santi Martini, dr., M.Kes.
ENTEROBACTERIACEAE ( NON LACTOSE FERMENTATION )
Batu Empedu Sering Dikira Sakit Maag
PENYAKIT TROPIS & INFEKSI I
Umur saya__ tahun I am ____ years old Nama saya ____ My name is ____ P/1/2 lima delapan tujuh enam.
TBC ( TUBERCULOSIS ).
1 Pertemuan 10: Know more about AIDS Matakuliah: G0942/Listening 1 Tahun: 2005 Versi: baru.
SURVEILANS EPIDEMIOLOGI PENYAKIT SARS TOPIK 7
Greeting and birthday card mukti suvi subarkah
Konsep KLB/Wabah.
ASKEP TIFUS ABDOMINALIS PADA ANAK
Surveilans Epidemiology
PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM INDONESIA
Sumber : data demografi puskesmas terminal. Tujuan.
SURVEILANS EPIDEMIOLOGI
DIFTERI Suharyo.
Pengaruh Air Bersih yang tidak memenuhi syarat Kesehatan
TYPOID PADA ANAK.
Family Enterobacteriaceae Manik Retno W., dr., MKes
Aspek Etika dan Hukum Penyakit Menular
Epidemiologi lanjut Suharyo.
Pendahuluan Lewat makanan dan Tifus-usus halus Airborne Minuman (faeco-oral Transmission route) Airborne Disease Tifus-usus halus Polio-saraf.
TYPHUS ABDOMINALIS Definisi Typhus Abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhosa, bercirikan lesi definitif di.
Dari pemaparan hingga terjadinya infeksi
Oleh: SYAFRIANI, SKM, M.KES Epidemiologi STIKES TUANKU TAMBUSAI RIAU
Program Pengendalian Penyakit ANTHRAX
YONI MAI PUTRI IIB.
Demam Tifoid Eggi Arguni.
pengantar epidemiologi
Infeksi asal air.
SESI 7 LATIHAN: GENERAL CODING MENCARI dan MENENTUKAN KODE
Tatalaksana Demam Tifoid
Pelayanan kesehatan.
TYPOID PADA ANAK.
Epidemiologi Deskriptif (2)
Nama Kelompok Ridwan Suratman Agasti Amalia Pertiwi Trijulia Purnamasari Danang Kurniawan Sischa Pravitasari Anggi Devi Hartina Panggabean.
INFEKSI MIKROBIA MELALUI MAKANAN
SURVEILANS TB.
TIFUS ABDOMINALIS Demam Thyfoid adalah penyakit menular yang bersifat akut, yang ditandai dengan bakteremia, perubahan pada sistem RES yang bersifat difus,
DEFINISI TUBERKULOSIS
Universitas dr Soetomo – Surabaya
KLAMIDIASIS (CHLAMYDIAE)
Demam Typhoid Oleh: Sarah Nurdiana ( ) Siti Octavia ( )
PENERAPAN SISTEM SURVEILANS EPIDEMIOLOGI PENYAKIT MENULAR DAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TERPADU SUCI SRI WAHYUNI A1.
MANAJEMEN ASUHAN KEPERAWATAN PA LIATIF
Penyakit Typus By:Riccy Lee Girsang.
KLAMIDIASIS (CHLAMYDIAE)
PENDAHULUAN EPIDEMIOLOGI
SURVEILANS HEPATITIS A
SURVEILLANCE PENYAKIT MENULAR PERTEMUAN 6 DEASY ROSMALA DEWI, SKM,MKES
TYPOID Kelompok 1.
EPIDEMIOLOGI THYPUS ABDOMINALIS
SISTEM KEWASPADAAN DINI DAN RESPONS
SUB GROUP I. Leptospirosis dikenal sebagai penyakit zoonosis akut yang disebabkan oleh bakteri leptospira dengan spektrum penyakit yang luas dan dapat.
KEJADIAN LUAR BIASA (KLB)
Cardinal Numbers 1 (one), 2 (two) etc. (Used mainly for counting) Cardinal Numbers 1 (one), 2 (two) etc. (Used mainly for counting) Ordinal Numbers 1st.
Pelaksanaan FL topik: DBD Pretes: Rabu, 26 Feb 2014 Koordinasi dg Puskesmas: Selasa, 13 Mei 2014 Lapangan I: Selasa, 20 Mei 2014 Lapangan II: Selasa,
ASUHAN KEBIDANAN PADA KASUS RADANG GENETALIA INTERNAL SALPINGITIS
SUDDEN DEATH dr. ERNI HANDAYANI Sp.F, MH. SUDDEN DEATH (KEMATIAN MENDADAK) PENDAHULUAN -Banyak kematian dari kasus yang wajar terjadinya tak dapat diramalkan.
Transcript presentasi:

