Teori Negosiasi Muka berdasarkan penelitian Stella Ting-Toomey

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
Fenomena Komunikasi Massa
Advertisements

MANAJEMEN KONFLIK.
KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA
BUDAYA KOMUNIKASI JURNALISTIK C semester 1 Maulana Fil Husni Maya R
PENDEKATAN TEORI SIFAT, PERILAKU DAN HUBUNGAN
Teori Kelompok Bungkam berdasarkan penelitian Cheris Kramarae
TEORI DISONANSI KOGNITIF Leon Festinger
Paradigma Naratif berdasarkan penelitian Walter Fisher
Teori Manajemen Privasi Komunikasi Sandra Petronio
uses&gratification_joice cs
TEORI PENGURANGAN KETIDAKPASTIAN Charles Berger & Richard Calabrese
TEORI PELANGGARAN HARAPAN Judee Burgoon
BAHASA DAN BUDAYA Bahasa memungkinkan manusia untuk menyampaikan budaya dari satu budaya ke budaya lainnya. Setiap interaksi komunikasi antarbudaya paling.
Perilaku Kolektif dan Gerakan Sosial
Teori Sikap berdasarkan penelitian Nancy C.M. Hartsock
Pertemuan 5.
MANAJEMEN MAKNA TERKOORDINASI W. Barnett Pearce & Vernon Cronen
modern&postmo - joice cs
Teori Akomodasi Komunikasi berdasarkan penelitian Howard Giles
Asumsi Evaluasi Sebuah Hubungan Pola Pertukaran Struktur Pertukaran
SPIRAL KEHENINGAN berdasarkan penelitian Elisabeth Noelle-Neumann
STRATIFIKASI SOSIAL Konsep Stratifikasi
Kajian Budaya berdasarkan penelitian Stuart Hall
Weighing_d_words_joice cs1 WEIGHING THE WORDS What Makes an Objective Theory and an Interpretive Theory Good?
PSIKOLOGI KOMUNIKASI Karakteristik Komunikasi
RUANG LINGKUP PSIKOLOGI KOMUNIKASI
KONFORMITAS, PENYIMPANGAN dan KONTROL SOSIAL
PERTEMUAN 15.
TEORI Mendefinisikan Teori Hubungan antara Teori dan Pengalaman
Seven Traditions in the Field of Communication Theory
GROUPTHINK berdasarkan penelitian Irving Janis
KEBUDAYAAN DAN MASYARAKAT
Pendekatan Teori Sifat, Perilaku dan Hubungan
TEORI KOMUNIKASI UNCERTAINTY REDUCTION THEORY
PENDEKATAN TEORI SIFAT, PERILAKU DAN HUBUNGAN
Matakuliah : O0174/Komunikasi Antar Budaya
DIRI, KONSEP DIRI, dan PENYESUIAN DIRI
Teori – Teori Sosial Pip, Jones (2009).
TEORI-TEORI DASAR KOMUNIKASI INTERPERSONAL
Teori Komunikasi Yang Berhubungan dengan Percakapan
Komunikasi Antarpribadi (2)
MENGELOLA KONFLIK DALAM PROYEK
KEPEMIMPINAN & KERJASAMA TIM
Pertemuan 5.
Kepemimpinan Proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan tugas dari para anggota kelompok. Ada tiga implikasi penting dari defenisi.
Fenomena Komunikasi Massa
PENGERTIAN KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI (KAP) DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KAP Pengertian KAP Secara umum komunikasi antar pribadi (KAP) dapat diartikan.
Konsep Diri Menentukan Identitas Individu
Bab 8 Produk, Jasa, dan Strategi Penentuan Merek
Manajemen Konflik Negosiasi.
KOMUNIKASI DAN MANAJEMEN KONFLIK
KOMUNIKASI DAN MANAJEMEN KONFLIK
SIKAP DAN TINGKAH LAKU. TINGKAH LAKU MANUSIA DAN LINGKUNGAN SOSIAL (HUMAN BEHAVIOR AND SOCIAL ENVIRONMENT)
BAB 16 DINAMIKA KELOMPOK 1. ALASAN TERBENTUKNYA KELOMPOK
NEGOSIASI INTERNASIONAL DAN BUDAYA
Produk, Jasa, dan Strategi Penentuan Merek
POLA-POLA BUDAYA.
Teori-teori dalam Komunikasi Antarpribadi
Komunikasi Antar Budaya
GANGGUAN KONSEP DIRI KONFLIK PERAN
Understanding work teams
Teori-teori dalam Komunikasi Antarpribadi
PENDEKATAN-PENDEKATAN KOMUNIKASI DALAM MENGELOLA KONFLIK
PERILAKU ORGANISASI ( Kepribadian dan Nilai) Oleh Kelompok III Sonny Sudarsono( ) Winny Novyanti( ) Rara Kurnia Fitri(
Pertemuan 9 :Conflict Management Disusun : Lies Sunarmintyastuti
Bab 8 Produk, Jasa, dan Strategi Penentuan Merek
Komunikasi Interpersonal
HUBUNGAN ANTAR MANUSIA
KOMUNIKASI EFEKTIF -Pengantar Psikologi-. 2 *Komunikasi adalah proses pemindahan pengertian dari si pengirim ke si penerima. *Suatu ide, tidak peduli.
Transcript presentasi:

Teori Negosiasi Muka berdasarkan penelitian Stella Ting-Toomey Tentang Muka Asumsi Budaya Individualistik dan Kolektivistik Mengelola Konflik Melintasi Budaya negosiasi_muka_joice cs

negosiasi_muka_joice cs Sekilas Teori Bagaimana orang di dalam budaya individualistik dan kolektivistik menegosiasikan muka dalam konflik? Teori Negosiasi Muka didasarkan pada manajemen muka, yang mendeskripsikan bagaimana orang dari budaya yang berbeda mengelola negosiasi muka untuk menjaga muka. Kepentingan akan muka diri dan muka lain menjelaskan negosiasi konflik antara orang-orang dari berbagai budaya. negosiasi_muka_joice cs

negosiasi_muka_joice cs Sekilas Teori Face Negotiation Theory dari Stella Ting-Toomey merupakan teori yang multisisi, menggabungkan penelitian dari komunikasi lintas budaya, konflik, kesantunan, dan “facework”. Stella Ting-Toomey (1988) memberi komentar bahwa: “Budaya memberikan bingkai interpretasi yang lebih besar di mana ‘muka’ dan ‘gaya konflik’ dapat diekspresikan dan dipertahankan secara bermakna.” negosiasi_muka_joice cs

negosiasi_muka_joice cs Tentang Muka David Ho (1976) mengemukakan bahwa bangsa Cina memiliki dua konseptualisasi mengenai muka: lien dan mien-tzu, dua istilah yang mendeskripsikan identitas dan ego. Menurut Ho, muka dapat menjadi lebih penting dibandingkan kehidupan itu sendiri. Erving Goffman (1967) mengamati bahwa face adalah citra diri yang ditunjukkan orang dalam percakapannya dengan orang lain. negosiasi_muka_joice cs

negosiasi_muka_joice cs Tentang Muka Ting-Toomey dan koleganya (2000) mengamati bahwa muka berkaitan dengan nilai diri yang positif dan/atau memproyeksikan nilai lain dalam situasi interpersonal. Orang tidak “melihat” muka orang lain; sebaliknya, muka merupakan metafora bagi batasan yang dimiliki orang dalam hubungan dengan orang lain. Goffman (1967) mendeskripsikan muka sebagai sesuatu yang dipertahankan, hilang, atau dipertahankan. negosiasi_muka_joice cs

negosiasi_muka_joice cs Tentang Muka Ting-Toomey berpendapat bahwa muka dapat diinterpretasikan dalam dua cara yang utama: Face concern: terdapat kepentingan diri sendiri untuk mempertahankan muka seseorang atau muka orang lain. Menjawab pertanyaan: “Apakah saya menginginkan perhatian tertuju pada diri saya atau pada orang lain?” Face need: merujuk pada dikotomi keterlibatan-otonomi. Maksudnya: “Apakah saya ingin diasosiasikan dengan orang lain (keterlibatan) atau apakah saya tidak diasosiasikan dengan mereka (otonomi)?” negosiasi_muka_joice cs

Tentang Muka: Muka dan Teori Kesantunan Teori Kesantunan Penelope Brown dan Stephen Levinson (1978) menyatakan bahwa orang akan menggunakan strategi kesantunan berdasarkan persepsi ancaman muka. Terdapat dua kebutuhan universal: Positive Face: adalah keinginan untuk disukai dan dikagumi oleh orang-orang penting di dalam hidup kita. Negative Face: merujuk pada keinginan untuk memiliki otonomi dan tidak dikekang. negosiasi_muka_joice cs