Demam Tifoid Dr. AM. Hanif, SpPD, MARS

Definisi Demam Tifoid adalah penyakit sistemik yang ditandai dengan demam dan nyeri perut yang diakibatkan oleh penyebaran kuman Salmonella typhi dan Samonella paratyphi

Pendahuluan Demam tifoid masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia Penyakit menular (UU No 6 tahun 1962) Mudah menular  wabah

Carl Joseph Eberth who discovered the typhoid bacillus in 1880. Georges Widal who described the   ‘Widal agglutination reaction’ of the blood in 1896.

Mary“; Mary Mallon was a cook in Oyster 1. The best known carrier was "Typhoid Mary“; Mary Mallon was a cook in Oyster Bay, New York in 1906 who is known to have infected 53 people, 5 of whom died. 2. Later returned with false name but detained and quarantined after another typhoid outbreak. 3. She died of pneumonia after 26 years in quarantine.

Epidemiologi Surveilan Depkes Th 1990 frek 9,2/10000 pddk Survei RS terjadi peningkatan kasus Insidens Bervariasi di tiap daerah Rural 157/100000, urban 760-810

Penyebaran tifoid di Dunia

Patofisiologi

Patofisiologi Air/makanan terkontaminasi kuman Sebagian dimusnahkan di dalam lambung Sebagian lolos ke usus dan berkembang Bila respon imun <<  kuman menembus sel epitel ( sel M)

Lanj patofisiologi Menembus lamina propria  difagosit oleh makrofag Dibawa oleh makrofag ke plak payeri ileum Menjalar ke KGB mesentrika Melalui duktus torasikus  aliran darah sistemik (bakteriemia I = asimptomatik)

Lanj patofisiologi Menyebar ke seluruh sistem RES (TU hati & limfa) Berkembang di dalam organ hati dan limfa Masuk ke aliran darah kembali (bakteriemia II =simptomatik )  gejala klinis sistemik Dari hati  empedu sebagian dikeluarkan dikeluarkan bersama feses, sebagian di serap kembali (proses berulang)

Lanj Patofisiologi Di Plak payeri  sistem imun (hipersensitifitas tipe IV)  hiperplasia jaringan  nekrosis jaringan Erosi pembuluh darah  perdarahan Perkembangan limfonodi meningkat  Perforasi

Komplikasi kardiovaskuler Endotoksin Komplikasi kardiovaskuler Neuropsikiatrik Perfafasan Dan lain-lain

Gejala Klinis Setelah Masa inkubasi = 10-14 hari  Gejala klinis Gejala Klinis bervariasi dari ringan, sedang sampai berat dan dapat berakhir dengan kematian

Minggu I Demam (meningkat perlahan2 terutama di sore hari) Nyeri kepala Anoreksia Obstipasi Atau diare Mual muntah Rasa tidak enak diperut Epistaksis Batuk dll

Minggu II Gejala-gejala lebih jelas Demam Bradikardi relatif Lidah berselaput Hepatosplenomegali Meteorismus Gangguan mental: somnolen, stupor, koma, delirium atau psikosis Roseola (jarang ditemukan pada orang indonesia)

Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan rutin Darah perifer lengkap: paling sering leukopeni, dapat normal atau leukositosis Anemia ringan Trombositopenia LED meningkat SGOT dan SGPT meningkat

Uji Widal Deteksi antibodi dasarnya rx silang antara antigen S.typhi dengan antibodi  aglutinin Aglutinin O = badan kuman, H= flagel kuman, Vi = simpai kuman