Tentang Muka: Facework Facework: tindakan yang diambil untuk menghadapi keinginan akan muka seseorang dan/atau orang lainnya. (Ting-Toomey, 1994). Facework adalah mengenai strategi verbal dan nonverbal yang kita gunakan untuk memelihara, mempertahankan, atau meningkatkan citra diri sosial kita dan menyerang atau mempertahankan (atau ‘menyelamatkan’) citra sosial orang lain. Facework berkaitan dengan bagaimana orang membuat apa pun yang mereka lakukan konsisten dengan muka mereka. negosiasi_muka_joice cs

Tentang Muka: Facework Te-Stop Lim dan John Bowers (1991) memperluas diskusi ini dan mengidentifikasi tiga jenis facework: kepekaan, solidaritas, dan pujian. Tact facework: merujuk pada batas di mana orang menghargai otonomi seseorang. Solidarity facework: berhubungan dengan seseorang menerima orang lain sebagai anggota kelompok dalam (in-group). Approbation facewerok: melibatkan meminimalkan penjelekan dan memaksimalkan pujian kepada orang lain. negosiasi_muka_joice cs

negosiasi_muka_joice cs Asumsi Identitas diri penting di dalam interaksi interpersonal, dan individu-individu menegosiasikan identitas mereka secara berbeda dalam budaya yang berbeda. Manajemen konflik dimediasi oleh muka dan budaya. Tindakan-tindakan tertentu mengancam citra diri seseorang yang ditampilkan (muka). negosiasi_muka_joice cs

negosiasi_muka_joice cs Asumsi (1) Menekankan pada self-identity: atribut pribadi seseorang.. William Cupach dan Sandra Metts (1994) mengamati bahwa ketika orang bertemu, mereka mempresentasikan citra diri mereka dalam sebuah interaksi. Identitas diri mencakup pengalaman kolektif seseorang, pemikiran, ide, memori dan rencana. Asumsi ini meyakini bahwa para individu di dalam semua budaya memiliki beberapa citra diri yang berbeda dan bahwa mereka menegosiasikan citra ini secara terus menerus. negosiasi_muka_joice cs

negosiasi_muka_joice cs Asumsi (2) Berkaitan dengan konflik. Konflik dalam terori ini, bekerja sama dengan muka dan budaya. Ting-Toomey menyatakan bahwa cara manusia disosialisasikan ke dalam budaya mereka mempengarui bagaimana mereka akan mengelola konflik. negosiasi_muka_joice cs

negosiasi_muka_joice cs Asumsi (3) Berkaitan dengan dampak yang dapat diakibatkan oleh suatu tindakan terhadap muka. Ting-Toomey (1988) menyatakan bahwa tindakan yang mengancam muka (face threatening act) mengancam bahwa tindakan yang mengancam muka orang lain sementara tidak langsung dan terjadi ketika identitas yang diinginkan seseorang ditantang. negosiasi_muka_joice cs

Budaya Individualistik dan Kolektivistik Budaya, bukanlah variabel yang statis, dan dapat diinterpretasikan melalui banyak dimensi (Ting-Toomey, 1988). Budaya dapat diorganisasikan dalam dua kontinum: Individualisme: budaya ‘kemandirian’. Kolektivisme: budaya ‘saling ketergantungan’. Budaya di seluruh dunia beragam dalam hal individualisme dan kolektivisme (lihat tabel 26.1) negosiasi_muka_joice cs

Budaya Individualistik dan Kolektivistik Kedua dimensi tsb memainkan peranan yang penting dalam cara bagaimana facework dan konflik dikelola. Ting-Toomey dan koleganya GeGao, Paula Trubisky, Shizhong Yang, Hak Soo Kim, Sung-Ling Lin, dan Tsukasa Nishida (1991) mengklarifikasikan bahwa individualisme dan kolektivisme berlaku tidak hanya pada budaya nasional, melainkan juga pada ko-budaya dalam budaya nasional. negosiasi_muka_joice cs

negosiasi_muka_joice cs Budaya Individualistik dan Kolektivistik: Individualisme dan Kolektivisme Individualism: Merujuk pada kecenderungan orang untuk mengutamakan identitas individual dibandingkan identitas kelompok, hak individual dibandingkan hak kelompok, dan kebutuhan individual dibandingkan kebutuhan kelompok. (Ting-Toomey,1994). Adalah identitas “Aku” (aku mau, aku butuh, dst). Menekankan inisiatif individual, kemandirian, ekspresi individual, dan bahkan privasi (Samovar&Porter,1995). Nilai-nilai individualistik menekankan antara lain kebebasan, kejujuran, kenyamanan, dan kesetaraan pribadi. (Ting-Toomey&Chung, 2005). negosiasi_muka_joice cs

negosiasi_muka_joice cs Budaya Individualistik dan Kolektivistik: Individualisme dan Kolektivisme Collectivism: Penekanan pada tujuan kelompok dibandingkan tujuan individu, kewajiban kelompok dibandingkan hak individual, dan kebutuhan kelompok dibandingkan kebutuhan pribadi. (Ting-Toomey,1994). Adalah identitas “Kita” (kita dapat melakukan ini, kita adalah tim, dst). Orang-orang dalam budaya ini menganggap penting bekerja sama dan memandang diri mereka sebagai bagian dari kelompok yang lebih besar. Masyarakat kolektivistik mementingkan keterlibatan. Nilai kolektivistik menekankan keselarasan, menghargai keinginan orang tua, dan pemenuhna kebutuhan orang lain. negosiasi_muka_joice cs

Budaya Individualistik dan Kolektivistik: Manajemen Muka dan Budaya Dalam individualistic: Anggota-anggota [dari budaya] yang mengikuti nilai-nilai individualistik cenderung lebih berorientasi pada muka diri dan anggoat-anggota yang mengikuti nilai yang berorientasi pada kelompok cenderung lebih berorientasi pada muka orang lain atau muka bersama dalam sebuah konflik. (Ting-Toomey&Chung, 2005:274). Face Management dilakukan secara terbuka yang melibatkan melindungi muka seseorang, bahkan jika harus melakukan tawar menawar. (Ting-Toomey) negosiasi_muka_joice cs

Budaya Individualistik dan Kolektivistik: Manajemen Muka dan Budaya Dalam collectivistic: Berkaitan degan kemampuan adaptasi dari citra presentasi diri. (Ting-Toomey, 1988:224). Anggota dari komunitas ini mempertimbangkan hubungan mereka dengan orang lain ketika mereka mendiskusikan sesuatu dan merasa bahwa suatu percakapan membutuhkan keberlanjutan dari kedua komunikator. negosiasi_muka_joice cs

Mengelola Konflik Melintasi Budaya Dimensi budaya tsb mempengaruhi gaya-gaya konflik, yang mencakup menghindar, meurut, berkompromi, mendominasi, dan mengintegrasikan. Ting-Toomey percaya bahwa keputusan untuk menggunakan satu atau lebih dari gaya-gaya ini akan tergantung dari variabilitas budaya dari komunikator. Variasi Budaya Kebutuhan akan muka dan kepedulian akan muka. Strategi konflik/gaya konflik (verbal, nonverbal, langsung, tidak langsung). negosiasi_muka_joice cs

Mengelola Konflik Melintasi Budaya Avoiding – AV: berusaha menjauhi ketidaksepakatan dan mengindari pertukaran yang tidak menyenangkan dengan orang lain. Obliging – OB: mencakup akomodasi pasif yang berusaha memuaskan kebutuhan orang lain atau sepakat dengan saran-saran dari orang lain. Compromising – CO: individu-individu berusaha untuk menemukan jalan tengah untuk mengatasi jalan buntu dan menggunakan pendekatan memberi-menerima sehingga kompromi dapat dicapai. Dominating – DO: mencakup perilaku-perilaku yang menggunakan pengaruh, wewenang, atau keahlian untuk menyampaikan ide atau untuk mengambil keputusan. Integrating – IN: digunakan untuk menemukan solusi masalah. negosiasi_muka_joice cs

Mengelola Konflik Melintasi Budaya Ting-Toomey mengidentifikasi hubungan antara gaya konflik dan facework: Gaya manajemen AV maupun OB mencerminkan pendekatan pasif dalam menghadapi konflik. Gaya CO menunjukkan kebutuhan muka bersama dengan menemukan jalan tengah dari sebuah konflik. Gaya DO, menunjukkan kebutuhan muka diri yang tinggi serta kebutuhan akan konrol terhadap konflik. Gaya IN mengindikasikan tingkat kebutuhan muka diri/muka lain dalam resolusi konflik. negosiasi_muka_joice cs

negosiasi_muka_joice cs Kritik Heurisme: memiliki sifat heuristik. Konsistensi Logis: terkadang dimensi-dimensi budaya tidak dapat sepenuhnya menjelaskan perbedaan budaya. negosiasi_muka_joice cs