Uji semikuantitatif kolorimetrik yang cepat (menit) Uji Tubex Uji semikuantitatif kolorimetrik yang cepat (menit) Mendeteksi antibodi anti-S.typhi 09 Dapat mendeteksi penyakit secara dini (hari ke 4-5 ) Sensitifitas dan spesifisitas kuat Skor Interpretasi Keterangan <2 Negatif Tidak menunjukkan infeksi aktif 3 Borderline Tidak dapat disimpulkan  ulang 4-5 Positif Infeksi tifoid aktif >6 Indikasi kuat infeksi tifoid

Typhidot Mendeteksi antibodi IgM dan IgG pada membran luar S typhi Hasil positif dapat ditemukan 2-3 hari Sensitifitas dan spesifitas baik Reinfeksi igG meningkat IgM sulit dideteksi

Uji Dipstick Khusus mendeteksi IgM spesifik yang ada pada serum atau WB Mudah dan cepat (1 hari) Akurat bila pemeriksaan setelah 1 minggu gejala

Kultur darah Hasil biakan positif  memastikan demam tifoid Hasil negatif tidak menyingkirkan Dipengaruhi oleh: Pemberian antibiiotik Volume darah kurang Darah mesti langsung dimasukkan ke dalam media empedu Riwayat vaksinasi Pengambilan darah lebih dari 1 minggu  aglutinin meningkat

Istirahat dan perawatan Penatalaksanaan Istirahat dan perawatan Mencegah komplikasi Mempercepat kesembuhan Diet dan penunjang Mengembalikan rasa nyaman Mengembalikan kesehatan Antibiotika Menghentikan dan mencegah penyebaran kuman

Istirahat dan perawatan Tirah baring= aktivitas ditempat Menjaga kebersihan Posisi  cegah dekubitus dan pneumonia ortostatik

Diet dan terapi suportif Dulu diet bubur saring  bubur kasar  nasi (tergantung tingkat kesembuhan) Beberapa penelitian: pemberian makan padat dan lauk, rendah serat  aman

Antibiotika Kloramfenikol Di Ina  pilihan utama Dosis 4 X 500 mg  s/d 7 hari bebas demam Penurunan demam rata2 setelah 5 hari Tiamfenikol Dosis hampir sama dengan kloramfenikol Penurunan demam rata2 setelah 5 hari Supresi sumbsum tulang lebih rendah

Kotrimoksazol Efektifias obat hampir sama dengan kloramfenikol Dosis dewasa 2 x 2 tablet (2 x 960 mg) Diberikan 2 minggu

Ampisilin dan amoksisilin Kemampuan menurunkan demam lebih rendah Dosis 50-150 mg/kg/hari Diberikan selama 2 minggu

Sefalosporin generasi ke 3 Yang terbukti efektif = seftriakson Dosis 3-4 gram/hari 3-5 hari

Flurokuinolon Norfloksasin dosis 200-400 mg/hari (14 hari) Siprofloksasin 2 x 500 mg/hari (6 hari) Oflofloksasin 2 x 400 mg (7 hari) Pefloksasin dosis 400 mg/hari (7 hari) Flerofloksasin dosis 400 mg/hari (7 hari)

Azitromisin Dapat mengurangi kegagalan terapi Mengurangi relaps Dosis 2 x 500 mg

Kombinasi antimikroba Di Indikasikan pada tifoid toksik, peritonitis, perforasi, syok septik atau penyakit yang pernah ditemukan dua macam organisme dalam kultur darah selain salmonella

Kortikosteroid Diindikasikan pada tifoid toksik atau demam tifoid yang mengalami syok septik

Obat yang aman untuk Wanita hamil Ampisilin Amoksisilin Sefriakson

Komplikasi tifoid Intestinal Ekstra intestinal

Intestinal Perdarahan intestinal Perforasi usus

Ekstraintestinal Hematologi  KID Hepatitis tifosa Pankreatitis tifosa Miokarditis Manifestasi neuropsikiatrik (tifoid toksik)

Terima kasih